24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
May 17, 2021
in Opini
Kosmopolitanisme Bali di Persimpangan Jalan | Konflik Dresta-Non Dresta

Ilustrasi foto Jayen Photography

Kita mau membangun tembok, atau mau membangun jembatan?

Dunia tanpa kontroversi adalah dunia yang tenang namun akan membosankan dan menjemukan. Ungkapan ini menggambarkan sebuah dilema sosial, homogenitas pada satu sisi memunculkan ketenangan, kebersamaan, kesepahaman dan perasaan nyaman, namun pada sisi lain telah menggiring kehidupan pada kondisi stagnan tanpa riak yang jauh dari dinamika sosial, sementara heterogenitas memicu konflik namun mengakomodir pembentukan dialektika sosial, bahkan beberapa pakar percaya konflik adalah sarana untuk sebuah perubahan dan kemajuan.

Pasca pemberlakuan UU Desa Adat No 04 tahun 2019, yang mengamanatkan penghormatan, perlindungan, penguatan, dan pembinaan desa adat, yang kemudian diikuti oleh pembentukan Majelis Desa Adat  (MDA) provinsi serta kabupaten di seluruh Bali, dinamika sosial di Bali sedikit bergolak. Pasalnya ada “sampradaya“ yang dianggap sebagai unsur yang menghalangi dan bahkan merongrong  dalam usaha penguatan desa adat itu. Hal ini terlihat dari anggaran rumah tangga pembentukan MDA yang mana salah satu ketentuan untuk menjadi prajuru atau pengurus mensyaratkan calon itu tidak menjadi anggota dan/atau pengurus sampradaya.

Keriuhan berlanjut, karena adat dan agama di Bali dalam prakteknya sulit dibedakan, walau organisasi yang diamanatkan mengurus perihal ini berbeda. Agama Hindu di bawah naungan majelis Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHDI dan urusan adat diamanatkan kepada Majelis Desa Pakraman (MDP) yang kemudian oleh UU No 4 Th 2019 diubah menjadi Majelis Desa Adat atau MDA dan desa pakraman menjadi desa adat.

PHDI sebagai majelis tinggi yang mengurus agama disinyalir banyak pihak telah disusupi “samparadaya“ dan ajaran Agama Hindu yang diajarkan di sekolah-sekolah dipandang telah melenceng jauh dari adat Bali karena pengaruh “sampradaya“ tadi. Maka usulan “pembersihan“ PHDI dari unsur-unsur sampradaya kembali mengemuka dan bertambah kuat.

Usaha menangkal, membersihkan dan melindungi unsur adat dari anasir-anasir yang dianggap menghambat dan mengganggu merupakan sebuah kewajaran, sama lumrahnya dengan penguatan simbol identitas keagamaan dan adat dalam proses sosial. Namun pada sisi lain hal ini mengindikasikan adanya penolakan terhadap paham-paham besar antroposentrik-universal dalam bentuk pluralisme, multikulturalisme dan kosmopolitanisme, yang seringkali dilihat bertentangan dengan usaha penguatan identitas lokal.  

Selain itu, penggunaan identitas adat, agama ataupun identitas lainnya jika ditinjau dari teori melting pot menunjukkan adanya masalah asimilasi budaya dalam sebuah komunitas budaya yang plural, karena itu Alberto Bisin dan Thierry Verdier dalam sebuah karya bareng mereka (Beyond the Melting Pot: Cultural Transmission, Marriage, and the Evolustion of Ethic and Religious Traits) mengungkapkan bahwa efektivitas sosialisasi agama dan adat ditandai oleh interaksi sosial yang secara langsung diusahakan dalam rangka terciptanya asimilasi.

Artinya terdapat dua sisi  yang perlu dicermati. Apakah samparadaya senantiasa berdampak negatif atau sesungguhnya memiliki nilai positif yang perlu dipertahankan? Mengapa banyak orang beralih belajar di sampradaya dan merasa menemukan nilai? Sebaliknya apakah adat perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman, atau dipertahankan begitu saja?  Menjawab pertanyaan ini beberapa pakar dan intelektual terpecah dalam menyikapinya.

Tulisan ini akan berupaya mengungkapkan dan mengembalikan nilai-nilai kosmopolitanisme (dalam konteks Bali) untuk meminimalisir sumbu-sumbu konflik yang mungkin akan terbakar oleh sebuah hasrat untuk menghegemoni, yang hanya memberikan batas tegas antara “ WE “ dan “ THE OTHER “. Karena konflik dalam kenyataan sosial dapat muncul dari sebuah hegemoni yang berujung pada penguasaan suatu kelompok sosial terhadap kelompok sosial lainnya, bahkan lebih jauh konflik ini dapat berakibat pada munculnya berbagai bentuk kekerasan antar individu atau kelompok.

Akar Kosmopolitanisme Bali

Kosmopolitanisme (cosmopolitanism) merupakan ide besar yang menempatkan manusia sederajat. Ide ini dapat dilacak dari gerakan stoicisme Yunani Kuno, tepatnya pada pandangan Diogenes of Sinope (L. 412 SM), dengan ungkapan “saya seorang warga dunia (a citizen of the world)”.

Para filsuf Stoa (stoisism) memiliki pandangan bahwa tiap manusia hidup dalam dua komunitas yaitu komunitas lokal tempat seseorang dilahirkan dan juga komunitas di mana kepribadian manusia secara keseluruhan dilihat, yaitu sebagai komunitas dunia. Sehingga seorang manusia tidak lepas dari beberapa lingkaran, baik lingkaran pribadi, keluarga, kerabat, kerabat dari kerabat, kesukuan, kebangsaan, hingga kemanusiaan. Artinya manusia hakikatnya adalah warga dunia, yang menjadikan semua manusia sebagai teman, kerabat dan saudara.

Spirit dan moralitas kosmopolitanisme kemudian diadopsi oleh Immanuel Kant (1724-1804) dalam essainya Perpetual Peace (damai tiada henti) yang ditulis tahun 1795. Bagi Kant, hukum kosmopolitan pada dasarnya adalah universal hospitality, atau sikap suka menerima tamu.  Ide ini oleh Jacques Derrida dilanjutkan sebagai hospitality etik yakni kesediaan untuk menerima hal lain seperti halnya menerima tamu dalam sebuah “rumah”, karena melihat kesamaan tujuan yakni menghilangkan kesengsaraan dan penderitaan, menjadi bahagia, dan meraih kehidupan yang lebih baik (universalisme).

Bali dalam banyak hal adalah representasi dari kosmopolitanisme seperti yang dijelaskan di atas. Bali seperti sebuah melting pot, yang mencakup berbagai kebudayaan dunia, sehingga sangat sulit mengidentifikasikan “ Bali “ dalam sebuah sudut pandang.

Bali juga merupakan sebuah sejarah panjang, yang telah melewati berbagai fase, gelombang dan gempuran. Kosmopolitanisme yang menggambarkan hubungan Pulau Bali dengan pusat-pusat budaya, baik yang bersifat lokal di nusantara, maupun yang bersifat hubungan internasional, dapat kita lihat salah satunya di Pura Gambur Anglayang, Kubutambahan, Buleleng. Pelinggih di sana terdiri dari palinggih pokok, yaitu Palinggih Ratu Bagus Sundawan dari unsur Suku Sunda, Palinggih Ratu Bagus Melayu dari unsur ras melayu, palinggih Ratu Ayu Syahbandar dan Ratu Manik Mas menunjukan unsur Cina dan Budha, palinggih Ratu Pasek, Dewi Sri dan Ratu Gede Siwa mencirikan unsur Hindu, Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah merupakan unsur Islam. Perkembangan berikutnya dibangun palinggih Padmasana sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Titib 2003: 103).

Di pura Ulun Danu Batur, kosmopolitanisme Bali yang lain diabadikan, banyak percampuran budaya yang datang dari daratan Tiongkok ke Bali dan sudah menjadi bagian dari kebudayaan di sana. Di salah satu pojokan pura itu didirikan pura yang menyerupai konco tempat pemujaan Ida Ratu Gede Ngurah Sabandar, atau dewi kemakmuran, sebagai bukti akulturasi Cina-Bali yang terjaga dari masa lampau. Campuran budaya Cina-Bali lainya adalah kesenian barong landung, yang menggambarkan perkawinan Raja Jaya Pangus (Dalem Bali Kang) dengan Kang Tjin We yang konon cantik dan lemah lembut seperti Dewi Kwan Im (dalam ajaran Hindu disebut sebagai Dewi Sri/Dewi Kemakmuran). Juga uang kepeng atau pis bolong yang berhuruf Cina yang juga disebut pis cine, yang tak bisa dilepaskan dari ritual upacara Agama Hindu di Bali hingga kini.

Adanya komunitas-komunitas masyarakat muslim tradisional seperti Pegayaman di Buleleng, Loloan di Jembrana, atau Kepaon di Denpasar Selatan, juga menjadi bukti betapa masyarakat Bali bersifat kosmopolitan dan terbuka.

Pada masa kolonial, melalui program baliseering, banyak pula intelektual dan tokoh Bali sangat berterima kasih kepada pemerintah Belanda, karena dianggap mereka membantu mengembangkan kebudayaan dan adat bali, walaupun sebenarnya pihak Belanda memiliki motif politik dan ekonomi. Penerimaan dan penghormatan itu ditunjukkan dalam berbagai tulisan, itikad menjaga peninggalan Belanda khususnya di bidang budaya seperti upaya menjaga lestarinya museum lontar atau tetap lestarinya ukiran-ukiran yang menggambarkan orang Belanda seperti di Pura Meduwe Karang, Kubutambahan.

Solidaritas Organik

Kosmopolitanisme di Bali yang terbentuk sejak masa lalu membentuk solidaritas organik seperti yang kita saksikan di Bali saat ini. Bali dikenal toleransi terhadap budaya lain, layaknya tuan rumah yang ramah terhadap berbagai tamu yang datang. Banyak ilmuwan dan peneliti asing yang datang dan mengidentifikasi Bali, orang Bali tak terpengaruh bahkan welcome terhadap mereka. Banyak pula seniman yang datang mengajarkan dan berkesenian seperti misalnya kelompok Pitamaha yang digawangi seniman Walter Spies dan Rudoft Bonnet yang mengajarkan teknik lukis modern pada pemuda-pemuda Bali, hal itu diterima sebagai hal yang bermanfaat dan memperkaya.

Solidaritas organik yang telah terbentuk, mengikat masyarakat Bali yang bersifat kompleks, dan tingkat spesialisasi yang kuat karena masyarakat telah mengenal pembagian kerja yang dipersatukan oleh saling ketergantungan antar bagian, layaknya masyarakat modern saat ini. Berbeda dengan solidaritas mekanik yang hanya disatukan oleh kesamaan ideologi, agama atau kesamaan darah yang homogen (Emile Durkheim).

Kebalian Orang Bali

Sekitar tahun 1989- 1990 dalam seminar tentang Kebalian Orang Bali yang diselenggarakan oleh Harian Bali Pos, banyak intelektual urun rembug dan berpendapat. Hingga kini wacana ini masih menarik dan masih dibaca ulang. Satu hal yang mengemuka dalam wacana itu adalah apa yang disebut kebalian orang Bali, yakni orang Bali yang aktif terlibat dalam rumusan agama, yakni Agama Hindu. Jika kita agak cermat mengamati sejarah kosmopolitanisme Bali, hal ini agak bertolak belakang, karena terbukti “kebalian“ tidak hanya  didukung oleh Agama Hindu, namun juga didukung oleh unsur lain, seperti Cina, Budha, Jawa, Islam, Melayu, Persia bahkan kolonial Belanda dan Eropa. Seluruh karakter yang telah dibelajarkan  oleh tradisi dan keraifan lokal yang membuat orang menjadi Bali, itulah kebalian. Dengan cara seperti itu, kebalian akan menjadi sebuah tawaran yang simpatik untuk siapa saja dalam kancah pergaulan kosmopolitan, karena karakater yang dikembangkan dalam diri orang Bali, bisa berlaku, hidup dan tumbuh di mana pun (Putu Wijaya)

Desa-kala-patra menjadi counter budaya yang sangat ampuh bagi Bali dalam mengarungi kekosmopolitannya, karena ini menjadikan Bali menjadi universal, sejalan dengan konsep Bhineka Tunggal Ika yang juga mengusung spirit kosmopolitan Indonesia. Seharusnya dan sewajarnya pula Indonesia tidak takut menjadi terbuka dan kosmopolitan, karena salah satu upaya mereduksi fanatisme dan radikalisme adalah melalui kosmopolitanisme.

Konflik Dresta – Non Dresta

Konflik dresta–non dresta yang mengemuka akhir-akhir ini pada dasarnya dilandasi ketakutan akan hilangnya atau berubahnya tradisi budaya Bali, digantikan oleh tradisi asing, dalam hal ini yang dibawa oleh sampradaya, yakni tradisi agama dari India. Jika kita merujuk pada “kebalian orang Bali“ seperti yang dikemukakan budayawan Putu Wijaya, perubahan karakter orang Bali bisa menjadi barometer dan parameter untuk menilai. Tradisi Bali tidak akan berubah selama kebalian orang Bali tetap ada. Sejauh manakah karakter orang Bali telah diubah oleh sampradaya? Pertanyaan ini menjadi relevan karena perubahan karakter bisa juga disebabkan berbagai faktor seperti teknologi, informasi dan budaya konsumtif dan hedonisme yang dibawa kapitalisme, yang juga tak kalah banyak masuk ke Bali.

Konflik dresta-non dresta bisa dilihat sebagai tantangan bagi kosmopolitanisme Bali. Tentu tidak adil hanya menuntut kelompok pendukung dresta saja menegakkan kosmopolitanisme, harus ada upaya dari kedua belah pihak. Mencari penyelesaian hanya melalui pengadilan atau melalui administrasi politik, tak akan menyelesaikan akar permasalahan, walaupun penyelesaian melalui jalur yuridis dapat menghindari tindak kekerasan meluas lebih jauh.

Solusi yang paling bermartabat adalah dialog, musyawarah, mencari titik temu, dan saling pengertian. Pihak yang dianggap non dresta, khususnya Hare Krishna karena yang paling banyak disorot dan mendapatkan penolakan sewajarnya menjadi pihak yang paling banyak harus melakukan interopeksi, terutama dalam hal sosialisasi dengan masyarakat dan penggunaan atribut keagamaannya.

Pihak pendukung dresta juga bukannya tanpa interopeksi dan konsekuensi. Cara-cara yang digunakan untuk mengadvokasi adat harus lebih beradab, mengedepankan hukum dan HAM, dan dialog, tidak sekedar menutup dan membangun tembok pemisah. Yang tak kalah pentingnya, kelompok ini harus membuktikan diri lebih baik dari non dresta, dan mampu membangun “kebalian“ yang lebih baik dari yang ada sekarang.

Solusi yang penulis tawarkan adalah membangun jembatan dan jalur dialog melelui budaya. Ashram-ashram yang berdiri di daerah wewidangan desa adat, secara lembaga diajak ikut ngempon dan nyungsung Tri Khayangan di desa adat tempat mereka berada, tentunya dengan mengikuti dresta di desa adat itu (desa mawacara). Dengan begitu diharapkan ada kesepahaman dan saling pengertian, dan di lain sisi proses pengajaran melalui tradisi dan keraifan lokal yang membuat orang menjadi Bali akan tetap berjalan. Orang Bali tidak kehilangan kebaliannya, dan Bali pun tetap mendapatkan keuntungan dengan semakin banyaknya pihak-pihak yang mendukungnya dan mempertahankannya. Bali pun tetap kosmopolitan.

Jadi mau membangun tembok, atau membangun jembatan? [T]

Tags: baliDresta Balihindusampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kalah dan Menang” | Usai Pesta Judi Itu

Next Post

“Hopes” | Pameran 70 Karya Bersama “Kita Art Friends” di Alila Seminyak

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
“Hopes” | Pameran 70 Karya Bersama “Kita Art Friends” di Alila Seminyak

“Hopes” | Pameran 70 Karya Bersama "Kita Art Friends" di Alila Seminyak

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co