14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan fokus belajar, hingga pada erosi nilai-nilai moral.

Di tengah gempuran gelombang digitalisasi ini, pemerintah akhirnya mengambil suatu kebijakan salah satunya yaitu dengan membatasi akses media sosial bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, bahwa pemerintah tengah mengambil langkah tegas dengan membentuk Tim Penguatan Regulasi Perlindungan Anak di Ranah Digital. Salah satunya menyiapkan regulasi Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN). Dalam pengamatan penulis hal ini bukan hanya soal mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga sekaligus suatu upaya serius untuk menyelamatkan perkembangan rohani anak-anak Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya perkembangan rohani anak bisa terancam oleh media sosial? Dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat? Adanya kebijakan dari Komdigi memang membawa angin segar dan harapan. Namun bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab utama dalam perkembangan rohani anak tetap berada di tangan orang tua dan keluarga.

Keyakinan yang Tergerus di Dunia Digital

Anak-anak, sesuai masanya, memerlukan fondasi nilai moral dan spiritual yang kokoh. Namun, algoritma media sosial justru menyajikan konten tanpa filter moral. Hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya flexing (pamer kekayaan) semakin mengikis nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Memang dengan membatasi akses media sosial, anak-anak diharapkan dapat lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan moral melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, bukan dari seleb TikTok yang hidupnya penuh kepalsuan dan rekayasa.

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase kritis dalam pembentukan identitas moral. Jika anak tidak mendapatkan arahan yang jelas dari orang tua dan lingkungannya, mereka akan mencari nilai-nilai tersebut dari sumber lain, termasuk media sosial, yang sering kali tidak sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut keluarga.

Teladan yang Tergantikan Layar

Anak-anak banyak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi justru yang paling kuat adalah dari contoh nyata. Sayangnya, saat ini banyak orang tua yang justru ikut tenggelam dalam dunia digital, alih-alih jadi panutan mereka malah menciptakan generasi anak yang lebih akrab dengan ponsel daripada berinteraksi dengan mereka sebagai orang tua dan dengan lingkungan sosial. Misalnya, biar anak tidak rewel, dari kecil sudah diberi gadget, biar bisa asyik sendiri.

 Diharapkan, dengan pembatasan media sosial, orang tua kembali memiliki ruang untuk menjadi role model yang nyata, bukan sekadar figur yang hanya ada secara fisik tetapi pikirannya terjebak dalam notifikasi dari ponsel. Albert Bandura dalam teorinya tentang pembelajaran sosial menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, jika orang tua ingin anak-anak mereka memiliki nilai-nilai moral yang kuat, mereka mau tak mau harus lebih dulu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.

Sesuai masanya, anak-anak selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Namun, kita lihat sekarang ini mereka tidak banyak bertanya kepada orang tua atau guru, mereka lebih sering mencari jawaban instan di Google atau media sosial macam TIkTok.

Padahal, algoritma media sosial lebih cenderung menampilkan informasi sensasional daripada kebenaran. Dengan mengurangi akses ke media sosial, tentu saja diharapkan anak-anak dapat kembali belajar berpikir kritis dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendalam mereka dengan orang tua atau siapa pun yang dianggap lebih dewasa di dalam keluarga sebagai manusia nyata, bukan bertanya ke mesin pencari.

Sejalan dengan psikolog Jean Piaget dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, dia menyatakan bahwa anak-anak harus mengalami interaksi langsung untuk membangun pemahaman yang kokoh akan lingkungannya. Tanpa diskusi dan refleksi yang nyata, mereka hanya akan menjadi konsumen pasif yang diterpa banjir informasi tanpa kemampuan untuk menilai kebenaran secara kritis. Hal ini tentu terjadi karena tidak adanya pendampingan oleh orang yang lebih tua yang notabene memiliki kebijaksanaan dan pengalaman.

Tergantikan Scrolling Tanpa Akhir

Dulu, kegiatan seperti doa bersama, membaca kitab suci, atau berbagi cerita moral adalah bagian dari keseharian anak saat lepas bersekolah. Kini, kegiatan itu tergeser oleh scrolling terus menerus yang tak memberikan manfaat berarti. Dengan kebijakan pembatasan media sosial ini, orang tua diharapkan perannya untuk kembali mendampingi anak-anak menikmati aktivitas spiritual yang bermakna tanpa gangguan notifikasi dan dorongan untuk terus melihat layar.

Peran orang tua di sini adalah secara aktif menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan spiritual, bukan hanya mengandalkan sekolah atau tempat ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh Lisa Miller, seorang psikolog klinis dari Columbia University, bahwa spiritualitas yang berkembang sejak kecil terbukti meningkatkan ketahanan mental dan kebahagiaan anak di masa dewasa. Tentu hal ini tidak main-main mengingat dampaknya sangat besar membentuk kepribadian bangsa.

Kita bisa mengacu pada John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam teorinya tentang keterikatan, anak-anak yang merasa aman dalam lingkungan keluarganya akan lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa kehadiran mereka benar-benar terasa oleh anak-anak, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.

Orang Tua Tetap Garda Terdepan

Kebijakan pemerintah dalam membatasi media sosial bagi anak-anak, dalam hal ini bukanlah upaya untuk mengekang kebebasan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan generasi mendatang dari degradasi nilai spiritual dan moral. Namun, kebijakan ini hanya akan berhasil jika didukung oleh peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain adalah bagian penting dari mencari makna hidup.  Oleh karena itu, orang tua tidak bisa hanya menyerahkan peran ini kepada pemerintah atau sekolah. Mereka harus kembali menjadi pusat pendidikan rohani bagi anak, mengambil tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kaya akan nilai-nilai moral.

Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya media sosial, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Pembatasan media sosial memanglah suatu permulaan yang baik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Jadi perlu diingat, kita sebagai orang tua pertama-tama harus memberi contoh dengan meregulasi diri sendiri dulu, agar tidak kecanduan media sosial. Jika tidak bisa, ya akhirnya sama saja. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya

                                                                                               

Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada

Next Post

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co