26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Julio Saputra by Julio Saputra
July 17, 2024
in Khas
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi di PKB XLVI Tahun 2024. Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024.

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVI Tahun 2024 telah berakhir. Ada banyak momen dan kenangan manis yang terciptakan, juga berbagai cerita yang tak terlupakan.

Para seniman kembali ke kabupatennya masing-masing sambil mengurus Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Para penikmat seni mencari acara-acara lain agar mereka tetap bisa menikmati keindahan dan kekayaan budaya Bali.

Namun, di antara semua penampilan yang memukau, ada satu hal yang menarik untuk diceritakan, yakni tentang penampilan sekaa gong kebyar dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, di atas panggung yang basah sehabis diguyur hujan seharian.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Banjar Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kecamatan Kerambitan tampil sebagai duta Kabupaten Tabanan pada Parade Gong Kebyar Dewasa.

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi di PKB XLVI Tahun 2024 di atas karpet yang masih basah | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Mereka tampil pada 3 Juli 2024 pada pukul 19.00 WITA. Mereka tampil bersama alias mebarung dengan gong kebyar duta dari Kabupaten Jembrana, yakni Paguyuban Seniman Muda (PSM) Jembrana, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo.

Pada malam 3 Juli itu, di waktu mereka seharusnya sudah menabuh dan menari di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali, hujan masih turun tipis-tipis dari atas langit.

Karena hujan, penampilan mereka harus ditunda untuk sementara waktu. Syukurlah, setelah kurang lebih sejam menanti, hujan benar-benar reda. Mereka pun akhirnya naik ke atas panggung dan menyajikan penampilan terbaik yang sudah mereka persiapkan.

Namun apa daya. Hujan memang sudah reda. Namun panggung masih basah. Tempat duduk penabuh juga masih basah. Namun, begitu penampilan mereka tetap memukau.

Usai pentas, muncul cerita-cerita menggelikan dari mereka. Tentu saja cerita tentang panggung yang basah, rasa kedinginan, dan lain-lain, tapi mereka harus tetap tampil sempurna. Ada banyak tantangan yang harus mereka hadapi saat itu.

Itulah yang diceritakan oleh I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, komposer sekaligus pimpinan produksi pementasan dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi. Di hari mereka pentas, hujan yang turun sdari pagi menjadikan pangggung tempat pementasan menjadi seperti genangan air. Meskipun akhirnya hujan berhenti, tak langsung menjadikan panggung kering.

Para panitia dan stage crew sudah melakukan hal yang terbaik untuk menghilangkan genangan air, termasuk menguras air yang menyerap masuk ke dalam karpet merah yang menutupi keseluruhan panggung. Sayangnya, panggung tetap basah dan licin. Para penampil tidak punya pilihan lain selain tetap melanjutkan pementasan.

Panggung yang basah itu kemudian menghadirkan tantangan-tantangan baru, baik bagi penabuh dan penari. Panggung yang basah bukanlah panggung dengan kondisi ideal. Menabuh di atas panggung yang basah berdampak signifikan terhadap ketahanan fisik para penabuh. Ketahanan fisik benar-benar diuji malam itu.

Duduk bersila di atas panggung yang basah dan dingin bukan tidak mungkin membuat mereka menggigil. Air yang semula meresap di atas karpet seketika berpindah tempat, meresap ke dalam kostum, seperti kamen dan saput yang mereka kenakan saat itu. Bahkan, ada juga yang meresap sampai ke dalam-dalamnya, membuat bawahan atau pakaian dalam mereka terasa seperti terendam air.

Para penari mengangkat kamen yang basah saat pementasan tari kekebyaran “Raga Sidhi” | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Usai pentas terdengar komentar bernada jenaka dari penabuh: “Sekaa gong butuh kembang!” Artinya, kelompok penabuh dengan (maaf) alat kelamin yang pucat.

Tentu saja komentar itu hanya guyonan. Namun, bisa dimaklumi, karena duduk di karpet yang basah, maka pakaian dalam mereka ikut basah, sehingga “barang berharga” mereka juga ikut kedinginan.   

Kondisi itu diakui membuat mereka merasa tidak nyaman, namun bagaimana pun mereka harus tetap menjaga fokus dan ritme permainan di atas panggung. Dalam kondisi seperti itu, mereka jadi rentan masuk angin, terlebih mereka tampil di panggung terbuka.

Kelelahan dan kedinginan bisa menurunkan kondisi fisik kapan saja. Tantangan-tantangan yang mereka hadapi di atas panggung itu  membuat fisik mereka harus bekerja lebih keras dibanding persiapan yang mereka jalani.

“Ditambah lagi intrumen yang dimainkan pasti terganggu kualitas bunyinya, karena memang tidak ada gamelan yang didesain untuk dimaikan saat turun hujan,” ujar Resky.

Menurutnya, para penari juga menghadapi tantangan yang sama. Selain daya tahan tubuh yang harus benar-benar dijaga dengan baik, mereka juga harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap kondisi panggung yang basah. Meski sudah beralaskan karpet, tidak menuutp kemungkinan panggung tidak terasa licin. Mereka harus hati-hati dalam setiap gerakan agar tidak terpeleset atau terjatuh, namun tetap terlihat anggun dan eskresif.

Di samping itu, gerak mereka juga terganggu karena bobot kostum mereka bertambah berat akibat air yang menyerap ke dalam kain.

Hal tersebut terlihat jelas saat penampilan tari Kekebyaran “Raga Sidhi” dipentaskan. Terlihat jelas air meresap ke dalam area bawah kamen yang dikenakan oleh para penari, menjadikan area kamen yang basah berwarna lebih gelap dari warna aslinya.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Selain ketahanan fisik, ketahanan mental juga diuji malam itu. Panggung yang basah menciptakan kekhawatiran akan kemungkinan tergelincir atau jatuh terpleset. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, dan setiap gerakan harus dilakukan dengan eskra hati-hati.

Begitu pula dengan para penabuh, ketahanan mental datang dari keharusan tetap berkonsentrasi penuh meskipun kondisi panggung tidak mendukung. Mereka harus menjaga irama dan harmoni, memastikan setiap tabuhan tetap presisi meski merasa kedinginan dan tidak nyaman. Mereka harus tetap tenang dan tidak membiarkan rasa lelah dan dingin membuyarkan fokus dan mengacaukan pementasan mereka.

Resky menceritakan, selama masa persiapan untuk Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024, para penabuh dan penari dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menjalani latihan intensif untuk memastikan setiap gerakan dan tabuhan gamelan mereka sempurna. Namun satu hal yang tidak pernah mereka persiapkan adalah kemungkinan harus tampil di atas panggung yang basah akibat hujan.

Meskipun mereka telah berlatih keras berminggu-minggu dan berbulan-bulan, cuaca yang tak terduga memberikan tantangan tambahan yang benar-benar menguji penampilan mereka.

“Dan selama latihan, tidak ada proses mempersiapkan diri untuk tim ketika cuaca hujan. Jadi mreka dituntut untuk tetap tampil maksimal, sesuai persiapan karya, walau ada agenda tambahan yang tidak terduga, yakni genangan air,” kata Resky.

Meskipun tantangan genangan air dan panggung yang basah tidak pernah ada dalam skenario latihan mereka, para seniman muda dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi tersebut mampu tampil dengan sangat memukau. Mereka menunjukan bahwa persiapan yang matang dan semangat yang tinggi mampu mengatasi rintangan dan tantangan yang mereka hadapi.

Mereka tampil dengan maksimal meski ada faktor tambahan yang tak terduga, tidak serta merta membuat mereka gentar.

Para seniman dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Banjar Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, adalah salah satu contoh seniman Bali yang memiliki dedikasi dan semangat yang tinggi dalam berkesenian. Mereka memberikan penampilan yang tetap indah dan mengesankan di tengah kondisi yang tak terduga.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Secara keseluruhan pementasan Gong Kebyar Dewasa Yayasan Lilanjani Kerta Bumi berjalan dengan lancar. Barangkali penonton tidak tahu apa-apa saja yang mereka hadapi di atas panggung, termasuk menghadapi basahnya pakaian dalam mereka. Mereka tampil dengan sangat mengagumkan.

Seniman-seniman muda dari Tabanan itu menampilkan tabuh kreasi pepanggulan bertajuk “Sunar Genjong”, lalu tabuh kreasi kekebyaran dengan judul “Raga Sidhi” dan terakhir menampilkan Fragmentari “Jayaning Singasana” yang mengundang tepuk tangan meriah dari ribuan penonton.

Tabuh “Sunar Genjong” terdengar menarik karena dibuat untuk membaca dan memaknai kembali proses kreatif yang ada dalam dunia musik tradisional Bali, khususnya dalam memainkan intrumen gamelan, sekaligus menjadi penghormatan bagi setiap insan kreatif yang terus menerangi langkah dan melanjutkan kreativitas pada gamelan Bali, dari dulu hingga sekarang.

Fragmentari “Jayaning Singasana” dari Yayasan lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sementara itu, Tari Kreasi Kekebyaran “Raga Sidhi” sukse menyajikan sisi feminin dan maskulin dalam tari Bali, pun mempresentasikan kemerdekaan dalam berkesenian. Para penari juga meminjam elemen-elemen tari yang diciptakan oleh I Ketut Marya dengan laku jongkoknya yang sangat fenomenal.

Fragmentari “Jayaning Singasana” juga tak kalah memikat. Mereka menyajikan sebuah karya yang menggambarkan sejarah tentang Sri Sri Magada Nata yang mimindahkan pusat pemerintahan dari Puri Pucangan ke wilayah Tabanan. Puri yang baru itu kemudian diberi nama Puri Agung Tabanan dengan kotanya yang disebut Kota Singasana. [T]

Reporter: Julio Saputra
Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang GONG KEBYAR dan artikel lain dari penulis JULIO SAPUTRA

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024
“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024
Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Tags: gong kebyargong kebyar dewasaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024tabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bolehkah Menggunakan Bunga Palsu Untuk Membuat Banten? – Pertanyaan Mahasiswa Masa Kini

Next Post

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co