14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 1, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TAJIKISTAN, negara bekas Soviet, populasi mayoritas muslim, mengesahkan undang-undang yang melarang pemakaian hijab dan atribut islam tradisional lainnya pada Selasa (25/6) lalu. Tentu saja kebijakan ini memicu kontroversi global.

Banyak pihak melontarkan kritik tajam dan menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Apa boleh buat, Tajikistan merasa urgent mengambil langkah politik ini untuk mempertahankan budaya dan nilai-nilai nasional, dari sesuatu yang dianggap pengaruh asing, demi stabilitas negara.

 Bagi saya, kontroversi ini mewakili dilema yang dihadapi banyak negara dalam menyeimbangkan pelestarian budaya dengan hak-hak individu di era globalisasi yang semakin masif.

Konteks Historis

Larangan hijab di Tajikistan melekat pada konteks sejarah dan sosial negara ini pasca era Soviet. Sejak kemerdekaannya pada 1991, Tajikistan telah berjuang untuk mendefinisikan kembali identitas nasionalnya di tengah tarik-menarik antara warisan Soviet, kebangkitan Islam, dan modernisasi.

 Keragaman etnis dan menguatnya peran Islam dalam ranah sosial politik menghadirkan tantangan bagi pemerintah Tajikistan. Larangan hijab, meski kontroversial, dapat dipandang sebagai Langkah defensif menghadapi perubahan sosial dan ketakutan akan radikalisasi. Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan pengelolaan keragaman dengan menjaga stabilitas negara.

Kita lihat saja, Pemerintah Tajikistan, melalui pendekatan politik, telah secara resmi menjustifikasi larangan hijab sebagai upaya melindungi budaya nasional, mencegah ekstremisme, dan mempromosikan pakaian tradisional. Presiden Emomali Rahmon bahkan menyatakan bahwa aturan ini bertujuan untuk melindungi nilai-nilai asli budaya nasional dan mencegah takhayul serta pemborosan dalam perayaan dan upacara.

Meski demikian, kritikus justru menganggapnya sebagai dalih untuk mengkonsolidasi kekuasaan dan menyingkirkan oposisi, terutama Partai Kebangkitan Islam Tajikistan (TIRP) yang sebelumnya cukup berpengaruh. Kesenjangan antara narasi resmi dan persepsi publik ini semakin mempertajam kontroversi kebijakan tersebut.

Dillema Identitas Nasional

Upaya Tajikistan untuk membentengi budaya lokalnya melalui larangan hijab mencerminkan dilema yang lebih luas yang dihadapi banyak negara di era globalisasi. Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk mempertahankan identitas nasional dan nilai-nilai tradisional. Namun di sisi lain, arus informasi dan pengaruh global yang tak terbendung membuat upaya ini semakin menantang.

Tajikistan, seperti banyak negara lain, berusaha menavigasi antara keterbukaan terhadap dunia luar dan pelestarian warisan budayanya. Kebijakan larangan hijab dapat dilihat sebagai manifestasi dari pergulatan internal ini, meskipun pendekatan yang diambil cenderung kontroversial dan berpotensi kontraproduktif.

Tantangan menghadapi globalisasi di era modern menjadi faktor krusial dalam memahami kebijakan Tajikistan. Revolusi teknologi dan informasi telah mengaburkan batas-batas budaya, memungkinkan ide-ide dan praktik-praktik baru menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Bagi Tajikistan, fenomena ini dipandang sebagai ancaman potensial terhadap kohesi sosial dan stabilitas politik.

 Pemerintah berusaha mengontrol narasi nasional dan membentuk identitas kolektif melalui kebijakan-kebijakan seperti larangan hijab. Namun, pendekatan top-down ini menghadapi resistensi dari masyarakat yang semakin terhubung secara global dan menuntut kebebasan berekspresi yang lebih besar.

Kontroversi seputar larangan hijab di Tajikistan telah memicu perdebatan sengit tentang batas-batas kekuasaan negara dan hak-hak individu. Kelompok hak asasi manusia dan komunitas internasional mengecam kebijakan ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama dan hak untuk berekspresi. Mereka berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mengatur cara berpakaian warganya, apalagi dalam konteks praktik keagamaan.

 Di sisi lain, pendukung kebijakan ini melihatnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan mempromosikan sekularisme. Perdebatan ini mencerminkan tensi yang lebih luas antara kepentingan negara dan hak-hak individu yang sering muncul dalam konteks kebijakan publik.

Dampak dari kebijakan larangan hijab di Tajikistan kemungkinan akan jauh melampaui masalah berpakaian semata. Secara sosial, kebijakan ini berpotensi meningkatkan polarisasi dalam masyarakat, memicu konflik antara kelompok sekuler dan religius, serta memarjinalkan sebagian populasi Muslim.

Secara politik, ini dapat memperkuat narasi tentang penindasan agama yang sering dieksploitasi oleh kelompok-kelompok ekstremis. Pada tingkat internasional, kebijakan ini dapat merusak citra Tajikistan dan mempersulit hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Muslim. Konsekuensi tidak disengaja ini menunjukkan kompleksitas dalam mengelola keragaman dan identitas nasional di era modern.

Analisis terhadap efektivitas kebijakan larangan hijab dalam mempertahankan budaya lokal Tajikistan mungkin saja menunjukkan hasil yang ambigu. Di satu sisi, kebijakan ini mungkin berhasil mempromosikan penggunaan pakaian tradisional Tajikistan dan memperkuat narasi nasionalis tertentu. Namun, pendekatan koersif ini juga berisiko menciptakan resistensi dan alienasi di kalangan warga yang merasa identitas religius mereka terancam.

 Alih-alih memperkuat kohesi sosial, kebijakan ini dapat memperburuk perpecahan yang sudah ada. Lebih jauh lagi, upaya untuk membatasi ekspresi keagamaan dapat mendorong praktik-praktik underground yang lebih sulit dikontrol, bertentangan dengan tujuan awal kebijakan tersebut.

Menurut saya, sebagai orang yang tinggal di negara dengan masalah sosial yang hampir mirip, ini dapat diperlakukan sebagai lesson learned. Mungkin saja, disuatu masa, Indonesia akan melalui fase yang serupa. Tapi perlu diingat, evolusi kebijakan ini, terutama yang menyangkut ekspresi keagamaan, akan sangat bergantung pada dinamika internal dan tekanan eksternal.

Pemerintah sangat dianjurkan untuk mengevaluasi kembali pendekatannya dalam mencapai keseimbangan yang lebih baik antara kepentingan nasional dan hak-hak individu. Dialog inklusif dengan berbagai kelompok masyarakat, dapat menjadi langkah awal yang konstruktif.

Selain itu, fokus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi mungkin lebih efektif dalam memperkuat identitas nasional daripada kebijakan larangan yang kontroversial. Komunitas internasional juga dapat memainkan peran penting dalam mendorong negara, katakanlah dalam hal ini, Tajikistan untuk menghormati standar hak asasi manusia, namun dengan pendekatan yang sensitif terhadap kompleksitas keamanan lokal.

Pelajaran

Kontroversi larangan hijab di Tajikistan menyoroti dilema kompleks yang dihadapi banyak negara dalam era globalisasi: bagaimana mempertahankan identitas nasional dan stabilitas sambil menghormati keragaman dan hak-hak individu. Kasus ini mengingatkan kita bahwa upaya membentengi budaya lokal dari pengaruh asing seringkali lebih rumit dari yang terlihat. Pendekatan yang lebih halus dan inklusif mungkin diperlukan untuk mengelola tantangan ini secara efektif.

Pada akhirnya, kemampuan Tajikistan untuk menavigasi isu sensitif ini akan menjadi ujian bagi ketahanan institusi demokrasinya dan posisinya dalam komunitas global. Pengalaman Tajikistan ini menawarkan pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang menghadapi dilema serupa dalam menyeimbangkan tradisi dengan modernitas di dunia yang semakin terhubung. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
Tags: hijabMuslimTajikistan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Anak-anak Semara Winangun, Duta Badung di PKB 2024 – Mainkan Gumaliput dan Jaran Teji

Next Post

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co