3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Gading Ganesha by Gading Ganesha
May 17, 2021
in Khas
Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Tiga perempuan relawan di Bank Sampah Galang Panji | Foto: Dok Bank Sampah Galang Panji

Perempuan mahasiswa magang di bank umum – dalam artian bank yang mengelola uang, sepertinya sudah biasa. Ini ada tiga perempuan menjadi relawan di bank sampah, tepatnya di Bank Sampah Galang Panji, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.

Tiga perempuan itu tentu saja tak berkantor si sebuah bank yang bangunannya mewah dengan AC yang sejuk dan meja mengkilap. Mereka bukan pula berpakaian seragam dengan jas rapi, serta setiap hari mesti menggunakan parfum yang harum semerbak.

Tiga perempuan itu berkantor di sebuah kantor biasa-biasa saja dengan pakaian biasa-biasa saja, tentu tanpa parfum semerbak. Bau tubuhnya sejuk alami. Senyumnya pun sangat manis dan alami. Tidak dibuat-buat.

Tiga perempuan itu; Gusti Vica Tunastini, Putu Wulan Libriani, dan Kadek Seni. Ketiganya adalah gadis asli Desa Panji. Mereka bergabung untuk menjadi relawan di Bank Sampah Galang Panji, sebuah bank sampah yang sedang berdiri 7 tahun lalu, dan kini makin bergerak maju dan profesional.

Dengan bergabungnya tiga gadis relawan itu, tampaknya relawan Bank Sampah Galang Panji yang sebelumnya berjumlah 6 orang, dan semuanya laki-laki, akan lebih sering tersenyum. Tentu karena bank sampah itu saban hari bakal dipenuhi senyum manis tiga perempuan.

Gusti Vica Tunastini

Gusti Vica Tunastini

Yang pertama bergabung menjadi relawan Bank Sampah Galang Panji adalah Gusti Vica Tunastini,  Perempuan kelahiran tahun 2000 ini tinggal di Banjar Dinas Dauh Pura, Desa Panji,  Perempuan yang akrab dipanggil Vica ini sebelumnya, selama sekitar dua tahun, 2019-2020, aktif sebagai Pengurus Kopma Citra Dana Undiksha yang salah satunya juga mengelola bank sampah.

Kini ia masih terdaftar sebagai mahasiswi Semester 6 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Undiksha. Sesuai pendidikannya, ia memang suka belajar manajemen. Dan manajemen bukan melulu soal uang kecil menjadi uang besar, melainkan bisa juga soal sampah menjadi uang besar.

Kenapa tertarik dengan sampah?

Visa mengatakan, entah mengapa ia merasa senang ketika memilah-milah sampah pada saat bertugas di Bank Sampah Citra Dana Undiksha. Perlahan muncul ketertarikannya terhadap pengelolaan sampah,

“Senang sekali bisa memilah sampah, apalagi tahu ternyata ketika sudah dipilah harga sampah itu jadi cukup tinggi,” ujarnya.

Untuk itulah, ketika masa tugasnya selesai sebagai pengurus KOPMA dan bank sampah di kampusnya,  dia ingin melanjutkan pembelajarannya tentang potensi dan pengelolaan sampah di Bank Sampah Galang Panji.  

“Rumah saya kan dekat dengan pasar desa di Panji. Saya lihat belum banyak yang sadar untuk mau memilah sampahnya di pasar, jadi ya semoga setelah saya ikut di sini bisa memberikan informasi tentang pentingnya pemilahan,” kata Vica yang seharihari juga suka berkebun itu.

Putu Wulan Libriani

Putu Wulan Libriani

Putu Wulan Libriani usianya setahun lebih muda dari Vica. Ia adalah perempuan kedua yang menyatakan kesiapannya menjadi bagian dari Bank Sampah Galang Panji.

Perempuan yang memiliki hobi bernyanyi, menari dan membaca novel ini, sejak SMA telah ikut serta mengelola bank sampah di Banjar Bangah Desa Panji. Karena berbagai kendala bank sampah itu berhenti beroperasi, dan dia lantas melanjutkan menjadi relawan di Bank Sampah Galang Panji.

Wulan yang lahir September 2001 itu masih menjadi mahasiswa semester 4 Program Studi Pendidikan Dasar di Undiksha. Ia ingin secara intensif belajar pengelolaan bank sampah di Galang Panji agar bisa nantinya mendorong kembali berdirinya bank sampah di banjarnya, di Banjar Bangah.

“Dulu bank sampah itu sudah banyak nasabahnya tetapi karena pengurusnya banyak yang sibuk jadinya gak bisa berlanjut,” ungkap wanita yang aktif sebagai pengurus UKM Penalaran dan Karya Ilmiah Mahasiswa Undiksha ini.

“Nantinya saya ingin belajar lagi di Bank Sampah Galang Panji yang sudah mampu konsisten selama ini. Siapa tau nanti saya bisa menerapkan pelajaran ini di banjar saya,” jelasnya.

Kadek Seni

Kadek Seni

Perempuan ketiga yang bergabung sebagai relawan di Bank Sampah Galang Panji adalah Kadek Seni. Perempuan berkulit putih ini tinggal di sekitar Bank Sampah Galang Panji, di Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji.

Ketika pertama kali pihak Bank Sampah Galang Panji menghubungi Kadek Seni melalui pesan WA, sempat ada sedikit keraguan tampaknya.

 “Saya pikirkan dulu ya, Bli,” balasnya melalui WA.

Tetapi beberapa kemudian, ketika tahu Wulan dan Vica telah bergabung, tanpa panjang lebar lagi langsung dia jawab, “Siap”.

Wanita kelahiran tahun 2000 yang hobi memasak ini memang sedikit pemalu orangnya,  padahal secara akademik ia sangat pintar.  Ketika ditanya kenapa akhirnya mau menjadi bagian dari Bank Sampah Galang Panji, dia mengatakan karena ingin menambah pengalaman.

“Saya ingin belajar dan menambah pengalaman lagi di luar kampus, saya pikir dengan ikut di Bank Sampah Galang Panji bisa belajar banyak hal, apalagi bank ini di rumah sendiri,” ujar mahasiswi Akutansi Undiksha ini.

***

Apa saja yang dilakukan tiga perempuan itu di Bank Sampah Galang Panji?

Peran mereka tidak akan banyak turun langsung mengambil sampah di tempat-tempat nasabah Bank Sampah Galang Panji. Vica yang pendidikan formalnya manajemen akan membantu bagaimana mengatur manajemen pengelolaan sampah sehingga Bank Sampah Galang Panji memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tersusun dengan baik.

Karena sudah pernah mengelola bank sampah, Vica sendiri sudah paham betul tentang apa-apa yang harus dikerjakan. Dia sendiri sangat yakin dengan keberadaan bank sampah bisa menjadi solusi untuk mengurangi permasalahan sampah.

“Sampah kalau tidak dikelola dengan baik akan selalu jadi masalah. Untuk melarang orang membuang sampah sembarangan tentu juga tidak mudah. Dengan adanya bank sampah ini sepertinya akan lebih mudah menyadarkan warga untuk mengelola sampah dan juga bisa menghasilkan,” ujarnya.

Kadek Seni dengan pendidikan Akuntansi tentunya membantu dalam pengelolaan keuangan. Apalagi selama ini Bank Sampah Galang Panji agak kewalahan mengatur keuangan karena belum sepenuhnya dikelola dengan professional. Dengan masuknya Kadek Seni, keuangan Galang Panji setidaknya dapat tercatat dengan baik. Karena dengan pengelolaan keuangan yang baik akan dapat memberikan keterbukaan kepada para nasabah.

“Masalah sampah memang berat ya.  Mungkin dengan lebih banyak yang terlibat dan bergabung di bank sampah, apalagi anak-anak mudanya juga mau peduli, pasti pengelolaan sampah jadi lebih mudah,” kata Kadek Seni.

Dan yang termuda, Wulan tentunya akan membantu sebagai pemberi edukasi kepada masyarakat atau calon nasabah. Dengan pengalamannya yang sudah pernah mengelola sampah tentu dia sudah paham betul potensi pengelolaan sampah,  dan nantinya sebagai calon guru sekolah dasar dia bisa memberikan edukasi kepada anak-anak tentang asiknya memilah sampah.

“Sampah ini punya potensi ekonomi yang cukup tinggi, dan butuh kesadaran untuk itu, sehingga masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” ungkap Wulan yang anak Kelian Banjar Dinas Bangah Desa Panji ini.

Walaupun ketiga perempuan itu adalah asli warga Desa Panji, mereka bertiga bukan teman sepermainan. Namun begitu, karena usianya yang seumuran membuat mereka bertiga langsung akrab.

Ketika pertama bertemu di Bank Sampah Galang Panji mereka langsung saling bercanda, dan canda serta senyum mereka jadi penyemangat para relawan lain yang sebelumnya sudah bergabung sejak lama di Bank Sampah Galang Panji.

Seni dan Wulan hampir sudah kenal semua relawan di Bank Sampah Galang Panji. Meski begitu, keduanya masih tampak malu-malu ngobrol dengan relawan lainnya. Berbeda dengan Vica yang memang belum banyak yang dikenal tapi sangat percaya diri, dia selalu memperkenalkan diri lebih dulu kepada relawan lain yang ditemuinya.

Tapi mengenai semangat meskipun paling muda, Wulan selalu jadi yang pertama memberikan reaksi atas arahan dari pengurus bank.  Sementara Kadek Seni kalau sudah mulai masuk pada pembahasan penting, tampak paling serius memperhatikan.

Ketiga perempuan muda ini jelas adalah generasi emas bagi Desa Panji. Mereka yang mau belajar dengan mencari pengalaman di luar kampus tentu akan membuat mereka lebih siap lagi nantinya memasuki dunia kerja dan bisa lebih peduli lagi dengan lingkungannya. [T]

Tags: baliBank SampahBank Sampah Galang PanjibulelengDesa PanjilingkunganSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selain “Onani”, Penulis Sastra Bali Modern Juga Harus Bisa “Memperkosa”

Next Post

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co