15 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”

Nur Fitriani Ramadhani by Nur Fitriani Ramadhani
October 22, 2024
in Ulas Buku
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”

Sumber Foto: Instagram.com/lanraujay

  • Judul               : Bumi Manusia
  • Jenis                : Novel-Fiksi
  • Penulis             : Pramoedya Ananta Toer
  • Terbit               : 2005
  • Penerbit           : Lentera Dipantara
  • Tebal Buku      : 551 halaman; 20 cm

Pram sedang menulis dalam keabadian ketika alur Bumi Manusia dibentangkan dengan begitu menawan. Saya akui, kemampuan Pram dalam melukiskan pedalaman jiwa manusia dalam sebuah buku adalah salah satu anugerah terbaik yang pernah dimiliki peradaban sastra di Indonesia.

Buku ini memusatkan perhatiannya pada tokoh Minke, seorang pribumi yang tenggelam dalam peradaban Eropa di era kolonial. Kesempatan yang dimilikinya sebagai pribumi priyayi membawanya mampu mengenyam pendidikan H.B.S., sebuah tingkatan pendidikan yang tidak banyak dicicipi oleh pribumi pada masanya.

Akibat dari pergaulan dan pendidikannya yang sangat kental dengan Eropa, membuatnya terlena terhadap perkembangan ilmu pengetahuannya yang modern dan membawa moral kemanusiaan, sebuah harapan yang tidak didapatinya dari peradaban pribumi yang tertinggal. Kekagumannya terhadap peradaban eropa dan kemuakkannya terhadap kehidupan pribumi membuatnya tercerabut dari nilai-nilai sebangsanya dan menjelma menjadi manusia eropa di pedalaman jiwanya.

Namun, pemikiran itu mulai teruji ketika Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh, seorang gundik pribumi yang memiliki jiwa berbeda dari pribumi lainnya. Walaupun ‘Nyai’ menjadi gelar abadi, namun Minke mendapati perempuan tersebut sangat jauh dari gambaran nyai yang selalu dilekatkan pada hal-hal tidak bermoral. Perempuan itu memiliki isi kepala yang lebih berperadaban eropa dibandingkan dirinya sendiri.

Ditambah dengan hiruk pikuk kisah cinta Minke dengan Annelies, anak perempuan Nyai Ontosoroh, membawanya lebih dekat dengan pedalaman jiwa keluarga tersebut. Minke mulai menuliskan kisah keagungan Nyai Ontosoroh  dan kecantikan khayali Annelies. Namun tak disangka, petualangan kekaguman itu membuat tabir pikirannya mulai terbuka sedikit demi sedikit terhadap nasib pribumi, sebangsanya sendiri.

Minke mulai memahami, bagaimana peradaban Eropa yang dia kesani selama ini nyatanya tidak sesempurna yang dibayangkan. Kedudukannya sebagai pribumi di mata orang Eropa hanyalah sebuah kasta terendah dari bangsa yang terjajah, mengharuskannya berada di posisi sebagai masyarakat yang tidak berdaya.

Kesadaran itu memuncak ketika akhirnya Minke harus melawan sendiri peradaban Eropa. Minke harus mempertaruhkan seluruh kekuatannya untuk bisa memperjuangkan Annelies, perempuan yang akhirnya menjadi istrinya itu, ketika berada di ujung perkara yang akan memisahkan mereka. Minke merasakan kepahitan yang luar biasa ketika menghadapi hukum kolonial yang dianggap tak memandang manusia sebagai sebuah jiwa. Peristiwa yang menjadi hantaman keras bagi pribumi yang berjiwa eropa itu akhirnya menjadi bibit perlawanan Minke untuk mengenal  lebih dekat dan memperjuangkan nasib sebangsanya yang kelak akan dikisahkan di dalam seri buku tetralogi pulau buru berikutnya.

Penokohan:

Sesosok Minke digambarkan sebagai pemuda pribumi yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia modern. Kecintaannya terhadap dunia baca-tulis membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang suka berpikir dan mempertanyakan banyak hal. Kesempatannya tumbuh dalam pendidikan Eropa menciptakan dogma  di dalam kepalanya, bahwa peradaban Eropa adalah peradaban paling unggul yang diciptakan manusia.

Sebaliknya, ketidaksetujuannya terhadap  kehidupan pribumi yang harus terus tunduk dan patuh terhadap hal-hal simbolis yang tidak memberikan nilai pada harga diri manusia. Karena kesenjangan itu, Minke akhirnya memilih untuk berjarak dengan keluarganya, keluarga bangsawan yang dianggapnya tidak menghargai ilmu pengetahuan yang sudah susah payah dibangun manusia

Sedangkan, sosok Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai perempuan pribumi yang telah menghadapi kepahitan hidup saat dipergundik oleh Tuan Mellema, seorang pejabat Eropa yang jatuh cinta karena keindahan parasnya. Dijual oleh ayahnya menjadi gundik, membuatnya memiliki jiwa penuh dendam sekaligus memaksa dirinya untuk menjadi perempuan tegas dan mandiri agar tidak bergantung pada manusia yang telah banyak mengecewakan dirinya.

Atas bekal didikan Tuan Mellema, akhirnya Nyai Ontosoroh menjelma menjadi manusia berperadaban Eropa. Kecakapan dan ketegasannya membuatnya mampu mengurusi perusahaan Tuan Mellema, Borderig Buitenzorg, hingga terkenal di Surabaya. Dalam fase itulah dia banyak terjamah oleh ilmu pengetahuan Eropa melalui bacaan dan melihat secara langsung bagaimana Eropa bekerja. Atas dasar itu, Nyai Ontosoroh berkembang menjadi perempuan yang memiliki pola pikir Eropa, namun tetap dengan jiwa pribumi, mendendam terhadap apa yang telah peradaban itu renggut dari dirinya.

Nilai-Nilai Kesadaran Berbangsa:

Pram selayaknya menyerukan kesadaran berbangsa dalam buku ini. Alurnya menggambarkan revolusi pemikiran yang dihadapi oleh Minke dari sebelum dan sesudah bertemu dengan Nyai Ontosoroh, sesosok perempuan yang digambarkan sebagai guru kehidupan. Minke yang awalnya begitu mengagungkan peradaban Eropa harus menelan pil pahit setelah menghadapi kenyataan atas dirinya sendiri, sebagai pribumi, yang tidak berdaya terhadap peradaban yang diagungkannya. Nyatanya, perkembangan ilmu pengetahuan yang diciptakan Eropa tidak serta merta membawa seseorang pada tingkat moral yang tinggi seperti yang dia bayangkan.

“Omongkosong saja segala ilmu-pengetahuan Eropa yang diagung-agungkan itu. Omongkosong! Pada akhirnya semua akan berarti alat hanya untuk merampasi segala apa yang kami sayangi dan kami punyai: kehormatan, keringat, hak, bahkan juga anak dan istri”-Minke, hal. 497.

Hal ini menjadi bibit kekecewaan bagi Minke yang telah lama mengagumi peradaban Eropa.dan melupakan kedudukannya sendiri sebagai seorang pribumi. Ditambah dengan pertemuannya dengan Herbert De La Croix dan anaknya Miriam dan Sarah menyadarkannya akan nasib bangsanya yang terjajah. Bagi Herbert dan anak-anaknya, Minke adalah salah satu tokoh yang kelak mampu menyadarkan bangsanya akan keadaan yang begitu memprihatinkan.

“Kami dengarkan dengan terharu, juga ikut jengkel dengan kelakuan para pembesarmu yang menjual konsessi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda kekroposan watak dan jiwanya. Pahlawan-pahlawanmu, dalam cerita papa, bermunculan dari latar belakang penjual konsessi, begitu terus menerus, berabad-abad, dan tidak mengerti bahwa semua itu hanya ulangan dari yang sudah-sudah, semakin lama semakin kecil dan semakin kerdil. Dan begitulah, kata Papa, suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan” – Sarah De La Croix, hal. 285.

Dari buku ini, Pram seolah ingin berkata, kenalilah pedalaman jiwa bangsa sendiri, karena bisa jadi kita lebih khatam terhadap bangsa lain, namun melupakan jiwa bangsa kita yang sedang sekarat. Peradaban lain mungkin begitu menjanjikan, namun penjajahan selalu dimulai dari sesuatu yang tidak kita sadari. Pentingnya mengetahui posisi kita sebagai sebuah bangsa di tengah bangsa-bangsa lainnya menjadi tolak ukur penting untuk mengetahui apa tindakan yang bisa kita lakukan sebagai seorang individu untuk menggerakkan dan memajukan bangsa sendiri.

Pram seolah menyerukan pentingnya untuk peka terhadap permasalahan sosial yang sedang terjadi di dalam masyarakat kita. Bisa jadi negeri kita sedang demam,  namun kita begitu terkagum dengan kehidupan mewah bangsa lain yang dirasa lebih berharga daripada tubuh kita yang sedang sakit. Dengan demikian, Pram menegaskan bahwa tak ada perubahan terhadap suatu bangsa, kecuali dari pedalaman diri bangsa itu sendiri, dan itu semua dimulai dari kesadaran atas permasalahan sosial yang sedang kita hadapi.

Buku ini masih sangat relevan dengan kondisi kesadaran berbangsa kita hari ini, terlebih perpaduan apik antara kapitalisme dan globalisme membuat kita begitu mudah terpesona dengan apa yang dimiliki orang (bangsa) lain daripada apa yang kita miliki. Jangan sampai kesadaran untuk mencintai dan berjuang untuk bangsa sendiri, nyatanya menjadi barang langka di kemudian hari. Dan bukan menjadi suatu hal  yang sulit jika nantinya penjajahan tidak lagi berupa kekerasan dan perampasan seperti di era kolonial, namun menjelma menjadi virus yang menghilangkan jati diri dan rasa juang suatu bangsa, termasuk kita, Indonesia. [T]

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)
“Bek”, Novel Terbaru Mahfud Ikhwan, akan Dibedah dan Didiskusikan di Galerikertas Studiohanafi
Sutan Duano Ada di Antara Kita | Dari Novel Kemarau Karya AA Navis
Tags: apresiasi sastranovelNovel Bumi ManusiaPramoedya Ananta ToerSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Ceria Anak-anak Sanggar Uyah Lengis Memainkan “I Siap Selem” di Galeri Indonesia Kaya

Next Post

Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Nur Fitriani Ramadhani

Nur Fitriani Ramadhani

An Everlasting-Learner and A Life-Admirer. Pengagum kehidupan yang menggunakan tulisan untuk mengabadikan momen-momen bersama kehidupan dan Pecinta buku yang menggunakan tulisan orang lain untuk terus belajar. Memiliki anak-anak pemikiran di apieceoflifey.blogspot.com.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi DIV Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali di Desa Adat Ole, Marga, Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
Puisi

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co