22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
March 19, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

MESKIPUN saat ini ada gelombang pesimisme terhadap Indonesia, setidaknya tanah dan air tempat dimana kita lahir dan kembali pada ilahi kelak ini masih tetap dikenal sebagai kawasan yang kaya, bukan hanya pada persoalan sumber daya alamnya, namun juga keberagaman yang melekat menjadi sifat yang menyatukan kita sebagai manusia Indonesia dari masa lalu, masa kini, dan nanti.

Kalau kata seorang sahabat di platform twitter, ‘Admixture increases diversity’: percampuran genetik kelompok-kelompok yang berbeda pada akhirnya  meningkatkan keberagaman yang harus menjadi  paradigma ketika mengungkap sejarah manusia Indonesia dengan segala problematikanya.

Karena beragam tadi, pada akhirnya kita bukan hanya dapat hidup bersama, namun juga ikut merayakan ritus-ritus dalam konteks sosial dari mereka yang berbeda. Seringkali perayaan antara umat satu dengan umat lainnya berdekatan. Mungkin sebuah  kebetulan, namun dari yang kebetulan itu  dapat dijadikan momentum untuk merefleksikan kembali kondisi keberagaman kita di tengah tantangan multidimensi seperti intoleransi, kesenjangan sosial, dan polarisasi.

Sekali lagi pada tahun 2025 ini, perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1446H dan Nyepi (1947 Saka) dirayakan berdekatan di akhir bulan Maret 2025. Sepertinya kita diingatkan kembali bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang mampu menjembatani perbedaan sekaligus menjawab tantangan dengan berpijak pada kekuatan spiritual yang kita yakini.

Jadi sudah selayaknya ada proses refleksi tentang spirit Nyepi dan Idul Fitri, yang berakar pada ajaran agama dan filsafat hidup itu untuk  menjadi fondasi untuk membangun solidaritas sosial yang progresif, inklusif, dan berkeadilan.

Makna Idul Fitri dan Nyepi

Hari Raya Idul Fitri dalam pemaknaan teologis umat Islam merupakan  puncak kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan. Hari yang  melambangkan kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu keadaan suci dan murni, serta menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan melalui saling memaafkan.

Dalam Al-Qur’an, esensi Ramadan dan Idul Fitri tercermin dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bertujuan membentuk takwa—kesadaran akan Allah yang tercermin dalam perilaku penuh kasih dan hormat kepada sesama. Idul Fitri, dengan tradisi halal bihalal-nya, menjadi wujud nyata dari semangat rekonsiliasi dan toleransi.

Sebaliknya, Hari Nyepi adalah hari keheningan yang unik dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali. Sependek pengetahuan saya  hanya Hindu di Indonesia saja yang melaksanakan tradisi Nyepi—ini jika dibandingkan dengan Hindu di Malaysia, tempat saya berdomisili saat ini yang mayoritasnya berasal dari etnis tamil itu.  Perayaan Hindu yang dirayakan di Malaysia seperti Deepavali dan Thaipussam sangat jauh dari keheningan seperti Nyepi, namun sama-sama menarik secara ritus di mana Hindu dipraktikkan mengikuti tempat di mana dia berpijak.

Nyepi yang selama 24 jam mengharuskan dihentikannya aktivitas duniawi di tengah budaya yang hustle atau terburu-buru pada akhirnya  membawa situasi yang mendorong kita bermeditasi untuk mengenalikan diri dan mencari kedamaian batin, sebagaimana tertuang dalam Bhagavad Gita 6.6.

 “Bagi orang yang telah menaklukkan pikirannya, pikiran adalah sahabat terbaiknya; tetapi bagi orang yang gagal melakukannya, pikiran akan menjadi musuh terbesar.”

Ayat ini menggarisbawahi bahwa harmoni dengan diri sendiri adalah langkah awal menuju harmoni dengan orang lain. Nyepi, dengan keheningannya, menciptakan ruang untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan, alam, dan  sesama.

Idul Fitri dan Nyepi: Dua Ritus Perlawanan terhadap Krisis Kemanusiaan.

Kita memahami Idul Fitri sebagai momen bermaafan dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, hakikatnya, Idul Fitri adalah revolusi kesadaran.

Puasa Ramadan mengajarkan empati terhadap jutaan orang yang dipaksa “berpuasa” sepanjang tahun karena kemiskinan yang seringkali diakibatkan oleh yang struktural.

Sementara, tradisi zakat fitrah yang wajib dikeluarkan sebelum salat Id itu merupakan manifestasi dari instrumen redistribusi kekayaan yang mewajibkan orang berada untuk berbagi dengan yang membutuhkan apalagi ditengah kesenjangan yang semakin Nampak.

Kalau kita cermati lebih mendalam, konsep fitrah dalam Islam bukan sekadar kembalinya manusia ke keadaan suci, tapi juga seruan untuk membongkar struktur yang menghambat kemurnian itu.

Dalam teologi Islam, setiap manusia lahir dengan potensi kebaikan (fitrah), tetapi sistem yang korup, keserakahan, dan ketidakadilan bisa menguburnya. Idul Fitri mengajak kita membersihkan diri dari “sampah” duniawi—bukan hanya dosa pribadi, tapi juga kezaliman sistemik.

Persoalan ketertindasan dalam konteks Islam memang menjadi keutamaan, Surah Al-Ma’un (107:1-7) mengingatkan bahwa mendustakan agama adalah mengabaikan anak yatim dan fakir miskin. Ayat ini bukan hanya kritik terhadap individu, tetapi juga terhadap sistem yang membiarkan kemiskinan menjadi takdir.

Sementara itu, Nyepi yang dirayakan dengan empat prinsip Catur Brata Penyepian (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan) adalah bentuk resistensi kultural. Di Bali, di tengah gempuran pariwisata massal yang mengomersialisasi setiap ruang hidup .

Nyepi menjadi pengingat bahwa budaya, alam, bahkan agama itu sendiri bukanlah komoditas, melainkan warisan, nilai, dan kekayaan yang harus dijaga. Prinsip Amati Geni (tidak menyalakan api) dan Amati Karya (menghentikan aktivitas) mengajarkan kesadaran ekologis,  manusia tidak boleh menjadi penguasa alam, melainkan mitra yang menjaga keseimbangan.

Kitab Upanishad menyatakan “Tat Tvam Asi” (Engkaulah itu), yang dalam bacaan teologi pembebasan menegaskan kesatuan manusia dengan alam sebagai basis perjuangan ekologis . Krisis iklim dan deforestasi di Indonesia—dari Sumatera hingga Papua—adalah bukti bahwa kapitalisme telah merusak keseimbangan ini. Nyepi mengajarkan bahwa ketenangan batin hanya mungkin tercapai jika ada keadilan ekologis dan penghapusan dominasi manusia atas alam .

Nyepi memang tak bisa dipisahkan dari Tri Hita Karana—filosofi Hindu Bali tentang harmoni tiga hubungan: dengan Tuhan (Parhyangan), sesama (Pawongan), dan alam (Palemahan). Saat listrik padam dan aktivitas terhenti, kita diingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, tapi bagian darinya. Ritual ngerupuk (mengusir roh jahat) sebelum Nyepi adalah metafora untuk mengusir keserakahan yang merusak lingkungan.

Sekali lagi, yang hening dan yang fitri hadir bersamaan selain sebagai romansa toleransi juga menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali spirit keagamaan yang melampuai ritus ditengah problematika bangsa yang semakin hari semakin menjadi-menjadi. [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?
Tags: Hari Raya NyepihinduIdul FitriIslamMuslimtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

RUBIK SMANDUTA Diluncurkan, Membangun Generasi Muda Kritis  

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co