2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
September 10, 2022
in Persona
Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Sekitar pukul sepuluh malam, saya dan Mekratingrum Hapsari (kerap disapa Mike) duduk berhadapan di meja resto sambil mengaduk teh hangat masing-masing. Kami ngobrol, setelah di pagi hari saya membisikinya: “Mbak Mike, nanti malam saya minta waktunya, ya, buat ngobrol.”

Perempuan dengan pembawaan diri yang tegas ini, dari awal pertemuan sebenarnya membuat saya tidak percaya diri untuk berbincang-bincang banyak hal. Takut canggung, takut kaku, takut nggak nyambung, dan takut-takut sejenisnya. Tapi nyatanya, malam itu, obrolan kami mengalir bahkan sampai tengah malam.

Mekratingrum Hapsari adalah salah satu koreografer muda asal Solo yang terpilih pada kegiatan Temu Seni Tari, serangkaian Indonesia Bertutur 2022, yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ia berkata bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kedua orang tuanya tidak memiliki darah seni. Namun, darah seni ternyata ada pada kedua kakaknya, yakni kakak pertama yang merupakan seorang pemusik dan kakak kedua yang merupakan seorang pengrajin kulit.

Mekratingrum Hapsari dalam Sesi Sharing Methode pada Temu Seni Tari 2022  

Ia sempat menekuni musik, berharap bisa seperti kakak pertamanya. Namun, walaupun ia berusaha mendalami dan mencintai musik, ia tetap merasa tidak berada di sana. Kehampaan dirasakannya, jauh berbeda dengan perasaan saat ia menari. Ketertarikannya terhadap tari tumbuh sedari ia kecil. Hingga pada ia menginjak bangku SMA, Mike akhirnya mengenal sebuah aliran tari yang berbeda yaitu, Hiphop. Sejak saat itulah, Mike menyadari bahwa Hiphop adalah aliran yang cocok dengan dirinya. Istilah gaulnya: Ini gue banget, Coy.

Mike menempuh pendidikan keseniannya di ISI Solo. Dijelaskan olehnya, bahwa seni tari yang ada di ISI Solo sangatlah kental oleh tari tradisi. Sambil nyengir kecil, ia mengatakan dengan jujur tentang nilainya yang kerap anjlok pada mata kuliah berbau tari tradisi. Ya, sekali lagi Mike mengatakan bahwa tubuhnya sudah terlanjur merasa nyaman dengan bentuk-bentuk gerak jenis Hiphop. Lebih jelasnya ia mengatkan bahwa ia suka kebebasan, dan tidak suka terikat oleh aturan-aturan dalam berkarya.

Sambil bergantian menyeruput teh hangat, saya kembali bertanya tentang isu yang ia pilih dalam penggarapan karyanya: “Teknologi sih. Aku lagi tertarik membahas teknologi,” sahutnya.

Mekratingrum Hapsari dan Peserta Temu Seni Tari Lainnya dalam Kegiatan Napak Tilas di Pura Samuan Tiga

Kemajuan teknologi yang ada, teryata menjadi daya tarik bagi Mike. Ia menyadari bagaimana kemajuan dan kemudahan yang diberikan dari perkembangan teknologi justru membuat lingkup gerak tubuh manusia menjadi sangat minim. Kebanyakan orang pada saat ini malah tidak memanfaatkan tubuhnya dengan maksimal, dan terlalu fokus terhadap apa pun yang menarik atensinya, semisal telepon genggam yang dimiliki hampir setiap orang.

Hal tersebut justru memberikan Mike sebuah pemikiran tentang bagaimana seharusnya kita “kembali ke rumah”. Rumah yang dimaksud di sini bukanlah rumah dengan makna denotasinya, melainkan rumah sebagai kesadaran untuk kembali pada diri kita sendiri; kembali menanyakan pada diri sendiri tentang memori-memori yang terpendam untuk lebih paham dan mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, apa yang kita mau, dan bagaimana harusnya memposisikan diri kita. Jawaban ini merupakan jawaban yang begitu dalam dari Mike bagi saya.

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Menciptakan karya dengan mengambil sebuah isu atau permasalahan yang tidak dialami oleh diri secara langsung, baginya adalah hal yang sangat sulit. Maka, hal tersebutlah yang membuatnya harus kembali ke pada diri sendiri. Karena bagi Mike, “Setiap orang memiliki sebuah perubahan masing-masing, lalu mengapa tidak kita resapi dan rasakan perubahan yang ada tersebut?” katanya.

    Saya semakin larut dalam obrolan. Saya tanyakan lagi karya-karya yang telah berhasil ia garap yang tentunya masih terkait dengan ketertarikan yang dijelaskan sebelumnya. Mike meminta ijin untuk menyulut rokoknya, kemudian melanjutkan obrolan dengan sangat tenang.

    “Aku sedang suka karya yang melibatkan partisipan. Bagi aku ini adalah hal yang baru, mungkin bagi yang lain tidak. Judulnya A Day To Remember.”

    Mike menceritakan bahwa karya ini adalah sebuah garapan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi partisipan untuk mengingat “pada satu hari tersebut”. Pada karya ini, ia berusaha mengadakan dua ruang: pertama, tentang bagaimana partisipan  menulis dan menjelaskan segala hal yang sudah terjadi di masa lampau dan yang diharapkan terjadi pada kehidupannya di masa mendatang. Kedua, memainkan imajinasi ketika melihat gerak yang dilakukannya ketika ia sudah membaca dan mengintepretasikan apa yang sudah dituliskan oleh partisipan. Secara impulsif, ide gerak itu muncul melalui apa yang ia rasakan melalui tulisan.

    Pertunjukan “A Day to Remember” oleh Mekratingrum Hapsari di Mandala Wisata, Desa Bedulu

    Semakin lama berproses, ternyata mampu menumbuhkan sebuah kesadaran untuk semakin bergerak dengan jujur; bergerak sesuai apa yang ingin dilakukan oleh diri, tidak memaksakan segala sesuatunya, dan berusaha memberikan makna yang lebih mendalam pada setiap gerakan. Gerak tidak lagi hanya sebatas mementingkan keindahan bentuk, tetapi juga lebih fokus pada narasi melalui pikiran yang matang. Hal inilah yang kini menjadi sebuah metode baru dalam proses kreatifnya: mengesampingkan sejenak tubuh yang sudah terbentuk, dan mulai belajar untuk mengasah otak secara perlahan melalui kekuatan narasi.

    Rosas Danst Rosas Company merupakan salah satu inspirasinya dalam menentukan metode latihan ketubuhan. Memiliki model gerak repetisi dengan pendekatan hiphop yang di dalamnya memainkan dinamika, juga permainan tempo yang membuat karyanya menjadi menarik, dan tidak membosankan walau dengan gerakan-gerakan pengulangan. Hal-hal lain yang memberikan sebuah pelajaran, tentang bagaimana mereka bernapas dengan jujur. Tidak menahan napas yang ada, dan memilih untuk mengeluarkan secara los dan menjadikan itu sebagai ritme pementasan—musik internal.

    Pertunjukan “Tanda Baca”, kolaborasi Mekratingrum Hapsari, Bathara Saverigadi, Puri Senja, dan Alisa Soelaeman (dari kiri ke kanan)

    Selain Rosas Danst Rosas, Mike juga menyebut Melati Suryodarmo, seniman performance art, sebagai orang yang sangat mempengaruhi proses kreatifnya selama ini. Melatilah yang menyadarkannya untuk “kembali ke tubuh” ketika ia merasa terjebak dalam ide yang ada. Berkarya memerlukan motivasi yang kuat, dan Melati Suryodarmo adalah salah seorang yang bisa membangkitkan motivasi Mike yang selama ini mengendap.

    Setelah cukup lamanya ngobrol tentang proses kreatifnya, saya pun pada akhirnya menanyakan tentang apa yang ingin dicapainya kini. Perempuan yang sedang sibuk sebagai nail artist itu berkata bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan keseniannya di jenjang S2.

    “Belajar itu lebih enak dari pada nyari uang. Tapi, untuk bisa belajar juga perlu uang terlebih dahulu. Jadi aku masih cari uang dulu sebagai nail artist. Selain bisa memenuhi kebutuhan finansialku, pekerjaan ini juga sekaligus sebagai proses pengalaman baru tubuhku untuk mungkin membuat hal-hal yang lainnya ke depannya.” [T]

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Tags: Indonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar

    Next Post

    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Dian Ayu Lestari

    Dian Ayu Lestari

    Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

    Related Posts

    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    by Yohana Purnama Fajar
    September 2, 2026
    0
    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    “Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

    Read moreDetails

    Rumah Kata di Jalan Nangka

    by Angga Wijaya
    July 9, 2026
    0
    Rumah Kata di Jalan Nangka

    SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

    Read moreDetails

    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    by Jaswanto
    June 24, 2026
    0
    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

    Read moreDetails

    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    0
    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

    Read moreDetails

    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    by Dede Putra Wiguna
    May 30, 2026
    0
    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

    Read moreDetails

    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    by I Gede Made Surya Darma
    May 22, 2026
    0
    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

    Read moreDetails

    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    by Nyoman Budarsana
    May 20, 2026
    0
    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

    Read moreDetails

    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    by Dede Putra Wiguna
    May 4, 2026
    0
    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

    Read moreDetails

    Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

    by Dede Putra Wiguna
    April 27, 2026
    0
    Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

    DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

    Read moreDetails

    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

    by Made Adnyana Ole
    April 21, 2026
    0
    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

    PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

    Read moreDetails
    Next Post
    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
    Esai

    Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

    KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

    by Vito Prasetyo
    October 2, 2026
    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
    Esai

    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

    Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

    by Ari Murdimanto
    October 2, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

    SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

    by Tri Nugroho Adi
    October 2, 2026
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
    Esai

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
    Khas

    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

    Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

    by Rusdy Ulu
    October 1, 2026
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
    Esai

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
    Panggung

    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

    PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
    Pop

    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

    ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Manusia Purba di Kota Denpasar
    Esai

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
    Khas

    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

    “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

    by Dede Putra Wiguna
    October 1, 2026
    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
    Olahraga

    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

    KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

    by Jaswanto
    October 1, 2026
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
    Esai

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co