24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 25, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KEMARIN, saat duduk di bangku depan sebuah warung seusai mengantar tunangan saya bekerja, seorang ibu berhenti tepat di dekat saya. Dari atas sepeda motor, dia menanyakan tentang keberadaan saya; bekerja apa, tempat kerja saya di mana, dan pertanyaan ringan lainnya yang mungkin bertujuan untuk mencairkan suasana di antara kami.

Awalnya saya tidak merasa curiga, tapi seiring percakapan mengalir, saya merasa ibu itu hanya ingin didengarkan. Dia menyampaikan tentang kakinya yang bengkak dan berhubungan dengan penyakit dalam, antara sakit ginjal dan sakit jantung. Saya lebih banyak menyimak apa yang ia sampaikan, kemudian menyarankan untuk berobat rutin ke dokter; apalagi sejak lama ada jaminan kesehatan nasional (JKN) dimana banyak jenis penyakit bisa diobati secara gratis.

Di tengah kehidupan kini yang bergerak pada individualisme, ruang-ruang percakapan dan dialog memang semakin hilang. Jika dulu masyarakat punya kebiasaan mengobrol dengan tetangga, saudara, guru atau para tetua adat, sekarang apalagi sejak adanya ponsel pintar, kesempatan untuk berinteraksi di dunia nyata semakin jarang kita temui sehari-hari.

Orang-orang lebih memilih asyik sendiri dengan ponsel pintar mereka, hingga tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Bahkan, ketika ada acara bersama misalnya pertemuan atau acara ngopi bersama rekan kerja, perhatian mereka lebih banyak pada layar ponsel; entah menjawab pesan, melihat media sosial atau saling membalas komentar dari sebuah kiriman/posting.

Kondisi inilah kemudian membuat orang-orang yang rentan secara psikologis atau istilah resminya orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) kehilangan tempat untuk berbagi, bahkan untuk sekadar ‘curhat’ pun sulit. Seperti cerita seorang ibu di awal tulisan ini, bisa jadi ia termasuk ODMK, walau jika dilihat secara sepintas ia normal-normal saja; berpakaian wajar, mengendarai sepeda motor dengan lancar, namun ada “sesuatu” pada dirinya.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Bali memang tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi pengidap skizofrenia atau psikosis tertinggi di Indonesia. Prevalensinya mencapai 11,1 per 1.000 rumah tangga. Ini berarti, dari setiap 1.000 rumah tangga di Bali, terdapat sekitar 11 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia atau psikosis. Sebagai perbandingan, prevalensi skizofrenia/psikosis secara nasional pada tahun 2018 adalah 6,7 per 1.000 rumah tangga.

Saya sendiri adalah penyintas skizofrenia, pertama kali didiagnosa oleh psikiater pada 2009. Sejak itu pula saya berobat secara rutin, menginiasi berdirinya komunitas kesehatan mental di Denpasar, Bali, bersama kawan-kawan senasib berkumpul secara rutin untuk mendapat informasi dan pengetahuan tentang skizofrenia. Juga, saling menguatkan satu sama lain dalam proses pengobatan dan pemulihan. Selain itu juga memberi edukasi kepada masyarakat luas.

Dulu, saya sering merasa menjadi ‘pesakitan’ — orang ‘khusus’ yang berbeda karena pengaruh stigma yang masih kental di masyarakat, termasuk di Bali yang mana gangguan mental sering dihubungkan dengan hal-hal gaib seperti terkena black magic, kutukan leluhur atau bahkan karena karma phala atau buah dari perbuatan di masa lalu atau masa kehidupan terdahulu.

Padahal, sejatinya, gangguan mental adalah murni karena penyakit pada organ otak. Terdapat ketidakseimbangan zat kimiawi atau neurotransmitter yang bisa diobati dengan obat-obatan psikiatri, selain dengan psikoterapi dan metode pengobatan medis modern yang semakin maju.

Sekarang, rasanya saya tidak perlu lagi menyampaikan pada orang banyak bahwa saya penyintas skizofrenia, kecuali dalam konteks dan tempat yang tepat; misalnya untuk memotivasi sesama penyintas gangguan mental untuk rajin minum obat dan tetap semangat menjalani proses jatuh-bangun dalam perjalanan mereka untuk pulih, kembali berkarya dan berdaya.

Masalah kesehatan mental kini telah menjadi hal yang umum. Ada yang sadar mereka ‘sakit’ lalu mencari pertolongan psikolog/psikiater, ada yang memilih pengobatan secara religi/budaya/tradisi, lebih mendekatkan diri pada tuhan dengan juga misalnya menekuni meditasi dan atau yoga.

Ada pula yang tidak sadar, bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka. Kondisi terakhir ini yang perlu mendapat perhatian. Agar tidak membebani diri sendiri dan keluarga, bahkan membahayakan; lari pada hal-hal negatif yang malah memperburuk kondisi mereka. Alih-alih meredakan gejolak atau tekanan yang dihadapi, ‘pelarian’ itu justru malah membuat mereka semakin jauh dari kesempatan untuk mengenal diri, dan mencari pertolongan dan support system yang mampu mendukung pemulihan dari gangguan mental maupun gangguan kepribadian.

Peran negara, komunitas adat, pemerintah daerah, sekali lagi amat penting. Program konsultasi dan pengobatan kesehatan gratis belum menyentuh kesehatan mental; hanya kesehatan fisik saja. Padahal, kesehatan jiwa-raga secara holistik penting. Tidak hanya sehat fisik saja, atau sehat mental saja. Keduanya sebagai satu-kesatuan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pada pemahaman saya kini, yang telah menjalani enam belas tahun pengobatan skizofrenia, bahwa setiap orang pernah terluka dan sakit. Jadi, tidak perlu menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami. Seorang anak yang telah banyak membaca atau mengkonsumsi konten-konten kesehatan mental di media sosial, kemudian menyalahkan orang tuanya sendiri karena pada sebuah titik ia mengalami depresi, misalnya, sebenarnya adalah keliru dan kurang bijaksana.

Saya setuju jika ada yang mengatakan setiap orang tua telah melakukan hal terbaik bagi anak-anak mereka. Jika pun terdapat kekeliruan misalnya pada pola asuh, hal tersebut juga merupakan ‘hasil” dari orang tua-nya orang tua kita, semacam pengulangan yang tanpa sadar dilakukan.

Orang tua kita pada zaman dahulu tidak tahu atau punya sedikit informasi tentang kesehatan mental. Banyak dari mereka yang juga tidak mengenyam pendidikan tinggi. Berhenti untuk saling menyalahkan dan fokus serta kembali pada diri sendiri merupakan langkah maju untuk bisa pulih dari berbagai jenis gangguan mental, baik itu depresi, skizofrenia, bipolar, dan lainnya. Hidup mesti terus berlanjut, bukan? Tidak menutup kemungkinan ketika kita menjadi orang tua nantinya juga tidak melakukan kekeliruan pola asuh pada anak-anak kita. Ya, semua orang pernah sakit dan terluka. Jika melihat dari sudut pandang itu, rasanya seberat apapun penderitaan dari sakit yang kita alami, pasti akan mampu kita hadapi dengan penuh semangat dan optimisme. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri
Kita Semua Berdagang
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya
Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Next Post

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Mengenang Kekasih

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Pitrus Puspito  |  Mengenang Kekasih

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Mengenang Kekasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co