4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
July 15, 2024
in Ulas Pentas
“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024

Baleganjur duta Kabupaten Badung di Pesta Kesenian Bali 2024 | Foto: Pemkab Badung

AJANG paling bergengsi dalam dunia seni di Bali masa kini adalah lomba/wimbakara Baleganjur, sebuah perhelatan yang selalu dinantikan oleh para penikmat Pesta Kesenian Bali (PKB). Tahun ini (2024), duta Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Dewa Ayu dari Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan. Mereka tampak sangat siap menghadapi pertempuran sengit ini, dengan persiapan matang yang mencerminkan dedikasi dan keahlian mereka dalam seni Baleganjur.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan banyak mengomentari tentang struktur gending, pola garap, fokabuler musik maupun isen-isen yang terdapat dalam sajian musikal ini. Namun, saya akan lebih menyoroti ketertarikan saya terhadap konsep yang dibawakan yang sejatinya menjadi tantangan tersendiri bagi Sekaa Baleganjur ini.

Sebuah konsep dalam konteks Baleganjur ini tidak hanya mencerminkan kreativitas dan inovasi dalam komposisi musik, tetapi juga menghadirkan interpretasi baru yang segar. Melalui ide dan gagasan dari I Komang Tri Sandyasa Putra, S.Sn atau yang terkenal dengan nama Mang Monot, lahir konsep “Wayah” sebagai sebuah wahana dalam Baleganjur ini.

Kata “Wayah” bisa diartikan secara sederhana sebagai perubahan menuju pendewasaan diri. Ada yang mengartikannya sebagai pendalaman keterampilan, sementara yang lain mengaitkannya dengan proses “menua”. Banyaknya interpretasi terhadap kata “Wayah” justru menjadi menarik. Hal ini memberikan ruang bagi setiap penafsiran, mulai dari yang bijak hingga yang nyeleneh, dari yang mendalam hingga yang nyentrik.

Dalam keragaman interpretasi makna ini, kita bisa melihat fleksibilitas konsep dalam seni Baleganjur, memungkinkan setiap penampilan menjadi cermin unik dari perspektif yang berbeda.        

Saya akan mencoba membedah kata “Wayah” yang menjadi tema besar Baleganjur ini, “versi saya,” setelah menyaksikan penampilannya. Semoga interpretasi saya ini dapat diterima, hehe.

Saya buka dengan mengutip dalam buku “Trilogi Seni” yang ditulis oleh Soedarso Sp (2006:219) menyebutkan:

“Masalah kehebatan suatu karya seni bukanlah dilihat dari apakah karya tersebut menyenangkan atau tidak, melainkan seberapa dalamkah gerangan kehidupan jiwa yang diekspresikan itu berasal.”

PENGEMBARAAN DIRI MENUJU PENDEWASAAN SIKAP

Bagi saya, Wayah  dapat diartikan sebagai pengembaraan diri, sebuah perjalanan yang mendalam menuju pemahaman yang lebih luas. Ini bukan hanya tentang pendewasaan atau peningkatan keterampilan, tetapi juga tentang kedalaman rasa yang kita peroleh dari setiap pengalaman. Dalam konteks ini, Wayah  juga mencerminkan intelektualitas, di mana setiap momen dalam perjalanan kita memperluas pandangan dan memperkaya pemahaman kita tentang dunia. Melalui penampilan Baleganjur ini, saya melihat bagaimana konsep “Wayah ” diterjemahkan menjadi sebuah narasi musikal yang kuat, mengajak kita untuk merenungkan perjalanan pribadi kita sendiri dalam mencari makna dan kedalaman hidup.

Baleganjur duta Kabupaten Badung di Pesta Kesenian Bali 2024 | Foto: Pemkab Badung

Dalam pengembaraan diri, kita belajar untuk melepaskan ego dan keterikatan dengan identitas diri, sehingga mampu mencapai manunggaling bayu, sabda, dan idep, kesatuan energi, kata, dan pikiran. Proses ini membawa kita menuju saman sepel, atau harmonisasi, di mana kita menemukan keseimbangan sejati antara diri kita dan lingkungan sekitar.

Wayah, dalam konteks Baleganjur ini, menjadi sebuah metafora yang menggambarkan perjalanan spiritual dan intelektual, sebuah perjalanan menuju pencerahan dan harmoni. Melalui penampilan yang penuh dengan simbolisme dan makna mendalam. Sekaa Gong Dewa Ayu, Desa Adat Jimbaran berhasil mengajak penonton untuk merenungkan perjalanan mereka sendiri dan menemukan kedalaman dalam setiap langkah yang diambil. Inilah keindahan dari seni Baleganjur, di mana setiap irama dan gerakan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebuah cermin bagi jiwa, mengajak kita untuk terus menjelajah dan menemukan diri yang sejati.

Dari kesadaran yang telah meluas, intuisi atau feeling diaktifkan, membuka pintu bagi hadirnya hal-hal yang tak terduga. Proses ini membawa kita melampaui batas-batas rasionalitas dan logika, menuju wilayah di mana kreativitas dan inspirasi mengalir bebas. Dalam keadaan ini, kita mampu merasakan dan memahami makna yang lebih dalam dari setiap pengalaman, serta menemukan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kejadian.

Penampilan Baleganjur dengan tema “Wayah” ini mengajak kita untuk merasakan perjalanan spiritual. Setiap formulasi komposisi musik baleganjur ini seolah-olah menjadi nadi dari perjalanan diri, menggugah kesadaran kita untuk terhubung lebih dalam dengan intuisi. Kehadiran hal-hal tak terduga dalam pertunjukan ini tidak hanya menciptakan kejutan artistik, tetapi juga simbol dari kebebasan ekspresi dan kedalaman kreativitas yang tak terikat oleh aturan konvensional.

Dengan demikian, “Wayah” dalam konteks falsafi ini bukan hanya sebuah tema, tetapi juga sebuah panggilan untuk mengeksplorasi dan merangkul perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Ini adalah ajakan untuk melepaskan keterikatan, menyelaraskan diri dengan energi universal, dan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat membawa kita ke harmoni yang lebih besar.

WAYAH = TEKNIKAL

Dalam konteks teknikal, Wayah mengandung makna ketepatan Tindakan bukan hanya benar, tetapi juga tepat dalam waktu dan keadaan. Ini mengacu pada kemampuan untuk menggunakan skill dengan cermat dan bijaksana, memanfaatkan momentum yang ada. Wayah  dalam konsep Baleganjur ini menggambarkan bagaimana setiap elemen musik dan gerakan diatur dengan presisi, sehingga menghasilkan harmoni yang sempurna antara ritme, nada, dan energi.

Ketepatan tindakan ini memerlukan pemahaman mendalam akan setiap aspek pertunjukan, dari struktur lagu hingga isen-isen yang rumit. Para seniman Baleganjur harus memiliki kesadaran penuh terhadap setiap detil, memastikan bahwa setiap tabuhan dan gerakan dilakukan pada saat yang paling tepat, menciptakan dampak maksimal pada penonton.

Penggunaan skill yang terampil menjadi kunci dalam mencapai ketepatan ini. Setiap penabuh/musisi baleganjur ini telah mengasah kemampuan mereka melalui latihan intensif. Skill ini memungkinkan mereka untuk merespons dengan cepat dan akurat terhadap perubahan dalam pertunjukan, menyesuaikan diri dengan dinamika dan emosi yang berkembang.

Momentum, dalam hal ini, adalah momen kunci di mana semua elemen bersatu untuk menciptakan sebuah pertunjukan yang tak terduga. Ini adalah titik di mana energi kolektif dari para seniman pendukung dan penonton mencapai puncaknya, menghasilkan pengalaman yang mendalam.

Sehingga dalam tatanan teknikal, Wayah dapat diartikan sebagai keterampilan teknik dan teknis yang tinggi, ini mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan efektif, menggunakan keterampilan yang mendalam dan presisi. “Ngutang igel, ngutang gegedig, ngalih pemantes” adalah ungkapan yang mencerminkan keterampilan dalam mengontrol dan mengekspresikan gerakan, ritme, dan ekspresi dengan benar serta pada waktu yang tepat.

Dalam konteks seni Baleganjur, para musisi dan seniman pendukung harus mampu menguasai setiap nuansa musik dan gerakan sehingga setiap penampilan tidak hanya menghibur tetapi juga memancarkan keindahan dan kedalaman makna. Kemahiran ini memungkinkan mereka untuk menghadirkan pertunjukan yang kohesif, memadukan teknik yang solid dengan ekspresi artistik yang kuat.

Dengan kata lain, Wayah dalam tatanan teknikal merupakan pencapaian tingkat keterampilan yang tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga menggabungkan kepekaan terhadap detail dan kehalusan eksekusi. Ini memungkinkan para seniman untuk menciptakan karya yang tidak hanya mengesankan dari segi teknis, tetapi juga mengandung jiwa dan pesona yang memikat bagi para penonton.

KONTEKS WAYAH  DAN JANA KERTHI

Hal yang terpenting adalah keterkaitan antara konsep “Wayah” dan tema Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini, yaitu “Jana Kerthi” harkat martabat manusia unggul. Konsep “Wayah ,” yang mencakup pengembaraan diri dan kedalaman intelektual, secara alami terhubung dengan tema ini.

Dalam konteks ini, Wayah tidak hanya menggambarkan perjalanan menuju keahlian yang lebih tinggi, tetapi juga mengajak untuk melampaui batas-batas keahlian itu sendiri. Manusia unggul bukan hanya tentang memiliki keterampilan atau pengetahuan yang tinggi, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam mengintegrasikan kecerdasan jiwa dan pikiran. Ini mencerminkan harmoni dalam diri dan dalam interaksi dengan lingkungan sekitar.

Menerapkan pengetahuan secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari merupakan esensi dari konsep “Wayah” dalam PKB tahun ini. Para seniman dalam Baleganjur tidak hanya menunjukkan keterampilan teknis mereka, tetapi juga memberikan pesan yang dalam tentang bagaimana menghormati dan menghargai perjalanan spiritual serta intelektual dalam mencapai kedewasaan dan harmoni batin.

Baleganjur duta Kabupaten Badung di Pesta Kesenian Bali 2024 | Foto: Pemkab Badung

Dengan demikian, Wayah dalam hubungannya dengan tema “Jana Kerthi” harkat martabat manusia unggul pada PKB tahun ini menekankan pentingnya tidak hanya berkembang dalam hal teknis, tetapi juga dalam hal sikap, spiritual dan intelektual, menghasilkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya indah secara artistik tetapi juga bermakna secara filosofis.

 Dari pemahaman tentang ketertenggelaman dalam pengembaraan diri menuju jiwa unggul, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak hanya berusaha melampaui skill atau keahlian semata, tetapi juga mencari kedalaman dalam kecerdasan jiwa. Unggulitas manusia tidak hanya terletak pada kemampuannya dalam dunia tertentu, tetapi lebih pada kebijaksanaan dalam mengintegrasikan kecerdasan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas.

Ketika seseorang melampaui dirinya sendiri, termasuk pencapaian, ketenaran, atau kekuasaan, mereka tidak lagi terjebak oleh hal-hal tersebut. Ego tidak lagi mendominasi, tetapi digunakan sebagai alat untuk mencapai atau mempertahankan esensi kemanusiaan yang sejati.

Dalam konteks ini, manusia bijak bukanlah hanya mereka yang memiliki keahlian atau kecerdasan yang tinggi, tetapi juga mereka yang mampu memahami dan menghormati nilai-nilai yang lebih dalam dan universal, menjadikan kesadaran tentang diri dan lingkungan sebagai tujuan utama dari setiap pencapaian dan keberhasilan mereka. [T]

Tembakan Teatrikal dan Musik yang Beda dari “Raja Buduh” – Catatan Baleganjur Duta Jembrana di PKB 2024
Lomba Baleganjur PKB 2022 | Badung & Tabanan Mainkan Air Terjun, Denpasar Ceritakan Karesian
Teruntuk Sekaa Gong Kebyar Dewasa dari Paguyuban Seniman Muda Jembrana: “Warna Outfit-mu, Keren Banget, Wi!”
Tags: BadungbaleganjurDesa Adat Jimbarankabupaten badunglomba baleganjurPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Retorika ke Peluru: Warisan Kekerasan Politik Amerika dari Lincoln hingga Trump

Next Post

Anak-anak Tunagrahita Bermain Dengkleng Sambil Meningkatkan Pemahaman Seksual –  Cerita PKM-PM Undiksha di Yayasan Anak Unik, Gianyar

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak Tunagrahita Bermain Dengkleng Sambil Meningkatkan Pemahaman Seksual –  Cerita PKM-PM Undiksha di Yayasan Anak Unik, Gianyar

Anak-anak Tunagrahita Bermain Dengkleng Sambil Meningkatkan Pemahaman Seksual –  Cerita PKM-PM Undiksha di Yayasan Anak Unik, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co