6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

I Putu Supartika by I Putu Supartika
May 17, 2021
in Esai
Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

Ilustrasi diolah dari salah satu gambar sampul Suara Saking Bali

Ini bermula dari sebuah obrolan di depan Indomaret pada sebuah SPBU di jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar. Dari tiga minuman dingin dan dua bungkus makanan ringan berbahan kentang, dua orang pendekar sastra Bali modern dari Klungkung yakni Komang Adnyana, dan dari Tabanan, yakni I Gede Putra Ariawan, berbicara tentang masa depan sastra Bali modern.

Sebuah obrolan dengan tema berat yang akan membuat seseorang yang mendengar akan berkata, “puih, jeg top,” dengan bentuk mulut yang unik dimulai dari munju, kemudian mengembang dan diakhiri dengan munju.

Di tengah-tengah obrolan tentang masa depan sastra Bali modern, terselip juga pembicaraan tentang per-CPNS-an, guru penggerak, investasi masa depan, kegilaan-kegilaan yang mesti dipertahankan dan diluluhkan, pariwisata, kapal pesiar, murid nakal, Albert Einstein, guru honorer yang mengabdi belasan tahun, perbedaan PNS dengan pegawai Indomaret hingga uang untuk beli susu anak.

Obrolan dimulai dengan urgensi penerbitan terjemahan sastra Bali modern ke bahasa Indonesia, sebagaimana yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali tahun ini, juga terjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Bali hingga sastra asing ke bahasa Bali.

Komang Adnyana mengaku kesulitan menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Bali karena terbentur hak cipta, sehingga ia kini pilih-pilih dengan menerjemahkan karya yang hak ciptanya telah kedaluwarsa.

Namun secara prinsip, mereka menyambut baik adanya penerjemahan asal penyebarannya merata dan bisa dinikmati oleh semua lapisan utamanya bagi siswa-siswi di sekolah yang merupakan penerus bangsa yang harus tumbuh dengan otak cemerlang dan gemilang. Pembicaraan tentang itu ditutup, berlalu dan beralih ke topik lain.

Kemudian obrolan berlanjut dengan pembahasan sastra Bali modern saat ini. Menurut mereka, SBM mulai memasuki masa titik jenuh. Beberapa pengarang yang sempat produktif perlahan mulai kendor karena berbagai alasan, mulai dari urusan keluarga, fokus bekerja bahkan ada yang tak menulis karena alasan laptop rusak.

Alasan yang terakhir sebenarnya alasan yang tak masuk akal dan hanya dibuat oleh orang-orang malas seperti penulis tulisan ini. Masak seorang penulis tak menulis lagi hanya karena laptopnya rusak. Padahal ia bisa saja menulis di atas selembar kertas sebagaimana salah satu hakikat dari menulis, dan nantinya diketik ulang di laptop jika laptopnya sudah baik kembali.

Selain itu, penyebaran karya sastra Bali modern mutakhir juga tak merata. Hanya dinikmati oleh lingkaran-lingkaran itu saja layaknya bagi-bagi jabatan. Putra Ariawan kemudian nyeletuk jika lewat guru penggerak semua itu akan bisa teratasi karena guru penggerak merupakan guru haluan kiri yang tak mengikuti skema yang njelimet.

Komang Adnyana lalu menyela dan mengatakan jika penulis sastra Bali modern saat ini sedang “onani”. Penulis memikirkan ide, menggarapnya, mengumpulkannya, menerbitkannya, lalu merasakan kenikmatan sendiri lalu orgasme.

“Itulah onani yang sesungguhnya, karena ujungnya adalah kenikmatan!” Putra Ariawan menambahinya.

Saat sedang asik dengan kata-kata onani, Komang Adnyana menambahkan seharusnya penulis sastra Bali mutakhir tak hanya bisa “onani”, tapi juga harus bisa “memperkosa” agar penulis tidak hanya sibuk menikmati miliknya sendiri, tapi juga bisa menikmati milik orang lain. Itulah sebenarnya masa depan sastra Bali modern, yaitu bisa “memperkosa”.

Artinya, ia juga bisa melakukan “penetrasi” ke lubang-lubang sastra di luar sastra Bali modern, semisal sastra Indonesia modern, bahkan sastra dunia. Mungkin itu bisa dilakukan lewat penerjemahan. Jadi, selain melakukan terjemahan sastra Bali modern ke dalam Bahasa Indonesia, penting juga dilakukan sebaliknya; sastra dunia diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali. Ini bentuk “pemerkosaan” yang paling top.

BACA JUGA:

  • Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang
  • Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Pernyataan penulis sastra Bali modern harus bisa “memperkosa” ini tentu saja mendapat sambutan yang meriah dari para audiens yang hadir selain Putra Ariawan dan penulis, di antaranya hadir juga tukang sapu dari alam semut 2 ekor, cicak yang baru dilantik jadi gubernur 1 ekor, 5 butir debu kepanasan, preman pasar perwakilan kaum nyamuk yang sudah jadi anggota dewan 10 ekor, serta 2 orang makhluk halus yang memiliki kulit kasar. Mereka semua bersahutan saling berlomba mengatakan: setuju!

Tetapi, secara logika hal ini tentu saja benar, karena selama ini karya dari penulis sastra mutakhir kalah tenar dengan karya pendahulunya dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sastra Bali modern, melainkan juga (mungkin) untuk karya sastra lainnya. Bahkan jika guru di sekolah bertanya kepada muridnya siapa itu Putra Ariawan dan Komang Adnyana, siswa akan kilang-kileng dan mungkin akan menjawab bahwa Putra Ariawan adalah seorang pegawai PDAM karena setiap bulan pegawai PDAM yang bernama Putra Ariawan itu sering datang ke rumahnya untuk meminta tagihan air.

Dan hal ini akan memiliki cerita yang berbeda jika guru tersebut menanyakan sosok Nyoman Manda, Made Sanggra, atau Gede Srawana kepada muridnya. Tentunya satu dua orang yang setidaknya pernah membuka LKS yang digunakan sebagai pegangan dalam pembelajaran akan tahu.

Ini adalah masalah yang serius, maka harus dijadikan sesuatu yang serius dan jangan dianggap bercandaan. Oleh sebab itu, mulai sekarang, penulis sastra Bali modern seharusnya tak hanya puas dengan “onani”, namun harus mulai belajar “memperkosa”. Mungkin bisa dimulai dengan pelajaran menaikkan rok. Demikian.

Nah itulah sedikit catatan singkat atau sejenis notulen dari rapat panitia super kecil yang dibentuk dan dibubarkan di depan Indomaret. Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Ada tambahan lagi?

Isi pulsanya sekalian?

Ada uang pas?

Kembaliannya mau disumbangkan? [T]

  • Baca artikel terkait Sastra Bali Modern dan artikel dari Putu Supartika lainnya

Tags: Bahasa Balibalisastrasastra balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Next Post

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co