2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 17, 2024
in Esai
Keluarga Kaya ODGJ, Dua Cerita Tentangnya

Kegiatan orang dengan skizofrenia (ODS) di Rumah Berdaya Denpasar. (Dokumentasi Rumah Berdaya Denpasar)

“Siapakah dia?”, “Darimana dia berasal?” Mengapa keluarganya tidak mencarinya?” Pertanyaan itu muncul di pikiran kita saat melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ada di jalanan, sering disebut gelandangan psikotik. Berpakaian kumal, rambut acak-acakan, bau, karena tidak atau jarang mandi. Bahkan mungkin, tidak ingat lagi siapa diri mereka apalagi keluarga asalnya.

Pengalaman pertama tentang ODGJ biasanya ada ketika kita kanak-kanak saat duduk di bangku TK atau SD. Melihatnya di pasar, lapangan dekat rumah, atau juga depan balai desa. Kita pun sering mengolok-olok ODGJ yang membuat mereka marah dan berusaha mengejar kita; kemudian kita merasa senang, dan terus mengulanginya. Hingga ibu atau ayah mengingatkan kita, bahwa kebiasaan tersebut tidak baik. ODGJ adalah manusia biasa yang bisa terluka hatinya.

Ketika saya mahasiswa dan tinggal di rumah kos dekat dengan sebuah fakultas universitas negeri di wilayah Sanglah, Denpasar Selatan, Bali, terdapat  ODGJ yang “menetap” di pinggir sungai kecil, di bawah pohon kamboja dekat dengan palinggih atau pura kecil di sana. Namanya S. Orang-orang menyebut dia sebenarnya berasal dari keluarga kaya. Sejak S mengalami gangguan mental, keluarganya tidak mengurusnya sehingga S “berkelana”. Dia hidup dari belas kasihan warga sekitar yang memberinya nasi bungkus, air minum, kopi dan rokok hampir setiap hari.

S tidak membahayakan; dia terlihat sering berbicara sendiri, juga menyanyikan potongan-potongan lagu sesuai suasana hatinya. Ada lagu sedih, ada pula lagu gembira. Seusai bernyanyi, dia lalu tertawa, lalu kembali berbicara sendiri—seperti ada lawan bicara mengajaknya bercakap-cakap. Begitulah seterusnya hingga malam datang, dia tertidur beratapkan langit. Atau, tidak tidur sama sekali dan asyik dengan pikiran serta halusinasi yang menyertai gangguan mentalnya.

ODGJ lainnya yang saya temui, saat saya bekerja pada sebuah yayasan sosial di sebuah desa di kabupaten Buleleng, Bali bagian utara. Desa itu terletak di pinggir pantai. Suasananya sepi. Disanalah saya melihat sosok lelaki berambut gondrong sering tersenyum kepada orang-orang yang bermain ke pantai, melalui jalanan kecil di pinggir jalan besar yang kerap dilalui kendaraan.

Namanya D. Dia hampir setiap hari berada di sekitar rumah seorang guru yayasan tempat saya bekerja. Kebetulan juga rumahnya menjadi titik kumpul kami para pengajar yayasan. Guru tersebut ditunjuk yayasan sebagai semacam “induk semang” tempat kami makan sehari-hari. D juga biasa terlihat saat kami bersantai seuasai makan siang atau malam.

Sama seperti S, D juga dikenal berasal dari keluarga dengan ekonomi berkecukupan. Entah bagaimana dia bisa jauh “terdampar” dari desa asalnya. Rekan guru sekaligus “induk semang” kami juga sering memberi D makanan, kopi dan juga rokok. Saat merokok, D duduk di bawah pohon di halaman rumah. Dia terlihat sangat menikmati setiap isapan juga hembusan rokok.

S dan D menjadi buah pikir saya saat itu. Mengapa keluarganya tidak mengurus mereka dengan baik, mengajaknya berobat di poli psikiatri rumah sakit daerah atau ke rumah sakit jiwa? Soal biaya tentu tidak ada masalah karena mereka berkecukupan. Ataukah ada sebab lain mengapa keluarga seperti lepas tanggung jawab? Apakah ada hubungannya dengan rasa malu dan stigma?

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, saat saya sendiri oleh banyak sebab mengalami gangguan mental yakni skizofrenia, saya banyak mendapatkan pengetahuan dari psikiater yang merawat saya. Dia mengatakan, bahkan, karena saking lelahnya merawat ODGJ, ada keluarga yang menganggap jika ODGJ mati itu lebih baik.

“Ini bukti bahwa gangguan jiwa meruntuhkan sendi-sendi keluarga. Padahal, sekarang obat-obatan gangguan jiwa sudah sangat mudah didapatkan, termasuk di Puskesmas sebagai unit pelayanan medis terkecil,” katanya.

Dari jawaban ini, saya mendapat kesimpulan bahwa keluarga ODGJ tidak serta merta “membuang” atau menelantarkan ODGJ. Mereka biasanya telah merawat ODGJ semaksimal mungkin. Hanya saja, akibat dari pengetahuan tentang kesehatan mental yang minim, keluarga tidak melakukan pengobatan lanjutan setelah ODGJ sempat diajak berobat ke puskesmas, rumah sakit daerah, atau bahkan ke rumah sakit jiwa. Padahal, ODGJ musti rutin mengkonsumsi obat.

Penyakit mental perlu pengobatan dalam waktu lama, bahkan bisa seumur hidup, pada jenis gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia dengan faktor genetik. Jika putus obat, ODGJ akan mengalami relapse atau kekambuhan: sulit tidur, pola pikir kacau, gaduh-gelisah atau bahkan melakukan tindakan yang membahayakan seperti berkelahi dan bahkan merusak barang-barang juga mengamuk, tergantung dari stressor atau pemicu kekambuhan. Biasanya masalah keluarga.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terkini, di Bali jumlah pengidap gangguan jiwa seperti skizofrenia yakni 11 per 1.000 penduduk. Jadi, ada sekitar 9.000 orang. Angka ini menjadikan Bali sebagai provinsi dengan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terbanyak di Indonesia. ODGJ dikategorikan sebagai penyandang disabilitas psikososial/mental. Kalau kawan tuli atau difabel netra bisa dilihat langsung, berbeda misalnya dengan orang dengan skizofrenia (ODS). Dari luar bisa tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak.

Psikiater Bali Mental Health Clinic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ mengatakan, edukasi tentang kesehatan mental kepada masyarakat umum perlu terus dilakukan. Terlebih lagi di Bali, jika ada warga yang mengalami gangguan jiwa mereka lebih percaya bahwa itu karena black magic, buah karma atau bahkan salahang bhatara, dikutuk oleh dewa dan leluhur.

“Kami pernah menangani ODS di Denpasar Barat. Dia dipasung selama empat tahun sebelum akhirnya kami lepas rantai yang memasungnya. Keluarga awalnya khawatir ia akan mengamuk lagi. Kami beri pengertian kepada keluarga. Dengan pengobatan media, ia berangsur pulih, punya KTP dan SIM. Kini dia bisa membantu orang tuanya berjualan buah,” tutur pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali itu.

Pendapat masyarakat awam bahwa ODGJ tidak akan bisa pulih dan selamanya mesti dirawat didi rumah sakit jiwa tentu keliru. Dengan minum obat secara teratur dalam jangka waktu panjang, peluang ODGJ untuk pulih akan makin besar.

“Setelah pulih, kami di KPSI Bali memberi mereka ruang untuk berkarya dan latihan kerja. Seperti di Rumah Berdaya Denpasar. Di sana penyintas gangguan jiwa menjalani terapi kerja seperti membuat dupa, cuci motor, melukis, menulis. Jadi mereka pagi datang dan sore pulang. Mereka juga mendapat insentif dari keuntungan usaha sehingga bisa mandiri secara finansial,” kata Gusti Rai.

Harapannya, dengan menunjukkan bahwa ODGJ bisa berkarya, stigma di masyarakat pada waktu mendatang akan bisa berkurang. “Kebanyakan orang menstigma ODGJ karena kurangnya informasi dan pengetahuan tentang kesehatan mental. Kini isu ini banyak dibicarakan. Masyarakat tidak lagi takut dicap “gila” jika datang ke psikolog atau psikiater,” sebut Gusti Rai.

Dia menambahkan, ODGJ yang kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia, menurutnya perlu direhabilitasi, termasuk kehidupan dan nama baik mereka. “Juga soal anggapan kematian lebih baik, ini tentu karena salah kaprah. Keluarga ODGJ banyak yang masih malu dan menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Mereka akhirnya diisolasi, dikurung atau dipasung yang justru membuat penyakit mereka makin parah. Kita perlu bahu-membahu membantu ODGJ mendapat pengobatan yang baik, bukan malah menyuburkan stigma,” ujar Gusti Rai. [T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Beberapa Menit Bersama Ketut Ariyani: Membicarakan Hak Pemilih Disabilitas di Bali
Tags: Gangguan JiwaODGJOrang Dengan Gangguan Jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Natal dari Bahan Botol Bekas di Gereja Kristen Protestan Bali-Singaraja : Keindahan dan Kesederhanaan

Next Post

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Gending Sanghyang Sampat dan Cerita Lain di Desa Sangketan, Penebel-Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co