5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 2, 2024
in Panggung
Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

sekaa gong legendaris Desa Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali 2024

PECINTA gong kebyar pasti ingat penampilan Gong Kebyar Legendaris, Sekaa Gong Tunas Mekar, Pengosekan, Kecamatan Ubud sebagai duta Duta Kabupaten Gianyar pada Utsawa (Parade) Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Sekaa gong ini tampil mempesona di hadapan para penggemar kesenian tradisional, Rabu, 10 Juli 2024.

Gong kebyar Tunas Mekar dari Pengosekan ini memang layak disebut sekaa gong legendaris. Berdiri sekitar tahun 1958. Perangkat gongnya mula-mula dibeli dari hasil maderep atau menjadi buruh panen padi.

Di PKB tahun 2024 sekaa tampil satu panggung bersama Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma, Desa Adat Jagaraga, Kecamatan Sawan duta Kabupaten Buleleng di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali. Penampilan sekaa gong ini sangat kentara sekali, kalau memang sekaa ini mempunyai sejarah panjang dalam melestarikan seni karawitan di Bali.

Sekaa Gong Tunas Mekar menyajikan gending-gending merupakan warisan dari para pendahulu mereka. Meski sudah uzur, namun mereka masih mampu menunjukan kesohoran mereka di jaman itu. Penampilan Sekaa Gong Tunas Mekar memang unggul, bagai pepatah “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan Belang.

Maka tak heran, penonton yang menanti sajian itu sejak awal terasa terobati. Para penonton benar-benar dapat menyaksikan kemasyuran sekaa gong dari kampung turis itu. Saat itu, Sekaa Gong Tunas Mekar, Pengosekan menampilkan empat sajian seni pertunjukan, yakni dua tabuh, dan dua tari.

Penampilannya, diawali dengan Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin. Tabuh ini diwarisi oleh Sekaa Gong Tunas Mekar yang pada awalnya bernama Mekar Sari merupakan Sekaa Gong angkatan pertama. Tabuh ini ditata kembali pada pertengahan tahun 1970-an oleh Alm. I Wayan Gandra, sehingga menjadi lebih dinamis. Sebelum itu, sudah ada Tabuh Nem klasik yang diajarkan oleh Pekak I Made Lebah, ayah dari I Wayan Gandra.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Kemudian menampilkan, Tari Legong Kraton Lasem, sebuah bentuk tari klasik dari Pelegongan, yang mengisahkan kisah cinta Prabu Lasem yang mendapat penolakan dari Diah Rangke Sari karena sudah punya pilihan hatinya. Kemarahan Prabu Lasem atas tolakan ini, menyebabkan Prabu Lasem menyerang pilihan hati dari Diah Rangke sari.

Namun, dalam perjalanannya, Prabu Lasem mendapat pertanda-pertanda buruk dari burung Gagak (pada tarian ini digambarkan dengan Tari Garuda). Prabu Lasem menghalaunya dan melanjutkan perjalanannya untuk menyerang pilihan hati Diah Rangke Sari. Tari ini dibina Ni Luh Mas merupakan cucu dari Pekak I Made Lebah.

Sajian ketiga, menampilkan Tabuh Sekar Jaya yang dimainkan terakhir oleh Sekaa Gong Angkatan Pertama tahun 1978 pada festival se-Kecamatan Ubud sebagai Duta Desa Mas.

Pada tahun 1987, dimainkan kembali oleh Sekaa Gong Anak-anak Tunas Mekar yang berdiri tahun 1983, (kini sebagian besar menjadi penabuh legendaris Sekaa Gong Tunas Mekar).

Tabuh Sekar Jaya menggambarkan kejayaan Penabuh Tunas Mekar yang mana telah mampu memainkan gending-gending kekebyaran baik saat mengiringi tari maupun berbentnuk tabuh yang dipertunjukan. Tabuh Sekar Jaya ditata oleh I Wayan Gandra.

Sebagai sajian pamungkas, Sekaa Gong Tunas Mekar menampilkan Tari Truna Jaya yang menggambarkan masa panca roba dari kaum remaja yang begitu dinamis dalam mencari kesejatian dirinya. Gerakan-gerakan yang menghentak diiringi dengan tabuh yang sangat dinamis serta penuh energi. Penata tari ini adalah : Alm. I Gde Manik dari Jagaraga Buleleng.

Sejarah

Berdasarkan data yang didapat dari salah satu sekaa gong itu, menyebutkan Sekaa Gong Tunas Mekar pada awalnya bernama Sekaa Gong Mekar Sari berdiri sekitar tahun 1958. Sekaa gong ini lahir, ketika tergugahnya hati warga Desa Adat Pengosekan untuk memiliki seperangkat gambelan  gong. Hal tersebut didasari keinganan ngayah setiap ada pujawali di Pura Khayangan Tiga.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Warga merasa ada yang kurang lengkap saat melakukan pujawali, tanpa adanya iringan gamelan gong kebyar. Walaupun saat itu telah diramaikan dengan iringan Gamelan Angklung dengan anggota sekaa sebanyak 32 orang, namun belum juga merasa puas. Hal itu, mengingat setiap akan menggelar unen-unen (tontonan) seni, hati masyarakat gelisah kemana harus meminjam gamelan.

Padahal, setiap pujawali warga rutin menggelar seni pertunjukan tari, seperti Tari Topeng, baik sebagai topeng wali maupun sebagai seni hiburan. Terlebih lagi, ketika mengiringi tari papendetan yang diselenggarakan setap ngaturan “Ajum Pendet”.

Bahkan beberapa hari sebelum pujawali datang, warga khususnya yang suka megamel tak segan-segan mengucurkan keringat memikul gamelan yang dipinjam dari Cokorda Joni asal Puri Ubud Kaleran. Warga secara bergotong-royong berjalan kaki mengangkat barungan galemen gong kebyar itu. Wajar, saat itu belum ada jalan raya, seperti sekarang ini.

Saat mengiringi tari-tarian tersebut, warga utamanya yang memiliki hobi memainkan gamelan tidak perlu mendatangkan penabuh dari luar desa. Sebab, sudah banyak di antara warga tersebut yang bisa dan mengetahui akan irama gamelan. Walau, itu tak sempurna, namun mereka merasa puas, karena masih bisa mengikuti jejak jejak leluhurnya.

Para penabuh biasa mengiringi Tari Rejang dengan tabuh-tabuh palegongan, yaitu Gending Condong, Lasem, Playon, dan Kuntul. Kadang-kadang juga memainkan Tabuh Sisian, Cupak, Tembang Selisir, Calonarang, dan lainnya. Pada saat itu, gamelan yang ada pada waktu itu jumlahnya hanya sedikit, yaitu sekitar 7 wadah.

Kuatnya hasrat warga Desa Adat untuk memiliki gamelan selalu terbentur dengan permasalahan dana. Lalu, Dewa Putu Bitra selaku Bendesa bersama Dewa Putu Sugi selaku wakil dan Dewa Ketut Rimin selaku prajuru lain kemudian berusaha memenuhi keinginan warga yang haus ingin memiliki gamelan melalui paruman (rapat).

Melalui paruman itu, kemudian disepakati mengadakan gamelan dengan cara bergotong-royong, yakni maderep (buruh panen padi). Kegiatan ini dilakukan selama 5 kali panen (kurang lebih dua setengah tahun) untuk mencapai dana sejumlah Rp 35.000- (tiga puluh lima ribu rupiah), harga barungan gamelan waktu itu.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Setelah merasa dana hampir mencukupi, maka segera memesan seperangkat gamelan kepada pande gamelan bernama Gan Griya, seorang pande gamelan dari Desa Tiyingan Klungkung. Warga desa hampir tidak sabar menantikan dan mengharapkan penyelesaian gamelan miliknya. Sedangkan, dana yang terkumpul setelah dihitung-hitung masih jauh dari harga gamelan itu.

Keadaan itu, menjadi beban berat bagi pemimpin-pemimpin desa adat itu sendiri. Sebagai jalan keluarnya, beban itu dikembalikan kepada Desa Adat untuk minta persetujuan masing-masing warga. Dari parum itu, kemudian disepakatan untuk menutupi dana dengan jalan menggadaikan “Druwe Laba” yaitu hak milik Desa Adat.

Milik desa adat itu berupa tanah sawah yang terletak di Subak Lateng seluas +_20 are. Milik desa adat itu digadaikan kepada Jro Mangku Dalem Padang Tegal, senilai Rp 12.000,- (dua belas ribu rupiah). Dana sejumlah itu, untuk melengkapi dana yang sebelumnya sudah terkumpul Rp 23.000,- (dua puluh tiga ribu).

Mungkin sudah takdir, sehingga lahirlah seperangkat gamelan gong yang belum ada pelawahnya, seperti 1 buah pangugal, 4 wadah gangsa pemade, 2 wadah Kantilan, 1 wadah Reyong, 2 wadah Jegogan, 2 wadah Calung, 1 buah kempli (Kajar), 1 buah gong, 1 buah kempur, 1 pasang kendang, 1 buah cengceng dan 5 cakep cengceng kopyak.

Lalu, masalah pelawahnya desa adat kemudian membeli kayu blalu dan pule. Untuk penanganan dan penyelesaian plawah ini diserahkan kepada Dewa Putu Sugi dan Gusti Ketut Dana (kelian pura penataran) untuk menyelesaikannya.

Pemilihan anggota sekaa gong

Gamelan gong kebyar itu kemudian rampung semuanya pada tanggal 31 Januari 1961, maka segera diadakan paruman desa adat lagi. Paruman itu untuk mebicarakan beberapa hal seperti pemilihan anggota sekaa gong dari desa adat itu sendiri. Sekaa ini adalah milik desa adat yang diberi kewajiban mengemban tugas sebagai Sekaa Gong Desa Adat Pengosekan.

Pada saat itu, juga membicarakan tentang permasalahan biaya latihan, jaminan pelatih, pembagian hasil bila kelak dikemudian hari ada hasil. Di parum itu didapatkan keputusan tentang biaya latihan ditanggung oleh desa adat sendiri serta bila ada kerusakan dan kekurangan dari gamelan itu adalah tanggung jawab desa adat.

Untuk pembagian hasil bila kelak di kemudian hari mendatangkan hasil, yakni pembagian hasil 1/3 (sepertiga) ke Desa Adat, 2/3 (duapertiga) ke Sekaa Gong. Pada saat itu, mengadakan pendaftaran anggota sekaa dan pengurusnya dengan struktur yang ada. [T][Disusun dari sejumlah sumber]

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an
Gong Legendaris Mengulang Kenangan Manis Gong Kebyar
Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan
Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928
Legenda Panjang Sekaa Gong Desa Menyali, Dari Zaman Ki Barak Panji Sakti Hingga ke Panggung PKB
Tags: Desa Pengosekan UbudGong LegendarisPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024Ubud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Next Post

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co