2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Hartanto by Hartanto
May 5, 2025
in Ulas Rupa
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Ardika, Jalan Abu-abu, mix media on canvas (croping)

“Jalan Abu2” adalah tajuk lukisan karya Ardika yang dipamerkan pada 18 April hingga 18 Mei di Neka Art Museum, Ubud. Pameran bertajuk “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini menandai 29 tahun Komunitas seni Galang Kangin (KSGK).

Karya Ardika ini merupakan sebuah eksplorasi visual yang menarik, mengangkat tema alam dengan pendekatan abstrak. Ardika, tampaknya berusaha menangkap esensi garis-garis alam yang masih melekat di ingatannya, melalui penggunaan warna-warna seperti abu-abu, cokelat, biru, dan oranye. Komposisi ini menciptakan suasana yang mengingatkan pada lanskap alam yang acap berubah atau terhapus oleh waktu.

Garis-garis dan warna yang acap saya sebut sebagai bagian dari ‘bahasa visual’ dalam karya ini,  dapat dianalisis sebagai simbol memori alam yang mulai memudar. Abu-abu mungkin melambangkan transisi atau kehilangan, sementara warna-warna cerah seperti biru dan oranye memberikan harapan atau energi. Karya ini dapat dilihat  sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan alam. Penggunaan tekstur dan bentuk geometris menciptakan dialog antara elemen alam dan interpretasi manusia terhadapnya, terkesan lebih memberikan kedalaman pada karya ini.

Menurut Ardika, lukisannya ini lebih menonjolkan kesepontanan – apakah itu garis,warna,kolase, maupun tekstur – timbul secara spontan dan tidak didasari atas pertimbangan akan hasilnya. Semua blok warna, garis terjadi berdasarkan atas gerak reflek. Ini, kata Ardika, di pengaruhi kecintaan nya pada alam di sekitar apakah gunung, laut, air, batu, pohon dan anasir alam lainnya

Pendekatan kespontanan dalam lukisan seperti Ardika ini menggambarkan koneksi yang autentik antara seniman dan lingkungannya. Proses spontan yang tidak didasari atas pertimbangan hasil menjadi representasi dari ekspresi murni dan intuitif. Blok warna, garis, serta tekstur yang timbul secara refleks memperkuat hubungan emosional antara seniman dan elemen alam yang menginspirasi karya tersebut.

Karya yang lahir dari proses spontan ini menonjolkan keindahan spontanitas pula, menciptakan hasil yang unik dan sulit diulang. Pola-pola tekstur yang timbul dan perpaduan warna yang apik – mencerminkan hubungan organik dengan dunia natural di sekitarnya.

Ardika, Tanah, Mix Media on Canvas

Inspirasi dari alam, menyiratkan harmoni dan kedalaman emosional yang tak terbatas. Interpretasi saya, lukisan ini menjadi penghormatan pada keindahan alam sekaligus seruan untuk mengapresiasi keajaiban yang sering kali terlupakan. Dengan eksplorasi ini, karya Ardika menjadi lebih dari sekadar seni visual, tetapi juga jembatan antara kepekaan terhadap lingkungan dan ekspresi emosional murni.

Pendekatan kespontanan dalam seni seperti ini sering kali mencerminkan kebebasan ekspresi dan koneksi emosional yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Ardika tampaknya membiarkan gerak refleksnya membentuk komposisi tanpa intervensi rasional yang berlebihan, sehingga menghasilkan karya yang lebih intuitif dan alami. Ini juga bisa dilihat sebagai bentuk meditasi visual, di mana setiap sapuan warna dan garis menjadi cerminan dari pengalaman dan perasaan seniman terhadap alam.

Jika kita melihat lebih luas, pendekatan seperti ini memiliki kemiripan dengan beberapa aliran seni abstrak yang menekankan spontanitas dan ekspresi emosional, seperti ekspresionisme abstrak. Seniman seperti Jackson Pollock juga menggunakan teknik spontan dalam penciptaan karya nya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Kalau hendak memakai pendekatan sosiologi dalam menganalisis karya seni, termasuk lukisan Ardika ini – tentunya berfokus pada hubungan antara seni dan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, seni berfungsi sebagai alat komunikasi yang menyampaikan pesan atau emosi dan imajinasi perupanya, kepada masyarakat. Ardika, melalui pendekatan spontan dalam lukisannya, mungkin ingin menyampaikan hubungan emosional dan imajinasinya dengan alam, yang bisa menjadi bentuk komunikasi tentang pentingnya keseimbangan ekologi dan kesadaran lingkungan.

Lukisan Ardika yang menonjolkan spontanitas dapat dilihat sebagai refleksi dari dinamika sosial dan budaya di sekitarnya. Spontanitas dalam seni sering kali mencerminkan kebebasan berekspresi yang berkembang dalam masyarakat tertentu, terutama yang memiliki keterbukaan terhadap eksplorasi artistik.

Kalau hendak memakai pendakatan interaksi simbolik, ini menekankan bagaimana individu dan kelompok memberikan makna terhadap simbol dalam kehidupan sosial. Dalam konteks lukisan Ardika, warna, garis, dan tekstur yang muncul secara refleks dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari elemen alam yang amat dekat dengan dirinya.

Masyarakat yang melihat karya ini mungkin akan memberikan interpretasi yang berbeda berdasarkan pengalaman dan latar belakang mereka masing-masing. Seni sering kali dipengaruhi oleh struktur sosial memang, termasuk kelas sosial, ekonomi, dan budaya. Jika Ardika berasal dari lingkungan yang dekat dengan alam, maka konsennya terhadap elemen alam dalam lukisannya – bisa menjadi representasi berdasar latar belakang sosialnya.

Lebih lanjut, mari kita telisik karya Ardika yang bertajuk “Tanah”. Lukisan Tanah karya Ardika memiliki komposisi yang menarik dengan perpaduan warna-warna dinamis di bagian atas dan nuansa abu-abu yang lebih tenang di bagian bawah. Dengan pendekatan teori bebas, kita bisa melihat karya ini sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan alam, ruang dan semesta yang lebih luas.

Bagian atas yang penuh warna bisa melambangkan kehidupan, energi, atau bahkan konflik, sementara bagian bawah yang lebih redup menciptakan kesan ketenangan atau upaya perenungan. Garis-garis hitam yang muncul di area abu-abu mungkin merepresentasikan batasan atau perubahan dalam lanskap, baik secara fisik maupun metaforis. Permainan cahaya dan lelehan – bisa menjadi simbol peradaban, teknologi, narasi atau bahkan kenangan yang tertutup oleh lapisan abu-abu.

Jika kita melihatnya dari perspektif ekspresionisme, lukisan ini bisa menjadi ekspresi emosional tentang perubahan lingkungan atau perasaan terhadap tanah sebagai elemen fundamental kehidupan. Sementara itu, pendekatan semiotik bisa mengungkap bagaimana setiap elemen visual dalam lukisan ini berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Berkait dengan pendekatan Semiotik, saya jadi tertarik untuk memadankan karya Ardika dengan karya pelukis Cina, Chu Teh-Chun.

Ardika, Jalan Abu-abu, Mix Media on Canvas

Pendekatan semiotik dalam menganalisis karya Chu Teh-Chun dapat mengungkap bagaimana elemen visual dalam lukisannya berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Sebagai seniman yang menggabungkan tradisi seni Tiongkok dengan modernisme Barat, karya-karyanya sering kali mencerminkan dialog antara dua budaya. Meskipun abstrak, beberapa lukisannya memiliki struktur yang menyerupai kaligrafi, yang bisa diartikan sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi dengan ekspresi modern.

Menurut saya,  Chu mengkreasi system tanda dari huruf-huruf (kanji) Cina – untuk menemukan makna yang ingin diekspresikan. Demikian juga dengan Ardika, ia menciptakan karya yang tidak hanya bersifat visual tetapi juga konseptual – di mana setiap elemen dalam lukisannya dapat dianalisis sebagai bagian dari sistem tanda yang membentuk makna

Begitulah analisa saya tentang karya Ardika dengan pendekatan semiotika. Penggunaan warna dalam lukisannya sering kali menciptakan atmosfer emosional yang kuat. Warna-warna yang berbaur tanpa batas bisa melambangkan transisi, dinamika kesemestaan, atau bahkan pencarian identitas. Teknik ekspresifnya mencerminkan energi dan gerakan, yang dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari dinamika kehidupan atau perubahan alam. Sementara itu, ketiadaan bentuk figuratif yang jelas memungkinkan interpretasi yang lebih luas, di mana setiap elemen dalam lukisan dapat menjadi tanda yang membawa makna subjektif bagi penikmat. Ini, juga membuka ruang ‘multi interpretabilitas’ bagi audiensnya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Next Post

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co