30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Tuti Dirgha by Tuti Dirgha
February 5, 2022
in Cerpen
Menjaga Warisan | Cerpen Tuti Dirgha

Ilustrasi tatkala | Satia Guna

Single parent?

Sebuah peran yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dulu aku selalu berpikir masih cukup banyak waktu yang kumiliki untuk berbagi, bersama-sama membesarkan anak-anak, atau untuk mempersiapkan diri sebelum tiba saat  aku atau suamiku lebih dulu dipanggil ke hadirat-Nya. Skenario Tuhan memang sangat tak terduga.  

Siap atau tidak, peran ini sudah mulai kujalani, sangat asing dan sulit awalnya. Segala pertimbangan, keputusan, tindakan dan pengeluaran tak terduga semua bermuara kepadaku, termasuk urusan perbaikan di rumah tangga dengan segala tetek-bengeknya.

Seperti siang ini, sudah dua kali aku beli lem pvc, dua kali pula aku sekuat tenaga menarik ulur tali ravia, gara-gara  ledeng  jebol. Entah siapa yang usil. Bukannya aku menuduh sembarangan, tapi beralasan kok, karena di sebelah pipa ledeng yang jatuh itu, ada sebatang tangkai kamboja yang cukup besar, cukup untuk membuat sang pipa terkapar.

Sudah kering belum ya lemnya? Aku harus menyambungkannya dengan pipa satu lagi.

Aku bergegas ke belakang dapur,menengok pipa itu. Eh, ternyata sudah kering, aku mengolesi pipa satu lagi dengan lem isarplas dan menggabungkan keduanya, menekan dengan sekuat tenaga kemudian membubuhinya lagi dengan lem beberapa kali.

Kira-kira dua jam kemudian aku menghidupkan kran, cuur…, air mengalir  perlahan, cukuplah.

“Ibu sedang apa?” tanya Candra anak lelaki bungsuku.

“Sedang menyambung pipa ledeng yang terputus.”

“Kok bisa putus, Bu, bukankah pipa ini keras dan tebal?!” tanyanya lagi

“Bisa sajalah , kan sudah lama sekali kita menggunakan pipa ini, sekitar  lima tahun  yang lalu.“

“Wah waktu Papa masih ada ya, Bu. Bukankah waktu itu Papa yang memperbaiki kran, tapi saat itu karena bocor bukan putus. Ternyata serupa pohon juga ya, yang bisa tumbuh besar, berbunga, berbuah, gugur, layu  hingga akhirnya mati. Kekuatan pipa pun ada waktunya.”

“Wah anak Ibu makin pintar ya. Tapi ada perbedaan antara pipa dan pohon. Pipa adalah benda mati dan buatan manusia, sedangkan pohon adalah makhluk hidup dan merupakan ciptaan Tuhan.”

“Ya, Adik tahu.”(si bungsuku ini seringkali menyebut dirinya Adik bila diajak bicara oleh anggota keluarga, karena kakak-kakaknya memanggil demikian).

“Guru IPA Adik menjelaskan bahwa makhluk hidup ciptaan Tuhan ada tiga yaitu manusia,hewan dan tumbuhan. Guru agama juga menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk tertinggi karena dibekali budi pekerti, yang harus menjaga kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan, karena mereka telah berjasa pada kita. Apakah itu sama artinya dengan yang Ibu lakukan, memperbaiki pipa agar masih bisa digunakan? Bagaimana jika nanti putus atau bocor lagi?”

Aku tersenyum sebelum menjawab, ”Ya jika kita memiliki barang-barang, apalagi itu bermanfaat, tentulah harus kita rawat, karena hubungannya timbal-balik, keadaannya yang baik akan memberikan kita bantuan atau kemudahan dalam kegiatan-kegiatan kita.”

Aku melihat kilau di matanya mendengarkan penjelasanku. Aku yakin berikutnya pasti akan muncul pertanyaan baru berkali-kali dari bibir mungilnya yang dia warisi dari ayahnya. Aku menoleh sekilas ke arahnya, dia menatapi pipa yang kulapisi, sekali lagi dengan sisa lem terakhir.

“Nah selesai sudah. Yuk kita ke dalam!”

Kami melintasi ruang makan sebelum sampai ke kamar, tiba-tiba Candra menghentikan langkahnya di depan televisi.

“Bu televisi kita rusak karena petir, apakah karena Adik terlalu lama menonton dalam sehari, sehingga petirnya jengkel, sama seperti ibu jengkel jika Adik masih nonton TV, dan menolak mengerjakan PR?”

Aku belum sempat menjawab ketika dia melanjutkan pertanyaannya?

“Tapi petir kan bukan manusia, masa bisa jengkel. Kalau Adik kecewa karena tidak bisa nonton dunia air, Si Bolang, Tom and Jerry, filem kartun yang adik dan Papa selalu tonton bersama  dan acara lain yang menarik kan pantas, ya kan, Bu?” Candra anak lelaki bungsuku yang kini duduk di bangku SD kelas 3 mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Hmm…begini ya Pangeran Cilik, dengarkan baik-baik Ibunda Ratu akan menjelaskannya. Kami memang sering  menggunakan istilah-istilah kerajaan yang diambil dari dongeng yang kami baca bersama menjelang tidur.

“Kalau  menonton TV terlalu lama tentulah bukan hal yang baik. Disamping melelahkan mata, tugas-tugas kita bisa jadi ikut terbengkalai. Begitu juga televisinya,terlalu lama menyala menjadi panas dan aus, lama kelamaan manjadi rusak tidak bisa dinyalakan lagi.”

Si bungsu mendengar dengan kusyuk.

“Kalau tersambar petir,itu kejadian yang berbeda, petir adalah peristiwa alam yang sering terjadi saat cuaca mendung kadang dibarengi suara guruh, karena adanya unsur energi listrik maka yang disambar pun adalah tempat yang cenderung mengandung unsur energi listrik tinggi. Makanya kita perlu mengawasi peralatan listrik dalam keadaan aman pada saat ada petir atau kilat. Biasanya rumah dan bangunan-bangunan dipasangi penangkal petir “.

“Oh …jadi begitu,, ya. Baiklah Adik janji kalau nanti Ibu sudah bisa membelikan lagi TV baru, Adik akan menonton sesuai dengan waktu yang Ibu perbolehkan, akan mencabut kabelnya jika cuaca mendung, dan mematikan TV, walaupun sedang asyik menonton jika ada petir. Jadi kalau Adik kangen sama suara tertawanya Papa,,saat menonton Tom and Jerry setidaknya Adik bisa mengingatnya. ”

Si bungsu nampak bersungguh-sungguh mengucapkan janjinya.

“Baiklah, anak baik, Ibu akan gunakan tabungan kita untuk beli TV yang baru, tapi tidak sebesar yang dulu, tidak masalah kan?  Nah sekarang karena sudah sore, kamu mandi dulu, jangan lupa gosok minyak kayu putih sebelum pakai baju agar tubuh tetap….?”

“Segar dan sehat “ potong Candra dengan sigap.

“Tapi, Bu…?”

“Apa lagi ya?”

“Sebelum Adik mandi maukah Ibu menjelaskan, kapankah setelah upacara megeseng selesai Papa    kembali?“  

Aku terperanjat, sejenak  memang, tapi cukuplah untuk membuatnya membelalakan mata dengan sorot tak paham. Aku berdehem kecil sebelum memutuskan untuk menjawab dengan cara bagaimana yang kira-kira biar bisa ia pahami.

Dia mengucapkan kata megeseng dengan fasih seolah paham dengan apa yang terjadi pada saat prosesi di kuburan atau setra Buleleng, karena memang saat itu si kecil tekun mengikuti setiap tahapan yang berlangsung.

Dia juga sempat bersilat lidah dengan sanak famili tentang panggilan Papa terhadap ayahnya, bukan Atu, Ajung ataupun Aji seperti kebiasaan kami dalam keluarga besar.

Suamiku, ayah anak- anak ini sebenarnya  saat beliau meninggal tanggal 30 Juni 2007, diprosesi pada tanggal 3 Juli tahun yang sama dengan upacara megeseng yaitu upacara pembakaran mayat tapi dengan sesajen dan tahapan yang belum selengkap ngaben.

Suatu saat nanti jika tersedia biaya dan waktu yang tepat, berdasarkan ala ayuning dewasa dalam perhitungan Pawukuan Bali, dapat dilanjutkan dengan upacara ngaben.

Aku menghela napas perlahan lalu tersenyum. “Anaknya ibu ini…, kalau ada pertanyaan tidak bisa disimpan lama-lama ya. Baik Ibu akan menjelaskan tapi janji  ya, nanti tidak boleh menjadi sedih.”

“Ya, Bu. Adik janji.”

“Begini, sebenarnya dalam kehidupan kita ini ada yang disebut dengan dunia dan akhirat, dunia adalah tempat dimana kita hidup sekarang,bersama makhluk hidup lainnya sedangkan  setelah meninggal jasadnya dikubur atau dibakar sesuai dengan ajaran agamanya, dan arwahnya menuju akhirat, saperti Papa, jasad beliau telah dibakar dengan tata cara agama Hindu, dan setelah melalui prosesi yang lengkap sesuai tatanan upacara agama, ruhnya kembali ke akhirat.”

“Apakah Papa bahagia di sana tanpa kita, Bu? Adik sendiri merasa sedih dan kangen karena Papa tidak ada di sini lagi. Seperti tadi, adik ingin juga dijemput sepulang sekolah oleh Papa, sama seperti teman -teman Adik yang lain.”

Pada situasi seperti ini aku kadangkala sering berandai-andai, kalau saja ayahnya masih ada pastilah akan menjadi bangga karena si bungsu sudah mulai bisa bersikap cermat dalam bertanya maupun mengamati kejadian di sekitarnya, bukan tidak mungkin jika kemudian dia tumbuh besar dan tertarik untuk menulis sama seperti ayahnya. Tapi memang aku percayai bahwa kelahiran, perjodohan, kehidupan dan kematian memang ada di jari-Nya. Aku percaya pula bahwa Beliau selalu menyiapkan hikmah di balik semua ini, Tuhan tak pernah mencoba manusia di luar batas kemampuannya. Semoga memang begitu adanya. Karena sebesar-besarnya kepercayaanku padaNya, lebih besar lagi kepercayaan Beliau kepadaku dengan adanya enam jiwa yang dianugrahkannya pada kami, yang membuatku mencoba untuk bertahan berperan sebagai ibu sekaligus pengganti ayah bagi anak-anak kami.

“Anak pandai, wajarlah jika kita merasa sedih dan kangen karena kita saling menyayangi, Papa pastilah akan bahagia jika kita bahagia,akan sedih jika kita sedih.walaupun kita tidak melihatnya tapi kita bisa rasakan. Tugas kita sekarang adalah berbuat hal-hal yang baik,yang menyenangkan orang-orang sekitar kita, pasilah Papa ikut merasa senang. Jika kita merasa kangen, sebaiknya kita berdoa, memohon ampunan dari Tuhan terhadap kesalahan yang pernah Papa lakukan dan semoga kebaikan-kebaikannya semasa hidupnya dulu akan menjadikan Papa seseorang yang baik dan dikasihi. Karena jika Tuhan berkenan, ada yang disebut dengan reinkarnasi yaitu penitisan kembali ke dunia, yang kita yakini dalam ajaran agama kita. Pada saat itulah kemungkinan Papa kembali kedunia ini.”

Aku menolehkan wajah ke arahnya karena tak kudengar suara sahutan.

”Apakah penjelasan ibu bisa kamu pahami?”

“Hm… ya, Bu. “

Untuk beberapa saat kami terdiam. Mungkin sebenarnya aku sendiri yang sedang menata hatiku untuk bisa memahami penjelasan yang aku upayakan bisa dipahami oleh cara berfikirnya.

“Bu..?“ Candra memecahkan kediamaan kami.

“Ayo…ada apa lagi ya?“ tanyaku dengan suara sedikit bergetar.

“Jadi, setelah kita meninggal, barulah bisa bertemu Papa ya. Kalau begitu, pada saat bersembahyang bersama nanti, bisakah kita tambahkan permohonan agar bila tiba saatnya kita reinkarnasi nantinya  Papa akan tetap menjadi suami Ibu dan menjadi Papa kami?”

“Oh ..eh.. ya, ya, tentu saja bisa, anakku. Kita akan memohon bersama.“ Aku menjawab terbata- bata seakan tersedak sesuatu.

“Terimakasih, Bu.” jawabnya dengan senyum penuh di bibir dan matanya.

Aku merasa ada tetes jatuh dari mataku yang menyelusup ke relung hati, ketika aku menatapinya melenggang ke kamar mandi.

“Apakah engkau melihatnya, bukan hanya aku yang mencintaimu. Suamiku, ayah anak- anakku. Beristirahatlah dengan damai di sisi-Nya. Sampai hari ini masih hanya engkaulah ayah mereka.” [T]

Puri Gohbraja, 21 Maret 2011

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Ranty | Cerpen Rastiti Era
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Betapa Gagah dan Kece Festival Sastra Bali Modern Pertama dan Terbesar di Dunia

Next Post

Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Tuti Dirgha

Tuti Dirgha

Penulis buku puisi Beri Aku Waktu

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti | Prihentemen

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co