6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 2, 2024
in Panggung
Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

sekaa gong legendaris Desa Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali 2024

PECINTA gong kebyar pasti ingat penampilan Gong Kebyar Legendaris, Sekaa Gong Tunas Mekar, Pengosekan, Kecamatan Ubud sebagai duta Duta Kabupaten Gianyar pada Utsawa (Parade) Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Sekaa gong ini tampil mempesona di hadapan para penggemar kesenian tradisional, Rabu, 10 Juli 2024.

Gong kebyar Tunas Mekar dari Pengosekan ini memang layak disebut sekaa gong legendaris. Berdiri sekitar tahun 1958. Perangkat gongnya mula-mula dibeli dari hasil maderep atau menjadi buruh panen padi.

Di PKB tahun 2024 sekaa tampil satu panggung bersama Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma, Desa Adat Jagaraga, Kecamatan Sawan duta Kabupaten Buleleng di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali. Penampilan sekaa gong ini sangat kentara sekali, kalau memang sekaa ini mempunyai sejarah panjang dalam melestarikan seni karawitan di Bali.

Sekaa Gong Tunas Mekar menyajikan gending-gending merupakan warisan dari para pendahulu mereka. Meski sudah uzur, namun mereka masih mampu menunjukan kesohoran mereka di jaman itu. Penampilan Sekaa Gong Tunas Mekar memang unggul, bagai pepatah “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan Belang.

Maka tak heran, penonton yang menanti sajian itu sejak awal terasa terobati. Para penonton benar-benar dapat menyaksikan kemasyuran sekaa gong dari kampung turis itu. Saat itu, Sekaa Gong Tunas Mekar, Pengosekan menampilkan empat sajian seni pertunjukan, yakni dua tabuh, dan dua tari.

Penampilannya, diawali dengan Tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin. Tabuh ini diwarisi oleh Sekaa Gong Tunas Mekar yang pada awalnya bernama Mekar Sari merupakan Sekaa Gong angkatan pertama. Tabuh ini ditata kembali pada pertengahan tahun 1970-an oleh Alm. I Wayan Gandra, sehingga menjadi lebih dinamis. Sebelum itu, sudah ada Tabuh Nem klasik yang diajarkan oleh Pekak I Made Lebah, ayah dari I Wayan Gandra.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Kemudian menampilkan, Tari Legong Kraton Lasem, sebuah bentuk tari klasik dari Pelegongan, yang mengisahkan kisah cinta Prabu Lasem yang mendapat penolakan dari Diah Rangke Sari karena sudah punya pilihan hatinya. Kemarahan Prabu Lasem atas tolakan ini, menyebabkan Prabu Lasem menyerang pilihan hati dari Diah Rangke sari.

Namun, dalam perjalanannya, Prabu Lasem mendapat pertanda-pertanda buruk dari burung Gagak (pada tarian ini digambarkan dengan Tari Garuda). Prabu Lasem menghalaunya dan melanjutkan perjalanannya untuk menyerang pilihan hati Diah Rangke Sari. Tari ini dibina Ni Luh Mas merupakan cucu dari Pekak I Made Lebah.

Sajian ketiga, menampilkan Tabuh Sekar Jaya yang dimainkan terakhir oleh Sekaa Gong Angkatan Pertama tahun 1978 pada festival se-Kecamatan Ubud sebagai Duta Desa Mas.

Pada tahun 1987, dimainkan kembali oleh Sekaa Gong Anak-anak Tunas Mekar yang berdiri tahun 1983, (kini sebagian besar menjadi penabuh legendaris Sekaa Gong Tunas Mekar).

Tabuh Sekar Jaya menggambarkan kejayaan Penabuh Tunas Mekar yang mana telah mampu memainkan gending-gending kekebyaran baik saat mengiringi tari maupun berbentnuk tabuh yang dipertunjukan. Tabuh Sekar Jaya ditata oleh I Wayan Gandra.

Sebagai sajian pamungkas, Sekaa Gong Tunas Mekar menampilkan Tari Truna Jaya yang menggambarkan masa panca roba dari kaum remaja yang begitu dinamis dalam mencari kesejatian dirinya. Gerakan-gerakan yang menghentak diiringi dengan tabuh yang sangat dinamis serta penuh energi. Penata tari ini adalah : Alm. I Gde Manik dari Jagaraga Buleleng.

Sejarah

Berdasarkan data yang didapat dari salah satu sekaa gong itu, menyebutkan Sekaa Gong Tunas Mekar pada awalnya bernama Sekaa Gong Mekar Sari berdiri sekitar tahun 1958. Sekaa gong ini lahir, ketika tergugahnya hati warga Desa Adat Pengosekan untuk memiliki seperangkat gambelan  gong. Hal tersebut didasari keinganan ngayah setiap ada pujawali di Pura Khayangan Tiga.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Warga merasa ada yang kurang lengkap saat melakukan pujawali, tanpa adanya iringan gamelan gong kebyar. Walaupun saat itu telah diramaikan dengan iringan Gamelan Angklung dengan anggota sekaa sebanyak 32 orang, namun belum juga merasa puas. Hal itu, mengingat setiap akan menggelar unen-unen (tontonan) seni, hati masyarakat gelisah kemana harus meminjam gamelan.

Padahal, setiap pujawali warga rutin menggelar seni pertunjukan tari, seperti Tari Topeng, baik sebagai topeng wali maupun sebagai seni hiburan. Terlebih lagi, ketika mengiringi tari papendetan yang diselenggarakan setap ngaturan “Ajum Pendet”.

Bahkan beberapa hari sebelum pujawali datang, warga khususnya yang suka megamel tak segan-segan mengucurkan keringat memikul gamelan yang dipinjam dari Cokorda Joni asal Puri Ubud Kaleran. Warga secara bergotong-royong berjalan kaki mengangkat barungan galemen gong kebyar itu. Wajar, saat itu belum ada jalan raya, seperti sekarang ini.

Saat mengiringi tari-tarian tersebut, warga utamanya yang memiliki hobi memainkan gamelan tidak perlu mendatangkan penabuh dari luar desa. Sebab, sudah banyak di antara warga tersebut yang bisa dan mengetahui akan irama gamelan. Walau, itu tak sempurna, namun mereka merasa puas, karena masih bisa mengikuti jejak jejak leluhurnya.

Para penabuh biasa mengiringi Tari Rejang dengan tabuh-tabuh palegongan, yaitu Gending Condong, Lasem, Playon, dan Kuntul. Kadang-kadang juga memainkan Tabuh Sisian, Cupak, Tembang Selisir, Calonarang, dan lainnya. Pada saat itu, gamelan yang ada pada waktu itu jumlahnya hanya sedikit, yaitu sekitar 7 wadah.

Kuatnya hasrat warga Desa Adat untuk memiliki gamelan selalu terbentur dengan permasalahan dana. Lalu, Dewa Putu Bitra selaku Bendesa bersama Dewa Putu Sugi selaku wakil dan Dewa Ketut Rimin selaku prajuru lain kemudian berusaha memenuhi keinginan warga yang haus ingin memiliki gamelan melalui paruman (rapat).

Melalui paruman itu, kemudian disepakati mengadakan gamelan dengan cara bergotong-royong, yakni maderep (buruh panen padi). Kegiatan ini dilakukan selama 5 kali panen (kurang lebih dua setengah tahun) untuk mencapai dana sejumlah Rp 35.000- (tiga puluh lima ribu rupiah), harga barungan gamelan waktu itu.

Sekaa gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024 | Foto: Ist

Setelah merasa dana hampir mencukupi, maka segera memesan seperangkat gamelan kepada pande gamelan bernama Gan Griya, seorang pande gamelan dari Desa Tiyingan Klungkung. Warga desa hampir tidak sabar menantikan dan mengharapkan penyelesaian gamelan miliknya. Sedangkan, dana yang terkumpul setelah dihitung-hitung masih jauh dari harga gamelan itu.

Keadaan itu, menjadi beban berat bagi pemimpin-pemimpin desa adat itu sendiri. Sebagai jalan keluarnya, beban itu dikembalikan kepada Desa Adat untuk minta persetujuan masing-masing warga. Dari parum itu, kemudian disepakatan untuk menutupi dana dengan jalan menggadaikan “Druwe Laba” yaitu hak milik Desa Adat.

Milik desa adat itu berupa tanah sawah yang terletak di Subak Lateng seluas +_20 are. Milik desa adat itu digadaikan kepada Jro Mangku Dalem Padang Tegal, senilai Rp 12.000,- (dua belas ribu rupiah). Dana sejumlah itu, untuk melengkapi dana yang sebelumnya sudah terkumpul Rp 23.000,- (dua puluh tiga ribu).

Mungkin sudah takdir, sehingga lahirlah seperangkat gamelan gong yang belum ada pelawahnya, seperti 1 buah pangugal, 4 wadah gangsa pemade, 2 wadah Kantilan, 1 wadah Reyong, 2 wadah Jegogan, 2 wadah Calung, 1 buah kempli (Kajar), 1 buah gong, 1 buah kempur, 1 pasang kendang, 1 buah cengceng dan 5 cakep cengceng kopyak.

Lalu, masalah pelawahnya desa adat kemudian membeli kayu blalu dan pule. Untuk penanganan dan penyelesaian plawah ini diserahkan kepada Dewa Putu Sugi dan Gusti Ketut Dana (kelian pura penataran) untuk menyelesaikannya.

Pemilihan anggota sekaa gong

Gamelan gong kebyar itu kemudian rampung semuanya pada tanggal 31 Januari 1961, maka segera diadakan paruman desa adat lagi. Paruman itu untuk mebicarakan beberapa hal seperti pemilihan anggota sekaa gong dari desa adat itu sendiri. Sekaa ini adalah milik desa adat yang diberi kewajiban mengemban tugas sebagai Sekaa Gong Desa Adat Pengosekan.

Pada saat itu, juga membicarakan tentang permasalahan biaya latihan, jaminan pelatih, pembagian hasil bila kelak dikemudian hari ada hasil. Di parum itu didapatkan keputusan tentang biaya latihan ditanggung oleh desa adat sendiri serta bila ada kerusakan dan kekurangan dari gamelan itu adalah tanggung jawab desa adat.

Untuk pembagian hasil bila kelak di kemudian hari mendatangkan hasil, yakni pembagian hasil 1/3 (sepertiga) ke Desa Adat, 2/3 (duapertiga) ke Sekaa Gong. Pada saat itu, mengadakan pendaftaran anggota sekaa dan pengurusnya dengan struktur yang ada. [T][Disusun dari sejumlah sumber]

Gong Kebyar Legendaris | Sekaa Gong Gunung Sari dari Peliatan, Mendunia Sejak 1930-an
Gong Legendaris Mengulang Kenangan Manis Gong Kebyar
Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan
Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928
Legenda Panjang Sekaa Gong Desa Menyali, Dari Zaman Ki Barak Panji Sakti Hingga ke Panggung PKB
Tags: Desa Pengosekan UbudGong LegendarisPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024Ubud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Next Post

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

Read moreDetails

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

Read moreDetails

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
0
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

Read moreDetails

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails
Next Post
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co