12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Tuti Dirgha by Tuti Dirgha
February 5, 2022
in Cerpen
Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Ilustrasi tatkala | Satia Guna

Single parent?

Sebuah peran yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dulu aku selalu berpikir masih cukup banyak waktu yang kumiliki untuk berbagi, bersama-sama membesarkan anak-anak, atau untuk mempersiapkan diri sebelum tiba saat  aku atau suamiku lebih dulu dipanggil ke hadirat-Nya. Skenario Tuhan memang sangat tak terduga.  

Siap atau tidak, peran ini sudah mulai kujalani, sangat asing dan sulit awalnya. Segala pertimbangan, keputusan, tindakan dan pengeluaran tak terduga semua bermuara kepadaku, termasuk urusan perbaikan di rumah tangga dengan segala tetek-bengeknya.

Seperti siang ini, sudah dua kali aku beli lem pvc, dua kali pula aku sekuat tenaga menarik ulur tali ravia, gara-gara  ledeng  jebol. Entah siapa yang usil. Bukannya aku menuduh sembarangan, tapi beralasan kok, karena di sebelah pipa ledeng yang jatuh itu, ada sebatang tangkai kamboja yang cukup besar, cukup untuk membuat sang pipa terkapar.

Sudah kering belum ya lemnya? Aku harus menyambungkannya dengan pipa satu lagi.

Aku bergegas ke belakang dapur,menengok pipa itu. Eh, ternyata sudah kering, aku mengolesi pipa satu lagi dengan lem isarplas dan menggabungkan keduanya, menekan dengan sekuat tenaga kemudian membubuhinya lagi dengan lem beberapa kali.

Kira-kira dua jam kemudian aku menghidupkan kran, cuur…, air mengalir  perlahan, cukuplah.

“Ibu sedang apa?” tanya Candra anak lelaki bungsuku.

“Sedang menyambung pipa ledeng yang terputus.”

“Kok bisa putus, Bu, bukankah pipa ini keras dan tebal?!” tanyanya lagi

“Bisa sajalah , kan sudah lama sekali kita menggunakan pipa ini, sekitar  lima tahun  yang lalu.“

“Wah waktu Papa masih ada ya, Bu. Bukankah waktu itu Papa yang memperbaiki kran, tapi saat itu karena bocor bukan putus. Ternyata serupa pohon juga ya, yang bisa tumbuh besar, berbunga, berbuah, gugur, layu  hingga akhirnya mati. Kekuatan pipa pun ada waktunya.”

“Wah anak Ibu makin pintar ya. Tapi ada perbedaan antara pipa dan pohon. Pipa adalah benda mati dan buatan manusia, sedangkan pohon adalah makhluk hidup dan merupakan ciptaan Tuhan.”

“Ya, Adik tahu.”(si bungsuku ini seringkali menyebut dirinya Adik bila diajak bicara oleh anggota keluarga, karena kakak-kakaknya memanggil demikian).

“Guru IPA Adik menjelaskan bahwa makhluk hidup ciptaan Tuhan ada tiga yaitu manusia,hewan dan tumbuhan. Guru agama juga menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk tertinggi karena dibekali budi pekerti, yang harus menjaga kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan, karena mereka telah berjasa pada kita. Apakah itu sama artinya dengan yang Ibu lakukan, memperbaiki pipa agar masih bisa digunakan? Bagaimana jika nanti putus atau bocor lagi?”

Aku tersenyum sebelum menjawab, ”Ya jika kita memiliki barang-barang, apalagi itu bermanfaat, tentulah harus kita rawat, karena hubungannya timbal-balik, keadaannya yang baik akan memberikan kita bantuan atau kemudahan dalam kegiatan-kegiatan kita.”

Aku melihat kilau di matanya mendengarkan penjelasanku. Aku yakin berikutnya pasti akan muncul pertanyaan baru berkali-kali dari bibir mungilnya yang dia warisi dari ayahnya. Aku menoleh sekilas ke arahnya, dia menatapi pipa yang kulapisi, sekali lagi dengan sisa lem terakhir.

“Nah selesai sudah. Yuk kita ke dalam!”

Kami melintasi ruang makan sebelum sampai ke kamar, tiba-tiba Candra menghentikan langkahnya di depan televisi.

“Bu televisi kita rusak karena petir, apakah karena Adik terlalu lama menonton dalam sehari, sehingga petirnya jengkel, sama seperti ibu jengkel jika Adik masih nonton TV, dan menolak mengerjakan PR?”

Aku belum sempat menjawab ketika dia melanjutkan pertanyaannya?

“Tapi petir kan bukan manusia, masa bisa jengkel. Kalau Adik kecewa karena tidak bisa nonton dunia air, Si Bolang, Tom and Jerry, filem kartun yang adik dan Papa selalu tonton bersama  dan acara lain yang menarik kan pantas, ya kan, Bu?” Candra anak lelaki bungsuku yang kini duduk di bangku SD kelas 3 mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Hmm…begini ya Pangeran Cilik, dengarkan baik-baik Ibunda Ratu akan menjelaskannya. Kami memang sering  menggunakan istilah-istilah kerajaan yang diambil dari dongeng yang kami baca bersama menjelang tidur.

“Kalau  menonton TV terlalu lama tentulah bukan hal yang baik. Disamping melelahkan mata, tugas-tugas kita bisa jadi ikut terbengkalai. Begitu juga televisinya,terlalu lama menyala menjadi panas dan aus, lama kelamaan manjadi rusak tidak bisa dinyalakan lagi.”

Si bungsu mendengar dengan kusyuk.

“Kalau tersambar petir,itu kejadian yang berbeda, petir adalah peristiwa alam yang sering terjadi saat cuaca mendung kadang dibarengi suara guruh, karena adanya unsur energi listrik maka yang disambar pun adalah tempat yang cenderung mengandung unsur energi listrik tinggi. Makanya kita perlu mengawasi peralatan listrik dalam keadaan aman pada saat ada petir atau kilat. Biasanya rumah dan bangunan-bangunan dipasangi penangkal petir “.

“Oh …jadi begitu,, ya. Baiklah Adik janji kalau nanti Ibu sudah bisa membelikan lagi TV baru, Adik akan menonton sesuai dengan waktu yang Ibu perbolehkan, akan mencabut kabelnya jika cuaca mendung, dan mematikan TV, walaupun sedang asyik menonton jika ada petir. Jadi kalau Adik kangen sama suara tertawanya Papa,,saat menonton Tom and Jerry setidaknya Adik bisa mengingatnya. ”

Si bungsu nampak bersungguh-sungguh mengucapkan janjinya.

“Baiklah, anak baik, Ibu akan gunakan tabungan kita untuk beli TV yang baru, tapi tidak sebesar yang dulu, tidak masalah kan?  Nah sekarang karena sudah sore, kamu mandi dulu, jangan lupa gosok minyak kayu putih sebelum pakai baju agar tubuh tetap….?”

“Segar dan sehat “ potong Candra dengan sigap.

“Tapi, Bu…?”

“Apa lagi ya?”

“Sebelum Adik mandi maukah Ibu menjelaskan, kapankah setelah upacara megeseng selesai Papa    kembali?“  

Aku terperanjat, sejenak  memang, tapi cukuplah untuk membuatnya membelalakan mata dengan sorot tak paham. Aku berdehem kecil sebelum memutuskan untuk menjawab dengan cara bagaimana yang kira-kira biar bisa ia pahami.

Dia mengucapkan kata megeseng dengan fasih seolah paham dengan apa yang terjadi pada saat prosesi di kuburan atau setra Buleleng, karena memang saat itu si kecil tekun mengikuti setiap tahapan yang berlangsung.

Dia juga sempat bersilat lidah dengan sanak famili tentang panggilan Papa terhadap ayahnya, bukan Atu, Ajung ataupun Aji seperti kebiasaan kami dalam keluarga besar.

Suamiku, ayah anak- anak ini sebenarnya  saat beliau meninggal tanggal 30 Juni 2007, diprosesi pada tanggal 3 Juli tahun yang sama dengan upacara megeseng yaitu upacara pembakaran mayat tapi dengan sesajen dan tahapan yang belum selengkap ngaben.

Suatu saat nanti jika tersedia biaya dan waktu yang tepat, berdasarkan ala ayuning dewasa dalam perhitungan Pawukuan Bali, dapat dilanjutkan dengan upacara ngaben.

Aku menghela napas perlahan lalu tersenyum. “Anaknya ibu ini…, kalau ada pertanyaan tidak bisa disimpan lama-lama ya. Baik Ibu akan menjelaskan tapi janji  ya, nanti tidak boleh menjadi sedih.”

“Ya, Bu. Adik janji.”

“Begini, sebenarnya dalam kehidupan kita ini ada yang disebut dengan dunia dan akhirat, dunia adalah tempat dimana kita hidup sekarang,bersama makhluk hidup lainnya sedangkan  setelah meninggal jasadnya dikubur atau dibakar sesuai dengan ajaran agamanya, dan arwahnya menuju akhirat, saperti Papa, jasad beliau telah dibakar dengan tata cara agama Hindu, dan setelah melalui prosesi yang lengkap sesuai tatanan upacara agama, ruhnya kembali ke akhirat.”

“Apakah Papa bahagia di sana tanpa kita, Bu? Adik sendiri merasa sedih dan kangen karena Papa tidak ada di sini lagi. Seperti tadi, adik ingin juga dijemput sepulang sekolah oleh Papa, sama seperti teman -teman Adik yang lain.”

Pada situasi seperti ini aku kadangkala sering berandai-andai, kalau saja ayahnya masih ada pastilah akan menjadi bangga karena si bungsu sudah mulai bisa bersikap cermat dalam bertanya maupun mengamati kejadian di sekitarnya, bukan tidak mungkin jika kemudian dia tumbuh besar dan tertarik untuk menulis sama seperti ayahnya. Tapi memang aku percayai bahwa kelahiran, perjodohan, kehidupan dan kematian memang ada di jari-Nya. Aku percaya pula bahwa Beliau selalu menyiapkan hikmah di balik semua ini, Tuhan tak pernah mencoba manusia di luar batas kemampuannya. Semoga memang begitu adanya. Karena sebesar-besarnya kepercayaanku padaNya, lebih besar lagi kepercayaan Beliau kepadaku dengan adanya enam jiwa yang dianugrahkannya pada kami, yang membuatku mencoba untuk bertahan berperan sebagai ibu sekaligus pengganti ayah bagi anak-anak kami.

“Anak pandai, wajarlah jika kita merasa sedih dan kangen karena kita saling menyayangi, Papa pastilah akan bahagia jika kita bahagia,akan sedih jika kita sedih.walaupun kita tidak melihatnya tapi kita bisa rasakan. Tugas kita sekarang adalah berbuat hal-hal yang baik,yang menyenangkan orang-orang sekitar kita, pasilah Papa ikut merasa senang. Jika kita merasa kangen, sebaiknya kita berdoa, memohon ampunan dari Tuhan terhadap kesalahan yang pernah Papa lakukan dan semoga kebaikan-kebaikannya semasa hidupnya dulu akan menjadikan Papa seseorang yang baik dan dikasihi. Karena jika Tuhan berkenan, ada yang disebut dengan reinkarnasi yaitu penitisan kembali ke dunia, yang kita yakini dalam ajaran agama kita. Pada saat itulah kemungkinan Papa kembali kedunia ini.”

Aku menolehkan wajah ke arahnya karena tak kudengar suara sahutan.

”Apakah penjelasan ibu bisa kamu pahami?”

“Hm… ya, Bu. “

Untuk beberapa saat kami terdiam. Mungkin sebenarnya aku sendiri yang sedang menata hatiku untuk bisa memahami penjelasan yang aku upayakan bisa dipahami oleh cara berfikirnya.

“Bu..?“ Candra memecahkan kediamaan kami.

“Ayo…ada apa lagi ya?“ tanyaku dengan suara sedikit bergetar.

“Jadi, setelah kita meninggal, barulah bisa bertemu Papa ya. Kalau begitu, pada saat bersembahyang bersama nanti, bisakah kita tambahkan permohonan agar bila tiba saatnya kita reinkarnasi nantinya  Papa akan tetap menjadi suami Ibu dan menjadi Papa kami?”

“Oh ..eh.. ya, ya, tentu saja bisa, anakku. Kita akan memohon bersama.“ Aku menjawab terbata- bata seakan tersedak sesuatu.

“Terimakasih, Bu.” jawabnya dengan senyum penuh di bibir dan matanya.

Aku merasa ada tetes jatuh dari mataku yang menyelusup ke relung hati, ketika aku menatapinya melenggang ke kamar mandi.

“Apakah engkau melihatnya, bukan hanya aku yang mencintaimu. Suamiku, ayah anak- anakku. Beristirahatlah dengan damai di sisi-Nya. Sampai hari ini masih hanya engkaulah ayah mereka.” [T]

Puri Gohbraja, 21 Maret 2011

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Ranty | Cerpen Rastiti Era
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Betapa Gagah dan Kece Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia

Next Post

Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Tuti Dirgha

Tuti Dirgha

Penulis buku puisi Beri Aku Waktu

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co