5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
April 22, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

BELAKANGAN ini kita yang berkutat di ranah akademik, baik sebagai pembelajar, pengajar, maupun keduanya, tentu tidak asing dengan istilah moderasi yang lekat dengan diksi “beragama”. Diksi, yang bukan hanya sebatas konsepsi tentang laku dan sikap beragama yang tidak ekstrim. namun juga menjadi  basis dari program-program pemerintah untuk memperkuat lekatan sosial atau istilah kerennya social cohesion.

Berkat adanya moderasi beragama  tentu ada pula anggaran yang digelontorkan untuk berbagai kegiatan dari yang sifatnya pencegahan sampai penanganan.

Terlepas dari adanya asumsi seputar kegiatan moderasi yang hanya bersifat seremonial, meskipun ini sebenarnya ini fakta, setidaknya acara tersebut sedikit mengenyangkan bagi para mahasiswa seperti saya yang masih cemas menghadapi jatah konsumsi  di tanggal tua.

Moderasi, moderasi, dan moderasi sudah menjadi diksi yang menjejali isi kepala ketika membahas seputar dinamika sosial keagamaan. Namun sayangnya moderasi seperti berhenti pada konsepsi yang terbungkus dalam seremonial birokratis, terpampang dalam jargon-jargon organisasi kemahasiswaan atau keormasan agar terlihat progresif dan inklusif,  dan  menjadi bahan  kejar target publikasi para akademisi yang masih  berkutat dengan problem kesejahteraan.  

Dari situasi dan kondisi itu rasa-rasanya narasi besar seputar moderasi perlu kita refleksikan dan koreksi kembali.

Moderasi yang Melekat

Bangsa yang sudah terlanjur dipersatukan dalam keberagaman ini sebenarnya tidak asing dengan konsepsi dan laku moderasi. Jadi, moderasi sendiri bukanlah hal baru.  Dari sisi budaya misalnya, sebagai orang Jawa sejak kecil saya diingatkan oleh nenek dari ayah tentang petuah “Ngono yo ngono nanging ojo ngono”, yang bisa dimaknai jangan kebablasan. Seiring berjalannya waktu setelah sedikit menelaah filsafat Jawa saya kembali bertemu istilah serupa  dalam prinsip hidup sakmadyo, yang bisa dimaknai tidak terlalu berlebihan dan “andum basuki”, yang bermakna walaupun ada perbedaan, selalu mengusahakan agar keduanya memperoleh keselamatan.

Di budaya suku yang lain sependek pengetahuan saya juga terdapat ajaran yang berisikan keseimbangan dalam bersikap dan penghormatan terhadap keberagaman. Suku Batak di Sumatera Utara mengedepankan prinsip “dalihan na tolu” (tungku tiga kaki) yang mengatur relasi setara antar-kelompok kekerabatan untuk mencegah konflik melalui dialog. Suku Dayak di Kalimantan menjunjung konsep “huma betang” yang menekankan hidup bersama secara harmonis dalam rumah panjang, mengutamakan musyawarah dan solidaritas komunitas.

Sementara suku Bugis di Sulawesi Selatan mengamalkan “siri’ na pacce” (harga diri dan tanggung jawab kolektif) sebagai panduan moral untuk menjaga keadilan sosial dan mencegah ekstremisme.

Di Bali, perihal moderasi tercermin melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Dari contoh-contoh tadi, sebenarnya moderasi bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, toh eksistensi moderasi secara tersirat maupun tersurat melekat dalam sistem kebudayaan dari masing-masing suku dan tentunya agama yang dianut.

Moderasi di Ambang Senjakala

Dalam konteks yang lebih modern, moderasi dikemas menjadi lebih akademis dan diwacanakan sebagai solusi yang paling efektif di tengah dinamika zaman yang semakin problematik. Namun moderasi juga menemui tantangannya sendiri, baik secara epistemologis dan ontologis.

Dalam narasi modern, moderasi kerap dipromosikan sebagai jalan tengah yang objektif dan rasional, seolah terbebas dari bias ideologis.

Namun, jika kita menimbangnya dari sudut pandang filsafat maka kita harus mempertanyakan konstruksi epistemologis di balik klaim “netralitas” ini. Apakah moderasi benar-benar independen dari relasi kuasa yang membentuknya, atau justru menjadi alat hegemonik untuk menormalisasi tatanan yang dominan?

Konsep moderasi modern sebagai solusi “paling efektif” patut dicurigai  namun bukan untuk diabaikan dalam laku, sebab ia kerap mengabaikan bagaimana pengetahuan tentang “keseimbangan” dan pembenaran dari segala hal yang bertentangan dengan moderasi  itu sendiri dibentuk oleh struktur sosial-politik yang timpang.

Dengan kata lain, moderasi bisa jadi merupakan produk rasionalitas instrumental yang mereduksi kompleksitas konflik menjadi sekadar persoalan teoritis, alih-alih menjadikannya sebagai solusi melawan ketidakadilan struktural.

Dari sini, moderasi berisiko menjadi semacam ornamen semata, dengan mengaburkan garis demarkasi antara penindas dan tertindas. Seperti diingatkan Theodor W. Adorno, upaya mendamaikan kontradiksi tanpa menyelesaikan akar dari penindasaan hanyalah bentuk fetisisme konseptual yang melanggengkan status quo.

Merayakan Moderasi yang Senjakala

Tepat satu tahun lalu publik Bali yang sedang merayakan Nyepi dipertontonkan satu peristiwa dari dua orang bapak di Buleleng yang membuka portal tempat wisata di hadapan pecalang. Kejadian ini kemudian digugat oleh sebagian masyarakat Bali sebagai kasus penistaan agama terutama terhadap perayaan Nyepi yang berujung pada eksekusi paksa terhadap para pelaku oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng pada Senin lalu (14/4/25) sekitar pukul 03.30 Wita.

Sontak kejadian ini menimbulkan kecaman dari otoritas agama yang dianut oleh terduga pelaku, yang kebetulan sama dengan keyakinan yang saya anut.  Kurang lebih kecaman itu berkelindan pada persoalan diskriminasi dan persekusi, meskipun gugatan terhadap pelaku sudah final dan penjemputan paksa merupakan langkah terakhir untuk membawa pelaku mempertanggungjawab perbuatan.

Dalam alam demokrasi, memang sah  untuk berbeda pandangan namun dalam konteks pembelaan terhadap mereka yang jelas-jelas bermasalah saya rasa kurang pas, apalagi jika tidak didasarkan pada pendalaman dari kasus yang diperbuat oleh pelaku dan bertentangan dengan kesepakatan sosial yang sudah lama disepakati di daerah tempat kedua pelaku tinggal.

Sangat sulit untuk tidak menyangka, jangan-jangan pembelaan ini hanya didasarkan pada sentimen identitas yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama apapun yang tidak berkompromi terhadap kesalahan.

Beralih dari persoalan penistaan Nyepi ke persoalan seputar moderasi, di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan maraknya aksi intoleransi, merayakan moderasi menjadi paradoks.

Dari kacamata fenomenologis, moderasi bukan sekadar konsep normatif, melainkan pengalaman hidup yang terasa dalam interaksi sehari-hari,  bagaimana masyarakat merespons perbedaan, mengelola konflik, atau memaknai identitas kolektif termasuk juga pada persoalan relasi kuasa dimana seringkali intoleransi tidak hanya dilihat dari kacamata mayoritas dan minoritas tapi juga ketimpangan kekuasaan.

Idealnya, dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, moderasi memastikan bahwa perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dijaga. Jadi praktik moderasi—seperti menghargai hak asasi, menghindari stigmatisasi,  mematuhi aturan dari daerah yang kita tinggali, dan mengutamakan musyawarah—perlu dikuatkan untuk menjadi tameng menghindari perpecahan bangsa.

Tapi sekali lagi, moderasi di Indonesia selama ini dirayakan dalam paradoks yang ironis, di satu sisi, narasi moderasi gencar dikampanyekan sebagai identitas nasional, namun di sisi lain, intoleransi terus meningkat dalam praktik sehari-hari bahkan dibenarkan.

Wacana moderasi kerap terjebak di “menara gading”—hanya bergaung di ruang seminar, dokumen kebijakan, atau pidato elit politik, tanpa menyentuh akar persoalan di tingkat masyarakat.

Dari perspektif fenomenologis, paradoks ini mencerminkan keterputusan antara wacana elite dengan lifeworld (dunia-kehidupan) warga. Toh, kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi struktural,  ruang publik dibajak oleh narasi radikal yang mengatasnamakan agama atau etnis, dan ada standar ganda dalam persoalan penistaan agama.

Untuk keluar dari paradoks ini, moderasi harus diturunkan dari menara gading ke ruang-ruang konkret: mengubah kurikulum pendidikan yang membiasakan keberagaman, memperkuat penegakan hukum anti-diskriminasi, dan mendorong kolaborasi antar-kelompok marginal. Hanya dengan demikian, moderasi tidak lagi sekadar simbol, melainkan napas yang menghidupkan keadilan sosial di tengah ancaman disintegrasi dan jika tidak dilakukan maka moderasi hanya dirayakan untuk menyambut senjakalanya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Tags: moderasi agamatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Next Post

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co