22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 17, 2024
in Esai
Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Kegiatan orang dengan skizofrenia (ODS) di Rumah Berdaya Denpasar. (Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar)

“Siapakah dia?”, “Darimana dia berasal?” Mengapa keluarganya tidak mencarinya?” Pertanyaan itu muncul di pikiran kita saat melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ada di jalanan, sering disebut gelandangan psikotik. Berpakaian kumal, rambut acak-acakan, bau, karena tidak atau jarang mandi. Bahkan mungkin, tidak ingat lagi siapa diri mereka apalagi keluarga asalnya.

Pengalaman pertama tentang ODGJ biasanya ada ketika kita kanak-kanak saat duduk di bangku TK atau SD. Melihatnya di pasar, lapangan dekat rumah, atau juga depan balai desa. Kita pun sering mengolok-olok ODGJ yang membuat mereka marah dan berusaha mengejar kita; kemudian kita merasa senang, dan terus mengulanginya. Hingga ibu atau ayah mengingatkan kita, bahwa kebiasaan tersebut tidak baik. ODGJ adalah manusia biasa yang bisa terluka hatinya.

Ketika saya mahasiswa dan tinggal di rumah kos dekat dengan sebuah fakultas universitas negeri di wilayah Sanglah, Denpasar Selatan, Bali, terdapat  ODGJ yang “menetap” di pinggir sungai kecil, di bawah pohon kamboja dekat dengan palinggih atau pura kecil di sana. Namanya S. Orang-orang menyebut dia sebenarnya berasal dari keluarga kaya. Sejak S mengalami gangguan mental, keluarganya tidak mengurusnya sehingga S “berkelana”. Dia hidup dari belas kasihan warga sekitar yang memberinya nasi bungkus, air minum, kopi dan rokok hampir setiap hari.

S tidak membahayakan; dia terlihat sering berbicara sendiri, juga menyanyikan potongan-potongan lagu sesuai suasana hatinya. Ada lagu sedih, ada pula lagu gembira. Seusai bernyanyi, dia lalu tertawa, lalu kembali berbicara sendiri—seperti ada lawan bicara mengajaknya bercakap-cakap. Begitulah seterusnya hingga malam datang, dia tertidur beratapkan langit. Atau, tidak tidur sama sekali dan asyik dengan pikiran serta halusinasi yang menyertai gangguan mentalnya.

ODGJ lainnya yang saya temui, saat saya bekerja pada sebuah yayasan sosial di sebuah desa di kabupaten Buleleng, Bali bagian utara. Desa itu terletak di pinggir pantai. Suasananya sepi. Disanalah saya melihat sosok lelaki berambut gondrong sering tersenyum kepada orang-orang yang bermain ke pantai, melalui jalanan kecil di pinggir jalan besar yang kerap dilalui kendaraan.

Namanya D. Dia hampir setiap hari berada di sekitar rumah seorang guru yayasan tempat saya bekerja. Kebetulan juga rumahnya menjadi titik kumpul kami para pengajar yayasan. Guru tersebut ditunjuk yayasan sebagai semacam “induk semang” tempat kami makan sehari-hari. D juga biasa terlihat saat kami bersantai seuasai makan siang atau malam.

Sama seperti S, D juga dikenal berasal dari keluarga dengan ekonomi berkecukupan. Entah bagaimana dia bisa jauh “terdampar” dari desa asalnya. Rekan guru sekaligus “induk semang” kami juga sering memberi D makanan, kopi dan juga rokok. Saat merokok, D duduk di bawah pohon di halaman rumah. Dia terlihat sangat menikmati setiap isapan juga hembusan rokok.

S dan D menjadi buah pikir saya saat itu. Mengapa keluarganya tidak mengurus mereka dengan baik, mengajaknya berobat di poli psikiatri rumah sakit daerah atau ke rumah sakit jiwa? Soal biaya tentu tidak ada masalah karena mereka berkecukupan. Ataukah ada sebab lain mengapa keluarga seperti lepas tanggung jawab? Apakah ada hubungannya dengan rasa malu dan stigma?

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, saat saya sendiri oleh banyak sebab mengalami gangguan mental yakni skizofrenia, saya banyak mendapatkan pengetahuan dari psikiater yang merawat saya. Dia mengatakan, bahkan, karena saking lelahnya merawat ODGJ, ada keluarga yang menganggap jika ODGJ mati itu lebih baik.

“Ini bukti bahwa gangguan jiwa meruntuhkan sendi-sendi keluarga. Padahal, sekarang obat-obatan gangguan jiwa sudah sangat mudah didapatkan, termasuk di Puskesmas sebagai unit pelayanan medis terkecil,” katanya.

Dari jawaban ini, saya mendapat kesimpulan bahwa keluarga ODGJ tidak serta merta “membuang” atau menelantarkan ODGJ. Mereka biasanya telah merawat ODGJ semaksimal mungkin. Hanya saja, akibat dari pengetahuan tentang kesehatan mental yang minim, keluarga tidak melakukan pengobatan lanjutan setelah ODGJ sempat diajak berobat ke puskesmas, rumah sakit daerah, atau bahkan ke rumah sakit jiwa. Padahal, ODGJ musti rutin mengkonsumsi obat.

Penyakit mental perlu pengobatan dalam waktu lama, bahkan bisa seumur hidup, pada jenis gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia dengan faktor genetik. Jika putus obat, ODGJ akan mengalami relapse atau kekambuhan: sulit tidur, pola pikir kacau, gaduh-gelisah atau bahkan melakukan tindakan yang membahayakan seperti berkelahi dan bahkan merusak barang-barang juga mengamuk, tergantung dari stressor atau pemicu kekambuhan. Biasanya masalah keluarga.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terkini, di Bali jumlah pengidap gangguan jiwa seperti skizofrenia yakni 11 per 1.000 penduduk. Jadi, ada sekitar 9.000 orang. Angka ini menjadikan Bali sebagai provinsi dengan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terbanyak di Indonesia. ODGJ dikategorikan sebagai penyandang disabilitas psikososial/mental. Kalau kawan tuli atau difabel netra bisa dilihat langsung, berbeda misalnya dengan orang dengan skizofrenia (ODS). Dari luar bisa tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak.

Psikiater Bali Mental Health Clinic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ mengatakan, edukasi tentang kesehatan mental kepada masyarakat umum perlu terus dilakukan. Terlebih lagi di Bali, jika ada warga yang mengalami gangguan jiwa mereka lebih percaya bahwa itu karena black magic, buah karma atau bahkan salahang bhatara, dikutuk oleh dewa dan leluhur.

“Kami pernah menangani ODS di Denpasar Barat. Dia dipasung selama empat tahun sebelum akhirnya kami lepas rantai yang memasungnya. Keluarga awalnya khawatir ia akan mengamuk lagi. Kami beri pengertian kepada keluarga. Dengan pengobatan media, ia berangsur pulih, punya KTP dan SIM. Kini dia bisa membantu orang tuanya berjualan buah,” tutur pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali itu.

Pendapat masyarakat awam bahwa ODGJ tidak akan bisa pulih dan selamanya mesti dirawat didi rumah sakit jiwa tentu keliru. Dengan minum obat secara teratur dalam jangka waktu panjang, peluang ODGJ untuk pulih akan makin besar.

“Setelah pulih, kami di KPSI Bali memberi mereka ruang untuk berkarya dan latihan kerja. Seperti di Rumah Berdaya Denpasar. Di sana penyintas gangguan jiwa menjalani terapi kerja seperti membuat dupa, cuci motor, melukis, menulis. Jadi mereka pagi datang dan sore pulang. Mereka juga mendapat insentif dari keuntungan usaha sehingga bisa mandiri secara finansial,” kata Gusti Rai.

Harapannya, dengan menunjukkan bahwa ODGJ bisa berkarya, stigma di masyarakat pada waktu mendatang akan bisa berkurang. “Kebanyakan orang menstigma ODGJ karena kurangnya informasi dan pengetahuan tentang kesehatan mental. Kini isu ini banyak dibicarakan. Masyarakat tidak lagi takut dicap “gila” jika datang ke psikolog atau psikiater,” sebut Gusti Rai.

Dia menambahkan, ODGJ yang kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia, menurutnya perlu direhabilitasi, termasuk kehidupan dan nama baik mereka. “Juga soal anggapan kematian lebih baik, ini tentu karena salah kaprah. Keluarga ODGJ banyak yang masih malu dan menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Mereka akhirnya diisolasi, dikurung atau dipasung yang justru membuat penyakit mereka makin parah. Kita perlu bahu-membahu membantu ODGJ mendapat pengobatan yang baik, bukan malah menyuburkan stigma,” ujar Gusti Rai. [T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Beberapa Menit Bersama Ketut Ariyani: Membicarakan Hak Pemilih Disabilitas di Bali
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Natal dari Bahan Botol Bekas di Gereja Kristen Protestan Bali-Singaraja : Keindahan dan Kesederhanaan

Next Post

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co