2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramaturgi Politik Gas Melon

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 9, 2025
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

KEBIJAKAN yang melarang pengecer menjual liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg (baca: gas melon) adalah bentuk nyata begitu serampangan tangan kekuasaan menggunakan kewenangannya. Alih-alih memudahkan hidup rakyat, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian ESDM justru merugikan rakyat.

Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM menyebut bahwa kebijakan ini diambil sebagai langkah penataan proses penjualan gas melon. Dirinya juga menambahkan bahwa distribusi subsidi gas melon berpotensi tidak tepat sasaran. Hal ini dikarenakan masyarakat yang seharusnya cukup membayar satu tabung sebesar Rp. 15 ribu, tetapi realitasnya mereka harus merogoh kocek lebih dalam hingga Rp. 25 ribu. Padahal negara sudah mensubsidi per tabung sebesar Rp. 36 ribu, dengan total subsidi per tahun sebesar Rp. 87 triliun.

Akibat dari kebijakan serampangan tersebut, di banyak daerah, antrean masyarakat mengular untuk mendapatkan gas melon. Mirisnya, seorang perempuan paruhbaya meninggal di Pamulang, Tangerang Selatan karena mengantre untuk mendapatkan gas melon[1]. Tidak hanya kerugian materiil saja yang diderita rakyat, tetapi kehilangan nyawa harus ditanggung rakyat atas kelalaian pemerintah dalam pengelolaan kebijakan.

Tidak tepatnya sasaran subsidi gas melon yang terjadi hari ini, semestinya ditindaklanjuti dengan kajian mendalam nan komprehensif serta dilengkapi dengan tinjauan langsung ke lapangan agar dapat menghasilkan regulasi yang dapat menguntungkan rakyat, dan memberi efek jera kepada pemburu rente.

Kini, alih-alih permasalahan dapat tertangani dengan baik, pemerintah justru menambah permasalahan dan penderitaan rakyat—berujung dengan permintaan maaf. Lantas, apakah permintaan maaf secara serta merta menyelesaikan masalah ini?

Dramaturgi Aktor-Aktor Politik

Lakon kepahlawanan kini tengah dimainkan oleh para aktor politik. Pemimpin yang mengerti penderitaan rakyat jadi tema dari lakon ini. Tokohnya jelas, para elit-elit politik yang kini tengah duduk di tampuk kekuasaan. Alurnya pun tampak begitu jelas, munculnya sebuah masalah dan kemudian masalah yang timbul akan diselesaikan oleh pihak yang membuat masalah juga. Dan ending-nya juga terlihat begitu jelas, munculnya satu sosok yang diagungkan sebagai pahlawan.

Melihat realitas saat ini, Bahlil tampak “dikorbankan” untuk menjadi tokoh antagonis—tokoh yang dibenci dan jadi sasaran amuk massa. Banyak caci maki menampar wajahnya kini, bahkan beredar video seorang warga yang mengekspresikan kemarahannya tepat di wajah Bahlil—tentu ini memberikan kepuasan tersendiri bagi warganet yang merasakan kekecewaan serupa.

Di sisi lain, Prabowo sang RI 1 hadir sebagai sosok yang mendengar dan memahami penderitaan rakyat. Dengan kewenangannya, ia menganulir kebijakan yang dibuat oleh pembantunya sendiri di Kabinet Merah Putih. Dan, boom! Gegap gempita pujian ditumpahkan ke arah Prabowo yang dianggap sebagai pahlawan bagi seluruh rakyat di Indonesia. Benarkah demikian?

Drama yang dipertontonkan elit kini sejatinya adalah pembodohan yang dilakukan kekuasaan kepada rakyatnya. Bagaimana mungkin kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak diputuskan secara serampangan tanpa melalui langkah-langkah teknokratis? Apa mungkin para elit secara sembunyi-sembunyi mengambil kebijakan dalam rangka keuntungan sendiri?

Cabut Subsidi Barang

Statement Bahlil yang menyebut bahwa potensi salah sasarannya subsidi di lapangan, menunjukkan bahwa dirinya tidak mengetahui situasi lapangan secara komprehensif. Nyatanya, subsidi negara melalui gas melon dinikmati tidak hanya oleh rakyat miskin, pegawai negeri sipil (PNS), pengusaha, hingga pejabat publik ikut menikmati subsidi dari negara tersebut. Subsidi salah sasaran tidak hanya terjadi pada konsumsi gas melon, BBM bersubsidi seperti pertalite pun sejatinya telah dinikmati oleh kalangan menengah dan menengah atas.

Meski tidak populis, tetapi tampaknya pemerintah harus berani mengambil kebijakan ini dalam upaya meminimalisir distribusi subsidi yang tidak tepat sasaran. Mencabut subsidi barang adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangi persoalan di atas. Kemudian, apakah subsidi negara akan dicabut begitu saja?

Dalam konsep negara kesejahteraan (welfare state), seperti yang dianut oleh Indonesia, negara memiliki kewajiban untuk melindungi kaum yang lemah. Dalam konteks ini, pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Artinya, subsidi adalah salah satu instrumen negara untuk menjalankan kewajibannya. Apabila pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mencabut seluruh subsidi barang, maka subsidi harus dialokasikan kepada subsidi berupa uang.

Penulis coba berikan ilustrasi. Misalnya subsidi negara untuk gas melon sebesar Rp. 36 ribu dicabut, maka harga gas melon di pasaran yang mulanya Rp. 15 ribu (seharusnya) akan menjadi Rp. 51 ribu. Sehingga, hal yang mesti dilakukan pemerintah adalah memberikan subsidi kepada rakyat miskin berupa bantuan langsung tunai (BLT) berdasarkan data rakyat miskin yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS). Rentang waktu pemberian BLT pun harus diputuskan melalui kajian mendalam nan komprehensif.

Langkah tersebut, secara tidak langsung akan menekan subsidi yang terdistribusi secara tidak tepat sasaran. Baik rakyat miskin, maupun mampu pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengakses gas melon tanpa harus merasa ewuh pakewuh lagi. Tetapi, apabila pemerintah enggan untuk mengambil langkah ini, maka satu-satunya yang harus dilakukan adalah perbaikan regulasi dan peningkatan pengawasan terhadap proses distribusi gas melon.

Staf khusus, eselon 1, eselon 2, tenaga ahli, dan instrumen intellectual capital lainnya yang digaji oleh pajak rakyat, semestinya sudah menjadi modal yang cukup untuk merealisasikan langkah-langkah strategis tersebut. Apabila regulasi yang komprehensif dan pengawasan yang ketat terhadap distribusi subsidi tidak juga mampu dihadirkan, apakah jabatan-jabatan yang disebutkan penulis tadi hanya sekadar nongkrong di kantor kementerian?


[1] Baca selengkapnya di https://www.liputan6.com/news/read/5907834/warga-meninggal-usai-antre-lpg-3-kg-kementerian-esdm-minta-maaf diakses pada Kamis, 06 Februari 2025, pukul: 13.42 WIB

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Tags: ekonomigasPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

Next Post

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem:  Festival di Tengah Alam

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co