23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngempel” dan  “Tajen Sabha Pangangon” di Desa Adat Kutuh      

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 28, 2024
in Khas
Tradisi “Ngempel” dan  “Tajen Sabha Pangangon” di Desa Adat Kutuh      

Tradisi Ngempel di Desa Adat Kutuh | Foto : Agus Suryawan

DESA Adat Kutuh, Kuta Selatan, di Gumi Delod Ceking memiliki kearifan lokal yang tidak dipunyai desa adat lain di sekitarnya. Di  desa ini, setiap Purnama Sasih Kapat diadakan ritual secara turun-temurun disebut ngusaba atau ngapat. Disebut ngusaba karena pemujaan dilakukan untuk memuliakan dewi kemakmuran yaitu Dewi Sri sebagai saktinya Dewa Wisnu. Dengan demikian, pusat kegiatannya di Pura Puseh Desa Adat Kutuh.

Dalam praktik ritual ngusaba di Desa Adat Kutuh, kegiatan dimulai dari nedunang Para Sadeg Desa Adat Kutuh sebagai upasaksi niskala dalam pelaksanaan ngusaba Desa. Tradisi ngusaba desa ini juga disebut sebagai tradisi ngapat karena dilaksanakan upacaranya pada Purnama Sasih Kapat (Kartika).

Rangkaian upacara ngusaaba desa di Desa Adat Kutuh berlangsung selama dua hari dengan puncaknya pada saat Purnama Kapat berlangsung di empat Pura : Pura Puseh dengan Pura Toyo Ning dan Pura Dalem dengan Pura Mrajapati.  Upacara di Pura Dalem Desa Adat Kutuh baru bisa dimulai setelah Para Sadeg Desa rauh dari Pura Puseh diiringi dengan Kidung dan Bleganjur. Proses menuju kerauhan ‘kesurupan’ selalu diawali  dengan ritual tertentu dipimpin oleh Pemangku Desa Adat Kutuh.

Puncak dari semua rentetan upacara ritual di Pura Dalem dan Pura Puseh adalah tradisi tari keris (keris dance) yang biasanya menjadi tarian paling seru dan ditunggu-tunggu pemedek yang tangkil sebagai pengusir kantuk. Maklumlah, dulu prosesi ngusaba dimulai saat menjelang tengah malam dan berakhir menjelang pagi, galang kangin.  

Tarik Keris Pura Dalem  paling banyak pesertanya, paling ramai dan paling memukau banyak penonton. Itu terkait dengan sekaa pemaksan Pura Dalem yang paling banyak di Desa Adat Kutuh. Tidak demikian halnya di Pura Puseh, walaupun ada Tari Keris jumlahnya tidak sebanyak penari keris di Pura Dalem. Di Desa Adat Kutuh, Tari Keris disebut ngurek di desa adat lain sering disebut ngunying.

Tradisi Ngempel di Desa Adat Kutuh | Foto : Agus Suryawan

Secara tradisi, Sekaa Pemaksan Pura di Desa Adat Kutuh disebut Parekan. Di Desa ini terdapat empat Parekan besar yaitu Parekan Gunung Payung, Parekan Desa, Parekan Dalem, dan Parekan Puseh. Pembagian Parekan ini berkaitan  dengan pembagian tugas krama Desa Adat Kutuh dalam melaksanakan aci yadnya serangkaian rerahinan gumi dari Saraswati, Banyu Pinaruh, Somo Ribek, Sabuh Mas, dan Pagerwesi.

Parekan Desa bertanggung jawab melaksanakan tugas ngaturang aci wali pada saat Sarawasti dan Puja Wali Pura Desa saat Soma Pon Sinta bertepatan dengan Soma Ribek. Parekan Dalem dan Parekan Gunung Payung melaksanakan aci rerainan pada saat Banyu Pinaruh, sedangkan Parekan Puseh melaksanakan aci pada saat Pagerwesi.

Dengan mencermati pembagian tugas itu, leluhur Desa Adat Kutuh yang dalam bahasa niskala disebut Desa Rangdu Kuning telah melakukan pemetaan dan pembagian tugas secara nyata dan adil. Tugas yang harus dipikul secara niskala itu disebut tetegenan sedangkan pelaba pura untuk membantu menyukseskan ritual yadnya disebut sanan. Di alam demokrasi kini, tetegenan itu identik dengan kewajiban, sedangkan sanan identik dengan hak. Idealnya tetegenan dan sanan harus seimbang, tidak berat sebelah.

Terdapat dua tradisi luhur serangkaian upacara Ngusaba/Ngapat di Desa Adat Kutuh, yaitu Tradisi Ngempel dan Tajen Sabha Pangangon.  Secara fisikal, Ngepel identik dengan membuat tanggul di area pertanian agar tidak tergerus tanahnya bila hujan lebat tiba. Tradisi Ngempel mengakhiri prosesi ritual di Pura Toyo Ning.  Sebagai sebuah tradisi, Ngempel berlangsung di Pura Toyo Ning untuk mengantisipasi blabar ketika hujan turun yang menyebabkan banjir. Itu dilaksanakan sehari setelah Purnama Kapat sebelum musim hujan tiba.

Secara ilmu Bali,  hujan biasanya jatuh sekitar Sasih Kalima atau Kanem sekitar November/Desember. Upakara banten  yang dipakai Ngempel di Pura Toyo Ning, diawali dengan prosesi murwa daksina sebanyak 3 kali  di Pura Puseh. Dengan demikian, Ngempel adalah satu paket ritual berbasis agraris untuk memohon kesejahteraan sekala niskala dari Bhatara Wisnu dengan saktinya Dewi Sri.

 Mengapa Murwa Daksina di Pura Puseh sedangkan Ngempel-nya di Pura Toyo Ning ? Pura Puseh diyakini sebagai tempat stana Dewa Wisnu dengan Saktinya Dewi Sri, yang diyakini memelihara dan mengembangkan kemakmuran. Sedangkan Ngempel-nya di Pura Toyo Ning, karena kemakmuran tidaklah terwujud tanpa adanya air yang cukup.

Dalam konteks kekinian, Pura Toyo Ning tak ubahnya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk. Bagi Desa Adat Kutuh, Pura Toyo Ning tak ubahnya subak Desa Adat yang mengalirkan air tirta amerta ke abian-abian petani. PDAM dan subak yang baik akan  mengalirkan air secara merata berkecukupan dan berkeadilan. Bila tidak demikian, ada dua kemungkinan terjadi : kekeringan dan kebanjiran.  Bila blabar air berlimpah dan membahayakan, maka perlu di-empel. Jadi, Ngempel dalam tradisi ritual di Desa Adat Kutuh adalah strategi mengantisipasi datangnya musim hujan agar tidak sampai banjir apalagi sampai membahayakan.

Selanjutnya, masih terkait dengan tradisi Ngusaba/Ngapat di Desa Adat Kutuh adalah tradisi Tajen Sabha Pengangon. Tajen Sabha Pangangon  yang biasa disebut tabuh rah berlangsung selama 4 hari berturut-turut dengan sabungan ayam dimulai dari Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, dan berakhir di Pura Desa. Ada dua Daksina  Peras  untuk kalangan tajen ‘arena’ yang dilaksanakan  di madya mandala masing-masing Pura Kahyangan Tiga. Daksina Peras pertama  mulai dari hari pertama sampai hari ketiga secara berturut-turut yaitu di Madya Mandala Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. Selanjutnya, Daksina Peras kedua, sebagai Daksina penyineb Tabuh Rah di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh.

Tradisi Ngempel di Desa Adat Kutuh | Foto : Agus Suryawan

Mengapa Tajen Sabha Pangangon ? Belum ada interpretasi tertulis di kalangan krama Desa Adat Kutuh. Namun demikian, secara etimologi bisa dikulik dari tiga kata : Tajen, Sabha, dan Pengangon. Tajen ‘sabungan ayam’ yang diperhalus dengan Tabuh Rah sejak dulu sudah menjadi bagian budaya dengan taruhan uang kepeng dalam jumlah tertentu. Seiring perkembangan zaman, uang kepeng diganti dengan rupiah. Dalam konteks Tabuh Rah, biasanya disarankan maksimal telung saet (3 kali sabungan ayam). Namun, faktanya belakangan ini, Tabuh Rah itu bisa lebih dari telung saet dan taruhannya pun sering tidak terkendali.

Menarik pula dikulik, selain Tajen disebut Tabuh Rah juga sering disebut Kaklecan dengan makna sabungan ayam lebih bersifat hiburan. Di arena Kaklecan, peserta menumpahkan emosi dan kegembiraan dengan suara ritmis estetis dengan cok…cokk…cokkk…gasal…gasal…gasal…. Kadang-kadang juga menyebut warna ayam aduan : biing…biing…biing…putih…putih…putih…. Ada pula yang menyebut arah mata angin : kangin…kangin…kangin… kauh…kauh…kauh…. Atau kaja…kaja…kaja…kelod..kelod…kelod… Dari penyebutan itu terimpisit makna mewujudkan keseimbangan dan keselarasan karena hakikat dari Tabuh Rah adalah caru sebagai bagian dari ritual butha yadnya.

Selanjutnya, Sabha berarti pertemuan dan Pengangon adalah pengembala. Sabha Pengangon adalah pertemuan para pengembala. Dengan demikian, Tajen Sabha Pangangon adalah pertemuan para pengembala untuk bersenang-senang melalui sabungan ayam setelah masa panen untuk kembali menyambut siklus bercococok tanam, menjelang musim hujan tiba.

Tradisi Tajen Sabha Pengangon di Desa Adat Kutuh  yang dilakukan secara turun-temurun terinspirasi dari tradisi agraris dengan budaya bertani dan beternak sekaligus. Jika mencermati, situasi geografi Gumi Delod Ceking pada umumnya, pertanian bergantung pada hujan turun. Oleh karena itu, tetua Kutuh menyebut sebagai  madanu di langit dalam arti bergantung pada hujan turun dari langit yang menumpahkan harapan untuk bisa menanam dan beternak secara produktif.

Begitulah, Desa Adat di Bali memelihara tradisi dengan melaksanakan ritual yang melibatkan semua krama termasuk Jro Pemangku, Jro Serati, dan Jro Bandesa/Prajuru sebagai pelaksana. Mereka bekerja dalam doa riuh gemuruh di permukaan bak teateral yang perlu diselami lebih lanjut secara spiritual. Keseimbangan ritual dengan spiritual perlu terus-menerus digemakan untuk jagat Bali Shanti. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kepah  
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: desa adat kutuhGumi Delod Cekingkuta selatantradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantai Losari, Dangdut, dan Janji Setia

Next Post

“Percakapan Invisible” Karya Emi Suy: Berbisik dengan Bayang, Bercengkerama dengan Masa Lalu

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
“Percakapan Invisible” Karya Emi Suy: Berbisik dengan Bayang, Bercengkerama dengan Masa Lalu

"Percakapan Invisible" Karya Emi Suy: Berbisik dengan Bayang, Bercengkerama dengan Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co