27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
April 22, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

BELAKANGAN ini kita yang berkutat di ranah akademik, baik sebagai pembelajar, pengajar, maupun keduanya, tentu tidak asing dengan istilah moderasi yang lekat dengan diksi “beragama”. Diksi, yang bukan hanya sebatas konsepsi tentang laku dan sikap beragama yang tidak ekstrim. namun juga menjadi  basis dari program-program pemerintah untuk memperkuat lekatan sosial atau istilah kerennya social cohesion.

Berkat adanya moderasi beragama  tentu ada pula anggaran yang digelontorkan untuk berbagai kegiatan dari yang sifatnya pencegahan sampai penanganan.

Terlepas dari adanya asumsi seputar kegiatan moderasi yang hanya bersifat seremonial, meskipun ini sebenarnya ini fakta, setidaknya acara tersebut sedikit mengenyangkan bagi para mahasiswa seperti saya yang masih cemas menghadapi jatah konsumsi  di tanggal tua.

Moderasi, moderasi, dan moderasi sudah menjadi diksi yang menjejali isi kepala ketika membahas seputar dinamika sosial keagamaan. Namun sayangnya moderasi seperti berhenti pada konsepsi yang terbungkus dalam seremonial birokratis, terpampang dalam jargon-jargon organisasi kemahasiswaan atau keormasan agar terlihat progresif dan inklusif,  dan  menjadi bahan  kejar target publikasi para akademisi yang masih  berkutat dengan problem kesejahteraan.  

Dari situasi dan kondisi itu rasa-rasanya narasi besar seputar moderasi perlu kita refleksikan dan koreksi kembali.

Moderasi yang Melekat

Bangsa yang sudah terlanjur dipersatukan dalam keberagaman ini sebenarnya tidak asing dengan konsepsi dan laku moderasi. Jadi, moderasi sendiri bukanlah hal baru.  Dari sisi budaya misalnya, sebagai orang Jawa sejak kecil saya diingatkan oleh nenek dari ayah tentang petuah “Ngono yo ngono nanging ojo ngono”, yang bisa dimaknai jangan kebablasan. Seiring berjalannya waktu setelah sedikit menelaah filsafat Jawa saya kembali bertemu istilah serupa  dalam prinsip hidup sakmadyo, yang bisa dimaknai tidak terlalu berlebihan dan “andum basuki”, yang bermakna walaupun ada perbedaan, selalu mengusahakan agar keduanya memperoleh keselamatan.

Di budaya suku yang lain sependek pengetahuan saya juga terdapat ajaran yang berisikan keseimbangan dalam bersikap dan penghormatan terhadap keberagaman. Suku Batak di Sumatera Utara mengedepankan prinsip “dalihan na tolu” (tungku tiga kaki) yang mengatur relasi setara antar-kelompok kekerabatan untuk mencegah konflik melalui dialog. Suku Dayak di Kalimantan menjunjung konsep “huma betang” yang menekankan hidup bersama secara harmonis dalam rumah panjang, mengutamakan musyawarah dan solidaritas komunitas.

Sementara suku Bugis di Sulawesi Selatan mengamalkan “siri’ na pacce” (harga diri dan tanggung jawab kolektif) sebagai panduan moral untuk menjaga keadilan sosial dan mencegah ekstremisme.

Di Bali, perihal moderasi tercermin melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Dari contoh-contoh tadi, sebenarnya moderasi bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, toh eksistensi moderasi secara tersirat maupun tersurat melekat dalam sistem kebudayaan dari masing-masing suku dan tentunya agama yang dianut.

Moderasi di Ambang Senjakala

Dalam konteks yang lebih modern, moderasi dikemas menjadi lebih akademis dan diwacanakan sebagai solusi yang paling efektif di tengah dinamika zaman yang semakin problematik. Namun moderasi juga menemui tantangannya sendiri, baik secara epistemologis dan ontologis.

Dalam narasi modern, moderasi kerap dipromosikan sebagai jalan tengah yang objektif dan rasional, seolah terbebas dari bias ideologis.

Namun, jika kita menimbangnya dari sudut pandang filsafat maka kita harus mempertanyakan konstruksi epistemologis di balik klaim “netralitas” ini. Apakah moderasi benar-benar independen dari relasi kuasa yang membentuknya, atau justru menjadi alat hegemonik untuk menormalisasi tatanan yang dominan?

Konsep moderasi modern sebagai solusi “paling efektif” patut dicurigai  namun bukan untuk diabaikan dalam laku, sebab ia kerap mengabaikan bagaimana pengetahuan tentang “keseimbangan” dan pembenaran dari segala hal yang bertentangan dengan moderasi  itu sendiri dibentuk oleh struktur sosial-politik yang timpang.

Dengan kata lain, moderasi bisa jadi merupakan produk rasionalitas instrumental yang mereduksi kompleksitas konflik menjadi sekadar persoalan teoritis, alih-alih menjadikannya sebagai solusi melawan ketidakadilan struktural.

Dari sini, moderasi berisiko menjadi semacam ornamen semata, dengan mengaburkan garis demarkasi antara penindas dan tertindas. Seperti diingatkan Theodor W. Adorno, upaya mendamaikan kontradiksi tanpa menyelesaikan akar dari penindasaan hanyalah bentuk fetisisme konseptual yang melanggengkan status quo.

Merayakan Moderasi yang Senjakala

Tepat satu tahun lalu publik Bali yang sedang merayakan Nyepi dipertontonkan satu peristiwa dari dua orang bapak di Buleleng yang membuka portal tempat wisata di hadapan pecalang. Kejadian ini kemudian digugat oleh sebagian masyarakat Bali sebagai kasus penistaan agama terutama terhadap perayaan Nyepi yang berujung pada eksekusi paksa terhadap para pelaku oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng pada Senin lalu (14/4/25) sekitar pukul 03.30 Wita.

Sontak kejadian ini menimbulkan kecaman dari otoritas agama yang dianut oleh terduga pelaku, yang kebetulan sama dengan keyakinan yang saya anut.  Kurang lebih kecaman itu berkelindan pada persoalan diskriminasi dan persekusi, meskipun gugatan terhadap pelaku sudah final dan penjemputan paksa merupakan langkah terakhir untuk membawa pelaku mempertanggungjawab perbuatan.

Dalam alam demokrasi, memang sah  untuk berbeda pandangan namun dalam konteks pembelaan terhadap mereka yang jelas-jelas bermasalah saya rasa kurang pas, apalagi jika tidak didasarkan pada pendalaman dari kasus yang diperbuat oleh pelaku dan bertentangan dengan kesepakatan sosial yang sudah lama disepakati di daerah tempat kedua pelaku tinggal.

Sangat sulit untuk tidak menyangka, jangan-jangan pembelaan ini hanya didasarkan pada sentimen identitas yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama apapun yang tidak berkompromi terhadap kesalahan.

Beralih dari persoalan penistaan Nyepi ke persoalan seputar moderasi, di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan maraknya aksi intoleransi, merayakan moderasi menjadi paradoks.

Dari kacamata fenomenologis, moderasi bukan sekadar konsep normatif, melainkan pengalaman hidup yang terasa dalam interaksi sehari-hari,  bagaimana masyarakat merespons perbedaan, mengelola konflik, atau memaknai identitas kolektif termasuk juga pada persoalan relasi kuasa dimana seringkali intoleransi tidak hanya dilihat dari kacamata mayoritas dan minoritas tapi juga ketimpangan kekuasaan.

Idealnya, dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, moderasi memastikan bahwa perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dijaga. Jadi praktik moderasi—seperti menghargai hak asasi, menghindari stigmatisasi,  mematuhi aturan dari daerah yang kita tinggali, dan mengutamakan musyawarah—perlu dikuatkan untuk menjadi tameng menghindari perpecahan bangsa.

Tapi sekali lagi, moderasi di Indonesia selama ini dirayakan dalam paradoks yang ironis, di satu sisi, narasi moderasi gencar dikampanyekan sebagai identitas nasional, namun di sisi lain, intoleransi terus meningkat dalam praktik sehari-hari bahkan dibenarkan.

Wacana moderasi kerap terjebak di “menara gading”—hanya bergaung di ruang seminar, dokumen kebijakan, atau pidato elit politik, tanpa menyentuh akar persoalan di tingkat masyarakat.

Dari perspektif fenomenologis, paradoks ini mencerminkan keterputusan antara wacana elite dengan lifeworld (dunia-kehidupan) warga. Toh, kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi struktural,  ruang publik dibajak oleh narasi radikal yang mengatasnamakan agama atau etnis, dan ada standar ganda dalam persoalan penistaan agama.

Untuk keluar dari paradoks ini, moderasi harus diturunkan dari menara gading ke ruang-ruang konkret: mengubah kurikulum pendidikan yang membiasakan keberagaman, memperkuat penegakan hukum anti-diskriminasi, dan mendorong kolaborasi antar-kelompok marginal. Hanya dengan demikian, moderasi tidak lagi sekadar simbol, melainkan napas yang menghidupkan keadilan sosial di tengah ancaman disintegrasi dan jika tidak dilakukan maka moderasi hanya dirayakan untuk menyambut senjakalanya. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Tags: moderasi agamatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Next Post

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Duta GenRe Badung 2025, Putra Adiyasa dan Oktivia Suryani, Merayakan dan Dirayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co