23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 5, 2025
in Kuliner
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Komang Trisna Sari Dewi, penual nasi kuning vegan di Warung Laksmi Singaraja

SINGARAJA selalu punya cerita. Saat Hari Raya Kuningan—yang identik dengan nasi kuning berwadah copok busung untuk dihaturkan dalam banten—saya teringat pada sebuah momen di sudut Kota Singaraja.  Saya teringat nasi kuning vegan yang pernah saya cicipi.

Tersebutlah Jalan Laksamana di wilayah Baktiseraga, Singaraja, Bali utara. Kawasan Jalan Laksamana yang biasa dipadati oleh motor dan suara riuh pedagang, punya daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari sesuatu yang berbeda. Di salah satu sudut jalan itu, ada sebuah warung kecil bernama Warung Laksmi.

Hanya papan nama sederhana itulah yang menandai tempat ini. Tapi di balik kesederhanaannya, Warung Laksmi menyimpan cerita yang menarik untuk dikulik, diceritakan melalui tangan seorang wanita yang penuh semangat bernama Komang Trisna Sari Dewi.

Pelanggan antri di Warung Laksmi di Jalan Laksamana Singaraja | Foto: Arix

Warung Laksmi, saya tahu ini dari teman saya yang pernah menjajakan saya nasi kuning, tapi ini jelas beda. Inspirasi tidak selalu datang dari hal besar. Terkadang, ia muncul dari kebutuhan yang sederhana.

“Yang menginspirasi saya untuk menjual nasi kuning vegan, khususnya di Singaraja, karena di sini belum ada yang menjual nasi kuning vegan untuk sarapan,” ungkap Komang Trisna, yang waktu itu saya tanya karena memang penasaran.

Dari celah kecil inilah, ia menciptakan terobosan nasi kuning vegan yang tidak hanya sehat tetapi juga menggugah selera. Iya juga ya, pikir saya. Selama saya hidup, baru kali ini saya mendengar ada nasi kuning vegan. Atau, memang saya saja yang mainnya kurang jauh?

Semangat Komang Trisna membawa perubahan kecil dengan pesan besar. Dia percaya bahwa makanan bisa menjadi jembatan gaya hidup modern yang sehat.

Saya mencicipi nasi kuning vegan ini tanpa sadar bahwa semua kondimennya benar-benar bebas daging. Rasanya begitu mendekati rasa daging asli hingga saya terkejut saat mengetahui bahan utamanya hanyalah tepung kedelai. Ini adalah bukti betapa seriusnya Ibu Komang dalam menciptakan makanan sehat yang tetap menggugah selera.

Warung Nasi Kuning Laksmi | Foto: Arix

Perlu kita ketahui bersama, dalam dunia kuliner, istilah “vegan” dan “vegetarian” sering kali disalahpahami. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu menghindari konsumsi daging, tetapi veganisme memiliki batasan yang lebih ketat. Seorang vegetarian mungkin masih mengonsumsi produk hewani seperti susu, keju, dan telur, sedangkan seorang vegan sama sekali tidak mengonsumsi produk hewani apa pun, termasuk madu.

Dalam ranah kuliner, seperti yang diterapkan Komang Trisna di Warung Laksmi, makanan vegan murni tidak mengandung bahan-bahan seperti bawang, micin, atau kondimen lain yang sering kali dianggap tidak sesuai dengan prinsip veganisme. 

Menciptakan sesuatu yang berbeda tidak pernah mudah. Komang Trisna menghabiskan waktu berjam-jam belajar, baik dari komunitas vegan maupun dari internet. Namun, dia menyadari bahwa tidak semua orang bersedia berbagi rahasia dapur mereka.

“Resep yang diberikan di website atau dari sesama vegan belum sesuai dengan resep vegan murni. Maka dari itu, saya merubah resepnya dengan resep saya sendiri,” jelasnya.

Di bayangan saya, untuk bisa menjiplak rasa yang sama dengan kondimen yang berbeda, rasanya sangat mustahil. Tapi, itu jadi mungkin oleh Komang Trisna.

Contohnya, untuk membuat ayam suwir ala vegan, ia menggunakan tepung kedelai sebagai bahan utama. Dengan bumbu sederhana seperti cabai dan garam, ia menciptakan lauk yang menyerupai rasa ayam asli. Yang menarik, ia bahkan menghilangkan bawang dan micin dari seluruh masakannya untuk menjaga keaslian makanan vegan.

“Makanan itu harus sederhana, tetapi penuh makna,” kata Komang Trisna waktu itu.

Dia tidak hanya ingin menciptakan makanan sehat, tetapi juga menghadirkan rasa yang akrab di lidah masyarakat Bali. “Banyak yang meminati karena rasa yang saya berikan adalah rasa yang digemari lidah orang Bali,” tambahnya.

Setiap piring nasi kuning vegan di Warung Laksmi adalah perpaduan sempurna, bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita dan dedikasi yang terkandung di dalamnya.

Bagi Komang Trisna, Warung Laksmi adalah lebih dari sekadar tempat mencari nafkah. “Usaha ini tidak sekadar untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga bertujuan untuk memberi tahu masyarakat bahwa masakan vegan bukanlah masakan yang hambar,” tuturnya.

Ia ingin mendobrak stigma bahwa masakan vegan hanya untuk segelintir orang.

Melalui usahanya, Komang Trisna juga menemukan kebahagiaan. “Saya bahagia bisa menjual makanan yang sehat, sekaligus menghidupi keluarga saya,” katanya.

Senyumnya yang setia menyambut pelanggan di pagi hari itu masih saya ingat jelas. Setiap pelanggan yang datang ke warung kecil ini adalah pengingat bahwa apa yang dia lakukan memiliki dampak nyata.

Namun, Komang Trisna tidak berhenti di sini. Dia memiliki impian besar untuk Warung Laksmi. “Harapan saya, pastinya membuat usaha saya semakin dikenal banyak orang dan semakin banyak orang yang peduli dengan kesehatan diri sendiri,” katanya yang setara dengan semangatnya.

Pelanggan antri di Warung Laksmi di Jalan Laksamana Singaraja | Foto: Arix

Warung Laksmi juga berperan dalam mendukung gerakan hidup sehat dan berkelanjutan. Dengan menyajikan makanan bebas bahan pengawet dan zat kimia berbahaya, Dia berharap dapat membantu lebih banyak orang untuk menjalani hidup yang lebih sehat.

Warung kecil di Jalan Laksamana ini adalah bukti bahwa hal besar bisa dimulai dari tempat sederhana. Di balik setiap piring nasi kuning vegan yang disajikan, memang jelas semua butuh perjuangan, inovasi, dan cinta.

Komang Trisna Sari Dewi tidak hanya menjual makanan, Dia menyebarkan harapan dan semangat hidup sehat kepada siapa saja yang berkunjung.

Jika kalian kebetulan melewati Jalan Laksamana di Singaraja, sempatkan diri untuk mampir ke Warung Laksmi. Cicipi nasi kuning ala vegannya, harganya sangat bersahabat sampai-sampai ingin menjadikan besan di pagi hari, dan rasakan bagaimana setiap suapannya. Kalian mungkin akan pulang dengan lebih dari sekadar kenyang, dan isi dompet pun tenang. [T]

enulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: kulinernasi kuningSingarajavegan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cek dan Ricek, Riset Dulu, Baru Bikin Konten

Next Post

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails
Next Post
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co