24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Tatang B.Sp by Tatang B.Sp
May 5, 2025
in Ulas Rupa
“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

“Oryzamorgana” karya Ketut Putrayasa yang dipamerkan pada Pesta Panen Padi "Maa Ledungga" di Gorontalo

PADA pameran seni rupa bertema Suaka yang dihelat Huntu Art Distrik Gorontalo, I  Ketut Putrayasa menampilkan karya seni instalasi dengan judul Oryzamorgana.

Judul ini merupakan gabungan arbitrer dari kata “oryza” dan “fatamorgana”. Istilah yang pertama merujuk taksonomi pada genus tanaman padi dengan nama species oryza sativa. Sedangkan istilah kedua merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang tampak nyata namun dalam faktanya hanya ilusi belaka.

Ide dasar karyanya merujuk pada kenyataan lapuk sebuah negeri yang di masa lampaunya diasuh oleh kejayaan kultur agraris, tapi di masa kini kultur itu susut sebagai ruang yang tersisa dalam modernitas. Juga masa yang belum lama, yakni ketika pertanian dielu-elukan sebagai sektor andalan dan menjadi bagian integral agenda pembangunan, tapi nyatanya tak selalu mulus dalam perjalanan.

Di Tengah Pesta Panen

Oryzamorgana karya Putrayasa ini tentu saja menjadi sangat penting karena ia bisa memberi penonjolan makna pada pameran seni rupa di Gorontalo itu. Pameran itu sendiri adalah bagian dari acara Pesta Panen Padi “Maa Ledungga”.

“Maa Ledungga” berarti “sudah datang” atau “telah tiba” dalam bahasa Gorontalo.  Artinya lagi, pesta ini bisa dikata sebagai seruan untuk merayakan datangnya musim panen yang selalu dinantikan oleh para petani.  

Tahun 2025 ini, Pesta Panen Padi “Maa Ledungga” mengambil tema Suaka sebagai refleksi atas persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang semakin kompleks. Di tengah Pesta Panen Padi Maa Ledungga inilah digelar pameran seni rupa yang dibuka  akhir April lalu. Pameran diselenggarakan di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Pameran diikuti sekitar 30 seniman, baik seniman lokal maupun seniman yang berasal dari dari luar Gorontalo. Salah satunya, dari Bali, adalah seniman Ketut Putrayasa dengan karya yang berjudul  Oryzamorgana.

Oryzamorgana, sekali lagi, memberi penonjolan makna pada pameran seni rupa di Gorontalo itu. Tentu karena karya itu bicara soal dunia agraris, sekaligus  mengajak kita untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan alam, dengan sesama makhluk hidup, dan dengan kehidupan secara lebih adil dan berkelanjutan.

Representasi Konflik Psikologis

Oryzamorgana membawa kita memasuki suasana cekam, tumbuh liar dari sesuatu yang ganjil; sebuah chaos visual hadir di depan kita sebagai cerminan retak-pecahnya kenyataan yang tak dikendaki. Setidaknya, bisa dikatakan bahwa refleksi atas karya seni instalasi ini bertumpu pada representasi konflik psikologis dalam hubungannya dengan dinamika sosial.

Kurang lebih, itulah pembuka jalan bagi kita untuk mencerap dan menerka-nerka karya Putrayasa.

“Ketercekaman visual” adalah kualias paling menonjol pada kebanyakan karya seni instalasi garapan Putrayasa. Yang secara relatif mampu membongkar dan mengganggu emosi kita. Tak aneh bila yang ditekankan adalah kekuatan yang tak bersahabat, dibentuk oleh apa yang berbeda, tak sesuai, bahkan menyempal dari lazim.

“Oryzamorgana” karya Ketut Putrayasa yang dipamerkan pada Pesta Panen Padi “Maa Ledungga” di Gorontalo

Metafora visual yang sarat kengerian pada karya Putrayasa terkesan begitu kuat, bahkan melampaui sejenis verbalisme. Di hadapannya, seakan kita disergap suasana visual looming syndrome yang terjadi saat seseorang mengalami nyeri atau ketidaknyamanan saat melihat atau membayangkan objek tajam.

Karya seni instalasi ini menempatkan suasana konflik psikologi sedemikian penting, hingga yang disambut bukanlah kenyamanan yang permanen tapi meladeni letupan perasaan yang dibiarkan bebas-lepas tanpa kendali. Bukan perasaan tenteram yang tampil sebagaimana kita berada di sebuah arena lengang, datar dan ajeg tapi tegangan yang muncul setiap kali di tempat yang sempit, terjal dan goyah. Membangkitkan semua anarkhi sensasi yang mengoyak suasana hati tenang. Kecenderungan untuk tidak bermolek-molek, menjadikan karya seniman asal Bali ini menggugah emosi, tentu di samping intelek kita. Begitulah kesan umum yang dapat saya tangkap.

Di hadapan kita, gabah dengan berat hampir satu ton dibungkus kantong-kantong plastik tembus pandang. Plastik transparan menyiratkan selubung, tempat di mana enigma dihidupkan. Isinya bisa dilihat tapi keutuhan eksistensinya tak bisa dicapai seluruh, dibiarkan sebagai teka-teki. Terdapat sebuah kecenderungan yang mirip dengan tendensi untuk bersembunyi. Diantara bayangan dan sugesti, kita merasa bertemu dengan sesuatu  yang tak jelas benar apa yang ada di dalamnya.

Tapi anehnya, orang menyepakati kebenarannya dan menaruh harapan padanya. Sebuah citra yang seakan bukan bayangan, meski kita tahu tak bakal dapat menjangkaunya. Sulit dibedakan antara yang faktual dan yang fiktif. Hal itu mengingatkan kita pada tipuan fatamorgana; seakan hadir nyata meski sesungguhnya tak pernah ada.

Mungkin itu sebabnya di tengah sengkarut peristiwa politik lazim hari-hari ini, tidaklah berlebihan mengatakan bahwa komunikasi hanya menopengi hegemoni, jargon tak lebih segi lain dari dominasi arti. Produksi citra yang dikemas lewat serangkaian dalih pemerintah tentang mapannya ketahanan pangan nasional, hanya berarti kelabuh penyempurna ilusi fatamorgana belaka agar kenyataan kontras bisa tersembunyi. Itulah realitas gadungan yang dibangun dari polesan, oleh kemasan.

Kita mengingat, betapa terlalu sering pemerintah menyatakan stok beras nasional dianggap mencukupi, namun fakta menunjukkan bahwa data impor beras menggambarkan tren yang bertolak belakang: Indonesia tetap impor beras dalam jumlah besar. Atau juga, tak jarang pemerintah mengklaim surplus beras sebagai penanda keberhasilan swasembada pangan, tapi toh Bank Dunia merilis harga beras di Indonesia lebih mahal 20 persen ketimbang harga di pasaran global, bahkan tertinggi di ASEAN.

Ada pun dalam politik citra, ilusi-ilusi diciptakan untuk menampilkan gambaran yang bagus dan juga yang buruk. Yang menyenangkan akan mengambil citra yang baik, yang tak disenangi akan memilih citra yang menista. Pada yang baik akan digelembungkan, yang buruk selalu dikempeskan. Maka lihatlah, bukanlah sejenis improvisasi visual jika pada masing-masing kantong plastik ini diikat sedemikian erat dengan tali berwarna merah. Tentulah bukan, karena pilihan material berupa tali merah itu dikreasi sebagai sesuatu yang disadari melalui pemikiran.

Di samping itu, pengorganisasian tiap material mempertimbangkan sebuah kaidah yakni tiap bagian berkait dengan bagian lain sebagai keutuhan yang mengandung makna. Dalam arti ini, tali hadir bukan sekedar aksen visual semata tapi terhubung sejenis ketidakwajaran. Ikatannya membentuk gelembung di satu bagian dan pengempesan di bagian lain. Seakan ada yang sengaja dibikin surplus dan ada yang dipaksa defisit.

Maka, beras tak pernah semata-mata satu hal, ia bertaut dengan tubuh kekuasaan dan tubuh sosial. Merupakan medan tikai; gelanggang rebut kepentingan antara keduanya. Dengan berbagai narasi konotatif yang berlapis-lapis akan melahirkan ilusi. Dengan keajaibannya, ilusi bisa menyusup pada isu pertanian apa saja: ekspor, impor, surplus, swasembada, kekeringan, banjir, kelangkaan pupuk, gagal panen, dan lain sebagainya.

“Oryzamorgana” karya Ketut Putrayasa yang dipamerkan pada Pesta Panen Padi “Maa Ledungga” di Gorontalo

Yang menarik, karya seni instalasi dipajang di gudang penyimpan beras, yang tentu jauh dari kesan bersih dan rapi selayaknya ruang pajang galeri. Kenyataan ini membuat kita merasa berada dalam kesederhanaan ruang marginal di berbagai kampung sudut kota atau wilayah desa tertinggal. Sebuah area yang dilindas percepatan modernisasi. Yakni tempat hidup bagi kaum pinggiran yang secara sosial diberi atribut: minoritas dan rentan. Adalah mereka yang mengalami kesulitan dalam mengakses berbagai sumber daya yang disebabkan kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi. Di tengah berbagai diskriminasi, kaum ini sering disingkirkan atas nama pembangunan.

Jangankan melambungkan harapan dan mimpi, komplain atas apa yang dialami keseharian pun berat rasanya. Sebuah potret khas kaum speechless, yang hidup bersama pilihan serba terbatas. Dalam situasi demikian, Putrayasa menampilkan berkantong-kantong gabah yang dipajang beronggok-onggok. Tampaknya ia hendak mengatakan bahwa tumpukan gabah adalah juga tumpukan nasib puluhan juta orang miskin yang kesulitan pangan, bersama  problem stunting sebagai ekornya.

Lalu yang juga kita saksikan, pada kantong-kantong plastik ini menancap ratusan bilah bambu tajam. Menyiratkan tentang ingatan luka, datangnya dari kenyataan Indonesia yang ironis. Sebuah lupa diri menghadapi kenyataan lain bahwa negeri agraris ini tak lagi dihidupi limpah-ruah beras. Menderita selama puluhan tahun karena hidup dikungkung ilusi agrikultur di satu sisi dan kenyataan buruk ketahanan pangan nasional di sisi lain (bahkan, di tahun 2023 Indonesia menduduki peringkat ke-69 dari 113 negara dalam Indeks Ketahanan Pangan Global). Misery menahun karena terus-terusan dibuai romantisasi negara agraris, sementara salah urus tata kelola pertanian terus terjadi. Risikonya, di masa depan Indonesia berada dalam ancaman rawan pangan.

Sementara itu, hal lain yang tampak adalah pasir bertebar melingkar, mengelilingi tumpukan kantong-kantong plastik. Bukankah fatamorgana akan menipu penglihatan, terutama saat kita berada di padang pasir? Oryzamorgana, dengan demikian, adalah situs ingatan yang disekap dalam ruang ilusi fatamorgana sebagaimana kelebat mimpi antah-berantah, mungkin indah tapi tidak pada kenyataannya.

Yang Keseharian Dijadikan Bermakna

Kita mengerti, karya Putrayasa merupakan sejenis karya seni yang berupaya meloloskan diri dari perangkap eksklusifisme dengan cara merengkuh kembali apa yang keseharian. Benda-benda keseharian memang bisa menyelamatkan kita dari dunia pengap karena kepungan berbagai ide monumental, berbagai gagasan abstrak dan berbagai metafisika yang membuat kita berjarak dari kehidupan konkret. Membantu kelayakan tubuh kita untuk lebih peka di tengah seliweran peristiwa yang datang silih berganti dan tumpang tindih. Tubuh merupakan indikator akan kekonkretan. Ia adalah instrumen yang paling peka untuk mengecek kenyataan, bukan?

Meski begitu, yang keseharian dipresentasikan dan dimaknai dengan cara berbeda. Padi yang merupakan benda keseharian tak lagi berada dalam pengertian pragmatisnya, tapi menjelma menjadi gelanggang percaturan berbagai makna. Dengan itu kita beroleh efek segregasi atau pengasingan yakni bolak-balik antara peristiwa seni dan kehidupan sehari-hari, keduanya saling melakukan subversi. Pada saat tertentu, apa yang subversi itu berpotensi memperkaya khazanah hidup kita, mengangkatnya setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

Oryzamorgana bukanlah sejenis  perayaan pesimisme dan kehendak patah arang. Tapi sebagai upaya terlibat dalam  pemaknaan kritis atas gejala dan praktik sosial yang dianggap menyebal dan berlangsung di sekitar kita. Sebuah kontradiksi yang tak selesai dalam sejarah panjang agrikultur kita. Dengan kata lain, isu pangan, utamanya beras, rupanya menjadi persoalan laten sepanjang  rezim kekuasaan mana pun.

Dalam konteks semacam itulah Putrayasa melakukan interupsi, bahkan juga ditujukan pada masa kini, masa ketika elan pertanian mulai diteguhkan kembali lewat keseriusan kebijakan pemerintah. Paling tidak, karya Putrayasa tampil sebagai pengingat tentang kemauan bertarung melawan kegagalan masa lampau dan kesanggupan tak mengulang kesekian kalinya di masa kini dan kelak.

Antara harapan dan kenyataan tak boleh saling menjauh, itulah barangkali yang hendak disampaikan sang seniman. Maka, Oryzamorgana menawarkan daya hidup demi kewarasan: merawat harapan sembari tetap mawas pada kenyataan. Memang, kewarasan kadangkala hadir dari jurusan lain, bukan dengan cara yang bermanis-manis tapi bisa juga datang melalui tusukan pedih membekas. [T]

Penulis: Tatang B.Sp.
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 
Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: agrarisGorontaloKetut PutrayasapadiPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Next Post

Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah, Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya

Tatang B.Sp

Tatang B.Sp

Perupa, tinggal di Denpasar, Bali.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah,  Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya

Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah, Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co