2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali

I Wayan Westa by I Wayan Westa
October 31, 2024
in Esai
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali

I Wayan Westa

//Cerita-ceritra Tantri menjadi penting untuk  cahaya zaman? Kecerdikan, kecerdasan, kepantasan, kepatutan, ajaran, serta pesan-pesan moral adalah cahaya yang senantiasa disampaikan cerita- cerita ini.//

SETIAP orang yang dibesarkan dalam tradisi Bali pasti  pernah mendengar  cerita Pancatantra. Dan setiap orang Hindu terpelajar diyakini  mengenal nama Visnu Sarma. Para peneliti  cerita-cerita Pancatantra dan kisah yang tertera pada kitab Hita Upadesa diyakini sebagai  karya  Visnu Sarma.  Boleh jadi Visnu Sarma tidak mengarang utuh cerita Pancatantra, setidaknya ia pengumpul Pancatantra dari masa India Kuno – hingga berkembang ke pelosok dunia  dalam varian-varian berbeda maupun lewat kisah yang utuh. 

Kemunculan Visnu Sarma sebagai pencerita Pancatantra  berawal dari kisah seorang raja di India Selatan. Ibu kota kerajaan bernama Mahilaropyam. Raja mempunyai tiga putra kesayangan, namun kecerdasannya tidak seperti sang ayah. Tiga putra ini amat pandir, kelak setelah akil balik ia dijuluki pangeran bego. Sang raja sangat gelisah, tak terbayangkan bagaimana tiga pangeran bego  bisa memimpin negara. Kerajaan dikhawatirkan  jatuh di tangan seorang raja yang pandir. Sang raja kemudian memanggil Visnu Sarma –  berharap bisa mendidik  tiga pangeran bego itu.

Apa yang terjadi kemudian? Raja bertanya pada Visnu Sarma, “Bagawan, hidup ini sangat singkat, sementara pengetahuan tidak bisa dipelajari dalam waktu sekejap –  lalu apakah  kalian  bisa mendidik anak saya dalam waktu singkat?

Sembari menjawab pertanyaan sang raja, Visnu Sarma tersenyum, “ Yang Mulia, mohon paduka mendengar kata-kata saya. Percayalah dan peganglah kata-kata saya. Saya tidak akan menjual pengetahuan karena loba harta benda. Umur saya sudah delapan puluh tahun, seluruh indra saya sudah terkendali. Sebagai seorang guru, saya siap mendidik putra Tuan, jika dalam waktu enam bulan putra Tuan tidak paham ajaran Nitisastra, maka biarlah saya tidak mencapai sorga.”

Benar, Visnu Sarma berhasil mendidik tiga pangeran bego menjadi calon raja yang cerdas dan bijak – dan nama Visnu Sarma pun melambung tinggi sebagai penulis dan penutur Pancatantra. Nama besar Visnu Sarma tak pernah terlelapkan waktu. Pancatantra tak cuma hidup di tanah India. Kisah ini nyaris mengaliri seluruh peradaban cerita dunia, berkembang dan dituturkan ke pelosok negeri, tentu denga versi dan varian yang berbeda.

Nun di abad-abad lampau, manakala India dikuasai Sultan Iskandar Akbar, Pancatantra  berkembang di tanah Arab, juga di negeri-negeri lain dalam terjemahan beragam bahasa, tak kecuali di Jawa dan Bali. Cerita Kalilah dan Dimnah  karya Baidaba merupakan varian  untuh adaptasi Pancatantra berbahasa Arab, dierjemahkan Abdullah Ibnul Muqafja.

Pada tahun 1942,  Ismail Djamil menterjemahkan cerita ke dalam bahasa Indonesia. Sepanjang kurun waktu 31 tahun, sampai di tahun 1971, Balai Pustaka telah mencetak buku ini  hingga cetakan ke V. Ini artinya Pancatantra sanggup menemui pembaca-pembacanya yang jauh dari peradaban Hindustan.

Apa yang terjadi di Jawa dan Bali kemudian? Di dua peradaban pulau tua ini Pancatantra mendapat apresiasi begitu luas. Ada banyak  fabel, kisah cerita-cerita binatang yang secara langsung atau tak langsung berasal- usul dari cerita Pancatantra. Teks prosa paling tua dalam bahasa Jawa Kuna bertajuk Tantri Kamandaka menunjukkan babon tunggal cerita India itu.  Yang menarik, di  wilayah Jawa dan Bali, di samping ditemukan teks prosa,  ditemukan juga teks dalam metrum kidung, kakawin, dan geguritan. Ini gambaran menarik, betapa Pancatantra  di Bali mendapat sentuhan kreatif begitu beragam, diolah sesuai tradisi dongeng setempat.

Edisi diplomatik teks Tantri Kamandaka dikerjakan ahli Jawa Kuna Dr. R.M Ng Peorbatjaraka. Teks yang kemudian dirujuk oleh C. Hooykaas ketika menulis “Tantri Kamandaka, een Oudjavaansche Pancatantra (1931). Belakangan dalam rangka pengajaran bahasa Jawa Kuna, L Mardiwarsito (1983) menghadirkan kembali teks lengkap Tantri Kamandaka, disertai terjemahan dan glosarium,  dicetak penerbit Nusa Indah.

Selain prosa Jawa Kuna, di Jawa juga muncul Kidung Aji Darma, lazim disebut Kidung Angling Darma. G.W.J Drewes  dalam karyanya The Romance Of King Ańliń Darma,  terbitan KITLV Press (1975) telah meneliti kidung ini, dan  membandingkannya dengan hikayat Shah Mardan dan Hikayat Bayan Budiman.

Di Bali  ada sejumlah teks yang masing-masing boleh dianggap berdiri sendiri. Dalam bentuk kidung, cerita Tantri ditulis pada tahun 1728 Masehi, oleh dua orang pendeta kakak beradik, Ida Pedanda Nyoman Pidada dan Ida Pedanda Ketut Pidada. Hal ini bisa dibuktikan dari piagam Sira Arya Gajah Para, Puri Anyar Sukangineb Sindu, Sidemen. Kidung yang kemudian dikenal dengan nama Nandaka Harana (Prahara Nandaka) ini tetap menjadi bagian penting dari pembribumian Pancatantra di Bali.

Lebih dari  tiga abad kidung Nandaka Harana itu  hanya dibaca  dalam manuskrip lontar. Baru kemudian di tahun 1968, Ida Tjokorda Gde Mayun, Puri Anyar, Klungkung merintis dalam bentuk buku cetakan, disajikan dalam aksara Bali disertai terjemahan  bahasa Bali, diterbitkan Toko  Murni, Klungkung. Dengan demikian teks ini bisa dibaca kalangan lebih luas. Teks lengkap Nandaka Harana diterbitkan  kemudian oleh Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali, 1996, disajikan dalam aksara Bali, disertai terjemahan bahasa Bali. Sebelumnya, tahun 1986, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali menerbitkan pula  Tantri Carita Nandaka Harana, Teks dan Terjemahan dalam bahasa Bali. Kali ini dihadirkan dalam sajian huruf latin. Teks yang sama dicetak kembali Penerbit Paramita (2005), disertai terjemahan bahasa Indonesia.

Ada beragam cerita Tantri  yang sesungguhnya boleh dipandang sebagai pengembangan kreatif para pengawi Bali. Tentu selain Tantri Nandaka Harana atau Tantri Kamandaka ditemukan juga Kidung Raga Winasa, atau disebut juga Kidung Tantri Manduka Praharana, kisah prahara si Manduka.

Ida Pedanda Made Sidemen, pengarang besar Bali abad ke –20 juga mengarang Kidung Pisaca Harana. Tak ketinggalan juga Kidung Manuk Kaba yang ditulis jauh di belakang. Sayang diantara beragam karya  ini tak satupun disajikan untuk memenuhi kebutuhan  cerita anak-anak. Semua dihidangkan untuk sidang pembaca dewasa  yang cukup terpelajar dalam penguasaan metrum kidung dan aksara Bali.

Tidak seperti pengajaran sastra di Barat, yang mengkemas khusus karya-karya William Shakespeare ke dalam pandangan dunia anak-anak. Ini sama sekali tidak dilakukan oleh pengarang-pengarang Bali tradisional. Sebagai cendekiawan dan pembaca modern, kesenjangan ini dipikirkan kemudian I Gusti Bagus Sugriwa ketika hendak menyiapkan buku ajar Rama Dewa untuk pengajaran bahasa Bali siswa-siswa SMP di Bali. Sugriwa telah mengkemas Ramayana  kakawin menjadi bacaan mudah, sajian yang singkat, gampang dicerna anak-anak pada zamannya.

Di zaman lebih awal, di tahun 1930-an, pendidik, pengarang novel Nemu Karma I Wayan Gobyah  telah menyadari kesenjangan itu manakala menyajikan cerita tantri  Lutung Mungil, varian tantri Bali untuk pembaca anak-anak di zamannya. Kelak tanpa tahun terbit, Yayasan Penerbitan Saraswati menerbitan Geguritan Lutung Mungil  dalam cetakan beraksara Bali.

Rintisan I  Wayan Gobyah dilanjutkan kemudian pendidik I Made Pasek, ketika ia menuturkan ulang Satua Katuturan Ni Dyah Tantri.   Cerita Tantri ini memang dikemas  untuk bacaan anak-anak,  tujuannya  supaya para siswa bisa memetik ajaran budi pekerti dari kisah yang disajikan. Di tahun 1940-an, adaptasi Made Pasek  menjadi bacaan wajib siswa SD se-Bali. Tahun 1977 Parisada Hindu Dharma, menerbitkan ulang karya Made Pasek atas persetujuan ahli warisnya. Tahun 1999, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar menerbitkan edisi latin buku ini.

Sayang ketika penguasaan aksara Bali dan bahasa Bali makin merosot, karya I Made Pasek pun menjadi  kian jarang ditengok. Buku ini kemudian menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa IKIP Universitas Dwijendra, Denpasar yang menekuni jurusan bahasa dan sastra Bali  di mana  dulu  merupakan buku ajar siswa-siswa sekolah rakyat.

Kini arus balik seakan terjadi, ketika anak-anak tidak memahami ceritra Tantri dalam bahasa lokal, Pancatantra dalam edisi Indonesia hadir dengan kesegaran bahasa anak-anak. Rintisan awal dikerjakan Made Darmayasa, disadur dari sumber asli karya Visnu Sarma. Sejak tahun 1995, Penerbit Manikgeni  berjasa menerbitkan rangkaian terpisah cerita itu. Tahun ini  edisi lengkap Pancatantra  telah diterbitkan ulang.  Tujuh tahun lalu, hal yang sama dilakukan juga Penerbit Paramita. Sayang penerjemah, I Wayan Maswinara tidak menyebut sumber asli edisi yang dialihbahasakan. Kendati demikian, usaha ini  bisa mengobati kerinduan generasi muda untuk kembali pada  cerita Pancatantra, sudah tentu dalam bahasa lebih mengena, walau jauh dari suasana pembaca lokal.

Apa kemudian pesan yang sampai di benak pembaca, dan kenapa ceritra-ceritra Tantri menjadi penting untuk  cahaya zaman? Kecerdikan, kecerdasan, kepantasan, kepatutan, ajaran, serta pesan-pesan moral adalah cahaya yang senantiasa disampaikan cerita-  erita ini. Jauh hari, saat mana I Made Pasek terpanggil membahasakan cerita-cerita ini untuk  anak-anak zamannya, sang penulis mengibaratkan cerita ini seperti taman yang indah.

Dalam kata pengantar buku berjudul Katuturan Ni Dyah Tantri, Made Pasek menuliskan  begini: “Katuturan puniki upamiang titiang sakadi tamanne madaging sakancan tarune sane woh ipun becik ajengang wiadin kateda, makadi sakatahing sekar sane arum sumirit gandanipun. Cerita ini saya umpamakan seperti taman, berisi segala pohon yang buahnya enak dimakan, begitu pula segala bunga yang harum baunya.”

Tentang kehadiran  tokoh-tokoh  binatang dalam cerita ini, Made Pasek memberi pemahaman sebagai “papiring” atau sindiran untuk membaca. “Mungguing satuané sané kaparidartayang iriki, wiakti jejelegnya makuéhan soroh sato. Nanging yan buat suksman ipun tan lian wantah papiring ring jadma. Puniki awinannya keni ida dané ipun kahyun ugi muponin suksmannya, anggén ngraga, réh daging katuturané puniki, kamanah antuk titiang wiakti kalintang luih, tan pai kalawan ratna kastuba, utamaning ratnané sané magenah ring telenging sagarané.

Demikian Tantri berkembang di Bali, tidak cuma hadir sebagai penghibur gulana, tapi turut menjaga peradaban batin dan nilai-nilai yang dibenamkan manusia Bali, tentu dalam beragam alih wahana, baik dalam olahan genre sastra; gancaran, geguritan, kidung, kakawin,  maupun dalam genre gambar semisal; tantri prasi, lukisan, dan panil-panil  candi di Pura-Pura. Ini semua adalah sebentuk  wahana lewat mana cerita Tantri dialirkan sepenuh gairah, menghapus rasa haus batin anak-anak zaman yang kerontang ─  di mana kini ponsel android kian menjauhkan rasa itu. [T]

Pakubuan Kusa Agra

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: balitantriTantri Kamandakaterjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Horeee, Kantin FBS Undiksha Muncul  Lagi, Tapi Soto-Bakso Masih Tertinggal di Fakultas Kedokteran

Next Post

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co