2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 19, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

MESKIPUN saat ini ada gelombang pesimisme terhadap Indonesia, setidaknya tanah dan air tempat dimana kita lahir dan kembali pada ilahi kelak ini masih tetap dikenal sebagai kawasan yang kaya, bukan hanya pada persoalan sumber daya alamnya, namun juga keberagaman yang melekat menjadi sifat yang menyatukan kita sebagai manusia Indonesia dari masa lalu, masa kini, dan nanti.

Kalau kata seorang sahabat di platform twitter, ‘Admixture increases diversity’: percampuran genetik kelompok-kelompok yang berbeda pada akhirnya  meningkatkan keberagaman yang harus menjadi  paradigma ketika mengungkap sejarah manusia Indonesia dengan segala problematikanya.

Karena beragam tadi, pada akhirnya kita bukan hanya dapat hidup bersama, namun juga ikut merayakan ritus-ritus dalam konteks sosial dari mereka yang berbeda. Seringkali perayaan antara umat satu dengan umat lainnya berdekatan. Mungkin sebuah  kebetulan, namun dari yang kebetulan itu  dapat dijadikan momentum untuk merefleksikan kembali kondisi keberagaman kita di tengah tantangan multidimensi seperti intoleransi, kesenjangan sosial, dan polarisasi.

Sekali lagi pada tahun 2025 ini, perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1446H dan Nyepi (1947 Saka) dirayakan berdekatan di akhir bulan Maret 2025. Sepertinya kita diingatkan kembali bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang mampu menjembatani perbedaan sekaligus menjawab tantangan dengan berpijak pada kekuatan spiritual yang kita yakini.

Jadi sudah selayaknya ada proses refleksi tentang spirit Nyepi dan Idul Fitri, yang berakar pada ajaran agama dan filsafat hidup itu untuk  menjadi fondasi untuk membangun solidaritas sosial yang progresif, inklusif, dan berkeadilan.

Makna Idul Fitri dan Nyepi

Hari Raya Idul Fitri dalam pemaknaan teologis umat Islam merupakan  puncak kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan. Hari yang  melambangkan kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu keadaan suci dan murni, serta menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan melalui saling memaafkan.

Dalam Al-Qur’an, esensi Ramadan dan Idul Fitri tercermin dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bertujuan membentuk takwa—kesadaran akan Allah yang tercermin dalam perilaku penuh kasih dan hormat kepada sesama. Idul Fitri, dengan tradisi halal bihalal-nya, menjadi wujud nyata dari semangat rekonsiliasi dan toleransi.

Sebaliknya, Hari Nyepi adalah hari keheningan yang unik dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali. Sependek pengetahuan saya  hanya Hindu di Indonesia saja yang melaksanakan tradisi Nyepi—ini jika dibandingkan dengan Hindu di Malaysia, tempat saya berdomisili saat ini yang mayoritasnya berasal dari etnis tamil itu.  Perayaan Hindu yang dirayakan di Malaysia seperti Deepavali dan Thaipussam sangat jauh dari keheningan seperti Nyepi, namun sama-sama menarik secara ritus di mana Hindu dipraktikkan mengikuti tempat di mana dia berpijak.

Nyepi yang selama 24 jam mengharuskan dihentikannya aktivitas duniawi di tengah budaya yang hustle atau terburu-buru pada akhirnya  membawa situasi yang mendorong kita bermeditasi untuk mengenalikan diri dan mencari kedamaian batin, sebagaimana tertuang dalam Bhagavad Gita 6.6.

 “Bagi orang yang telah menaklukkan pikirannya, pikiran adalah sahabat terbaiknya; tetapi bagi orang yang gagal melakukannya, pikiran akan menjadi musuh terbesar.”

Ayat ini menggarisbawahi bahwa harmoni dengan diri sendiri adalah langkah awal menuju harmoni dengan orang lain. Nyepi, dengan keheningannya, menciptakan ruang untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan, alam, dan  sesama.

Idul Fitri dan Nyepi: Dua Ritus Perlawanan terhadap Krisis Kemanusiaan.

Kita memahami Idul Fitri sebagai momen bermaafan dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, hakikatnya, Idul Fitri adalah revolusi kesadaran.

Puasa Ramadan mengajarkan empati terhadap jutaan orang yang dipaksa “berpuasa” sepanjang tahun karena kemiskinan yang seringkali diakibatkan oleh yang struktural.

Sementara, tradisi zakat fitrah yang wajib dikeluarkan sebelum salat Id itu merupakan manifestasi dari instrumen redistribusi kekayaan yang mewajibkan orang berada untuk berbagi dengan yang membutuhkan apalagi ditengah kesenjangan yang semakin Nampak.

Kalau kita cermati lebih mendalam, konsep fitrah dalam Islam bukan sekadar kembalinya manusia ke keadaan suci, tapi juga seruan untuk membongkar struktur yang menghambat kemurnian itu.

Dalam teologi Islam, setiap manusia lahir dengan potensi kebaikan (fitrah), tetapi sistem yang korup, keserakahan, dan ketidakadilan bisa menguburnya. Idul Fitri mengajak kita membersihkan diri dari “sampah” duniawi—bukan hanya dosa pribadi, tapi juga kezaliman sistemik.

Persoalan ketertindasan dalam konteks Islam memang menjadi keutamaan, Surah Al-Ma’un (107:1-7) mengingatkan bahwa mendustakan agama adalah mengabaikan anak yatim dan fakir miskin. Ayat ini bukan hanya kritik terhadap individu, tetapi juga terhadap sistem yang membiarkan kemiskinan menjadi takdir.

Sementara itu, Nyepi yang dirayakan dengan empat prinsip Catur Brata Penyepian (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan) adalah bentuk resistensi kultural. Di Bali, di tengah gempuran pariwisata massal yang mengomersialisasi setiap ruang hidup .

Nyepi menjadi pengingat bahwa budaya, alam, bahkan agama itu sendiri bukanlah komoditas, melainkan warisan, nilai, dan kekayaan yang harus dijaga. Prinsip Amati Geni (tidak menyalakan api) dan Amati Karya (menghentikan aktivitas) mengajarkan kesadaran ekologis,  manusia tidak boleh menjadi penguasa alam, melainkan mitra yang menjaga keseimbangan.

Kitab Upanishad menyatakan “Tat Tvam Asi” (Engkaulah itu), yang dalam bacaan teologi pembebasan menegaskan kesatuan manusia dengan alam sebagai basis perjuangan ekologis . Krisis iklim dan deforestasi di Indonesia—dari Sumatera hingga Papua—adalah bukti bahwa kapitalisme telah merusak keseimbangan ini. Nyepi mengajarkan bahwa ketenangan batin hanya mungkin tercapai jika ada keadilan ekologis dan penghapusan dominasi manusia atas alam .

Nyepi memang tak bisa dipisahkan dari Tri Hita Karana—filosofi Hindu Bali tentang harmoni tiga hubungan: dengan Tuhan (Parhyangan), sesama (Pawongan), dan alam (Palemahan). Saat listrik padam dan aktivitas terhenti, kita diingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, tapi bagian darinya. Ritual ngerupuk (mengusir roh jahat) sebelum Nyepi adalah metafora untuk mengusir keserakahan yang merusak lingkungan.

Sekali lagi, yang hening dan yang fitri hadir bersamaan selain sebagai romansa toleransi juga menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali spirit keagamaan yang melampuai ritus ditengah problematika bangsa yang semakin hari semakin menjadi-menjadi. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?
Tags: Hari Raya NyepihinduIdul FitriIslamMuslimtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

RUBIK SMANDUTA Diluncurkan, Membangun Generasi Muda Kritis  

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co