22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perihal Betapa Gagah dan Kece Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia

I Putu Supartika by I Putu Supartika
February 4, 2022
in Lingkungan
Perihal Betapa Gagah dan Kece Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia

Dari obrolan iseng di sebuah kedai kopi, maka lahirlah sebuah festival yang awalnya bernama Festival Kritik Sastra Bali Modern dan kemudian berubah menjadi Festival Sastra Bali Modern dengan pertimbangan agar bisa mencakup hal yang lebih luas dalam dunia sastra Bali modern. Untuk menambah kesan gagah, berkelas, megah, keren, kece, kekinian, out op de bok, tiada tanding, dan karena sepanjang pengamatan kami belum ada festival yang khusus untuk sastra Bali modern, maka dibubuhilah embel-embel Pertama dan Terbesar di Dunia.

Namun sebelum ide festival ini tercetus, dalam rangka HUT ke-5 Suara Saking Bali, digelar Lomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modern yang merupakan penyederhanaan dari Lomba Kritik Sastra Bali Modern yang terkesan menakutkan. Lomba ini dibuat dengan harapan agar karya sastra Bali modern yang kini bisa dikatakan sudah berkembang pesat dibaca oleh khalayak lebih luas. Bukan hanya dibaca penulisnya sendiri, oleh sesama penulis, ataupun dibaca untuk keperluan tugas-tugas kampus atau tugas-tugas untuk menambah angka kredit agar bisa naik pangkat. Lebih dari itu, bisa dibaca oleh semua kalangan secara lebih serius lagi.

Tak pernah terpikirkan oleh kami jika akan banyak peserta yang ikut dalam lomba ini. Kami berpikir, dapat peserta 15 saja sudah luar dari biasa. Apalagi hingga lima hari menjelang penutupan, jumlah karya yang masuk masih kurang dari 10. Pada kenyataannya, peserta yang ikut ternyata sangat antusias karena di detik-detik akhir penutupan karya yang masuk ke email panitia menumpuk yakni peserta 60 orang dengan 61 karya, karena ada satu peserta yang mengirim dua karya.

Sudah barang tentu, ini adalah hal yang luar biasa, perlu dicatat dalam sejarah, diukir dalam sebuah prasasti, dibuatkan baliho besar di pinggir jalan, atau bahkan semestinya dibelikan Rekor MURI. Tapi tentu itu tak perlu dilakukan karena toh tak berguna dan lebih baik uang kas kami yang bertumpuk-tumpuk disimpan dalam brankas terkunci.

Singkat cerita, dalam sebuah obrolan biasa-biasa saja, tanpa meja yang disusun melingkar, tanpa Focus Group Discusion, tanpa tulisan-tulisan ilmiah yang panjang dan lebar serta mengutip ahli sana maupun ahli sini, tanpa laptop maupun proyektor, tanpa perdebatan-perdebatan yang alot tanpa ujung, tiba-tiba tercetus ide membuat sebuah festival. Ide ini dicetuskan oleh kawan kami dari Teater Kalangan, I Wayan Sumahardika dan kawan kami dari Lingkar Studi Sastra Denpasar, I Putu Pegok Juli Sastrawan.

Festival ini diniatkan untuk merespon dan memberikan apresiasi, sekaligus memelihara hubungan baik dan hubungan kreatif dengan 60 orang peserta Lomba Esai Timbang Buku ini. Karena kami percaya, semua peserta yang terlibat entah dapat juara atau tidak, entah baru belajar menulis maupun sudah biasa menulis, entah masih muda maupun tua adalah bibit-bibit masa depan lahirnya kritikus sastra Bali modern mumpuni dan handal. Dengan begitu, yang selama ini sastra Bali modern selalu disebut berjalan tanpa kritik, kedepannya bisa berjalan dengan kritik yang mapan.

Kami dari Suara Saking Bali yang memiliki keterbatasan sumber daya dan sumber dana tentu sedikit ragu jika festival ini bisa benar-benar bisa diwujudkan. Apalagi selama ini jika kami mendengar kata festival yang digelar oleh pemerintah selalu ada sumber dana yang melimpah-limpah. Sementara di Suara Saking Bali, semua dana yang kami punya masih dikunci dalam brankas dan PIN-nya masih sedang kami cari-cari.

Namun karena kami memiliki tekad lala-lele, cande-cande, dan haha-hihi yang kuat dan kawan Sumahardika beserta kawan Pegok mengaku siap membantu dan mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya, festival pun digelar. Dan jadilah Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia dengan menghadirkan 74 pelaku sastra, peserta tak terbatas, 1 bulan (tak) penuh, 12 sponsor dan donatur, 1001 wacana. Setelah melalui pertimbangan yang paling matang dan alasan yang sangat bisa dipertanggungjawabkan, maka diputuskan acara bersejarah ini digelar bulan Februari 2022.

Ada banyak mata acara yang dihadirkan dalam festival ini dan semuanya keren. Acara pertama menghadirkan pembicara juara I dan juara II Lomba Esai Timbang Buku yakni Made Nurjaya PM dan Wulan Dewi Saraswati pada Sabtu, 5 Februari 2022 pukul 16.00 Wita sampai selesai dengan moderator seorang aktor dan sastrawan Agus Wiratama. Acara ini akan memperdebatkan kelayakan dua karya tersebut menyandang juara I dan juara II. Pantaskah? Silakan hadir.

Acara kedua menghadirkan peserta yang paling tua dan paling muda dalam lomba yakni I Komang Warsa dan Nabila pada Sabtu, 12 Februari 2022 pukul 16.00 Wita sampai selesai. Diskusi ini dimoderatori oleh penulis puisi dan aktor Jong Santiasa Putra dan bertajuk Yang Tua dan Yang Muda Menulis Kritik Sastra Bali Modern.

Pada pertemuan ketiga akan digelar kuliah kritik sastra Bali modern dengan menghadirkan narasumber yang sudah tak asing lagi dan sudah malang melintang di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional yakni guru besar Fakultas Ilmu Budaya Unud, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra. Pertemuan ini digelar pada Jumat, 18 Februari 2022 pukul 17.00 Wita sampai selesai. Selaku moderator yakni peraih Hadiah Sastera Rancage perempuan pertama dari Bali, Carma Citrawati dan diantarkan oleh pengayah dan pembantu umum di Suara Saking Bali.

Selanjutnya juga digelar diskusi karya yang paling banyak diulas dalam lomba yakni kumpulan cerpen Ling karya I Komang Alit Juliartha yang telah mendahului kita semua. Pembicaranya I Gede Mardi Yasa dan Ni Luh Murniasih dengan moderator seorang aktor, sastrawan dan pegiat budaya I Wayan Sumahardika. Kegiatan ini dilaksanakan Sabtu, 19 Februari 2022 pukul 16.00 Wita hingga selesai.

Dan diskusi selanjutnya akan digelar pada pada Sabtu, 26 Februari 2022 yang bertajuk Peserta Bertanya Juri Menjawab. Narasumber yang dihadirkan tak main-main, dengan pengalaman yang teruji, malang melintang di dunia sastra baik tingkat lokal maupun nasional dan merupakan juri Lomba Esai Timbang Buku yakni sastrawan dan pemilik penerbitan Prasasti, Gde Aryantha Soethama, sastrawan dan wartawan serta founder tatkala.co Made Adnyana Ole, serta akademisi, kritikus I Made Sujaya. Acara ini akan dipandu oleh sastrawan dan pegiat literasi I Putu Juli Sastrawan.

Acara terakhir adalah panyineb Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia yang akan menghadirkan orasi budaya, serta penampilan pembacaan karya sastra Bali modern dari penulis, penggemar, pecinta, dan penikmat sastra Bali modern di seluruh dunia.

Namun karena kami menghormati Sang Hyang Korona yang sedang mesolah, dan agar tidak repot-repot mempersiapkan konsumsi, maka acara ini digelar secara daring via zoom meeting. Tak mau repot-repot menyiapkan konsumsi bukan berarti kami kere dan tidak punya uang. Kami sebenarnya kaya tapi, hanya tak mau saja menghambur-hamburkan uang untuk membeli kue ataupun nasi apalagi kami juga sangat menyadari semua peserta memiliki selera dan makanan favorit masing-masing. Jika seandainya kami berikan nasi jinggo, tidak semua suka nasi jinggo. Kalau kami berikan pred ciken, pasti akan ada yang meminta nasi jinggo. Kalau kami berikan nasi jinggo dan pred ciken pasti akan ada yang sulit menentukan pilihan dan akan ada yang nyeletuk jika dirinya doyan berger. Tentu saja hal itu akan sangat merepotkan, makanya kami putuskan daring saja!

Karena sangat pentingnya acara ini dan keren-kerennya pelaku yang terlibat, sudah barang tentu acara ini tak bisa dilewatkan oleh siapapun. Maka dari itu, hadirilah acara yang termahsyur dan spesial di tahun ini. Ajaklah semua saudara, kerabat, tetangga, teman kantor, teman kencan dan semua yang Anda kenal untuk menghadiri acara ini. Tentua Anda akan sangat menyesal seumur hidup jika tak hadir dalam acara ini.

Salam sastra. [T]

Tags: Festival Sastra Bali ModernLomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modernsastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Next Post

Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

by tatkala
September 21, 2026
0
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

Read moreDetails

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

by tatkala
August 21, 2026
0
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

Read moreDetails

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
0
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

Read moreDetails

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
0
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

Read moreDetails

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

by Son Lomri
April 21, 2026
0
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

Read moreDetails

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

by tatkala
March 29, 2026
0
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

SEBANYAK lebih dari 100 orang melakukan penanaman pohon di kawasan Danau Tamblingan, Buleleng, Bali, Sabtu, 28 Maret 2026. Mereka berasal...

Read moreDetails

Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

by Radha Dwi Pradnyani
February 22, 2026
0
Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

RUMAH kecil bernomor 76 di pinggir Jalan Sudirman, Singaraja, tepatnya di Kelurahan Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, siang itu mendadak ramai....

Read moreDetails

Pemimpin Desa Luang Barat dan Timur, Maluku Barat Daya, Belajar Konservasi Penyu di TCEC Bali Bersama WWF

by tatkala
September 1, 2025
0
Pemimpin Desa Luang Barat dan Timur, Maluku Barat Daya, Belajar Konservasi Penyu di TCEC Bali Bersama WWF

TIGA orang perwakilan pemimpin Desa Luang Barat dan Desa Luang  Timur, Maluku Barat Daya, mengikuti kegiatan Sekolah Lapang di Turtle...

Read moreDetails

Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

by tatkala
March 23, 2025
0
Minimalkan Sampah, Ini 5 “Pangeling-eling” untuk Umat saat “Ngusaba Kadasa” di Pura Batur

NGUSABA Kadasa Pura Ulun Danu Batur tahun Saka 1947 (tahun 2025) akan dimulai pada Tilem Kasanga, 28 Maret 2025. Selama...

Read moreDetails

Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

by tatkala
March 19, 2025
0
Kolaborasi Internasional Tanam Pohon di Pedawa: PBJ Undiksha, Universitas Iwate Jepang dan Kayoman

INI benar-benar kolaborasi internasional antara mahasiswa dan komunitas di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng-Bali. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ)...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co