23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramaturgi Politik Gas Melon

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 9, 2025
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

KEBIJAKAN yang melarang pengecer menjual liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg (baca: gas melon) adalah bentuk nyata begitu serampangan tangan kekuasaan menggunakan kewenangannya. Alih-alih memudahkan hidup rakyat, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian ESDM justru merugikan rakyat.

Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM menyebut bahwa kebijakan ini diambil sebagai langkah penataan proses penjualan gas melon. Dirinya juga menambahkan bahwa distribusi subsidi gas melon berpotensi tidak tepat sasaran. Hal ini dikarenakan masyarakat yang seharusnya cukup membayar satu tabung sebesar Rp. 15 ribu, tetapi realitasnya mereka harus merogoh kocek lebih dalam hingga Rp. 25 ribu. Padahal negara sudah mensubsidi per tabung sebesar Rp. 36 ribu, dengan total subsidi per tahun sebesar Rp. 87 triliun.

Akibat dari kebijakan serampangan tersebut, di banyak daerah, antrean masyarakat mengular untuk mendapatkan gas melon. Mirisnya, seorang perempuan paruhbaya meninggal di Pamulang, Tangerang Selatan karena mengantre untuk mendapatkan gas melon[1]. Tidak hanya kerugian materiil saja yang diderita rakyat, tetapi kehilangan nyawa harus ditanggung rakyat atas kelalaian pemerintah dalam pengelolaan kebijakan.

Tidak tepatnya sasaran subsidi gas melon yang terjadi hari ini, semestinya ditindaklanjuti dengan kajian mendalam nan komprehensif serta dilengkapi dengan tinjauan langsung ke lapangan agar dapat menghasilkan regulasi yang dapat menguntungkan rakyat, dan memberi efek jera kepada pemburu rente.

Kini, alih-alih permasalahan dapat tertangani dengan baik, pemerintah justru menambah permasalahan dan penderitaan rakyat—berujung dengan permintaan maaf. Lantas, apakah permintaan maaf secara serta merta menyelesaikan masalah ini?

Dramaturgi Aktor-Aktor Politik

Lakon kepahlawanan kini tengah dimainkan oleh para aktor politik. Pemimpin yang mengerti penderitaan rakyat jadi tema dari lakon ini. Tokohnya jelas, para elit-elit politik yang kini tengah duduk di tampuk kekuasaan. Alurnya pun tampak begitu jelas, munculnya sebuah masalah dan kemudian masalah yang timbul akan diselesaikan oleh pihak yang membuat masalah juga. Dan ending-nya juga terlihat begitu jelas, munculnya satu sosok yang diagungkan sebagai pahlawan.

Melihat realitas saat ini, Bahlil tampak “dikorbankan” untuk menjadi tokoh antagonis—tokoh yang dibenci dan jadi sasaran amuk massa. Banyak caci maki menampar wajahnya kini, bahkan beredar video seorang warga yang mengekspresikan kemarahannya tepat di wajah Bahlil—tentu ini memberikan kepuasan tersendiri bagi warganet yang merasakan kekecewaan serupa.

Di sisi lain, Prabowo sang RI 1 hadir sebagai sosok yang mendengar dan memahami penderitaan rakyat. Dengan kewenangannya, ia menganulir kebijakan yang dibuat oleh pembantunya sendiri di Kabinet Merah Putih. Dan, boom! Gegap gempita pujian ditumpahkan ke arah Prabowo yang dianggap sebagai pahlawan bagi seluruh rakyat di Indonesia. Benarkah demikian?

Drama yang dipertontonkan elit kini sejatinya adalah pembodohan yang dilakukan kekuasaan kepada rakyatnya. Bagaimana mungkin kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak diputuskan secara serampangan tanpa melalui langkah-langkah teknokratis? Apa mungkin para elit secara sembunyi-sembunyi mengambil kebijakan dalam rangka keuntungan sendiri?

Cabut Subsidi Barang

Statement Bahlil yang menyebut bahwa potensi salah sasarannya subsidi di lapangan, menunjukkan bahwa dirinya tidak mengetahui situasi lapangan secara komprehensif. Nyatanya, subsidi negara melalui gas melon dinikmati tidak hanya oleh rakyat miskin, pegawai negeri sipil (PNS), pengusaha, hingga pejabat publik ikut menikmati subsidi dari negara tersebut. Subsidi salah sasaran tidak hanya terjadi pada konsumsi gas melon, BBM bersubsidi seperti pertalite pun sejatinya telah dinikmati oleh kalangan menengah dan menengah atas.

Meski tidak populis, tetapi tampaknya pemerintah harus berani mengambil kebijakan ini dalam upaya meminimalisir distribusi subsidi yang tidak tepat sasaran. Mencabut subsidi barang adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangi persoalan di atas. Kemudian, apakah subsidi negara akan dicabut begitu saja?

Dalam konsep negara kesejahteraan (welfare state), seperti yang dianut oleh Indonesia, negara memiliki kewajiban untuk melindungi kaum yang lemah. Dalam konteks ini, pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Artinya, subsidi adalah salah satu instrumen negara untuk menjalankan kewajibannya. Apabila pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mencabut seluruh subsidi barang, maka subsidi harus dialokasikan kepada subsidi berupa uang.

Penulis coba berikan ilustrasi. Misalnya subsidi negara untuk gas melon sebesar Rp. 36 ribu dicabut, maka harga gas melon di pasaran yang mulanya Rp. 15 ribu (seharusnya) akan menjadi Rp. 51 ribu. Sehingga, hal yang mesti dilakukan pemerintah adalah memberikan subsidi kepada rakyat miskin berupa bantuan langsung tunai (BLT) berdasarkan data rakyat miskin yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS). Rentang waktu pemberian BLT pun harus diputuskan melalui kajian mendalam nan komprehensif.

Langkah tersebut, secara tidak langsung akan menekan subsidi yang terdistribusi secara tidak tepat sasaran. Baik rakyat miskin, maupun mampu pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengakses gas melon tanpa harus merasa ewuh pakewuh lagi. Tetapi, apabila pemerintah enggan untuk mengambil langkah ini, maka satu-satunya yang harus dilakukan adalah perbaikan regulasi dan peningkatan pengawasan terhadap proses distribusi gas melon.

Staf khusus, eselon 1, eselon 2, tenaga ahli, dan instrumen intellectual capital lainnya yang digaji oleh pajak rakyat, semestinya sudah menjadi modal yang cukup untuk merealisasikan langkah-langkah strategis tersebut. Apabila regulasi yang komprehensif dan pengawasan yang ketat terhadap distribusi subsidi tidak juga mampu dihadirkan, apakah jabatan-jabatan yang disebutkan penulis tadi hanya sekadar nongkrong di kantor kementerian?


[1] Baca selengkapnya di https://www.liputan6.com/news/read/5907834/warga-meninggal-usai-antre-lpg-3-kg-kementerian-esdm-minta-maaf diakses pada Kamis, 06 Februari 2025, pukul: 13.42 WIB

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Tags: ekonomigasPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

Next Post

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem:  Festival di Tengah Alam

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co