25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orkestra Warna Wayan Naya

Hartanto by Hartanto
May 4, 2025
in Ulas Rupa
Orkestra Warna Wayan Naya

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

SALAH satu karya yang menarik pada pameran senirupa “Metastomata : Metamorphosi Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud –  18 April hingga 18 Mei , adalah karya Wayan Naya yang bertajuk : “Landscape”. Gagasan Naya, Mengangkat problema Alam sebagai Inspirasi karyanya.  Karya ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan ekologi – yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan. Pada dasarnya, Naya mengkritisi perilaku manusia yang secara sadar atau tak, acap mengakibatkan kerusakan alam.

Dalam hal ini, karyanya mencerminkan antropogenik—perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti urbanisasi atau eksploitasi sumber daya, buang sampah sembarangan, dan perusakan lainnya.. Representasi visual dari kondisi ‘semrawut’ yang sekarang (bagi Naya) dapat menjadi analogi degradasi ekosistem akibat polusi, deforestasi (alih fungsi hutan, dengan tindakan penggundulan). dan perubahan iklim.

Wayan Naya, Abstrak 6, Acrylic on canvas

Kondisi alam yang sekarang lebih ‘semrawut’ dibandingkan masa lalu, menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam karya “landscape” ini. Adapun karya-karya yang berhasil menangkap transformasi lingkungan seperti ini sering kali menjadi media refleksi sekaligus advokasi. Hal tersebut bisa kita simak dari unsur visual seperti kondisi pantai yang penuh dengan sampah plastik, dan kayu-kayu hanyut, serta berbagai jenis sampah lainnya – seakan mencerminkan kekacauan yang terjadi. Lukisan laut yang tampak bergelora di bagian atasnya juga menambah nuansa ‘ketegangan’ yang ingin ditonjolkan.

Dalam lukisan ini, Naya menggunakan kontras antara warna terang seperti merah dan oranye di bagian tengah, dengan gelap di latar belakang – ini, menciptakan tensi visual. Elemen garis putih dan abu-abu pada bagian bawah memberikan kesan gerakan dinamis. Analisis ini menekankan bagaimana elemen visual dapat mencerminkan kondisi alam yang kacau. Ia bukan hanya menceritakan, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional perupanya kepada audiens.

Penggayaan Ekspresionis karya Wayan Naya ini tengah mengeksplorasi emosi dan kondisi psikologis melalui penggunaan ‘bahasa visual’ : warna, bentuk, garis, tekstur, pola, orientasi, skala, sudut, ruang, proporsi dan dinamika. Penggunaan warna yang intens, seperti merah dan oranye, dapat diasosiasikan dengan perasaan cemas atau urgensi. Elemen bentuk yang tidak beraturan mencerminkan kekacauan, sesuai dengan tema kerusakan alam. Pendekatan ini membantu memaknai bagaimana karya menjadi cerminan emosi terkait pergeseran kondisi lingkungan.

Wayan Naya, Abstrak 3, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 2, Acrylic on canvas

Karya rupa Wayan Naya kali ini,  tidak hanya dapat dipandang sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai media ekspresi yang kompleks. Pendekatan ini memperkuat relevansi karya dalam mengkritisi perubahan lingkungan sekaligus mengadvokasi kesadaran ekologis. Oleh karenanya, sesuai dengan spirit ‘Metastomata’, estetika saja tak cukup bagi unjuk eksistensi sebuah karya – dibutuhkan juga produk pemikiran yang ‘genial’.

Seperti kita ketahui, Ekspresionisme, adalah sebuah gerakan seni modernis yang berasal dari Jerman sebelum Perang Dunia I. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan realitas dari sudut pandang pribadi, menjadikannya objek distorsi radikal untuk menghasilkan efek “ekspresif” guna membangkitkan keadaan atau ide emosional. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap gaya impresionisme yang lebih pasif. Aliran lukisan ini juga menjadi respons terhadap kegelisahan hubungan umat manusia yang makin kurang harmonis.

Ekspresionisme adalah aliran seni yang berfokus pada ekspresi emosi dan kondisi psikologis melalui elemen visual. Karya Naya mencerminkan pendekatan ini dengan penggunaan warna intens dan bentuk yang tidak beraturan untuk menggambarkan kekacauan akibat kerusakan alam. Elemen tekstur dan pola dalam lukisan juga menambah kedalaman emosional, memungkinkan audiens merasakan dampak antropogenik terhadap ekosistem.

Menurut subyektif saya, karya ini menunjukkan bagaimana seni rupa dapat menjadi cerminan emosi, simbol, dan advokasi yang kompleks. Dalam sudut pandang ekspresionisme, teori seni rupa yang sering digunakan ini – berasal dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Vincent van Gogh, Edvard Munch, Matthias Grünewald,  Francisco Goya, Ernst Ludwig Kirchner, James Ensor, Wassily Kandinsky, juga tokoh sejarawan asal Ceko, Antonin Matejcek.

Wayan Naya, Abstrak 1, Acrylic on canvas

Pada awal abad ke-20, Ekspresionisme muncul sebagai kecenderungan dan gerakan seni internasional, yang mencakup seni rupa, sastra, musik, teater, film, dan arsitektur. Tujuan para seniman adalah untuk mengekspresikan pengalaman emosional mereka, tidak berfokus pada penggambaran realitas fisik.

Jerman, bersama dengan Prancis, Austria, dan Norwegia, merupakan pusat penting perkembangan Ekspresionisme. Ekspresionisme Jerman terbagi menjadi dua kelompok seniman utama: Die Brücke (jembatan), yang dipimpin oleh Ernst Ludwig Kirchner, dan Der Blue Reiter (Penunggang Biru), yang dipimpin oleh Franz Marc dan Wassily Kandinsky. Gaya seni  Die Brücke bersifat personal dan dikenal dengan penekan psikologis dan erotisme

Die Brücke (Jembatan) adalah kelompok seni ekspresionis yang didirikan di Dresden, Jerman, pada tahun 1905 oleh Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff, dan Max Pechstein. Mereka ingin menjembatani seni tradisional dengan gaya baru yang lebih ekspresif dan emosional. Gaya seni Die Brücke ditandai dengan: Warna-warna mencolok dan kontras yang digunakan untuk mengekspresikan emosi. Lantas garis-garis tegas dan bentuk yang terdistorsi, sering kali menggambarkan ketegangan dan kegelisahan.

Mereka juga acap mengambil tema kehidupan urban dan manusia – termasuk adegan kota, model telanjang, dan kehidupan sosial yang dinamis. Kelompok ini juga terpengaruh seni primitif, seperti ukiran kayu dan seni Afrika, yang memberikan kesan spontan dan bebas. Kelompok  Die Brücke berusaha untuk menciptakan seni yang lebih intuitif dan emosional, menolak aturan akademik yang kaku. Mereka juga terinspirasi oleh filsafat Friedrich Nietzsche, yang menggambarkan manusia sebagai “jembatan” menuju masa depan.

Wayan Naya, Abstrak 5, Acrylic on canvas

Wayan Naya, Abstrak 7, Acrylic on canvas

Der Blaue Reiter (Penunggang Biru) adalah sebuah kelompok seni yang muncul di Jerman pada awal abad ke-20, khususnya antara tahun 1911 hingga 1914. Gaya seni mereka sangat dipengaruhi oleh ekspresionisme, dengan fokus pada penggunaan warna yang ekspresif dan bentuk yang tidak realistis untuk menyampaikan emosi dan spiritualitas.

Kelompok ini didirikan oleh seniman seperti  Wassily Kandinsky, Franz Marc, dan August Macke, yang percaya bahwa seni harus lebih dari sekadar representasi visual – seni harus mampu mengekspresikan perasaan batin dan dunia spiritual. Lukisan-lukisan mereka sering kali menampilkan warna-warna cerah, bentuk yang dinamis, dan komposisi yang penuh energi. Selain itu, Der Blaue Reiter juga memiliki ketertarikan pada mistisisme dan teosofi. Ini, tercermin dalam karya-karya mereka – yang sering kali bersifat simbolis dan abstrak. Mereka berusaha untuk menciptakan seni yang memiliki makna lebih dalam, bukan hanya sekadar gambar yang indah.

Sebagai pembanding, saya mencoba mengkaji lukisan abstrak no 5 karya Wayan Naya. Jika diperkenankan, saya memberinya Judul : Moonlight Sonata. Ini, sebenarnya Judul lagu karya Beethoven. Karya Naya ini menekankan elemen visual seperti warna, garis, bentuk, dan tekstur. Selain itu, memiliki komposisi yang dinamis, dengan kontras warna yang kuat antara merah dan latar gelap. Bentuk melingkar (rembulan) dapat diinterpretasikan sebagai pusat perhatian, menciptakan keseimbangan visual.

Wayan Naya, Abstrak 4, Acrylic on canvas

Wassily Kandinsky pernah punya pandangan tentang spiritualitas dalam Warna. Pasalnya Kandinsky percaya bahwa warna memiliki makna spiritual dan dapat mempengaruhi emosi penonton. Jika bersandar pada pandangan Kandinsky, Warna merah dalam lukisan Naya ini bisa melambangkan kekuatan atau gairah, sementara latar gelap menciptakan kedalaman dan ketenangan. Selain itu, bentuk dan komposisi yang tidak realistis mengajak penikmat untuk merasakan makna lebih dalam, bukan sekadar melihat bentuk visual.

Pada pendekatan Ekspresionisme Abstrak, yang terfokus pada ekspresi emosi dan intuisi seniman – penggunaan warna dan sapuan kuas yang bebas menunjukkan perasaan dan energy yang dituangkan di atas kanvas pada karya ini. Menurut subyektif saya, karya lukisan ini mencerminkan perasaan melankolis yang mendalam dari pelukisnya, maka saya memberinya  judul “Moonlight Sonata”. Seni abstrak tidak hanya membuang representasi figuratif, tetapi juga merangsang imajinasi dan persepsi penikmat. Lukisan ini tidak menggambarkan objek nyata, tetapi lebih kepada kesan dan atmosfer yang ditimbulkan oleh warna dan bentuk.

Wayan Naya, Teksture, Mix Media on Canvas

Wayan Naya, Landscape, Mix Media on Canvas

Judul Moonlight Sonata, seperti yang sudah saya sebut di atas – bisa memberikan nuansa yang lebih romantis dan melankolis pada karya ini. Dalam lukisan abstrak ini, terdapat bentuk melingkar merah di bagian kiri atas yang bisa diasosiasikan dengan bulan, sedangkan latar gelap dengan tekstur kaya menciptakan suasana misterius dan mendalam—mirip dengan efek emosional yang ditimbulkan oleh komposisi musik Sonata No. 14 karya Beethoven.

Menurut subyektifitas saya, judul ini bisa memberikan konteks yang lebih dramatis dan emosional, mengajak penikmat untuk merasakan ketenangan sekaligus ketegangan dalam visualnya, seperti menikmati Moonlight Sonata dalam bentuk gambar. Jadi, melihat karya ini – yang saya anggap sebagai orkestra warna — saya seperti sedang menikmati Orkestra Moonlight Sonata, Karya Beethoven. Jika ingin menikmati karya Beethoven bisa simak di https://www.youtube.com/watch?v=Hu7hscHkfPw. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni RupaSuteja Neka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan di Mata Mak Kaeh | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co