2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Made Chandra by Made Chandra
April 24, 2025
in Khas
Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Upacara di Pura Semuhu

BELAKANGAN ini kita sering mendengar perdebatan mengenai banyaknya pura yang mengalami renovasi besar-besaran, dengan mudahnya diruntuhkan lalu di bangun ulang, tanpa memikirkan aspek historical yang telah pura itu lalui. Catatan-catatan yang tergurat melalui pahatan para sangging (tukang pahat) di masa itu seakan terhapus dan tergantikan oleh blok hitam yang sering kali tampak membosankan.

Sementara para pemimpin adat berlomba-lomba merenovasi ulang pura-pura bersejarah yang ada di Bali, terdapat satu pura di ujung bukit Pulau Nusa Penida yang menolak untuk dipermanenkan, bukan tanpa alasan. Jejak sejarahnya mengakar melalui penuturan lisan dari generasi ke generasi membentuk satu tradisi yang kini diamini oleh para pengempon (pengelola pura).

Pura Semuhu

Pura tersebut bernama Semuhu, tak diketahui jelas makna dari kata Semuhu tersebut, catatan mengenai pura ini pun hampir nihil. Namun keunikan pura tersebut seakan tak ada duanya di Bali. Dari fasad hingga tata cara untuk bersembahyang di pura ini sangatlah terperinci dan khas. Pura yang terletak di Desa Kutampi ini diampu oleh dua banjar adat, yaitu Banjar Jurangaya dan Banjar Pulagan, dua banjar ini secara bergantian membagi tugas untuk membantu pelaksaan upacara di Pura Semuhu.

Tak seperti kebanyakan pura yang berdinding batu padas, sebaliknya fasad dan struktur pura ini hanya bermaterialkan bambu saja, yang tiap tahun diganti secara berkala untuk menjaga ketahanan pura tersebut. Uniknya pura ini terletak di tengah hutan yang jauh dari pemukiman, dengan jalan setapak pura ini dapat diakses melalui tepi jalan menuju arah rimbunan hutan Nusa Penida.

Upacara di Pura Semuhu

Pada awal terbentuknya pura ini bermula dari seorang petani yang berbulan-bulan tak kunjung mendapat hujan untuk membasahi kebunnya. Mengingat daerah di perbukitan Nusa Penida yang tak memungkinkan untuk membuat sumur air akibat jenis kontur tanahnya yang sebagian besar tersusun dari lapisan batu karang, sehingga untuk menyiasati itu masyarakat hanya bisa mengandalkan air hujan untuk kemudian ditampung.

Atas dasar kegundahan tersebut, sang petani pun mesesangi (berjanji)jika dewa menurunkan hujan maka ia akan membangun sebuah pura di tengah hutan, dengan menggunakan material bambu, dan beberapa sesajen persembahan sederhana.

Upacara di Pura Semuhu

Setelah janji tersebut diutarakan, beberapa hari kemudian turunlah hujan yang sangat lebat membasahi seluruh kebun yang ia tanami. Hal itu membuat dirinya sangat bahagia. Mulai saat itulah tradisi untuk mengupacarai Pura Semuhu dimulai dan dijalani oleh penduduk sekitar yang akhirnya terbagi menjadi dua banjar yaitu Jurangaya dan Pulagan.

Tak seperti kebanyakan pura yang berada di Bali, Pura Semuhu hanya boleh dibangun dan diperbaiki dengan material berbahan dasar bambu. Selain itu, Pura Semuhu memiliki  dua jenis pura yang terbagi atas jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini menjadi satu pembeda yang cukup jelas di antara pura-pura lainnya.

Upacara di Pura Semuhu

Begitupun dengan sarana yang ditujukan kepada pura ini, sangatlah tak biasa, canang dan bebantenan yang biasa menghiasi seluruh isi upacara digantikan dengan sesaji khas. Sesaji tersebut terdiri atas beberapa komponen yang berasal dari tiap rumah, seperti pisang, ayam, daun, dan nasi timbungan sebagai salah satu sarana khusus bagi pura laki-laki, dimana nasi timbungan ini merupakan beras yang diletakan di dalam bambu dan kemudian dibakar untuk dipersembahkan bersama sarana lainnya.

Pura yang diupacarai satu tahun sekali ini jatuh pada purnama sasih kasa (bulan pertama menurut pertanggalan tradisional Bali), dengan catatan jika tidak terdapat kematian yang dialami oleh pengempon pura. Upacara di pura ini berlangsung selama kurang lebih 18 hari. Oleh karena itu, selama satu tahun itulah hutan di mana tempat Pura Semuhu berada tidak diperkenankan untuk dijamah, sehingga memberi ruang untuk hutan dapat tumbuh dengan alami.

Upacara di Pura Semuhu

Prosesi upacara lalu dimulai dengan mengambil air suci di salah satu mata air yang ada di pesisir, lalu di lanjutkan dengan membersihkan kembali jalan setapak yang telah tertutup rimbunan semak belukar, karena tak terjamah dalam kurun waktu setahun.

Selama 18 hari itulah masyarakat tidak diperbolehkan untuk mempersembahkan canang seperti biasanya, agar bisa memfokuskan dirinya pada upacara yang sedang berlangsung. Selain itu ada satu aturan yang melarang para pengempon untuk meninggalkan atau mengambil barang apapun yang ada di dalam hutan sekitar pura tersebut, bahkan jika itu hanya selembar daun sekalipun.

Upacara di Pura Semuhu

Kompleksitas dan kesakralan dalam rangkaian upacara serta larangan teritorial yang dilakukan di Pura Semuhu, justru memberikan dampak signifikan terhadap pelestarian hutan di mana pura tersebut dibangun.

Bahan-bahan organik yang dipakai dalam membangun pura ini seakan menjadi antitesis terhadap trend pembangunan ulang pura-pura yang dilakukan secara masif hanya atas dasar ego semata. Mengingatkan bahawa satu pemujaan dapat dilakukan dengan hal yang sederhana sekalipun, yang tentu menjadi sebuah mekanisme pelestarian terhadap alam yang berkelanjutan, satu hal yang sering kali kita abai dengannya.

Oleh karena itu adat dan tradisi yang berakar pada pengetahuan vernakular tentu akan selalu kontekstual dengan tempat di mana tradisi itu berjalan. Di sinilah aturan serta sanksi adat sangat berperan aktif sebagai garda terdepan dalam mengkonservasi hutan-hutan kita.

Pura Semuhu dari masa lalu dan tak berubah hingga kini

Pada akhirnya kita harus sadar bahwa hutan bukanlah tanah kosong yang dapat dieksploitasi tanpa batasan, ia rumah bagi sebuah ekosistem raksasa, baik yang terlihat maupun tak terlihat. Sebuah biodiversitas yang tentu memberikan kontribusi nyata pada kestabilan alam di bumi kita berpijak. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

  • BACA JUGA:
Pura Segara Giri Simora Perekat 13 KK Warga Hindu Bali di Kabupaten Kaimana, Papua Barat
Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   
Meresapi Kedamaian dari Pura Bukit Mentik di Punggung Gunung Batur
Tags: hinduNusa PenidaPura Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Next Post

Trimatra Galung Wiratmaja

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Trimatra Galung Wiratmaja

Trimatra Galung Wiratmaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co