4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 8, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

“Diri kita hanyalah setetes air di lautan samudera, kita hanyalah butiran debu dalam angin”. Just a drop of water in an endless sea. All we are is dust in the wind. Lirik lagu Dust in the Wind dari Kerry Livgreen – Kansas.

Kita ibarat debu yang tak akan mampu melawan angin Sang Pencipta. Kita ibarat debu yang selalu terbawa angin. Kita ibarat debu, seolah tak bermakna karena seandainya kita mengisi seluruh hidup kita dengan kebaikan pun, itu sama sekali belum ada apa-apanya dibandingkan kekuasaanNya yang sungguh tak terbatas. Menjadi “seolah” tak bermakna karena sebenarnya kita punya kesempatan untuk menjadi bermakna.

Dust in the wind, all we are is dust in the wind. Kutipan dari lirik  lagu yang ditulis Kerry Livgreen dari group rock Kansas asal Amerika. Ulasan lirik lagu tersebut banyak disampaikan oleh para pendengar lagu itu. Intinya  memberikan pesan simbolik pada kita, bahwa kita hanyalah butiran kecil debu yang diterbangkan angin. Namun demikian, bisa jadi benar-benar menjadi tanpa makna saat kita tidak mengisi waktu kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Setiap detik, setiap menit waktu berlalu. dan semuanya akan kita pertanggungjawabkan nantinya. Untuk setiap menit waktu yang terbuang, bahkan uang kita tak akan mampu membelinya untuk kembali. Semuanya telah berlalu, semuanya telah tercatat di dalam catatanNya  (https://whisnuwees.wordpress.com/2013/10/31/5142877/).

Saat terjadi badai angin (Santa Ana) di kota Los Angles (LA) California yang membakar sebagian besar  kota ini, bahkan api juga merambat ke bukit ikonik Hollywood dan rumah penduduk, hembusan  angin topan mencapai kecepatan hingga 160 km/jam. Kebakaran ini menyebabkan puluhan ribu penduduk LA dievakuasi dari rumah mereka. Kebakaran  hebat ini membakar lebih dari 5.260 hektare dan menghancurkan lebih dari 1.000 bangunan.

Saat badai angin Santa Ana dalam sekejap meluluhlantakkan Los Angeles, California, Amerika Serikat dengan kobaran api, sebagian orang teringat lagu Dust in the Wind. Bagaimana semua yang ada di dunia ini tak ada yang abadi. Kemewahan, kemegahan, kemakmuran bisa lenyap sewaktu-waktu. Manusia hanyalah butiran debu kosmos di alam semesta. Kemewahan LA sirna seketika dengan tiupan angin “Santa Ana”.

Lagu Dust In The Wind menurut para pengulas lagu ini adalah, semacam refleksi, bahwa manusia adalah makhluk tak berdaya, tentunya di hadapan-Nya, di hadapan Allah Sang Penggenggam hidup kita. “All my dreams pass before my eyes, a curiosity” Manusia selalu punya banyak keinginan, rencana dan impian. Namun pada akhirnya kepada-Nya lah segala ketentuan. Ia lah sebaik-baiknya pembuat keputuasan. “Just a drop of water in an endless sea”;  diri kita hanya setetes air di lautan samudera, kita bukan apa apa.

Tak pantas ada jumawa dalam diri kita. “And all your money won’t another minute buy”. Tak bisa kita membeli waktu, menukar satu menit jatah usia kita, walaupun dengan seluruh harta di dunia. “All we do crumbles to the ground though we refuse to see”.Suatu saat semua akan hancur, berterbangan, suatu kondisi yang kita tak sanggup melihatnya. Hari akhir. Alam raya ini akan hancur bagaikan deebu berterbangan (https://nuriska.com/2018/05/21/all-we-are-just-dust-in-the-wind/).

Dust in the Wind-nya Kansas, bila saya sandingkan dengan Sembilan Ayat surat  Az-Zariyat (51) (Angin yang Menerbangkan): “kita manusia hanyalah debu dalam angin, betapa kecilnya kuasa kita sebagai manusia. “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,  sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi. Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,  sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat.”

Lagu ini dirilis Tahun 1977 sebagai bagian dari album Point of Know Return. Lagu ini bukan tentang keputusasaan atau pesimis tentang hidup hingga kita menjadi masa bodoh tidak mau berbuat apa-apa. Justru ini sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa-siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin, tidak perlu ada yang disombongkan. Apa hebatnya kuasa sebutir debu yang melayang-layang.

Jadi teringat juga beberapa tahun yang lalu saat mengikuti kuliah Falasafah Sain dalam program doktor. Sang dosen menampilkan gambar galaksi Bima Sakti alam semesta, tempat di mana planet bumi ada. Kami diminta menunjukkan lokasi matahari, planet-planet, bintang-bintang, dan posisi bumi. Selanjutnya sang dosen meminta kami menunjukkan posisi negeri kita Indonesia, kemudian diminta mencari posisi kampus kami, lalu mencari kelas kami dan mencari diri kita masing-masing.  Dalam galaksi itu, tentunya kami mengatakan sulit menentukan dan mencarinya karena sangat kecil seperti atom.

Sang dosen mengatakan, itulah saya (Prof. Jajah Koswara almarhumah), tak lebih hanya butiran debu dalam angin. Artinya, penegetahuan yang saya miliki hanyalah sebutir debu bila dibadingkan dengan sang Pencipta, kita tidak boleh sombong apa lagi menyombongkan diri, pada siapa pun. Itu yang saya ingat satu makna pertemuan dalam kuliah tersebut. Ya, kita manusia hanyalah debu dalam angin, dalam skala besar alam semesta.

Lagu ini bukan tentang keputusasaan atau pesimis tentang hidup hingga kita menjadi masa bodoh tidak mau berbuat apa-apa. Justru ini sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa-siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin, tidak perlu ada yang disombongkan. Apa hebatnya kuasa sebutir debu yang melayang-layang.

Dalam surah Al-Hijr (15) ayat 22, dijelaskan tentang sifat angin yang mengawinkan hingga terbentuknya hujan. “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.

Karena ada Dia yang berkuasa atas jiwanya, ada  Dia yang berkuasa atas segala kejadian, ada Dia yang berkuasa atas segala urusan. Maka, bila kita bukan apa-apa, sadar sepenuhnya bahwa segala urusan kita ada dalam genggamanNya, maka mendekatlah padaNya, bergantunglah kepadaNya, percayakan hidup kita KepadaNya, yakinlah dengan segala PengaturanNya. Coz All we are is dust in the wind. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Tags: lagumusikrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senderan di Pantai Desa Pengastulan, Mencegah Abrasi, Juga Jadi Tempat Rekreasi dan Olahraga

Next Post

Dharma dalam Momen Waktu Melalui Kreativitas dan Karya | Dari Dharma Santi FPMHD-Unud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Dharma dalam Momen Waktu Melalui Kreativitas dan Karya | Dari Dharma Santi FPMHD-Unud

Dharma dalam Momen Waktu Melalui Kreativitas dan Karya | Dari Dharma Santi FPMHD-Unud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co