2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 8, 2024
in Esai
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa

//Saya belum pernah melihat keputusan seorang wasit (saya) dipersoalkan oleh orang mana pun, bahkan oleh orang-orang kalah yang lebih merasa kecewa. Memang saya tak pernah melihat ketidaksetujuan sama sekali secara terang-terangan.”// — Clifford Geertz

I Pudak, si penjudi itu, akhirnya menyemblih  Ni Tuung Kuning, anak perempuan tunggalnya. Pudak tak menghendaki anak itu lahir perempuan. Sejak awal, kala istrinya bunting, lelaki yang sering kalap ini berpesan pada sang istri. “Biniku, aku akan pergi jauh, berjudi. Kau tengah hamil tua. Beberapa hari lagi akan melahirkan. Pesanku padamu, jika anak itu lahir perempuan, jangan biarkan dia hidup. Cingcang dia, dagingnya jadikan makanan ayam aduanku. Aku benci anak perempuan.”

Ni Pudak menggigil ketakutan. Ia hanya bisa mengangguk, dan  menjawab pendek, “Ya, Bli”.

Beberapa hari setelah kepergian sang suami, I Pudak melahirkan anak perempuan. Mestinya sang ibu girang mendapat momongan. Kini ia justru bingung beraduk sedih. Tak mungkin dia  membunuh darah daging sendiri, sebagaimana pesan I Pudak, suaminya. Ia cuma  menetak ari-ari bayi itu untuk ayam-ayam jago si suami. Bayi yang diberi nama Ni Tuung Kuning ini lantas dititipkan di rumah sang nenek, hingga kelak ia remaja.

Suatu hari, I Pudak datang jua dari berjudi. Dengan mata merah,  muka panas menghitam karena ayam jagonya kalah di arena judi.  Ia lalu menghardik  kasar sang istri.

 “Kau sembunyikan di mana anakmu?”, usut I Pudak pada sang istri.

“Anak kita lahir perempuan Bli. Sudah saya cingcang untuk makanan ayam-ayam petarung itu,” Ni Pudak berolok-olok ketakutan. I Pudak manggut-manggut sedikit puas. Ia  percaya anaknya telah dibunuh.

Namun entah kenapa suatu hari, datang dari arena sambung ayam, salah satu ayam aduan berbulu ijo gading [hijau kekuningan] berkokok, sembari berucap layaknya  manusia. “Kukuruyuk, pêk-pêk-pêk,…… ari-ariné dogénan baanga, panakné kingsananga di  umah dadongné [Kukuruyuk, cuma ari-arinya saja dikasi, anaknya dititip di rumah neneknya,]” kokok si ijo gading, berkali-kali.

I Pudak curiga, darahnya memanas tiba-tiba. Ia tanya balik sang istri, sembari menodongkan caluk di leher. Sang istri gemetar, mengaku anaknya memang dititip di rumah ibu mertua. Kini si anak sudah gede, cantik nan ayu, diberi nama Ni Tuung Kuning.

Kendati cantik, toh I Pudak tak kuasa mereda kebenciannya pada anak perempuan. Sebagai anak, Ni Tuung Kuning sadar, kematian segara menjemput, dibunuh ayah sendiri. Ia berserah pasrah, tak ada siapa pun yang kuasa menyelamatkan dirinya dari pancungan maut ini. Entah waktu akan menyelamatkannya.

 “Ya, tunggu sebentar Bapa, ijinkan saya membersihkan diri dulu. Mohon ijin sembahyang di sanggah sebentar. Setelah itu bunuhlah anakmu! Kasi ayam-ayam itu makan daging saya!”, pinta Ni Tuung Kuning pada sang ayah.

Tak seberapa Lama Ni Tuung Kuning, dengan busana serba kuning menghadap ayahnya. “Silakan Bapa, bunuhlah saya hari ini. Saya tidak menyesal karenanya.”

I Pudak menyambut permintaan anaknya, mengajak  Ni Tuung Kuning masuk hutan. Tak ada sepatah kata pun terucap saat ayah dan anak ini berjalan menyusuri hutan. Ni Tuung Kuning malah merasa bahagia mati di tangan sang ayah sendiri. Bila toh itu terjadi.

Sembari mengacungkan klewang, I Pudak berkata pada sang anak, “Tuung Kuning, berhenti di sini. Maafkan Bapa, ini hari terakhir  engkau  bertemu ayah.  Bersiaplah, longokkan sedikit lehermu, pejamkan matamu,”  kata terakhir Pan Pudak pada sang anak.

Namun saat bersamaan, secepat kilat sekawanan bidadari turun dari langit, menukar tubuh Ni Tuung Kuning dengan gedebong (batang pisang). Ni Tuung Kuning diterbangkan ke surga. I Pudak terhenyak, menangis tersedu. Ia menyesal kehilangan anak perempuan satu-satunya, menderita sepanjang hayat.

Di Bali, mungkin juga di Nusantara ini banyak kisah penjudi yang mengalami nasib naas sebagaimana Pan Tuung Kuning. Kisah itu terekam dalam sajak, dalam dongeng-dongeng, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang kalah berjudi misalnya, tak jarang mengeluarkan umpatan kotor, mencaci bhatara kawitan, malah ada yang membakar sanggah kamulan. Dan kemarahan bisa dilampiaskan kepada siapa  saja.

Maka, penggubah dongeng Ni Tuung Kuning tak pelak seperti mengingatkan zaman dan generasi Bali sepanjang hayat. Betapa  judi itu tak elok bagi kehidupan. Cerita itu seperti menjadi “suara zaman” sikap bersama manusia Bali yang menampik tajen sebagai judi. Suara-suara zaman itu tak tunggal, terus bersambung menjadi banyak kisah lain, namun pesannya tetap sama: bahwa judi tak bisa mengubah nasib, usaha dan kerja keras tetap adalah yang paling layak untuk yang berani hidup.

Judi adalah candu dalam bentuk yang lain. Mahabharata, epos besar sepanjang zaman menyuratkan candu ini dengan amat tragis, hingga Yudistira mengorbankan semuanya; istri, saudara, kerajaan, dan kehormatan lainnya. Lalu judi  dengan mudah mengubah perangai orang baik sontak jadi penjahat,  pemalas penuh tipu daya. Bukankah gara-gara bertaruh di meja judi, Pandawa harus rela dibuang ke tengah hutan selama 12 tahun. Begitu Bharatayuddha mengisahkannya.

Siapa saja yang sempat membaca babad-babad Bali tentu ingat kisah Manik Angkeran, putra seorang suci dari Jawa Timur, bernama Mpu Siddhimantra. Sang Mpu yang paham sasmita langit dan paham bahasa binatang  punya sahabat baik di Besakih. Namanya Naga Basuki, ular besar yang membelit erat kaki Gunung Agung. Naga Basuki berstana di sebuah tempat yang kini lebih terkenal dengan nama Goa Raja, di tebing sedikit curam di sisi timur Pura Ulun Kulkul. Di tempat inilah  Sang Mpu sering membawakan Naga  Basuki, sahabatnya, berupa makanan madu dan susu, setidaknya begitu dikisahkan dalam babad Manik Angkeran.

Suatu hari, Mpu Siddhimantra merasa kurang enak badan. Ia tidak bisa menemui sahabatnya. Sang Mpu mengutus  putranya, Manik Angkeran. Ia dikenal sebagai penggila sambung ayam, nyaris jarang pulang kecuali duitnya habis. Sembari menyelip genta, Manik Angkeran membawa susu dan madu. Tak lupa memperkenalkan diri, bahwa dia putra Mpu Sidhimantra. Naga Basuki senang tiada kepalang.

Usai menikmati madu dan susu, titipan sang Mpu, Naga Basuki mempersilakan Manik Angkeran meminta apa saja darinya sebagai bekal pulang ke Jawa. Manik Angkeran menolak, ia tak tahu hadiah apa yang hendak dia minta. Sang Naga Basuki melongok ke belakang. Namun begitu melihat kemilau emas yang ada di ekor Naga Basuki, Manik Angkeran mendadak kalap. Ia memotong ekor naga yang penuh kemilau emas dan permata itu. Ia tergoda, hendak cepat-cepat ke arena sambung ayam, mempertaruhkan emas dan permata itu arena judi.

Usai memotong ekor naga itu, Manik Angkeran lari  sekencang ia bisa. Naga Basuki murka.  Menjilat bekas  tapak-tapak kaki Manik Angkeran. Dalam  sekejap, Manik Angkeran lumat, tubuhnya angus terbakar. Tempat Manik Angkeran terbakar lidah api Sang Naga Basuki itulah konon kini dinamakan Alas Cemara Geseng.  Geseng  dalam bahasa Bali berarti terbakar, memang.

Di tanah Jawa Mpu Sidhimantra gundah, putra kesayangannya tak kunjung datang. Firasatnya mengisyaratkan sang putra tertimpa musibah. Sang Mpu pun berangkat ke Besakih. Dalam perjalanan dadapatinya Manik Angkeran telah menjadi abu. Sontak disadari, Sang Naga Basuki murka karena ulah Manik Angkeran. Sang Mpu berharaf maaf, memohon sang putra dihidupkan. Jika nanti hidup kembali, Angkeran akan diserahkan mengabdi pada Naga Basuki, menjadi menjaga sekaligus menjadi juru sapuh di Besakih. Manik Angkeran dimaafkan, ia dihidupkan kembali. Manik Angkeran tobat, berserah diri mengabdi pada Naga Basuki. Itulah kisah penjudi yang disadarkan tragik mengerikan, dibakar seekor naga, lalu dihidupkan kembali.

Di antara banyak kisah tragis perihal penjudi, Bagus Diarsa terbilang luar biasa. Bagus Diarsa sempat naik surga, bertemu Bhatara Siwa, berkat kejujuran dan ketulusikhlasan, serta laku olas asih-nya.

 Suatu hari ia pergi mengadu ayam, tapi lacur ia kalah terus. Sisa uang hanya cukup untuk membeli setekor bubur. Ia keluar arena judi, hendak melumat penat, menyeka peluh. Ia jongkok memesan setekor bubur. Begitu hendak menyuap, seorang tua korengan, dengan bau luka menyengat datang memelas, meminta bubur. Diarsa tak tega melihat orang tua lapar itu, lalu menyerahkan semua yang hendak disantapnya.

Tak puas hanya meminta bubur, orang tua bau ini malah memohon menginap di pondok Bagus Diarsa. Istri dan anak-anaknya menerima dengan lega hati. Subuh, orang tua ini terbangun, puas mendapat pelayanan tulus. Pengemis tua ini hendak minta diri, mau pulang ke pondoknya, dan berharap Ki Wiracita, anak kandung Bagus Diarsa bisa menemaninya. Dalam perjalanan orang tua pengemis ini menampakkan dirinya yang sejati. Dia-lah Bhatara Siwa.

Ketika seorang raja yang doyan tajen di negeri Diarsa tinggal, raja mewajibkan semua kapala keluarga membawa seekor ayam aduan ke arena tajen. Bagus Diarsa bingung, ia tak punya seekor ayam aduan.

 Suatu hari, raja yang saban hari menggelar tajen ini mengeluarkan ultimatum: yang tak membawa ayam aduan akan disembelih. Sembari gundah memikirkan hidupnya yang akan berakhir di tangan raja, Bagus Diarsa merunut jejak anaknya, ia berjalan ke arah timur laut. Mengalami sejumlah halangan dan godaan, mujizat membawa Bagus Diarsa  berjumpa sang anak di Surga Siwa. Ia  bertemu Bhatara Siwa.

Dari Bhatara Siwa, Bagus Diarsa mendapat anugerah seekor ayam aduan, untuk melawan ayam aduan sang raja. Tongkrongan ayam aduan sungguh tak meyakinkan. Bahkan terlihat sakit. Sang raja mencibir Bagus Diarsa, “Duh, Diarsa tak tahu malu dikau, membawa ayam sakit ke sini. “Ya, paduka, bila ayam ini kalah, hamba sanggup mati di tengah arena, bersabunglah dengan ayam hamba.”

Takdir naas tak bisa dihindari, di arena sambung ayam, jagoan sang raja tak bisa berkutik, sekali sambar, ayam sang raja langsung terkulai, kepala ayam  sang raja lepas dari badan, jatuh ke tanah di tengah arena. Yang lebih mengerikan, ayam ini menjadi beringas, menyambar sang raja yang tengah duduk, tepat di jatung raja taji menembus. Sang raja pun wafat. Karena kejujuran, kebaikan, dan sikap dermawan Bagus Diarsa, ia pun dinobatkan menjadi raja ─ tentu setelah ia bertemu Bhatara Siwa.

Banyak cerita dianggit, banyak mitos dan legenda dihadirkan bertujuan untuk memberi penyadaran, bahwa betapa bahayanya judi  dalam bentuk apapun. Bertaruh adalah kebiasaan-kebiasaan peradaban tua dunia, dari bentuknya yang paling kuna, adu ayam, adu sapi, bahkan adu manusia, sampai judi dadu yang menyengsarakan Pandawa dalam epos Mahabharata.

 Di Bali walau awalnya bukan judi, kini susah menyebut tajen itu bukan judi. Di sana orang-orang bertaruh untuk meraup menang, atau malah terjungkal dengan taruhan amat besar. Intinya, judi cenderung mengundang tamak.

Siapa pun yang bicara watak orang Bali, dan budaya orang Bali tak mungkin mengenyampingkan tajen sebagai kegemaran orang Bali. Menurut sejarawan dari Universitas Udayana, Anak Agung Putra Agung, dulu kekuasaan raja-raja bisal dilihat dari ayam-ayamnya, istri-istrinya, dan berapa banyak ia memiliki tukang kurung. Pendeknya, ayam-ayam itu ibarat istri kedua raja.

Maka dalam kehidupan sehari-hari orang Bali, ayam itu kadang menjadi semesta simbolik sejumlah kondisi hidup, menyangkut nasib baik dan nasib buruk. Selain membawa tuah misalnya, ayam aduan juga merupakan ekspresi kejantanan, keperkasaan. Seorang tukang debat yang dibuat tak berkutik di sidang besar, diibaratkan sebagai ayam yang terluka di leher. Ini penghinaan memalukan, tentu.

Seorang miskin yang hendak meniru perilaku orang kaya, sering dijuluki  sebagai: siap sangkur mabet jamprah. Begitu pula orang-orang yang selalu berjaya, menang dalam setiap pertempuran, kerap dijuluki sebagai “siap buruh”, jago yang tak terkalahkan. Dan pengecut yang lari menyelamatkan diri akan dianggap sebagai: be cundang idup, pecundang hidup.

Banyak karakter bisa diidentikkan dengan ayam jago dan babotoh. Mereka yang dalam suasana hati tiba-tiba bersorak dan bergembira, sering diidentikan dengan bebotoh menang. Atau sebaliknya, seorang yang sedang marah, meracau tak karuan diidentikkan dengan bebotoh kalah. Sementara bagi mereka yang hanya berani dalam lingkungan saja, tak segan dipanggi: kurungan batan jaka.

Sebagai ekspresi psiko-sosial, tajen menjadi semacam drama menegangkan, pertarungan nasib diantara kalah dan menang, gaduh penuh letupan emosi. Clifford Geertz, antropolog asal Amerika, boleh jadi benar manakala ia menulis, bahwa dalam sabungan ayam, manusia dan binatang, baik dan jahat, ego dan id, kekuatan kreatif kejantanan dirangsang  dan kekuatan destruktif kebinatangan diumbar. Di sana semua berpadu satu, dalam sebuah drama berdarah tentang kebencian, kekejaman, kekerasan, dan maut.

Walaupun tidak semua argumen Geertz layak diterima dalam menafsir kebudayaan Bali,  namun penulis buku Negara, The Theatre State in Bali Nineteenth-Century Bali 1980 ini mencatat dengan jujur, bahwa dalam sejumlah permainan, termasuk sabung ayam, orang Bali berlaku sportif dan jujur. “Saya belum pernah melihat keputusan seorang wasit (saya) dipersoalkan oleh orang mana pun, bahkan oleh orang-orang kalah yang lebih merasa kecewa. Memang saya tak pernah melihat ketidaksetujuan sama sekali secara terang-terangan,” demikian tulis Geertz dalam The Interpretation of Cultures, 1974.

Betapa mendalamnya pun permainan tajen, toh tak pernah dilegalkan ajaran agama dan negara. Raja Marakata dalam prasasti Bali tertanggal 26 Desember 1022, hanya memberi ijin sambungan ayam bila ada upacara macaru. Itu pun perlu minta izin penguasa. ” Kunang yan manawunga ing pangudwan makatang tlung parahatan, tan pamwita ring nayaka saksi, ” begitu dituliskna. Selebihnya akan dianggap judi, melanggar ajaran sastra, dan itu berarti kejahatan.

Sastra memang  mengatur, memberi satu etik sosial untuk diindahkan semua orang Bali. Kenapa Dhama Pajuden ditulis? Kenapa lontar Pengayam-ayaman disurat?  Kenapa Dharma Caruban lontar yangmengatur bagaimana mengolah makanan dari daging dipegang ? Tujuan etiknya  jelas, untuk mengatur dan membatasi penikmatnya ─ untuk jangan berlebihan nuukin indria.

Lagi pula dengan amat benderang sastra memberi peringatan yang tak ragu, bahwa dana yang diperoleh dari bertaruh, mengadu ayam adalah dana yang sangat nista. Kunang ikang nista ning kanista dana ngarania, ikang dana ulih ajajudi, ngarania saking wisayania atoh-tohan, yadian olih saking angadu sawung tuwi, begitu terang disuratkan lontar Wiksu Pungu. Karena sebagaimana diingatkan Kakawin Niti Sastra, arta termulia diperoleh lewat berkurban dengan perjuangan, keringat sendiri, bukan dari pemberian ─ alih-alih dengan berjudi. [T]

Pakubuan Kusa Agra

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: Clifford Geertzdongengjudiperjudian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Next Post

Melali ke Seririt, Harus Coba “Healing” Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Melali ke Seririt, Harus Coba “Healing” Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

Melali ke Seririt, Harus Coba "Healing" Menikmati Sunset di Pantai Sulanyah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co