2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 3, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

”Satu-satunya tulisan sejati yang muncul selama perang adalah puisi.” Tulisan-tulisan lainnya adalah bom yang meledak di gedung-gedung rumah sakit dan rumah-rumah yang berdebu, sebelum akhirnya roboh dan rata dengan tanah. Itulah tulisan-tulisan yang ditembakkan dari hati yang benci, pikiran yang dirasuki superioritas, dan degup jantung yang haus kekuasaan”. -Ernest Hemingway-

Peraih Hadiah Nobel Sastra Ernest Hemingway (1899-1961) pernah menulis puisi pedih tentang akibat Perang Dunia I. Pada puisi berjudul ”Tahanan” itu, Hemingway menggambarkan kelelahan manusia akibat berpikir untuk saling membenci. Mundur dan berharap telah selesai.

Pada dasarnya semua orang telah menjadi tahanan atas kekejian demi kekejian, yang akhirnya menjadi kesedihan dan kematian. Bahkan penyembuhan yang dilakukan justru menghasilkan perang yang berkepanjangan.

Sastrawan  dan jurnalis ini mengalami luka mendalam akibat perang. Bahkan para serdadu yang kelak ditemuinya tidak mampu menolongnya terbebas dari rasa perih dan ngeri. Salah seorang di antara mereka bernama Eric Dorman-Smith, yang dengan gagah berani mengutip dialog dalam drama Henry IV Bagian Dua karya William Shakespeare.

”…Aku tidak perduli, mati hanya satu kali; kita berutang maut kepada Tuhan…dan biarkanlah hal itu terjadi sesukanya; orang yang mati tahun ini berarti bebas pada tahun depan…,” kata Eric. (www.kompas.id/baca/opini/2023/11/14)

Barangkali penderitaan Hemingway akan jauh lebih dalam, kalau saja ia sempat mendengar ungkapan warga Palestina bernama Ahmed Abu Al-Saba (35). Di tengah-tengah suasana muram dan duka di Rumah Sakit Al-Shifa di kota Gaza, Ahmed berkata lirih, ”Kami menuliskan nama kami di tangan kami dan nama anak-anak kami di lengan mereka. (Itu semua) Agar tubuh kami dapat dikenali jika pesawat pendudukan (Israel) mengebom kami.” (www.kompas.id/baca/opini/2023/11/14).

Mereka tak hanya menulis nama di lengan, kaki, dan tubuh mereka, tetapi juga tempat-tempat di mana mereka bisa berharap kelak ketika bom menghancurkan tubuhnya, mereka bisa segera dikenali. Dan pengenalan atas tubuh yang berkeping-keping akibat kebiadaban perang akan menjadi bagian paling menyedihkan dalam sejarah umat manusia.

Barangkali itulah puisi paling syuhada, puisi yang menderetkan nama-nama orang yang bersiap menjemput kematian dengan perasaan gemuruh. Barangkali juga (seharusnya) hanya puisi yang mampu menusuk ke dalam ingatan para pengebom dengan harapan merasakan rasa sakit yang sama. Sebab, bukankah perang adalah peristiwa saling bunuh untuk memuaskan rasa superioritas satu manusia atas manusia lainnya?

Di  Gaza tengah terjadi pembantaian anak-anak, dan oh.. kaum ibu, ibu kita!!?, penduduk sipil yang tak bersenjata, kaum lemah. Peristiwa di Gaza menurut saya bukan perang antara negara Palestina dan Israel, tetapi adalah Hollocoust niat busuk, orang-orang Yahudi menghilangkan orang Palestina di Gaza sana.

Disebut perang adalah kalau masing-masing pihak bersenjata, apa pun senjatanya bambu runcingkah, golok, klewang, tombak, keris, slepetan dan lain sebagainya, seperti ketika kita menghadapi penjajah Belanda dan Inggris di Surabaya saat mempertahankan kemerdekaan, itu namanya perang. Seheroik apa pun perang tetap perang, suatu hal yang menyedihkan.

Di Gaza sana bukanlah peperangan, tetapi rencana pemusnahan bangsa Palestina. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih jauh peristiwa yang memilukan itu. Melihat dasyatnya penderitaan orang-orang di Gaza sana.  Semoga segera berakhir tragedi di Gaza.

                                              ***

Penulis merasakan penderitaan mereka, melalui syair-syair pilu berbalut nada para seniman, seperti lagu a hard rain’s a-gonna fall (1962), dari Bob Dylan (seorang Yahudi) yang secara simbolik menggambarkan dan mengkomunikasikan penderitaan, kekacaubalauan, kenistaan, kepiluan dan kepedihan peperangan. Lagu yang sampai sekarang masih sering penulis dengarkan dalam berbagai kesempatan.

Syair lagu ini banyak menanyakan dengan nada lirih sesuatu yang menakutkan selalu hadir dalam kedamaian.  Lagu ini mendapatkan penghargaan Nobel pada 2016, bidang sastra setelah 53 tahun dinyanyikan dan disenandungkan oleh banyak penyanyi, satu penggalan syairnya  ” Oh, dari mana saja, anakku  yang bermata biru? Oh, dari mana saja kau, anakku yang manis? Aku tersandung di sisi dua belas gunung berkabut, Aku sudah berjalan dan aku merangkak di enam jalan raya yang bengkok, Aku telah melangkah di tengah tujuh hutan yang menyedihkan, Aku sudah berada di depan selusin lautan mati, Aku sudah sepuluh ribu mil di mulut kuburan,..”

Terus  terang saya tidak akan menyadari apa pun kecuali kebingungan, ketidakpastian, hari-hari gelap, perpecahan, kejahatan demi kejahatan, bencana kemanusiaan dan akan menjadi sebuah ritual pemakaman yang tidak pernah putus.

Satu lirik lagi, sebetulnya masih banyak lirik-lirik berbalut nada kepiluan, lagu Epitaph.  Saya sebut lagu tersebut dalam tulisan ini adalah “Syair untuk sebuah nisan”, bila membaca seluruh lirik lagunya. Sebuah kidung bernada murung ini menempati track ketiga pada album In The Court of Crimson King yang rilis di penghujung 1960-an, salah satu hits milik King Crimson, band progresif rock (Progrock) asal Inggris, kerap masih; sering saya dengarkan di setiap kesempatan luang, dan membekas dalam sanubari penulis.

Greg Lake, salah satu komposer lagu itu yang juga pemain bass merangkap vokalis band tersebut, mengatakan “Epitaph pada intinya adalah lagu yang bertutur tentang kebingungan memandang dunia yang semakin gila.” Lake, dan jutaan pemuda lainnya kala itu adalah generasi yang kecewa. Para pemuda yang tumbuh setelah Perang Dunia II itu, mungkin merasa terpukul, karena konflik ternyata masih saja berkecamuk, terutama di Vietnam. (https://mediaindonesia.com/nusantara/82078/memoar-tentang-surga)

Greg Lake, sang pelantun lagu itu, wafat karena kanker di usianya yang ke-69. Dia pergi di tengah dunia yang masih saja karut-marut. Entah kalimat apa yang bakal tertera di batu nisannya kelak, tetapi tolong tuliskan saja, dengan lantang saat bersenandung, “Confusion will be my Epitaph”.

Kebingungan akan jadi batu nisanku, saat ku merangkak pada jalan yang retak dan rusak. Jika berhasil, kita semua bisa duduk-duduk dan tertawa, tapi aku takut esok aku bakal meratap, ya, aku takut esok aku bakal meratapi impian tentang surgaNya.

Saya tidak bermaksud menganalisis dan menyampaikan bait demi bait isi lagu tersebut, saya hanya ingin menyampaikan sebuah keadaan impian memoar tentang surga hadir, dalam situasi masyarakat banyak yang berkeluh kesah.

Di antara gerbang kuat terjal dan kokohnya nasib, benih waktu kutaburkan dan kusiram, dengan amalanku dan amalan mereka. Siapa yang tahu dan siapa yang diketahui, semuanya tidak ada yang tahu amalan mana yang bakal menemani kita menuju SurgaNya. Karena pengetahuan adalah sahabat yang berbisa dan teman yang mematikan. Ketika tidak  ada yang menata cara dan menetapkan aturan. Nasib seluruh umat manusia, tampaknya ada di tangan orang-orang genius dan gila. Demikian yang dikeluhkan para seniman perihal getirnya perang, Greg Lake dan Bob Dylan.

Ya Allah, kau zat yang Mahakuasa, hancurkanlah, sakitkanlah, sadarkanlah orang-orang berniat memusnahkan saudara kami, ya Allah Kau zat yang Mahakuat, kuatlah saudara kami di Gaza yang tengah berjuang melawan angkara murka, lemahkanlah ya Allah kaum angkara murka itu, karena mereka makhluk Mu juga ya Allah.

Kami membaca dan begitu menghayati firmanMu ya Allah dalam (QS. Al Baqarah, ayat 155), dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan kami pun mendengar seruan NabiMu, ya Allah, “sampaikanlah wahai Nabi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar menghadapi musibah tersebut, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati mereka di dunia dan di akhirat.

Lalu kami pun selalu yakin kepadaMu, ya Allah dengan mengimani firmanMu ya Allah selalu,  berprasangka baik kepada Allah bahwa dalam setiap kesulitan dan permasalahan terdapat kemudahan dan jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 5). Kami yakin pada firman Mu ya Allah, sangat yakin, segerakan pertolonganMu hadir di Gaza. Melalui malaikat-malaikatMu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Karya Sastra dan “Counter Ideology” Peran Perempuan
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
Tags: Bod DylanErnest HemingwaylaguPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

Next Post

Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co