26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

I Putu Supartika by I Putu Supartika
May 17, 2021
in Esai
Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

Ilustrasi diolah dari salah satu gambar sampul Suara Saking Bali

Ini bermula dari sebuah obrolan di depan Indomaret pada sebuah SPBU di jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar. Dari tiga minuman dingin dan dua bungkus makanan ringan berbahan kentang, dua orang pendekar sastra Bali modern dari Klungkung yakni Komang Adnyana, dan dari Tabanan, yakni I Gede Putra Ariawan, berbicara tentang masa depan sastra Bali modern.

Sebuah obrolan dengan tema berat yang akan membuat seseorang yang mendengar akan berkata, “puih, jeg top,” dengan bentuk mulut yang unik dimulai dari munju, kemudian mengembang dan diakhiri dengan munju.

Di tengah-tengah obrolan tentang masa depan sastra Bali modern, terselip juga pembicaraan tentang per-CPNS-an, guru penggerak, investasi masa depan, kegilaan-kegilaan yang mesti dipertahankan dan diluluhkan, pariwisata, kapal pesiar, murid nakal, Albert Einstein, guru honorer yang mengabdi belasan tahun, perbedaan PNS dengan pegawai Indomaret hingga uang untuk beli susu anak.

Obrolan dimulai dengan urgensi penerbitan terjemahan sastra Bali modern ke bahasa Indonesia, sebagaimana yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali tahun ini, juga terjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Bali hingga sastra asing ke bahasa Bali.

Komang Adnyana mengaku kesulitan menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Bali karena terbentur hak cipta, sehingga ia kini pilih-pilih dengan menerjemahkan karya yang hak ciptanya telah kedaluwarsa.

Namun secara prinsip, mereka menyambut baik adanya penerjemahan asal penyebarannya merata dan bisa dinikmati oleh semua lapisan utamanya bagi siswa-siswi di sekolah yang merupakan penerus bangsa yang harus tumbuh dengan otak cemerlang dan gemilang. Pembicaraan tentang itu ditutup, berlalu dan beralih ke topik lain.

Kemudian obrolan berlanjut dengan pembahasan sastra Bali modern saat ini. Menurut mereka, SBM mulai memasuki masa titik jenuh. Beberapa pengarang yang sempat produktif perlahan mulai kendor karena berbagai alasan, mulai dari urusan keluarga, fokus bekerja bahkan ada yang tak menulis karena alasan laptop rusak.

Alasan yang terakhir sebenarnya alasan yang tak masuk akal dan hanya dibuat oleh orang-orang malas seperti penulis tulisan ini. Masak seorang penulis tak menulis lagi hanya karena laptopnya rusak. Padahal ia bisa saja menulis di atas selembar kertas sebagaimana salah satu hakikat dari menulis, dan nantinya diketik ulang di laptop jika laptopnya sudah baik kembali.

Selain itu, penyebaran karya sastra Bali modern mutakhir juga tak merata. Hanya dinikmati oleh lingkaran-lingkaran itu saja layaknya bagi-bagi jabatan. Putra Ariawan kemudian nyeletuk jika lewat guru penggerak semua itu akan bisa teratasi karena guru penggerak merupakan guru haluan kiri yang tak mengikuti skema yang njelimet.

Komang Adnyana lalu menyela dan mengatakan jika penulis sastra Bali modern saat ini sedang “onani”. Penulis memikirkan ide, menggarapnya, mengumpulkannya, menerbitkannya, lalu merasakan kenikmatan sendiri lalu orgasme.

“Itulah onani yang sesungguhnya, karena ujungnya adalah kenikmatan!” Putra Ariawan menambahinya.

Saat sedang asik dengan kata-kata onani, Komang Adnyana menambahkan seharusnya penulis sastra Bali mutakhir tak hanya bisa “onani”, tapi juga harus bisa “memperkosa” agar penulis tidak hanya sibuk menikmati miliknya sendiri, tapi juga bisa menikmati milik orang lain. Itulah sebenarnya masa depan sastra Bali modern, yaitu bisa “memperkosa”.

Artinya, ia juga bisa melakukan “penetrasi” ke lubang-lubang sastra di luar sastra Bali modern, semisal sastra Indonesia modern, bahkan sastra dunia. Mungkin itu bisa dilakukan lewat penerjemahan. Jadi, selain melakukan terjemahan sastra Bali modern ke dalam Bahasa Indonesia, penting juga dilakukan sebaliknya; sastra dunia diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali. Ini bentuk “pemerkosaan” yang paling top.

BACA JUGA:

  • Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang
  • Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Pernyataan penulis sastra Bali modern harus bisa “memperkosa” ini tentu saja mendapat sambutan yang meriah dari para audiens yang hadir selain Putra Ariawan dan penulis, di antaranya hadir juga tukang sapu dari alam semut 2 ekor, cicak yang baru dilantik jadi gubernur 1 ekor, 5 butir debu kepanasan, preman pasar perwakilan kaum nyamuk yang sudah jadi anggota dewan 10 ekor, serta 2 orang makhluk halus yang memiliki kulit kasar. Mereka semua bersahutan saling berlomba mengatakan: setuju!

Tetapi, secara logika hal ini tentu saja benar, karena selama ini karya dari penulis sastra mutakhir kalah tenar dengan karya pendahulunya dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sastra Bali modern, melainkan juga (mungkin) untuk karya sastra lainnya. Bahkan jika guru di sekolah bertanya kepada muridnya siapa itu Putra Ariawan dan Komang Adnyana, siswa akan kilang-kileng dan mungkin akan menjawab bahwa Putra Ariawan adalah seorang pegawai PDAM karena setiap bulan pegawai PDAM yang bernama Putra Ariawan itu sering datang ke rumahnya untuk meminta tagihan air.

Dan hal ini akan memiliki cerita yang berbeda jika guru tersebut menanyakan sosok Nyoman Manda, Made Sanggra, atau Gede Srawana kepada muridnya. Tentunya satu dua orang yang setidaknya pernah membuka LKS yang digunakan sebagai pegangan dalam pembelajaran akan tahu.

Ini adalah masalah yang serius, maka harus dijadikan sesuatu yang serius dan jangan dianggap bercandaan. Oleh sebab itu, mulai sekarang, penulis sastra Bali modern seharusnya tak hanya puas dengan “onani”, namun harus mulai belajar “memperkosa”. Mungkin bisa dimulai dengan pelajaran menaikkan rok. Demikian.

Nah itulah sedikit catatan singkat atau sejenis notulen dari rapat panitia super kecil yang dibentuk dan dibubarkan di depan Indomaret. Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Ada tambahan lagi?

Isi pulsanya sekalian?

Ada uang pas?

Kembaliannya mau disumbangkan? [T]

  • Baca artikel terkait Sastra Bali Modern dan artikel dari Putu Supartika lainnya

Tags: Bahasa Balibalisastrasastra balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Next Post

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co