15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

I Putu Supartika by I Putu Supartika
May 17, 2021
in Esai
Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

Ilustrasi diolah dari salah satu gambar sampul Suara Saking Bali

Ini bermula dari sebuah obrolan di depan Indomaret pada sebuah SPBU di jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar. Dari tiga minuman dingin dan dua bungkus makanan ringan berbahan kentang, dua orang pendekar sastra Bali modern dari Klungkung yakni Komang Adnyana, dan dari Tabanan, yakni I Gede Putra Ariawan, berbicara tentang masa depan sastra Bali modern.

Sebuah obrolan dengan tema berat yang akan membuat seseorang yang mendengar akan berkata, “puih, jeg top,” dengan bentuk mulut yang unik dimulai dari munju, kemudian mengembang dan diakhiri dengan munju.

Di tengah-tengah obrolan tentang masa depan sastra Bali modern, terselip juga pembicaraan tentang per-CPNS-an, guru penggerak, investasi masa depan, kegilaan-kegilaan yang mesti dipertahankan dan diluluhkan, pariwisata, kapal pesiar, murid nakal, Albert Einstein, guru honorer yang mengabdi belasan tahun, perbedaan PNS dengan pegawai Indomaret hingga uang untuk beli susu anak.

Obrolan dimulai dengan urgensi penerbitan terjemahan sastra Bali modern ke bahasa Indonesia, sebagaimana yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali tahun ini, juga terjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Bali hingga sastra asing ke bahasa Bali.

Komang Adnyana mengaku kesulitan menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Bali karena terbentur hak cipta, sehingga ia kini pilih-pilih dengan menerjemahkan karya yang hak ciptanya telah kedaluwarsa.

Namun secara prinsip, mereka menyambut baik adanya penerjemahan asal penyebarannya merata dan bisa dinikmati oleh semua lapisan utamanya bagi siswa-siswi di sekolah yang merupakan penerus bangsa yang harus tumbuh dengan otak cemerlang dan gemilang. Pembicaraan tentang itu ditutup, berlalu dan beralih ke topik lain.

Kemudian obrolan berlanjut dengan pembahasan sastra Bali modern saat ini. Menurut mereka, SBM mulai memasuki masa titik jenuh. Beberapa pengarang yang sempat produktif perlahan mulai kendor karena berbagai alasan, mulai dari urusan keluarga, fokus bekerja bahkan ada yang tak menulis karena alasan laptop rusak.

Alasan yang terakhir sebenarnya alasan yang tak masuk akal dan hanya dibuat oleh orang-orang malas seperti penulis tulisan ini. Masak seorang penulis tak menulis lagi hanya karena laptopnya rusak. Padahal ia bisa saja menulis di atas selembar kertas sebagaimana salah satu hakikat dari menulis, dan nantinya diketik ulang di laptop jika laptopnya sudah baik kembali.

Selain itu, penyebaran karya sastra Bali modern mutakhir juga tak merata. Hanya dinikmati oleh lingkaran-lingkaran itu saja layaknya bagi-bagi jabatan. Putra Ariawan kemudian nyeletuk jika lewat guru penggerak semua itu akan bisa teratasi karena guru penggerak merupakan guru haluan kiri yang tak mengikuti skema yang njelimet.

Komang Adnyana lalu menyela dan mengatakan jika penulis sastra Bali modern saat ini sedang “onani”. Penulis memikirkan ide, menggarapnya, mengumpulkannya, menerbitkannya, lalu merasakan kenikmatan sendiri lalu orgasme.

“Itulah onani yang sesungguhnya, karena ujungnya adalah kenikmatan!” Putra Ariawan menambahinya.

Saat sedang asik dengan kata-kata onani, Komang Adnyana menambahkan seharusnya penulis sastra Bali mutakhir tak hanya bisa “onani”, tapi juga harus bisa “memperkosa” agar penulis tidak hanya sibuk menikmati miliknya sendiri, tapi juga bisa menikmati milik orang lain. Itulah sebenarnya masa depan sastra Bali modern, yaitu bisa “memperkosa”.

Artinya, ia juga bisa melakukan “penetrasi” ke lubang-lubang sastra di luar sastra Bali modern, semisal sastra Indonesia modern, bahkan sastra dunia. Mungkin itu bisa dilakukan lewat penerjemahan. Jadi, selain melakukan terjemahan sastra Bali modern ke dalam Bahasa Indonesia, penting juga dilakukan sebaliknya; sastra dunia diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali. Ini bentuk “pemerkosaan” yang paling top.

BACA JUGA:

  • Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang
  • Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Pernyataan penulis sastra Bali modern harus bisa “memperkosa” ini tentu saja mendapat sambutan yang meriah dari para audiens yang hadir selain Putra Ariawan dan penulis, di antaranya hadir juga tukang sapu dari alam semut 2 ekor, cicak yang baru dilantik jadi gubernur 1 ekor, 5 butir debu kepanasan, preman pasar perwakilan kaum nyamuk yang sudah jadi anggota dewan 10 ekor, serta 2 orang makhluk halus yang memiliki kulit kasar. Mereka semua bersahutan saling berlomba mengatakan: setuju!

Tetapi, secara logika hal ini tentu saja benar, karena selama ini karya dari penulis sastra mutakhir kalah tenar dengan karya pendahulunya dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sastra Bali modern, melainkan juga (mungkin) untuk karya sastra lainnya. Bahkan jika guru di sekolah bertanya kepada muridnya siapa itu Putra Ariawan dan Komang Adnyana, siswa akan kilang-kileng dan mungkin akan menjawab bahwa Putra Ariawan adalah seorang pegawai PDAM karena setiap bulan pegawai PDAM yang bernama Putra Ariawan itu sering datang ke rumahnya untuk meminta tagihan air.

Dan hal ini akan memiliki cerita yang berbeda jika guru tersebut menanyakan sosok Nyoman Manda, Made Sanggra, atau Gede Srawana kepada muridnya. Tentunya satu dua orang yang setidaknya pernah membuka LKS yang digunakan sebagai pegangan dalam pembelajaran akan tahu.

Ini adalah masalah yang serius, maka harus dijadikan sesuatu yang serius dan jangan dianggap bercandaan. Oleh sebab itu, mulai sekarang, penulis sastra Bali modern seharusnya tak hanya puas dengan “onani”, namun harus mulai belajar “memperkosa”. Mungkin bisa dimulai dengan pelajaran menaikkan rok. Demikian.

Nah itulah sedikit catatan singkat atau sejenis notulen dari rapat panitia super kecil yang dibentuk dan dibubarkan di depan Indomaret. Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Ada tambahan lagi?

Isi pulsanya sekalian?

Ada uang pas?

Kembaliannya mau disumbangkan? [T]

  • Baca artikel terkait Sastra Bali Modern dan artikel dari Putu Supartika lainnya

Tags: Bahasa Balibalisastrasastra balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Next Post

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co