14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Julio Saputra by Julio Saputra
July 17, 2024
in Khas
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi di PKB XLVI Tahun 2024. Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024.

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVI Tahun 2024 telah berakhir. Ada banyak momen dan kenangan manis yang terciptakan, juga berbagai cerita yang tak terlupakan.

Para seniman kembali ke kabupatennya masing-masing sambil mengurus Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Para penikmat seni mencari acara-acara lain agar mereka tetap bisa menikmati keindahan dan kekayaan budaya Bali.

Namun, di antara semua penampilan yang memukau, ada satu hal yang menarik untuk diceritakan, yakni tentang penampilan sekaa gong kebyar dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, di atas panggung yang basah sehabis diguyur hujan seharian.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Banjar Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kecamatan Kerambitan tampil sebagai duta Kabupaten Tabanan pada Parade Gong Kebyar Dewasa.

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi di PKB XLVI Tahun 2024 di atas karpet yang masih basah | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Mereka tampil pada 3 Juli 2024 pada pukul 19.00 WITA. Mereka tampil bersama alias mebarung dengan gong kebyar duta dari Kabupaten Jembrana, yakni Paguyuban Seniman Muda (PSM) Jembrana, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo.

Pada malam 3 Juli itu, di waktu mereka seharusnya sudah menabuh dan menari di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali, hujan masih turun tipis-tipis dari atas langit.

Karena hujan, penampilan mereka harus ditunda untuk sementara waktu. Syukurlah, setelah kurang lebih sejam menanti, hujan benar-benar reda. Mereka pun akhirnya naik ke atas panggung dan menyajikan penampilan terbaik yang sudah mereka persiapkan.

Namun apa daya. Hujan memang sudah reda. Namun panggung masih basah. Tempat duduk penabuh juga masih basah. Namun, begitu penampilan mereka tetap memukau.

Usai pentas, muncul cerita-cerita menggelikan dari mereka. Tentu saja cerita tentang panggung yang basah, rasa kedinginan, dan lain-lain, tapi mereka harus tetap tampil sempurna. Ada banyak tantangan yang harus mereka hadapi saat itu.

Itulah yang diceritakan oleh I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, komposer sekaligus pimpinan produksi pementasan dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi. Di hari mereka pentas, hujan yang turun sdari pagi menjadikan pangggung tempat pementasan menjadi seperti genangan air. Meskipun akhirnya hujan berhenti, tak langsung menjadikan panggung kering.

Para panitia dan stage crew sudah melakukan hal yang terbaik untuk menghilangkan genangan air, termasuk menguras air yang menyerap masuk ke dalam karpet merah yang menutupi keseluruhan panggung. Sayangnya, panggung tetap basah dan licin. Para penampil tidak punya pilihan lain selain tetap melanjutkan pementasan.

Panggung yang basah itu kemudian menghadirkan tantangan-tantangan baru, baik bagi penabuh dan penari. Panggung yang basah bukanlah panggung dengan kondisi ideal. Menabuh di atas panggung yang basah berdampak signifikan terhadap ketahanan fisik para penabuh. Ketahanan fisik benar-benar diuji malam itu.

Duduk bersila di atas panggung yang basah dan dingin bukan tidak mungkin membuat mereka menggigil. Air yang semula meresap di atas karpet seketika berpindah tempat, meresap ke dalam kostum, seperti kamen dan saput yang mereka kenakan saat itu. Bahkan, ada juga yang meresap sampai ke dalam-dalamnya, membuat bawahan atau pakaian dalam mereka terasa seperti terendam air.

Para penari mengangkat kamen yang basah saat pementasan tari kekebyaran “Raga Sidhi” | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Usai pentas terdengar komentar bernada jenaka dari penabuh: “Sekaa gong butuh kembang!” Artinya, kelompok penabuh dengan (maaf) alat kelamin yang pucat.

Tentu saja komentar itu hanya guyonan. Namun, bisa dimaklumi, karena duduk di karpet yang basah, maka pakaian dalam mereka ikut basah, sehingga “barang berharga” mereka juga ikut kedinginan.   

Kondisi itu diakui membuat mereka merasa tidak nyaman, namun bagaimana pun mereka harus tetap menjaga fokus dan ritme permainan di atas panggung. Dalam kondisi seperti itu, mereka jadi rentan masuk angin, terlebih mereka tampil di panggung terbuka.

Kelelahan dan kedinginan bisa menurunkan kondisi fisik kapan saja. Tantangan-tantangan yang mereka hadapi di atas panggung itu  membuat fisik mereka harus bekerja lebih keras dibanding persiapan yang mereka jalani.

“Ditambah lagi intrumen yang dimainkan pasti terganggu kualitas bunyinya, karena memang tidak ada gamelan yang didesain untuk dimaikan saat turun hujan,” ujar Resky.

Menurutnya, para penari juga menghadapi tantangan yang sama. Selain daya tahan tubuh yang harus benar-benar dijaga dengan baik, mereka juga harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap kondisi panggung yang basah. Meski sudah beralaskan karpet, tidak menuutp kemungkinan panggung tidak terasa licin. Mereka harus hati-hati dalam setiap gerakan agar tidak terpeleset atau terjatuh, namun tetap terlihat anggun dan eskresif.

Di samping itu, gerak mereka juga terganggu karena bobot kostum mereka bertambah berat akibat air yang menyerap ke dalam kain.

Hal tersebut terlihat jelas saat penampilan tari Kekebyaran “Raga Sidhi” dipentaskan. Terlihat jelas air meresap ke dalam area bawah kamen yang dikenakan oleh para penari, menjadikan area kamen yang basah berwarna lebih gelap dari warna aslinya.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Selain ketahanan fisik, ketahanan mental juga diuji malam itu. Panggung yang basah menciptakan kekhawatiran akan kemungkinan tergelincir atau jatuh terpleset. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, dan setiap gerakan harus dilakukan dengan eskra hati-hati.

Begitu pula dengan para penabuh, ketahanan mental datang dari keharusan tetap berkonsentrasi penuh meskipun kondisi panggung tidak mendukung. Mereka harus menjaga irama dan harmoni, memastikan setiap tabuhan tetap presisi meski merasa kedinginan dan tidak nyaman. Mereka harus tetap tenang dan tidak membiarkan rasa lelah dan dingin membuyarkan fokus dan mengacaukan pementasan mereka.

Resky menceritakan, selama masa persiapan untuk Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024, para penabuh dan penari dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menjalani latihan intensif untuk memastikan setiap gerakan dan tabuhan gamelan mereka sempurna. Namun satu hal yang tidak pernah mereka persiapkan adalah kemungkinan harus tampil di atas panggung yang basah akibat hujan.

Meskipun mereka telah berlatih keras berminggu-minggu dan berbulan-bulan, cuaca yang tak terduga memberikan tantangan tambahan yang benar-benar menguji penampilan mereka.

“Dan selama latihan, tidak ada proses mempersiapkan diri untuk tim ketika cuaca hujan. Jadi mreka dituntut untuk tetap tampil maksimal, sesuai persiapan karya, walau ada agenda tambahan yang tidak terduga, yakni genangan air,” kata Resky.

Meskipun tantangan genangan air dan panggung yang basah tidak pernah ada dalam skenario latihan mereka, para seniman muda dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi tersebut mampu tampil dengan sangat memukau. Mereka menunjukan bahwa persiapan yang matang dan semangat yang tinggi mampu mengatasi rintangan dan tantangan yang mereka hadapi.

Mereka tampil dengan maksimal meski ada faktor tambahan yang tak terduga, tidak serta merta membuat mereka gentar.

Para seniman dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Banjar Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, adalah salah satu contoh seniman Bali yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi dalam berkesenian. Mereka memberikan penampilan yang tetap indah dan mengesankan di tengah kondisi yang tak terduga.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Secara keseluruhan pementasan Gong Kebyar Dewasa Yayasan Lilanjani Kerta Bumi berjalan dengan lancar. Barangkali penonton tidak tahu apa-apa saja yang mereka hadapi di atas panggung, termasuk menghadapi basahnya pakaian dalam mereka. Mereka tampil dengan sangat mengagumkan.

Seniman-seniman muda dari Tabanan itu menampilkan tabuh kreasi pepanggulan bertajuk “Sunar Genjong”, lalu tabuh kreasi kekebyaran dengan judul “Raga Sidhi” dan terakhir menampilkan Fragmentari “Jayaning Singasana” yang mengundang tepuk tangan meriah dari ribuan penonton.

Tabuh “Sunar Genjong” terdengar menarik karena dibuat untuk membaca dan memaknai kembali proses kreatif yang ada dalam dunia musik tradisional Bali, khususnya dalam memainkan intrumen gamelan, sekaligus menjadi penghormatan bagi setiap insan kreatif yang terus menerangi langkah dan melanjutkan kreativitas pada gamelan Bali, dari dulu hingga sekarang.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sementara itu, Tari Kreasi Kekebyaran “Raga Sidhi” sukse menyajikan sisi feminin dan maskulin dalam tari Bali, pun mempresentasikan kemerdekaan dalam berkesenian. Para penari juga meminjam elemen-elemen tari yang diciptakan oleh I Ketut Marya dengan laku jongkoknya yang sangat fenomenal.

Fragmentari “Jayaning Singasana” juga tak kalah memikat. Mereka menyajikan sebuah karya yang menggambarkan sejarah tentang Sri Sri Magada Nata yang mimindahkan pusat pemerintahan dari Puri Pucangan ke wilayah Tabanan. Puri yang baru itu kemudian diberi nama Puri Agung Tabanan dengan kotanya yang disebut Kota Singasana. [T]

Reporter: Julio Saputra
Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang GONG KEBYAR dan artikel lain dari penulis JULIO SAPUTRA

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024
“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024
Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Tags: gong kebyargong kebyar dewasaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024tabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bolehkah Menggunakan Bunga Palsu Untuk Membuat Banten? – Pertanyaan Mahasiswa Masa Kini

Next Post

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co