22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramaturgi Politik Gas Melon

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 9, 2025
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

KEBIJAKAN yang melarang pengecer menjual liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg (baca: gas melon) adalah bentuk nyata begitu serampangan tangan kekuasaan menggunakan kewenangannya. Alih-alih memudahkan hidup rakyat, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian ESDM justru merugikan rakyat.

Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM menyebut bahwa kebijakan ini diambil sebagai langkah penataan proses penjualan gas melon. Dirinya juga menambahkan bahwa distribusi subsidi gas melon berpotensi tidak tepat sasaran. Hal ini dikarenakan masyarakat yang seharusnya cukup membayar satu tabung sebesar Rp. 15 ribu, tetapi realitasnya mereka harus merogoh kocek lebih dalam hingga Rp. 25 ribu. Padahal negara sudah mensubsidi per tabung sebesar Rp. 36 ribu, dengan total subsidi per tahun sebesar Rp. 87 triliun.

Akibat dari kebijakan serampangan tersebut, di banyak daerah, antrean masyarakat mengular untuk mendapatkan gas melon. Mirisnya, seorang perempuan paruhbaya meninggal di Pamulang, Tangerang Selatan karena mengantre untuk mendapatkan gas melon[1]. Tidak hanya kerugian materiil saja yang diderita rakyat, tetapi kehilangan nyawa harus ditanggung rakyat atas kelalaian pemerintah dalam pengelolaan kebijakan.

Tidak tepatnya sasaran subsidi gas melon yang terjadi hari ini, semestinya ditindaklanjuti dengan kajian mendalam nan komprehensif serta dilengkapi dengan tinjauan langsung ke lapangan agar dapat menghasilkan regulasi yang dapat menguntungkan rakyat, dan memberi efek jera kepada pemburu rente.

Kini, alih-alih permasalahan dapat tertangani dengan baik, pemerintah justru menambah permasalahan dan penderitaan rakyat—berujung dengan permintaan maaf. Lantas, apakah permintaan maaf secara serta merta menyelesaikan masalah ini?

Dramaturgi Aktor-Aktor Politik

Lakon kepahlawanan kini tengah dimainkan oleh para aktor politik. Pemimpin yang mengerti penderitaan rakyat jadi tema dari lakon ini. Tokohnya jelas, para elit-elit politik yang kini tengah duduk di tampuk kekuasaan. Alurnya pun tampak begitu jelas, munculnya sebuah masalah dan kemudian masalah yang timbul akan diselesaikan oleh pihak yang membuat masalah juga. Dan ending-nya juga terlihat begitu jelas, munculnya satu sosok yang diagungkan sebagai pahlawan.

Melihat realitas saat ini, Bahlil tampak “dikorbankan” untuk menjadi tokoh antagonis—tokoh yang dibenci dan jadi sasaran amuk massa. Banyak caci maki menampar wajahnya kini, bahkan beredar video seorang warga yang mengekspresikan kemarahannya tepat di wajah Bahlil—tentu ini memberikan kepuasan tersendiri bagi warganet yang merasakan kekecewaan serupa.

Di sisi lain, Prabowo sang RI 1 hadir sebagai sosok yang mendengar dan memahami penderitaan rakyat. Dengan kewenangannya, ia menganulir kebijakan yang dibuat oleh pembantunya sendiri di Kabinet Merah Putih. Dan, boom! Gegap gempita pujian ditumpahkan ke arah Prabowo yang dianggap sebagai pahlawan bagi seluruh rakyat di Indonesia. Benarkah demikian?

Drama yang dipertontonkan elit kini sejatinya adalah pembodohan yang dilakukan kekuasaan kepada rakyatnya. Bagaimana mungkin kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak diputuskan secara serampangan tanpa melalui langkah-langkah teknokratis? Apa mungkin para elit secara sembunyi-sembunyi mengambil kebijakan dalam rangka keuntungan sendiri?

Cabut Subsidi Barang

Statement Bahlil yang menyebut bahwa potensi salah sasarannya subsidi di lapangan, menunjukkan bahwa dirinya tidak mengetahui situasi lapangan secara komprehensif. Nyatanya, subsidi negara melalui gas melon dinikmati tidak hanya oleh rakyat miskin, pegawai negeri sipil (PNS), pengusaha, hingga pejabat publik ikut menikmati subsidi dari negara tersebut. Subsidi salah sasaran tidak hanya terjadi pada konsumsi gas melon, BBM bersubsidi seperti pertalite pun sejatinya telah dinikmati oleh kalangan menengah dan menengah atas.

Meski tidak populis, tetapi tampaknya pemerintah harus berani mengambil kebijakan ini dalam upaya meminimalisir distribusi subsidi yang tidak tepat sasaran. Mencabut subsidi barang adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangi persoalan di atas. Kemudian, apakah subsidi negara akan dicabut begitu saja?

Dalam konsep negara kesejahteraan (welfare state), seperti yang dianut oleh Indonesia, negara memiliki kewajiban untuk melindungi kaum yang lemah. Dalam konteks ini, pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Artinya, subsidi adalah salah satu instrumen negara untuk menjalankan kewajibannya. Apabila pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mencabut seluruh subsidi barang, maka subsidi harus dialokasikan kepada subsidi berupa uang.

Penulis coba berikan ilustrasi. Misalnya subsidi negara untuk gas melon sebesar Rp. 36 ribu dicabut, maka harga gas melon di pasaran yang mulanya Rp. 15 ribu (seharusnya) akan menjadi Rp. 51 ribu. Sehingga, hal yang mesti dilakukan pemerintah adalah memberikan subsidi kepada rakyat miskin berupa bantuan langsung tunai (BLT) berdasarkan data rakyat miskin yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS). Rentang waktu pemberian BLT pun harus diputuskan melalui kajian mendalam nan komprehensif.

Langkah tersebut, secara tidak langsung akan menekan subsidi yang terdistribusi secara tidak tepat sasaran. Baik rakyat miskin, maupun mampu pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengakses gas melon tanpa harus merasa ewuh pakewuh lagi. Tetapi, apabila pemerintah enggan untuk mengambil langkah ini, maka satu-satunya yang harus dilakukan adalah perbaikan regulasi dan peningkatan pengawasan terhadap proses distribusi gas melon.

Staf khusus, eselon 1, eselon 2, tenaga ahli, dan instrumen intellectual capital lainnya yang digaji oleh pajak rakyat, semestinya sudah menjadi modal yang cukup untuk merealisasikan langkah-langkah strategis tersebut. Apabila regulasi yang komprehensif dan pengawasan yang ketat terhadap distribusi subsidi tidak juga mampu dihadirkan, apakah jabatan-jabatan yang disebutkan penulis tadi hanya sekadar nongkrong di kantor kementerian?


[1] Baca selengkapnya di https://www.liputan6.com/news/read/5907834/warga-meninggal-usai-antre-lpg-3-kg-kementerian-esdm-minta-maaf diakses pada Kamis, 06 Februari 2025, pukul: 13.42 WIB

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Tags: ekonomigasPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

Next Post

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem:  Festival di Tengah Alam

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co