12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Gading Ganesha by Gading Ganesha
May 17, 2021
in Khas
Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Tiga perempuan relawan di Bank Sampah Galang Panji | Foto: Dok Bank Sampah Galang Panji

Perempuan mahasiswa magang di bank umum – dalam artian bank yang mengelola uang, sepertinya sudah biasa. Ini ada tiga perempuan menjadi relawan di bank sampah, tepatnya di Bank Sampah Galang Panji, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.

Tiga perempuan itu tentu saja tak berkantor si sebuah bank yang bangunannya mewah dengan AC yang sejuk dan meja mengkilap. Mereka bukan pula berpakaian seragam dengan jas rapi, serta setiap hari mesti menggunakan parfum yang harum semerbak.

Tiga perempuan itu berkantor di sebuah kantor biasa-biasa saja dengan pakaian biasa-biasa saja, tentu tanpa parfum semerbak. Bau tubuhnya sejuk alami. Senyumnya pun sangat manis dan alami. Tidak dibuat-buat.

Tiga perempuan itu; Gusti Vica Tunastini, Putu Wulan Libriani, dan Kadek Seni. Ketiganya adalah gadis asli Desa Panji. Mereka bergabung untuk menjadi relawan di Bank Sampah Galang Panji, sebuah bank sampah yang sedang berdiri 7 tahun lalu, dan kini makin bergerak maju dan profesional.

Dengan bergabungnya tiga gadis relawan itu, tampaknya relawan Bank Sampah Galang Panji yang sebelumnya berjumlah 6 orang, dan semuanya laki-laki, akan lebih sering tersenyum. Tentu karena bank sampah itu saban hari bakal dipenuhi senyum manis tiga perempuan.

Gusti Vica Tunastini

Gusti Vica Tunastini

Yang pertama bergabung menjadi relawan Bank Sampah Galang Panji adalah Gusti Vica Tunastini,  Perempuan kelahiran tahun 2000 ini tinggal di Banjar Dinas Dauh Pura, Desa Panji,  Perempuan yang akrab dipanggil Vica ini sebelumnya, selama sekitar dua tahun, 2019-2020, aktif sebagai Pengurus Kopma Citra Dana Undiksha yang salah satunya juga mengelola bank sampah.

Kini ia masih terdaftar sebagai mahasiswi Semester 6 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Undiksha. Sesuai pendidikannya, ia memang suka belajar manajemen. Dan manajemen bukan melulu soal uang kecil menjadi uang besar, melainkan bisa juga soal sampah menjadi uang besar.

Kenapa tertarik dengan sampah?

Visa mengatakan, entah mengapa ia merasa senang ketika memilah-milah sampah pada saat bertugas di Bank Sampah Citra Dana Undiksha. Perlahan muncul ketertarikannya terhadap pengelolaan sampah,

“Senang sekali bisa memilah sampah, apalagi tahu ternyata ketika sudah dipilah harga sampah itu jadi cukup tinggi,” ujarnya.

Untuk itulah, ketika masa tugasnya selesai sebagai pengurus KOPMA dan bank sampah di kampusnya,  dia ingin melanjutkan pembelajarannya tentang potensi dan pengelolaan sampah di Bank Sampah Galang Panji.  

“Rumah saya kan dekat dengan pasar desa di Panji. Saya lihat belum banyak yang sadar untuk mau memilah sampahnya di pasar, jadi ya semoga setelah saya ikut di sini bisa memberikan informasi tentang pentingnya pemilahan,” kata Vica yang seharihari juga suka berkebun itu.

Putu Wulan Libriani

Putu Wulan Libriani

Putu Wulan Libriani usianya setahun lebih muda dari Vica. Ia adalah perempuan kedua yang menyatakan kesiapannya menjadi bagian dari Bank Sampah Galang Panji.

Perempuan yang memiliki hobi bernyanyi, menari dan membaca novel ini, sejak SMA telah ikut serta mengelola bank sampah di Banjar Bangah Desa Panji. Karena berbagai kendala bank sampah itu berhenti beroperasi, dan dia lantas melanjutkan menjadi relawan di Bank Sampah Galang Panji.

Wulan yang lahir September 2001 itu masih menjadi mahasiswa semester 4 Program Studi Pendidikan Dasar di Undiksha. Ia ingin secara intensif belajar pengelolaan bank sampah di Galang Panji agar bisa nantinya mendorong kembali berdirinya bank sampah di banjarnya, di Banjar Bangah.

“Dulu bank sampah itu sudah banyak nasabahnya tetapi karena pengurusnya banyak yang sibuk jadinya gak bisa berlanjut,” ungkap wanita yang aktif sebagai pengurus UKM Penalaran dan Karya Ilmiah Mahasiswa Undiksha ini.

“Nantinya saya ingin belajar lagi di Bank Sampah Galang Panji yang sudah mampu konsisten selama ini. Siapa tau nanti saya bisa menerapkan pelajaran ini di banjar saya,” jelasnya.

Kadek Seni

Kadek Seni

Perempuan ketiga yang bergabung sebagai relawan di Bank Sampah Galang Panji adalah Kadek Seni. Perempuan berkulit putih ini tinggal di sekitar Bank Sampah Galang Panji, di Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji.

Ketika pertama kali pihak Bank Sampah Galang Panji menghubungi Kadek Seni melalui pesan WA, sempat ada sedikit keraguan tampaknya.

 “Saya pikirkan dulu ya, Bli,” balasnya melalui WA.

Tetapi beberapa kemudian, ketika tahu Wulan dan Vica telah bergabung, tanpa panjang lebar lagi langsung dia jawab, “Siap”.

Wanita kelahiran tahun 2000 yang hobi memasak ini memang sedikit pemalu orangnya,  padahal secara akademik ia sangat pintar.  Ketika ditanya kenapa akhirnya mau menjadi bagian dari Bank Sampah Galang Panji, dia mengatakan karena ingin menambah pengalaman.

“Saya ingin belajar dan menambah pengalaman lagi di luar kampus, saya pikir dengan ikut di Bank Sampah Galang Panji bisa belajar banyak hal, apalagi bank ini di rumah sendiri,” ujar mahasiswi Akutansi Undiksha ini.

***

Apa saja yang dilakukan tiga perempuan itu di Bank Sampah Galang Panji?

Peran mereka tidak akan banyak turun langsung mengambil sampah di tempat-tempat nasabah Bank Sampah Galang Panji. Vica yang pendidikan formalnya manajemen akan membantu bagaimana mengatur manajemen pengelolaan sampah sehingga Bank Sampah Galang Panji memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tersusun dengan baik.

Karena sudah pernah mengelola bank sampah, Vica sendiri sudah paham betul tentang apa-apa yang harus dikerjakan. Dia sendiri sangat yakin dengan keberadaan bank sampah bisa menjadi solusi untuk mengurangi permasalahan sampah.

“Sampah kalau tidak dikelola dengan baik akan selalu jadi masalah. Untuk melarang orang membuang sampah sembarangan tentu juga tidak mudah. Dengan adanya bank sampah ini sepertinya akan lebih mudah menyadarkan warga untuk mengelola sampah dan juga bisa menghasilkan,” ujarnya.

Kadek Seni dengan pendidikan Akuntansi tentunya membantu dalam pengelolaan keuangan. Apalagi selama ini Bank Sampah Galang Panji agak kewalahan mengatur keuangan karena belum sepenuhnya dikelola dengan professional. Dengan masuknya Kadek Seni, keuangan Galang Panji setidaknya dapat tercatat dengan baik. Karena dengan pengelolaan keuangan yang baik akan dapat memberikan keterbukaan kepada para nasabah.

“Masalah sampah memang berat ya.  Mungkin dengan lebih banyak yang terlibat dan bergabung di bank sampah, apalagi anak-anak mudanya juga mau peduli, pasti pengelolaan sampah jadi lebih mudah,” kata Kadek Seni.

Dan yang termuda, Wulan tentunya akan membantu sebagai pemberi edukasi kepada masyarakat atau calon nasabah. Dengan pengalamannya yang sudah pernah mengelola sampah tentu dia sudah paham betul potensi pengelolaan sampah,  dan nantinya sebagai calon guru sekolah dasar dia bisa memberikan edukasi kepada anak-anak tentang asiknya memilah sampah.

“Sampah ini punya potensi ekonomi yang cukup tinggi, dan butuh kesadaran untuk itu, sehingga masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” ungkap Wulan yang anak Kelian Banjar Dinas Bangah Desa Panji ini.

Walaupun ketiga perempuan itu adalah asli warga Desa Panji, mereka bertiga bukan teman sepermainan. Namun begitu, karena usianya yang seumuran membuat mereka bertiga langsung akrab.

Ketika pertama bertemu di Bank Sampah Galang Panji mereka langsung saling bercanda, dan canda serta senyum mereka jadi penyemangat para relawan lain yang sebelumnya sudah bergabung sejak lama di Bank Sampah Galang Panji.

Seni dan Wulan hampir sudah kenal semua relawan di Bank Sampah Galang Panji. Meski begitu, keduanya masih tampak malu-malu ngobrol dengan relawan lainnya. Berbeda dengan Vica yang memang belum banyak yang dikenal tapi sangat percaya diri, dia selalu memperkenalkan diri lebih dulu kepada relawan lain yang ditemuinya.

Tapi mengenai semangat meskipun paling muda, Wulan selalu jadi yang pertama memberikan reaksi atas arahan dari pengurus bank.  Sementara Kadek Seni kalau sudah mulai masuk pada pembahasan penting, tampak paling serius memperhatikan.

Ketiga perempuan muda ini jelas adalah generasi emas bagi Desa Panji. Mereka yang mau belajar dengan mencari pengalaman di luar kampus tentu akan membuat mereka lebih siap lagi nantinya memasuki dunia kerja dan bisa lebih peduli lagi dengan lingkungannya. [T]

Tags: baliBank SampahBank Sampah Galang PanjibulelengDesa PanjilingkunganSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

Next Post

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co