2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampanye dan Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan [Sustainable Development Goals – SDGs] dengan Puisi

Emi Suy by Emi Suy
May 20, 2024
in Esai
Kampanye dan Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan [Sustainable Development Goals – SDGs] dengan Puisi

Riri Satria menyampaikan kuliah umum dengan topik “Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dengan Puisi”

Sustainable Development Goals (SDGs) dan Potret Pembangunan Kita

Konsep Millennium Development Goals (MDGs) telah berakhir tahun 2015 lalu. Maka agenda ke depan untuk melanjutkan MDGs dikembangkan suatu konsep baru dalam konteks pembangunan pasca-2015 yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs).

Konsep SDGs ini dicetuskan sebagai agenda pembangunan baru yang mengakomodasi semua perubahan yang terjadi pasca-2015, terutama berkaitan dengan perubahan situasi dunia sejak tahun 2000 mengenai isu-isu, seperti penipisan sumber daya alam, kerusakan lingkungan, perubahan iklim, perlindungan sosial, ketahanan pangan dan energi, dan pembangunan yang lebih berpihak pada kaum miskin. Sebagai kelanjutannya PBB mencanangkan Agenda SDGs 2030 yang merupakan komitmen global dan nasional dalam upaya untuk menyejahterakan masyarakat mencakup 17 tujuan dan sasaran global tahun 2030 yang dideklarasikan baik oleh negara maju maupun negara berkembang di Sidang Umum PBB pada September 2015 lalu.

SDGs 2030 merupakan agenda besar umat manusia untuk mencapai kemakmuran bersama di dunia pada tahun 2030, dan Indonesia pun sudah mulai memasukkannya dalam agenda pembangunan nasional. Visi Indonesia Emas 2045 memiliki empat pilar, khususnya terkait SDGs adalah pilar kedua, yaitu Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan. Bahkan Indonesia sudah memiliki dua dokumen penting, yaitu Peta Jalan SDGs Indonesia Menuju 2030, serta Pedoman Teknis Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan SDGs di Indonesia. Itulah sebabnya masyarakat harus turut aktif terlibat dalam SDGs ini karna Indonesia sangat serius menyikapi soal SDGs ini.

SDGs adalah program yang indikator-indikatornya ditentukan dan dinilai secara internasional, seperti misalnya, indeks demokrasi. Sebagai konsep yang kemudian dijadikan program kerja tentu bagus-bagus saja, tetapi sebagai kenyataan masih terbuka kemungkinan-kemungkinan terutama yang berkaitan dengan kebijakan langsung (tidak tertulis) atau keputusan politis yang membuat konsep dan program tersebut tidak lagi seindah pengertian dan indikator-indikator yang diharapkannya.

Permasalahan tersebut terjadi karena konsep dan program-program baik nasional maupun internasional masih diukur dengan standar kuantitatif (angka-angka statistik) dan tekstual belum sampai ke tahap yang kualitatif dan melampaui teks, artinya melihat kenyataan sebenarnya. Di sinilah menurut saya sastra berperan untuk menyuarakan yang kualitatif itu, menafsirkannya dan mengambil sikap kritis agar senantiasa keadilan bagi seluruh rakyat terus diperjuangkan dan tidak padam.

Konsep SDGs, sebenarnya ketika kita membaca dengan baik program itu, sungguh ada harapan yang mulia untuk kehidupan bersama. Tetapi siapa yang menjamin program itu benar-benar terjadi dan berhasil, ketika di sisi lain, seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, ada tangan-tangan besi dan perut-perut yang tidak pernah kenyang merampok kekayaan alam tanah air kita? Bahkan, kalau kita mau mengandalkan suara-suara kritis para guru besar atau tokoh-tokoh besar yang dulu turut menjadi aktor reformasi dan kini masih setia pada pemikiran demokrasi tetap tidak bisa menyentuh “telinga kekuasaan” itu, lalu kita bisa apa kecuali bersikap pesimis?

Kita boleh pesimis dan kita perlu khawatir bahkan harus terus cemas, bahwa kemungkinan program-program mulia itu tidak bisa sukses atau malah disabotese tangan-tangan politik yang tak bertanggung jawab dan masih tetap ada menunggu kapan “kue-kue kekuasaan” itu dibagi ke mereka atau dicurinya dengan paksa. Kita harus terus cemas agar semakin kreatif menyuarakan nilai-nilai yang baik untuk bangsa ini, apakah melalui sastra atau seni yang lain, apakah menggunakan pendekatan sosial ataukah psikologi, dan seterusnya.

Untuk mengawal sebuah program “mulia” yang tentu saja menyimpan potensi menjadi tidak semulia apa yang tertulis, kita membutuhkan jurnalisme yang kritis dan sastra yang terus mengajak agar kita memiliki kepekaan etis. Mengenai para jurnalis, tentu mereka rentan karena ada hubungan ekonomi politik dan kepentingan bisnis di sekitarnya, walaupun mereka bisa independen kemungkinan ketika kekuasaan merasa terancam bisa dilakukan “pembukaman” lagi.

Tentu saja ini senada dengan frasa terkenal yang pernah dicetuskan Seno Gumira Adjidarma sebagai judul buku, “ketika jurnalisme dibungkam sastra bicara”. Memang salah satu agen pemantau utama dari dalam dan juga luar adalah para jurnalis. Itulah sebenarnya yang pertama harus kita jaga, selagi kita juga bersuara lewat kanal-kanal sastra. Sebab, jika jurnalisme dipadamkan, sastra mungkin saja akan turut “diburu”, dan lagipula “suara sastra” seringkali lebih lama terdengar daripada suara berita. Meski begitu, kita tahu penyair WS Rendra pernah melakukan kritik habis-habisan kepada Orde Baru lewat pembacaan puisi langsung di pangungg dan lewat teater, tetapi pun Rendra pernah dicekal dan dilarang tampil.

Berita dan sastra sudah berbicara, tetapi seringkali kebijakan-kebijakan mengabaikan fakta-fakta yang telah ditangkap oleh jurnalis dan rasa yang ditangkap oleh para sastrawan. Alih-alih menerima masukan, kekuasaan seringkali menggunakan tangan besinya untuk membungkam para jurnalis, dengan berbagai cara. Bahkan, sering dengan “halus” membuat UU atau peraturan yang menygandung tentang “pembatasan kebebasan berekspresi” yang di permukaan terkesan “berwajah baik”. Inilah dilema cita-cita untuk rakyat yang berhadapan dengan kekuasaan yang tidak pernah kenyang, yang pejabatnya tidak selalu memedulikan nasib rakyat. Sungguh miris.

Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dalam salah satu misinya ingin menjadikan sastra (salah satunya puisi) sebagai pengawal pembangunan serta peradaban, termasuk mengajak para penyair dan pecinta puisi ikut serta mengawal SDGs 2030 melalui puisi. Puisi memiliki peran besar menggugah dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan dengan SDGs 2030.

Pembangunan Berkelanjutan dalam Puisi

Mari lupakan sejenak pengantar yang agak berbau politik tadi, dan kita berbicara sedikit tentang pentingnya sastra dalam mengawal pembangunan SDGs. Tentu, tidak bisa dibayangkan, saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kita hendak pengawal sesuatu yang kita tidak ada di dalamnya. Tapi, baiklah saya refleksikan sedikit, barangkali ada beberapa hal yang masih bisa membuat kita tetap optimis.

Kalau menengok ke belakang, sebenarnya sudah cukup banyak sastra, khususnya puisi, yang berbicara kritis tentang lingkungan. Sebutlah, misalnya, puisi-puisi Taufiq Ismail. Ada sajak beliau yang berjudul Membaca Tanda-Tanda, sajak itu jelas menggambarkan tentang alam yang rusak oleh kelakuan serakah manusia, atau sajak Air Kopi Menyiram Hutan, yang menceritakan tentang kebakaran hutan yang terus saja terjadi hingga kini.

Di tempat berbeda, ada WS Rendra yang menyuarakan masalah-masalah sosial-ekonomi menggunakan sajak-sajak pamfletnya, terutama yang terkenal kumpulan sajaknya Potret Pembangunan dalam Puisi. Walaupun mengalami banyak kritik dari rekan-rekan sastrawan, Rendra tetap yakin bahwa suara sajaknya penting untuk zaman itu. Sumber sajak-sajak pamflet WS Rendra banyak dari berita di koran-koran, artinya ada jurnalisme di balik sajak-sajaknya yang membimbing suaranya menjadi lantang.

Pada prosa kita mengenal ada Seno Gumira Adjidarma, yang dengan kumpulan cerpennya yang terkenal yaitu Penembak Misterius, mencoba mengungkapkan apa yang tidak dapat terungkap melalui berita. Dalam novel pun ada, misalnya, novel-novel Pramoedya Ananta Toer, atau yang terkini seperti Laila S. Chudlori, dan lainnya. Efek sastra itu tentu saja tidak terlihat secara kuantitatif, tetapi bisa jadi secara kualitatif membentuk mental pembacanya agar tetap kritis dan peka malah awas terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh kekuasaan.

Kembali ke SDGs, bagaimana kita turut membangun agar program ini bisa didukung dengan perilaku bukan hanya dengan kata-kata di atas kertas? Ke depan tentu saja kita perlu melakukan “kampanye sastra” agar karya-karya yang memiliki “suara kritis” baik terhadap kekuasaan, atau yang mengangkat masalah sosial-ekonomi, lingkungan, atau yang lainnya, kembali dibaca sehingga dapat memperkaya pengetahuan “rasa” kita dalam mengiringi perkembangan bangsa Indonesia menuju tahun emasnya. Karena hanya melalui jiwa-jiwa yang telah hiduplah (dihidupkan salah satunya melalui sastra), kemajuan Indonesia di masa depan bisa dikatakan berkualitas.

Tetapi, tentu saja kita harus insyaf, bahwa kita tidak perlu membebani sastra dengan tugas-tugas yang terlalu berat, sebab para pengarang untuk bertahan hidup saja sudah cukup susah di zaman digital seperti sekarang. Maka, untuk memperingan mengawal atau mengiring program SDGs, dalam rangka menyongsong kemajuan di depan, seperti disinggung di muka bahwa JSM mengajak kawan-kawan untuk berkarya, menuliskan puisinya tentang lingkungan dan seputar SDGs agar bisa dibukukan dan dibuatkan acara oleh kami. Tentu hal yang dilakukan ini masih tergolong usaha kecil-kecilan, tapi meski begitu menurut saya ini tetaplah penting.

Antologi yang mengangkat tema lingkungan bukanlah hal yang baru, dulu juga banyak dilakukan, meskipun tidak terpaku pada pengertian konsep SDGs, tetapi sudah cukup banyak. Para penyair yang menulis laut, hutan, gunung, kota yang kumuh, dst, itu membuktikan bahwa sebenarnya secara bawah sadar apa yang digagas dalam program SDGs sudah banyak ditangkap oleh para sastrawan dan penyair yang peka itu.

Memang di luar negeri tren mengumpulkan puisi atau prosa dalam tema-tema aktual terjadi hingga hari ini, bahkan yang berasal dari sumber lama. Contohnya sperti yang disampaikan oleh Riri Satria dalam kuliah umum yang beliau sampaikan bertajuk “Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dengan Puisi”, terdapat dua antologi terbaru yang bertema SDGs, satu adalah kumpulan haiku bertema SDGs yang terbit di Australia dan kedua antologi puisi bertema perubahan iklim terbit di India yang juga relevan dnegan SDGs. Dan telah diadakan pula even khusus mengawal SDGs, yaitu Slam Poetry di Australia, serta Young Poets di India, keduanya acara pembacaan sajak langsung di panggung. Artinya, SDGs sudah menjadi gerakan masal di dunia, baik melalui pendidikan, kebudayaan, kesenian, kesusastraan dan sebagainya.

Riri Satria menyampaikan kuliah umum dengan topik “Mengawal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dengan Puisi” dalam rangka menjalanka tradisi pribadi beliau yaitu memberikan kuliah gratis kepada publik – dalam hal ini para penyair – dalam rangka mentambut Hari Ulang Tahun beliau, yang tahun 2024 ini adalah yang ke-54.

Kuliah umum ini juga berujuan untuk menjelaskan kaitan SDGs dan puisi supaya para penyair mendapatkan wawasan mengenai buku antologi puisi dengan judul yang sama yang digagas oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia atau JSM, di mana Riri Satria adalah Ketua Komunitas JSM itu sendiri. Ternyata di samping seorang pakar teknologi dan transformasi digital yang akhir-akhir ini sering membahas kecerdasan buatan dan keamanan dunia siber, Riri Satria yang menabat sebagai Komisaris Utama PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PLD) serta Dosen Fakultas Ilmu Komputer Univrsitas Indonesia ini juga mendalami perilah pembangunan ekonomi berkelanjuan atau sustainable economic development.

Riri Satria juga menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai riset, ternyata puisi dapat dijadikan sebagai salah satu “pengawal” gerakan SDGs yang baik melalui edukasi. Sebuah jurnal berjudul Poetry As A Valuable Tool For Climate Change Education For Global Sustainability meneelaskan hal itu. Ini berarti puisi bisa berperan aktif dan efektif jika didengarkan oleh para pemangku kebijakan, dan tentu jika turut didorong oleh kesadaran rakyat banyak, akan mendatangkan manfaat yang baik dalam menyukseskan program SDGs di Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Ini jugalah yang ingin dilakukan oleh komunitas kami, yaitu membuat buku antologi puisi, dan kemudian nanti dibuatkan acara yang mana para penyair bisa membacakan sajak-sajaknya yang telah termuat dalam buku tersebut. Program yang dilakukan komunitas JSM salah satu misinya adalah ingin menjadikan sastra (salah satunya puisi) sebagai pengawal Pembangungan Berkelanjutan atau SDGs. Ini adalah suatu bentuk kepedulian kami agar “suara” tentang keadilan dan moral tetap terjaga, agar nilai-nilai berbangsa kita tidak mudah dirusak oleh mereka yang tidak pernah berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Kita harus optimis membangun dari dalam, dari jiwa, dalam puisi dan dengan puisi turut berperan menumbuhkan mental-mental berani “bersuara” yang akan tidak hanya berkata-kata, tetapi mewujudkannya dalam keseharian baik itu dengan hal-hal kecil, seperti peduli lingkungan, menjaga kebersihan, sampai aktivisme lingkungan yang berbasis komunitas. Walaupun di sisi lain, kita tahu, potret pembangunan kita selalu masih saja terancam berbuat “tidak adil” kepada rakyat, tapi kita (penyair) harus terus bersuara (terutama dengan puisi) bersama para jurnalis sampai kekuasaan sebagai wakil bangsa Indonesia bisa insyaf dan seterusnya melaksanakan program-program mulia sepenuh hati dan jiwa. Salam. [T]

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: Emi Suypembangunan berkelanjutanPuisiRiri SatriaSustainable Development Goals
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Dikatakan Mata-Mata Itu? –Catatan Pameran Fotografi di Gutuhaus, Tulungagung

Next Post

“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co