2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 4, 2025
in Esai
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

ADA hal menarik disampaikan Jean Couteau, penulis dan budayawan asal Prancis yang sejak lama bermukim di Bali, dalam webinar “Jejak Rempah Pulau Dewata untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada Jumat,16 Oktober 2020.

Jean Couteau yang menjadi salah satu narasumber webinar tersebut mengungkapkan, karakter masyarakat Bali sangat terbuka terhadap sesuatu yang bersifat ‘luar’ atau liyan, misalkan agama dan budaya asing yang dibawa bangsa lain sejak zaman dahulu.

Ia mencontohkan, para pedagang yang membawa pengaruh agama Islam di Buleleng yang pada masa itu adalah jalur perdagangan laut. Warga yang beragama berbeda dengan warga lokal tersebut banyak bermukim di Buleleng yang merupakan pantai utara Bali, dimana terjadi pertukaran budaya, tak hanya perdagangan dan ekonomi.

“Ketika ada warga Islam yang meninggal, warga lokal mengurusnya dengan tata cara agama lokal. Dari situ kemudian muncul istilah ‘Bhatara Mekkah” yang menunjukkan keterbukaan dan apresiasi luar biasa terhadap agama lain,” ujarnya.

Tak hanya itu, Jean Couteau mengatakan jika kita membaca kembali sejarah Bali di mana Raja Jaya Pangus yang mempersunting perempuan asal Cina juga memunculkan istilah “Bhatara Cina” menunjukkan keterbukaan masyarakat Bali terhadap hal yang baru, dalam hal ini akulturasi budaya.

“Tak ada kefanatikan terhadap agama. Pada masa penjajahan negara Barat abad 19 dan 20, setelah Indonesia merdeka tidak sama sekali muncul resistensi terhadap warga negara asing yang menjadi wisatawan saat datang berkunjung ke Bali. Ini berbeda dengan yang terjadi di negara bekas jajahan lain, “ jelasnya.

Jean Couteau menambahkan, bahkan, turis yang memiliki bakat khusus seperti seniman Walter Spies dan Rudolf Bonet dianggap sebagai seorang guru karena kemampuan yang dimiliki punya arti dan makna mendalam bagi masyarakat Bali.

“Bahkan setelah kematian mereka dibuatkan tempat penghormatan dan masyarakat lokal menganggap mereka orang yang patut dihormati. Ini sekali lagi menunjukkan apresiasi masyarakat Bali terhadap orang dan sesuatu yang liyan,” katanya.

Keterbukaan masyarakat Bali terhadap orang luar dan pengaruh yang dibawanya menjadikan Bali sebagai pulau yang memiliki toleransi agama yang tinggi. Hal ini yang menjadikan Bali begitu ‘berkilau’ dan dikagumi warga lain di dunia.

“Bahkan, kejadian Bom Bali tak membuat masyarakat Bali membenci warga luar Bali yang beragama lain. Dari pengamatan saya, mereka menganggap kejadian itu untuk keseimbangan kosmis atau karena ada yang kurang dari perilaku masyarakat,” ucapnya.

Tapi, kata Jean Couteau, jika ia ditanya apakah toleransi yang ada di Bali sejak ratusan tahun lalu akan bisa bertahan di masa depan ia merasa tidak yakin jika melihat fenomena yang berkembang di masyarakat.

“Menjadi tugas politikus dan cendekiawan untuk lebih awas terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Juga, menjadi sadar tentang fakta yang ada misalnya soal perubahan demografi di Bali yang menurut saya juga membawa perubahan lain,” pungkasnya. 

Kasus Loloan dan Gerokgak

Dua hari raya Nyepi yakni pada tahun 2023 dan tahun 2025 menyisakan ‘pekerjaan rumah’ bersama tentang arti dan makna toleransi beragama. Ramai dibicarakan tentang “pelanggaran” Nyepi di kelurahan Loloan Timur, Jembrana, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali. Saat hari raya Nyepi, 29 Maret 2025 terlihat warga Muslim berkeliaran di jalan dan tetap menyalakan lampu saat malam hari, padahal itu tidak boleh dilakukan.

Mengacu pada aturan agama dan adat-istiadat di Bali yakni Catur Brata Penyepian, empat pantangan utama yang dijalankan umat Hindu selama perayaan Hari Raya Nyepi. Diantaranya, Amati Geni (tidak menyalakan api/lampu), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian, dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang atau melakukan hiburan).

Memang, perayaan Nyepi tahun 2025 bersamaan dengan hari terakhir umat Muslim menjalankan shalat Tarawih pada Ramadhan lalu. Berdasarkan keputusan bersama dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Pemerintah Provinsi Bali, warga muslim di Bali diizinkan untuk melakukan shalat Tarawih di masjid atau mushala terdekat, asalkan tidak mengendarai kendaraan bermotor. Dengan kata lain, berjalan kaki. Pengeras suara masjid juga dimatikan.

Dari keterangan Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, saat video warga Loloan berkeliaran di jalan dan menjadi viral di media sosial, kondisi tersebut memang sejak lama berlangsung. Warga Loloan ada sejak ratusan tahun lalu dan mendiami wilayah yang menjadi ‘hadiah’ dari Raja Jembrana kala itu, karena jasa para warga Loloan yang telah membantu kerajaan Jembrana dari segi pertahanan. Mereka bersuku Melayu-Bugis dan dikenal pemberani, diperbantukan sebagai pasukan kerajaan Jembrana ketika itu.

Meski begitu, masyarakat Hindu-Bali terlanjur terluka dan marah karena Nyepi semestinya dihormati dan ditaati seluruh warga Bali, apapun agama dan sukunya. Isu primordial oleh beberapa pihak termasuk media massa sektarian terus “digoreng” yang membuat suasana semakin panas dan muncul kekhawatiran akan terjadinya konflik horizontal di Pulau Dewata.

Serupa dengan kasus Loloan, di kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, pada hari raya Nyepi 22 Maret 2023 silam juga terjadi “pelanggaran” Nyepi. Beberapa warga memaksa diri untuk rekreasi di Pantai Prapat Agung. Oleh dua orang warga, AZ dan MR, mereka berusaha membuka portal yang dijaga oleh pecalang (petugas adat) untuk masuk ke pantai. Insiden ini menuai protes dan kemarahan warga Hindu di Bali. Mereka menuntut pelaku untuk dihukum sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Setelah kejadian tersebut, Desa Sumberklampok melakukan paruman (musyawarah) dan memutuskan untuk memproses dua warga tersebut. Keduanya kemudian dikenakan wajib lapor dan dijerat dengan Pasal 156 KUHP tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman empat tahun penjara. Hingga pada 14 April 2025 aparat gabungan dari Polres Buleleng dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng menjemput paksa AZ dan MR. Eksekusi ini menuai kritik dan reaksi termasuk oleh MUI Provinsi Bali, yang menyebut terdapat kekerasan dalam proses eksekusi tersebut. Kini dua tersangka penistaan agama itu telah ditahan di Lapas Singaraja, kabupaten Buleleng, Bali.

Toleransi dan Perubahan Demografi

Jika pada zaman dahulu para tetua di Bali bahkan menyebut warga Muslim sebagai Nyama (saudara) Selam (Islam) yang telah mendiami Pulau Dewata semenjak ratusan tahun lalu, kini ungkapan tersebut seperti cerita masa lalu yang penuh dengan romantisme. Bali, yang menjadi daerah migrasi warga dari seluruh Indonesia, menyebabkan perubahan demografi tidak jarang mengundang berbagai masalah, misalnya meningkatnya angka kriminalitas.

Hal ini sekarang menimbulkan resistensi warga lokal terhadap warga pendatang di Bali. Padahal, jika membuka lagi lembar-lembar sejarah, tidak semua warga Muslim di Bali adalah “pendatang”. Di beberapa kabupaten/kota di Bali, terdapat kantong-kantong penduduk Islam yang telah ada sejak dahulu kala. Sebut saja di Buleleng, Jembrana, Klungkung, Karangasem bahkan di Kota Denpasar sendiri sebagai ibu kota provinsi Bali.

Toleransi kemudian menjadi “barang mahal” saat arus politik identitas menguat sejak beberapa dasawarsa terakhir di Bali. Kita pun bertanya-tanya; akankah toleransi beragama di Bali bisa terus ada dan bisa dipertahankan? Maka, pernyataan Jean Couteau dalam sebuah webinar di tengah tulisan ini menjadi penting untuk kita resapi bersama: (bahwa) perubahan demografi di Bali akan juga membawa perubahan lain. Menjadi tugas politikus dan cendikiawan untuk lebih awas terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Tags: baliCinahinduHindu BaliMuslimmuslim balitoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tangis Alam’ Agus Murdika

Next Post

Kisah Bubur dan Telur yang Tak Berdosa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Kisah Bubur dan Telur yang Tak Berdosa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co