14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 17, 2024
in Esai
Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Kegiatan orang dengan skizofrenia (ODS) di Rumah Berdaya Denpasar. (Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar)

“Siapakah dia?”, “Darimana dia berasal?” Mengapa keluarganya tidak mencarinya?” Pertanyaan itu muncul di pikiran kita saat melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ada di jalanan, sering disebut gelandangan psikotik. Berpakaian kumal, rambut acak-acakan, bau, karena tidak atau jarang mandi. Bahkan mungkin, tidak ingat lagi siapa diri mereka apalagi keluarga asalnya.

Pengalaman pertama tentang ODGJ biasanya ada ketika kita kanak-kanak saat duduk di bangku TK atau SD. Melihatnya di pasar, lapangan dekat rumah, atau juga depan balai desa. Kita pun sering mengolok-olok ODGJ yang membuat mereka marah dan berusaha mengejar kita; kemudian kita merasa senang, dan terus mengulanginya. Hingga ibu atau ayah mengingatkan kita, bahwa kebiasaan tersebut tidak baik. ODGJ adalah manusia biasa yang bisa terluka hatinya.

Ketika saya mahasiswa dan tinggal di rumah kos dekat dengan sebuah fakultas universitas negeri di wilayah Sanglah, Denpasar Selatan, Bali, terdapat  ODGJ yang “menetap” di pinggir sungai kecil, di bawah pohon kamboja dekat dengan palinggih atau pura kecil di sana. Namanya S. Orang-orang menyebut dia sebenarnya berasal dari keluarga kaya. Sejak S mengalami gangguan mental, keluarganya tidak mengurusnya sehingga S “berkelana”. Dia hidup dari belas kasihan warga sekitar yang memberinya nasi bungkus, air minum, kopi dan rokok hampir setiap hari.

S tidak membahayakan; dia terlihat sering berbicara sendiri, juga menyanyikan potongan-potongan lagu sesuai suasana hatinya. Ada lagu sedih, ada pula lagu gembira. Seusai bernyanyi, dia lalu tertawa, lalu kembali berbicara sendiri—seperti ada lawan bicara mengajaknya bercakap-cakap. Begitulah seterusnya hingga malam datang, dia tertidur beratapkan langit. Atau, tidak tidur sama sekali dan asyik dengan pikiran serta halusinasi yang menyertai gangguan mentalnya.

ODGJ lainnya yang saya temui, saat saya bekerja pada sebuah yayasan sosial di sebuah desa di kabupaten Buleleng, Bali bagian utara. Desa itu terletak di pinggir pantai. Suasananya sepi. Disanalah saya melihat sosok lelaki berambut gondrong sering tersenyum kepada orang-orang yang bermain ke pantai, melalui jalanan kecil di pinggir jalan besar yang kerap dilalui kendaraan.

Namanya D. Dia hampir setiap hari berada di sekitar rumah seorang guru yayasan tempat saya bekerja. Kebetulan juga rumahnya menjadi titik kumpul kami para pengajar yayasan. Guru tersebut ditunjuk yayasan sebagai semacam “induk semang” tempat kami makan sehari-hari. D juga biasa terlihat saat kami bersantai seuasai makan siang atau malam.

Sama seperti S, D juga dikenal berasal dari keluarga dengan ekonomi berkecukupan. Entah bagaimana dia bisa jauh “terdampar” dari desa asalnya. Rekan guru sekaligus “induk semang” kami juga sering memberi D makanan, kopi dan juga rokok. Saat merokok, D duduk di bawah pohon di halaman rumah. Dia terlihat sangat menikmati setiap isapan juga hembusan rokok.

S dan D menjadi buah pikir saya saat itu. Mengapa keluarganya tidak mengurus mereka dengan baik, mengajaknya berobat di poli psikiatri rumah sakit daerah atau ke rumah sakit jiwa? Soal biaya tentu tidak ada masalah karena mereka berkecukupan. Ataukah ada sebab lain mengapa keluarga seperti lepas tanggung jawab? Apakah ada hubungannya dengan rasa malu dan stigma?

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, saat saya sendiri oleh banyak sebab mengalami gangguan mental yakni skizofrenia, saya banyak mendapatkan pengetahuan dari psikiater yang merawat saya. Dia mengatakan, bahkan, karena saking lelahnya merawat ODGJ, ada keluarga yang menganggap jika ODGJ mati itu lebih baik.

“Ini bukti bahwa gangguan jiwa meruntuhkan sendi-sendi keluarga. Padahal, sekarang obat-obatan gangguan jiwa sudah sangat mudah didapatkan, termasuk di Puskesmas sebagai unit pelayanan medis terkecil,” katanya.

Dari jawaban ini, saya mendapat kesimpulan bahwa keluarga ODGJ tidak serta merta “membuang” atau menelantarkan ODGJ. Mereka biasanya telah merawat ODGJ semaksimal mungkin. Hanya saja, akibat dari pengetahuan tentang kesehatan mental yang minim, keluarga tidak melakukan pengobatan lanjutan setelah ODGJ sempat diajak berobat ke puskesmas, rumah sakit daerah, atau bahkan ke rumah sakit jiwa. Padahal, ODGJ musti rutin mengkonsumsi obat.

Penyakit mental perlu pengobatan dalam waktu lama, bahkan bisa seumur hidup, pada jenis gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia dengan faktor genetik. Jika putus obat, ODGJ akan mengalami relapse atau kekambuhan: sulit tidur, pola pikir kacau, gaduh-gelisah atau bahkan melakukan tindakan yang membahayakan seperti berkelahi dan bahkan merusak barang-barang juga mengamuk, tergantung dari stressor atau pemicu kekambuhan. Biasanya masalah keluarga.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terkini, di Bali jumlah pengidap gangguan jiwa seperti skizofrenia yakni 11 per 1.000 penduduk. Jadi, ada sekitar 9.000 orang. Angka ini menjadikan Bali sebagai provinsi dengan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terbanyak di Indonesia. ODGJ dikategorikan sebagai penyandang disabilitas psikososial/mental. Kalau kawan tuli atau difabel netra bisa dilihat langsung, berbeda misalnya dengan orang dengan skizofrenia (ODS). Dari luar bisa tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak.

Psikiater Bali Mental Health Clinic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ mengatakan, edukasi tentang kesehatan mental kepada masyarakat umum perlu terus dilakukan. Terlebih lagi di Bali, jika ada warga yang mengalami gangguan jiwa mereka lebih percaya bahwa itu karena black magic, buah karma atau bahkan salahang bhatara, dikutuk oleh dewa dan leluhur.

“Kami pernah menangani ODS di Denpasar Barat. Dia dipasung selama empat tahun sebelum akhirnya kami lepas rantai yang memasungnya. Keluarga awalnya khawatir ia akan mengamuk lagi. Kami beri pengertian kepada keluarga. Dengan pengobatan media, ia berangsur pulih, punya KTP dan SIM. Kini dia bisa membantu orang tuanya berjualan buah,” tutur pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali itu.

Pendapat masyarakat awam bahwa ODGJ tidak akan bisa pulih dan selamanya mesti dirawat didi rumah sakit jiwa tentu keliru. Dengan minum obat secara teratur dalam jangka waktu panjang, peluang ODGJ untuk pulih akan makin besar.

“Setelah pulih, kami di KPSI Bali memberi mereka ruang untuk berkarya dan latihan kerja. Seperti di Rumah Berdaya Denpasar. Di sana penyintas gangguan jiwa menjalani terapi kerja seperti membuat dupa, cuci motor, melukis, menulis. Jadi mereka pagi datang dan sore pulang. Mereka juga mendapat insentif dari keuntungan usaha sehingga bisa mandiri secara finansial,” kata Gusti Rai.

Harapannya, dengan menunjukkan bahwa ODGJ bisa berkarya, stigma di masyarakat pada waktu mendatang akan bisa berkurang. “Kebanyakan orang menstigma ODGJ karena kurangnya informasi dan pengetahuan tentang kesehatan mental. Kini isu ini banyak dibicarakan. Masyarakat tidak lagi takut dicap “gila” jika datang ke psikolog atau psikiater,” sebut Gusti Rai.

Dia menambahkan, ODGJ yang kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia, menurutnya perlu direhabilitasi, termasuk kehidupan dan nama baik mereka. “Juga soal anggapan kematian lebih baik, ini tentu karena salah kaprah. Keluarga ODGJ banyak yang masih malu dan menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Mereka akhirnya diisolasi, dikurung atau dipasung yang justru membuat penyakit mereka makin parah. Kita perlu bahu-membahu membantu ODGJ mendapat pengobatan yang baik, bukan malah menyuburkan stigma,” ujar Gusti Rai. [T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Beberapa Menit Bersama Ketut Ariyani: Membicarakan Hak Pemilih Disabilitas di Bali
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Natal dari Bahan Botol Bekas di Gereja Kristen Protestan Bali-Singaraja : Keindahan dan Kesederhanaan

Next Post

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co