23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 3, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

”Satu-satunya tulisan sejati yang muncul selama perang adalah puisi.” Tulisan-tulisan lainnya adalah bom yang meledak di gedung-gedung rumah sakit dan rumah-rumah yang berdebu, sebelum akhirnya roboh dan rata dengan tanah. Itulah tulisan-tulisan yang ditembakkan dari hati yang benci, pikiran yang dirasuki superioritas, dan degup jantung yang haus kekuasaan”. -Ernest Hemingway-

Peraih Hadiah Nobel Sastra Ernest Hemingway (1899-1961) pernah menulis puisi pedih tentang akibat Perang Dunia I. Pada puisi berjudul ”Tahanan” itu, Hemingway menggambarkan kelelahan manusia akibat berpikir untuk saling membenci. Mundur dan berharap telah selesai.

Pada dasarnya semua orang telah menjadi tahanan atas kekejian demi kekejian, yang akhirnya menjadi kesedihan dan kematian. Bahkan penyembuhan yang dilakukan justru menghasilkan perang yang berkepanjangan.

Sastrawan  dan jurnalis ini mengalami luka mendalam akibat perang. Bahkan para serdadu yang kelak ditemuinya tidak mampu menolongnya terbebas dari rasa perih dan ngeri. Salah seorang di antara mereka bernama Eric Dorman-Smith, yang dengan gagah berani mengutip dialog dalam drama Henry IV Bagian Dua karya William Shakespeare.

”…Aku tidak perduli, mati hanya satu kali; kita berutang maut kepada Tuhan…dan biarkanlah hal itu terjadi sesukanya; orang yang mati tahun ini berarti bebas pada tahun depan…,” kata Eric. (www.kompas.id/baca/opini/2023/11/14)

Barangkali penderitaan Hemingway akan jauh lebih dalam, kalau saja ia sempat mendengar ungkapan warga Palestina bernama Ahmed Abu Al-Saba (35). Di tengah-tengah suasana muram dan duka di Rumah Sakit Al-Shifa di kota Gaza, Ahmed berkata lirih, ”Kami menuliskan nama kami di tangan kami dan nama anak-anak kami di lengan mereka. (Itu semua) Agar tubuh kami dapat dikenali jika pesawat pendudukan (Israel) mengebom kami.” (www.kompas.id/baca/opini/2023/11/14).

Mereka tak hanya menulis nama di lengan, kaki, dan tubuh mereka, tetapi juga tempat-tempat di mana mereka bisa berharap kelak ketika bom menghancurkan tubuhnya, mereka bisa segera dikenali. Dan pengenalan atas tubuh yang berkeping-keping akibat kebiadaban perang akan menjadi bagian paling menyedihkan dalam sejarah umat manusia.

Barangkali itulah puisi paling syuhada, puisi yang menderetkan nama-nama orang yang bersiap menjemput kematian dengan perasaan gemuruh. Barangkali juga (seharusnya) hanya puisi yang mampu menusuk ke dalam ingatan para pengebom dengan harapan merasakan rasa sakit yang sama. Sebab, bukankah perang adalah peristiwa saling bunuh untuk memuaskan rasa superioritas satu manusia atas manusia lainnya?

Di  Gaza tengah terjadi pembantaian anak-anak, dan oh.. kaum ibu, ibu kita!!?, penduduk sipil yang tak bersenjata, kaum lemah. Peristiwa di Gaza menurut saya bukan perang antara negara Palestina dan Israel, tetapi adalah Hollocoust niat busuk, orang-orang Yahudi menghilangkan orang Palestina di Gaza sana.

Disebut perang adalah kalau masing-masing pihak bersenjata, apa pun senjatanya bambu runcingkah, golok, klewang, tombak, keris, slepetan dan lain sebagainya, seperti ketika kita menghadapi penjajah Belanda dan Inggris di Surabaya saat mempertahankan kemerdekaan, itu namanya perang. Seheroik apa pun perang tetap perang, suatu hal yang menyedihkan.

Di Gaza sana bukanlah peperangan, tetapi rencana pemusnahan bangsa Palestina. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih jauh peristiwa yang memilukan itu. Melihat dasyatnya penderitaan orang-orang di Gaza sana.  Semoga segera berakhir tragedi di Gaza.

                                              ***

Penulis merasakan penderitaan mereka, melalui syair-syair pilu berbalut nada para seniman, seperti lagu a hard rain’s a-gonna fall (1962), dari Bob Dylan (seorang Yahudi) yang secara simbolik menggambarkan dan mengkomunikasikan penderitaan, kekacaubalauan, kenistaan, kepiluan dan kepedihan peperangan. Lagu yang sampai sekarang masih sering penulis dengarkan dalam berbagai kesempatan.

Syair lagu ini banyak menanyakan dengan nada lirih sesuatu yang menakutkan selalu hadir dalam kedamaian.  Lagu ini mendapatkan penghargaan Nobel pada 2016, bidang sastra setelah 53 tahun dinyanyikan dan disenandungkan oleh banyak penyanyi, satu penggalan syairnya  ” Oh, dari mana saja, anakku  yang bermata biru? Oh, dari mana saja kau, anakku yang manis? Aku tersandung di sisi dua belas gunung berkabut, Aku sudah berjalan dan aku merangkak di enam jalan raya yang bengkok, Aku telah melangkah di tengah tujuh hutan yang menyedihkan, Aku sudah berada di depan selusin lautan mati, Aku sudah sepuluh ribu mil di mulut kuburan,..”

Terus  terang saya tidak akan menyadari apa pun kecuali kebingungan, ketidakpastian, hari-hari gelap, perpecahan, kejahatan demi kejahatan, bencana kemanusiaan dan akan menjadi sebuah ritual pemakaman yang tidak pernah putus.

Satu lirik lagi, sebetulnya masih banyak lirik-lirik berbalut nada kepiluan, lagu Epitaph.  Saya sebut lagu tersebut dalam tulisan ini adalah “Syair untuk sebuah nisan”, bila membaca seluruh lirik lagunya. Sebuah kidung bernada murung ini menempati track ketiga pada album In The Court of Crimson King yang rilis di penghujung 1960-an, salah satu hits milik King Crimson, band progresif rock (Progrock) asal Inggris, kerap masih; sering saya dengarkan di setiap kesempatan luang, dan membekas dalam sanubari penulis.

Greg Lake, salah satu komposer lagu itu yang juga pemain bass merangkap vokalis band tersebut, mengatakan “Epitaph pada intinya adalah lagu yang bertutur tentang kebingungan memandang dunia yang semakin gila.” Lake, dan jutaan pemuda lainnya kala itu adalah generasi yang kecewa. Para pemuda yang tumbuh setelah Perang Dunia II itu, mungkin merasa terpukul, karena konflik ternyata masih saja berkecamuk, terutama di Vietnam. (https://mediaindonesia.com/nusantara/82078/memoar-tentang-surga)

Greg Lake, sang pelantun lagu itu, wafat karena kanker di usianya yang ke-69. Dia pergi di tengah dunia yang masih saja karut-marut. Entah kalimat apa yang bakal tertera di batu nisannya kelak, tetapi tolong tuliskan saja, dengan lantang saat bersenandung, “Confusion will be my Epitaph”.

Kebingungan akan jadi batu nisanku, saat ku merangkak pada jalan yang retak dan rusak. Jika berhasil, kita semua bisa duduk-duduk dan tertawa, tapi aku takut esok aku bakal meratap, ya, aku takut esok aku bakal meratapi impian tentang surgaNya.

Saya tidak bermaksud menganalisis dan menyampaikan bait demi bait isi lagu tersebut, saya hanya ingin menyampaikan sebuah keadaan impian memoar tentang surga hadir, dalam situasi masyarakat banyak yang berkeluh kesah.

Di antara gerbang kuat terjal dan kokohnya nasib, benih waktu kutaburkan dan kusiram, dengan amalanku dan amalan mereka. Siapa yang tahu dan siapa yang diketahui, semuanya tidak ada yang tahu amalan mana yang bakal menemani kita menuju SurgaNya. Karena pengetahuan adalah sahabat yang berbisa dan teman yang mematikan. Ketika tidak  ada yang menata cara dan menetapkan aturan. Nasib seluruh umat manusia, tampaknya ada di tangan orang-orang genius dan gila. Demikian yang dikeluhkan para seniman perihal getirnya perang, Greg Lake dan Bob Dylan.

Ya Allah, kau zat yang Mahakuasa, hancurkanlah, sakitkanlah, sadarkanlah orang-orang berniat memusnahkan saudara kami, ya Allah Kau zat yang Mahakuat, kuatlah saudara kami di Gaza yang tengah berjuang melawan angkara murka, lemahkanlah ya Allah kaum angkara murka itu, karena mereka makhluk Mu juga ya Allah.

Kami membaca dan begitu menghayati firmanMu ya Allah dalam (QS. Al Baqarah, ayat 155), dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan kami pun mendengar seruan NabiMu, ya Allah, “sampaikanlah wahai Nabi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar menghadapi musibah tersebut, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati mereka di dunia dan di akhirat.

Lalu kami pun selalu yakin kepadaMu, ya Allah dengan mengimani firmanMu ya Allah selalu,  berprasangka baik kepada Allah bahwa dalam setiap kesulitan dan permasalahan terdapat kemudahan dan jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 5). Kami yakin pada firman Mu ya Allah, sangat yakin, segerakan pertolonganMu hadir di Gaza. Melalui malaikat-malaikatMu. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Karya Sastra dan “Counter Ideology” Peran Perempuan
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
Tags: Bod DylanErnest HemingwaylaguPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

Next Post

Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Konten Kreatif Berbahasa Bali Peluang Besar Hasilkan Cuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co