2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 25, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KEMARIN, saat duduk di bangku depan sebuah warung seusai mengantar tunangan saya bekerja, seorang ibu berhenti tepat di dekat saya. Dari atas sepeda motor, dia menanyakan tentang keberadaan saya; bekerja apa, tempat kerja saya di mana, dan pertanyaan ringan lainnya yang mungkin bertujuan untuk mencairkan suasana di antara kami.

Awalnya saya tidak merasa curiga, tapi seiring percakapan mengalir, saya merasa ibu itu hanya ingin didengarkan. Dia menyampaikan tentang kakinya yang bengkak dan berhubungan dengan penyakit dalam, antara sakit ginjal dan sakit jantung. Saya lebih banyak menyimak apa yang ia sampaikan, kemudian menyarankan untuk berobat rutin ke dokter; apalagi sejak lama ada jaminan kesehatan nasional (JKN) dimana banyak jenis penyakit bisa diobati secara gratis.

Di tengah kehidupan kini yang bergerak pada individualisme, ruang-ruang percakapan dan dialog memang semakin hilang. Jika dulu masyarakat punya kebiasaan mengobrol dengan tetangga, saudara, guru atau para tetua adat, sekarang apalagi sejak adanya ponsel pintar, kesempatan untuk berinteraksi di dunia nyata semakin jarang kita temui sehari-hari.

Orang-orang lebih memilih asyik sendiri dengan ponsel pintar mereka, hingga tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Bahkan, ketika ada acara bersama misalnya pertemuan atau acara ngopi bersama rekan kerja, perhatian mereka lebih banyak pada layar ponsel; entah menjawab pesan, melihat media sosial atau saling membalas komentar dari sebuah kiriman/posting.

Kondisi inilah kemudian membuat orang-orang yang rentan secara psikologis atau istilah resminya orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) kehilangan tempat untuk berbagi, bahkan untuk sekadar ‘curhat’ pun sulit. Seperti cerita seorang ibu di awal tulisan ini, bisa jadi ia termasuk ODMK, walau jika dilihat secara sepintas ia normal-normal saja; berpakaian wajar, mengendarai sepeda motor dengan lancar, namun ada “sesuatu” pada dirinya.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Bali memang tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia atau psikosis tertinggi di Indonesia. Prevalensinya mencapai 11,1 per 1.000 rumah tangga. Ini berarti, dari setiap 1.000 rumah tangga di Bali, terdapat sekitar 11 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia atau psikosis. Sebagai perbandingan, prevalensi skizofrenia/psikosis secara nasional pada tahun 2018 adalah 6,7 per 1.000 rumah tangga.

Saya sendiri adalah penyintas skizofrenia, pertama kali didiagnosa oleh psikiater pada 2009. Sejak itu pula saya berobat secara rutin, menginiasi berdirinya komunitas kesehatan mental di Denpasar, Bali, bersama kawan-kawan senasib berkumpul secara rutin untuk mendapat informasi dan pengetahuan tentang skizofrenia. Juga, saling menguatkan satu sama lain dalam proses pengobatan dan pemulihan. Selain itu juga memberi edukasi kepada masyarakat luas.

Dulu, saya sering merasa menjadi ‘pesakitan’ — orang ‘khusus’ yang berbeda karena pengaruh stigma yang masih kental di masyarakat, termasuk di Bali yang mana gangguan mental sering dihubungkan dengan hal-hal gaib seperti terkena black magic, kutukan leluhur atau bahkan karena karma phala atau buah dari perbuatan di masa lalu atau masa kehidupan terdahulu.

Padahal, sejatinya, gangguan mental adalah murni karena penyakit pada organ otak. Terdapat ketidakseimbangan zat kimiawi atau neurotransmitter yang bisa diobati dengan obat-obatan psikiatri, selain dengan psikoterapi dan metode pengobatan medis modern yang semakin maju.

Sekarang, rasanya saya tidak perlu lagi menyampaikan pada orang banyak bahwa saya penyintas skizofrenia, kecuali dalam konteks dan tempat yang tepat; misalnya untuk memotivasi sesama penyintas gangguan mental untuk rajin minum obat dan tetap semangat menjalani proses jatuh-bangun dalam perjalanan mereka untuk pulih, kembali berkarya dan berdaya.

Masalah kesehatan mental kini telah menjadi hal yang umum. Ada yang sadar mereka ‘sakit’ lalu mencari pertolongan psikolog/psikiater, ada yang memilih pengobatan secara religi/budaya/tradisi, lebih mendekatkan diri pada tuhan dengan juga misalnya menekuni meditasi dan atau yoga.

Ada pula yang tidak sadar, bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka. Kondisi terakhir ini yang perlu mendapat perhatian. Agar tidak membebani diri sendiri dan keluarga, bahkan membahayakan; lari pada hal-hal negatif yang malah memperburuk kondisi mereka. Alih-alih meredakan gejolak atau tekanan yang dihadapi, ‘pelarian’ itu justru malah membuat mereka semakin jauh dari kesempatan untuk mengenal diri, dan mencari pertolongan dan support system yang mampu mendukung pemulihan dari gangguan mental maupun gangguan kepribadian.

Peran negara, komunitas adat, pemerintah daerah, sekali lagi amat penting. Program konsultasi dan pengobatan kesehatan gratis belum menyentuh kesehatan mental; hanya kesehatan fisik saja. Padahal, kesehatan jiwa-raga secara holistik penting. Tidak hanya sehat fisik saja, atau sehat mental saja. Keduanya sebagai satu-kesatuan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pada pemahaman saya kini, yang telah menjalani enam belas tahun pengobatan skizofrenia, bahwa setiap orang pernah terluka dan sakit. Jadi, tidak perlu menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami. Seorang anak yang telah banyak membaca atau mengkonsumsi konten-konten kesehatan mental di media sosial, kemudian menyalahkan orang tuanya sendiri karena pada sebuah titik ia mengalami depresi, misalnya, sebenarnya adalah keliru dan kurang bijaksana.

Saya setuju jika ada yang mengatakan setiap orang tua telah melakukan hal terbaik bagi anak-anak mereka. Jika pun terdapat kekeliruan misalnya pada pola asuh, hal tersebut juga merupakan ‘hasil” dari orang tua-nya orang tua kita, semacam pengulangan yang tanpa sadar dilakukan.

Orang tua kita pada zaman dahulu tidak tahu atau punya sedikit informasi tentang kesehatan mental. Banyak dari mereka yang juga tidak mengenyam pendidikan tinggi. Berhenti untuk saling menyalahkan dan fokus serta kembali pada diri sendiri merupakan langkah maju untuk bisa pulih dari berbagai jenis gangguan mental, baik itu depresi, skizofrenia, bipolar, dan lainnya. Hidup mesti terus berlanjut, bukan? Tidak menutup kemungkinan ketika kita menjadi orang tua nantinya juga tidak melakukan kekeliruan pola asuh pada anak-anak kita. Ya, semua orang pernah sakit dan terluka. Jika melihat dari sudut pandang itu, rasanya seberat apapun penderitaan dari sakit yang kita alami, pasti akan mampu kita hadapi dengan penuh semangat dan optimisme. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri
Kita Semua Berdagang
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya
Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Next Post

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Mengenang Kekasih

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Pitrus Puspito  |  Mengenang Kekasih

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Mengenang Kekasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co