25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan fokus belajar, hingga pada erosi nilai-nilai moral.

Di tengah gempuran gelombang digitalisasi ini, pemerintah akhirnya mengambil suatu kebijakan salah satunya yaitu dengan membatasi akses media sosial bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, bahwa pemerintah tengah mengambil langkah tegas dengan membentuk Tim Penguatan Regulasi Perlindungan Anak di Ranah Digital. Salah satunya menyiapkan regulasi Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN). Dalam pengamatan penulis hal ini bukan hanya soal mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga sekaligus suatu upaya serius untuk menyelamatkan perkembangan rohani anak-anak Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya perkembangan rohani anak bisa terancam oleh media sosial? Dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat? Adanya kebijakan dari Komdigi memang membawa angin segar dan harapan. Namun bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab utama dalam perkembangan rohani anak tetap berada di tangan orang tua dan keluarga.

Keyakinan yang Tergerus di Dunia Digital

Anak-anak, sesuai masanya, memerlukan fondasi nilai moral dan spiritual yang kokoh. Namun, algoritma media sosial justru menyajikan konten tanpa filter moral. Hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya flexing (pamer kekayaan) semakin mengikis nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Memang dengan membatasi akses media sosial, anak-anak diharapkan dapat lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan moral melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, bukan dari seleb TikTok yang hidupnya penuh kepalsuan dan rekayasa.

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase kritis dalam pembentukan identitas moral. Jika anak tidak mendapatkan arahan yang jelas dari orang tua dan lingkungannya, mereka akan mencari nilai-nilai tersebut dari sumber lain, termasuk media sosial, yang sering kali tidak sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut keluarga.

Teladan yang Tergantikan Layar

Anak-anak banyak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi justru yang paling kuat adalah dari contoh nyata. Sayangnya, saat ini banyak orang tua yang justru ikut tenggelam dalam dunia digital, alih-alih jadi panutan mereka malah menciptakan generasi anak yang lebih akrab dengan ponsel daripada berinteraksi dengan mereka sebagai orang tua dan dengan lingkungan sosial. Misalnya, biar anak tidak rewel, dari kecil sudah diberi gadget, biar bisa asyik sendiri.

 Diharapkan, dengan pembatasan media sosial, orang tua kembali memiliki ruang untuk menjadi role model yang nyata, bukan sekadar figur yang hanya ada secara fisik tetapi pikirannya terjebak dalam notifikasi dari ponsel. Albert Bandura dalam teorinya tentang pembelajaran sosial menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, jika orang tua ingin anak-anak mereka memiliki nilai-nilai moral yang kuat, mereka mau tak mau harus lebih dulu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.

Sesuai masanya, anak-anak selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Namun, kita lihat sekarang ini mereka tidak banyak bertanya kepada orang tua atau guru, mereka lebih sering mencari jawaban instan di Google atau media sosial macam TIkTok.

Padahal, algoritma media sosial lebih cenderung menampilkan informasi sensasional daripada kebenaran. Dengan mengurangi akses ke media sosial, tentu saja diharapkan anak-anak dapat kembali belajar berpikir kritis dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendalam mereka dengan orang tua atau siapa pun yang dianggap lebih dewasa di dalam keluarga sebagai manusia nyata, bukan bertanya ke mesin pencari.

Sejalan dengan psikolog Jean Piaget dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, dia menyatakan bahwa anak-anak harus mengalami interaksi langsung untuk membangun pemahaman yang kokoh akan lingkungannya. Tanpa diskusi dan refleksi yang nyata, mereka hanya akan menjadi konsumen pasif yang diterpa banjir informasi tanpa kemampuan untuk menilai kebenaran secara kritis. Hal ini tentu terjadi karena tidak adanya pendampingan oleh orang yang lebih tua yang notabene memiliki kebijaksanaan dan pengalaman.

Tergantikan Scrolling Tanpa Akhir

Dulu, kegiatan seperti doa bersama, membaca kitab suci, atau berbagi cerita moral adalah bagian dari keseharian anak saat lepas bersekolah. Kini, kegiatan itu tergeser oleh scrolling terus menerus yang tak memberikan manfaat berarti. Dengan kebijakan pembatasan media sosial ini, orang tua diharapkan perannya untuk kembali mendampingi anak-anak menikmati aktivitas spiritual yang bermakna tanpa gangguan notifikasi dan dorongan untuk terus melihat layar.

Peran orang tua di sini adalah secara aktif menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan spiritual, bukan hanya mengandalkan sekolah atau tempat ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh Lisa Miller, seorang psikolog klinis dari Columbia University, bahwa spiritualitas yang berkembang sejak kecil terbukti meningkatkan ketahanan mental dan kebahagiaan anak di masa dewasa. Tentu hal ini tidak main-main mengingat dampaknya sangat besar membentuk kepribadian bangsa.

Kita bisa mengacu pada John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam teorinya tentang keterikatan, anak-anak yang merasa aman dalam lingkungan keluarganya akan lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa kehadiran mereka benar-benar terasa oleh anak-anak, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.

Orang Tua Tetap Garda Terdepan

Kebijakan pemerintah dalam membatasi media sosial bagi anak-anak, dalam hal ini bukanlah upaya untuk mengekang kebebasan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan generasi mendatang dari degradasi nilai spiritual dan moral. Namun, kebijakan ini hanya akan berhasil jika didukung oleh peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain adalah bagian penting dari mencari makna hidup.  Oleh karena itu, orang tua tidak bisa hanya menyerahkan peran ini kepada pemerintah atau sekolah. Mereka harus kembali menjadi pusat pendidikan rohani bagi anak, mengambil tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kaya akan nilai-nilai moral.

Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya media sosial, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Pembatasan media sosial memanglah suatu permulaan yang baik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Jadi perlu diingat, kita sebagai orang tua pertama-tama harus memberi contoh dengan meregulasi diri sendiri dulu, agar tidak kecanduan media sosial. Jika tidak bisa, ya akhirnya sama saja. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya

                                                                                               

Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada

Next Post

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co