14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 8, 2024
in Esai
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa

//Saya belum pernah melihat keputusan seorang wasit (saya) dipersoalkan oleh orang mana pun, bahkan oleh orang-orang kalah yang lebih merasa kecewa. Memang saya tak pernah melihat ketidaksetujuan sama sekali secara terang-terangan.”// — Clifford Geertz

I Pudak, si penjudi itu, akhirnya menyemblih  Ni Tuung Kuning, anak perempuan tunggalnya. Pudak tak menghendaki anak itu lahir perempuan. Sejak awal, kala istrinya bunting, lelaki yang sering kalap ini berpesan pada sang istri. “Biniku, aku akan pergi jauh, berjudi. Kau tengah hamil tua. Beberapa hari lagi akan melahirkan. Pesanku padamu, jika anak itu lahir perempuan, jangan biarkan dia hidup. Cingcang dia, dagingnya jadikan makanan ayam aduanku. Aku benci anak perempuan.”

Ni Pudak menggigil ketakutan. Ia hanya bisa mengangguk, dan  menjawab pendek, “Ya, Bli”.

Beberapa hari setelah kepergian sang suami, I Pudak melahirkan anak perempuan. Mestinya sang ibu girang mendapat momongan. Kini ia justru bingung beraduk sedih. Tak mungkin dia  membunuh darah daging sendiri, sebagaimana pesan I Pudak, suaminya. Ia cuma  menetak ari-ari bayi itu untuk ayam-ayam jago si suami. Bayi yang diberi nama Ni Tuung Kuning ini lantas dititipkan di rumah sang nenek, hingga kelak ia remaja.

Suatu hari, I Pudak datang jua dari berjudi. Dengan mata merah,  muka panas menghitam karena ayam jagonya kalah di arena judi.  Ia lalu menghardik  kasar sang istri.

 “Kau sembunyikan di mana anakmu?”, usut I Pudak pada sang istri.

“Anak kita lahir perempuan Bli. Sudah saya cingcang untuk makanan ayam-ayam petarung itu,” Ni Pudak berolok-olok ketakutan. I Pudak manggut-manggut sedikit puas. Ia  percaya anaknya telah dibunuh.

Namun entah kenapa suatu hari, datang dari arena sambung ayam, salah satu ayam aduan berbulu ijo gading [hijau kekuningan] berkokok, sembari berucap layaknya  manusia. “Kukuruyuk, pêk-pêk-pêk,…… ari-ariné dogénan baanga, panakné kingsananga di  umah dadongné [Kukuruyuk, cuma ari-arinya saja dikasi, anaknya dititip di rumah neneknya,]” kokok si ijo gading, berkali-kali.

I Pudak curiga, darahnya memanas tiba-tiba. Ia tanya balik sang istri, sembari menodongkan caluk di leher. Sang istri gemetar, mengaku anaknya memang dititip di rumah ibu mertua. Kini si anak sudah gede, cantik nan ayu, diberi nama Ni Tuung Kuning.

Kendati cantik, toh I Pudak tak kuasa mereda kebenciannya pada anak perempuan. Sebagai anak, Ni Tuung Kuning sadar, kematian segara menjemput, dibunuh ayah sendiri. Ia berserah pasrah, tak ada siapa pun yang kuasa menyelamatkan dirinya dari pancungan maut ini. Entah waktu akan menyelamatkannya.

 “Ya, tunggu sebentar Bapa, ijinkan saya membersihkan diri dulu. Mohon ijin sembahyang di sanggah sebentar. Setelah itu bunuhlah anakmu! Kasi ayam-ayam itu makan daging saya!”, pinta Ni Tuung Kuning pada sang ayah.

Tak seberapa Lama Ni Tuung Kuning, dengan busana serba kuning menghadap ayahnya. “Silakan Bapa, bunuhlah saya hari ini. Saya tidak menyesal karenanya.”

I Pudak menyambut permintaan anaknya, mengajak  Ni Tuung Kuning masuk hutan. Tak ada sepatah kata pun terucap saat ayah dan anak ini berjalan menyusuri hutan. Ni Tuung Kuning malah merasa bahagia mati di tangan sang ayah sendiri. Bila toh itu terjadi.

Sembari mengacungkan klewang, I Pudak berkata pada sang anak, “Tuung Kuning, berhenti di sini. Maafkan Bapa, ini hari terakhir  engkau  bertemu ayah.  Bersiaplah, longokkan sedikit lehermu, pejamkan matamu,”  kata terakhir Pan Pudak pada sang anak.

Namun saat bersamaan, secepat kilat sekawanan bidadari turun dari langit, menukar tubuh Ni Tuung Kuning dengan gedebong (batang pisang). Ni Tuung Kuning diterbangkan ke surga. I Pudak terhenyak, menangis tersedu. Ia menyesal kehilangan anak perempuan satu-satunya, menderita sepanjang hayat.

Di Bali, mungkin juga di Nusantara ini banyak kisah penjudi yang mengalami nasib naas sebagaimana Pan Tuung Kuning. Kisah itu terekam dalam sajak, dalam dongeng-dongeng, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang kalah berjudi misalnya, tak jarang mengeluarkan umpatan kotor, mencaci bhatara kawitan, malah ada yang membakar sanggah kamulan. Dan kemarahan bisa dilampiaskan kepada siapa  saja.

Maka, penggubah dongeng Ni Tuung Kuning tak pelak seperti mengingatkan zaman dan generasi Bali sepanjang hayat. Betapa  judi itu tak elok bagi kehidupan. Cerita itu seperti menjadi “suara zaman” sikap bersama manusia Bali yang menampik tajen sebagai judi. Suara-suara zaman itu tak tunggal, terus bersambung menjadi banyak kisah lain, namun pesannya tetap sama: bahwa judi tak bisa mengubah nasib, usaha dan kerja keras tetap adalah yang paling layak untuk yang berani hidup.

Judi adalah candu dalam bentuk yang lain. Mahabharata, epos besar sepanjang zaman menyuratkan candu ini dengan amat tragis, hingga Yudistira mengorbankan semuanya; istri, saudara, kerajaan, dan kehormatan lainnya. Lalu judi  dengan mudah mengubah perangai orang baik sontak jadi penjahat,  pemalas penuh tipu daya. Bukankah gara-gara bertaruh di meja judi, Pandawa harus rela dibuang ke tengah hutan selama 12 tahun. Begitu Bharatayuddha mengisahkannya.

Siapa saja yang sempat membaca babad-babad Bali tentu ingat kisah Manik Angkeran, putra seorang suci dari Jawa Timur, bernama Mpu Siddhimantra. Sang Mpu yang paham sasmita langit dan paham bahasa binatang  punya sahabat baik di Besakih. Namanya Naga Basuki, ular besar yang membelit erat kaki Gunung Agung. Naga Basuki berstana di sebuah tempat yang kini lebih terkenal dengan nama Goa Raja, di tebing sedikit curam di sisi timur Pura Ulun Kulkul. Di tempat inilah  Sang Mpu sering membawakan Naga  Basuki, sahabatnya, berupa makanan madu dan susu, setidaknya begitu dikisahkan dalam babad Manik Angkeran.

Suatu hari, Mpu Siddhimantra merasa kurang enak badan. Ia tidak bisa menemui sahabatnya. Sang Mpu mengutus  putranya, Manik Angkeran. Ia dikenal sebagai penggila sambung ayam, nyaris jarang pulang kecuali duitnya habis. Sembari menyelip genta, Manik Angkeran membawa susu dan madu. Tak lupa memperkenalkan diri, bahwa dia putra Mpu Sidhimantra. Naga Basuki senang tiada kepalang.

Usai menikmati madu dan susu, titipan sang Mpu, Naga Basuki mempersilakan Manik Angkeran meminta apa saja darinya sebagai bekal pulang ke Jawa. Manik Angkeran menolak, ia tak tahu hadiah apa yang hendak dia minta. Sang Naga Basuki melongok ke belakang. Namun begitu melihat kemilau emas yang ada di ekor Naga Basuki, Manik Angkeran mendadak kalap. Ia memotong ekor naga yang penuh kemilau emas dan permata itu. Ia tergoda, hendak cepat-cepat ke arena sambung ayam, mempertaruhkan emas dan permata itu arena judi.

Usai memotong ekor naga itu, Manik Angkeran lari  sekencang ia bisa. Naga Basuki murka.  Menjilat bekas  tapak-tapak kaki Manik Angkeran. Dalam  sekejap, Manik Angkeran lumat, tubuhnya angus terbakar. Tempat Manik Angkeran terbakar lidah api Sang Naga Basuki itulah konon kini dinamakan Alas Cemara Geseng.  Geseng  dalam bahasa Bali berarti terbakar, memang.

Di tanah Jawa Mpu Sidhimantra gundah, putra kesayangannya tak kunjung datang. Firasatnya mengisyaratkan sang putra tertimpa musibah. Sang Mpu pun berangkat ke Besakih. Dalam perjalanan dadapatinya Manik Angkeran telah menjadi abu. Sontak disadari, Sang Naga Basuki murka karena ulah Manik Angkeran. Sang Mpu berharaf maaf, memohon sang putra dihidupkan. Jika nanti hidup kembali, Angkeran akan diserahkan mengabdi pada Naga Basuki, menjadi menjaga sekaligus menjadi juru sapuh di Besakih. Manik Angkeran dimaafkan, ia dihidupkan kembali. Manik Angkeran tobat, berserah diri mengabdi pada Naga Basuki. Itulah kisah penjudi yang disadarkan tragik mengerikan, dibakar seekor naga, lalu dihidupkan kembali.

Di antara banyak kisah tragis perihal penjudi, Bagus Diarsa terbilang luar biasa. Bagus Diarsa sempat naik surga, bertemu Bhatara Siwa, berkat kejujuran dan ketulusikhlasan, serta laku olas asih-nya.

 Suatu hari ia pergi mengadu ayam, tapi lacur ia kalah terus. Sisa uang hanya cukup untuk membeli setekor bubur. Ia keluar arena judi, hendak melumat penat, menyeka peluh. Ia jongkok memesan setekor bubur. Begitu hendak menyuap, seorang tua korengan, dengan bau luka menyengat datang memelas, meminta bubur. Diarsa tak tega melihat orang tua lapar itu, lalu menyerahkan semua yang hendak disantapnya.

Tak puas hanya meminta bubur, orang tua bau ini malah memohon menginap di pondok Bagus Diarsa. Istri dan anak-anaknya menerima dengan lega hati. Subuh, orang tua ini terbangun, puas mendapat pelayanan tulus. Pengemis tua ini hendak minta diri, mau pulang ke pondoknya, dan berharap Ki Wiracita, anak kandung Bagus Diarsa bisa menemaninya. Dalam perjalanan orang tua pengemis ini menampakkan dirinya yang sejati. Dia-lah Bhatara Siwa.

Ketika seorang raja yang doyan tajen di negeri Diarsa tinggal, raja mewajibkan semua kapala keluarga membawa seekor ayam aduan ke arena tajen. Bagus Diarsa bingung, ia tak punya seekor ayam aduan.

 Suatu hari, raja yang saban hari menggelar tajen ini mengeluarkan ultimatum: yang tak membawa ayam aduan akan disembelih. Sembari gundah memikirkan hidupnya yang akan berakhir di tangan raja, Bagus Diarsa merunut jejak anaknya, ia berjalan ke arah timur laut. Mengalami sejumlah halangan dan godaan, mujizat membawa Bagus Diarsa  berjumpa sang anak di Surga Siwa. Ia  bertemu Bhatara Siwa.

Dari Bhatara Siwa, Bagus Diarsa mendapat anugerah seekor ayam aduan, untuk melawan ayam aduan sang raja. Tongkrongan ayam aduan sungguh tak meyakinkan. Bahkan terlihat sakit. Sang raja mencibir Bagus Diarsa, “Duh, Diarsa tak tahu malu dikau, membawa ayam sakit ke sini. “Ya, paduka, bila ayam ini kalah, hamba sanggup mati di tengah arena, bersabunglah dengan ayam hamba.”

Takdir naas tak bisa dihindari, di arena sambung ayam, jagoan sang raja tak bisa berkutik, sekali sambar, ayam sang raja langsung terkulai, kepala ayam  sang raja lepas dari badan, jatuh ke tanah di tengah arena. Yang lebih mengerikan, ayam ini menjadi beringas, menyambar sang raja yang tengah duduk, tepat di jatung raja taji menembus. Sang raja pun wafat. Karena kejujuran, kebaikan, dan sikap dermawan Bagus Diarsa, ia pun dinobatkan menjadi raja ─ tentu setelah ia bertemu Bhatara Siwa.

Banyak cerita dianggit, banyak mitos dan legenda dihadirkan bertujuan untuk memberi penyadaran, bahwa betapa bahayanya judi  dalam bentuk apapun. Bertaruh adalah kebiasaan-kebiasaan peradaban tua dunia, dari bentuknya yang paling kuna, adu ayam, adu sapi, bahkan adu manusia, sampai judi dadu yang menyengsarakan Pandawa dalam epos Mahabharata.

 Di Bali walau awalnya bukan judi, kini susah menyebut tajen itu bukan judi. Di sana orang-orang bertaruh untuk meraup menang, atau malah terjungkal dengan taruhan amat besar. Intinya, judi cenderung mengundang tamak.

Siapa pun yang bicara watak orang Bali, dan budaya orang Bali tak mungkin mengenyampingkan tajen sebagai kegemaran orang Bali. Menurut sejarawan dari Universitas Udayana, Anak Agung Putra Agung, dulu kekuasaan raja-raja bisal dilihat dari ayam-ayamnya, istri-istrinya, dan berapa banyak ia memiliki tukang kurung. Pendeknya, ayam-ayam itu ibarat istri kedua raja.

Maka dalam kehidupan sehari-hari orang Bali, ayam itu kadang menjadi semesta simbolik sejumlah kondisi hidup, menyangkut nasib baik dan nasib buruk. Selain membawa tuah misalnya, ayam aduan juga merupakan ekspresi kejantanan, keperkasaan. Seorang tukang debat yang dibuat tak berkutik di sidang besar, diibaratkan sebagai ayam yang terluka di leher. Ini penghinaan memalukan, tentu.

Seorang miskin yang hendak meniru perilaku orang kaya, sering dijuluki  sebagai: siap sangkur mabet jamprah. Begitu pula orang-orang yang selalu berjaya, menang dalam setiap pertempuran, kerap dijuluki sebagai “siap buruh”, jago yang tak terkalahkan. Dan pengecut yang lari menyelamatkan diri akan dianggap sebagai: be cundang idup, pecundang hidup.

Banyak karakter bisa diidentikkan dengan ayam jago dan babotoh. Mereka yang dalam suasana hati tiba-tiba bersorak dan bergembira, sering diidentikan dengan bebotoh menang. Atau sebaliknya, seorang yang sedang marah, meracau tak karuan diidentikkan dengan bebotoh kalah. Sementara bagi mereka yang hanya berani dalam lingkungan saja, tak segan dipanggi: kurungan batan jaka.

Sebagai ekspresi psiko-sosial, tajen menjadi semacam drama menegangkan, pertarungan nasib diantara kalah dan menang, gaduh penuh letupan emosi. Clifford Geertz, antropolog asal Amerika, boleh jadi benar manakala ia menulis, bahwa dalam sabungan ayam, manusia dan binatang, baik dan jahat, ego dan id, kekuatan kreatif kejantanan dirangsang  dan kekuatan destruktif kebinatangan diumbar. Di sana semua berpadu satu, dalam sebuah drama berdarah tentang kebencian, kekejaman, kekerasan, dan maut.

Walaupun tidak semua argumen Geertz layak diterima dalam menafsir kebudayaan Bali,  namun penulis buku Negara, The Theatre State in Bali Nineteenth-Century Bali 1980 ini mencatat dengan jujur, bahwa dalam sejumlah permainan, termasuk sabung ayam, orang Bali berlaku sportif dan jujur. “Saya belum pernah melihat keputusan seorang wasit (saya) dipersoalkan oleh orang mana pun, bahkan oleh orang-orang kalah yang lebih merasa kecewa. Memang saya tak pernah melihat ketidaksetujuan sama sekali secara terang-terangan,” demikian tulis Geertz dalam The Interpretation of Cultures, 1974.

Betapa mendalamnya pun permainan tajen, toh tak pernah dilegalkan ajaran agama dan negara. Raja Marakata dalam prasasti Bali tertanggal 26 Desember 1022, hanya memberi ijin sambungan ayam bila ada upacara macaru. Itu pun perlu minta izin penguasa. ” Kunang yan manawunga ing pangudwan makatang tlung parahatan, tan pamwita ring nayaka saksi, ” begitu dituliskna. Selebihnya akan dianggap judi, melanggar ajaran sastra, dan itu berarti kejahatan.

Sastra memang  mengatur, memberi satu etik sosial untuk diindahkan semua orang Bali. Kenapa Dhama Pajuden ditulis? Kenapa lontar Pengayam-ayaman disurat?  Kenapa Dharma Caruban lontar yangmengatur bagaimana mengolah makanan dari daging dipegang ? Tujuan etiknya  jelas, untuk mengatur dan membatasi penikmatnya ─ untuk jangan berlebihan nuukin indria.

Lagi pula dengan amat benderang sastra memberi peringatan yang tak ragu, bahwa dana yang diperoleh dari bertaruh, mengadu ayam adalah dana yang sangat nista. Kunang ikang nista ning kanista dana ngarania, ikang dana ulih ajajudi, ngarania saking wisayania atoh-tohan, yadian olih saking angadu sawung tuwi, begitu terang disuratkan lontar Wiksu Pungu. Karena sebagaimana diingatkan Kakawin Niti Sastra, arta termulia diperoleh lewat berkurban dengan perjuangan, keringat sendiri, bukan dari pemberian ─ alih-alih dengan berjudi. [T]

Pakubuan Kusa Agra

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: Clifford Geertzdongengjudiperjudian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Next Post

Melali ke Seririt, Harus Coba “Healing” Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Melali ke Seririt, Harus Coba “Healing” Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

Melali ke Seririt, Harus Coba "Healing" Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co