2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
September 8, 2024
in Ulas Buku
“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali

Buku " Ngetelang Geth Kaang Putih" karya Ni Putu Ayu Suaningsih

SEBAGAI orang Bali yang belum pernah malali ke Nusa Penida, saya merasa beruntung bisa menghirup aroma kehidupan Nusa Penida melalui buku kumpulan cerpen Ngetelang Getih Kaang Putih karya Ni Putu Ayu Suaningsih, atau yang akrab disapa Ayus. Ayus berhasil membawa saya masuk ke dalam suasana kehidupan masyarakat Nusa Penida yang dihadirkan dalam berbagai cerita berlatar masa dan konflik yang berbeda. Dari penggunaan bahasa khas Nusa hingga pengkarakteran manusia Nusa Penida, saya seolah merasakan pengalaman nyata berada di pulau tersebut, meski di sisi lain dari Nusa Penida yang saat ini sangat maju dengan pariwisatanya.

Buku ini, yang berhasil meraih juara 1 dalam Sayembara Gerip Maurip Tahun 2024, terdiri dari sembilan cerita pendek berbahasa Bali yang seluruhnya mengambil latar di Nusa Penida. Penggunaan bahasa Bali khas Nusa dalam dialog memberikan ciri khas yang membedakan karya ini dari kumpulan cerpen lainnya. Kekuatan buku ini terletak pada penggambaran yang detail dan otentik, baik dari segi bahasa maupun suasana yang dihadirkan.

Sebagai seorang guru Bahasa Bali, membaca karya yang telah diakui dalam sayembara prestisius ini membuat saya berpikir: bagaimana buku ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan ajar di kelas?

Ada beberapa keunggulan buku ini yang sangat relevan untuk pembelajaran menulis cerpen berbahasa Bali. Pertama, penggunaan bahasa kepara (bahasa Bali sehari-hari) dalam semua cerpen membuat karya ini mudah diakses oleh siswa. Sering kali, siswa merasa canggung atau takut ketika dihadapkan dengan sastra berbahasa Bali yang menggunakan bahasa alus. Namun, Ayus dengan cermat menggunakan bahasa kepara, membuat cerita-cerita ini terasa alami dan dekat dengan pembaca muda. Hal ini juga didukung oleh Ketut Sugiartha, salah satu juri sayembara, dengan turut menggunakan bahasa kepara dalam pengantar buku ini.

Penggunaan bahasa kepara membuat buku ini layak dijadikan pintu masuk bagi siswa untuk mengenal sastra Bali modern. Diksi yang dipilih Ayus konsisten pada ranah kepara, dan ini memudahkan siswa yang mungkin merasa asing dan bahkan phopia dengan bahasa alus. Ini adalah langkah positif dalam memperkenalkan sastra Bali kepada generasi muda, terlebih melalui cerpen Liang Galang Makolang yang mengangkat tema depresi remaja yang terasa sangat relate dengan kehidupan generasi muda.

Selain itu, penggunaan dialek Nusa dalam dialog adalah aspek lain yang menjadikan buku ini unik. Kata-kata seperti “eda,” “kola,” dan “tara” memberikan warna lokal yang otentik tanpa mengganggu pemahaman pembaca terhadap isi cerita. Dalam konteks pembelajaran, siswa dapat mempelajari bagaimana dialek daerah digunakan secara tepat dan kontekstual dalam karya sastra. Kita menanti terbitnya karya-karya sastra Bali yang menggunakan dialek lokal seperti dialek Bali Aga, dialek negara, atau mungkin dialek Tabanan yang ditulis sesuai pelafalannya.

Ayus juga menunjukkan keahliannya dalam menggunakan paribasa Bali yang sesuai dengan konteks cerita, seperti penggunaan sesonggan dalam kutipan berikut:

“Dawa papahé, liu slépané. Kola tuanan kading éda, kola ané liunan nawang tekén éda” (Punyan Pule, halaman 18).

“Liunan krébék kéwala tusing ada ujan. Munyiné gén liu, dini ditu ngutang munyi, kéwala tusing ada dadi duduk, tusing ada apa” (Punyan Pule, halaman 20).

Hal ini bisa menjadi contoh yang baik dalam pembelajaran penggunaan paribasa Bali dalam menulis.

Penggunaan paribasa berupa sesawangan dan pepindan juga dimanfaatkan Ayus dalam deskripsi tokoh, seperti pada kutipan berikut.

Anak luh mabok sosoh mawarna gading, pangadegné langsing lanjar tur mabatis meling padi ento majalan…. (Kulit Tipat, halaman 1)

Alisné madon intaran, giginné matun semangka, jrijinné kadi pusuh bakung, yén majalan sada matayungan kadi busungé amputang. Bangkiangné acekel gonda layu maimbuh nyonyoné ané kadi nyuh gading kembar. Lemuh sajan mula pajalanné Luh Suri. Sledétanné galak nyak saling isinin tekén manis kenyemné. (Punyan Pule, halaman 19)

Tak hanya sampai disana, bebladbadan juga dimanfaatkan Ayus untuk mempercatik narasi cerpennya. Sok uék pedemang cicing, lelawahé kena tepis, nyaka jelék nyaka tusing, ngulahé maan pipis (Nyilapin Pipis Kelangan Kasugihan, halaman 37) sebagai salah satu contoh penggunaan yang tepat.

Selain kekuatan bahasa, deskripsi latar tempat dalam buku ini juga sangat menonjol. Ayus berhasil menggambarkan Nusa Penida yang tandus, kering, dan berbatu, sehingga pembaca seolah-olah bisa merasakan langsung kondisi geografis dan tantangan hidup di sana. Deskripsi seperti “Cara biasané, gumi Nusa Gedé satata kebus buka dusdus andus ané makebius uli bungut paoné” (Punyan Pule, halaman 17) memperkuat suasana yang terbangun dalam cerita.

Dalam pembelajaran penulisan cerpen, buku ini juga bisa menjadi referensi dalam mengajarkan berbagai teknik naratif. Ayus kerap menggunakan alur maju-mundur, memberikan cuplikan awal yang kemudian terjawab di bagian akhir cerita. Contohnya, dalam cerpen Kulit Tipat, cerita dimulai dengan kenangan Men Dangin yang akhirnya diselesaikan dengan pesan karma phala di bagian penutup. Teknik yang serupa digunakan pada sebagian besar cerpen lain untuk memberi rasa penasaran pada awal cerpen.

Tidak hanya itu, permainan sudut pandang yang digunakan Ayus juga menarik. Beberapa cerpen seperti Punyan Pule dan Ngalap Tresnan Punyan Nyuh menampilkan perspektif dari sudut pandang pohon, serta Nyilapin Pipis Kelangan Kasugihan menampilkan sudut pandang batu karang, yang bukan hanya menawarkan keunikan tetapi juga memperkaya imajinasi pembaca. Sudut pandang orang pertama dari objek non-manusia ini bisa menjadi referensi menarik bagi siswa dalam eksplorasi kreatif penulisan mereka.

Meskipun demikian, ada beberapa kekurangan minor dalam buku ini. Seperti kegagalan logika waktu dalam cerpen Kulit Tipat, di mana ada adegan yang melibatkan mobil Alphard yang tampaknya tidak sesuai dengan latar waktu yang dihadirkan, kesalahan penggunaan kata sunari dalam cerpen Kala, Kali, Kalu yang dimaknai sebagai pindekan, atau pemilihan diksi ngemaang nawang sebagai terjemahan ‘memberi tahu’ yang harusnya bisa diganti dengan kata ngorahin. Namun, kesalahan ini tidak mengurangi kualitas keseluruhan buku.

Secara keseluruhan, Ngetelang Getih Kaang Putih adalah karya yang sangat layak digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran menulis cerpen berbahasa Bali. Dengan keunikan bahasa, kekuatan deskripsi, dan teknik penceritaan yang kaya, buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang kehidupan Nusa Penida tetapi juga membuka peluang pembelajaran yang kreatif dan menarik bagi siswa. Jadi, mari belajar menulis cerpen sambil malali ke Nusa Penida melalui buku ini! [T]

  • Artikel ini disampaikan dalam acara bedah buku serangkaian Festival Sastra Bali Modern yang diadakan Suara Saking Bali di kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Minggu, 8 September 2024
Menyayangi Diri, Menyayangi Bali | Ulasan Buku Kumpulan Puisi “Ngiring Sayang-Manyayangin” Karya I Made Suarsa
Perihal Betapa Gagah dan Kece Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia
Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”
Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
Tags: Festival Sastra Bali ModernFestival Sastra Bali Modern 2024sastra balisastra bali modernSuara Saking Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Haru Lansia dalam Program “Ngejot” HMPS Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Next Post

Di Puncak Tegeh Buhu  

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Di Puncak Tegeh Buhu  

Di Puncak Tegeh Buhu  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co