27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
July 18, 2024
in Khas
Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Orang-orang yang melakukan Munjung | Foto: Sonhaji

SEPERTI dua orang pelajar yang sedang terburu-buru karena takut gerbang sekolah tutup akibat terlambat, saya dan seorang rekan yang biasa dipanggil Ucup, bergegas menancap gas motor. Tapi bukan ke sekolah, bukan juga ke kampus, apalagi ke kantor. Pagi itu, tepat pukul 06:30 Wita, kami bergegas ke kuburan—setra dalam bahasa Bali.

Tujuan kami ke kuburan bukan untuk melayat atau iseng mencari benda keramat. Tidak pula sedang membuat konten vlog horor-hororan. Kami ke kuburan karena salah satu hari penting dalam umat Hindu di Bali, yakni Pagerwesi, yang jatuh bertepatan pada Rabu, 17 Juli 2024. Salah satu momentum  sakral yang diperingati sekali dalam 210 hari menurut kepercayaan orang Hindu Bali.

Pada saat Pagerwesi, yang menjadi catatan kami, di Buleleng, atau sebut saja Singaraja, ada satu rangkaian tradisi yang unik, yang berbeda dari tempat-tempat lain di Bali—tradisi ini barangkali memang hanya di Buleleng.

Keluarga yang sedang mempersiapkan sesajen di atas pusara | Foto: Sonhaji

Tradisi yang dimaksud adalah kegiatan berkunjung ke kuburan. Orang Singaraja biasanya menyebutnya “Munjung” atau “Munjung ke Setra” yang artinya berkunjung ke kuburan. Ketika mengetahui ada tradisi semacam itu di Singaraja, saya sedikit heran. Tentu saja, barangkali karena saya bukan orang Bali asli.

Bagaimana tidak heran, setahu saya, orang Bali dalam urusan pemakaman atau urusan dengan orang yang sudah meninggal, jenazahnya akan dikremasi atau dibakar. Bukan dikubur.

Tapi ternyata anggapan saya itu keliru. Tidak semua jenazah langsung dikremasi. Orang Bali juga ada yang menguburnya. Walaupun pada akhirnya tetap akan dikremasi juga. Karena kremasi dipercaya sebagai satu-satunya jalan untuk menuju alam arwah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Namun, alih-alih ingin tahu tentang bagaimana cara orang Bali mengubur jenazah, saya lebih penasaran bagaimana mereka melakukan kunjungan ke makam pada saat Pagerwesi—atau dalam Islam dikenal sebagai ziarah kubur.

***

Ketika saya dan Ucup tiba di depan Setra Buleleng (Kuburan Buleleng) di Jl. Gajah Mada, Singaraja, kami langsung memasukinya. Setra ini ternyata berada tepat di samping Pura Dalem Desa Pakraman Buleleng.

Saat masuk ke sana, kami sedikit merinding. Entah itu karena masih sangat pagi atau karena  suasananya yang sepi. Benar. Tidak terlihat ada aktivitas di situ. Kami sempat berhenti sejenak di dalam area Setra Buleleng. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pemandangan beberapa kuburan yang berjejer dan sisa-sisa peralatan kremasi.

Tempatnya cukup luas, seperti setengah dari lapangan sepak bola. Sekilas tidak tampak seperti kuburan, lebih mirip taman atau hutan kota. “Kita telat nggak ini. Atau jangan-jangan kita kepagian?” celetuk Ucup yang mulai berfirasat lain-lain—karena suasananya memang sepi.

Kami memutuskan untuk keluar dan memarkir motor tepat di depan Pura Dalam Desa Pakraman Buleleng. Kebetulan, saat itu orang mulai ramai datang sembahyang ke Pura Dalem.

Suasana anggota keluarga yang makan di samping kuburan | Foto: Sonhaji

Sambil mencoba untuk memotret beberapa gambar orang yang sedang sembahyang, saya berusaha mencari-cari siapa orang yang bisa ditanyai soal kegiatan Munjung di Setra Buleleng.

Nah, tiba-tiba seorang pria berkumis yang memakai udeng dan baju putih polos menghampiri saya yang sedang sibuk memotret. “Mau ke mana, Nak?” tanyanya sambil mendekat.

“Mau ambil gambar di sini, Pak. Sebenarnya mau merekam orang yang berkunjung bawa makanan ke kuburan di sebelah itu, Pak,” jawab saya.

“Oh itu. Ya, biasanya ada. Sebentar lagi. Tapi sudah tidak seramai dulu itu,” katanya sambil melangkah pergi karena sudah dipanggil istrinya. Ia diminta segera mengurus sembahyang.

Obrolan itu begitu singkat, saya dan bapak itu tidak sempat berkenalan. Akhirnya saya dan Ucup memilih untuk mengambil gambar orang sembahyang saja dulu.

Dan setelah beberapa menit memotret aktivitas sembahyang di Pura Dalem, kami mencoba lagi bergeser masuk ke area Setra Buleleng. Benar saja, saat kami masuk ke area setra, ternyata beberapa orang sudah berdatangan di sana. Ada yang datang menggunakan mobil, motor, dan beberapa terlihat berjalan kaki.

Keluarga yang sedang mempersiapkan tempat untuk maturan di atas makam | Foto: Sonhaji

Orang-orang itu menuju ke area ujung barat setra. Di sana tampak berjejer beberapa batu nisan. Jelas itu adalah makam. “Ayo, Cup. Ini yang penting kita rekam,” seru saya sambil berlari tipis agar  tidak ketinggalan momen.

Orang-orang itu datang membawa sesajen yang berisi makanan. Sesaji itulah yang mereka sebut dengan “Punjung.”

Selain sesaji, beberapa orang juga membawa tikar beserta perkakas makan dan minum yang lengkap. Sekilas tidak tampak seperti orang yang datang ke makam, lebih tepatnya seperti orang yang ingin piknik. Hanya tempatnya saja yang beda. Ini kuburan, bukan pantai, gunung, atau taman kota.

Meraka mengunjungi makam kerabat yang sudah meninggal tetapi belum diaben, dikremasi. Mereka membawa Punjung yang sangat lengkap. Tampaknya memang disiapkan untuk makan bersama. Ada yang membawa nasi lengkap dengan lauknya; ada pula buah, dan berbagai jenis cemilan serta minuman.

Makanan dan sebagainya itu telah dipersiapkan oleh pihak keluarga yang akan berkunjung ke setra selesai melakukan sembahyang di rumah atau Pura Dalem.

“Pagi tadi kami ke pura dulu. Bangun jam 4 atau 5 pagi, sembahyang dulu di rumah. Setelah itu, baru ke sini, ke makam. Habis dari sini, kami lanjut kumpul-kumpul di rumah,” kata Made Wijana (56 tahun), yang kami temui di sela-sela aktivitas Munjung-nya.

Sesajen yang mereka bawa mula-mula dihaturkan terlebih dahulu dan dibacakan doa-doa. Setelah membaca doa, beberapa orang menyiramkan atau memercikkan air di atas pusara makam. Sama seperti orang yang sedang memercikkan air tirta setelah upacara di pura.

Made Wijana | Foto: Sonhaji

Ada juga yang sesekali mengelus batu nisan dengan air tersebut dengan begitu hati-hati dan halus. Seperti sedang mengelus kepala sosok keluarga yang telah tiada.

Setelah berdoa, sesajen itu disimpan di atas atau di sebelah makam dengan dupa yang telah dibakar terlebih dahulu. Rupanya mereka tidak akan langsung memakan makanan dari Punjung itu. Seolah didiamkan dulu sejenak, sebagai persembahan untuk sosok arwah keluarga.

Di sela-sela mereka menunggu, mereka bercakap-cakap dengan sesama anggota keluarga, atau dengan keluarga lain yang berada di sekitaran makam. Terkadang mereka saling bercanda sampai tertawa.

Orang-orang yang datang berkunjung ke makam pagi itu bagaikan sedang bertamasya riang gembira bersama sanak saudara. Syahdan, alih-alih tampak suasana mencekam dan seram, kuburan itu justru terlihat seperti taman hiburan.

“Biasanya kami lakukan enam bulan sekali atau pada saat Galungan, Kuningan, dan Pagerwesi seperti sekarang—atau hari-hari tertentu,” ujar pria paruh baya yang tinggal di Banjar Jawa itu.

***

Sebenarnya tradisi ini hampir mirip dengan kebiasaan ziarah yang dilakukan orang Islam di kampung-desa sehari sebelum lebaran atau hari raya Idul Fitri. Biasa juga dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan atau bulan Puasa.

Mereka sama-sama datang ke kuburan dengan maksud mendoakan arwah yang sudah meninggal. Biasanya, mereka juga membawa air yang dicampur dengan bunga atau daun pandan untuk disiramkan di atas kuburan. Dalam konteks Islam, prosesi itu diikuti dengan mengirimkan bacaan ayat Al-Quran. Dan sesekali membersikan kuburan dari dedaunan kering dan rumput liar.

Tetapi, dan ini yang membedakan keduanya, kalau ziarah orang Islam tidak ada acara makan-makannya. Sedangkan di sini, di Setra Buleleng, sekali lagi, orang-orang itu memang sudah mempersiapkan sesi makan bersama. Sehingga ini tampak seperti piknik keluarga.

Orang-orang yang berdatangan ke setra ini seolah datang untuk menghibur almarhum yang sudah meninggal—karena menurut kepercayaan orang Bali, arwah akan tetap di sisi jasadnya sebelum melewati proses Ngaben. Bahkan ada yang bercerita soal kenangan-kenangan lucu semasa hidup almarhum. Bagaikan momen nostalgia anggota keluarga.

Yang juga menarik, orang-orang yang berdatangan ke setra tersebut dengan senang hati menawarkan bekal makanan dan minuman kepada siapa pun yang berada di situ untuk saling cicip-mencicipi. Semacam barter makanan satu sama lain.

Bapak Putu Aksara Putra (Kelian Dadia) | Foto: Sonhaji

Bahkan, saya dan Ucup juga ditawari untuk mengambil lungsuran atau makanan yang ada. Kami berdua dikasih jeruk dan anggur. Kata Ucup, lumayan, sekalian pengganti sarapan.

Namun, hari ini, sudah tak banyak orang yang melakukan praktik ini. Tak sebanyak saat masa silam. Hal tersebut diduga karena masa kini sudah banyak pengabenan masal. Jadi, jenazah tidak lama dikubur. Setiap ada pengabenan masal langsung diangkat.

“Sekarang sedikit yang ke setra untuk maturan punjung lagi. Karena sebagian besar sudah Ngaben,” kata Putu Aksara Putra (40 tahun), seorang Kelian Dadia (pemimpin warga adat) dari salah satu keluarga yang datang pagi itu.

Barangkali juga, itu yang membuat tradisi Munjung, semakin ke sini terasa tidak pernah muncul ke permukaan. Karena semakin hari semakin berkurang jenazah yang dikubur.

Sampai di sini, awalnya saya mengira orang Bali itu tidak memiliki tradisi terkait pemakaman jenazah yang dikubur. Terkait orang Bali yang harus mengubur jenazah atau tidak, saya tak pernah menjumpai teman atau siapa pun bercakap-cakap soal itu.

***

Tradisi Munjung memang tidak semeriah upacara Ngaben. Jika Ngaben terdapat prosesi arak-arakan di jalan dengan menggunakan “bade” atau tempat membawa jenazah, Munjung tidak seramai itu.

Ngaben, apalagi bagi kalangan menengah ke atas, biasanya diiringi berbagai pernak-pernik yang menunjukkan kemewahan. Ngaben di beberapa tempat di Bali bahkan ada yang diisi pertunjukkan sebelum jenazah dibakar bersama bade-nya—sebagai bentuk persembahan terakhir keluarga yang masih hidup.

Tetapi, ternyata ada juga beberapa pihak keluarga yang mengharuskan jenazah dikubur terlebih dulu. Karena beberapa desa adat mempercayai jika orang yang meninggal tidak boleh langsung diaben. Mesti harus dikubur dulu. Atau kembali dulu ke dalam tubuh Ibu Pertiwi. Seperti Made Wijana dan warga Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, yang percaya akan awig-awig (aturan adat) di desa adat mereka.

“Kalau di keluarga saya di Banjar Jawa ini, aturan adatnya memang jenazah harus kami kembalikan dulu ke tanah atau Bumi Pertiwi,” ucap Wijana saat kami ajak ngobrol di depan makam adiknya pagi itu.

Bagi Wijana dan keluarganya, Munjung bagaikan tempat nostalgia untuk sosok keluarga yang sudah tidak ada, sekaligus tempat silaturahmi untuk keluarga yang masih hidup.

Akhirnya, bisa dikatakan, Munjung bagaikan terminal pengantaran terakhir sebelum arwah orang yang sudah tiada benar-benar bersatu dengan Semesta—pakai “S” besar. Pula tempat keluarga yang masih hidup untuk merenungkan kembali tentang kematian.[T]

Reporter: Rusdy Ulu
Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah
5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng – Dari Pegorsi, Rent Car, hingga Makan di Kuburan
Mandala Kesejahteraan Pagerwesi
Hari Pagerwesi Meriah di Buleleng, Kenapa?
Tags: bulelengpagerwesiTradisi Munjung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Next Post

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co