12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
November 16, 2024
in Esai
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

INDONESIA darurat intoleransi. Setara Institute mencatat tren kenaikan kasus intoleransi yang banyak menyasar kaum minoritas, mulai dari perusakan fasilitas ibadah, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga aktivitas yang menghalangi sekelompok orang untuk menjalankan ibadahnya secara bebas.

Belum lagi, perkembangan sosial media secara komprehensif dapat menjadi tempat bagi segelintir orang untuk menyebarkan bibit intoleransi dengan dalih kebebasan berpendapat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tren politik beberapa bulan terakhir yang disebabkan oleh Pemilu dan Pilkada. Tren ini menciptakan iklim yang rawan terjadinya represi dari kelompok mayoritas terhadap minoritas dengan cara menyebarkan narasi yang bersifat intoleran.

Hal ini tentunya menjadi iklim yang buruk bagi perkembangan toleransi di Indonesia yang masih mencari jati dirinya. Kita akhirnya sampai di tahap yang genting untuk merefleksikan kembali, apakah toleransi yang kita jalani saat ini, sudah sesuai dengan toleransi yang telah kita cita-citakan sejak kemerdekaan, bahkan sejak zaman Kerajaan Majapahit?

Membedah Konsep Toleransi yang Kita Pahami: Benarkah Kita telah Bertoleransi?

Sebagian besar dari kita merasa telah bertoleransi, karena telah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis, suku, hingga agama yang berbeda sejak dulu. Namun, Benarkah jika toleransi hanya sekadar hidup berdampingan?

Toleransi tidak hanya dimaknai secara fisik, namun juga pikiran. Jika kita telah lama hidup berdampingan tetapi di kepala masih banyak stigma dan keraguan atas orang-orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan, suku, hingga pilihan politik. Maka kita patut mempertanyakan toleransi yang kita jalani.

Tahun politik menjadi bukti, betapa masyarakat kita begitu rentan terhadap tindakan intoleransi atas asumsi tidak berdasar yang dihembuskan oleh pihak tertentu. Kita bisa melihat betapa banyak kasus di mana pendukung para paslon saling menyerang atas dasar perbedaan pilihan politik. Seolah mereka tidak pernah hidup di bawah kolong langit yang sama. Belum lagi, beberapa pihak menggunakan kerentanan ini untuk menggaet suara mayoritas. Hal ini menambah daftar panjang pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan untuk menangani kesenjangan kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Sebuah Jalan yang Jauh Menuju Penyatuan

Ketidaksadaran kita akan kerentanan intoleransi yang terjadi menjadi jalan yang jauh untuk mencapai toleransi yang telah kita cita-citakan. Menurut Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art of Loving” bahwa cinta terhadap persaudaraan merupakan jenis cinta yang paling dasar bagi kemanusiaan. Jenis cinta yang mensyaratkan penyatuan dan kesetaraan seluruh lapisan yang ada di dalamnya.

Jika kita masih memandang bahwa mayoritas dan minoritas masih menjadi pembagian kasta terhadap hak kebebasan, maka kita berarti belum mencapai cinta persaudaraan. Sebagaimana yang kita tahu, cinta adalah dasar bagi toleransi. Cinta persaudaraan dapat terjadi ketika kita menaruh rasa hormat, kesetaraan, perhatian dan tanggung jawab atas pertumbuhan seluruh umat manusia, termasuk kelompok yang berbeda dari kita.

Namun, jika becermin dari makna tersebut, kita belum menggunakan dasar cinta terhadap toleransi yang kita bangun. Kita hanya sekadar hidup berdampingan, namun bisa jadi tidak pernah saling berinteraksi. Kita tidak memberikan perhatian hanya karena prasangka yang membatasi kita dengan orang yang kita anggap berbeda. Kita menganggap orang tersebut adalah makhluk asing yang dapat memengaruhi keyakinan kita, bahkan kita menganggap bahwa memberikan tempat yang setara kepada mereka, artinya kita akan kehilangan banyak prestise dan hak hidup.

Jika kita masih bergelut dengan isi kepala kita sendiri dan terus memelihara prasangka, maka toleransi yang kita bangun ibaratnya dua saudara yang tinggal di rumah yang sama, tetapi tidak pernah saling memperhatikan pertumbuhan satu sama lain, bahkan cenderung saling mencurigai. Sampai kapan kita akan hidup di dalam kewaspadaan yang demikian sia-sia? Kita hanya akan mudah diadu domba ketika hidup dalam kebencian dan kewaspadaan satu sama lain.

Meletakkan Cinta dalam Menumbuhkan Toleransi

Erich Fromm menyampaikan bahwa ada empat unsur yang perlu dimiliki ketika kita membangun cinta, termasuk cinta terhadap persaudaraan. Empat unsur itu adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika kita menempatkannya dalam kehidupan toleransi yang kita cita-citakan, maka pengejawantahannya akan menjadi demikian:

Pertama, kita telah bertoleransi jika kita saling menaruh perhatian satu sama lain. Bisa dari perkembangan kehidupan hingga masalah-masalah yang dihadapi. Misalnya, jika kita menemukan seseorang dari suku yang berbeda tidak mampu beradaptasi di tempat tinggal kita, kita dapat membantunya dengan jalan memberikan kenyamanan dalam berinteraksi, sekaligus akses dan pengetahuan agar dia dapat beradaptasi dengan baik di sekitar kita.

Kedua, kita telah bertoleransi jika kita memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan hak kebebasan bagi setiap orang, termasuk orang yang berbeda dari kita. Misalnya, jika kita melihat suatu bentuk ketidakadilan terhadap orang yang berbeda agama dari kita, kita bisa bertanggung jawab untuk membela orang tersebut agar memperoleh keadilan yang sesuai haknya. Karena dalam agama apa pun, keadilan merupakan salah satu nilai yang dipegang teguh.

Ketiga, kita telah bertoleransi jika kita menaruh rasa hormat terhadap segala perbedaan. Kita memandang setiap perbedaan sebagai bagian dari keunikan dan kekhasan yang dihadirkan kehidupan. Sehingga, segala tindakan yang menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman adalah tindakan yang mencabut manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang beragam.

Keempat, kita telah bertoleransi jika kita memahami dan menerima segala perbedaan sebagaimana adanya. Bukankah sebagian besar rasa takut dimulai dari ketidaktahuan. Sehingga dengan memahami perbedaan yang ada di sekitar kita sebagai usaha memahami dasar kehidupan orang lain, dapat menciptakan toleransi yang berorientasi damai.

Penutup:

Dengan demikian, merefleksikan dan mempertanyakan kembali makna toleransi dapat membawa kita pada kesadaran bahwa toleransi tidak hanya sekadar hidup berdampingan, namun juga bertumbuh dan berkembang bersama agar dapat mencapai potensi yang maksimal bagi kepentingan hidup bersama. Karena kita selayaknya tiang-tiang yang saling berkaitan agar dapat berdiri kokoh, sehingga runtuhnya satu tiang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memulihkannya.

Maka dari itu, dengan memahami empat elemen cinta dari Erich Fromm kita dapat menciptakan sebuah makna toleransi yang berorientasi pada kedamaian, sebagaimana yang kita cita-citakan, dan dampak dari toleransi yang dibangun di atas rasa cinta adalah penyatuan umat manusia yang dapat menghindarkan dari rasa keterasingan satu sama lain.

Sumber:

Erich Fromm. (2020). The Art of Loving, Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

VOA Indonesia. (2023, 01 Februari). Setara Institute: 50 Rumah Ibadah Diganggu Sepanjang 2022, Jawa Timur Paling Intoleran. Diakses pada 12 November 2024, dari https://www.voaindonesia.com/a/setara-institute-50-rumah-ibadah-diganggu-sepanjang-2022-jawa-timur-paling-intoleran/6941621.html

Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi
Suqi Bless Si Rapper Desa, Bersama Gede Yudi Atmika Ngerap dalam Lagu Toleransi
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Erich Frommfilosofifilsafattoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan

Next Post

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co