4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Made Chandra by Made Chandra
April 24, 2025
in Khas
Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Upacara di Pura Semuhu

BELAKANGAN ini kita sering mendengar perdebatan mengenai banyaknya pura yang mengalami renovasi besar-besaran, dengan mudahnya diruntuhkan lalu di bangun ulang, tanpa memikirkan aspek historical yang telah pura itu lalui. Catatan-catatan yang tergurat melalui pahatan para sangging (tukang pahat) di masa itu seakan terhapus dan tergantikan oleh blok hitam yang sering kali tampak membosankan.

Sementara para pemimpin adat berlomba-lomba merenovasi ulang pura-pura bersejarah yang ada di Bali, terdapat satu pura di ujung bukit Pulau Nusa Penida yang menolak untuk dipermanenkan, bukan tanpa alasan. Jejak sejarahnya mengakar melalui penuturan lisan dari generasi ke generasi membentuk satu tradisi yang kini diamini oleh para pengempon (pengelola pura).

Pura Semuhu

Pura tersebut bernama Semuhu, tak diketahui jelas makna dari kata Semuhu tersebut, catatan mengenai pura ini pun hampir nihil. Namun keunikan pura tersebut seakan tak ada duanya di Bali. Dari fasad hingga tata cara untuk bersembahyang di pura ini sangatlah terperinci dan khas. Pura yang terletak di Desa Kutampi ini diampu oleh dua banjar adat, yaitu Banjar Jurangaya dan Banjar Pulagan, dua banjar ini secara bergantian membagi tugas untuk membantu pelaksaan upacara di Pura Semuhu.

Tak seperti kebanyakan pura yang berdinding batu padas, sebaliknya fasad dan struktur pura ini hanya bermaterialkan bambu saja, yang tiap tahun diganti secara berkala untuk menjaga ketahanan pura tersebut. Uniknya pura ini terletak di tengah hutan yang jauh dari pemukiman, dengan jalan setapak pura ini dapat diakses melalui tepi jalan menuju arah rimbunan hutan Nusa Penida.

Upacara di Pura Semuhu

Pada awal terbentuknya pura ini bermula dari seorang petani yang berbulan-bulan tak kunjung mendapat hujan untuk membasahi kebunnya. Mengingat daerah di perbukitan Nusa Penida yang tak memungkinkan untuk membuat sumur air akibat jenis kontur tanahnya yang sebagian besar tersusun dari lapisan batu karang, sehingga untuk menyiasati itu masyarakat hanya bisa mengandalkan air hujan untuk kemudian ditampung.

Atas dasar kegundahan tersebut, sang petani pun mesesangi (berjanji)jika dewa menurunkan hujan maka ia akan membangun sebuah pura di tengah hutan, dengan menggunakan material bambu, dan beberapa sesajen persembahan sederhana.

Upacara di Pura Semuhu

Setelah janji tersebut diutarakan, beberapa hari kemudian turunlah hujan yang sangat lebat membasahi seluruh kebun yang ia tanami. Hal itu membuat dirinya sangat bahagia. Mulai saat itulah tradisi untuk mengupacarai Pura Semuhu dimulai dan dijalani oleh penduduk sekitar yang akhirnya terbagi menjadi dua banjar yaitu Jurangaya dan Pulagan.

Tak seperti kebanyakan pura yang berada di Bali, Pura Semuhu hanya boleh dibangun dan diperbaiki dengan material berbahan dasar bambu. Selain itu, Pura Semuhu memiliki  dua jenis pura yang terbagi atas jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini menjadi satu pembeda yang cukup jelas di antara pura-pura lainnya.

Upacara di Pura Semuhu

Begitupun dengan sarana yang ditujukan kepada pura ini, sangatlah tak biasa, canang dan bebantenan yang biasa menghiasi seluruh isi upacara digantikan dengan sesaji khas. Sesaji tersebut terdiri atas beberapa komponen yang berasal dari tiap rumah, seperti pisang, ayam, daun, dan nasi timbungan sebagai salah satu sarana khusus bagi pura laki-laki, dimana nasi timbungan ini merupakan beras yang diletakan di dalam bambu dan kemudian dibakar untuk dipersembahkan bersama sarana lainnya.

Pura yang diupacarai satu tahun sekali ini jatuh pada purnama sasih kasa (bulan pertama menurut pertanggalan tradisional Bali), dengan catatan jika tidak terdapat kematian yang dialami oleh pengempon pura. Upacara di pura ini berlangsung selama kurang lebih 18 hari. Oleh karena itu, selama satu tahun itulah hutan di mana tempat Pura Semuhu berada tidak diperkenankan untuk dijamah, sehingga memberi ruang untuk hutan dapat tumbuh dengan alami.

Upacara di Pura Semuhu

Prosesi upacara lalu dimulai dengan mengambil air suci di salah satu mata air yang ada di pesisir, lalu di lanjutkan dengan membersihkan kembali jalan setapak yang telah tertutup rimbunan semak belukar, karena tak terjamah dalam kurun waktu setahun.

Selama 18 hari itulah masyarakat tidak diperbolehkan untuk mempersembahkan canang seperti biasanya, agar bisa memfokuskan dirinya pada upacara yang sedang berlangsung. Selain itu ada satu aturan yang melarang para pengempon untuk meninggalkan atau mengambil barang apapun yang ada di dalam hutan sekitar pura tersebut, bahkan jika itu hanya selembar daun sekalipun.

Upacara di Pura Semuhu

Kompleksitas dan kesakralan dalam rangkaian upacara serta larangan teritorial yang dilakukan di Pura Semuhu, justru memberikan dampak signifikan terhadap pelestarian hutan di mana pura tersebut dibangun.

Bahan-bahan organik yang dipakai dalam membangun pura ini seakan menjadi antitesis terhadap trend pembangunan ulang pura-pura yang dilakukan secara masif hanya atas dasar ego semata. Mengingatkan bahawa satu pemujaan dapat dilakukan dengan hal yang sederhana sekalipun, yang tentu menjadi sebuah mekanisme pelestarian terhadap alam yang berkelanjutan, satu hal yang sering kali kita abai dengannya.

Oleh karena itu adat dan tradisi yang berakar pada pengetahuan vernakular tentu akan selalu kontekstual dengan tempat di mana tradisi itu berjalan. Di sinilah aturan serta sanksi adat sangat berperan aktif sebagai garda terdepan dalam mengkonservasi hutan-hutan kita.

Pura Semuhu dari masa lalu dan tak berubah hingga kini

Pada akhirnya kita harus sadar bahwa hutan bukanlah tanah kosong yang dapat dieksploitasi tanpa batasan, ia rumah bagi sebuah ekosistem raksasa, baik yang terlihat maupun tak terlihat. Sebuah biodiversitas yang tentu memberikan kontribusi nyata pada kestabilan alam di bumi kita berpijak. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

  • BACA JUGA:
Pura Segara Giri Simora Perekat 13 KK Warga Hindu Bali di Kabupaten Kaimana, Papua Barat
Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   
Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur
Tags: hinduNusa PenidaPura Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Next Post

Trimatra Galung Wiratmaja

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Trimatra Galung Wiratmaja

Trimatra Galung Wiratmaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co