23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Retorika ke Peluru: Warisan Kekerasan Politik Amerika dari Lincoln hingga Trump

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 15, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

INSIDEN penembakan terhadap Donald Trump pada Sabtu, 13 Juli 2024, saat dia sedang berpidato di Butler, Pennsylvania, masih bertengger diurutan teratas perbincangan global. Bahkan, pose-pose heroik Trump pasca tragedi tersebut banyak dipinjam content creator untuk menghasilkan meme-meme sepakbola nan lucu dan menggelitik. Kebetulan, pertandingan akbar EURO dan COPA AMERICA 2024 baru saja menyelesaikan partai puncaknya semalam.

Sebagian orang mungkin saja shock, Kok bisa? Saya kasih tahu, ini bukan barang aneh di sana. Peristiwa ini sejatinya adalah bagian dari warisan panjang kekerasan politik di Amerika Serikat, buah dari retorika tajam dan polarisasi ekstrim. Itulah mengapa judul tulisan ini menyebut “dari Retorika ke Peluru”.

Itu adalah benang merah kekerasan politik yang selama ini terus terjalin, mengingatkan kita bahwa kata-kata beracun dapat bermetamorfosis menjadi peluru yang melukai demokrasi. Selain itu, demokrasi rungkad di hadapan ekstremisme.

kekerasan politik yang berulang

Akar kekerasan politik di Amerika dapat ditelusuri hingga ke era Perang Saudara (1861-1865) dan masa Rekonstruksi (1865-1877). Pembunuhan Abraham Lincoln pada 1865 menjadi titik awal dari serangkaian kekerasan politik yang menandai sejarah bangsa. Peristiwa ini terjadi karena ketegangan ekstrem pasca-Perang Saudara dan ketidakpuasan kelompok Konfederasi terhadap kebijakan Lincoln.

Dampaknya sangat signifikan, mengubah arah rekonstruksi dan memperdalam luka perpecahan antara Utara dan Selatan. Tragedi ini menjadi preseden bagi kekerasan politik di masa depan, menunjukkan bahwa bahkan pemimpin tertinggi negarapun tidak kebal terhadap ancaman ekstremisme.

Pada masa Gilded Age dan Progressive Era juga diwarnai oleh kekerasan politik yang mencengangkan. Pembunuhan Presiden James A. Garfield pada 1881 dan William McKinley pada 1901 menggambarkan bagaimana ketidakpuasan terhadap sistem politik dapat berujung pada tindakan ekstrem. Kedua pembunuhan ini terjadi di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, mencerminkan kegagalan sistem dalam mengakomodasi aspirasi seluruh lapisan masyarakat.

Eskalasi kekerasan politik masih berlanjut hingga pertengahan abad ke-20. Dari percobaan pembunuhan Franklin D. Roosevelt (1933) hingga pembunuhan John F. Kennedy (1963), Robert F. Kennedy dan Martin Luther King Jr. (1968), peristiwa-peristiwa ini mencerminkan ketegangan ras, ideologi, dan kelas yang mendalam. Terjadi di tengah pergolakan sosial, insiden-insiden ini berdampak besar pada kebijakan domestik dan luar negeri, serta meninggalkan luka kolektif yang mendalam pada bangsa Amerika.

Era modern tidak luput dari bayangan kekerasan politik. Percobaan pembunuhan terhadap Ronald Reagan pada 1981 dan penembakan anggota Kongres Gabrielle Giffords pada 2011 menunjukkan bahwa ancaman kekerasan tetap ada dalam lanskap politik kontemporer. Insiden-insiden ini terjadi di tengah meningkatnya polarisasi politik dan retorika yang semakin tajam.

Dampaknya signifikan, memicu perdebatan tentang keamanan pejabat publik dan kontrol senjata, serta mengingatkan masyarakat akan bahaya ekstremisme politik. Peristiwa-peristiwa ini menegaskan bahwa demokrasi Amerika tetap rentan terhadap tindakan kekerasan, bahkan di era informasi dan teknologi modern.

Pelajaran

Kekerasan politik di Amerika terjadi karena banyak sebab yang saling terkait. Pertama, masyarakat semakin terpecah belah dalam hal politik dan sosial, membuat kelompok-kelompok sulit untuk saling memahami.

Kedua, orang-orang sering menggunakan kata-kata kasar untuk menyerang lawan politik mereka, yang membuat kekerasan seolah-olah bisa dimaafkan. Ketiga, senjata api mudah didapat.

Keempat, media kadang menyebarkan berita yang tidak benar. Terakhir, internet membuat orang lebih cepat menjadi radikal. Semua ini bersama-sama membuat suasana yang memungkinkan kekerasan politik terjadi lebih mudah.

Kasus Donald Trump menjadi contoh nyata bagaimana retorika dapat berevolusi menjadi kekerasan fisik. Sejak kemunculannya di panggung politik nasional pada 2015, Trump telah dikenal dengan gaya retorika yang kontroversial dan sering kali provokatif.

Insiden-insiden kekerasan yang terkait dengan politik selama era kepemimpinannya, seperti kerusuhan di Charlottesville pada 2017 dan serangan terhadap Capitol pada 6 Januari 2021, dapat dilihat sebagai manifestasi dari polarisasi dan ketegangan yang dipicu oleh retorika tersebut. Penembakan terhadap Trump beberapa waktu lalu menjadi puncak dari eskalasi ini, menggambarkan bagaimana kata-kata dapat memicu tindakan ekstrem dan mengancam integritas proses demokrasi.

Pengalaman Amerika Serikat dalam menghadapi kekerasan politik sepanjang sejarahnya menyodorkan pelajaran berharga bagi demokrasi Indonesia. Sebagai negara dengan keragaman yang tinggi, Indonesia perlu waspada terhadap bahaya polarisasi dan retorika yang memecah belah.

Kita harus mengedepankan dialog yang konstruktif, toleransi, dan saling pengertian antar kelompok masyarakat yang berbeda. Penting bagi para pemimpin politik dan masyarakat untuk menjaga etika berpolitik, menghindari ujaran kebencian, dan menolak segala bentuk kekerasan dalam proses demokrasi.

Media dan platform digital harus dimanfaatkan secara bijak untuk menyebarkan informasi yang akurat dan membangun kesadaran politik yang sehat. Pendidikan politik dan penguatan institusi demokrasi juga menjadi kunci dalam mencegah radikalisasi dan ekstremisme.

Dengan bercermin pada pengalaman Amerika, Indonesia dapat memperkuat fondasi demokrasinya, menjaga persatuan dalam keberagaman, dan memastikan bahwa perbedaan politik tidak berujung pada kekerasan, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun bangsa yang lebih baik. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Tags: Amerika SerikatPolitikpolitik luar negeriUSA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

D’Youth Fest 2024: Perayaan Kreativitas Anak Muda dengan Kolaborasi Epik Scared Of Bums dan Gamelan Tradisional

Next Post

“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024

"Wayah” : Menyelami Kedalaman Makna dan Ekspresi dalam Seni Baleganjur Duta Kabupaten Badung 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co