24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
April 22, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

BELAKANGAN ini kita yang berkutat di ranah akademik, baik sebagai pembelajar, pengajar, maupun keduanya, tentu tidak asing dengan istilah moderasi yang lekat dengan diksi “beragama”. Diksi, yang bukan hanya sebatas konsepsi tentang laku dan sikap beragama yang tidak ekstrim. namun juga menjadi  basis dari program-program pemerintah untuk memperkuat lekatan sosial atau istilah kerennya social cohesion.

Berkat adanya moderasi beragama  tentu ada pula anggaran yang digelontorkan untuk berbagai kegiatan dari yang sifatnya pencegahan sampai penanganan.

Terlepas dari adanya asumsi seputar kegiatan moderasi yang hanya bersifat seremonial, meskipun ini sebenarnya ini fakta, setidaknya acara tersebut sedikit mengenyangkan bagi para mahasiswa seperti saya yang masih cemas menghadapi jatah konsumsi  di tanggal tua.

Moderasi, moderasi, dan moderasi sudah menjadi diksi yang menjejali isi kepala ketika membahas seputar dinamika sosial keagamaan. Namun sayangnya moderasi seperti berhenti pada konsepsi yang terbungkus dalam seremonial birokratis, terpampang dalam jargon-jargon organisasi kemahasiswaan atau keormasan agar terlihat progresif dan inklusif,  dan  menjadi bahan  kejar target publikasi para akademisi yang masih  berkutat dengan problem kesejahteraan.  

Dari situasi dan kondisi itu rasa-rasanya narasi besar seputar moderasi perlu kita refleksikan dan koreksi kembali.

Moderasi yang Melekat

Bangsa yang sudah terlanjur dipersatukan dalam keberagaman ini sebenarnya tidak asing dengan konsepsi dan laku moderasi. Jadi, moderasi sendiri bukanlah hal baru.  Dari sisi budaya misalnya, sebagai orang Jawa sejak kecil saya diingatkan oleh nenek dari ayah tentang petuah “Ngono yo ngono nanging ojo ngono”, yang bisa dimaknai jangan kebablasan. Seiring berjalannya waktu setelah sedikit menelaah filsafat Jawa saya kembali bertemu istilah serupa  dalam prinsip hidup sakmadyo, yang bisa dimaknai tidak terlalu berlebihan dan “andum basuki”, yang bermakna walaupun ada perbedaan, selalu mengusahakan agar keduanya memperoleh keselamatan.

Di budaya suku yang lain sependek pengetahuan saya juga terdapat ajaran yang berisikan keseimbangan dalam bersikap dan penghormatan terhadap keberagaman. Suku Batak di Sumatera Utara mengedepankan prinsip “dalihan na tolu” (tungku tiga kaki) yang mengatur relasi setara antar-kelompok kekerabatan untuk mencegah konflik melalui dialog. Suku Dayak di Kalimantan menjunjung konsep “huma betang” yang menekankan hidup bersama secara harmonis dalam rumah panjang, mengutamakan musyawarah dan solidaritas komunitas.

Sementara suku Bugis di Sulawesi Selatan mengamalkan “siri’ na pacce” (harga diri dan tanggung jawab kolektif) sebagai panduan moral untuk menjaga keadilan sosial dan mencegah ekstremisme.

Di Bali, perihal moderasi tercermin melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Dari contoh-contoh tadi, sebenarnya moderasi bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, toh eksistensi moderasi secara tersirat maupun tersurat melekat dalam sistem kebudayaan dari masing-masing suku dan tentunya agama yang dianut.

Moderasi di Ambang Senjakala

Dalam konteks yang lebih modern, moderasi dikemas menjadi lebih akademis dan diwacanakan sebagai solusi yang paling efektif di tengah dinamika zaman yang semakin problematik. Namun moderasi juga menemui tantangannya sendiri, baik secara epistemologis dan ontologis.

Dalam narasi modern, moderasi kerap dipromosikan sebagai jalan tengah yang objektif dan rasional, seolah terbebas dari bias ideologis.

Namun, jika kita menimbangnya dari sudut pandang filsafat maka kita harus mempertanyakan konstruksi epistemologis di balik klaim “netralitas” ini. Apakah moderasi benar-benar independen dari relasi kuasa yang membentuknya, atau justru menjadi alat hegemonik untuk menormalisasi tatanan yang dominan?

Konsep moderasi modern sebagai solusi “paling efektif” patut dicurigai  namun bukan untuk diabaikan dalam laku, sebab ia kerap mengabaikan bagaimana pengetahuan tentang “keseimbangan” dan pembenaran dari segala hal yang bertentangan dengan moderasi  itu sendiri dibentuk oleh struktur sosial-politik yang timpang.

Dengan kata lain, moderasi bisa jadi merupakan produk rasionalitas instrumental yang mereduksi kompleksitas konflik menjadi sekadar persoalan teoritis, alih-alih menjadikannya sebagai solusi melawan ketidakadilan struktural.

Dari sini, moderasi berisiko menjadi semacam ornamen semata, dengan mengaburkan garis demarkasi antara penindas dan tertindas. Seperti diingatkan Theodor W. Adorno, upaya mendamaikan kontradiksi tanpa menyelesaikan akar dari penindasaan hanyalah bentuk fetisisme konseptual yang melanggengkan status quo.

Merayakan Moderasi yang Senjakala

Tepat satu tahun lalu publik Bali yang sedang merayakan Nyepi dipertontonkan satu peristiwa dari dua orang bapak di Buleleng yang membuka portal tempat wisata di hadapan pecalang. Kejadian ini kemudian digugat oleh sebagian masyarakat Bali sebagai kasus penistaan agama terutama terhadap perayaan Nyepi yang berujung pada eksekusi paksa terhadap para pelaku oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng pada Senin lalu (14/4/25) sekitar pukul 03.30 Wita.

Sontak kejadian ini menimbulkan kecaman dari otoritas agama yang dianut oleh terduga pelaku, yang kebetulan sama dengan keyakinan yang saya anut.  Kurang lebih kecaman itu berkelindan pada persoalan diskriminasi dan persekusi, meskipun gugatan terhadap pelaku sudah final dan penjemputan paksa merupakan langkah terakhir untuk membawa pelaku mempertanggungjawab perbuatan.

Dalam alam demokrasi, memang sah  untuk berbeda pandangan namun dalam konteks pembelaan terhadap mereka yang jelas-jelas bermasalah saya rasa kurang pas, apalagi jika tidak didasarkan pada pendalaman dari kasus yang diperbuat oleh pelaku dan bertentangan dengan kesepakatan sosial yang sudah lama disepakati di daerah tempat kedua pelaku tinggal.

Sangat sulit untuk tidak menyangka, jangan-jangan pembelaan ini hanya didasarkan pada sentimen identitas yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama apapun yang tidak berkompromi terhadap kesalahan.

Beralih dari persoalan penistaan Nyepi ke persoalan seputar moderasi, di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan maraknya aksi intoleransi, merayakan moderasi menjadi paradoks.

Dari kacamata fenomenologis, moderasi bukan sekadar konsep normatif, melainkan pengalaman hidup yang terasa dalam interaksi sehari-hari,  bagaimana masyarakat merespons perbedaan, mengelola konflik, atau memaknai identitas kolektif termasuk juga pada persoalan relasi kuasa dimana seringkali intoleransi tidak hanya dilihat dari kacamata mayoritas dan minoritas tapi juga ketimpangan kekuasaan.

Idealnya, dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, moderasi memastikan bahwa perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dijaga. Jadi praktik moderasi—seperti menghargai hak asasi, menghindari stigmatisasi,  mematuhi aturan dari daerah yang kita tinggali, dan mengutamakan musyawarah—perlu dikuatkan untuk menjadi tameng menghindari perpecahan bangsa.

Tapi sekali lagi, moderasi di Indonesia selama ini dirayakan dalam paradoks yang ironis, di satu sisi, narasi moderasi gencar dikampanyekan sebagai identitas nasional, namun di sisi lain, intoleransi terus meningkat dalam praktik sehari-hari bahkan dibenarkan.

Wacana moderasi kerap terjebak di “menara gading”—hanya bergaung di ruang seminar, dokumen kebijakan, atau pidato elit politik, tanpa menyentuh akar persoalan di tingkat masyarakat.

Dari perspektif fenomenologis, paradoks ini mencerminkan keterputusan antara wacana elite dengan lifeworld (dunia-kehidupan) warga. Toh, kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi struktural,  ruang publik dibajak oleh narasi radikal yang mengatasnamakan agama atau etnis, dan ada standar ganda dalam persoalan penistaan agama.

Untuk keluar dari paradoks ini, moderasi harus diturunkan dari menara gading ke ruang-ruang konkret: mengubah kurikulum pendidikan yang membiasakan keberagaman, memperkuat penegakan hukum anti-diskriminasi, dan mendorong kolaborasi antar-kelompok marginal. Hanya dengan demikian, moderasi tidak lagi sekadar simbol, melainkan napas yang menghidupkan keadilan sosial di tengah ancaman disintegrasi dan jika tidak dilakukan maka moderasi hanya dirayakan untuk menyambut senjakalanya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Tags: moderasi agamatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Next Post

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co