14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
November 16, 2024
in Esai
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

INDONESIA darurat intoleransi. Setara Institute mencatat tren kenaikan kasus intoleransi yang banyak menyasar kaum minoritas, mulai dari perusakan fasilitas ibadah, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga aktivitas yang menghalangi sekelompok orang untuk menjalankan ibadahnya secara bebas.

Belum lagi, perkembangan sosial media secara komprehensif dapat menjadi tempat bagi segelintir orang untuk menyebarkan bibit intoleransi dengan dalih kebebasan berpendapat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tren politik beberapa bulan terakhir yang disebabkan oleh Pemilu dan Pilkada. Tren ini menciptakan iklim yang rawan terjadinya represi dari kelompok mayoritas terhadap minoritas dengan cara menyebarkan narasi yang bersifat intoleran.

Hal ini tentunya menjadi iklim yang buruk bagi perkembangan toleransi di Indonesia yang masih mencari jati dirinya. Kita akhirnya sampai di tahap yang genting untuk merefleksikan kembali, apakah toleransi yang kita jalani saat ini, sudah sesuai dengan toleransi yang telah kita cita-citakan sejak kemerdekaan, bahkan sejak zaman Kerajaan Majapahit?

Membedah Konsep Toleransi yang Kita Pahami: Benarkah Kita telah Bertoleransi?

Sebagian besar dari kita merasa telah bertoleransi, karena telah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis, suku, hingga agama yang berbeda sejak dulu. Namun, Benarkah jika toleransi hanya sekadar hidup berdampingan?

Toleransi tidak hanya dimaknai secara fisik, namun juga pikiran. Jika kita telah lama hidup berdampingan tetapi di kepala masih banyak stigma dan keraguan atas orang-orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan, suku, hingga pilihan politik. Maka kita patut mempertanyakan toleransi yang kita jalani.

Tahun politik menjadi bukti, betapa masyarakat kita begitu rentan terhadap tindakan intoleransi atas asumsi tidak berdasar yang dihembuskan oleh pihak tertentu. Kita bisa melihat betapa banyak kasus di mana pendukung para paslon saling menyerang atas dasar perbedaan pilihan politik. Seolah mereka tidak pernah hidup di bawah kolong langit yang sama. Belum lagi, beberapa pihak menggunakan kerentanan ini untuk menggaet suara mayoritas. Hal ini menambah daftar panjang pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan untuk menangani kesenjangan kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Sebuah Jalan yang Jauh Menuju Penyatuan

Ketidaksadaran kita akan kerentanan intoleransi yang terjadi menjadi jalan yang jauh untuk mencapai toleransi yang telah kita cita-citakan. Menurut Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art of Loving” bahwa cinta terhadap persaudaraan merupakan jenis cinta yang paling dasar bagi kemanusiaan. Jenis cinta yang mensyaratkan penyatuan dan kesetaraan seluruh lapisan yang ada di dalamnya.

Jika kita masih memandang bahwa mayoritas dan minoritas masih menjadi pembagian kasta terhadap hak kebebasan, maka kita berarti belum mencapai cinta persaudaraan. Sebagaimana yang kita tahu, cinta adalah dasar bagi toleransi. Cinta persaudaraan dapat terjadi ketika kita menaruh rasa hormat, kesetaraan, perhatian dan tanggung jawab atas pertumbuhan seluruh umat manusia, termasuk kelompok yang berbeda dari kita.

Namun, jika becermin dari makna tersebut, kita belum menggunakan dasar cinta terhadap toleransi yang kita bangun. Kita hanya sekadar hidup berdampingan, namun bisa jadi tidak pernah saling berinteraksi. Kita tidak memberikan perhatian hanya karena prasangka yang membatasi kita dengan orang yang kita anggap berbeda. Kita menganggap orang tersebut adalah makhluk asing yang dapat memengaruhi keyakinan kita, bahkan kita menganggap bahwa memberikan tempat yang setara kepada mereka, artinya kita akan kehilangan banyak prestise dan hak hidup.

Jika kita masih bergelut dengan isi kepala kita sendiri dan terus memelihara prasangka, maka toleransi yang kita bangun ibaratnya dua saudara yang tinggal di rumah yang sama, tetapi tidak pernah saling memperhatikan pertumbuhan satu sama lain, bahkan cenderung saling mencurigai. Sampai kapan kita akan hidup di dalam kewaspadaan yang demikian sia-sia? Kita hanya akan mudah diadu domba ketika hidup dalam kebencian dan kewaspadaan satu sama lain.

Meletakkan Cinta dalam Menumbuhkan Toleransi

Erich Fromm menyampaikan bahwa ada empat unsur yang perlu dimiliki ketika kita membangun cinta, termasuk cinta terhadap persaudaraan. Empat unsur itu adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika kita menempatkannya dalam kehidupan toleransi yang kita cita-citakan, maka pengejawantahannya akan menjadi demikian:

Pertama, kita telah bertoleransi jika kita saling menaruh perhatian satu sama lain. Bisa dari perkembangan kehidupan hingga masalah-masalah yang dihadapi. Misalnya, jika kita menemukan seseorang dari suku yang berbeda tidak mampu beradaptasi di tempat tinggal kita, kita dapat membantunya dengan jalan memberikan kenyamanan dalam berinteraksi, sekaligus akses dan pengetahuan agar dia dapat beradaptasi dengan baik di sekitar kita.

Kedua, kita telah bertoleransi jika kita memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan hak kebebasan bagi setiap orang, termasuk orang yang berbeda dari kita. Misalnya, jika kita melihat suatu bentuk ketidakadilan terhadap orang yang berbeda agama dari kita, kita bisa bertanggung jawab untuk membela orang tersebut agar memperoleh keadilan yang sesuai haknya. Karena dalam agama apa pun, keadilan merupakan salah satu nilai yang dipegang teguh.

Ketiga, kita telah bertoleransi jika kita menaruh rasa hormat terhadap segala perbedaan. Kita memandang setiap perbedaan sebagai bagian dari keunikan dan kekhasan yang dihadirkan kehidupan. Sehingga, segala tindakan yang menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman adalah tindakan yang mencabut manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang beragam.

Keempat, kita telah bertoleransi jika kita memahami dan menerima segala perbedaan sebagaimana adanya. Bukankah sebagian besar rasa takut dimulai dari ketidaktahuan. Sehingga dengan memahami perbedaan yang ada di sekitar kita sebagai usaha memahami dasar kehidupan orang lain, dapat menciptakan toleransi yang berorientasi damai.

Penutup:

Dengan demikian, merefleksikan dan mempertanyakan kembali makna toleransi dapat membawa kita pada kesadaran bahwa toleransi tidak hanya sekadar hidup berdampingan, namun juga bertumbuh dan berkembang bersama agar dapat mencapai potensi yang maksimal bagi kepentingan hidup bersama. Karena kita selayaknya tiang-tiang yang saling berkaitan agar dapat berdiri kokoh, sehingga runtuhnya satu tiang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memulihkannya.

Maka dari itu, dengan memahami empat elemen cinta dari Erich Fromm kita dapat menciptakan sebuah makna toleransi yang berorientasi pada kedamaian, sebagaimana yang kita cita-citakan, dan dampak dari toleransi yang dibangun di atas rasa cinta adalah penyatuan umat manusia yang dapat menghindarkan dari rasa keterasingan satu sama lain.

Sumber:

Erich Fromm. (2020). The Art of Loving, Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

VOA Indonesia. (2023, 01 Februari). Setara Institute: 50 Rumah Ibadah Diganggu Sepanjang 2022, Jawa Timur Paling Intoleran. Diakses pada 12 November 2024, dari https://www.voaindonesia.com/a/setara-institute-50-rumah-ibadah-diganggu-sepanjang-2022-jawa-timur-paling-intoleran/6941621.html

Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi
Suqi Bless Si Rapper Desa, Bersama Gede Yudi Atmika Ngerap dalam Lagu Toleransi
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Erich Frommfilosofifilsafattoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan

Next Post

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co