30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
July 18, 2024
in Khas
Menengok Tradisi Munjung ke Setra, “Piknik” di Kuburan ala Orang Buleleng saat Hari Pagerwesi

Orang-orang yang melakukan Munjung | Foto: Sonhaji

SEPERTI dua orang pelajar yang sedang terburu-buru karena takut gerbang sekolah tutup akibat terlambat, saya dan seorang rekan yang biasa dipanggil Ucup, bergegas menancap gas motor. Tapi bukan ke sekolah, bukan juga ke kampus, apalagi ke kantor. Pagi itu, tepat pukul 06:30 Wita, kami bergegas ke kuburan—setra dalam bahasa Bali.

Tujuan kami ke kuburan bukan untuk melayat atau iseng mencari benda keramat. Tidak pula sedang membuat konten vlog horor-hororan. Kami ke kuburan karena salah satu hari penting dalam umat Hindu di Bali, yakni Pagerwesi, yang jatuh bertepatan pada Rabu, 17 Juli 2024. Salah satu momentum  sakral yang diperingati sekali dalam 210 hari menurut kepercayaan orang Hindu Bali.

Pada saat Pagerwesi, yang menjadi catatan kami, di Buleleng, atau sebut saja Singaraja, ada satu rangkaian tradisi yang unik, yang berbeda dari tempat-tempat lain di Bali—tradisi ini barangkali memang hanya di Buleleng.

Keluarga yang sedang mempersiapkan sesajen di atas pusara | Foto: Sonhaji

Tradisi yang dimaksud adalah kegiatan berkunjung ke kuburan. Orang Singaraja biasanya menyebutnya “Munjung” atau “Munjung ke Setra” yang artinya berkunjung ke kuburan. Ketika mengetahui ada tradisi semacam itu di Singaraja, saya sedikit heran. Tentu saja, barangkali karena saya bukan orang Bali asli.

Bagaimana tidak heran, setahu saya, orang Bali dalam urusan pemakaman atau urusan dengan orang yang sudah meninggal, jenazahnya akan dikremasi atau dibakar. Bukan dikubur.

Tapi ternyata anggapan saya itu keliru. Tidak semua jenazah langsung dikremasi. Orang Bali juga ada yang menguburnya. Walaupun pada akhirnya tetap akan dikremasi juga. Karena kremasi dipercaya sebagai satu-satunya jalan untuk menuju alam arwah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Namun, alih-alih ingin tahu tentang bagaimana cara orang Bali mengubur jenazah, saya lebih penasaran bagaimana mereka melakukan kunjungan ke makam pada saat Pagerwesi—atau dalam Islam dikenal sebagai ziarah kubur.

***

Ketika saya dan Ucup tiba di depan Setra Buleleng (Kuburan Buleleng) di Jl. Gajah Mada, Singaraja, kami langsung memasukinya. Setra ini ternyata berada tepat di samping Pura Dalem Desa Pakraman Buleleng.

Saat masuk ke sana, kami sedikit merinding. Entah itu karena masih sangat pagi atau karena  suasananya yang sepi. Benar. Tidak terlihat ada aktivitas di situ. Kami sempat berhenti sejenak di dalam area Setra Buleleng. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pemandangan beberapa kuburan yang berjejer dan sisa-sisa peralatan kremasi.

Tempatnya cukup luas, seperti setengah dari lapangan sepak bola. Sekilas tidak tampak seperti kuburan, lebih mirip taman atau hutan kota. “Kita telat nggak ini. Atau jangan-jangan kita kepagian?” celetuk Ucup yang mulai berfirasat lain-lain—karena suasananya memang sepi.

Kami memutuskan untuk keluar dan memarkir motor tepat di depan Pura Dalam Desa Pakraman Buleleng. Kebetulan, saat itu orang mulai ramai datang sembahyang ke Pura Dalem.

Suasana anggota keluarga yang makan di samping kuburan | Foto: Sonhaji

Sambil mencoba untuk memotret beberapa gambar orang yang sedang sembahyang, saya berusaha mencari-cari siapa orang yang bisa ditanyai soal kegiatan Munjung di Setra Buleleng.

Nah, tiba-tiba seorang pria berkumis yang memakai udeng dan baju putih polos menghampiri saya yang sedang sibuk memotret. “Mau ke mana, Nak?” tanyanya sambil mendekat.

“Mau ambil gambar di sini, Pak. Sebenarnya mau merekam orang yang berkunjung bawa makanan ke kuburan di sebelah itu, Pak,” jawab saya.

“Oh itu. Ya, biasanya ada. Sebentar lagi. Tapi sudah tidak seramai dulu itu,” katanya sambil melangkah pergi karena sudah dipanggil istrinya. Ia diminta segera mengurus sembahyang.

Obrolan itu begitu singkat, saya dan bapak itu tidak sempat berkenalan. Akhirnya saya dan Ucup memilih untuk mengambil gambar orang sembahyang saja dulu.

Dan setelah beberapa menit memotret aktivitas sembahyang di Pura Dalem, kami mencoba lagi bergeser masuk ke area Setra Buleleng. Benar saja, saat kami masuk ke area setra, ternyata beberapa orang sudah berdatangan di sana. Ada yang datang menggunakan mobil, motor, dan beberapa terlihat berjalan kaki.

Keluarga yang sedang mempersiapkan tempat untuk maturan di atas makam | Foto: Sonhaji

Orang-orang itu menuju ke area ujung barat setra. Di sana tampak berjejer beberapa batu nisan. Jelas itu adalah makam. “Ayo, Cup. Ini yang penting kita rekam,” seru saya sambil berlari tipis agar  tidak ketinggalan momen.

Orang-orang itu datang membawa sesajen yang berisi makanan. Sesaji itulah yang mereka sebut dengan “Punjung.”

Selain sesaji, beberapa orang juga membawa tikar beserta perkakas makan dan minum yang lengkap. Sekilas tidak tampak seperti orang yang datang ke makam, lebih tepatnya seperti orang yang ingin piknik. Hanya tempatnya saja yang beda. Ini kuburan, bukan pantai, gunung, atau taman kota.

Meraka mengunjungi makam kerabat yang sudah meninggal tetapi belum diaben, dikremasi. Mereka membawa Punjung yang sangat lengkap. Tampaknya memang disiapkan untuk makan bersama. Ada yang membawa nasi lengkap dengan lauknya; ada pula buah, dan berbagai jenis cemilan serta minuman.

Makanan dan sebagainya itu telah dipersiapkan oleh pihak keluarga yang akan berkunjung ke setra selesai melakukan sembahyang di rumah atau Pura Dalem.

“Pagi tadi kami ke pura dulu. Bangun jam 4 atau 5 pagi, sembahyang dulu di rumah. Setelah itu, baru ke sini, ke makam. Habis dari sini, kami lanjut kumpul-kumpul di rumah,” kata Made Wijana (56 tahun), yang kami temui di sela-sela aktivitas Munjung-nya.

Sesajen yang mereka bawa mula-mula dihaturkan terlebih dahulu dan dibacakan doa-doa. Setelah membaca doa, beberapa orang menyiramkan atau memercikkan air di atas pusara makam. Sama seperti orang yang sedang memercikkan air tirta setelah upacara di pura.

Made Wijana | Foto: Sonhaji

Ada juga yang sesekali mengelus batu nisan dengan air tersebut dengan begitu hati-hati dan halus. Seperti sedang mengelus kepala sosok keluarga yang telah tiada.

Setelah berdoa, sesajen itu disimpan di atas atau di sebelah makam dengan dupa yang telah dibakar terlebih dahulu. Rupanya mereka tidak akan langsung memakan makanan dari Punjung itu. Seolah didiamkan dulu sejenak, sebagai persembahan untuk sosok arwah keluarga.

Di sela-sela mereka menunggu, mereka bercakap-cakap dengan sesama anggota keluarga, atau dengan keluarga lain yang berada di sekitaran makam. Terkadang mereka saling bercanda sampai tertawa.

Orang-orang yang datang berkunjung ke makam pagi itu bagaikan sedang bertamasya riang gembira bersama sanak saudara. Syahdan, alih-alih tampak suasana mencekam dan seram, kuburan itu justru terlihat seperti taman hiburan.

“Biasanya kami lakukan enam bulan sekali atau pada saat Galungan, Kuningan, dan Pagerwesi seperti sekarang—atau hari-hari tertentu,” ujar pria paruh baya yang tinggal di Banjar Jawa itu.

***

Sebenarnya tradisi ini hampir mirip dengan kebiasaan ziarah yang dilakukan orang Islam di kampung-desa sehari sebelum lebaran atau hari raya Idul Fitri. Biasa juga dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan atau bulan Puasa.

Mereka sama-sama datang ke kuburan dengan maksud mendoakan arwah yang sudah meninggal. Biasanya, mereka juga membawa air yang dicampur dengan bunga atau daun pandan untuk disiramkan di atas kuburan. Dalam konteks Islam, prosesi itu diikuti dengan mengirimkan bacaan ayat Al-Quran. Dan sesekali membersikan kuburan dari dedaunan kering dan rumput liar.

Tetapi, dan ini yang membedakan keduanya, kalau ziarah orang Islam tidak ada acara makan-makannya. Sedangkan di sini, di Setra Buleleng, sekali lagi, orang-orang itu memang sudah mempersiapkan sesi makan bersama. Sehingga ini tampak seperti piknik keluarga.

Orang-orang yang berdatangan ke setra ini seolah datang untuk menghibur almarhum yang sudah meninggal—karena menurut kepercayaan orang Bali, arwah akan tetap di sisi jasadnya sebelum melewati proses Ngaben. Bahkan ada yang bercerita soal kenangan-kenangan lucu semasa hidup almarhum. Bagaikan momen nostalgia anggota keluarga.

Yang juga menarik, orang-orang yang berdatangan ke setra tersebut dengan senang hati menawarkan bekal makanan dan minuman kepada siapa pun yang berada di situ untuk saling cicip-mencicipi. Semacam barter makanan satu sama lain.

Bapak Putu Aksara Putra (Kelian Dadia) | Foto: Sonhaji

Bahkan, saya dan Ucup juga ditawari untuk mengambil lungsuran atau makanan yang ada. Kami berdua dikasih jeruk dan anggur. Kata Ucup, lumayan, sekalian pengganti sarapan.

Namun, hari ini, sudah tak banyak orang yang melakukan praktik ini. Tak sebanyak saat masa silam. Hal tersebut diduga karena masa kini sudah banyak pengabenan masal. Jadi, jenazah tidak lama dikubur. Setiap ada pengabenan masal langsung diangkat.

“Sekarang sedikit yang ke setra untuk maturan punjung lagi. Karena sebagian besar sudah Ngaben,” kata Putu Aksara Putra (40 tahun), seorang Kelian Dadia (pemimpin warga adat) dari salah satu keluarga yang datang pagi itu.

Barangkali juga, itu yang membuat tradisi Munjung, semakin ke sini terasa tidak pernah muncul ke permukaan. Karena semakin hari semakin berkurang jenazah yang dikubur.

Sampai di sini, awalnya saya mengira orang Bali itu tidak memiliki tradisi terkait pemakaman jenazah yang dikubur. Terkait orang Bali yang harus mengubur jenazah atau tidak, saya tak pernah menjumpai teman atau siapa pun bercakap-cakap soal itu.

***

Tradisi Munjung memang tidak semeriah upacara Ngaben. Jika Ngaben terdapat prosesi arak-arakan di jalan dengan menggunakan “bade” atau tempat membawa jenazah, Munjung tidak seramai itu.

Ngaben, apalagi bagi kalangan menengah ke atas, biasanya diiringi berbagai pernak-pernik yang menunjukkan kemewahan. Ngaben di beberapa tempat di Bali bahkan ada yang diisi pertunjukkan sebelum jenazah dibakar bersama bade-nya—sebagai bentuk persembahan terakhir keluarga yang masih hidup.

Tetapi, ternyata ada juga beberapa pihak keluarga yang mengharuskan jenazah dikubur terlebih dulu. Karena beberapa desa adat mempercayai jika orang yang meninggal tidak boleh langsung diaben. Mesti harus dikubur dulu. Atau kembali dulu ke dalam tubuh Ibu Pertiwi. Seperti Made Wijana dan warga Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng, yang percaya akan awig-awig (aturan adat) di desa adat mereka.

“Kalau di keluarga saya di Banjar Jawa ini, aturan adatnya memang jenazah harus kami kembalikan dulu ke tanah atau Bumi Pertiwi,” ucap Wijana saat kami ajak ngobrol di depan makam adiknya pagi itu.

Bagi Wijana dan keluarganya, Munjung bagaikan tempat nostalgia untuk sosok keluarga yang sudah tidak ada, sekaligus tempat silaturahmi untuk keluarga yang masih hidup.

Akhirnya, bisa dikatakan, Munjung bagaikan terminal pengantaran terakhir sebelum arwah orang yang sudah tiada benar-benar bersatu dengan Semesta—pakai “S” besar. Pula tempat keluarga yang masih hidup untuk merenungkan kembali tentang kematian.[T]

Reporter: Rusdy Ulu
Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah
5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng – Dari Pegorsi, Rent Car, hingga Makan di Kuburan
Mandala Kesejahteraan Pagerwesi
Hari Pagerwesi Meriah di Buleleng, Kenapa?
Tags: bulelengpagerwesiTradisi Munjung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan

Next Post

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Pameran Roman Muka: Membaca, Memaknai, dan Menemukan Kembali Segala Rupa Ekspresi Sandang Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co