23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali

I Wayan Westa by I Wayan Westa
October 31, 2024
in Esai
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali

I Wayan Westa

//Cerita-ceritra Tantri menjadi penting untuk  cahaya zaman? Kecerdikan, kecerdasan, kepantasan, kepatutan, ajaran, serta pesan-pesan moral adalah cahaya yang senantiasa disampaikan cerita- cerita ini.//

SETIAP orang yang dibesarkan dalam tradisi Bali pasti  pernah mendengar  cerita Pancatantra. Dan setiap orang Hindu terpelajar diyakini  mengenal nama Visnu Sarma. Para peneliti  cerita-cerita Pancatantra dan kisah yang tertera pada kitab Hita Upadesa diyakini sebagai  karya  Visnu Sarma.  Boleh jadi Visnu Sarma tidak mengarang utuh cerita Pancatantra, setidaknya ia pengumpul Pancatantra dari masa India Kuno – hingga berkembang ke pelosok dunia  dalam varian-varian berbeda maupun lewat kisah yang utuh. 

Kemunculan Visnu Sarma sebagai pencerita Pancatantra  berawal dari kisah seorang raja di India Selatan. Ibu kota kerajaan bernama Mahilaropyam. Raja mempunyai tiga putra kesayangan, namun kecerdasannya tidak seperti sang ayah. Tiga putra ini amat pandir, kelak setelah akil balik ia dijuluki pangeran bego. Sang raja sangat gelisah, tak terbayangkan bagaimana tiga pangeran bego  bisa memimpin negara. Kerajaan dikhawatirkan  jatuh di tangan seorang raja yang pandir. Sang raja kemudian memanggil Visnu Sarma –  berharap bisa mendidik  tiga pangeran bego itu.

Apa yang terjadi kemudian? Raja bertanya pada Visnu Sarma, “Bagawan, hidup ini sangat singkat, sementara pengetahuan tidak bisa dipelajari dalam waktu sekejap –  lalu apakah  kalian  bisa mendidik anak saya dalam waktu singkat?

Sembari menjawab pertanyaan sang raja, Visnu Sarma tersenyum, “ Yang Mulia, mohon paduka mendengar kata-kata saya. Percayalah dan peganglah kata-kata saya. Saya tidak akan menjual pengetahuan karena loba harta benda. Umur saya sudah delapan puluh tahun, seluruh indra saya sudah terkendali. Sebagai seorang guru, saya siap mendidik putra Tuan, jika dalam waktu enam bulan putra Tuan tidak paham ajaran Nitisastra, maka biarlah saya tidak mencapai sorga.”

Benar, Visnu Sarma berhasil mendidik tiga pangeran bego menjadi calon raja yang cerdas dan bijak – dan nama Visnu Sarma pun melambung tinggi sebagai penulis dan penutur Pancatantra. Nama besar Visnu Sarma tak pernah terlelapkan waktu. Pancatantra tak cuma hidup di tanah India. Kisah ini nyaris mengaliri seluruh peradaban cerita dunia, berkembang dan dituturkan ke pelosok negeri, tentu denga versi dan varian yang berbeda.

Nun di abad-abad lampau, manakala India dikuasai Sultan Iskandar Akbar, Pancatantra  berkembang di tanah Arab, juga di negeri-negeri lain dalam terjemahan beragam bahasa, tak kecuali di Jawa dan Bali. Cerita Kalilah dan Dimnah  karya Baidaba merupakan varian  untuh adaptasi Pancatantra berbahasa Arab, dierjemahkan Abdullah Ibnul Muqafja.

Pada tahun 1942,  Ismail Djamil menterjemahkan cerita ke dalam bahasa Indonesia. Sepanjang kurun waktu 31 tahun, sampai di tahun 1971, Balai Pustaka telah mencetak buku ini  hingga cetakan ke V. Ini artinya Pancatantra sanggup menemui pembaca-pembacanya yang jauh dari peradaban Hindustan.

Apa yang terjadi di Jawa dan Bali kemudian? Di dua peradaban pulau tua ini Pancatantra mendapat apresiasi begitu luas. Ada banyak  fabel, kisah cerita-cerita binatang yang secara langsung atau tak langsung berasal- usul dari cerita Pancatantra. Teks prosa paling tua dalam bahasa Jawa Kuna bertajuk Tantri Kamandaka menunjukkan babon tunggal cerita India itu.  Yang menarik, di  wilayah Jawa dan Bali, di samping ditemukan teks prosa,  ditemukan juga teks dalam metrum kidung, kakawin, dan geguritan. Ini gambaran menarik, betapa Pancatantra  di Bali mendapat sentuhan kreatif begitu beragam, diolah sesuai tradisi dongeng setempat.

Edisi diplomatik teks Tantri Kamandaka dikerjakan ahli Jawa Kuna Dr. R.M Ng Peorbatjaraka. Teks yang kemudian dirujuk oleh C. Hooykaas ketika menulis “Tantri Kamandaka, een Oudjavaansche Pancatantra (1931). Belakangan dalam rangka pengajaran bahasa Jawa Kuna, L Mardiwarsito (1983) menghadirkan kembali teks lengkap Tantri Kamandaka, disertai terjemahan dan glosarium,  dicetak penerbit Nusa Indah.

Selain prosa Jawa Kuna, di Jawa juga muncul Kidung Aji Darma, lazim disebut Kidung Angling Darma. G.W.J Drewes  dalam karyanya The Romance Of King Ańliń Darma,  terbitan KITLV Press (1975) telah meneliti kidung ini, dan  membandingkannya dengan hikayat Shah Mardan dan Hikayat Bayan Budiman.

Di Bali  ada sejumlah teks yang masing-masing boleh dianggap berdiri sendiri. Dalam bentuk kidung, cerita Tantri ditulis pada tahun 1728 Masehi, oleh dua orang pendeta kakak beradik, Ida Pedanda Nyoman Pidada dan Ida Pedanda Ketut Pidada. Hal ini bisa dibuktikan dari piagam Sira Arya Gajah Para, Puri Anyar Sukangineb Sindu, Sidemen. Kidung yang kemudian dikenal dengan nama Nandaka Harana (Prahara Nandaka) ini tetap menjadi bagian penting dari pembribumian Pancatantra di Bali.

Lebih dari  tiga abad kidung Nandaka Harana itu  hanya dibaca  dalam manuskrip lontar. Baru kemudian di tahun 1968, Ida Tjokorda Gde Mayun, Puri Anyar, Klungkung merintis dalam bentuk buku cetakan, disajikan dalam aksara Bali disertai terjemahan  bahasa Bali, diterbitkan Toko  Murni, Klungkung. Dengan demikian teks ini bisa dibaca kalangan lebih luas. Teks lengkap Nandaka Harana diterbitkan  kemudian oleh Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali, 1996, disajikan dalam aksara Bali, disertai terjemahan bahasa Bali. Sebelumnya, tahun 1986, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali menerbitkan pula  Tantri Carita Nandaka Harana, Teks dan Terjemahan dalam bahasa Bali. Kali ini dihadirkan dalam sajian huruf latin. Teks yang sama dicetak kembali Penerbit Paramita (2005), disertai terjemahan bahasa Indonesia.

Ada beragam cerita Tantri  yang sesungguhnya boleh dipandang sebagai pengembangan kreatif para pengawi Bali. Tentu selain Tantri Nandaka Harana atau Tantri Kamandaka ditemukan juga Kidung Raga Winasa, atau disebut juga Kidung Tantri Manduka Praharana, kisah prahara si Manduka.

Ida Pedanda Made Sidemen, pengarang besar Bali abad ke –20 juga mengarang Kidung Pisaca Harana. Tak ketinggalan juga Kidung Manuk Kaba yang ditulis jauh di belakang. Sayang diantara beragam karya  ini tak satupun disajikan untuk memenuhi kebutuhan  cerita anak-anak. Semua dihidangkan untuk sidang pembaca dewasa  yang cukup terpelajar dalam penguasaan metrum kidung dan aksara Bali.

Tidak seperti pengajaran sastra di Barat, yang mengkemas khusus karya-karya William Shakespeare ke dalam pandangan dunia anak-anak. Ini sama sekali tidak dilakukan oleh pengarang-pengarang Bali tradisional. Sebagai cendekiawan dan pembaca modern, kesenjangan ini dipikirkan kemudian I Gusti Bagus Sugriwa ketika hendak menyiapkan buku ajar Rama Dewa untuk pengajaran bahasa Bali siswa-siswa SMP di Bali. Sugriwa telah mengkemas Ramayana  kakawin menjadi bacaan mudah, sajian yang singkat, gampang dicerna anak-anak pada zamannya.

Di zaman lebih awal, di tahun 1930-an, pendidik, pengarang novel Nemu Karma I Wayan Gobyah  telah menyadari kesenjangan itu manakala menyajikan cerita tantri  Lutung Mungil, varian tantri Bali untuk pembaca anak-anak di zamannya. Kelak tanpa tahun terbit, Yayasan Penerbitan Saraswati menerbitan Geguritan Lutung Mungil  dalam cetakan beraksara Bali.

Rintisan I  Wayan Gobyah dilanjutkan kemudian pendidik I Made Pasek, ketika ia menuturkan ulang Satua Katuturan Ni Dyah Tantri.   Cerita Tantri ini memang dikemas  untuk bacaan anak-anak,  tujuannya  supaya para siswa bisa memetik ajaran budi pekerti dari kisah yang disajikan. Di tahun 1940-an, adaptasi Made Pasek  menjadi bacaan wajib siswa SD se-Bali. Tahun 1977 Parisada Hindu Dharma, menerbitkan ulang karya Made Pasek atas persetujuan ahli warisnya. Tahun 1999, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar menerbitkan edisi latin buku ini.

Sayang ketika penguasaan aksara Bali dan bahasa Bali makin merosot, karya I Made Pasek pun menjadi  kian jarang ditengok. Buku ini kemudian menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa IKIP Universitas Dwijendra, Denpasar yang menekuni jurusan bahasa dan sastra Bali  di mana  dulu  merupakan buku ajar siswa-siswa sekolah rakyat.

Kini arus balik seakan terjadi, ketika anak-anak tidak memahami ceritra Tantri dalam bahasa lokal, Pancatantra dalam edisi Indonesia hadir dengan kesegaran bahasa anak-anak. Rintisan awal dikerjakan Made Darmayasa, disadur dari sumber asli karya Visnu Sarma. Sejak tahun 1995, Penerbit Manikgeni  berjasa menerbitkan rangkaian terpisah cerita itu. Tahun ini  edisi lengkap Pancatantra  telah diterbitkan ulang.  Tujuh tahun lalu, hal yang sama dilakukan juga Penerbit Paramita. Sayang penerjemah, I Wayan Maswinara tidak menyebut sumber asli edisi yang dialihbahasakan. Kendati demikian, usaha ini  bisa mengobati kerinduan generasi muda untuk kembali pada  cerita Pancatantra, sudah tentu dalam bahasa lebih mengena, walau jauh dari suasana pembaca lokal.

Apa kemudian pesan yang sampai di benak pembaca, dan kenapa ceritra-ceritra Tantri menjadi penting untuk  cahaya zaman? Kecerdikan, kecerdasan, kepantasan, kepatutan, ajaran, serta pesan-pesan moral adalah cahaya yang senantiasa disampaikan cerita-  erita ini. Jauh hari, saat mana I Made Pasek terpanggil membahasakan cerita-cerita ini untuk  anak-anak zamannya, sang penulis mengibaratkan cerita ini seperti taman yang indah.

Dalam kata pengantar buku berjudul Katuturan Ni Dyah Tantri, Made Pasek menuliskan  begini: “Katuturan puniki upamiang titiang sakadi tamanne madaging sakancan tarune sane woh ipun becik ajengang wiadin kateda, makadi sakatahing sekar sane arum sumirit gandanipun. Cerita ini saya umpamakan seperti taman, berisi segala pohon yang buahnya enak dimakan, begitu pula segala bunga yang harum baunya.”

Tentang kehadiran  tokoh-tokoh  binatang dalam cerita ini, Made Pasek memberi pemahaman sebagai “papiring” atau sindiran untuk membaca. “Mungguing satuané sané kaparidartayang iriki, wiakti jejelegnya makuéhan soroh sato. Nanging yan buat suksman ipun tan lian wantah papiring ring jadma. Puniki awinannya keni ida dané ipun kahyun ugi muponin suksmannya, anggén ngraga, réh daging katuturané puniki, kamanah antuk titiang wiakti kalintang luih, tan pai kalawan ratna kastuba, utamaning ratnané sané magenah ring telenging sagarané.

Demikian Tantri berkembang di Bali, tidak cuma hadir sebagai penghibur gulana, tapi turut menjaga peradaban batin dan nilai-nilai yang dibenamkan manusia Bali, tentu dalam beragam alih wahana, baik dalam olahan genre sastra; gancaran, geguritan, kidung, kakawin,  maupun dalam genre gambar semisal; tantri prasi, lukisan, dan panil-panil  candi di Pura-Pura. Ini semua adalah sebentuk  wahana lewat mana cerita Tantri dialirkan sepenuh gairah, menghapus rasa haus batin anak-anak zaman yang kerontang ─  di mana kini ponsel android kian menjauhkan rasa itu. [T]

Pakubuan Kusa Agra

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: balitantriTantri Kamandakaterjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Horeee, Kantin FBS Undiksha Muncul  Lagi, Tapi Soto-Bakso Masih Tertinggal di Fakultas Kedokteran

Next Post

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Bolehkah Kepemilikan Saham dengan Pinjam Nama?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co