5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Wayan Naya

Hartanto by Hartanto
May 4, 2025
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Wayan Naya

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

SALAH satu karya yang menarik pada pameran senirupa “Metastomata : Metamorphosi Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud –  18 April hingga 18 Mei , adalah karya Wayan Naya yang bertajuk : “Landscape”. Gagasan Naya, Mengangkat problema Alam sebagai Inspirasi karyanya.  Karya ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan ekologi – yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan. Pada dasarnya, Naya mengkritisi perilaku manusia yang secara sadar atau tak, acap mengakibatkan kerusakan alam.

Dalam hal ini, karyanya mencerminkan antropogenik—perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti urbanisasi atau eksploitasi sumber daya, buang sampah sembarangan, dan perusakan lainnya.. Representasi visual dari kondisi ‘semrawut’ yang sekarang (bagi Naya) dapat menjadi analogi degradasi ekosistem akibat polusi, deforestasi (alih fungsi hutan, dengan tindakan penggundulan). dan perubahan iklim.

Wayan Naya, Abstrak 6, Acrylic on canvas

Kondisi alam yang sekarang lebih ‘semrawut’ dibandingkan masa lalu, menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam karya “landscape” ini. Adapun karya-karya yang berhasil menangkap transformasi lingkungan seperti ini sering kali menjadi media refleksi sekaligus advokasi. Hal tersebut bisa kita simak dari unsur visual seperti kondisi pantai yang penuh dengan sampah plastik, dan kayu-kayu hanyut, serta berbagai jenis sampah lainnya – seakan mencerminkan kekacauan yang terjadi. Lukisan laut yang tampak bergelora di bagian atasnya juga menambah nuansa ‘ketegangan’ yang ingin ditonjolkan.

Dalam lukisan ini, Naya menggunakan kontras antara warna terang seperti merah dan oranye di bagian tengah, dengan gelap di latar belakang – ini, menciptakan tensi visual. Elemen garis putih dan abu-abu pada bagian bawah memberikan kesan gerakan dinamis. Analisis ini menekankan bagaimana elemen visual dapat mencerminkan kondisi alam yang kacau. Ia bukan hanya menceritakan, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional perupanya kepada audiens.

Penggayaan Ekspresionis karya Wayan Naya ini tengah mengeksplorasi emosi dan kondisi psikologis melalui penggunaan ‘bahasa visual’ : warna, bentuk, garis, tekstur, pola, orientasi, skala, sudut, ruang, proporsi dan dinamika. Penggunaan warna yang intens, seperti merah dan oranye, dapat diasosiasikan dengan perasaan cemas atau urgensi. Elemen bentuk yang tidak beraturan mencerminkan kekacauan, sesuai dengan tema kerusakan alam. Pendekatan ini membantu memaknai bagaimana karya menjadi cerminan emosi terkait pergeseran kondisi lingkungan.

Wayan Naya, Abstrak 3, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 2, Acrylic on canvas

Karya rupa Wayan Naya kali ini,  tidak hanya dapat dipandang sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai media ekspresi yang kompleks. Pendekatan ini memperkuat relevansi karya dalam mengkritisi perubahan lingkungan sekaligus mengadvokasi kesadaran ekologis. Oleh karenanya, sesuai dengan spirit ‘Metastomata’, estetika saja tak cukup bagi unjuk eksistensi sebuah karya – dibutuhkan juga produk pemikiran yang ‘genial’.

Seperti kita ketahui, Ekspresionisme, adalah sebuah gerakan seni modernis yang berasal dari Jerman sebelum Perang Dunia I. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan realitas dari sudut pandang pribadi, menjadikannya objek distorsi radikal untuk menghasilkan efek “ekspresif” guna membangkitkan keadaan atau ide emosional. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap gaya impresionisme yang lebih pasif. Aliran lukisan ini juga menjadi respons terhadap kegelisahan hubungan umat manusia yang makin kurang harmonis.

Ekspresionisme adalah aliran seni yang berfokus pada ekspresi emosi dan kondisi psikologis melalui elemen visual. Karya Naya mencerminkan pendekatan ini dengan penggunaan warna intens dan bentuk yang tidak beraturan untuk menggambarkan kekacauan akibat kerusakan alam. Elemen tekstur dan pola dalam lukisan juga menambah kedalaman emosional, memungkinkan audiens merasakan dampak antropogenik terhadap ekosistem.

Menurut subyektif saya, karya ini menunjukkan bagaimana seni rupa dapat menjadi cerminan emosi, simbol, dan advokasi yang kompleks. Dalam sudut pandang ekspresionisme, teori seni rupa yang sering digunakan ini – berasal dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Vincent van Gogh, Edvard Munch, Matthias Grünewald,  Francisco Goya, Ernst Ludwig Kirchner, James Ensor, Wassily Kandinsky, juga tokoh sejarawan asal Ceko, Antonin Matejcek.

Wayan Naya, Abstrak 1, Acrylic on canvas

Pada awal abad ke-20, Ekspresionisme muncul sebagai kecenderungan dan gerakan seni internasional, yang mencakup seni rupa, sastra, musik, teater, film, dan arsitektur. Tujuan para seniman adalah untuk mengekspresikan pengalaman emosional mereka, tidak berfokus pada penggambaran realitas fisik.

Jerman, bersama dengan Prancis, Austria, dan Norwegia, merupakan pusat penting perkembangan Ekspresionisme. Ekspresionisme Jerman terbagi menjadi dua kelompok seniman utama: Die Brücke (jembatan), yang dipimpin oleh Ernst Ludwig Kirchner, dan Der Blue Reiter (Penunggang Biru), yang dipimpin oleh Franz Marc dan Wassily Kandinsky. Gaya seni  Die Brücke bersifat personal dan dikenal dengan penekan psikologis dan erotisme

Die Brücke (Jembatan) adalah kelompok seni ekspresionis yang didirikan di Dresden, Jerman, pada tahun 1905 oleh Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff, dan Max Pechstein. Mereka ingin menjembatani seni tradisional dengan gaya baru yang lebih ekspresif dan emosional. Gaya seni Die Brücke ditandai dengan: Warna-warna mencolok dan kontras yang digunakan untuk mengekspresikan emosi. Lantas garis-garis tegas dan bentuk yang terdistorsi, sering kali menggambarkan ketegangan dan kegelisahan.

Mereka juga acap mengambil tema kehidupan urban dan manusia – termasuk adegan kota, model telanjang, dan kehidupan sosial yang dinamis. Kelompok ini juga terpengaruh seni primitif, seperti ukiran kayu dan seni Afrika, yang memberikan kesan spontan dan bebas. Kelompok  Die Brücke berusaha untuk menciptakan seni yang lebih intuitif dan emosional, menolak aturan akademik yang kaku. Mereka juga terinspirasi oleh filsafat Friedrich Nietzsche, yang menggambarkan manusia sebagai “jembatan” menuju masa depan.

Wayan Naya, Abstrak 5, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 7, Acrylic on canvas

Der Blaue Reiter (Penunggang Biru) adalah sebuah kelompok seni yang muncul di Jerman pada awal abad ke-20, khususnya antara tahun 1911 hingga 1914. Gaya seni mereka sangat dipengaruhi oleh ekspresionisme, dengan fokus pada penggunaan warna yang ekspresif dan bentuk yang tidak realistis untuk menyampaikan emosi dan spiritualitas.

Kelompok ini didirikan oleh seniman seperti  Wassily Kandinsky, Franz Marc, dan August Macke, yang percaya bahwa seni harus lebih dari sekadar representasi visual – seni harus mampu mengekspresikan perasaan batin dan dunia spiritual. Lukisan-lukisan mereka sering kali menampilkan warna-warna cerah, bentuk yang dinamis, dan komposisi yang penuh energi. Selain itu, Der Blaue Reiter juga memiliki ketertarikan pada mistisisme dan teosofi. Ini, tercermin dalam karya-karya mereka – yang sering kali bersifat simbolis dan abstrak. Mereka berusaha untuk menciptakan seni yang memiliki makna lebih dalam, bukan hanya sekadar gambar yang indah.

Sebagai pembanding, saya mencoba mengkaji lukisan abstrak no 5 karya Wayan Naya. Jika diperkenankan, saya memberinya Judul : Moonlight Sonata. Ini, sebenarnya Judul lagu karya Beethoven. Karya Naya ini menekankan elemen visual seperti warna, garis, bentuk, dan tekstur. Selain itu, memiliki komposisi yang dinamis, dengan kontras warna yang kuat antara merah dan latar gelap. Bentuk melingkar (rembulan) dapat diinterpretasikan sebagai pusat perhatian, menciptakan keseimbangan visual.

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

Wassily Kandinsky pernah punya pandangan tentang spiritualitas dalam Warna. Pasalnya Kandinsky percaya bahwa warna memiliki makna spiritual dan dapat mempengaruhi emosi penonton. Jika bersandar pada pandangan Kandinsky, Warna merah dalam lukisan Naya ini bisa melambangkan kekuatan atau gairah, sementara latar gelap menciptakan kedalaman dan ketenangan. Selain itu, bentuk dan komposisi yang tidak realistis mengajak penikmat untuk merasakan makna lebih dalam, bukan sekadar melihat bentuk visual.

Pada pendekatan Ekspresionisme Abstrak, yang terfokus pada ekspresi emosi dan intuisi seniman – penggunaan warna dan sapuan kuas yang bebas menunjukkan perasaan dan energy yang dituangkan di atas kanvas pada karya ini. Menurut subyektif saya, karya lukisan ini mencerminkan perasaan melankolis yang mendalam dari pelukisnya, maka saya memberinya  judul “Moonlight Sonata”. Seni abstrak tidak hanya membuang representasi figuratif, tetapi juga merangsang imajinasi dan persepsi penikmat. Lukisan ini tidak menggambarkan objek nyata, tetapi lebih kepada kesan dan atmosfer yang ditimbulkan oleh warna dan bentuk.

Wayan Naya, Teksture, Mix Media on Canvas

Wayan Naya, Landscape, Mix Media on Canvas

Judul Moonlight Sonata, seperti yang sudah saya sebut di atas – bisa memberikan nuansa yang lebih romantis dan melankolis pada karya ini. Dalam lukisan abstrak ini, terdapat bentuk melingkar merah di bagian kiri atas yang bisa diasosiasikan dengan bulan, sedangkan latar gelap dengan tekstur kaya menciptakan suasana misterius dan mendalam—mirip dengan efek emosional yang ditimbulkan oleh komposisi musik Sonata No. 14 karya Beethoven.

Menurut subyektifitas saya, judul ini bisa memberikan konteks yang lebih dramatis dan emosional, mengajak penikmat untuk merasakan ketenangan sekaligus ketegangan dalam visualnya, seperti menikmati Moonlight Sonata dalam bentuk gambar. Jadi, melihat karya ini – yang saya anggap sebagai orkestra warna — saya seperti sedang menikmati Orkestra Moonlight Sonata, Karya Beethoven. Jika ingin menikmati karya Beethoven bisa simak di https://www.youtube.com/watch?v=Hu7hscHkfPw. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni RupaSuteja Neka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co