7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
July 18, 2024
in Khas
Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Orang-orang yang melakukan Munjung | Foto: Sonhaji

SEPERTI dua orang pelajar yang sedang terburu-buru karena takut gerbang sekolah tutup akibat terlambat, saya dan seorang rekan yang biasa dipanggil Ucup, bergegas menancap gas motor. Tapi bukan ke sekolah, bukan juga ke kampus, apalagi ke kantor. Pagi itu, tepat pukul 06:30 Wita, kami bergegas ke kuburan—setra dalam bahasa Bali.

Tujuan kami ke kuburan bukan untuk melayat atau iseng mencari benda keramat. Tidak pula sedang membuat konten vlog horor-hororan. Kami ke kuburan karena salah satu hari penting dalam umat Hindu di Bali, yakni Pagerwesi, yang jatuh bertepatan pada Rabu, 17 Juli 2024. Salah satu momentum  sakral yang diperingati sekali dalam 210 hari menurut kepercayaan orang Hindu Bali.

Pada saat Pagerwesi, yang menjadi catatan kami, di Buleleng, atau sebut saja Singaraja, ada satu rangkaian tradisi yang unik, yang berbeda dari tempat-tempat lain di Bali—tradisi ini barangkali memang hanya di Buleleng.

Keluarga yang sedang mempersiapkan sesajen di atas pusara | Foto: Sonhaji

Tradisi yang dimaksud adalah kegiatan berkunjung ke kuburan. Orang Singaraja biasanya menyebutnya “Munjung” atau “Munjung ke Setra” yang artinya berkunjung ke kuburan. Ketika mengetahui ada tradisi semacam itu di Singaraja, saya sedikit heran. Tentu saja, barangkali karena saya bukan orang Bali asli.

Bagaimana tidak heran, setahu saya, orang Bali dalam urusan pemakaman atau urusan dengan orang yang sudah meninggal, jenazahnya akan dikremasi atau dibakar. Bukan dikubur.

Tapi ternyata anggapan saya itu keliru. Tidak semua jenazah langsung dikremasi. Orang Bali juga ada yang menguburnya. Walaupun pada akhirnya tetap akan dikremasi juga. Karena kremasi dipercaya sebagai satu-satunya jalan untuk menuju alam arwah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Namun, alih-alih ingin tahu tentang bagaimana cara orang Bali mengubur jenazah, saya lebih penasaran bagaimana mereka melakukan kunjungan ke makam pada saat Pagerwesi—atau dalam Islam dikenal sebagai ziarah kubur.

***

Ketika saya dan Ucup tiba di depan Setra Buleleng (Kuburan Buleleng) di Jl. Gajah Mada, Singaraja, kami langsung memasukinya. Setra ini ternyata berada tepat di samping Pura Dalem Desa Pakraman Buleleng.

Saat masuk ke sana, kami sedikit merinding. Entah itu karena masih sangat pagi atau karena  suasananya yang sepi. Benar. Tidak terlihat ada aktivitas di situ. Kami sempat berhenti sejenak di dalam area Setra Buleleng. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pemandangan beberapa kuburan yang berjejer dan sisa-sisa peralatan kremasi.

Tempatnya cukup luas, seperti setengah dari lapangan sepak bola. Sekilas tidak tampak seperti kuburan, lebih mirip taman atau hutan kota. “Kita telat nggak ini. Atau jangan-jangan kita kepagian?” celetuk Ucup yang mulai berfirasat lain-lain—karena suasananya memang sepi.

Kami memutuskan untuk keluar dan memarkir motor tepat di depan Pura Dalam Desa Pakraman Buleleng. Kebetulan, saat itu orang mulai ramai datang sembahyang ke Pura Dalem.

Suasana anggota keluarga yang makan di samping kuburan | Foto: Sonhaji

Sambil mencoba untuk memotret beberapa gambar orang yang sedang sembahyang, saya berusaha mencari-cari siapa orang yang bisa ditanyai soal kegiatan Munjung di Setra Buleleng.

Nah, tiba-tiba seorang pria berkumis yang memakai udeng dan baju putih polos menghampiri saya yang sedang sibuk memotret. “Mau ke mana, Nak?” tanyanya sambil mendekat.

“Mau ambil gambar di sini, Pak. Sebenarnya mau merekam orang yang berkunjung bawa makanan ke kuburan di sebelah itu, Pak,” jawab saya.

“Oh itu. Ya, biasanya ada. Sebentar lagi. Tapi sudah tidak seramai dulu itu,” katanya sambil melangkah pergi karena sudah dipanggil istrinya. Ia diminta segera mengurus sembahyang.

Obrolan itu begitu singkat, saya dan bapak itu tidak sempat berkenalan. Akhirnya saya dan Ucup memilih untuk mengambil gambar orang sembahyang saja dulu.

Dan setelah beberapa menit memotret aktivitas sembahyang di Pura Dalem, kami mencoba lagi bergeser masuk ke area Setra Buleleng. Benar saja, saat kami masuk ke area setra, ternyata beberapa orang sudah berdatangan di sana. Ada yang datang menggunakan mobil, motor, dan beberapa terlihat berjalan kaki.

Keluarga yang sedang mempersiapkan tempat untuk maturan di atas makam | Foto: Sonhaji

Orang-orang itu menuju ke area ujung barat setra. Di sana tampak berjejer beberapa batu nisan. Jelas itu adalah makam. “Ayo, Cup. Ini yang penting kita rekam,” seru saya sambil berlari tipis agar  tidak ketinggalan momen.

Orang-orang itu datang membawa sesajen yang berisi makanan. Sesaji itulah yang mereka sebut dengan “Punjung.”

Selain sesaji, beberapa orang juga membawa tikar beserta perkakas makan dan minum yang lengkap. Sekilas tidak tampak seperti orang yang datang ke makam, lebih tepatnya seperti orang yang ingin piknik. Hanya tempatnya saja yang beda. Ini kuburan, bukan pantai, gunung, atau taman kota.

Meraka mengunjungi makam kerabat yang sudah meninggal tetapi belum diaben, dikremasi. Mereka membawa Punjung yang sangat lengkap. Tampaknya memang disiapkan untuk makan bersama. Ada yang membawa nasi lengkap dengan lauknya; ada pula buah, dan berbagai jenis cemilan serta minuman.

Makanan dan sebagainya itu telah dipersiapkan oleh pihak keluarga yang akan berkunjung ke setra selesai melakukan sembahyang di rumah atau Pura Dalem.

“Pagi tadi kami ke pura dulu. Bangun jam 4 atau 5 pagi, sembahyang dulu di rumah. Setelah itu, baru ke sini, ke makam. Habis dari sini, kami lanjut kumpul-kumpul di rumah,” kata Made Wijana (56 tahun), yang kami temui di sela-sela aktivitas Munjung-nya.

Sesajen yang mereka bawa mula-mula dihaturkan terlebih dahulu dan dibacakan doa-doa. Setelah membaca doa, beberapa orang menyiramkan atau memercikkan air di atas pusara makam. Sama seperti orang yang sedang memercikkan air tirta setelah upacara di pura.

Made Wijana | Foto: Sonhaji

Ada juga yang sesekali mengelus batu nisan dengan air tersebut dengan begitu hati-hati dan halus. Seperti sedang mengelus kepala sosok keluarga yang telah tiada.

Setelah berdoa, sesajen itu disimpan di atas atau di sebelah makam dengan dupa yang telah dibakar terlebih dahulu. Rupanya mereka tidak akan langsung memakan makanan dari Punjung itu. Seolah didiamkan dulu sejenak, sebagai persembahan untuk sosok arwah keluarga.

Di sela-sela mereka menunggu, mereka bercakap-cakap dengan sesama anggota keluarga, atau dengan keluarga lain yang berada di sekitaran makam. Terkadang mereka saling bercanda sampai tertawa.

Orang-orang yang datang berkunjung ke makam pagi itu bagaikan sedang bertamasya riang gembira bersama sanak saudara. Syahdan, alih-alih tampak suasana mencekam dan seram, kuburan itu justru terlihat seperti taman hiburan.

“Biasanya kami lakukan enam bulan sekali atau pada saat Galungan, Kuningan, dan Pagerwesi seperti sekarang—atau hari-hari tertentu,” ujar pria paruh baya yang tinggal di Banjar Jawa itu.

***

Sebenarnya tradisi ini hampir mirip dengan kebiasaan ziarah yang dilakukan orang Islam di kampung-desa sehari sebelum lebaran atau hari raya Idul Fitri. Biasa juga dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan atau bulan Puasa.

Mereka sama-sama datang ke kuburan dengan maksud mendoakan arwah yang sudah meninggal. Biasanya, mereka juga membawa air yang dicampur dengan bunga atau daun pandan untuk disiramkan di atas kuburan. Dalam konteks Islam, prosesi itu diikuti dengan mengirimkan bacaan ayat Al-Quran. Dan sesekali membersikan kuburan dari dedaunan kering dan rumput liar.

Tetapi, dan ini yang membedakan keduanya, kalau ziarah orang Islam tidak ada acara makan-makannya. Sedangkan di sini, di Setra Buleleng, sekali lagi, orang-orang itu memang sudah mempersiapkan sesi makan bersama. Sehingga ini tampak seperti piknik keluarga.

Orang-orang yang berdatangan ke setra ini seolah datang untuk menghibur almarhum yang sudah meninggal—karena menurut kepercayaan orang Bali, arwah akan tetap di sisi jasadnya sebelum melewati proses Ngaben. Bahkan ada yang bercerita soal kenangan-kenangan lucu semasa hidup almarhum. Bagaikan momen nostalgia anggota keluarga.

Yang juga menarik, orang-orang yang berdatangan ke setra tersebut dengan senang hati menawarkan bekal makanan dan minuman kepada siapa pun yang berada di situ untuk saling cicip-mencicipi. Semacam barter makanan satu sama lain.

Bapak Putu Aksara Putra (Kelian Dadia) | Foto: Sonhaji

Bahkan, saya dan Ucup juga ditawari untuk mengambil lungsuran atau makanan yang ada. Kami berdua dikasih jeruk dan anggur. Kata Ucup, lumayan, sekalian pengganti sarapan.

Namun, hari ini, sudah tak banyak orang yang melakukan praktik ini. Tak sebanyak saat masa silam. Hal tersebut diduga karena masa kini sudah banyak pengabenan masal. Jadi, jenazah tidak lama dikubur. Setiap ada pengabenan masal langsung diangkat.

“Sekarang sedikit yang ke setra untuk maturan punjung lagi. Karena sebagian besar sudah Ngaben,” kata Putu Aksara Putra (40 tahun), seorang Kelian Dadia (pemimpin warga adat) dari salah satu keluarga yang datang pagi itu.

Barangkali juga, itu yang membuat tradisi Munjung, semakin ke sini terasa tidak pernah muncul ke permukaan. Karena semakin hari semakin berkurang jenazah yang dikubur.

Sampai di sini, awalnya saya mengira orang Bali itu tidak memiliki tradisi terkait pemakaman jenazah yang dikubur. Terkait orang Bali yang harus mengubur jenazah atau tidak, saya tak pernah menjumpai teman atau siapa pun bercakap-cakap soal itu.

***

Tradisi Munjung memang tidak semeriah upacara Ngaben. Jika Ngaben terdapat prosesi arak-arakan di jalan dengan menggunakan “bade” atau tempat membawa jenazah, Munjung tidak seramai itu.

Ngaben, apalagi bagi kalangan menengah ke atas, biasanya diiringi berbagai pernak-pernik yang menunjukkan kemewahan. Ngaben di beberapa tempat di Bali bahkan ada yang diisi pertunjukkan sebelum jenazah dibakar bersama bade-nya—sebagai bentuk persembahan terakhir keluarga yang masih hidup.

Tetapi, ternyata ada juga beberapa pihak keluarga yang mengharuskan jenazah dikubur terlebih dulu. Karena beberapa desa adat mempercayai jika orang yang meninggal tidak boleh langsung diaben. Mesti harus dikubur dulu. Atau kembali dulu ke dalam tubuh Ibu Pertiwi. Seperti Made Wijana dan warga Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, yang percaya akan awig-awig (aturan adat) di desa adat mereka.

“Kalau di keluarga saya di Banjar Jawa ini, aturan adatnya memang jenazah harus kami kembalikan dulu ke tanah atau Bumi Pertiwi,” ucap Wijana saat kami ajak ngobrol di depan makam adiknya pagi itu.

Bagi Wijana dan keluarganya, Munjung bagaikan tempat nostalgia untuk sosok keluarga yang sudah tidak ada, sekaligus tempat silaturahmi untuk keluarga yang masih hidup.

Akhirnya, bisa dikatakan, Munjung bagaikan terminal pengantaran terakhir sebelum arwah orang yang sudah tiada benar-benar bersatu dengan Semesta—pakai “S” besar. Pula tempat keluarga yang masih hidup untuk merenungkan kembali tentang kematian.[T]

Reporter: Rusdy Ulu
Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah
5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng – Dari Pegorsi, Rent Car, hingga Makan di Kuburan
Mandala Kesejahteraan Pagerwesi
Hari Pagerwesi Meriah di Buleleng, Kenapa?
Tags: bulelengpagerwesiTradisi Munjung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Next Post

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
0
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

Read moreDetails

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
0
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

Read moreDetails

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co