23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
May 17, 2021
in Esai
“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Wayang drupadi | Sumber gambar Google

Di ruangan agung Kerajaan Astina ini, sebuah pesta besar sekaligus nasib tragis pernah berlangsung. Terlampau tragis bahkan, hingga mengubah sepenuhnya masa depan negeri ini.

Pesta itu memang telah usai, meninggalkan ruangan yang kini lengang dan hanya angin sesekali terdengar mendengung di lorong-lorongnya yang dingin. Selebihnya adalah bayangan mencekam di antara pilar-pilar marmer yang meninggi itu.

Meja kecil dengan batu dadu itu masih dibiarkan tergeletak di situ. Kursi dan botol-botol anggur kosong berserakan di balkon. Sedang di lantai tengah, jejak-jejak kaki dan ceceran keringat masih membekas dalam debu. Juga bayangan tawa Dursasana yang aneh itu. Di situlah, di ruangan agung itu, beberapa waktu lalu, di tengah keramaian pesta kerajaan, Dursasana dengan tawa menyeringai oleh birahi berusaha merenggut dan menelanjangi Drupadi.

“Yudistira telah mempertaruhkan Drupadi dan ia kalah. Perempuan ini sekarang jadi budak kami dan kami bebas memperlakukannya,” kata Dursasana. Bau alkohol menyengat mulutnya. Matanya memerah. Ia yang terhuyung-huyung karena mabuk terus berusaha melucuti kain di pinggul Drupadi.

Di bawah tatapan para bangsawan yang hadir, Drupadi dipertaruhkan sekaligus dinista. Puncaknya, di sini hak-hak Pandawa atas Astina dirampas Kurawa.

Memang banyak hal muram hadir dalam Mahabharata, banyak hal ganjil terdengar di sana. Tetapi yang paling getir tentu apa yang telah berlangsung di ruangan ini. Anak-anak Pandawa, yang cerdas dan menjunjung nilai-nilai kebenaran serta sifat-sifat ksatria, harus berhadapan dengan kenyataan pahit: mereka kalah dalam pertaruhan judi dan kehilangan segalanya serta disingkirkan ke dalam pembuangan 13 tahun di hutan.

Sejumlah pertanyaan sempat menggantung di sana yang tak mudah dicarikan jawaban: Apa yang membuat Yudhistira rela mempertaruhkan masa depannya dan saudara-saudaranya di meja dadu yang tak lebih lebar dari satu meter persegi itu? Sekalipun sebagai putra sulung, berhakkah Yudhistira bertindak sejauh itu, bahkan menjadikan Drupadi sebagai taruhan? Adakah ia membayangkan kemenangan dalam judi itu yang akan memberinya kehormatan? Entahlah! Bahkan para orang tua yang menyaksikan peristiwa itu tak ada yang mampu memberi jawab. Mereka hanya tertunduk, terkubur dalam perasaan tak terlukiskan, sebagaimana Kunti, Drestarasta, atau Widura.

Kecuali Bima yang menunjukkan ketidaksukaannya atas permainan yang dirancang Sakuni itu. Maka, ketika Kurawa mempermalukan dan menelanjangi Drupadi, putri terhormat dari Pancala itu, Bima tak bisa lagi menahan diri. Dia turun ke gelanggang dan meradang dengan sumpahnya, “Hai, Duryadana, Dursasana, Sakuni, kalian boleh menang taruhan dan mengambil negeri ini, tapi apa hakmu menghina Drupadi? Dengar, aku telah menyaksikan semuanya, dan di hadapan kalian kuucapkan sumpahku, kelak aku akan datang dengan pembalasan. Akan kurobek tubuhmu, dan kuminum darahmu!”

Rupanya kehidupan telah memaksakan sisi nisbinya di sini. Karena itu Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa memilih diam. Juga Bhisma. Senapati agung nan bijaksana itu hanya memandang datar dari balkon dengan mulut terkatup terhadap semua hal yang berlangsung. Juga Durna. Tak ada yang dapat ia lakukan. Permusuhan antara Pandawa dengan Kurawa tampaknya telah tiba di puncak.

Ketika sebuah peristiwa terjadi, saat pilihan telah diambil, kita pun hanya bisa menunggu apa gerangan setelah itu. Maka Pandawa yang kalah harus segera angkat kaki, meninggalkan masa-masa indah di Astina menuju satu takdir baru: hidup dalam pengasingan. Sementara Duryudana dan saudara-saudaranya, bersama sang penasihat Sakuni, boleh merayakan kemenangan dan bersuka cita.

Demikianlah satu babakan hidup berlangsung. Saat semuanya tiba, maka yang kemudian terlihat adalah ada yang keluar sebagai pemenang dan ada pula yang kalah. Hingga di bagian ini sepertinya tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Mungkin mereka tahu kemenangan itu dicapai melalui cara yang curang. Tapi bagi yang memilih bertindak murni, seperti Yudhistira, juga sadar akan berhadapan dengan risiko: entah akhirnya menang atau kalah. Siapa yang tahu? Karena itu kita agak jadi mengerti kenapa Yudhistira memilih diam saat dikalahkan. Ia tak mempersoalkan bagaimana ia kalah.

Yudhistira memang bukan pemenang. Bahwa antara kalah dan menang itu kadang jaraknya sedemikian tipis, sekalipun tak juga mudah buat digenggam. Tapi toh dengan demikian tak berarti segalanya telah berakhir.

Tiga belas tahun selepas pesta judi di ruangan itu, dua keluarga keturunan Bharata ini, Pandawa dan Kurawa, dipertemukan kembali oleh takdir. Tidak dalam reuni keluarga tetapi di jalan yang pilu. Mereka harus saling angkat senjata dan baku bunuh, lewat perang saudara, perang Kuru, yang dikenal dengan Bharatayuda.

Kita kemudian paham perang itu pun ternyata bukan pertanda berakhirnya suatu riwayat. Sebab, sesudahnya banyak hal tragis masih akan berlangsung. Mungkin karena itu, Astina dengan segala cekam misterinya, tetap hadir membayang di tengah kerajaan hidup kita hari ini. Darinya orang-orang dapat menilai sejenak tentang keteguhan hati, seperti Bhisma. Dengan kata lain, ini adalah soal risiko dan hikmah dari pilihan hidup.

Sebelum perang pecah, Bhisma berkata kepada Drestarasta, “Yudistira dan saudara-saudaranya akan memenangkan perang ini. Mereka dipayungi keberuntungan, sebab Pandawa meneguhkan kekuatannya dengan kebenaran dan keadilan, sesuatu yang tak pernah bisa dimengerti oleh Duryudana.”

Di sana Bhisma hendak menegaskan bahwa sekalipun segalanya tampak nisbi, orang tetap perlu menggamit keyakinan tentang sesuatu sebagai pegangan hidup. Misalnya berteguh dengan nilai-nilai moral. Juga sebagaimana sikap yang diambil Bhisma dalam Bharatayudha:  Orang seharusnya tetap menjadi ksatria meski tahu akan berada di pihak yang kalah.

Bagaimana pun setiap peristiwa, setiap pergulatan, akan hadir dengan wajahnya yang subtil, tak pernah mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu satu kemenangan ternyata tak seluruhnya berarti menang. Begitu juga dengan kekalahan.

Bharatayuda memang kemudian berakhir. Dimenangi lima putra Pandu, Pandawa, yang mengantarkan Yudhistira memegang tahta Astina. Sedangkan Kurawa, keturunan Drestarasta, yang seratus orang itu, karena itu ia jadi mayoritas, adalah pihak yang kalah. Duryudana, Dursasana dan Sakuni dirajam habis oleh Bima, sesuai sumpahnya dulu. Tapi setelah itu apa? Yang kita tahu, meski keluarga Kurawa, lambang sifat-sifat buruk manusia itu, tumpas dari Astina ternyata mereka tak serta merta kehilangan otoritasnya atas kerajaan dunia kita. Mereka seakan terus bereinkarnasi di dalam diri kita, di tengah kehidupan kita, sampai hari ini. [T]

Tags: BimaDrupadiKorawaKurawaMahabharataPandawarenunganwayangYudistira
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senyum Manis 3 Perempuan Bank | Eh, Bukan Bank Umum, Tapi Bank Sampah

Next Post

Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta

Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co