23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Hartanto by Hartanto
May 5, 2025
in Ulas Rupa
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Ardika, Jalan Abu-abu, mix media on canvas (croping)

“Jalan Abu2” adalah tajuk lukisan karya Ardika yang dipamerkan pada 18 April hingga 18 Mei di Neka Art Museum, Ubud. Pameran bertajuk “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini menandai 29 tahun Komunitas seni Galang Kangin (KSGK).

Karya Ardika ini merupakan sebuah eksplorasi visual yang menarik, mengangkat tema alam dengan pendekatan abstrak. Ardika, tampaknya berusaha menangkap esensi garis-garis alam yang masih melekat di ingatannya, melalui penggunaan warna-warna seperti abu-abu, cokelat, biru, dan oranye. Komposisi ini menciptakan suasana yang mengingatkan pada lanskap alam yang acap berubah atau terhapus oleh waktu.

Garis-garis dan warna yang acap saya sebut sebagai bagian dari ‘bahasa visual’ dalam karya ini,  dapat dianalisis sebagai simbol memori alam yang mulai memudar. Abu-abu mungkin melambangkan transisi atau kehilangan, sementara warna-warna cerah seperti biru dan oranye memberikan harapan atau energi. Karya ini dapat dilihat  sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan alam. Penggunaan tekstur dan bentuk geometris menciptakan dialog antara elemen alam dan interpretasi manusia terhadapnya, terkesan lebih memberikan kedalaman pada karya ini.

Menurut Ardika, lukisannya ini lebih menonjolkan kesepontanan – apakah itu garis,warna,kolase, maupun tekstur – timbul secara spontan dan tidak didasari atas pertimbangan akan hasilnya. Semua blok warna, garis terjadi berdasarkan atas gerak reflek. Ini, kata Ardika, di pengaruhi kecintaan nya pada alam di sekitar apakah gunung, laut, air, batu, pohon dan anasir alam lainnya

Pendekatan kespontanan dalam lukisan seperti Ardika ini menggambarkan koneksi yang autentik antara seniman dan lingkungannya. Proses spontan yang tidak didasari atas pertimbangan hasil menjadi representasi dari ekspresi murni dan intuitif. Blok warna, garis, serta tekstur yang timbul secara refleks memperkuat hubungan emosional antara seniman dan elemen alam yang menginspirasi karya tersebut.

Karya yang lahir dari proses spontan ini menonjolkan keindahan spontanitas pula, menciptakan hasil yang unik dan sulit diulang. Pola-pola tekstur yang timbul dan perpaduan warna yang apik – mencerminkan hubungan organik dengan dunia natural di sekitarnya.

Ardika, Tanah, Mix Media on Canvas

Inspirasi dari alam, menyiratkan harmoni dan kedalaman emosional yang tak terbatas. Interpretasi saya, lukisan ini menjadi penghormatan pada keindahan alam sekaligus seruan untuk mengapresiasi keajaiban yang sering kali terlupakan. Dengan eksplorasi ini, karya Ardika menjadi lebih dari sekadar seni visual, tetapi juga jembatan antara kepekaan terhadap lingkungan dan ekspresi emosional murni.

Pendekatan kespontanan dalam seni seperti ini sering kali mencerminkan kebebasan ekspresi dan koneksi emosional yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Ardika tampaknya membiarkan gerak refleksnya membentuk komposisi tanpa intervensi rasional yang berlebihan, sehingga menghasilkan karya yang lebih intuitif dan alami. Ini juga bisa dilihat sebagai bentuk meditasi visual, di mana setiap sapuan warna dan garis menjadi cerminan dari pengalaman dan perasaan seniman terhadap alam.

Jika kita melihat lebih luas, pendekatan seperti ini memiliki kemiripan dengan beberapa aliran seni abstrak yang menekankan spontanitas dan ekspresi emosional, seperti ekspresionisme abstrak. Seniman seperti Jackson Pollock juga menggunakan teknik spontan dalam penciptaan karya nya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Kalau hendak memakai pendekatan sosiologi dalam menganalisis karya seni, termasuk lukisan Ardika ini – tentunya berfokus pada hubungan antara seni dan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, seni berfungsi sebagai alat komunikasi yang menyampaikan pesan atau emosi dan imajinasi perupanya, kepada masyarakat. Ardika, melalui pendekatan spontan dalam lukisannya, mungkin ingin menyampaikan hubungan emosional dan imajinasinya dengan alam, yang bisa menjadi bentuk komunikasi tentang pentingnya keseimbangan ekologi dan kesadaran lingkungan.

Lukisan Ardika yang menonjolkan spontanitas dapat dilihat sebagai refleksi dari dinamika sosial dan budaya di sekitarnya. Spontanitas dalam seni sering kali mencerminkan kebebasan berekspresi yang berkembang dalam masyarakat tertentu, terutama yang memiliki keterbukaan terhadap eksplorasi artistik.

Kalau hendak memakai pendakatan interaksi simbolik, ini menekankan bagaimana individu dan kelompok memberikan makna terhadap simbol dalam kehidupan sosial. Dalam konteks lukisan Ardika, warna, garis, dan tekstur yang muncul secara refleks dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari elemen alam yang amat dekat dengan dirinya.

Masyarakat yang melihat karya ini mungkin akan memberikan interpretasi yang berbeda berdasarkan pengalaman dan latar belakang mereka masing-masing. Seni sering kali dipengaruhi oleh struktur sosial memang, termasuk kelas sosial, ekonomi, dan budaya. Jika Ardika berasal dari lingkungan yang dekat dengan alam, maka konsennya terhadap elemen alam dalam lukisannya – bisa menjadi representasi berdasar latar belakang sosialnya.

Lebih lanjut, mari kita telisik karya Ardika yang bertajuk “Tanah”. Lukisan Tanah karya Ardika memiliki komposisi yang menarik dengan perpaduan warna-warna dinamis di bagian atas dan nuansa abu-abu yang lebih tenang di bagian bawah. Dengan pendekatan teori bebas, kita bisa melihat karya ini sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan alam, ruang dan semesta yang lebih luas.

Bagian atas yang penuh warna bisa melambangkan kehidupan, energi, atau bahkan konflik, sementara bagian bawah yang lebih redup menciptakan kesan ketenangan atau upaya perenungan. Garis-garis hitam yang muncul di area abu-abu mungkin merepresentasikan batasan atau perubahan dalam lanskap, baik secara fisik maupun metaforis. Permainan cahaya dan lelehan – bisa menjadi simbol peradaban, teknologi, narasi atau bahkan kenangan yang tertutup oleh lapisan abu-abu.

Jika kita melihatnya dari perspektif ekspresionisme, lukisan ini bisa menjadi ekspresi emosional tentang perubahan lingkungan atau perasaan terhadap tanah sebagai elemen fundamental kehidupan. Sementara itu, pendekatan semiotik bisa mengungkap bagaimana setiap elemen visual dalam lukisan ini berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Berkait dengan pendekatan Semiotik, saya jadi tertarik untuk memadankan karya Ardika dengan karya pelukis Cina, Chu Teh-Chun.

Ardika, Jalan Abu-abu, Mix Media on Canvas

Pendekatan semiotik dalam menganalisis karya Chu Teh-Chun dapat mengungkap bagaimana elemen visual dalam lukisannya berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Sebagai seniman yang menggabungkan tradisi seni Tiongkok dengan modernisme Barat, karya-karyanya sering kali mencerminkan dialog antara dua budaya. Meskipun abstrak, beberapa lukisannya memiliki struktur yang menyerupai kaligrafi, yang bisa diartikan sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi dengan ekspresi modern.

Menurut saya,  Chu mengkreasi system tanda dari huruf-huruf (kanji) Cina – untuk menemukan makna yang ingin diekspresikan. Demikian juga dengan Ardika, ia menciptakan karya yang tidak hanya bersifat visual tetapi juga konseptual – di mana setiap elemen dalam lukisannya dapat dianalisis sebagai bagian dari sistem tanda yang membentuk makna

Begitulah analisa saya tentang karya Ardika dengan pendekatan semiotika. Penggunaan warna dalam lukisannya sering kali menciptakan atmosfer emosional yang kuat. Warna-warna yang berbaur tanpa batas bisa melambangkan transisi, dinamika kesemestaan, atau bahkan pencarian identitas. Teknik ekspresifnya mencerminkan energi dan gerakan, yang dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari dinamika kehidupan atau perubahan alam. Sementara itu, ketiadaan bentuk figuratif yang jelas memungkinkan interpretasi yang lebih luas, di mana setiap elemen dalam lukisan dapat menjadi tanda yang membawa makna subjektif bagi penikmat. Ini, juga membuka ruang ‘multi interpretabilitas’ bagi audiensnya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Next Post

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co