24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng – Dari Pegorsi, Rent Car, hingga Makan di Kuburan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Karikatur: Made Bleloss. Sumber: Akun Facebook Putu Erick Rico

 

PERAYAAN Hari Pagerwesi di Buleleng lebih meriah dari daerah-daerah lain di Bali. Banyak yang menyebut Pagerwesi adalah Galungan-nya orang Buleleng. Artinya, kemeriahan saat Pagerwesi di Buleleng sama dengan kemeriahan saat Galungan di Bali (terutama di bagian selatan).

Meski tahu bahwa Pagerwesi di Buleleng ramai, namun banyak yang tak tahu hal-hal dan fakta-fakta menarik di seputar Hari Pagerwesi di Bali Utara. 

  1. Katakan Pegorsi

Hari Pagerwesi di Buleleng diucapkan dengan lapal yang berbeda. Banyak orang lebih suka menyebutkan Pegorsi, ketimbang secara jelas menyebut Pagerwesi. Saat ditanya ke sejumlah orang, sebagian besar mengatakan bahwa mereka lebih suka melapalkannya dengan kata Pegorsi ketimbang Pagerwesi. Jika diminta menuliskannya, mereka tetap menulis dengan kata Pagerwesi.

“Uli imaluan bungute biasa ngorahang Pegorsi,” kata seorang nelayan di wilayah Pantai Penimbangan. Artinya, “Dari dulu mulutku biasa mengucapkan Pegorsi.”

Soal pelapalan ini mungkin ahli bahasa bisa menjelaskannya. Tapi dari sisi psikologis (hehehe, gawat gati), Pegorsi bisa jadi merupakan bentuk kegagahan bahwa Pagerwesi di Buleleng itu lain daripada yang lain. Pegorsi memang bentuk kata yang lebih simpel dari kata aslinya, namun kata Pegorsi sesungguhnya  bisa dianggap sebagai bentuk kata melebih-lebihkan, menguatkan, menegaskan, bahwa perayaan ini milik Buleleng, Bro…

Lawar Penampahan Pagerwesi. /Foto: Dekpas Kocok Buleleng

2. Lawar di Penampahan

Pada rangkaian Hari Galungan, warga di Bali mengenal Hari Penampahan Galungan (sehari menjelang Galungan). Saat rangkaian Pagerwesi, warga di Buleleng juga mengenal Hari Penampahan Pagerwesi (sehari menjelang Pagerwesi).

Sama seperti penampahan Galungan, saat penampahan Pagerwesi warga memotong babi dengan cara mepatung, yakni seekor babi dibeli bersama-sama dengan warga lain dalam satu kelompok seperti kelompok dadia, banjar, atau kelompok suka-suka, lalu dipotong bersama-sama.  Tapi itu dulu. Kini warga lebih suka membeli daging babi sendiri-sendiri ke pasar, karena dianggap lebih praktis.

Yang menarik, pada saat penampahan Pagerwesi di Buleleng menu lawar hampir selalu menjadi menu utama. Warga seperti berlomba cepat-cepatan mengadon lawar, lalu yang lebih dulu selesai akan dengan bangga mengundang warga di sekitar atau menelepon teman untuk makan bersama. Di era media sosial saat ini, foto lawar yang sudah siap disantap biasanya diungah di akun facebook atau instagram dengan caption menarik, semisal: “Yang mau silakan mendekat”.

Jika lawar di wilayah Bali selatan biasanya terdiri darii campuran daging dan nagka, di wilayah Buleleng lawar biasanya lebih banyak daging dicampur parutan kelapa tanpa sayuran. Banyak juga warga membuat lawar getih, yakni lawar yang hanya terdiri dari bahan daging, jeroan, dan darah segar.

Warga menghaturkan punjung dan makan bersama di kuburan saat Pagerwesi. /Foto: dok ole
  1. Makan Bersama di Kuburan

Tepat pada Hari Pagerwesi, sejak sekitar pukul 05.00 dini hari, warga berbondong ke kuburan atau setra desa adat. Mereka datang untuk menghaturkan punjung (sesaji persembahan) kepada orang tua atau keluarga yang sudah meninggal, yang jasadnya masih dikubur di setra, karena keluarga yang ditinggalkan belum bisa melakukan upacara ngaben.

Punjung dihaturkan di kuburan sebagai simbol ucapan terima kasih dan permintaan maaf karena keluarga belum bisa melakukan upcara ngaben. Punjung dihaturkan agar roh anggota keluarga yang sudah meninggal namun belum diupacarai secara ngaben tidak “marah” menjadi buta cuil yang bisa “menyakiti” keluarga yang ditinggalkan.

Tradisi memunjung ke kuburan secara beramai-ramai tak banyak dilakukan di wilayah Bali bagian selatan pada hari-hari raya semisal Galungan atau Kuningan. Namun di Buleleng tradisi itu sudah diwarisi sejak turun-temurun.

Yang menarik, punjung biasanya berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kue dan buah-buahan, dalam jumlah yang sengaja dibikin banyak. Karena surudan punjung, atau punjung yang sudah dihaturkan, akan dimakan bersama keluarga di kuburan.

Maka jangan heran, pagi-pagi di Hari Pagerwesi, setra di Desa Adat Buleleng atau di setra di Banyuasri, akan tampak ramai dengan kelompok-kelompok keluarga yang makan bersama sambil bercengkerama, selayaknya orang yang bertamasya di kuburan.

Suatu masa di Hari Pagerwesi bisa saja tampak sepi karena sedikit sekali orang yang menghaturkan punjung. Itu terjadi biasanya setelah Desa Adat menggelar upacara ngaben massal.  Artinya, banyak jasad warga yang sudah meninggal sudah diupacara ngaben sehingga sudah dianggap tidak terkubur lagi di setra. Sehingga tak perlu lagi di-punjung. 

Lalu-lintas ramai di sekitar hari Pagerwesi di kawasan puncak Wanagiri, Buleleng. /Foto: dok ole
  1. Berbondong Pulang Kampung

Belum ada data valid tentang berapa jumlah warga Buleleng yang merantau di wilayah Bali bagian selatan seperti di Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. Namun yang pasti jumlahnya banyak. Dan itu bisa dilihat dari jumlah arus pulang kampung warga Buleleng dari Bali selatan ke Bali utara melalui jalur Kintamani, Bedugul, Banyuatis, dan Pupuan.

Sejumlah warga Buleleng yang merantau di Bali selatan biasanya memilih untuk pulang kampung bersama seluruh anggota keluarga pada Hari Pagerwesi. Jika pada hari-hari raya yang lain, bagi mereka, boleh-boleh saja tidak pulang kampung. Atau jika pun harus pulang kampung, mereka tak akan memaksakan diri untuk mengangkut seluruh anggota keluarga.

“Ini seperti tradisi leluhur, dorongan yang sangat kuat. Di Hari Pagerwesi kami merasa harus pulang kampung. Di hari lain ya boleh-boleh saja tak pulang, hari Pagerwesi tak enak tak pulang kampung. Terasa ada yang hilang,” kata seorang teman, warga Liligundi, ketika ditanya saat Pagerwesi.

Warga perantauan Buleleng yang sudah memiliki penghasilan besar mungkin kini akan gampang saja pulang kampung kapan pun yang mereka mau. Namun bagi warga dengan penghasilan pas-pasan tentu akan memilih dengan cermat kapan mereka harus pulang kampung, dan kapan harus tetap bekerja di tanah rantau. Pilihan itu biasanya datang di Hari Pagerwesi.

Dari cerita-cerita warga pekerja hotel atau restoran di daerah pariwisata, seperti di Kuta dan Nusa Dua, banyak warga dari Buleleng akan berusaha menukar hari libur dengan temannya yang berasal dari Badung atau Tabanan. Jauh sebelum Pagerwesi mereka akan rela menggantikan jam kerja teman-temannya, dengan tujuan agar bisa libur dalam waktu yang cukup lama dan bisa pulang kampung ke Buleleng di saat Pagerwesi

Yang menarik lagi, warga di Buleleng yang belum punya mobil akan berusaha menyisihkan lebih banyak uangnya agar bisa menyewa mobil (rent car) saat pulang kampung. Bukan soal gengsi, tapi tujuannya agar semua anggota keluarga terangkut ke kampung. Namun ada juga warga yang nekat naik sepeda motor dengan membonceng semua keluarga: satu anak di depan, satu anak dijepit atau digendong di belakang.

Kini, tentu saja sudah banyak warga perantauan hidup berkecukupan dan memiliki mobil sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga cara pulang kampung dengan rent car juga berkurang.

Dua hari atau sehari menjelang Pagerwesi, jalur Singaraja-Denpasar via Bedugul, akan menyuguhkan pemandangan menarik: mobil dan sepeda motor akan berderet nyair tanpa putus menuju kea rah utara. Pemandangan sebaliknya terjadi setelah Pagerwesi: banyak deretan mobil dan sepeda motor menuju ke selatan (arus balik dari kampung). Bahkan terkadang, wilayah di seputaran puncak, di wilayah persimpangan Wanagiri terjadi kemacetan lalu-lintas yang cukup parah.

  1. Lebih Meriah di Dangin Enjung

Mungkin salah kaprah jika dikatakan bahwa perayaan Pagerwesi meriah di seluruh Kabupaten Buleleng. Yang sebenarnya terjadi, kemeriahan Pagerwesi terjadi di wilayah Kecamatan Buleleng, yakni di wilayah kota Singaraja dan sekitarnya. Atau lebih luas lagi, kemeriahan terjadi di wilayah Dangin Enjung, yakni dari wilayah Lovina ke timur hingga ke Tejakula.

Penjelasan yang sempat diperoleh dari para peneliti kebudayan Bali Utara, secara budaya Kabupaten Buleleng sebenarnya dibagi dua wilayah, yakni Dangin Enjung dan Dauh Enjung. Perbatasannya diperkirakan berada di wilayah Enjung Sangyang, Kecamatan Banjar. Di timur Enjung disebut Dangin Enjung, di sebelah baratnya disebut Dauh Enjung.

Pagerwesi lebih meriah diadakan di wilayah Dangin Enjung. Namun belakangan, seiring dengan perkembangan ekonomi dan kebudayaan, sejumlah warga di wilayah Dauh Enjung juga turut merayakannya secara lebih meriah. (T/sejumlah sumber)

Tags: balibulelenghindupagerwesi
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Bebunyian: Apa yang Harus Dibunyikan? – Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas

Next Post

Juniarta: Gerakan Penyeragaman Kebudayaan Bali Itu Wajah Fundamentalisme

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Juniarta: Gerakan Penyeragaman Kebudayaan Bali Itu Wajah Fundamentalisme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co