MENYIMAK pernyataan Luhut Binsar Panjaitan (LBP) usai silaturahmi dengan Presiden ke-7 Joko Widodo saat ditanya oleh para reporter, dia merasa prihatin kepada para “pengamat sosial-politik” dalam memberikan pandanganya atas kinerja pemerintah periode lalu dan saat ini, yang cenderung hanya berdasarkan “perasaan” saja, tidak berdasar pada data dalam analisisnya.
Juga bahasa dan narasinya yang selalu provokatif, dan tidak santun dalam menggunakan bahasa. Kita sebagai bangsa yang besar dan beragam memiliki adat, adab sopan santun. Pemerintah bukan anti kritik, silahkan saja menurut LBP dengan bahasa yang baik dan mengkritik dengan data, bukan dengan cara “memperkeruh”, dan provokasi.
Di era Joko Widodo, tidak sedikit capaian kemajuan negara yang sudah diraih, seperti kepemilikan saham Freeport, pembangunan pelabuhan-pelabuhan, bandara, ruas jalan tol, dan beberapa proyek strategis nasional lainnya. Tetunya tidak semuanya dapat dicapai, seperti Ibu Kota Negara (IKN), dan lainnya, hal ini akan dilanjutkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran.
Program-program pemerintah saat ini yang baru berjalan jangan langsung “ditorpedo” terus-menerus. Pemerintah butuh dukungan persatuan semua elemen bangsa, tidak terus-menerus menghujat pemerintah, baik masa lalu maupun saat ini. Demikian keprihatinan LBP saat disampaikan di halaman rumah Jokowi yang juga turut mendampingi LBP di belakang.
Pernyataan LBP ditafsirkan dengan beragam cara dan sudut pandang, baik mendukung, maupun biasa-biasa saja menyikapinya, atau ada yang merasa terusik karena selama ini dari pihak yang menjadi sasaran kritik tidak pernah ada respons apa pun. Terlebih dari Jokowi, sama sekali tidak merespons, hanya mengatakan biar masa atau waktu yang menjawab, atas hujatan, tuduhan, fitnah, padanya dan keluarga terima, biar waktu dan sejarah yang menjawab.
Saya pribadi ikut mengamini apa yang disampaikan LBP, kalau dalam bahasa agama yang saya anut, para pengamat maupun host studio, sebaiknya melakukan Tabayun terlebih dahulu pada apa yang akan disampaikan atau diprogramkan sebagai tema acaranya.
Apa pun salurannya, baik media mainstream (koran, televisi, radio), maupun media sosial (podcast youtube, facebook, twitter, dll). Menurut saya prinsip-prinsip jurnalistik tetap harus dikedepankan, karena ini menyangkut menyiarkan kabar dan informasi baik suara, cetak, maupun gambar, film video.
Seperti dikatakan Tamim (2003), pekerjaan jurnalistik bukan sekedar tentang fakta, tapi juga menyangkut kebenaran (truth). Itulah sebabnya dalam kode etik Jurnalistik disebutkan ketentuan keharusan seorang wartawan Indonesia untuk meneliti “kebenaran” (truth) suatu berita yang akan diturunkannya. Belum lagi faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan. Adalah fakta misalnya kalau seorang anak diperkosa. Namun demi pertimbangan moral dan perkembangan jiwa anak, foto anak tidak akan dimuat di media massa.
Seperti perihal “kabar bohong” ijazah palsu Presiden ke-7 yang terus “digoreng” sampai sekarang. Bukan Jokowi yang meng-clear-kan, tapi alumni kawan seangkatannya, Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Anehnya isu masa lalu yang menerpa Jokowi terus dikorek oleh para pengamat di media sosial mereka disebut sebagai “penyinyir, pembenci”, karena dimata mereka Jokowi tidak ada benarnya.
Padahal bila kita perhatikan pemberitaan, tayangan media sosial, terkait ramainya masyarakat yang berkunjung ke kediaman Jokowi, hampir setiap hari ratusan warga bersilaturahmi kepada mantan pemimpinnya. Apalagi dalam suasana idul fitri kediaman Jokowi tumpah ruah masyarkat yang mengunjunginya, juga anggota Kabinet Merah Putih, dan para tokoh masyarakat bersilaturahmi. Kota Solo, seolah punya destinasi wisata baru. Ini fakta peristiwa, masyarakat masih mengidolakan meskipun Jokowi sudah tidak menjabat sebagai Presiden. Mungkin ini salah satu simbol, jawaban untuk para pengkritik.
***
Kembali pada prihal cek dan ricek dalam kegiatan penyebar luasan (isi pernyataan) yang dapat dikatakan sebagai kegiatan jurnalistik itu penting, dalam bahasa agama yang saya anut, tabayyun. Aspek ini sebetulnya yang ditegaskan oleh LBP, dalam menyiarkan, menyampaikan opini kita harus tabayyun, cek ricek menggunakan data.
Di akhirat kelak, pertanggungjawaban yang diminta oleh Allah tidak hanya kepada pembuat berita atau konten saja bila hoaks, fitnah, ujaran kebencian. Namun juga kepada siapa yang turut menyebarkannya. Karena hanya dengan modal jempol untuk mengklik “membagikan” atau “meneruskan”, seseorang sudah bisa menjadi kurir informasi.
Alasan pentingnya tabayyun dalam menerima berita adalah untuk menghindari dari kegiatan yang asal membagikan berita palsu. Berita palsu merugikan masyarakat. Masyarakat menjadi was-was ketika ada berita yang menakutkan, padahal belum terbukti kebenarannya. Terkadang orang lebih ingin mempercayai berita palsu daripada mencari fakta-fakta kebenarannya. Bisa saja berita palsu dibuat hanya karena ingin menghancurkan wibawa seseorang atau ingin usaha seseorang gagal.
Bisa jadi media yang memberi informasi mempunyai sifat keberpihakan, atau memang hanya media pencari sensasi, dan tidak prefesional menjalankan proses pekerjaan jurnalistiknya. Misalnya dalam mencari sumber berita, tidak melakukan cek dan ricek keberimbangan informasi, atau malah seolah-olah informasi dari sumber berita “terperaya A-1”, dengan dalih menjaga kerahasian sumber tidak menyebutkan namanya, padahal setelah dikonfirmasi, dan ditelusuri, itu hanya dialog imajiner reporternya saja, alias ngarang cerita. Kerja seperti itu, saat ini banyak dilakukakan oleh insan media.
Berhati-hatilah dalam menyaring informasi yang disebar lewat media karena bisa saja sumbernya tidak jelas. Untuk menguatkan informasi bisa saja menggunakan nama tokoh tertentu. Padahal nama yang tertera bisa saja hanya dibuat-buat atau ada orang yang memaparkan nama tertentu yang sebetulnya tidak pernah memberikan pernyataan.
Kemudian untuk meneliti berita atau informasi yang lebih mendalam adalah dengan melakukan perbandingan berita antara media satu dengan media lainnya. Bisa jadi ada beberapa hal yang berbeda di media lain. Cara-cara tersebut dapat membantu pembaca dalam menerima berita atau informasi sehingga tidak asal menyebar berita ( https://dppai.uii.ac.id/tabayyun-dalam-menerima-berita/).
Era saat ini, saya katakan jauh dari praktik, melakukan tabayyun, untuk sebuah informasi yang dikejar hanya “jempol” subcribe. Tabayyun, check and recheck harus lebih dikedepankan oleh para insan “pemproduksi pesan” dan kata-kata, baik cetak maupun elektronik, penggiat media sosial, dan kita para individu harus lebih hati-hati, lakukan tabayyun ketika kita menerima informasi.
Menutup tulisan ini saya mengutip Al-Quran surat an-Nur [24] ayat 19, “Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” Semoga kita menjadi orang-orang yang tetap istiqomah, sabar dan terhindar dari sasaran fitnah keji. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN





























