2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   

I Wayan Westa by I Wayan Westa
December 30, 2024
in Esai
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   

Karya seni instalasi Ketut Putrayasa | Foto: Ist

//Sebagian besar planet kita masih didominasi para tiran, dan bahkan di negara-negara yang paling liberal pun masih banyak warga yang menderita kemiskinan, kekerasan dan penindasan.// — [Yuval Noah Harari]

Sampai detik ini, Albert Einstein, ilmuwan keturunan Yahudi itu tetaplah fisikawan terbesar dunia. Temuannya tentang teori Relativitas   tak tergoyahkan  membuat dunia fisika kian terbuka  serta pemahaman perihal alam semesta makin meluas. Ia menandatangani surat termasyur kepada  Franklin Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32, membujuk agar AS menanggapi  gagasan bom atom itu dengan serius.

Apa yang terjadi kemudian?

Nun delapan puluh tahun silam, tepat pukul 08.15 waktu Jepang, 6 Agustus 1945, bom atom dijatuhkan di Hiroshima.  Wartawan John Hersey menulis tragedi ini begitu mengiris,  karyanya menjulang sebagai jurnalisme sastra termegah di abad ke-20, masterpiece pemenang Pulitzer Prize.

Hiroshima rata jadi tanah, membuat dunia menggigil. Amerika dikutuk  dunia. Peraih nobel fisika ini tepakur dengan perasaan bersalah. Ia muak dengan pembuangan sia-sia nyawa manusia, lalu melibatkan diri dalam demonstrasi antiperang.

Namun perihal perang dan kekerasan dunia tak cuma berkecamuk  dari zaman bom atom diciptakan,  jauh sebelum suku-suku di bumi hidup  nomaden, perang  telah menjadi  warisan paling mengiris  penduduk bumi. Untuk tak dianggap berlebihan, peradaban dunia pun  terbangun dari sisa-sisa konflik dan perang. Kekerasan menimpa dunia jauh sebelum manusia disebut beradab. Kian hari peralatan perang  makin canggih. Ancaman nuklir , senjata biologis pemusnah massal tak terelakkan.

Itulah kenapa “manusia awatar” sekelas Krisna, Gotama, Yesus, Dalai Lama  serta guru-guru dunia lainnya; hadir  demi misi perdamain dunia. Toh ribuan orang suci yang pernah singgah di bumi, tak juga sanggup menghentikan perang. Kekerasan berlanjut hingga detik ini,  tak ubahnya kutukan; manusia hidup dalam tegangan perang dan damai, sebagaimana kisah novel pengarang Rusia, Leo Tolstoy.

Tidak juga di abad modern, kekerasan tak cuma hadir di medan perang—kekerasan  juga muncul dalam beragam bentuk, dalam aneka problem hidup kian luas. Kekerasan kini tidak cuma ditembakkan  dari moncong-moncong bayonet dan bedil. Kekerasan verbal, kekerasan psikologis, kekerasan seks, bahkan kekerasan regulasi negara. Pajak yang  tinggi, pemerintahan totaliter adalah wujud dari kekerasan  itu.

Namun di tengah-tengah dehumanisasi itu, di tengah-tengah  krisis kemanusiaan, selalu muncul pergerakan anti kekerasan. Sebab sungguh  perang bukanlah penyelesaian konflik  yang manusiawi, ia menyisakan trauma akut. Gandhi, bapak anti kekerasan India sudah sejak mula mengawal kemerdekaan India dengan gerakan anti kekerasan,  toh  akhirnya  sang sanatani ini  dibunuh  anak bangsanya sendiri, ditembak dari jarak  begitu dekat sembari menyebut nama Tuhan.

Kepedihan dan keprihatinan semacam inilah yang digulirkan Ketut Putrayasa di Galeri Nasional, dalam pameran bersama bertajuk SKALA: Trienal Seni Patung Indonesia. Telah lama sesungguhnya pameran itu digulirkan, delapan tahun silam, tepatnya; 7—26 September  2017. Akan tetapi, hingga kini;  devosi dalam tindakan tetap  dibadankan seniman kelahiran Tibubeneng, Bali ini.

Saban hari  kita bisa melihat seniman ini melepas penyu di putaran Pantai Berawa. Penyu-penyu yang nyaris ‘disate’ para nelayan, dibeli sang seniman guna dilepas ke samudera lepas. Kerap dalam perjalanan jauh Putrayasa membawa serta  beraneka makanan, untuk kera dan anjing-anjing liar di jalanan.  Sering  dalam  nasib-nasib yang naas, ia mengubur bangkai-bangkai anjing dan kucing tertabrak mobil di jalan. “Saya berharap roh anjing ini tenang di alam sana”, kilah ayah satu putra ini.

Sudah sejak lama laku anti kekerasan dijalani Putrayasa, sebelum ia melakukan protes anti kekerasan di Galeri Nasional dalam  bentuk seni instalasi  granat super besar. Granat jumbo seberat kurang lebih satu ton ini terbuat dari plat tembaga murni dan stainles dengan teknik las astelin dan kenteng.

Sang seniman, Ketut Putrayasa menamai  karya instalasi ini ; Motility. Secara biologis ia diterangkan sebagai sel atau organisme yang memiliki daya gerak spontan.  Metafor ini lalu digambarkan sperma berkepala  granat  ̶   dengan satu pesan; bahwa dalam diri manusia tersimpan potensi kekerasan yang sewaktu-waktu bisa meledak dengan mudah.

Dari segi bentuk karya ini memang sederhana, cuma seonggok sperma berkepala granat. Bentuk dan rupanya pun tidak indah, tidak terlihat estetik di mata awam. Namun dari pesan yang hendak disampaikan, ini sebentuk teror batin dan duka yang dingin, tentang betapa pedihnya hati sang seniman menyaksikan kekerasan dunia. Korban-korban perang hanya menyisakan trauma akut; kehancuran, kematian sia-sia, dan cacat  fisik seumur hidup.

Di mata batin seniman Ketut Putrayasa, kekerasan acap menjelma dalam berbagai kerusakan akut, tidak saja dalam perang frontal. Kekerasan pada lingkungan misalnya, sungguh mengamputasi  ekosistem dan sendi-sendi  kebudayaan manusia. Kerusakan lingkungan di belahan bumi menunjukkan bukti, betapa kejamnya sisi kapitalisme itu.

Di Kalimantan Timur misalnya, sebagaimana catatan kosmolog Karlina Supelli (2013), perempuan Dayak Benuaq memintal serat tanaman Doyo (Curculigo Latifola) menjadi benang mencelupnya ke pewarna dari sari tetumbuhan lalu menenunnya menjadi ulap(tenun) Doyo yang elok.

Menurut pengajar filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini, sudah  beberapa tahun terakhir ini perempuan-perempuan Dayak Benuaq kesulitan menemukan tanaman Doyo yang hanya hidup di lantai-lantai hutan yang gelap dan lembab. Hutan sekitar kampung beralih  menjadi perkebunan raksasa monokultur, atau habis terbabat untuk industri perkayuan atau bekas galian tambang yang dibiarkan menganga menyisakan kubangan raksasa.

Bagi Ketut Putrayasa, ini adalah  bentuk kekerasan pada hayat hidup, yang kelak menentukan  kwalitas hayat  hidup bersama. Secara pelan atau masif akan menjadikan dunia kian poranda. Namun kekerasan itu telah hadir setua evolusi manusia di bumi. Agama-agama lalu hadir memberi secercah percerahan dan rasa damai. Toh agama-agama tak sanggup menghaluskan ketumpulan otak reftil manusia. Perang agama muncul kepermukaan semata-mata membela keyakinan dogmatis. Lintasan sejarah agama-agama penuh dengan gejolak kekerasan dan penghilangan nyawa.

Karya seni instalasi Ketut Putrayasa | Foto: Ist

Di Tengah-tengah problem hidup yang keras itu dan dampak- traumatik  perang instalasi granat berekor hadir untuk menyapa, bahwa seni dan seniman bisa mengasah kepekaan kemanusiaan kita lebih intens. Memang tugas seni adalah melunakkan kekerasan  serta menyadari bahwa;  tugas hidup itu bukanlah saling meniadakan.

Panggilan  paling  mendasar dari hidup adalah merawat. Inilah kenapa saban waktu bila ada teman atau sahabat tidak bisa menebus biaya pengobatan di rumah sakit, Ketut Putrayasa  berusaha meringankan beban mereka. Ini sebentuk seni empati, terapi doa dalam tindakan dengan cara dan jalan sekecil apa pun.

Pertanyaan kemudian, ada apa dengan “sperma berkepala granat” ini ? Seniman patung ini berangkat dari narasi sejarah kekerasan  India.  Bahwa di zaman itihasa Ramayana dan Bharatayuddha, perang  dipicu oleh sosok perempuan. Sita dan Drupadi adalah tokoh yang didalih sebagai pemicu perang.

Bukankah perang antara Rama dan Rahwana diawali dengan penculikan Sita oleh Rahwana, Raja Alengka. Perang antara Pandawa dan Korawa dipicu Drupadi karena perempuan cantik yang lahir dari  api ini menolak lamaran Duryadana. Dan ketegangan demi ketegangan meletus jadi perang besar.

Namun sejak revolusi industri perang kerap dipicu dari ego kekuasaan laki-laki. Itulah kenapa Ketut Putrayasa menghadirkan instalasi “sperma berkepala granat”. Karena sungguh, hari ini peradaban kita adalah peradaban yang amat maskulin. Laki-laki selalu dominan menciptakan konflik. Ketakutan-ketakutan pada perang melahirkan bentuk perlombaan senjata yang kian hari makin canggih. Perang berarti keuntungan bagi industri senjata, cuan bagi negara pemasok.

Sejak dari zaman purba peradaban manusia diracau perang dan kekerasan, layaknya kutukan bawaan, gen yang tertitipkan alam. Realitas dunia dan peradabannya sering dijarit dari sisa-sisa konflik dan perang. Namun upaya-upaya damai  pasti telah muncul sejak zaman silam. Mantra-mantra dan doa-doa dari suku-suku purba  melantunkan harapan;  mereka ingin hidup damai dan rukun. Berharap karunia langit dan bumi penuh berkah suka cita dan perdamainan. Inilah alasan kenapa lembaga  PBB dilahirkan  ̶  agenda utamanya  adalah melindungi perdamaian dunia.

Namun kecemasn-kecemasan pada perang dan kekerasan terus berlanjut, tak ada yang bisa menjamin perang bisa dihentikan. Dan menurut Putrayasa, di titik inilah tugas seniman, ia tak hendak menjadi polisi moral, alih-alih menghakimi kesalahan orang. Akan tetapi anti kekerasan dan perdamaian mesti digulirkan terus. Bukankah para filsuf, seniman, penulis telah menyuarakan suara perdamaian itu sejak awal.

Nun di pojok belahan bumi bernama Jawa, lebih dari lima ratus silam  Mpu Tantular telah menyuarakan suara perdamaian itu. Dalam karya magnum opus Kakawin Sutasoma, Tantular menolak kekerasan. Ia menisbahkan traktat anti perang, mengubah kebengisan menjadi kasih sayang.

Karya seni instalasi Ketut Putrayasa | Foto: Ist

Lewat tokoh Sutasoma yang mendapat anugerah mantra mahahrdayadharani  dari Durga,  mantra penjinak yang mampu mengubah setiap kejahatan dan kekuatan musuh serta menjamin agar manusia dibebaskan dari segala penyakit dan halangan.

Dengan azimat mahāhŗdayadharani  Sutasoma  juga  membebaskan sembilan puluh sembilan raja yang ditawan Porusada, raja yang akan dijadikan tumbal kepada Kala. Namun Kala menolak persembahan itu sebelum Sutasoma diikutkan sebagai tumbal.

Dan apa yang terjadi kemudian? Setelah penundukan demi penundukan dilakukan Porusada,  perang dahsyat menjatuhkan korban begitu banyak – Sutasoma datang sendiri tanpa senjata, ia berjanji menghentikan semua kekerasan, siap mengorbankan diri demi  pembebasan sembilan puluh sembilan raja.

Kala tak jadi menyantap Sutasoma, Kala mengalami somya, terserap dalam kasih sayang yang dalam. Segala senjata berubah jadi bunga-bunga, yang  galak dan mengerikan berubah jadi penuh kasih. Itulah traktat non kekerasan Mpu Tantular yang boleh jadi juga menginspirasi  seniman Ketut Putrayasa  –  yang dalam keseharian ia  kembali menjadi manusia biasa, penuh peluh, bergelut dengan hidup yang keras, licik penuh tipu-tipu.

Memang kerap dalam lusinan karya-karya instalasi seniman ini ia selalu hadir dengan metafor fisik  radikal;  nyleneh selalu nungkalik dengan cerapan estetika awam. Sebut saja misalnya, mulai dari Sisyphus Game, The Stronghold, Post Scriptum, The Golden Toilet semua berangkat dari suatu perlawanan lewat kritik metaforis pada kecenderungan hal-hal bengkok yang terjadi kini.

Boleh jadi ini semacam “estetika kuburan”, tempat Sutasoma mendapat anugerah Durga. Bahwa hal-hal penting tidak melulu lahir dari keningratan luhur. Estetika juga bisa lahir dari ruang-ruang permenungan kumuh, dari hidup yang kotor penuh perjuangan, pelajaran jelata yang menghargai hidup semulia semut dan anjing-anjing yang diberi makan Ketut Putrayasa di jalanan.  Dan sang seniman bahagia melakukan itu. [T]

Pakubuan Kusa Agra, 29-12-2024

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Tags: catatan akhir tahunI Wayan WestaKetut PutrayasaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Segitiga Emas: Budidaya Pertanian, Pengolahan Hasil, dan Pariwisata

Next Post

Kaum Paria dalam Pilkada

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kaum Paria dalam Pilkada

Kaum Paria dalam Pilkada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co