3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kode Gurita di Pantai Berawa

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 30, 2024
in Ulas Rupa
Kode Gurita di Pantai Berawa

Instalasi "Gurita" karya Ketut Putrayasa di Pantai Berawa, Kuta, Badung

PERLAHAN matahari menyelinap ke tepian laut ─ ke ujung jauh Pantai Berawa, Kuta.  Deburan ombak, sorak pantai, suara gaduh orang-orang pesisir kian ramai. Turis-turis mendongak  bengong.

Kali ini mereka tak sedang menonton matahari terbenam, atau sekadar menikmati Pantai  Berawa yang landai. Mereka tengah menonton “gurita raksasa” yang “terdampar” di pantai.

Para penyaksi  itu seperti  tengah diteror sekaligus dihibur penampakan ajaib. Satu pemandangan  tak lazim tersaji di depan laut ─ instalasi gurita raksasa  anyaman bambu dengan berat kurang  lebih 60 ton.

Namun tak banyak yang paham, alih-alih mau mengerti, instalasi gurita  yang dipajang nyaris lima tahun itu [tepatnya medio Mei 2019]  sungguh tak sekadar pajangan  hendak meramaikan Berawa Beach Arts Festival II.

Akan tetapi ada satire simbolik yang abai dibaca orang awam, terutama bagaimana pulau ini sedang digarap dalam pesta para pemodal. Dan gurita raksasa itu, menurut  penggagasnya, jadi sejenis alarm  bagi penentu kebijakan, supaya berhati-hati mengelola pulau kecil ini.

Karena jelas  “gurita”  itu perlahan-lahan telah melahap Bali  dari tepian ─   mencengkramkan kaki-kakinya dari desa-desa pesisir. Dan  Pantai Berawa cuma simpul kecil dari apa yang terjadi di pesisir Bali kini ─  pantai yang hampir rapat dikepung infrastruktur turistik, modal-modal yang menggurita menguasai, mencengkram tanah Bali.

Sama seperti di Kuta, dan wilayah pesisir Bali selatan lainnya, tak ada batas siang dan malam di Berawa ─ tanah-tanah pertanian yang dulu merupakan hamparan subak  nan subur kini berubah jadi pesisir yang berdenyar, turis-turis  berbikini dengan kulit-kulit merah dibakar matahari tropis. Ini sudah menjadi pemandangan yang lazim ─ demikian keramaian turistik ini kian melajur ke utara, merangsek desa-desa.

Iya, itulah  instalasi gurita raksasa yang dipajang seniman  I Ketut Putrayasa, pematung kelahiran  Desa Tibubeneng, Bali. Melibatkan tak kurang dari tiga ratus seniman desa, dua puluh truk bambu yang  telah “disisit” masyarakat Desa Payangan. Tali-tali bambu ini telah dianyam  dalam wujud potongan-potongan gurita raksasa, sebelum kemudian dirakit di tepi Pantai Berawa.

Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, saat memberi sambutan pembuka Festival Berawa Beach Arts Festival II   nyaris tak menyadari, bahwa gurita raksasa itu satire kritis yang dihujamkan seorang seniman, mengkritisi tata kelola pembangunan Bali, ambruknya budaya pesisir oleh denyar kemakmuran baru.

Kenapa harus gurita? Secara biologis gurita adalah hewan moluska  kelas sefalopoda bertubuh bulat, pendek, dan fleksibel, memiliki delapan tentakel yang dilengkapi selaput renang, berwarna abu-abu pucat dan putih, dapat berkamuflase, tersebar di seluruh lautan.

Gurita memilik karakter melilit sesuatu dengan kuat, hingga yang dililit tak mudah melepaskan diri. Lalu sebagai satire simbolik nan dingin, Ketut Putrayasa menghadirkan gurita itu lebih besar, bahkan amat besar, mungkin tak ada yang menyamai di abad ini, kecuali ia akan penjadi efigon kreatif.

Maka dalam praktik bisnis yang menyebar dan mencengkram kuat itu dianggap memiliki kesamaan  karakter dengan sefalopoda gurita. Gambaran semacam inilah yang dihadirkan sang seniman, di sebuah desa pesisir  Tibubeneng yang pelan-pelan poranda oleh gurita bisnis. Pantai-pantai diserung hotel, villa-villa, restoran, dan tempat-tempat hiburan malam yang gemerlap ─ tempat di mana libido hedonisme dirayakan dengan sempurna,  dalam musik malam  mengharu, menyentak, yang pelan-pelan “mengusir” anak-anak  pesisir totok, merangsek kultur agraris  mereka yang damai, meninggalkan  ladang uma  hijau.

Di Desa kelahiran itu, di wilayah Kuta, Canggu, Tibubeneng, Putrayasa menyaksikan dengan perih tanah-tanah yang “hilang”, payau yang diuruk rata, tanah ulayat yang diperebutkan investor, pantai yang diblokade hotel dan restoran. Burung-burung sawah dan petani harus terbang, minggir  tak kuat menghadapi kultur beton dan lampu merkuri.

Dunia baru  telah merangseknya. Penduduk lokal  yang tanpa modal, tak paham bisnis turistik  tumbang sendiri. Anak-anak desa terkena obat psikotropika, hiburan malam yang panas, yang di zaman kakek buyutnya tak pernah terpikirkan. Surga baru diciptakan di sini, di mana setiap orang kadang rela “dibunuh” setidaknya dibuat lupa dengan nikmat.

Penghadiran gurita raksasa di Pantai Berawa, tak cuma mengingatkan;  betapa sungguh tak berbelas kasihnya kekuatan modal itu, ia seperti pedang bermata dua, meraup untung berlimpah, dan pajak besar bagi negara. Sumber hidup baru di dunia glamor.  Akan tetapi, dia sedemikian keras memporanda  kultur pesisir, mengubah rimbun pantai menjadi hutan beton. Semua demi satu kata : pendapatan. Pencari kerja, pengais rezeki bergumul ke wilayah ini dengan keahlian masing-masing ─ bertarung hidup mati, dengan segenap labirin dunia turistik; glamor, gelap, dan asing.

Gurita raksasa itu, seperti mununjukkan sinyal, memberi kita gambaran historis, apa yang terjadi di Kerajaan Majapahit  lima abad silam. Sebuah kerajaan agraris yang kuat, dengan angkatan bersenjata tangguh, toh  tumbang juga akhirnya karena masyarakat belum pintar berdagang, atau kemungkinan tidak memiliki gen  bisnis. Dan ketika pedagang-pedagang Gujarat berlabuh di Pantai Pesisir Jawa, mereka membuka bisnis sembari menyebar agama baru, berlahan-lahan mendoktrin penduduk pesisir, yang secara pelan-pelan merangsek Majapahit. Raden Patah, putra mahkota yang memeluk keyakinan baru lalu membakar kraton leluhurnya sembari bersorak.

Kesimpulanya; gurita daganglah yang menumbangkan  kerajaan itu di samping  perseteruan politik dari dalam. Tanpa hendak berlebihan, atau fanatik memuja tradisi silam, Bali perlu belajar pada ketidak-awasan Majapahit.

Namun Ketut Putrayasa, tak hendak bercermin pada tumbangnya Majapahit karena  rakyatnya tak pintar berbisnis. Lebih dari itu ditengarai ada “pangreh praja”  pulau ini yang  gampang diajak bekerjasama.  Pengaruhnya juga  seperti gurita, mencengkram para birokrat, preman, tetua adat demi memuluskan modal bergulir di pulau kecil ini.

Instalasi “Gurita” karya Ketut Putrayasa di Pantai Berawa, Kuta, Badung

Ada sejenis koorporasi senyap pada pulau ini ─ sementara penduduknya asyik berupacara dengan dana besar, mengambil resiko menafikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga.

Maka jadilah pulau ini benteng terbuka ─ di mana arus barang, arus modal, dan arus orang dengan nyaman barkamuflase, seakan budaya turistik itu ikut merawat kebudayaan. Padahal yang terjadi adalah sesuatu yang paradok, pantai-pantai amblas terkena abrasi, payau-payau diuruk, subak-subak beralih fungsi, kemacetan  yang mengular, pabrik sabu yang terciduk, kriminaliasi,  bukit,  jurang, dan tebing dikeruk tanpa perasaan dosa pada anak cucu.

Bila dulu di zaman Dang Hyang Nirartha semua patilasan dan jejak kaki orang suci ini dibangun pura,  boleh jadi ada kode pesan;  di sepanjang pantai itu Dang Hyang Nirartha tengah membangun benteng-benteng spiritual. Dan para nelayan kemudian pembangun Pura Sagara, sebagai pusat pengintegrasi sosia-religius para nelayan,  di mana pantai dan laut  harus dijaga kesuciaannya.

Namun pelan-pelan pulau ini rapuh menghadapi dinamika zaman. Kultur turistik menyapu peradaban pesisir. Kita tak bisa membayangkan, di tengah gempuran modal, orang-orang menyemut berbisnis di Bali, kita malah dengan bangga mengirim pahlawan devisa  ke luar negeri. Bila pun situasi ini tak bisa disalahkan begitu saja, karena  setiap orang berhak bertaruh hidup di mana saja. Kendati di pulau kelahiran sendiri  ada banyak generasi merasa tak mendapat martabat  mulia ─ lalu bekerja keluar hanya untuk uang dan materi. Tragis, memang.

Sebagai pulau yang terus berdiaspora, tanah di mana nyaris penduduk dunia ada  di sini, pulau ini telah dan sedang mengalami  sejumlah orientasi hidup. Pertama di zaman Bali Kuna, orientasi mereka hidup di pinggiran-pinggiran empat danau. Di sebuah peradaban yang di zaman Bali Kuna bernama catur baga. Baru kemudian di zaman Bali madya, saat Bali dikuasai Majapahit, orientasi hidup mereka bercokol di pesisir. Lalu berubah di era budaya turistik, orientasi itu selain ke pesisir juga ke jalan raya.

Dari era ini sesungguhnya gurita investasi telah dimulai di Bali, hotel-hotel besar di Nusa Dua , Jimbaran, Kuta menunjukkan betapa tangguhnya kekuatan modal itu. Mungkin sebentar lagi, bila kereta bawah tanah di Bali  jadi, yang tujuan awalnya mengurai kemacetan di darat, orientasi massa akan tertuju ke bawah tanah. Mall, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dipastikan segara terbangun di bawah tanah Bali. Entah, itulah kemajuan bagi orang-orang modern.

Sampai di titik ini “alarm” Gurita Raksasa karya  Ketut Putrayasa itu seperti menemu janjinya ─ ramalan  bahasa rupa ini tak meleset, kekuatan modal akan mengubah wajah Bali ─ sebagaimana juga  lebih awal disuratkan Ida Pedanda Ngurah, pengarang besar Bali abad -19.  Dalam visi ramalan itu, pengarang  besar ini menyuratkan; daksina huluning  jagat, selatan hulunya jagat.

Kata ‘daksina’ bukan hanya berarti arah teben atau arah laut,  atau arah kaki bagi orientasi kosmos orang Bali. Dari titik  selatan-lah Bali diatur pemodal, yang boleh jadi dalam setiap keputusan penting pembangunan pulau ini diatur dalam orientasi gurita bisnis. Agenda reklamasi adalah sinyal  nyata itu. Dan Bali akan betul-betul “berkepala” di kaki. Bali tidak lagi dikendalikan  spirit pulau, dikendalikan dari kearifan yang dimiliki, tapi disetir kemauan pemodal dalam hitungan untung-rugi. Dan mereka yang berintlegensi  reptil hidup penuh pestapora.

Ketut Putrayasa tak cuma menghadirkan karya dalam ukuran besar, tak juga  dalam tampilan keindahan  halus.  Namun di dalam karya itu ia seperti menitipkan mesiu, yang kerap bisa ditembakkan sebagai kode zaman. Itulah tugas seniman selayaknya, kerap mengganggu sejawatnya gagal tidur siang. Ia pemali menjadi efigon, atau sekadar menerus-neruskan keunikan tradisi. Ia memilih jadi pemberotak  santun, mengingatkan  zaman tanpa merendahkan.

Demikianlah arti gurita di tangan seniman Ketut Putrayasa, kerap ia amat jujur mengkritisi keadaan. Sebagai seniman, ia tak bisa mengelak peradaban pesisir berubah, tapi di situ ia  berharap tak ada orang-orang yang dikalahkan ─ alih-alih menjadi tumbal  atas alasan   kemajuan, yang sesungguhnya adalah; kemerdekaan  kepenuhan lahir batin. [T]

Kusa Agra, Sabtu, 30 Nov 2024

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: Ketut PutrayasaPantai Berawapariwisata baliSeni InstalasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poem by Kadek Sonia Piscayanti | A Cursed Poet

Next Post

Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co