2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar

I Made Sujaya by I Made Sujaya
August 25, 2022
in Esai
Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar

I Made Sujaya saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara

  • Artikel ini adalah orasi ilmiah yang disampaikan dalam upacara dies natalis ke-39 Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali (dulu IKIP PGRI Bali), Kamis 25 Agustus 2022.

Pada tahun 1975, penyair WS Rendra menulis sajak berjudul “Sajak Seonggok Jagung”.

……………………….
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”
(Rendra, 1996)

Sajak tersebut tak hanya memotret wajah pendidikan kita pada masa sajak itu ditulis, tetapi juga selalu menjadi refleksi situasi pendidikan kita hingga di masa sekarang. Pendidikan yang seharusnya membebaskan, menghasilkan jiwa-jiwa merdeka, ternyata justru menjelma penjara yang membelenggu, baik bagi guru, siswa, sekolah, maupun orang tua.

Pemerintah tampaknya memahami kritik yang dilontarkan terhadap pengelolaan pendidikan di negeri ini. Hal itu terlihat dari upaya yang tiada putus menyempurnakan tata kelola pendidikan di Indonesia. Pemerintah sepertinya senantiasa melihat kurikulum sebagai instrumen penting sebagai pintu masuk membenahi dunia pendidikan di Indonesia sehingga kurikulum selalu menjadi sasaran perubahan.

Pada tahun 2022 ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) merilis kurikulum terbaru bertajuk “Kurikulum Merdeka”. Sebagaimana dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi nomor 56 tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran, Kurikulum Merdeka diberlakukan mulai tahun ajaran 2022/2023. Namun, sebelum diberlakukan secara resmi, pada tahun ajaran 2021/2022, Kurikulum Merdeka sudah diuji coba di 2.500 sekolah penggerak[1]. Di tingkat perguruan tinggi, sejak tahun ajaran 2020/2021 sudah diterapkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Inti dari Kurikulum Merdeka adalah Merdeka Belajar. Dalam Merdeka Belajar siswa atau mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Hakikat Merdeka Belajar tiada lain kemerdekaan berpikir. Menurut Mendikbudristek, Nadiem Makarim, kemerdekaan berpikir itu harus ada pada guru dulu. Tanpa kemerdekaan berpikir terjadi pada guru, tidak akan terjadi kemerdekaan berpikir pada siswa[2].

Konsep Merdeka Belajar sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita. Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, didasarkan pada kemerdekaan yang berlandaskan pada kesadaran bahwa manusia diberi kebebasan oleh Tuhan yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Pendidikan harus membuat siswa memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin serta tenaganya. Menurut Ki Hajar Dewantara, jiwa yang merdeka sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain. Untuk menumbuhkan jiwa-jiwa merdeka itu, Ki Hadjar Dewantara menggunakan istilah sistem among, yakni melarang adanya hukuman dan paksaan kepada anak didik karena akan mematikan jiwa merdeka serta mematikan kreativitasnya (Dwiarso dalam Ainia, 2020: 95).

Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, pembelajaran berbasis projek[3] untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Kedua, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal[4].

Kemendikbudristek tampaknya menekankan Kurikulum Merdeka pada aspek pembentukan karakter melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila tersebut. Dalam Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 009/H/Kr/2022 tentang Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila Pada Kurikulum Merdeka, profil pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

Pemberlakuan Kurikulum Merdeka untuk mengganti Kurikulum 2013 memang sepintas mencerminkan cara pandang yang tidak berubah pada pemerintah bahwa akar masalah karut-marut dunia pendidikan adalah kurikulum. Padahal, permasalahan pendidikan kita sangat kompleks, termasuk kompetensi guru. Namun, semangat Kurikulum Merdeka yang mengembalikan pendidikan sebagai upaya memerdekakan siswa agar mampu berpikir merdeka dengan guru diberikan kebebasan dalam mengelola pembelajaran, Kurikulum Merdeka layak untuk diberikan kesempatan. Tentu saja, pelaksanaan kurikulum ini tetap harus dikawal secara kritis, terutama di tataran implementasi agar mencapai tujuannya.

Semangat kemerdekaan berpikir dalam konsep Merdeka Belajar sesungguhnya menjadi angin segar bagi ilmu-ilmu humaniora, seperti budaya, filsafat, bahasa, dan sastra. Dalam sastra, kemerdekaan berpikir merupakan hal yang esensial. Sastra pada hakikatnya juga jalan pembebasan, jalan mencapai kemerdekaan berpikir.

I Made Sujaya | Menulis Puisi, Jadi Wartawan, Jadi Dosen, Kini Doktor

Dalam tradisi masyarakat Bali, sastra dimaknai layaknya seperti obor yang memberikan memberikan penerangan untuk membebaskan manusia dari kegelapan pikiran. Susastra suluh nikang praba. Dalam konteks sastra modern, sastra juga menjadi jalan untuk melepaskan diri dari belenggu yang berasal dari dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri sebagai hegemoni kekuasaan. Itulah sebabnya, sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya menulis, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.

 Sastra tidak merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, melainkan hadir kepada kita setelah melalui interpretasi pengarang (Sayuti, 2002: 40). Dengan kata lain, seperti dikatakan Umar Kayam, sastra bukanlah tiruan langsung kehidupan.

Sastra bukanlah semata-mata karya fiksi dalam pengertian dunia khayal sehingga bagi sebagian besar orang masih dipandang lebih rendah dari ilmu-ilmu lain. Justru, sastra merupakan sumber pengetahuan yang penting sejajar dengan sumber-sumber pengetahuan lain. Pandangan yang melihat sastra sebatas karya fiksi dalam pengertian dunia khayal tidak saja ketinggalan zaman, tetapi juga kalah jauh dari pandangan para leluhur kita di masa lalu yang melihat sastra sebagai sasuluh urip, sarana untuk memahami sangkan paraning dumadi, sangkan paraning sarat.

Sastra sejatinya adalah dunia kemungkinan sebagai hasil refleksi dan interpretasi pengarang atas kehidupan.             Melalui karya sastra yang menawarkan berbagai kemungkinan, baik moral, sosial, maupun psikologis, orang dapat lebih cepat mencapai kemantapan bersikap yang menjelma ke dalam perilaku dan pertimbangan pikiran yang dewasa. Sastra memberi ruang bagi kita memasuki “segala macam situasi” sehingga kita bisa menempatkan diri dalam kehidupan yang luas daripada situasi diri kita yang nyata. Inilah kemerdekaan berpikir yang ditawarkan sastra.

Oleh karena itu, pembelajaran sastra di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus seyogyanya tidak mengingkari hakikat sastra sebagai dunia dalam kemungkinan. Sastra sebagai dunia kemungkinan dapat dipahami bahwa pembaca ketika berhdapan dengan karya sastra sesungguhnya berhadapan dengan berbagai kemungkinan penafsiran. Ahli semiotik, Roland Barthes menyebut hal ini sebagai kematian pengarang yang kemudian melahirkan pembaca. Pembacalah yang menghidupkan karya sastra melalui perayaan tafsir yang beragam.

Oleh karena itu, dalam pembelajaran sastra tidak ada jawaban benar atau salah dalam menafsirkan makna karya sastra. Hal yang dipentingkan adalah alasan yang mendasari penafsiran itu (Mahayana, 2009:27). Dengan kata lain, sikap dan daya kritis siswa yang menjadi fokus perhatian. Keanekaragaman tafsir merupakan kekayaan yang harus dialirkan melalui suatu dialog yang terbuka sehingga dapat dipahami alur pikiran yang mendasari lahirnya penafsiran tersebut. Di situlah tugas guru sastra, menjembatani dialog kritis di antara siswa. Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya menumbuhkan apresiasi sastra, tetapi juga memupuk sikap menghargai pendapat (Mahayana, 2009:27).

Selama ini, pembelajaran sastra di sekolah senantiasa mengundang sorotan, terutama karena model pembelajaran yang dinilai tidak menumbuhkan kegiatan apresiasi sastra, tetapi mengebiri siswa hanya sebatas hafalan nama pengarang, judul karya, atau paling jauh sebatas mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik karya. Model evaluasi yang diterapkan juga tidak mempertimbangkan hakikat sastra sebagai dunia dalam kemungkinan itu tetapi diarahkan pada satu jawaban dari satu perspektif sehingga mengabaikan perspektif lain. Sastra yang memerdekakan justru menjadi membelenggu dalam pembelajaran.

 Pembelajaran sastra yang dilakukan dengan cara yang tepat akan dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang sulit dipecahkan dalam masyarakat (Rahmanto, 1993: 15). Pembelajaran sastra dapat memungkinkan tumbuhnya sikap apresiasi terhadap segala hal yang indah dan manusiawi untuk diinternalisasikan menjadi bagian dari karakter anak didik yang akan dibentuk (Ismawati, 2013: 3).

 Pembelajaran sastra yang memerdekan sudah sejak lama disuarakan para sastrawan dan akademisi sastra. Guru besar sastra di Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suminto A Sayuti dalam sebuah artikelnya yang berjudul, “Menuju Pendidikan dan Pengajaran Sastra yang Memerdekan: Sekadar Catatan Pengantar” di majalah Sastra edisi November 2000 menyuarakan perlunya dipertimbangkan untuk mengubah fokus perhatian terhadap sastra yang selama ini membelenggu diubah dari teks ke pembaca. Menurut Sayuti (2000: 9), sastra sebaiknya tidak lagi dipandang sebatas sebagai objek tetapi dipertimbangkan sebagai pengalaman dan pembaca ditempatkan tidak semata sebagai konsumen, tetapi peraga aktif yang membawa teks ke dalam kehidupan pikirannya.

Menurut Sayuti, yang penting dalam pembelajaran sastra adalah literature as exploration. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses menafsirkan karya sastra, peranan pembaca, dalam hal ini siswa, memungkinkan emosi dan intelektualnya berfungsi kontributif untuk membangkitkan pengalaman literer. Teks sastra harus dipandang sebagai sesuatu yang problematik sehingga di ruang-ruang kelas teks didekonstruksi lalu dikonstruksi (Sayuti, 2000: 10).

Model pembelajaran sastra yang memerdekakan ini memang membutuhkan kerja keras guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagaimana dinyatakan Menteri Nadiem Makarim, guru harus terlebih dahulu merdeka baru bisa memerdekan siswa. Oleh karena itu, pertanyaan mendasarnya kemudian adalah apakah guru siap untuk memerdekakan pikirannya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi. Saat menjadi narasumber penyuluhan keterampilan berbahasa dan bersastra guru-guru SMA/SMK se-Kabupaten Klungkung dan Karangasem pada bulan Juni dan Juli lalu, ada fakta menarik bahwa di antara guru-guru Bahasa Indonesia yang mengikuti kegiatan itu, hampir seluruhnya tidak memilih sastra sebagai skripsi. Ketika saya tanyakan, mengapa tidak memilih sastra sebagai kajian, jawaban mereka umumnya karena sastra bersifat multitafsir, tidak ada kepastian sehingga menyulitkan mengukur kemampuan siswa.

Jawaban guru-guru Bahasa Indonesia ini menegaskan kuatnya hegemoni pandangan positivistik dalam pembelajaran. Bahwa segalanya harus pasti dan jelas. Sejak lama guru-guru kita terbiasa dengan model kurikulum yang siap pakai dengan guru-guru tinggal mengimplementasikannya di kelas. Karena itu, ketika kini Kurikulum Merdeka hanya memberikan rumusan capaian pembelajaran dan guru diberi keleluasaan merumuskan sendiri alur tujuan pembelajaran, justru guru sendiri merasakan hal itu sebagai beban. Terlebih lagi adanya penerapan pembelajaran terdirefensiasi yang menuntut model asesmen yang berbeda-beda berdasarkan kemampuan siswa.

Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi

 Oleh karena itu, pemberlakuan Kurikulum Merdeka dengan konsep Merdeka Belajar yang menekankan pada kemerdekaan berpikir membutuhkan satu hal esensial pada guru dan siswa, yakni sikap berani. Kemerdekaan tak akan bermakna apa-apa jika orang yang diberikan kemerdekan tidak memiliki keberanian untuk menjalani kemerdekaannya. Indonesia mungkin tidak akan merdeka pada 17 Agustus 1945 jika tidak ada para pemuda yang berani menculik Soekarno-Hatta dan mendesak kedua tokoh bangsa itu segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Guru merdeka yang pemberani adalah guru yang tidak hanya memiliki kemerdekaan berpikir, tetapi juga sikap terbuka, kreatif, adaptif dan inovatif. Profil guru semacam ini akan melahirkan juga siswa yang selain merdeka dalam berpikir tetapi juga berani mengemukakan pandangannya, berani menantang kemapanan pikiran, sehingga mampu menemukan pemikiran-pemikiran baru yang segar dan progresif.

 Demikianlah, pendidikan untuk melahirkan jiwa-jiwa merdeka, seharusnya juga melahirkan jiwa-jiwa pemberani. Jiwa-jiwa yang terbuka menerima segala tantangan termasuk mendobrak kebekuan dan kemapanan yang melenakan sehingga mampu melihat kemungkinan-kemungkinan baru. Seperti halnya tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang berani melawan ketidakadilan dan penindasan kolonialisme. Walaupun di ujung perlawanan dia kalah, tapi dia sudah menunaikan tugas suci kemanusiaannya, melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Dalam kaitan membentuk jiwa-jiwa merdeka, jiwa-jiwa pemberani dalam dunia pendidikan, menarik untuk merefleksi petikan sajak WS Rendra lainnya yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong”.

…………………….
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan
.


[1] https://www.kompas.com/edu/read/2022/02/18/153300371/-ini-3-keunggulan-kurikulum-merdeka-bagi-sekolah-guru-dan-murid-apa-saja-?page=all

[2] https://nasional.tempo.co/read/1283493/nadiem-makarim-merdeka-belajar-adalah-kemerdekaan-berpikir

[3] Kemendikbudristek menggunakan istilah projek, bukan proyek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikeluarkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbudristek, kata projek dinyatakan sebagai bentuk tidak baku dari kata proyek.

[4] https://kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum-merdeka/

Daftar Bacaan

  • Ismawati, Esti. 2013. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak
  • Kemdikbud. 2022. “Kurikulum Merdeka” dalam https://kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum-merdeka/.
  • Kompas.com. 2022. “Ini 3 Keunggulan Kurikulum Merdeka Bagi Sekolah, Guru, dan Murid. Spa Saja?” dalam https://www.kompas.com/edu/read/2022/02/18/153300371/-ini-3-keunggulan-kurikulum-merdeka-bagi-sekolah-guru-dan-murid-apa-saja-?page=all.  
  • Tempo.co. 2022. “Nadiem Makarim: Merdeka Belajar Adalah Kemerdekaan Berpikir” dalam https://nasional.tempo.co/read/1283493/nadiem-makarim-merdeka-belajar-adalah-kemerdekaan-berpikir.
  • Mahayana, Maman S. 2009. “Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah” dalam majalah Horison nomor XLIII/1/2009, halaman 23—30.
  • Rahmanto, B. 1993. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Rendra, WS. 1993. Potret Pembangunan dalam Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya
  • Sayuti, Suminto A. 2000. “Menuju Pendidikan dan Pengajaran Sastra yang Memerdekakan: Sekedar Catatan Pengantar” dalam majalah Sastra edisi November 2000, halaman 7-10.
  • Sayuti, Suminto A. 2002. “Sastra dalam Perspektif Pembelajaran: Beberapa Catatan” dalam Riris K. Toha Sarumpaet (ed.) Sastra Masuk Sekolah. Jakarta: Indonesia Tera
Tags: PendidikansastraUniversitas PGRI Mahadewa Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melamunkan Lamun dari Laut Bali Utara | Catatan Diskusi Angkringan Mula Keto

Next Post

Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co