22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela

Hartanto by Hartanto
April 28, 2025
in Ulas Rupa
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela

Berproses, karya Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

SEBUAH kejujuran, sangat diperlukan dalam proses kreatif berkesenian. Ini, ditunjukkan  oleh  Anak Agung Gede Eka Putra Dela. Beliau, secara jujur mengaku sudah 5-6 tahun ini vakum, tidak melukis. Pada pameran kali ini Gung Putra menampilkan 10 karya kecil-kecil dengan goresan dan ekspresi warna yang berbeda. “Ini menandakan saya masih berproses. Saya seperti anak kecil yang baru belajar melukis lagi”, Gung Putra menjelaskan. Oleh karenanya, ia memberi Judul karyanya ; “Berproses”.

Karya lukis abstrak Gung Putra berukuran 40 x 40 cm, sebanyak 10 panel tersebut, tergantung pada sebuah sisi dinding di ruang pamer Neka Art Museum Ubud, dalam rangka pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”, yang digelar dari tanggal 18 April hingga 18 Mei 2025. Pameran ini selain meramaikan 29 tahun usia Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK) juga untuk memperingati hari lahir almarhum Arie Smit (15 April) tokoh yang memberi warna penting dalam perkembangan seni rupa di Bali. Beliau, adalah tokoh yang membidani lahirnya mazhab senirupa Young Artist.

Konsep “Berproses” yang diusung oleh Gung Putra dapat dianalisis dengan mengadopsi berbagai pendekatan teoritis dan perspektif seni kontemporer, yang menekankan pentingnya perjalanan kreatif sebagai esensi dari ekspresi individu.  Bisa kita awali dengan pendekatan psikologi, Dalam psikologi seni, konsep “Berproses” sejalan dengan teori perkembangan kreativitas yang menekankan pentingnya eksplorasi, eksperimen, dan keberanian untuk kembali ke “langkah awal.”

Anatomi 1, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Psikolog Graham Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” (1926) menyebutkan empat tahap proses kreatif: persiapan, inkubasi, iluminasi (pencerahan), dan verifikasi (Wallas, 1926, hlm. 10). Vakum yang dialami Gung Putra bisa dimaknai sebagai tahap inkubasi, di mana pemikiran kreatif berada dalam jeda untuk memungkinkan fase baru dari iluminasi dan eksplorasi.

Dengan menampilkan 10 karya kecil, yang bervariasi goresan dan warna, konsep karya Gung Putra ini, dapat dianalisis melalui pendekatan “visual honesty.” Teori ini menekankan bahwa setiap elemen dalam karya seni, seperti tekstur, warna, dan bentuk, mencerminkan kondisi emosional seniman. Goresan yang mentah dan penggunaan warna yang spontan mengomunikasikan perjuangan serta semangat pembelajaran ulang dalam fase ini.

Seperti sudah saya sebutkan di atas – tentang kejujuran Gung Putra. Pendekatan “visual honesty” dalam seni rupa memang merujuk pada kejujuran dalam representasi visual. Maksudnya,  seniman menampilkan karya mereka tanpa manipulasi berlebihan atau upaya untuk menyembunyikan proses kreatif nya.

Mengutip dari buku Working Space, Karya Frank Stella (Harvard University Press, 1986), pendekatan ini menekankan pentingnya menunjukkan proses yang mencakup kejujuran dalam ekspresi emosi atau ide. Bukankah karya seni mencerminkan pengalaman atau pandangan seniman tanpa mencoba menyesuaikan diri dengan ekspektasi eksternal?.

Konsep ini sering dikaitkan dengan transparansi dalam teknik, material, dan niat artistik. Bisa juga diartikan, seniman menggunakan material sebagaimana adanya, tanpa mencoba mengubah sifat dasar material tersebut. Misalnya, tekstur alami kanvas atau goresan kuas yang terlihat jelas. Saya melihat ‘kejujuran’ atau ‘kepolosan’ Gung Putra pada proses maupun karya kreatifnya tersebut.

Dalam konteks modern, pendekatan ini dapat berarti menghindari manipulasi digital atau teknik yang terlalu “dipoles,” sehingga karya tetap terasa organik dan autentik. Ini, sesuai dengan pernyataan Frank Stella yang terkenal “What you see is what you see,” yang mencerminkan gagasan bahwa seni mesti apa adanya terhadap bentuk dan materialnya. Kendatipun demikian, dalam seni rupa ada istilah yang sering digunakan yakni ‘artistic license’.

‘Artistic license’ Ini merujuk pada kebebasan seniman untuk menyimpang dari kenyataan atau aturan konvensional demi menciptakan karya yang lebih ekspresif, menarik, atau bermakna – namun ‘kejujuran’ juga merupakan hal penting dalam proses kreatif penciptaan. Dalam dunia sastra, ‘Artistic license’ ini acap disebut ‘licentia poetica’. Untuk itu, menarik jika kita surut ke belakang menelisik proses kreatif Gung Putra di masa lalu.

Anatomi 2, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Jejak kreatifitas Gung Putra bisa kita simak dari kemampuannya merestorasi beberapa karya  maestro, Affandi. Pada katalog pameran pelukis maestro tersebut bersama Nasirun, Putu Sutawijaya, dan Entang Wiharso yang bertajuk “The (Un) Real”, disebutkan bahwa tindakan preservasi karya-karya Afandi sangatlah sempurna, hingga seperti Afandi sedang menghadirkan karya baru. Kendatipun demikian, Gung Putra tetap merendah bahwa semua itu berkat kesempatan dan bimbingan yang diberikan oleh Thomas Freitag, mentor KSKG.

Jejak yang lain  adalah tentang karya rupa dari Gung Putra yang berjumlah 3 panel berukuran 150 x 120 cm per panelnya. Hal itu menunjukkan keahlian luar biasa dalam menggambarkan anatomi manusia secara realistis. Fokus pada detail tekstur kulit, lipatan, dan kontur jari-jari memberikan kesan mendalam tentang pengamatan dan teknik yang sangat terlatih. Penggunaan grayscale menonjolkan permainan bayangan dan pencahayaan, menciptakan dimensi yang hidup dalam beberapa karya lukis anatominya. Kini, ke 3 karya tersebut dikoleksi oleh kolektor dari Belanda.

Beberapa karya lukisnya di masa lalu  ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga sensitivitas artistik dalam menangkap keunikan setiap elemen. Ini adalah contoh yang kuat dari bagaimana studi anatomi dapat menjadi karya seni yang berdiri sendiri. Teknik yang digunakan menunjukkan kualitas realistis yang sangat tinggi, seperti tekstur kulit, kerutan, dan bayangan.

Semua elemen ini memberikan kedalaman dan efek cahaya yang khas, yang biasanya dicapai melalui medium cat Acrylic. Lukisan ini juga mencerminkan tingkat keahlian yang luar biasa dalam menggabungkan anatomi manusia dan permainan cahaya. Yang paling saya suka adalah kemampuan Chiaroscuro (kemampuan tentang teknik pembagian kualitas gelap terang) .Gung Putra.

Lebih lanjut, hal lain yang menjadi perhatian saya, adalah keinginan saya memadankan karya lukis Gung Putra yang berjudul ‘Berproses’ dengan puisi Mantra karya Sutardji Calzoum Bachri (STB). Khususnya puisi yang berjudul ‘Mantera’. Penilaian saya, puisi STB ini merupakan karya sastra dengan medium kata yang ‘abstrak’. STB tercatat dalam sejarah sastra Indonesia dengan kredonya : “membebaskan kata dari makna”. Sementara itu, saya menganggap karya lukis Gung Putra adalah puisi visual.

Mari simak puisi berjudul ‘Mantera’ karya STB. //lima percik mawar//tujuh sayap merpati//sesayat langit perih//dicabik puncak gunung//sebelas duri sepi//dalam dupa rupa//tiga menyan luka//mengasapi duka//puu…… aah!//kau jadi Kau!//Kasihku. Terasa sekali ‘abstraknya’ puisi karya STB ini. Tak mudah untuk menangkap makna yang tersurat. Demikian juga dengan Karya abstrak Gung Putra yang penuh dengan kebebasan ekspresi dan dinamika warna. Ini sangat cocok dipadankan dengan puisi-puisi STB, terutama karena gaya puisinya yang sering disebut sebagai “puisi mantra”. Mungkin karena STB membebaskan kata-kata dari makna konvensional, menciptakan pengalaman yang lebih intuitif dan emosional— maka mirip dengan cara seni rupa abstrak yang mengundang interpretasi bebas.

Anatomi 3, Anak Agung Gede Eka Putra Dela, acrylic on canvas

Menurut saya, yang dinyatakan STB pada puisi di atas adalah pengekpresian pengalaman estetika penyairnya. Makna yang dihadirkan penyairnya  tidak harus hadir dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Mungkin saja makna yang dihadirkan adalah senyawa bebas dari pengalaman estetik dan spiritual pribadi penyairnya. Selanjutnya, bisa saja makna yang hadir berdasar dari interpretasi penikmatnya. Begitulah upaya STB membebaskan kata dari makna, yang justru menghadirkan ‘makna yang lain’.

Seperti kita ketahui,  anasir penting puisi adalah diksi, ijaminasi,  gaya bahasa atau majas, bunyi, rima, ritme, larik, bait, stanza, enjambement, metrum, repetisi, metafora, personifikasi, hiperbola dan tema. Jika saya boleh memaknai unsur-unsur ini, maka saya menyebutnya : Kosa Poetika.  Unsur-unsur puisi ini memang bisa dipadankan/dipergunakan menganalisa karya senirupa.

Lantas bagaimana kalau kita hendak mempergunakan istilah ‘kosa poetika’ untuk karya seni rupa?? Tentu bisa, meski biasanya ‘kosa poetika’ berkait dengan seni sastra. Namun, tidak keseluruhan anasir seni sastra  tersebut bisa dipergunakan pada seni rupa. Menurut saya, kosa poetika atau elemen-elemen puisi seperti narasi, emosi, simbolisme, metafora, ritme, dan lain-lain – bisa diimplementasi kan ke seni rupa. Hanya mediumnya saja yang berbeda dari kedua bidang seni ini.

Berkait dengan pemadanan karya rupa Gung Putra dengan puisi STB, menurut saya jika sastra menggunakan kata (verbal) sebagai medium ekspresinya, maka lukisan menggunakan warna, garis, bentuk, tekstur, dan komposisi visual sebagai medianya. Elemen-elemen ini berperan sebagai “bahasa visual” yang menyampaikan kepada penikmatnya. Sebagaimana kata-kata membangun suasana dalam sastra – sapuan kuas, gradasi warna, atau garis dalam lukisan juga bisa menciptakan cerita atau suasana tanpa perlu menggunakan kata-kata.

Dengan kata lain, lukisan berbicara melalui visual, membiarkan imajinasi dan persepsi pemirsa menjadi bagian dari interpretasinya. Medium ini begitu luas dan fleksibel, sehingga seniman dapat menciptakan segalanya mulai dari sesuatu yang realistis hingga abstrak. Coba simak bagaimana Gung Putra menggunakan palet warna yang berani dan kontras, seperti oranye, biru, hijau, merah, dan hitam. Kombinasi warna ini menciptakan suasana yang dinamis dan penuh energi. Beberapa karya memiliki tema warna dominan, sementara yang lain lebih seimbang dalam distribusi warnanya.

Garis-garis dalam karya ini bervariasi dari tebal dan tegas hingga tipis dan halus. Garis-garis tersebut memberikan arah dan gerakan dalam komposisi, menciptakan dinamika yang menarik. Ada garis yang terstruktur dan lurus, serta garis yang lebih tegas dan mengalir. Sementara itu, bentuk-bentuk yang dihadirkan sebagian besar bersifat abstrak dan tidak beraturan. Ada perpaduan antara bentuk geometris dan bentuk bebas yang memberikan kedalaman dan kompleksitas pada karya. Interaksi antara bentuk-bentuk ini membuat setiap karya memiliki keunikan tersendiri. Tekstur dalam karya-karya ini sangat kaya dan beragam.

Gung Putra menggunakan teknik yang menghasilkan efek visual yang mendalam, seperti area yang halus dan datar, serta area yang lebih berlapis dan kasar. Tekstur ini memberikan dimensi tambahan pada karya. Melangkapi anasir tersebut, Gung Putra menata komposisi visual di setiap karya dengan seimbang dan terencana dengan baik. Elemen warna, garis, bentuk, dan tekstur disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan harmoni dan kesatuan. Meskipun bersifat abstrak, setiap karya memiliki titik fokus yang menarik perhatian, sementara elemen-elemen lainnya mendukung keseluruhan visual. Begitulah tafsir saya pada ‘puisi visual’ yang dihadirkan Gung Putra, dengan pendekatan Kosa Poetika. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Dalam Sinema di Living World Denpasar, Tayangkan 12 Film Peran Perempuan

Next Post

TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails
Next Post
TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

TANAH, NATAH, DAN  PENANAMAN MODAL

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co