14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Tangis Alam’ Agus Murdika

Hartanto by Hartanto
May 4, 2025
in Ulas Rupa
‘Tangis Alam’ Agus Murdika

Agus Murdika, Golden Field, Mix Media on Canvas, 200 x 150

SALAH satu karya yang cukup mendapat perhatian beberapa teman perupa pada pameran senirupa dalam rangka Ulang Tahun ke 29 Galang Kangin adalah karya Agus Murdika yang berjudul “Golden Field”. Pameran yang mengambil tema “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini berlangsung di Neka Art Museum, Ubud – 18 April hingga 18 Mei 2025.

Lebih lanjut, mari kita simak karya Agus Murdika. Konsep “Golden Field (ladang mas)” karya Agus ini sungguh menggugah hati. Pesannya tentang pelestarian alam di tengah pembangunan, membawa refleksi yang mendalam. Kolase yang memadukan kertas prada dan karung goni sebagai simbol alam adalah pilihan yang kuat secara visual dan filosofis, menggabungkan kemewahan dengan elemen alami yang sederhana.

Agus tengah menampilkan narasi tentang proses kreatif atau inspirasi dari pengalaman nya di lapangan, sehingga karya ini tak hanya terlihat namun ada hal yang bisa dirasakan. Judul “Golden Field” sudah sangat kuat, dengan makna yang bisa diasosiasikan pada kecantikan alam yang tengah menghadapi ancaman. Simbolisme ini, tentu menciptakan dialog antara pembangunan dan pelestarian alam.

Karya ini adalah ekspresi dari keprihatinan seniman terhadap perlakuan manusia yang tidak bijak terhadap alam. Seni sebagai medium ekspresi memungkinkan seniman untuk menyampaikan pesan emosional dan moral kepada audiens. Ia tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga berakar pada konteks sosial dan lingkungan di mana pembangunan sering mengorbankan alam. Dengan pendekatan seni kontekstual , membantu memahami bagaimana karya ini berinteraksi dengan isu-isu yang relevan di masyarakat.

Agus Murdika, Hamparan Hijau, 2018

Dalam beberapa pemahaman, karya ini dapat dilihat sebagai kritik terhadap homogenisasi pembangunan yang mengabaikan nilai-nilai lokal dan ekologis. Sekaligus kritik terhadap pola pemikiran ‘developmentalis’. Kolase sebagai medium juga mencerminkan pluralitas dan keberagaman, yang menjadi ciri khas seni kontemporer. Jadi, menurut saya, karya ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung pesan mendalam yang mengajak audiens untuk merenungkan dampak pembangunan terhadap alam. Terutama, dampak negatip.

Kalo misalnya hendak bersandar pada pendekatan pemikiran Edvard Munch, tentu karya Agus ini sangat terkait dengan penggayaan ekspresionisme, di mana emosi dan pengalaman pribadi menjadi inti dari karya seni. Munch percaya bahwa seni harus mampu menangkap perasaan manusia yang mendalam – sering kali melalui warna yang dramatis dan komposisi yang menggugah.

Jika kita hendak menerapkan pendekatan ini pada karya “Golden Field” oleh Agus Murdika, kita bisa melihat bagaimana penggunaan material seperti kertas prada dan karung goni menciptakan kontras atas realita yang terjadi di alam semesta. Seperti Munch yang menggunakan warna untuk mengekspresikan ketegangan psikologis, Agus menggunakan tekstur dan material untuk menyampaikan konflik antara modernitas lewat pembangunan dan pelestarian alam.

Agus Murdika, Lembah Menguning, 2018

Dalam konteks ekspresionisme, karya ini bisa dianggap sebagai manifestasi kegelisahan terhadap perubahan lingkungan. Munch sering menggambarkan ketakutan dan kecemasan dalam karyanya. Sementara itu, dalam “Golden Field,” ada ketegangan antara keindahan alam dan ancaman pembangunan yang bisa dirasakan oleh audiens. Pendekatan ini juga bisa memperkuat interpretasi bahwa karya Agus bukan hanya sekadar kritik sosial, tetapi juga ekspresi emosional dari pengalaman langsungnya di lapangan. Seperti Munch yang menuangkan perasaan pribadinya ke dalam lukisan, Agus menghadirkan refleksi yang lebih dalam tentang hubungan manusia dengan alam.

Mengutip dari buku “Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas : Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa”, karya Abdul Hadi W.M (Yogyakarta : Matahari, 2004). Sejarah perkembangan seni abstrak diawali abad 19. Pada abad 20, seni ini berkembang pesat ke beberapa benua, termasuk benua Amerika. Pada awal kemunculannya, seni abstrak berhasil memunculkan aliran seni baru di Barat, yang mana sebelumnya selalu berkutat pada aliran rasionalisme, empirisme, materialisme serta realisme.

Agus Murdika, Tebing Batu, 100 x 100, Acrylik dan Kolase Goni di Kanvas

Seperti kita ketahui seni abstrak ekspresionisme tidak hanya terbatas menjadi aliran pada senirupa saja. Abstrak ekspresionisme memiliki pengaruh yang luas di berbagai bidang seni selain seni rupa. Gerakan ini, yang berkembang di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, menekankan ekspresi emosional dan kebebasan artistik, yang kemudian memengaruhi seni pertunjukan, musik, sastra, dan bahkan arsitektur.

Pada seni pertunjukan, konsep ekspresi spontan dan gestur dramatis dari abstrak ekspresionisme menginspirasi teater eksperimental dan tari kontemporer. Seniman seperti Jackson Pollock, yang terkenal dengan teknik “drip painting,” memengaruhi koreografi yang lebih bebas dan ekspresif dalam dunia tari. Sementara itu, abstrak ekspresionisme juga berkontribusi pada perkembangan jazz bebas dan avant-garde, di mana improvisasi menjadi elemen utama. Musisi seperti Ornette Coleman dan John Coltrane mengadopsi pendekatan yang mirip dengan pelukis ekspresionis abstrak—mengutamakan spontanitas dan ekspresi emosional.

Dalam sastra, gerakan ini memengaruhi penulisan puisi dan prosa yang lebih eksperimental, seperti karya Beat Generation yang menolak struktur konvensional dan lebih menekankan ekspresi pribadi serta spontanitas. Ekspresionisme dalam sastra muncul sebagai reaksi terhadap materialisme, kemakmuran borjuis yang berpuas diri, mekanisasi dan urbanisasi yang cepat, dan dominasi keluarga dalam masyarakat Eropa pra-Perang Dunia I. Itu adalah gerakan sastra yang dominan di Jerman selama dan segera setelah Perang Dunia I.

Agus Murdika, Lembah Hijau, 200 x 150, Acrylic dan Kolase Goni di Kanvas, 2023

Begitulah perkembangan seni abstrak ekspresionis yang mempengaruhi bidang seni lainnya, tidak hanya seni rupa. Selanjutnya, saya ingin menganalisa karya Agus Murdika yang bertajuk “Golden Field” ini dengan pendekatan susastra. Menurut interpretasi saya lukisan “Golden Field” karya Agus Murdika, memiliki kesamaan dengan beberapa karya sastra yang mengangkat tema alam, pembangunan, dan kritik sosial. Jika kita mencari padanan dalam sastra Indonesia, karya ini bisa disejajarkan dengan Sapardi Djoko Damono, terutama dalam dalam karyanya  yang berisi kritik sosial terhadap perubahan lingkungan dan pembangunan.

Menurut saya, salah satu karya Sapardi yang parallel dengan lukisan “Golden Field” adalah puisi berjudul “Dalam Setiap Diri Kita” . Karya Sapardi ini adalah sebuah puisi yang menyoroti ancaman pada diri manusia atas perubahan sosial yang mendestruksi lingkungan dan budaya. Melalui metafora serigala dan aneka pertanyaan, puisi ini menggambarkan pergeseran budaya. Simak petikan awal sajaknya ;   Dalam setiap diri kita, berjaga-jaga//segerombolan serigala//Di ujung kampung, lewat pengeras suara,//….. Manusia seperti kehilangan esensi kehidupan tradisional, dan muncul tindakan destruktif dalam masyarakat yang mempengaruhi harmoni dengan alam.

Sapardi menandaskan di baris 10 hingga 14 ini //Gamelan jadi langka. Di keramaian kota//kita mencari burung-burung//yang diusir dari perbukitan//dan suka bertengger sepanjang kabel listrik//yang mendadak lenyap begitu saja//. Ini merupakan refleksi kritis penyairnya, akan perubahan dan ancaman di dalam masyarakat. Hal ini bisa kita simak kreatifitas Agus yang menggunakan kolase sebagai medium, bisa kita padankan dengan penggunakan simbol-simbol bahasa oleh Sapardi untuk menyampaikan pesan tentang  pentingnya kita memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan perubahan sosial.

Agus Murdika, Golden Field, Mix Media on Canvas, 200 x 150

Lebih lanjut, saya ingin memberikan komentar pada beberapa karyanya yang bagi saya amat menarik. Saya cukup tertarik pada karya Agus yang bertajuk “Dimensi Rasa”.  Karya ini, menurut saya merupakan sebuah eksplorasi visual yang memadukan berbagai elemen abstrak dengan tekstur dan warna yang dinamis. Karya yang berukuran 100 x 320 cm, dan terdiri dari 4 panel  ini menggunakan media campuran di kanvas. Dibuat pada tahun 2017.

Bagian atas karya ini menampilkan material logam tembaga, kuningan, dan almunium yang tampak kusut, memberikan efek tiga dimensi yang kuat. Sementara itu, bagian bawahnya dipenuhi dengan bentuk-bentuk abstrak dalam warna hijau, oranye, dan hitam, menciptakan kontras yang menarik antara struktur dan fluiditas. Secara konseptual, karya ini bisa diinterpretasikan sebagai refleksi terhadap emosi dan pengalaman manusia, di mana tekstur kasar dan warna-warna yang bertabrakan – mungkin melambangkan kompleksitas perasaan.

Dalam lukisan ini, ia tidak  menyoroti keindahan alam yang terlihat, seperti gunung, sawah, dan lanskap lainnya, tetapi mengangkat isu eksploitasi terhadap sumber daya yang tidak tampak oleh mata. Penggunaan material logam juga bisa merepresentasikan kegelisahan dan kegusaran Agus akan tindakan sewenang-wenang manusia terhadap kekayaan alam di bawah tanah (tambang). Karya ini menjadi bentuk kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui secara besar-besaran. Ini, dilakukan demi keuntungan segelintir orang, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Sementara itu, warna-warna yang lebih lembut di bagian bawah bisa menunjukkan kerinduan Agus akan harmoni keindahan alam.

Agus Murdika, Dimensi Rasa, 100 x 320, Mix Media di Kanvas, 2017

Secara keseluruhan, Agus Murdika memang acap mengangkat tema yang berkisar pada hubungan manusia dengan alam. Ini merupakan keprihatinannya pada perilaku manusia hingga menghadapi konsekuensi dari kerusakan alam yang terjadi – baik akibat bencana alam maupun ulah manusia. Melalui seni, ia menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian dan empati terhadap lingkungan. Karya ini memiliki daya tarik visual yang kuat sekaligus menyampaikan pesan sosial yang mendalam. Dengan pendekatan artistiknya yang unik dan eksploratif.

Kepedulian Agus pada alam juga bisa kita simak dari karyanya yang bertajuk “Lembah Menguning”. Karya bertahun 2018 oleh Agus Murdika ini adalah sebuah lukisan abstrak yang kaya warna, dengan dominasi kuning serta aksen merah, biru, dan hijau. Komposisi ini menciptakan kesan lanskap yang dinamis, penuh gerakan dan dinamika.   Jika memakai pendekatan semiotika, warna dan bentuk dalam lukisan ini dapat dilihat sebagai tanda yang memiliki makna. Kuning yang melimpah mungkin merepresentasikan alam yang meranggas, bisa juga menjadi metafora untuk eksploitasi atau perubahan ekologi yang terjadi di lembah tersebut.

Gaya ekspresif dalam karya ini menunjukkan bagaimana seniman menuangkan emosi dan pemikirannya tentang alam. Teknik yang digunakan menciptakan kesan spontanitas dan kebebasan, yang sering kali menjadi ciri khas seni ekspresionis. Jika dikaitkan dengan pernyataan Agus Murdika yang acap prihatin pada tindak eksploitasi alam, “Lembah Menguning” bisa diinterpretasikan sebagai refleksi atas perubahan lanskap akibat campur tangan manusia. Warna kuning yang dominan bisa menjadi simbol dari tanah yang mulai kehilangan kesuburannya akibat eksploitasi. Jika kita punya kepekaan lebih manakala menikmati karya-karya Agus, mungkin bisa kita rasakan ‘tangis alam’. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Tags: Agus MurdikaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Next Post

Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co