23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 4, 2025
in Esai
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

ADA hal menarik disampaikan Jean Couteau, penulis dan budayawan asal Prancis yang sejak lama bermukim di Bali, dalam webinar “Jejak Rempah Pulau Dewata untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada Jumat,16 Oktober 2020.

Jean Couteau yang menjadi salah satu narasumber webinar tersebut mengungkapkan, karakter masyarakat Bali sangat terbuka terhadap sesuatu yang bersifat ‘luar’ atau liyan, misalkan agama dan budaya asing yang dibawa bangsa lain sejak zaman dahulu.

Ia mencontohkan, para pedagang yang membawa pengaruh agama Islam di Buleleng yang pada masa itu adalah jalur perdagangan laut. Warga yang beragama berbeda dengan warga lokal tersebut banyak bermukim di Buleleng yang merupakan pantai utara Bali, dimana terjadi pertukaran budaya, tak hanya perdagangan dan ekonomi.

“Ketika ada warga Islam yang meninggal, warga lokal mengurusnya dengan tata cara agama lokal. Dari situ kemudian muncul istilah ‘Bhatara Mekkah” yang menunjukkan keterbukaan dan apresiasi luar biasa terhadap agama lain,” ujarnya.

Tak hanya itu, Jean Couteau mengatakan jika kita membaca kembali sejarah Bali di mana Raja Jaya Pangus yang mempersunting perempuan asal Cina juga memunculkan istilah “Bhatara Cina” menunjukkan keterbukaan masyarakat Bali terhadap hal yang baru, dalam hal ini akulturasi budaya.

“Tak ada kefanatikan terhadap agama. Pada masa penjajahan negara Barat abad 19 dan 20, setelah Indonesia merdeka tidak sama sekali muncul resistensi terhadap warga negara asing yang menjadi wisatawan saat datang berkunjung ke Bali. Ini berbeda dengan yang terjadi di negara bekas jajahan lain, “ jelasnya.

Jean Couteau menambahkan, bahkan, turis yang memiliki bakat khusus seperti seniman Walter Spies dan Rudolf Bonet dianggap sebagai seorang guru karena kemampuan yang dimiliki punya arti dan makna mendalam bagi masyarakat Bali.

“Bahkan setelah kematian mereka dibuatkan tempat penghormatan dan masyarakat lokal menganggap mereka orang yang patut dihormati. Ini sekali lagi menunjukkan apresiasi masyarakat Bali terhadap orang dan sesuatu yang liyan,” katanya.

Keterbukaan masyarakat Bali terhadap orang luar dan pengaruh yang dibawanya menjadikan Bali sebagai pulau yang memiliki toleransi agama yang tinggi. Hal ini yang menjadikan Bali begitu ‘berkilau’ dan dikagumi warga lain di dunia.

“Bahkan, kejadian Bom Bali tak membuat masyarakat Bali membenci warga luar Bali yang beragama lain. Dari pengamatan saya, mereka menganggap kejadian itu untuk keseimbangan kosmis atau karena ada yang kurang dari perilaku masyarakat,” ucapnya.

Tapi, kata Jean Couteau, jika ia ditanya apakah toleransi yang ada di Bali sejak ratusan tahun lalu akan bisa bertahan di masa depan ia merasa tidak yakin jika melihat fenomena yang berkembang di masyarakat.

“Menjadi tugas politikus dan cendekiawan untuk lebih awas terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Juga, menjadi sadar tentang fakta yang ada misalnya soal perubahan demografi di Bali yang menurut saya juga membawa perubahan lain,” pungkasnya. 

Kasus Loloan dan Gerokgak

Dua hari raya Nyepi yakni pada tahun 2023 dan tahun 2025 menyisakan ‘pekerjaan rumah’ bersama tentang arti dan makna toleransi beragama. Ramai dibicarakan tentang “pelanggaran” Nyepi di kelurahan Loloan Timur, Jembrana, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali. Saat hari raya Nyepi, 29 Maret 2025 terlihat warga Muslim berkeliaran di jalan dan tetap menyalakan lampu saat malam hari, padahal itu tidak boleh dilakukan.

Mengacu pada aturan agama dan adat-istiadat di Bali yakni Catur Brata Penyepian, empat pantangan utama yang dijalankan umat Hindu selama perayaan Hari Raya Nyepi. Diantaranya, Amati Geni (tidak menyalakan api/lampu), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian, dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang atau melakukan hiburan).

Memang, perayaan Nyepi tahun 2025 bersamaan dengan hari terakhir umat Muslim menjalankan shalat Tarawih pada Ramadhan lalu. Berdasarkan keputusan bersama dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Pemerintah Provinsi Bali, warga muslim di Bali diizinkan untuk melakukan shalat Tarawih di masjid atau mushala terdekat, asalkan tidak mengendarai kendaraan bermotor. Dengan kata lain, berjalan kaki. Pengeras suara masjid juga dimatikan.

Dari keterangan Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, saat video warga Loloan berkeliaran di jalan dan menjadi viral di media sosial, kondisi tersebut memang sejak lama berlangsung. Warga Loloan ada sejak ratusan tahun lalu dan mendiami wilayah yang menjadi ‘hadiah’ dari Raja Jembrana kala itu, karena jasa para warga Loloan yang telah membantu kerajaan Jembrana dari segi pertahanan. Mereka bersuku Melayu-Bugis dan dikenal pemberani, diperbantukan sebagai pasukan kerajaan Jembrana ketika itu.

Meski begitu, masyarakat Hindu-Bali terlanjur terluka dan marah karena Nyepi semestinya dihormati dan ditaati seluruh warga Bali, apapun agama dan sukunya. Isu primordial oleh beberapa pihak termasuk media massa sektarian terus “digoreng” yang membuat suasana semakin panas dan muncul kekhawatiran akan terjadinya konflik horizontal di Pulau Dewata.

Serupa dengan kasus Loloan, di kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, pada hari raya Nyepi 22 Maret 2023 silam juga terjadi “pelanggaran” Nyepi. Beberapa warga memaksa diri untuk rekreasi di Pantai Prapat Agung. Oleh dua orang warga, AZ dan MR, mereka berusaha membuka portal yang dijaga oleh pecalang (petugas adat) untuk masuk ke pantai. Insiden ini menuai protes dan kemarahan warga Hindu di Bali. Mereka menuntut pelaku untuk dihukum sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Setelah kejadian tersebut, Desa Sumberklampok melakukan paruman (musyawarah) dan memutuskan untuk memproses dua warga tersebut. Keduanya kemudian dikenakan wajib lapor dan dijerat dengan Pasal 156 KUHP tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman empat tahun penjara. Hingga pada 14 April 2025 aparat gabungan dari Polres Buleleng dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng menjemput paksa AZ dan MR. Eksekusi ini menuai kritik dan reaksi termasuk oleh MUI Provinsi Bali, yang menyebut terdapat kekerasan dalam proses eksekusi tersebut. Kini dua tersangka penistaan agama itu telah ditahan di Lapas Singaraja, kabupaten Buleleng, Bali.

Toleransi dan Perubahan Demografi

Jika pada zaman dahulu para tetua di Bali bahkan menyebut warga Muslim sebagai Nyama (saudara) Selam (Islam) yang telah mendiami Pulau Dewata semenjak ratusan tahun lalu, kini ungkapan tersebut seperti cerita masa lalu yang penuh dengan romantisme. Bali, yang menjadi daerah migrasi warga dari seluruh Indonesia, menyebabkan perubahan demografi tidak jarang mengundang berbagai masalah, misalnya meningkatnya angka kriminalitas.

Hal ini sekarang menimbulkan resistensi warga lokal terhadap warga pendatang di Bali. Padahal, jika membuka lagi lembar-lembar sejarah, tidak semua warga Muslim di Bali adalah “pendatang”. Di beberapa kabupaten/kota di Bali, terdapat kantong-kantong penduduk Islam yang telah ada sejak dahulu kala. Sebut saja di Buleleng, Jembrana, Klungkung, Karangasem bahkan di Kota Denpasar sendiri sebagai ibu kota provinsi Bali.

Toleransi kemudian menjadi “barang mahal” saat arus politik identitas menguat sejak beberapa dasawarsa terakhir di Bali. Kita pun bertanya-tanya; akankah toleransi beragama di Bali bisa terus ada dan bisa dipertahankan? Maka, pernyataan Jean Couteau dalam sebuah webinar di tengah tulisan ini menjadi penting untuk kita resapi bersama: (bahwa) perubahan demografi di Bali akan juga membawa perubahan lain. Menjadi tugas politikus dan cendikiawan untuk lebih awas terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Tags: baliCinahinduHindu BaliMuslimmuslim balitoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tangis Alam’ Agus Murdika

Next Post

Kisah Bubur dan Telur yang Tak Berdosa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Kisah Bubur dan Telur yang Tak Berdosa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co