12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Jaswanto by Jaswanto
October 3, 2024
in Khas
Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Kartolo dan pelaku budaya lain penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEJUMLAH seniman dan pelaku budaya lintas usia duduk berdampingan di sebuah gedung megah di Jakarta. Mereka saling cakap tanpa rasa canggung satu sama lain. Beberapa memang sudah saling mengenal, meski lebih banyak yang baru saja saling sebut nama. Para seniman itu datang dari satu dan lain daerah. Dan mereka juga berangkat dari kesenian yang berbeda-beda.

Lihatlah, Kartolo, seniman Ludruk itu, begitu akrab berbincang dan bersendagurau dengan Sardjono (seniman karawitan dan pedalangan) yang sudah sangat sepuh itu—Sardjono berjalan menggunakan kursi roda. Atau Zakia Minang Ayu yang tak canggung saat berinteraksi dengan Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri.

Semua tampak akrab dan saling tukar-cerita bagaimana ekosistem kesenian dan kebudayaan di masing-masing daerah. Ada yang menggebu-gebu, tak sedikit pula yang memilih diam dan mendengarkan. Tetapi, terlepas dari itu semua, ini momen bagus untuk melihat bagaimana wajah seni dan budaya Indonesia di masa sekarang, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa masih ada—dan mungkin banyak—sosok yang masih setia mengembangkan dan melestarikan seni-budaya di daerah masing-masing.

Sementara itu, di ruang teras gedung tersebut, sedang berlangsung pameran yang menampilkan profil singkat dan benda-benda yang mewakili setiap seniman dan komunitas peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 di setiap kategori. Benda-benda yang dipamerkan terdiri dari wayang, busana tari, buku, alat musik, foto, dan boneka—sebut saja begitu.

Benda-benda itu ditata sedemikian rupa dan diletakkan di setiap kategori. Misalnya, mereka yang mendapat Tanda Kehormatan dari Presiden Republik Indonesia—Bintang Budaya Parama Dharma dan Satyalancana Kebudayaan—diletakkan besama-sama di sebuah sudut di gedung tersebut. Begitu pula kategori Maestro Seni Tradisi; Pelestari, Pelopor dan/atau Pembaru; Lembaga dan Perorangan Asing; Media; dan Anak.

Pelaku budaya yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sudut pameran kategori maestro seni tradisi, terlihat beberapa nama di sana. Ada Temu Misti (seniman Tari Gandrung Banyuwangi), Kartolo (seniman Ludruk), Rusini (penyusun dan penari tradisi), Tatang Setiadi (seniman tradisi), dan Baiya (pedendang nyanyian sastra lisan Panjang).

Sedangkan di kategori pelestari ada nama Siami (penenun wastra Using), Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri PASAK (pelestari sejarah dan budaya Kediri), Endo Suanda (etnomusikologi, peneliti, penari, pemusik), Senari (penyalin Lontar Yusuf), dan Sardjono (seniman karawitan dan pedalangan).

Kemudian, kategori pelopor dan/atau pembaru tertera nama Ainar Tri Asita (koreografer tari), Laura Tias Avionita Sinaga (penari dan koreografer disabilitas), Lisabona Rahman (pengarsipan film), Mulyani (seni tari), dan Papermoon Puppet Theatre (teater boneka).

Selanjutnya, untuk lembaga dan perorangan asing ada nama Andrew Timar (seniman, komposer, pendidik, dan penyuluh keterlibatan masyarakat dalam budaya Jawa, Sunda, dan aktivis musik gamelan hibrida di Kanada), Marianna Zofia Lis (peneliti wayang dan teater Indonesia, dalang, pemain gamelan, dan penerjemah karya sastra Indonesia, asal Polandia), Boi Akih (musisi, asal Belanda). Dan di sudut kategori media terlihat dua nama di sana, ada Tatkala.co dan Kediripedia.com.

Sementara itu, untuk kategori anak diisi nama Zakia Minang Ayu (sastra), Nurul Khaerul Nisa (karawitan dan Tari Sunda), dan Daneswara Satya Swandaru (seni pedalangan wayang kulit,wayang golek, menek, dan seni karawitan).

Sedangkan sudut pameran untuk penerima tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dan Satyalancana Kebudayaan tertera nama pencipta Shalawat Badar (Alm) Ali Manshur Shiddiq, (Alm) Djauhar Zaharsyah Fahrudin Roesli (Harry Roesli) sebab kontribusinya menjadikan seni musik sebagai ruang inkusif, dan (Alm.) Prof. Henricus Supriyanto, M. Hum., sebagai tokoh budayawan sekaligus pegiat dan pelestari kesenian ludruk.

Tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma diberikan kepada (Alm) Ali Manshur Shiddiq dan (Alm) Djauhar Zaharsyah Fahrudin Roesli (Harry Roesli). Kemudian tanda kehormatan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada (Alm.) Prof. Henricus Supriyanto, M. Hum.

Di setiap sudut kategori, terdapat semacam bilik yang di dalamnya berisi layar yang menampilkan audio visual profil singkat setiap seniman maupun komunitas yang mendapat AKI 2024. Ini, meski sangat singkat, cukup membantu pengunjung untuk mengetahui siapa dan kenapa sosok-sosok tersebut layak mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Teladan Pemajuan Kebudayaan

Nama-nama sosok dan komunitas yang telah disebutkan di atas merupakan, sekali lagi, penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 dari Presiden Republik Indonesia—untuk Bintang Budaya Parama Dharma dan Satyalancana Kebudayaan—dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Penghargaan tersebut diserahkan pada acara puncak AKI 2024 di The Tribrata Hotel and Convention, Darmawangsa, Jakarta, Selasa (17/9/2024) malam.

Pelaku budaya yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mereka, para penerima AKI 2024, dinilai telah berkontribusi terhadap pemajuan kebudayaan Indonesia, sebagaimana kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, yang menyebut para penggerak budaya adalah contoh nyata keteladanan dalam pemajuan kebudayaan yang sesuai dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2017. Hilmar menyampaikan kreativitas dan semangat para penggerak budaya memberi bukti berkembangnya kekayaan kebudayaan Indonesia sehingga dapat dinikmati setiap generasi dulu dan kini.

“Dedikasi para penggerak budaya tersebut harus diapresiasi negara secara istinewa melalui pelaksanaan Anugerah Kebudayaan Indonesia. Penggerak budaya dapat mendorong tumbuhnya rasa melestarikan kesenian dan kebudayaan dengan segala keberagamannya,” kata Hilmar, seperti yang dikutip banyak media, Selasa (17/9/2024) malam.

Apa yang dikatakan Hilmar tentu saja bukan cuap-cuap semata. Orang-orang maupun komunitas yang mendapatkan AKI 2024 memang layak dari segi apa pun—setidaknya menurut kacamata juri. Lihatlah tatkala.co, misalnya. Media daring yang didirikan oleh Komunitas Mahima pada 3 Mei 2016 ini, secara konsisten melakukan peliputan dan memberi ruang untuk artikel-artikel mendalam yang berupaya memajukan kebudayaan Indonesia.

Hingga saat ini, media yang berbasis di Bali ini masih mempertahankan praktik kerja kreatif dan kritis dalam memberi perhatian pada penulisan kerja-kerja kebudayaan, seperti menyiarkan upaya pelestarian dan pengembangan hasil kerja kebudayaan Indonesia dan Bali secara khusus.

Tak hanya tatkala.co, nama Lisabona Rahma juga pantas mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia. Pelopor pengarsipan dan restorasi film Indonesia ini memiliki perhatian lebih dalam pengumpulan dan pengelolaan arsip dalam memahami sejarah film Indonesia. Pada praktiknya, ia memadukan penelitian kolektif dengan kerja digitalisasi materi arsip untuk mengungkap kerja perempuan yang terpinggirkan dari sejarah film Indonesia. Atas perannya tersebut, Lisabona berhasil mengedukasi publik dalam konteks film Indonesia dengan melakukan kajian-kajian kritis.

Atau Temu, yang lahir di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, Banyuwangi, 20 April 1953 itu. Temu meniti perjalanan panjang untuk menjadi seniman Gandrung yang dimulai dengan ritual meras—langkah awal sebaga penari Gandrung. Sejak usia 15 tahun, Temu telah dikenal sebagai penyanyi Gandrung dengan ciri khas vokal lantang dan timbre padat, serta penguasaan penuh terhadap lagu-lagu Gandrung Osing.

Selain menari, Temu juga mengelola Sanggar Tari Sopo Ngiro yang melestarikan dan mewariskan seni Gandrung kepada generasi berikutnya. Sampai sekarang, Temu masih aktif menari dan tampil diberbagai pertunjukan tari. Ia menunjukkan konsistensi dan kesinambungan yang tinggi, yang berkiprah pada seni Gandrung, sekurangnya dalam 4 generasi Gandrung Banyuwangi.

Dan lihatlah Kartolo, ahli guyonan, kekidungan, dan karawitan Ludruk itu, tak patah-arang meski zaman sekarang tak banyak orang yang menyukai atau memiliki keinginan menjadi seniman Ludruk. Selain dianggap sebagai pembaharu seni Ludruk di Jawa Timur, ia juga menciptakan banyak kidung Ludruk yang memotret persoalan rakyat dengan kritik sosial, pesan moral populer, yang merepresentasikan kearifan wong cilik. Ini memang ciri khasnya.

Kartolo melakukan pembaharuan pada seni Ludruk dengan memposisikan Ludruk sebagai wahana kritik sosial dan membuka imajinasi kultural yang baru. Sampai saat ini, Kartolo masih aktif di panggung-panggung Ludruk, khususnya di sekitaran Surabaya dan Jawa Timur. Bahkan, belakangan ia juga menjadi aktor dalam film panjang berbahasa Jawa, Yo Wis Ben karya Bayu Skak.

Papermoon Puppet Theatre, komunitas penerima AKI 2024 ini juga dapat dijadikan teladan dalam pemajuan kebudayaan. Kelompok teater boneka yang didirikan oleh Maria Tri Sulistyani pada April 2006 di Yogyakarta ini, bersama Iwan Effendi, seorang seniman visual, telah membina, mengembangkan, dan memperluas proses berkesenian anggota Papermoon.

Pelaku budaya yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Papermoon menjadi pelopor dalam menciptakan media baru untuk cerita anak yang menonjolkan nilai-nilai lokal dan mendapatkan pengakuan artistik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Peran pelopor ini berkembang seiring dengan ekosistem mereka yang didukung oleh keterlibatan masyarakat. Hingga saat ini, Papermoon telah menciptakan lebih dari 20 pertunjukan boneka dan membuat karya instalasi seni visual serta pameran yang telah berkeliling di lebih dari 15 negara.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, tentu saja masih banyak sosok dan komunitas, yang mendapat AKI maupun tidak, yang dapat dijadikan teladan dalam pemajuan kebudayaan di daerah-daerah di Indonesia. Lewat rekam-jejak mereka kita belajar bahwa konsistensi, kesabaran, kepedulian, dan ketekunan adalah beberapa kunci dalam mengembangkan dan melestarikan seni-budaya.

Dan penyelenggaraan Anugerah Kebudayaan Indonesia ini, sebagaimana dikatakan Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dalam sambutannya di acara malam puncak AKI 2024, adalah sebagai wujud apresiasi pemerintah kepada pelaku budaya di Indonesia, khususnya mereka yang telah berdedikasi dalam upaya pemajuan kebudayaan dan mengajak masyarakat untuk andil dalam pelestarian kekayaan budaya.

“Semangat dan ajakan partisipastif ditunjukkan penggerak budaya ke masyarakat untuk berkolaborasi mengembangkan warisan kebudayaan Nusantara. Penggerak budaya menjelaskan kepada kita semua bahwa merawat kebudayaan merupakan tugas semua masyarakat agar peradaban Indonesia terjaga,” ujar Nadiem. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai
Ada Ratusan Film Pendek dari Berbagai Negara di Minikino Film Week 2024
Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern
Tags: Anugerah Kebudayaan IndonesiakebudayaanKemendikbudristek RImaestro seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Puncak Tegeh Kepah  

Next Post

Menimba Ilmu Lele di ”Uma Lele”: Ini Bukan Lele Biasa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menimba Ilmu Lele di ”Uma Lele”: Ini Bukan Lele Biasa

Menimba Ilmu Lele di ”Uma Lele”: Ini Bukan Lele Biasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co