2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
November 16, 2024
in Esai
Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi Melalui Perspektif Cinta Erich Fromm

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

INDONESIA darurat intoleransi. Setara Institute mencatat tren kenaikan kasus intoleransi yang banyak menyasar kaum minoritas, mulai dari perusakan fasilitas ibadah, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga aktivitas yang menghalangi sekelompok orang untuk menjalankan ibadahnya secara bebas.

Belum lagi, perkembangan sosial media secara komprehensif dapat menjadi tempat bagi segelintir orang untuk menyebarkan bibit intoleransi dengan dalih kebebasan berpendapat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tren politik beberapa bulan terakhir yang disebabkan oleh Pemilu dan Pilkada. Tren ini menciptakan iklim yang rawan terjadinya represi dari kelompok mayoritas terhadap minoritas dengan cara menyebarkan narasi yang bersifat intoleran.

Hal ini tentunya menjadi iklim yang buruk bagi perkembangan toleransi di Indonesia yang masih mencari jati dirinya. Kita akhirnya sampai di tahap yang genting untuk merefleksikan kembali, apakah toleransi yang kita jalani saat ini, sudah sesuai dengan toleransi yang telah kita cita-citakan sejak kemerdekaan, bahkan sejak zaman Kerajaan Majapahit?

Membedah Konsep Toleransi yang Kita Pahami: Benarkah Kita telah Bertoleransi?

Sebagian besar dari kita merasa telah bertoleransi, karena telah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis, suku, hingga agama yang berbeda sejak dulu. Namun, Benarkah jika toleransi hanya sekadar hidup berdampingan?

Toleransi tidak hanya dimaknai secara fisik, namun juga pikiran. Jika kita telah lama hidup berdampingan tetapi di kepala masih banyak stigma dan keraguan atas orang-orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan, suku, hingga pilihan politik. Maka kita patut mempertanyakan toleransi yang kita jalani.

Tahun politik menjadi bukti, betapa masyarakat kita begitu rentan terhadap tindakan intoleransi atas asumsi tidak berdasar yang dihembuskan oleh pihak tertentu. Kita bisa melihat betapa banyak kasus di mana pendukung para paslon saling menyerang atas dasar perbedaan pilihan politik. Seolah mereka tidak pernah hidup di bawah kolong langit yang sama. Belum lagi, beberapa pihak menggunakan kerentanan ini untuk menggaet suara mayoritas. Hal ini menambah daftar panjang pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan untuk menangani kesenjangan kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Sebuah Jalan yang Jauh Menuju Penyatuan

Ketidaksadaran kita akan kerentanan intoleransi yang terjadi menjadi jalan yang jauh untuk mencapai toleransi yang telah kita cita-citakan. Menurut Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art of Loving” bahwa cinta terhadap persaudaraan merupakan jenis cinta yang paling dasar bagi kemanusiaan. Jenis cinta yang mensyaratkan penyatuan dan kesetaraan seluruh lapisan yang ada di dalamnya.

Jika kita masih memandang bahwa mayoritas dan minoritas masih menjadi pembagian kasta terhadap hak kebebasan, maka kita berarti belum mencapai cinta persaudaraan. Sebagaimana yang kita tahu, cinta adalah dasar bagi toleransi. Cinta persaudaraan dapat terjadi ketika kita menaruh rasa hormat, kesetaraan, perhatian dan tanggung jawab atas pertumbuhan seluruh umat manusia, termasuk kelompok yang berbeda dari kita.

Namun, jika becermin dari makna tersebut, kita belum menggunakan dasar cinta terhadap toleransi yang kita bangun. Kita hanya sekadar hidup berdampingan, namun bisa jadi tidak pernah saling berinteraksi. Kita tidak memberikan perhatian hanya karena prasangka yang membatasi kita dengan orang yang kita anggap berbeda. Kita menganggap orang tersebut adalah makhluk asing yang dapat memengaruhi keyakinan kita, bahkan kita menganggap bahwa memberikan tempat yang setara kepada mereka, artinya kita akan kehilangan banyak prestise dan hak hidup.

Jika kita masih bergelut dengan isi kepala kita sendiri dan terus memelihara prasangka, maka toleransi yang kita bangun ibaratnya dua saudara yang tinggal di rumah yang sama, tetapi tidak pernah saling memperhatikan pertumbuhan satu sama lain, bahkan cenderung saling mencurigai. Sampai kapan kita akan hidup di dalam kewaspadaan yang demikian sia-sia? Kita hanya akan mudah diadu domba ketika hidup dalam kebencian dan kewaspadaan satu sama lain.

Meletakkan Cinta dalam Menumbuhkan Toleransi

Erich Fromm menyampaikan bahwa ada empat unsur yang perlu dimiliki ketika kita membangun cinta, termasuk cinta terhadap persaudaraan. Empat unsur itu adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika kita menempatkannya dalam kehidupan toleransi yang kita cita-citakan, maka pengejawantahannya akan menjadi demikian:

Pertama, kita telah bertoleransi jika kita saling menaruh perhatian satu sama lain. Bisa dari perkembangan kehidupan hingga masalah-masalah yang dihadapi. Misalnya, jika kita menemukan seseorang dari suku yang berbeda tidak mampu beradaptasi di tempat tinggal kita, kita dapat membantunya dengan jalan memberikan kenyamanan dalam berinteraksi, sekaligus akses dan pengetahuan agar dia dapat beradaptasi dengan baik di sekitar kita.

Kedua, kita telah bertoleransi jika kita memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan hak kebebasan bagi setiap orang, termasuk orang yang berbeda dari kita. Misalnya, jika kita melihat suatu bentuk ketidakadilan terhadap orang yang berbeda agama dari kita, kita bisa bertanggung jawab untuk membela orang tersebut agar memperoleh keadilan yang sesuai haknya. Karena dalam agama apa pun, keadilan merupakan salah satu nilai yang dipegang teguh.

Ketiga, kita telah bertoleransi jika kita menaruh rasa hormat terhadap segala perbedaan. Kita memandang setiap perbedaan sebagai bagian dari keunikan dan kekhasan yang dihadirkan kehidupan. Sehingga, segala tindakan yang menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman adalah tindakan yang mencabut manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang beragam.

Keempat, kita telah bertoleransi jika kita memahami dan menerima segala perbedaan sebagaimana adanya. Bukankah sebagian besar rasa takut dimulai dari ketidaktahuan. Sehingga dengan memahami perbedaan yang ada di sekitar kita sebagai usaha memahami dasar kehidupan orang lain, dapat menciptakan toleransi yang berorientasi damai.

Penutup:

Dengan demikian, merefleksikan dan mempertanyakan kembali makna toleransi dapat membawa kita pada kesadaran bahwa toleransi tidak hanya sekadar hidup berdampingan, namun juga bertumbuh dan berkembang bersama agar dapat mencapai potensi yang maksimal bagi kepentingan hidup bersama. Karena kita selayaknya tiang-tiang yang saling berkaitan agar dapat berdiri kokoh, sehingga runtuhnya satu tiang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memulihkannya.

Maka dari itu, dengan memahami empat elemen cinta dari Erich Fromm kita dapat menciptakan sebuah makna toleransi yang berorientasi pada kedamaian, sebagaimana yang kita cita-citakan, dan dampak dari toleransi yang dibangun di atas rasa cinta adalah penyatuan umat manusia yang dapat menghindarkan dari rasa keterasingan satu sama lain.

Sumber:

Erich Fromm. (2020). The Art of Loving, Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

VOA Indonesia. (2023, 01 Februari). Setara Institute: 50 Rumah Ibadah Diganggu Sepanjang 2022, Jawa Timur Paling Intoleran. Diakses pada 12 November 2024, dari https://www.voaindonesia.com/a/setara-institute-50-rumah-ibadah-diganggu-sepanjang-2022-jawa-timur-paling-intoleran/6941621.html

Pesan Toleransi dari Dapur dan Toilet Umum
Film Pendek “Putu, Berbeda Tetap Keluarga”: Merawat Tradisi, Menjunjung Toleransi
Suqi Bless Si Rapper Desa, Bersama Gede Yudi Atmika Ngerap dalam Lagu Toleransi
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Erich Frommfilosofifilsafattoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan

Next Post

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Museum Made Sukanta Wahyu, Pelengkap Kesempurnaan Destinasi Budaya di Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co