3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
January 26, 2025
in Esai
Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Media Tanam | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

MASALAH sampah kini menjadi tantangan serius bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Timbunan sampah yang tidak terkelola dengan baik menciptakan berbagai dampak negatif yang kompleks. Dampak tersebut dapat mencakup aspek sosial, kesehatan, pariwisata, hingga politik. Di banyak daerah, tumpukan sampah menjadi simbol kegagalan pengelolaan lingkungan. Sampah tidak hanya mencemari udara, tanah, dan air. Akan tetapi dapat juga menimbulkan keresahan sosial. Keresahan tersebut akibat dari bau busuk yang menyengat, ancaman banjir akibat saluran tersumbat, hingga estetika lingkungan yang rusak. Semuanya menciptakan ketidaknyamanan yang meluas di tengah masyarakat.

Secara kesehatan, sampah yang dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja akan menimbulkan berbagai penyakit dan mencemari lingkungan. Kondisi ini memperburuk kualitas hidup, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan sampah. Bagi anak-anak, ancaman ini menjadi semakin berbahaya karena daya tahan tubuh mereka yang lebih rentan terhadap infeksi.

Foto ilustrasi pembakaran sampah di kebun | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Dampak negatif juga terasa dalam sektor pariwisata, khususnya di daerah seperti Bali yang sangat bergantung kepada citra lingkungan yang bersih dan indah. Sampah yang berserakan di pantai, jalan, dan tempat wisata lainnya merusak pengalaman wisatawan dan mencoreng nama baik daerah tersebut. Pariwisata yang terganggu akibat sampah dapat berdampak pada penurunan pendapatan ekonomi masyarakat, mengingat sektor ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian lokal.

Dari sisi politik, masalah sampah sering menjadi isu panas. Bahkan, isu tersebut sering pula menciptakan ketegangan antara masyarakat dan pemerintah. Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan solusi yang efektif memicu kritik publik, unjuk rasa, dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin mereka. Tidak jarang, isu pengelolaan sampah digunakan sebagai senjata politik dalam berbagai kampanye, dengan janji-janji perbaikan yang sering kali tidak terealisasi.

Dalam situasi ini, peran satuan pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak perubahan dalam pengelolaan sampah. Melalui satuan pendidikan, dapat dilakukan praktik langsung pengelolaan sampah dan bahkan kolaborasi dengan masyarakat.

Namun kenyataannya, banyak sekolah justru menjadi produsen sampah yang signifikan, terutama sampah plastik. Kantin sekolah misalnya, sering menjadi sumber utama plastik sekali pakai. Penggunaan plastik sebagai pembungkus makanan dan minuman mempercepat timbunan sampah di sekolah-sekolah. Kondisi ini menjadi sangat ironis bahwa lembaga yang seharusnya menjadi teladan dalam pengelolaan sampah, justru berkontribusi pada masalah tersebut. Hal ini menunjukkan perlunya introspeksi mendalam dan perbaikan sistematis agar sekolah benar-benar dapat berperan sebagai agen perubahan.

Sekolah adalah tempat yang ideal untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan sampah. Melalui kurikulum yang berbasis lingkungan, siswa dapat diajarkan konsep-konsep dasar, seperti reduce, reuse, recycle sejak dini. Pendidikan lingkungan tidak hanya membantu siswa memahami pentingnya menjaga kebersihan. Akan tetapi juga, pendidikan lingkungan membentuk karakter peduli terhadap lingkungan. Selain itu, literasi lingkungan, seperti membaca dan menulis tentang isu sampah, dapat memperluas wawasan siswa mengenai dampak sampah dan cara mengelolanya.

Dalam pengelaolaan sampah, edukasi saja tidak cukup tanpa praktik nyata. Sekolah dapat menjadi contoh dalam pengelolaan sampah dengan menerapkan program-program inovatif, seperti bank sampah. Melalui bank sampah, siswa diajarkan untuk memilah sampah dan memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Selain itu, kegiatan seperti membuat kompos dari sampah organik atau menciptakan eco-brick dari plastik yang tidak terpakai dapat menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek. Pertanyaan yang merupakan tantangan terbesar di sekolah adalah bagaimana mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Kebijakan untuk mengganti plastik dengan bahan yang lebih ramah lingkungan sering mendapat tantangan.  Salah satu alasan utamanya adalah biaya. Produk alternatif seperti kemasan berbahan dasar kertas atau bahan organik sering kali lebih mahal dibanding plastik. Hal ini menjadi kendala, terutama bagi sekolah dengan anggaran terbatas. Selain itu, ketersediaan bahan ramah lingkungan juga belum merata dan sulit diakses di beberapa daerah. Resistensi dari pengguna, baik siswa maupun tenaga pendidik, juga menjadi faktor lain. Mereka cenderung memilih bahan yang praktis dan murah. Kebiasaan menggunakan plastik rupanya memang sulit diubah tanpa edukasi, niat dan dukungan penuh dari semua pihak. Semua itu perlu proses dan harus diterapkan secara konsisten agar sekolah benar-benar menjadi contoh yang baik.

Selain menjadi pusat pendidikan, halaman sekolah dapat dimanfaatkan sebagai kawasan multifungsi yang memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung. Kawasan hijau dapat diciptakan dengan menanam berbagai jenis tanaman yang tidak hanya memperindah lingkungan tetapi juga berfungsi sebagai penyerap polutan. Kawasan produksi, seperti kebun sekolah, dapat digunakan untuk menanam sayuran, buah, atau tanaman obat, yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh warga sekolah. Sementara itu, kawasan rekreasi dengan penataan yang apik, seperti taman bermain atau area relaksasi, akan menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan menyenangkan.

Penambahan elemen edukatif dapat dilakukan melalui gerakan aksi nyata setiap saat. Selain itu perlu adanya pemasangan slogan “Hidup Bersih Tanpa Sampah” atau papan informasi atau poster tentang pentingnya menjaga kebersihan. Semua itu dapat memperkuat pesan kepada siswa dan pengunjung sekolah. Dengan demikian, halaman sekolah tidak hanya menjadi tempat yang indah, tetapi juga sarat manfaat dan mendukung terciptanya budaya hidup bersih. Selain itu, tentu diharapkan dapat mempersempit ruang bagi perilaku membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik.

Peran kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan adalah kunci sukses dari gerakan bebas sampah di setiap satuan pendidikan. Kewibawaan mereka seyogianya dapat dijadikan contoh yang baik bagi siswa. Ketika semua guru dan pegawai mampu menjadi teladan dalam menjaga kebersihan dan menerapkan budaya hidup tanpa sampah maka siswa mudah dapat diarahkan menuju ke budaya tersebut. Penegakan kesepakatan kelas atau kesepakatan sekolah perlu dilakukan secara tegak lurus dan kontinu. Sikap tegas para guru dalam menanamkan budaya literasi lingkungan yang bersih tentu lebih mudah ditaati oleh seluruh warga sekolah. Dengan keteladanan yang konsistensi dari para pendidik, siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai kebersihan di lingkungan mereka.

Selain itu, peran komite sekolah juga menjadi amat krusial dalam menyukseskan gerakan bebas sampah di sekolah. Banyak sekolah tidak memiliki lingkungan yang cukup dalam pengelolaan sampah secara internal. Ketika sampah mesti dipindahkan ke TPA dan perlu biaya jasa atau retribusi angkutan, di sinilah diperlukan sinergi antara sekolah dan komite.

Seharusnya, peran sekolah tidak hanya terbatas di lingkungan internal. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program seperti pelatihan atau workshop untuk orang tua siswa dan masyarakat sekitar dapat meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya mengelola sampah dengan baik. Selain itu, kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal dapat memperkuat program pengurangan sampah yang lebih luas. Harapannya, siswa pun dapat menjadi agen perubahan di rumah dan lingkungannya, menyebarkan ilmu yang mereka pelajari di sekolah.

Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Media Tanam | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Ketika sekolah berhasil menerapkan pengelolaan sampah yang baik, manfaatnya akan dirasakan oleh semua pihak. Lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman. Kesadaran siswa akan pentingnya menjaga lingkungan juga meningkat. Pada akhirnya, semua akan berdampak pada perilaku masyarakat di sekitarnya. Selain itu, pengelolaan sampah yang baik dapat membuka peluang ekonomi baru, seperti pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai.

Sekolah adalah tempat strategis untuk membangun kesadaran tentang pengelolaan sampah. Dengan mengintegrasikan edukasi, praktik langsung, dan kolaborasi dengan masyarakat, sekolah dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Generasi muda yang dididik dengan nilai-nilai peduli lingkungan akan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masa depan. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Agus dan Yogi, Anak Muda Desa Memimpin Pengelolaan Sampah TPS 3R Desa Panji
Di Desa Sinabun, Ada Teknologi Inovasi Pengelolaan Sampah Bernama Trashkleng
Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

 

Tags: Pendidikanpengelolaan sampahSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makna Siwaratri  [Mencari Terang dalam Kegelapan]: Menuju Peleburan Papa Klesa

Next Post

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co