4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan fokus belajar, hingga pada erosi nilai-nilai moral.

Di tengah gempuran gelombang digitalisasi ini, pemerintah akhirnya mengambil suatu kebijakan salah satunya yaitu dengan membatasi akses media sosial bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, bahwa pemerintah tengah mengambil langkah tegas dengan membentuk Tim Penguatan Regulasi Perlindungan Anak di Ranah Digital. Salah satunya menyiapkan regulasi Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN). Dalam pengamatan penulis hal ini bukan hanya soal mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga sekaligus suatu upaya serius untuk menyelamatkan perkembangan rohani anak-anak Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya perkembangan rohani anak bisa terancam oleh media sosial? Dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat? Adanya kebijakan dari Komdigi memang membawa angin segar dan harapan. Namun bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab utama dalam perkembangan rohani anak tetap berada di tangan orang tua dan keluarga.

Keyakinan yang Tergerus di Dunia Digital

Anak-anak, sesuai masanya, memerlukan fondasi nilai moral dan spiritual yang kokoh. Namun, algoritma media sosial justru menyajikan konten tanpa filter moral. Hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya flexing (pamer kekayaan) semakin mengikis nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Memang dengan membatasi akses media sosial, anak-anak diharapkan dapat lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan moral melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, bukan dari seleb TikTok yang hidupnya penuh kepalsuan dan rekayasa.

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase kritis dalam pembentukan identitas moral. Jika anak tidak mendapatkan arahan yang jelas dari orang tua dan lingkungannya, mereka akan mencari nilai-nilai tersebut dari sumber lain, termasuk media sosial, yang sering kali tidak sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut keluarga.

Teladan yang Tergantikan Layar

Anak-anak banyak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi justru yang paling kuat adalah dari contoh nyata. Sayangnya, saat ini banyak orang tua yang justru ikut tenggelam dalam dunia digital, alih-alih jadi panutan mereka malah menciptakan generasi anak yang lebih akrab dengan ponsel daripada berinteraksi dengan mereka sebagai orang tua dan dengan lingkungan sosial. Misalnya, biar anak tidak rewel, dari kecil sudah diberi gadget, biar bisa asyik sendiri.

 Diharapkan, dengan pembatasan media sosial, orang tua kembali memiliki ruang untuk menjadi role model yang nyata, bukan sekadar figur yang hanya ada secara fisik tetapi pikirannya terjebak dalam notifikasi dari ponsel. Albert Bandura dalam teorinya tentang pembelajaran sosial menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, jika orang tua ingin anak-anak mereka memiliki nilai-nilai moral yang kuat, mereka mau tak mau harus lebih dulu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.

Sesuai masanya, anak-anak selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Namun, kita lihat sekarang ini mereka tidak banyak bertanya kepada orang tua atau guru, mereka lebih sering mencari jawaban instan di Google atau media sosial macam TIkTok.

Padahal, algoritma media sosial lebih cenderung menampilkan informasi sensasional daripada kebenaran. Dengan mengurangi akses ke media sosial, tentu saja diharapkan anak-anak dapat kembali belajar berpikir kritis dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendalam mereka dengan orang tua atau siapa pun yang dianggap lebih dewasa di dalam keluarga sebagai manusia nyata, bukan bertanya ke mesin pencari.

Sejalan dengan psikolog Jean Piaget dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, dia menyatakan bahwa anak-anak harus mengalami interaksi langsung untuk membangun pemahaman yang kokoh akan lingkungannya. Tanpa diskusi dan refleksi yang nyata, mereka hanya akan menjadi konsumen pasif yang diterpa banjir informasi tanpa kemampuan untuk menilai kebenaran secara kritis. Hal ini tentu terjadi karena tidak adanya pendampingan oleh orang yang lebih tua yang notabene memiliki kebijaksanaan dan pengalaman.

Tergantikan Scrolling Tanpa Akhir

Dulu, kegiatan seperti doa bersama, membaca kitab suci, atau berbagi cerita moral adalah bagian dari keseharian anak saat lepas bersekolah. Kini, kegiatan itu tergeser oleh scrolling terus menerus yang tak memberikan manfaat berarti. Dengan kebijakan pembatasan media sosial ini, orang tua diharapkan perannya untuk kembali mendampingi anak-anak menikmati aktivitas spiritual yang bermakna tanpa gangguan notifikasi dan dorongan untuk terus melihat layar.

Peran orang tua di sini adalah secara aktif menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan spiritual, bukan hanya mengandalkan sekolah atau tempat ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh Lisa Miller, seorang psikolog klinis dari Columbia University, bahwa spiritualitas yang berkembang sejak kecil terbukti meningkatkan ketahanan mental dan kebahagiaan anak di masa dewasa. Tentu hal ini tidak main-main mengingat dampaknya sangat besar membentuk kepribadian bangsa.

Kita bisa mengacu pada John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam teorinya tentang keterikatan, anak-anak yang merasa aman dalam lingkungan keluarganya akan lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa kehadiran mereka benar-benar terasa oleh anak-anak, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.

Orang Tua Tetap Garda Terdepan

Kebijakan pemerintah dalam membatasi media sosial bagi anak-anak, dalam hal ini bukanlah upaya untuk mengekang kebebasan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan generasi mendatang dari degradasi nilai spiritual dan moral. Namun, kebijakan ini hanya akan berhasil jika didukung oleh peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain adalah bagian penting dari mencari makna hidup.  Oleh karena itu, orang tua tidak bisa hanya menyerahkan peran ini kepada pemerintah atau sekolah. Mereka harus kembali menjadi pusat pendidikan rohani bagi anak, mengambil tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kaya akan nilai-nilai moral.

Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya media sosial, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Pembatasan media sosial memanglah suatu permulaan yang baik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Jadi perlu diingat, kita sebagai orang tua pertama-tama harus memberi contoh dengan meregulasi diri sendiri dulu, agar tidak kecanduan media sosial. Jika tidak bisa, ya akhirnya sama saja. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya

                                                                                               

Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada

Next Post

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co