30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memorial Made Supena

Hartanto by Hartanto
April 24, 2025
in Ulas Rupa
Memorial Made Supena

Satu dari 9 karya Made Supena yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

ADA yang perlu dikenang saat pembukaan pameran Kelompok Seni Galang Kangin (KSGK) di Neka Art Museum, Ubud, 18 April 2025. Pameran bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini, bertepatan dengan ulang tahun ke 29  KSGK. Perhelatan ini, juga bisa di artikan untuk mengenang atau re-obituari almarhum  Made Supena yang wafat 6 tahun lalu. Supena, salah satu pendiri KSGK – wafat pada 16 April 2019 di RS Sanglah.

Saya mengenal Supena, pribadi yang rendah hati, sekitar tahun 2000-an. Saat itu, yang saya tahu  Made Supena sebagai perupa dengan penggayaan abstrak. Belakangan, saya baru tahu kalau Supena juga berkarya patung. Khususnya patung kayu. Mungkin saja, ayahandanya, Bapak Wayan Muja sebagai maestro pematung – menginspirasinya. Saya, terbilang suka karya lukis abstraknya, sama sukanya dengan karya-karya patung kayunya.

Pada perhelatan ini, teman-teman GK melalui ketuanya Galung Wiratmaja menampilkan karya Made Supena yang merupakan koleksi Neka Art Museum, Ubud. Karya tersebut dibuat pada tahun 2004. Sembilan (9) patung abstrak figuratif dengan lekukan halus dan permukaan yang dipoles, sangatlah menarik. Pola serat kayu alami terlihat jelas, memberikan karakter organik pada karya ini. Ada detail ukiran atau indentasi yang menyerupai fitur wajah bayi. Ini, menambah dimensi simbolis pada patung karya Supena tersebut.

Patung kayu bertajuk “Generasi”ini adalah representasi yang kuat dari konsep kelahiran dan kreativitas baru. Terlihat bahwa kesembilan figur  tersebut memiliki bentuk yang lembut dan alami, dengan ekspresi yang tenang dan ukiran yang minimalis. Penggunaan berbagai jenis kayu—nangka, suar, dan kambodja—menambah dimensi visual yang kaya, terutama dalam keindahan serat kayu yang menjadi bagian integral dari estetika karya ini.

Satu dari 9 karya Made Supena yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Konsep karya-karya Supena sering kali menggali persoalan alam dan kehidupan, kemudian merepresentasikannya secara formalistik. Selain melukis, ia juga mengembangkan gagasannya dalam bentuk patung, instalasi, dan seni pertunjukan. Karya-karyanya dapat dibaca melalui pendekatan teks dan konteks, di mana unsur-unsur seni rupa dan nilai estetis yang terkandung dalam karya menjadi bagian dari pemaknaan yang lebih dalam.

Dalam hal ini, figur-figur yang menyerupai bayi-bayi dalam patung tersebut bisa diinterpretasikan sebagai simbol awal dari generasi baru dan kreativitas baru. Bentuk yang sederhana namun ekspresif menunjukkan bagaimana Supena mengubah ide dari gambar dua dimensi menjadi karya seni tiga dimensi yang memiliki daya tarik emosional dan filosofis.

Ini, mengingatkan kita pada Aristoteles. Ia memandang seni sebagai bentuk mimesis atau imitasi, tetapi bukan sekadar meniru realitas. Seni juga harus mampu menyampaikan esensi dan emosi yang lebih dalam. Dalam konteks patung Made Supena: Patungnya, meskipun abstrak, dapat dianggap sebagai representasi esensi alam dan manusia. Bentuk organik dan penggunaan kayu sebagai medium mencerminkan hubungan manusia dengan alam, yang merupakan inti dari mimesis.

9 karya Made Supena yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Aristoteles, dalam bukunya yang berjudul “Poetika”, percaya bahwa seni memiliki kemampuan untuk memicu katharsis, yaitu pelepasan emosi yang mendalam. Patung ini, dengan bentuknya yang harmonis dan tekstur kayu alami, dapat memancing refleksi dan emosi dari penikmatnya, seperti rasa tenang, keterhubungan, atau bahkan introspeksi. Karena memang Katharsis dianggap sebagai salah satu tujuan utama dalam berkesenian, sebab membantu audiens mencapai pemurnian emosional dan refleksi mendalam.

Sementara itu,  dalam pemahamanestetika – menurut Aristoteles keindahan terletak pada harmoni, proporsi, dan keteraturan. Penilaian subyektif saya, patung-patung karya Supena  menunjukkan harmoni dalam bentuk dan tekstur, serta menciptakan keseimbangan visual yang memikat. Selain itu, ada produk pemikiran yang melatari konsep penciptaannya.

Pada tahun 2015 Supena juga pernah menggelar 100 karya patung figure bayi di Kubu Kopi, Denpasar. Perhelatan di Kubu Kopi bertajuk : Solitude to The Childs, digelar dari tanggal 30/6/2015, dan berlangsung selama 10 hari. Event ini, semacam protes perupanya pada tindakan kekerasan dan pembunuhan Engeline oleh orang tua angkatnya. Peristiwa di Denpasar ini, sempat viral secara nasional.

Selain itu, Supena juga mengkritisi berbagai peristiwa perang di muka bumi ini. Pasalnya, setiap peristiwa perang senantiasa yang jadi korban adalah ; anak-anak, perempuan, dan orang tua. Jadi, karya Supena tersebut juga semacam representasi atas maraknya fenomena sosial, khususnya ‘ketertindasan’ mereka yang lemah.

Karya seni Supena yang melibatkan patung bayi dari kayu ini dapat dianalisis sebagai bentuk socio-artistic commentary. Dalam studi seni, konsep seperti ini dikenal sebagai seni protes (protest art), yaitu ekspresi artistik yang bertujuan menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial, politik, atau kemanusiaan tertentu.

Satu dari 9 karya Made Supena yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Banyak seniman dan pemikir telah berkontribusi pada gagasan ini, termasuk Francisco Goya, yang menggunakan seni untuk mengkritik ketidakadilan sosial, serta seniman modern seperti Banksy, yang sering menyampaikan pesan sosial melalui seni jalanan.

9 Patung bayi kayu dalam pameran ini, bisa juga menjadi simbol visual yang memancing refleksi emosional dan intelektual terhadap isu-isu seperti kekerasan terhadap anak dan dampak perang. Dari perspektif semiotika, patung bayi kayu bertajuk “Generasi” ini dapat diinterpretasikan sebagai tanda (sign) yang mewakili ketidakberdayaan dan kerentanan manusia di tengah konflik sosial.

Roland Barthes, seorang teoretikus semiotika, mungkin akan menggambarkan karya ini sebagai “mitos budaya,” di mana bentuk seni digunakan untuk mendekonstruksi narasi sosial yang ada, seperti pandangan masyarakat terhadap kekerasan dan penindasan.

Pada tahun 2015 itu juga, Supena mendaftar untuk mengikuti seleksi  Beijing International Art Biennale (BIAB) Cina yang ke 6. Saya tidak terlibat mengkurasi karya Supena. Saya hanya melihat-lihat manakala Supena memilih karyanya,  diantaranya ada karya abstrak figurative Boroburudur, beberapa karya abstrak horizon nya, dan karya Golden Land.

Karena thema perhelatan internasional itu “Memory and Dream”, Supena cenderung memilih Golden Land. Dan karya itu yang lolos di Biennale tersebut. Saya, hanya pernah membantu kurasi perupa Bali termasuk Made Supena, pada event Beijing International Art Biennale pada tahun 2008, 2010, dan 2012. Dan Olimpic Fine art Beijing – sebagai event yang melengkapi Olimpiade Beijing 2008.

Karya Made Supena ” Emosi” 120 x 180 | Foto: google

Sebenarnya, karya abstrak figuraftif Made Supena, maupun karya-karya horizon lautnya, amatlah menarik secara estetik. Hanya saja, subyektifitas saya, agak terganggu rasanya. Pasalnya, di saat itu juga, karya-karya Horizon maupun Borobudur, identik dengan karya maestro Srihadi Soedarsono. Meski jika di pahami secara detail, sangat berbeda karakter goresan, sapuan kuas, karakter ekspresi, dan finishing/finalnya nya.

Kita coba simak karya ‘horizon’ nya yang berjudul “Emosi”. Meskipun lukisan ini bersifat abstrak dan tidak secara langsung merepresentasikan objek nyata, ia tetap mencerminkan elemen-elemen alam seperti horizon dan suasana. Supena berhasil menangkap esensi dari horizon sebagai simbol transisi, ketenangan, dan misteri, yang merupakan inti dari mimesis menurut Aristoteles.

Dari pendekatan estetika, keindahan terletak pada harmoni, proporsi, dan keteraturan. Meskipun abstrak, lukisan ini menunjukkan harmoni dalam penggunaan warna dan komposisi, menciptakan keseimbangan visual yang memikat. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana karya Supena tidak hanya menjadi ekspresi visual, tetapi juga medium untuk menyampaikan konsep-konsep filosofis yang mendalam.

Selain itu, lukisan “Emosi” karya Made Supena ini mencerminkan keahlian dalam menciptakan suasana yang penuh misteri dan kedalaman. Dengan dominasi warna biru, abu-abu, dan hitam, serta garis horizon yang kabur dan terdistorsi – karya ini mengundang interpretasi yang beragam. Teknik sapuan kuas dan perpaduan warna yang digunakan memberikan kesan surreal dan etereal, menciptakan pengalaman visual yang memikat.

Karya Made Supena “Maha Karya Hijau” 120 x 150 cm | Foto: google

Menyimak karya “Borobudur Hijau” Made Supena, saya berpendapat lukisan ini menggambarkan Borobudur dalam bentuk abstrak dengan dominasi warna hijau yang menciptakan suasana mistis dan tenang. Struktur candi terlihat dengan detail yang rumit, sementara latar belakangnya berupa gradasi warna biru yang bertransisi ke hijau gelap di bagian bawah. Warna-warna ini memberikan kesan kedalaman dan harmoni visual.

Komposisi lukisan menunjukkan keseimbangan antara elemen geometris dan organik. Struktur Borobudur yang abstrak tetap mempertahankan proporsi yang harmonis, menciptakan keseimbangan visual yang menarik. Gradasi warna biru dan hijau memberikan dimensi ruang yang mendalam, sementara detail candi menonjolkan tekstur dan pola yang kaya.

Lukisan ini dapat diinterpretasikan sebagai simbol hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas. Warna hijau yang mendominasi, menurut saya, melambangkan kehidupan, kesuburan, dan harmoni, sementara struktur Borobudur mencerminkan warisan budaya dan spiritualitas yang mendalam. Karya ini mengundang audiens untuk merenungkan hubungan antara keindahan alam dan nilai-nilai spiritual.

Made Supena seperti menunjukkan ke-piawaian-nya dalam menggabungkan elemen abstrak dan simbolis untuk menciptakan karya seni yang memikat. Penggunaan warna hijau dan biru menciptakan suasana yang tenang namun penuh makna, sementara detail struktur Borobudur menunjukkan pemahaman mendalam tentang seni, budaya dan misteri kehidupan semesta. Supena memang saya kenal dengan proses kreatifnya yang mendalam, sering kali menggabungkan elemen-elemen abstrak untuk menyampaikan emosi dan perspektif yang unik.

Selanjutnya mari kita lirik karya Supena yang bertajuk “Golden Land”. Karya ini berhasil lolos ke Beijing Biennale 2015. Pada perhelatan ini, hadir kurator internasional Vecenzo Sanfo (Italy), dan Beate Reifenscheid (Jerman). Lukisan ini didominasi oleh warna emas dan coklat, dengan tekstur yang kaya dan sapuan kuas yang dinamis. Komposisi lukisan menciptakan kesan kedalaman dan dinamika, dengan area yang lebih gelap dan terang memberikan kontras visual. Karya ini dapat dilihat sebagai eksplorasi fragmentasi visual melalui tekstur dan warna.

Sementara itu, untuk memahami karya Supena berkait dengan manifesto Galang Kangin, ada baiknya melakukan pendekatan dengan hermeneutika, kita dapat menafsirkan karya ini berdasarkan konteks penciptaannya. Supena, yang sering terinspirasi oleh alam dan kehidupan, mungkin menggunakan elemen-elemen ini untuk merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungannya. Atau, perjalanan emosionalnya. Interpretasi ini juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi yang terkait dengan nilai-nilai budaya yang ia anut – juga kaitannya dengan alam semesta.

Karya Made Supena “Golden Land”, mix media on canvas, 180 x 120 cm | Foto: google

Filosofi yang mendasari karya Made Supena, erat kaitannya dengan nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Ia sering mengangkat tema-tema tentang keseimbangan alam, hubungan manusia dengan lingkungannya, serta ajaran Hindu yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali.

Karyanya mengandung pesan bahwa seni bukan sekadar ekspresi visual, tetapi juga sarana untuk menyampaikan makna yang lebih dalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Spirit yang tertanam di jiwa almarhum ini, semoga menginspirasi para sahabat KSGK dalam proses metamorphosis Manifesto nya, menuju dinamika perkembangan kreatifitas dan produk pemikiran.

Menurut pendapat pribadi saya, karya-karya Made Supena menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa Bali dan nasional, tidak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal tetapi juga sebagai cara untuk mempertahankannya di tengah derasnya arus perkembangan zaman.

Seni yang ia ciptakan mampu memberikan pengalaman visual yang mendalam dan menyentuh nilai-nilai estetika serta spiritual.  Keberhasilan karya Made Supena di beberapa kali Beijing International Art Biennale – menunjukkan pengakuan internasional terhadap kualitas dan relevansi karya seninya. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginMade SupenaNeka Art Museumpameran seniPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil

Next Post

Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails
Next Post
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa

Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co