2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 9, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Berapa jalan yang harus disusuri manusia. Sebelum kau bisa menyebutnya manusia?
Berapa laut yang harus dilayari merpati putih. Sebelum dia bisa rebah di atas pasir?
Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan. Sebelum akhirnya dilarang?
Jawabnya, kawan, ada bersama angin.
Berhembus bersama angin. (lirik lagu Blowing in the wind,- Bob Dylan)

Bob Dylan mempertanyakan sebab segenap angkara murka terkesan seolah kodrat alam yang alih-alih dicegah malah dibiarkan untuk selalu terjadi di planet bumi ini. Menurut Jaya Suprana (2018) dalam ulasannya atas lagu ini  pertanyaan Bob Dylan “How many times can a man turn his head. And pretend that he just doesn’t see?“ pada dasarnya merupakan suatu kegelisahan kemanusiaan. Kemelut kegelisahan yang menghantui lubuk sanubari ketika saya terpaksa dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana rumah dan bangunan warga Bukit Duri, atas nama pembangunan digusur secara sempurna melanggar hukum dan hak asasi manusia pada 28 September 2018 lalu.

Penggalan lirik lagu terkenal, Blowing in the Wind‘ dari Bob Dylan di atas sarat makna untuk menjelaskan berbagai dinamika kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan nyata ini. Penulis lagunya kini berusia 83 tahun, bukan orang biasa. Dia ‘raksasa’ di dunia musik, hingga saat ini.

Lagu Blowing in The Wind perdana dirilis pada tahun 1962. Mahakarya perpaduan musik dan puisi Bob Dylan yang 53 tahun kemudian memperoleh anugerah penghargaan Nobel pada tahun 2016. Mempertanyakan penderitaan umat manusia akibat angkara murka, kekerasan, dan penindasan dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia.

Pertanyaan yang sama selayaknya juga menghantui setiap insan manusia yang masih memiliki sisa nurani kemanusiaan; yang terjadi dari masa ke masa, ketika menyaksikan penderitaan warga Kampung Pulo, Pasar Ikan, Sukomulyo, Tulang Bawang, Kulon Progo, Kendeng, Pulau Pasir, Papua, yang digusur atas nama pembangunan. Begitu pun penderitaan warga Rwanda, Kongo, Sudan, Bosnia, Rohingnya, Uighur, Afghanistan, Yaman, Suriah, Irak, Chechnya. Sampai saat ini di Gaza masih terjadi pembantaian, penindasan, penganiayaan, bahkan rencana pembinasaan oleh sesama manusia atas nama ideologi, kepercayaan, kerakusan dan kekuasaan.

Ini yang menjadi kegetiran Bob Dylan dalam lagu tersebut. Seperti pagar laut di Kabupaten Tangerang, pantai utara yang sedang trending topic. Terlepas dari apakah ini salah prosedur atau kelalaian pemerintah, jelas di sana terjadi pelanggaran hak pada masyarakat atas tanah, ladang, sawah, dan laut untuk mencari nafkah, karena pagar sepanjang 30 km membentang di Kecamatan Teluk Naga, Sepatan, Pakuhaji, Mauk, dan Keronjo. Selain lautnya dipagar untuk di kavling-kavling, juga lahan daratnya ”dipaksa” untuk di jual atas nama Proyek Pantai Indah Kapuk (PIK 2).  Perampasan hak asasi manusia terus berlangsung, dengan berbagai modus alasannya.

Tentang lagu Blowing in the wind  Dian Basuki (2019) mengemukakan, bila anda lahir dari generasi yang cukup ”jadul”, barangkali masih ingat kepada lirik yang membuat banyak orang bersenandung atau bersiul sembari memetik gitar:

How many roads must a man walk down
Before you call him a man ?
How many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand ?
Yes, how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned ?
The answer my friend is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind.

Penggalan lagu Blowing in the Wind yang ditulis Bob Dylan pada 1962, dan populer di sini pada 1970-an, lagunya enak dinyanyikan namun liriknya getir.

Bob Dylan memulai perjalanan panjang dengan lagu-lagu folk di tengah masyarakat yang terguncang oleh terjebaknya AS dalam Perang Vietnam. Bersama Joan Baez, Dylan menyanyikan lirik-lirik yang menyuarakan protes kepada perang, menyerukan perdamaian dan kebebasan  (https://www.indonesiana.id/read/94322/nobel-sastra-untuk-penyanyi-bob-dylan )

Andaikan tidak ada penindasan, peperangan, konflik di dunia hanya ada rasa tentram, itu mimpi saya, setiap mendengar lagu ini, air mata langsung meleleh, mungkin cengeng saya tidak bisa untuk menahan air mata ini untuk tidak keluar.

Tidak ada kekerasan di planet bumi ini mungkin hanya angan-angan saja; utopis kata para filsuf. Zaman telah memasuki detik-detik terakhirnya. Konflik, pertikaian dan pertarungan tak kunjung mereda. Apinya berkobar semakin dahsyat dan menjadi-jadi. Jiwa dan darah pun menjadi barang murah yang mudah sekali ditumpahkan.

Perang merupakan salah satu cara yang dipahami oleh beberapa negara dalam menyelesaikan konflik serta masalah yang mereka hadapi dengan negara lain di samping cara diplomasi. Perang dalam arti sempit adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan dan biasanya menggunakan senjata sehingga perang seringkali membawa kerugian bagi para pelakunya.

***

Hati manusia semakin resah. Hidup mereka penuh dengan kegelisahan dan rasa pesimis. Sampai kapan konflik ini akan terus terjadi? Pertanyaan besar orang-orang Palestina, di Gaza sana.                                 

Kapan kegaduhan ini akan berakhir? Rasa aman menjadi barang langka. Sebagian dari mereka yang belum kuat imannya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lebih baik mati daripada melihat kekejian yang tak kunjung habis ini, kata mereka. Tapi mungkinkah menghapus konflik di muka bumi ini? Sementara yang bertarung adalah antar pengikut haq dan batil. Tak hanya itu, para pengikut kebatilan juga saling menyerang. Dan yang paling menyedihkan, para pengikut kebenaran yang sama-sama berucap syahadat juga saling bertikai (https://inilah.com/mozaik/2274387/mungkinkah-mewujudkan-dunia-tanpa-konflik).

 Menurut para filsuf, konflik adalah bagian dari perubahan. Di dunia ini berjalan sistem yang amat teratur dan rapi. Berputarnya bumi, terbitnya matahari dari timur dan tenggelam di barat. Api yang membakar, air yang mengalir, dan segala sesuatu yang berjalan sesuai aturan alam ini disebut Sunnatullah. Konflik adalah termasuk Sunnatullah yang pasti terjadi. Bukan berarti Allah SWT ingin keburukan bagi hamba-Nya, namun konflik ini adalah suatu kelaziman yang harus terjadi.

Tanpa adanya konflik, kehidupan manusia tidak akan berjalan. Contohnya laut dipagar, timbul konflik; dan di dalam konflik ada pergerakan kehidupan. Semuanya jadi geger dan repot, sampai urusan pagar bambu saja, TNI AL harus turun tangan. Pada hal cukup urusan ini selesai di Babinsa Desa, seloroh saya hehehe…, harus orang pusat semuanya yang turun tangan. Konflik membuat semuanya jadi hidup. Mungkin interpretasi saya yang keliru.

 Lalu mungkinkah konflik di dunia ini dihapuskan? Jawabnya seperti dalam penggalan bait lagu blowing in the wind. Sebuah pertanyaan retoris tentang perdamaian, perang, dan kebebasan., “Berapakali kau harus mendongak sebelum kau lihat langit? Berapa telinga yang harus kita punya untuk mendengar tangisan? Berapa banyak lagi kematian di bumi. Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati?. Jawabnya, kawan, bersama angin, Berhembus bersama angin.” [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Selamat Ulang Tahun Bob Dylan: Panjang Umur Seni dan Perlawanan
Belajar Filsafat dari Anak Band Sekaliber Bob Dylan
Tags: Bob Dylanlagulirik lagu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Kebersamaan di Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan | Cerita Hari Suci Saraswati di UPMI Bali

Next Post

Dramaturgi Politik Gas Melon

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Dramaturgi Politik Gas Melon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co