3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 1, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TAJIKISTAN, negara bekas Soviet, populasi mayoritas muslim, mengesahkan undang-undang yang melarang pemakaian hijab dan atribut islam tradisional lainnya pada Selasa (25/6) lalu. Tentu saja kebijakan ini memicu kontroversi global.

Banyak pihak melontarkan kritik tajam dan menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Apa boleh buat, Tajikistan merasa urgent mengambil langkah politik ini untuk mempertahankan budaya dan nilai-nilai nasional, dari sesuatu yang dianggap pengaruh asing, demi stabilitas negara.

 Bagi saya, kontroversi ini mewakili dilema yang dihadapi banyak negara dalam menyeimbangkan pelestarian budaya dengan hak-hak individu di era globalisasi yang semakin masif.

Konteks Historis

Larangan hijab di Tajikistan melekat pada konteks sejarah dan sosial negara ini pasca era Soviet. Sejak kemerdekaannya pada 1991, Tajikistan telah berjuang untuk mendefinisikan kembali identitas nasionalnya di tengah tarik-menarik antara warisan Soviet, kebangkitan Islam, dan modernisasi.

 Keragaman etnis dan menguatnya peran Islam dalam ranah sosial politik menghadirkan tantangan bagi pemerintah Tajikistan. Larangan hijab, meski kontroversial, dapat dipandang sebagai Langkah defensif menghadapi perubahan sosial dan ketakutan akan radikalisasi. Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan pengelolaan keragaman dengan menjaga stabilitas negara.

Kita lihat saja, Pemerintah Tajikistan, melalui pendekatan politik, telah secara resmi menjustifikasi larangan hijab sebagai upaya melindungi budaya nasional, mencegah ekstremisme, dan mempromosikan pakaian tradisional. Presiden Emomali Rahmon bahkan menyatakan bahwa aturan ini bertujuan untuk melindungi nilai-nilai asli budaya nasional dan mencegah takhayul serta pemborosan dalam perayaan dan upacara.

Meski demikian, kritikus justru menganggapnya sebagai dalih untuk mengkonsolidasi kekuasaan dan menyingkirkan oposisi, terutama Partai Kebangkitan Islam Tajikistan (TIRP) yang sebelumnya cukup berpengaruh. Kesenjangan antara narasi resmi dan persepsi publik ini semakin mempertajam kontroversi kebijakan tersebut.

Dillema Identitas Nasional

Upaya Tajikistan untuk membentengi budaya lokalnya melalui larangan hijab mencerminkan dilema yang lebih luas yang dihadapi banyak negara di era globalisasi. Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk mempertahankan identitas nasional dan nilai-nilai tradisional. Namun di sisi lain, arus informasi dan pengaruh global yang tak terbendung membuat upaya ini semakin menantang.

Tajikistan, seperti banyak negara lain, berusaha menavigasi antara keterbukaan terhadap dunia luar dan pelestarian warisan budayanya. Kebijakan larangan hijab dapat dilihat sebagai manifestasi dari pergulatan internal ini, meskipun pendekatan yang diambil cenderung kontroversial dan berpotensi kontraproduktif.

Tantangan menghadapi globalisasi di era modern menjadi faktor krusial dalam memahami kebijakan Tajikistan. Revolusi teknologi dan informasi telah mengaburkan batas-batas budaya, memungkinkan ide-ide dan praktik-praktik baru menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Bagi Tajikistan, fenomena ini dipandang sebagai ancaman potensial terhadap kohesi sosial dan stabilitas politik.

 Pemerintah berusaha mengontrol narasi nasional dan membentuk identitas kolektif melalui kebijakan-kebijakan seperti larangan hijab. Namun, pendekatan top-down ini menghadapi resistensi dari masyarakat yang semakin terhubung secara global dan menuntut kebebasan berekspresi yang lebih besar.

Kontroversi seputar larangan hijab di Tajikistan telah memicu perdebatan sengit tentang batas-batas kekuasaan negara dan hak-hak individu. Kelompok hak asasi manusia dan komunitas internasional mengecam kebijakan ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama dan hak untuk berekspresi. Mereka berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mengatur cara berpakaian warganya, apalagi dalam konteks praktik keagamaan.

 Di sisi lain, pendukung kebijakan ini melihatnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan mempromosikan sekularisme. Perdebatan ini mencerminkan tensi yang lebih luas antara kepentingan negara dan hak-hak individu yang sering muncul dalam konteks kebijakan publik.

Dampak dari kebijakan larangan hijab di Tajikistan kemungkinan akan jauh melampaui masalah berpakaian semata. Secara sosial, kebijakan ini berpotensi meningkatkan polarisasi dalam masyarakat, memicu konflik antara kelompok sekuler dan religius, serta memarjinalkan sebagian populasi Muslim.

Secara politik, ini dapat memperkuat narasi tentang penindasan agama yang sering dieksploitasi oleh kelompok-kelompok ekstremis. Pada tingkat internasional, kebijakan ini dapat merusak citra Tajikistan dan mempersulit hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Muslim. Konsekuensi tidak disengaja ini menunjukkan kompleksitas dalam mengelola keragaman dan identitas nasional di era modern.

Analisis terhadap efektivitas kebijakan larangan hijab dalam mempertahankan budaya lokal Tajikistan mungkin saja menunjukkan hasil yang ambigu. Di satu sisi, kebijakan ini mungkin berhasil mempromosikan penggunaan pakaian tradisional Tajikistan dan memperkuat narasi nasionalis tertentu. Namun, pendekatan koersif ini juga berisiko menciptakan resistensi dan alienasi di kalangan warga yang merasa identitas religius mereka terancam.

 Alih-alih memperkuat kohesi sosial, kebijakan ini dapat memperburuk perpecahan yang sudah ada. Lebih jauh lagi, upaya untuk membatasi ekspresi keagamaan dapat mendorong praktik-praktik underground yang lebih sulit dikontrol, bertentangan dengan tujuan awal kebijakan tersebut.

Menurut saya, sebagai orang yang tinggal di negara dengan masalah sosial yang hampir mirip, ini dapat diperlakukan sebagai lesson learned. Mungkin saja, disuatu masa, Indonesia akan melalui fase yang serupa. Tapi perlu diingat, evolusi kebijakan ini, terutama yang menyangkut ekspresi keagamaan, akan sangat bergantung pada dinamika internal dan tekanan eksternal.

Pemerintah sangat dianjurkan untuk mengevaluasi kembali pendekatannya dalam mencapai keseimbangan yang lebih baik antara kepentingan nasional dan hak-hak individu. Dialog inklusif dengan berbagai kelompok masyarakat, dapat menjadi langkah awal yang konstruktif.

Selain itu, fokus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi mungkin lebih efektif dalam memperkuat identitas nasional daripada kebijakan larangan yang kontroversial. Komunitas internasional juga dapat memainkan peran penting dalam mendorong negara, katakanlah dalam hal ini, Tajikistan untuk menghormati standar hak asasi manusia, namun dengan pendekatan yang sensitif terhadap kompleksitas keamanan lokal.

Pelajaran

Kontroversi larangan hijab di Tajikistan menyoroti dilema kompleks yang dihadapi banyak negara dalam era globalisasi: bagaimana mempertahankan identitas nasional dan stabilitas sambil menghormati keragaman dan hak-hak individu. Kasus ini mengingatkan kita bahwa upaya membentengi budaya lokal dari pengaruh asing seringkali lebih rumit dari yang terlihat. Pendekatan yang lebih halus dan inklusif mungkin diperlukan untuk mengelola tantangan ini secara efektif.

Pada akhirnya, kemampuan Tajikistan untuk menavigasi isu sensitif ini akan menjadi ujian bagi ketahanan institusi demokrasinya dan posisinya dalam komunitas global. Pengalaman Tajikistan ini menawarkan pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang menghadapi dilema serupa dalam menyeimbangkan tradisi dengan modernitas di dunia yang semakin terhubung. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
Tags: hijabMuslimTajikistan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Anak-anak Semara Winangun, Duta Badung di PKB 2024 – Mainkan Gumaliput dan Jaran Teji

Next Post

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co