24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
October 22, 2024
in Ulas Buku
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”

Sumber Foto: Instagram.com/lanraujay

  • Judul               : Bumi Manusia
  • Jenis                : Novel-Fiksi
  • Penulis             : Pramoedya Ananta Toer
  • Terbit               : 2005
  • Penerbit           : Lentera Dipantara
  • Tebal Buku      : 551 halaman; 20 cm

Pram sedang menulis dalam keabadian ketika alur Bumi Manusia dibentangkan dengan begitu menawan. Saya akui, kemampuan Pram dalam melukiskan pedalaman jiwa manusia dalam sebuah buku adalah salah satu anugerah terbaik yang pernah dimiliki peradaban sastra di Indonesia.

Buku ini memusatkan perhatiannya pada tokoh Minke, seorang pribumi yang tenggelam dalam peradaban Eropa di era kolonial. Kesempatan yang dimilikinya sebagai pribumi priyayi membawanya mampu mengenyam pendidikan H.B.S., sebuah tingkatan pendidikan yang tidak banyak dicicipi oleh pribumi pada masanya.

Akibat dari pergaulan dan pendidikannya yang sangat kental dengan Eropa, membuatnya terlena terhadap perkembangan ilmu pengetahuannya yang modern dan membawa moral kemanusiaan, sebuah harapan yang tidak didapatinya dari peradaban pribumi yang tertinggal. Kekagumannya terhadap peradaban eropa dan kemuakkannya terhadap kehidupan pribumi membuatnya tercerabut dari nilai-nilai sebangsanya dan menjelma menjadi manusia eropa di pedalaman jiwanya.

Namun, pemikiran itu mulai teruji ketika Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh, seorang gundik pribumi yang memiliki jiwa berbeda dari pribumi lainnya. Walaupun ‘Nyai’ menjadi gelar abadi, namun Minke mendapati perempuan tersebut sangat jauh dari gambaran nyai yang selalu dilekatkan pada hal-hal tidak bermoral. Perempuan itu memiliki isi kepala yang lebih berperadaban eropa dibandingkan dirinya sendiri.

Ditambah dengan hiruk pikuk kisah cinta Minke dengan Annelies, anak perempuan Nyai Ontosoroh, membawanya lebih dekat dengan pedalaman jiwa keluarga tersebut. Minke mulai menuliskan kisah keagungan Nyai Ontosoroh  dan kecantikan khayali Annelies. Namun tak disangka, petualangan kekaguman itu membuat tabir pikirannya mulai terbuka sedikit demi sedikit terhadap nasib pribumi, sebangsanya sendiri.

Minke mulai memahami, bagaimana peradaban Eropa yang dia kesani selama ini nyatanya tidak sesempurna yang dibayangkan. Kedudukannya sebagai pribumi di mata orang Eropa hanyalah sebuah kasta terendah dari bangsa yang terjajah, mengharuskannya berada di posisi sebagai masyarakat yang tidak berdaya.

Kesadaran itu memuncak ketika akhirnya Minke harus melawan sendiri peradaban Eropa. Minke harus mempertaruhkan seluruh kekuatannya untuk bisa memperjuangkan Annelies, perempuan yang akhirnya menjadi istrinya itu, ketika berada di ujung perkara yang akan memisahkan mereka. Minke merasakan kepahitan yang luar biasa ketika menghadapi hukum kolonial yang dianggap tak memandang manusia sebagai sebuah jiwa. Peristiwa yang menjadi hantaman keras bagi pribumi yang berjiwa eropa itu akhirnya menjadi bibit perlawanan Minke untuk mengenal  lebih dekat dan memperjuangkan nasib sebangsanya yang kelak akan dikisahkan di dalam seri buku tetralogi pulau buru berikutnya.

Penokohan:

Sesosok Minke digambarkan sebagai pemuda pribumi yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia modern. Kecintaannya terhadap dunia baca-tulis membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang suka berpikir dan mempertanyakan banyak hal. Kesempatannya tumbuh dalam pendidikan Eropa menciptakan dogma  di dalam kepalanya, bahwa peradaban Eropa adalah peradaban paling unggul yang diciptakan manusia.

Sebaliknya, ketidaksetujuannya terhadap  kehidupan pribumi yang harus terus tunduk dan patuh terhadap hal-hal simbolis yang tidak memberikan nilai pada harga diri manusia. Karena kesenjangan itu, Minke akhirnya memilih untuk berjarak dengan keluarganya, keluarga bangsawan yang dianggapnya tidak menghargai ilmu pengetahuan yang sudah susah payah dibangun manusia

Sedangkan, sosok Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai perempuan pribumi yang telah menghadapi kepahitan hidup saat dipergundik oleh Tuan Mellema, seorang pejabat Eropa yang jatuh cinta karena keindahan parasnya. Dijual oleh ayahnya menjadi gundik, membuatnya memiliki jiwa penuh dendam sekaligus memaksa dirinya untuk menjadi perempuan tegas dan mandiri agar tidak bergantung pada manusia yang telah banyak mengecewakan dirinya.

Atas bekal didikan Tuan Mellema, akhirnya Nyai Ontosoroh menjelma menjadi manusia berperadaban Eropa. Kecakapan dan ketegasannya membuatnya mampu mengurusi perusahaan Tuan Mellema, Borderig Buitenzorg, hingga terkenal di Surabaya. Dalam fase itulah dia banyak terjamah oleh ilmu pengetahuan Eropa melalui bacaan dan melihat secara langsung bagaimana Eropa bekerja. Atas dasar itu, Nyai Ontosoroh berkembang menjadi perempuan yang memiliki pola pikir Eropa, namun tetap dengan jiwa pribumi, mendendam terhadap apa yang telah peradaban itu renggut dari dirinya.

Nilai-Nilai Kesadaran Berbangsa:

Pram selayaknya menyerukan kesadaran berbangsa dalam buku ini. Alurnya menggambarkan revolusi pemikiran yang dihadapi oleh Minke dari sebelum dan sesudah bertemu dengan Nyai Ontosoroh, sesosok perempuan yang digambarkan sebagai guru kehidupan. Minke yang awalnya begitu mengagungkan peradaban Eropa harus menelan pil pahit setelah menghadapi kenyataan atas dirinya sendiri, sebagai pribumi, yang tidak berdaya terhadap peradaban yang diagungkannya. Nyatanya, perkembangan ilmu pengetahuan yang diciptakan Eropa tidak serta merta membawa seseorang pada tingkat moral yang tinggi seperti yang dia bayangkan.

“Omongkosong saja segala ilmu-pengetahuan Eropa yang diagung-agungkan itu. Omongkosong! Pada akhirnya semua akan berarti alat hanya untuk merampasi segala apa yang kami sayangi dan kami punyai: kehormatan, keringat, hak, bahkan juga anak dan istri”-Minke, hal. 497.

Hal ini menjadi bibit kekecewaan bagi Minke yang telah lama mengagumi peradaban Eropa.dan melupakan kedudukannya sendiri sebagai seorang pribumi. Ditambah dengan pertemuannya dengan Herbert De La Croix dan anaknya Miriam dan Sarah menyadarkannya akan nasib bangsanya yang terjajah. Bagi Herbert dan anak-anaknya, Minke adalah salah satu tokoh yang kelak mampu menyadarkan bangsanya akan keadaan yang begitu memprihatinkan.

“Kami dengarkan dengan terharu, juga ikut jengkel dengan kelakuan para pembesarmu yang menjual konsessi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda kekroposan watak dan jiwanya. Pahlawan-pahlawanmu, dalam cerita papa, bermunculan dari latar belakang penjual konsessi, begitu terus menerus, berabad-abad, dan tidak mengerti bahwa semua itu hanya ulangan dari yang sudah-sudah, semakin lama semakin kecil dan semakin kerdil. Dan begitulah, kata Papa, suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan” – Sarah De La Croix, hal. 285.

Dari buku ini, Pram seolah ingin berkata, kenalilah pedalaman jiwa bangsa sendiri, karena bisa jadi kita lebih khatam terhadap bangsa lain, namun melupakan jiwa bangsa kita yang sedang sekarat. Peradaban lain mungkin begitu menjanjikan, namun penjajahan selalu dimulai dari sesuatu yang tidak kita sadari. Pentingnya mengetahui posisi kita sebagai sebuah bangsa di tengah bangsa-bangsa lainnya menjadi tolak ukur penting untuk mengetahui apa tindakan yang bisa kita lakukan sebagai seorang individu untuk menggerakkan dan memajukan bangsa sendiri.

Pram seolah menyerukan pentingnya untuk peka terhadap permasalahan sosial yang sedang terjadi di dalam masyarakat kita. Bisa jadi negeri kita sedang demam,  namun kita begitu terkagum dengan kehidupan mewah bangsa lain yang dirasa lebih berharga daripada tubuh kita yang sedang sakit. Dengan demikian, Pram menegaskan bahwa tak ada perubahan terhadap suatu bangsa, kecuali dari pedalaman diri bangsa itu sendiri, dan itu semua dimulai dari kesadaran atas permasalahan sosial yang sedang kita hadapi.

Buku ini masih sangat relevan dengan kondisi kesadaran berbangsa kita hari ini, terlebih perpaduan apik antara kapitalisme dan globalisme membuat kita begitu mudah terpesona dengan apa yang dimiliki orang (bangsa) lain daripada apa yang kita miliki. Jangan sampai kesadaran untuk mencintai dan berjuang untuk bangsa sendiri, nyatanya menjadi barang langka di kemudian hari. Dan bukan menjadi suatu hal  yang sulit jika nantinya penjajahan tidak lagi berupa kekerasan dan perampasan seperti di era kolonial, namun menjelma menjadi virus yang menghilangkan jati diri dan rasa juang suatu bangsa, termasuk kita, Indonesia. [T]

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)
“Bek”, Novel Terbaru Mahfud Ikhwan, akan Dibedah dan Didiskusikan di Galerikertas Studiohanafi
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Tags: apresiasi sastranovelNovel Bumi ManusiaPramoedya Ananta ToerSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Ceria Anak-anak Sanggar Uyah Lengis Memainkan “I Siap Selem” di Galeri Indonesia Kaya

Next Post

Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co