4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan fokus belajar, hingga pada erosi nilai-nilai moral.

Di tengah gempuran gelombang digitalisasi ini, pemerintah akhirnya mengambil suatu kebijakan salah satunya yaitu dengan membatasi akses media sosial bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, bahwa pemerintah tengah mengambil langkah tegas dengan membentuk Tim Penguatan Regulasi Perlindungan Anak di Ranah Digital. Salah satunya menyiapkan regulasi Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN). Dalam pengamatan penulis hal ini bukan hanya soal mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga sekaligus suatu upaya serius untuk menyelamatkan perkembangan rohani anak-anak Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya perkembangan rohani anak bisa terancam oleh media sosial? Dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat? Adanya kebijakan dari Komdigi memang membawa angin segar dan harapan. Namun bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab utama dalam perkembangan rohani anak tetap berada di tangan orang tua dan keluarga.

Keyakinan yang Tergerus di Dunia Digital

Anak-anak, sesuai masanya, memerlukan fondasi nilai moral dan spiritual yang kokoh. Namun, algoritma media sosial justru menyajikan konten tanpa filter moral. Hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya flexing (pamer kekayaan) semakin mengikis nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Memang dengan membatasi akses media sosial, anak-anak diharapkan dapat lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan moral melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, bukan dari seleb TikTok yang hidupnya penuh kepalsuan dan rekayasa.

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase kritis dalam pembentukan identitas moral. Jika anak tidak mendapatkan arahan yang jelas dari orang tua dan lingkungannya, mereka akan mencari nilai-nilai tersebut dari sumber lain, termasuk media sosial, yang sering kali tidak sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut keluarga.

Teladan yang Tergantikan Layar

Anak-anak banyak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi justru yang paling kuat adalah dari contoh nyata. Sayangnya, saat ini banyak orang tua yang justru ikut tenggelam dalam dunia digital, alih-alih jadi panutan mereka malah menciptakan generasi anak yang lebih akrab dengan ponsel daripada berinteraksi dengan mereka sebagai orang tua dan dengan lingkungan sosial. Misalnya, biar anak tidak rewel, dari kecil sudah diberi gadget, biar bisa asyik sendiri.

 Diharapkan, dengan pembatasan media sosial, orang tua kembali memiliki ruang untuk menjadi role model yang nyata, bukan sekadar figur yang hanya ada secara fisik tetapi pikirannya terjebak dalam notifikasi dari ponsel. Albert Bandura dalam teorinya tentang pembelajaran sosial menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, jika orang tua ingin anak-anak mereka memiliki nilai-nilai moral yang kuat, mereka mau tak mau harus lebih dulu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.

Sesuai masanya, anak-anak selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Namun, kita lihat sekarang ini mereka tidak banyak bertanya kepada orang tua atau guru, mereka lebih sering mencari jawaban instan di Google atau media sosial macam TIkTok.

Padahal, algoritma media sosial lebih cenderung menampilkan informasi sensasional daripada kebenaran. Dengan mengurangi akses ke media sosial, tentu saja diharapkan anak-anak dapat kembali belajar berpikir kritis dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendalam mereka dengan orang tua atau siapa pun yang dianggap lebih dewasa di dalam keluarga sebagai manusia nyata, bukan bertanya ke mesin pencari.

Sejalan dengan psikolog Jean Piaget dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, dia menyatakan bahwa anak-anak harus mengalami interaksi langsung untuk membangun pemahaman yang kokoh akan lingkungannya. Tanpa diskusi dan refleksi yang nyata, mereka hanya akan menjadi konsumen pasif yang diterpa banjir informasi tanpa kemampuan untuk menilai kebenaran secara kritis. Hal ini tentu terjadi karena tidak adanya pendampingan oleh orang yang lebih tua yang notabene memiliki kebijaksanaan dan pengalaman.

Tergantikan Scrolling Tanpa Akhir

Dulu, kegiatan seperti doa bersama, membaca kitab suci, atau berbagi cerita moral adalah bagian dari keseharian anak saat lepas bersekolah. Kini, kegiatan itu tergeser oleh scrolling terus menerus yang tak memberikan manfaat berarti. Dengan kebijakan pembatasan media sosial ini, orang tua diharapkan perannya untuk kembali mendampingi anak-anak menikmati aktivitas spiritual yang bermakna tanpa gangguan notifikasi dan dorongan untuk terus melihat layar.

Peran orang tua di sini adalah secara aktif menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan spiritual, bukan hanya mengandalkan sekolah atau tempat ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh Lisa Miller, seorang psikolog klinis dari Columbia University, bahwa spiritualitas yang berkembang sejak kecil terbukti meningkatkan ketahanan mental dan kebahagiaan anak di masa dewasa. Tentu hal ini tidak main-main mengingat dampaknya sangat besar membentuk kepribadian bangsa.

Kita bisa mengacu pada John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam teorinya tentang keterikatan, anak-anak yang merasa aman dalam lingkungan keluarganya akan lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa kehadiran mereka benar-benar terasa oleh anak-anak, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.

Orang Tua Tetap Garda Terdepan

Kebijakan pemerintah dalam membatasi media sosial bagi anak-anak, dalam hal ini bukanlah upaya untuk mengekang kebebasan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan generasi mendatang dari degradasi nilai spiritual dan moral. Namun, kebijakan ini hanya akan berhasil jika didukung oleh peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain adalah bagian penting dari mencari makna hidup.  Oleh karena itu, orang tua tidak bisa hanya menyerahkan peran ini kepada pemerintah atau sekolah. Mereka harus kembali menjadi pusat pendidikan rohani bagi anak, mengambil tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kaya akan nilai-nilai moral.

Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya media sosial, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Pembatasan media sosial memanglah suatu permulaan yang baik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Jadi perlu diingat, kita sebagai orang tua pertama-tama harus memberi contoh dengan meregulasi diri sendiri dulu, agar tidak kecanduan media sosial. Jika tidak bisa, ya akhirnya sama saja. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya

                                                                                               

Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada

Next Post

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co