24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 1, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

TAJIKISTAN, negara bekas Soviet, populasi mayoritas muslim, mengesahkan undang-undang yang melarang pemakaian hijab dan atribut islam tradisional lainnya pada Selasa (25/6) lalu. Tentu saja kebijakan ini memicu kontroversi global.

Banyak pihak melontarkan kritik tajam dan menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Apa boleh buat, Tajikistan merasa urgent mengambil langkah politik ini untuk mempertahankan budaya dan nilai-nilai nasional, dari sesuatu yang dianggap pengaruh asing, demi stabilitas negara.

 Bagi saya, kontroversi ini mewakili dilema yang dihadapi banyak negara dalam menyeimbangkan pelestarian budaya dengan hak-hak individu di era globalisasi yang semakin masif.

Konteks Historis

Larangan hijab di Tajikistan melekat pada konteks sejarah dan sosial negara ini pasca era Soviet. Sejak kemerdekaannya pada 1991, Tajikistan telah berjuang untuk mendefinisikan kembali identitas nasionalnya di tengah tarik-menarik antara warisan Soviet, kebangkitan Islam, dan modernisasi.

 Keragaman etnis dan menguatnya peran Islam dalam ranah sosial politik menghadirkan tantangan bagi pemerintah Tajikistan. Larangan hijab, meski kontroversial, dapat dipandang sebagai Langkah defensif menghadapi perubahan sosial dan ketakutan akan radikalisasi. Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan pengelolaan keragaman dengan menjaga stabilitas negara.

Kita lihat saja, Pemerintah Tajikistan, melalui pendekatan politik, telah secara resmi menjustifikasi larangan hijab sebagai upaya melindungi budaya nasional, mencegah ekstremisme, dan mempromosikan pakaian tradisional. Presiden Emomali Rahmon bahkan menyatakan bahwa aturan ini bertujuan untuk melindungi nilai-nilai asli budaya nasional dan mencegah takhayul serta pemborosan dalam perayaan dan upacara.

Meski demikian, kritikus justru menganggapnya sebagai dalih untuk mengkonsolidasi kekuasaan dan menyingkirkan oposisi, terutama Partai Kebangkitan Islam Tajikistan (TIRP) yang sebelumnya cukup berpengaruh. Kesenjangan antara narasi resmi dan persepsi publik ini semakin mempertajam kontroversi kebijakan tersebut.

Dillema Identitas Nasional

Upaya Tajikistan untuk membentengi budaya lokalnya melalui larangan hijab mencerminkan dilema yang lebih luas yang dihadapi banyak negara di era globalisasi. Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk mempertahankan identitas nasional dan nilai-nilai tradisional. Namun di sisi lain, arus informasi dan pengaruh global yang tak terbendung membuat upaya ini semakin menantang.

Tajikistan, seperti banyak negara lain, berusaha menavigasi antara keterbukaan terhadap dunia luar dan pelestarian warisan budayanya. Kebijakan larangan hijab dapat dilihat sebagai manifestasi dari pergulatan internal ini, meskipun pendekatan yang diambil cenderung kontroversial dan berpotensi kontraproduktif.

Tantangan menghadapi globalisasi di era modern menjadi faktor krusial dalam memahami kebijakan Tajikistan. Revolusi teknologi dan informasi telah mengaburkan batas-batas budaya, memungkinkan ide-ide dan praktik-praktik baru menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Bagi Tajikistan, fenomena ini dipandang sebagai ancaman potensial terhadap kohesi sosial dan stabilitas politik.

 Pemerintah berusaha mengontrol narasi nasional dan membentuk identitas kolektif melalui kebijakan-kebijakan seperti larangan hijab. Namun, pendekatan top-down ini menghadapi resistensi dari masyarakat yang semakin terhubung secara global dan menuntut kebebasan berekspresi yang lebih besar.

Kontroversi seputar larangan hijab di Tajikistan telah memicu perdebatan sengit tentang batas-batas kekuasaan negara dan hak-hak individu. Kelompok hak asasi manusia dan komunitas internasional mengecam kebijakan ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama dan hak untuk berekspresi. Mereka berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mengatur cara berpakaian warganya, apalagi dalam konteks praktik keagamaan.

 Di sisi lain, pendukung kebijakan ini melihatnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan mempromosikan sekularisme. Perdebatan ini mencerminkan tensi yang lebih luas antara kepentingan negara dan hak-hak individu yang sering muncul dalam konteks kebijakan publik.

Dampak dari kebijakan larangan hijab di Tajikistan kemungkinan akan jauh melampaui masalah berpakaian semata. Secara sosial, kebijakan ini berpotensi meningkatkan polarisasi dalam masyarakat, memicu konflik antara kelompok sekuler dan religius, serta memarjinalkan sebagian populasi Muslim.

Secara politik, ini dapat memperkuat narasi tentang penindasan agama yang sering dieksploitasi oleh kelompok-kelompok ekstremis. Pada tingkat internasional, kebijakan ini dapat merusak citra Tajikistan dan mempersulit hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Muslim. Konsekuensi tidak disengaja ini menunjukkan kompleksitas dalam mengelola keragaman dan identitas nasional di era modern.

Analisis terhadap efektivitas kebijakan larangan hijab dalam mempertahankan budaya lokal Tajikistan mungkin saja menunjukkan hasil yang ambigu. Di satu sisi, kebijakan ini mungkin berhasil mempromosikan penggunaan pakaian tradisional Tajikistan dan memperkuat narasi nasionalis tertentu. Namun, pendekatan koersif ini juga berisiko menciptakan resistensi dan alienasi di kalangan warga yang merasa identitas religius mereka terancam.

 Alih-alih memperkuat kohesi sosial, kebijakan ini dapat memperburuk perpecahan yang sudah ada. Lebih jauh lagi, upaya untuk membatasi ekspresi keagamaan dapat mendorong praktik-praktik underground yang lebih sulit dikontrol, bertentangan dengan tujuan awal kebijakan tersebut.

Menurut saya, sebagai orang yang tinggal di negara dengan masalah sosial yang hampir mirip, ini dapat diperlakukan sebagai lesson learned. Mungkin saja, disuatu masa, Indonesia akan melalui fase yang serupa. Tapi perlu diingat, evolusi kebijakan ini, terutama yang menyangkut ekspresi keagamaan, akan sangat bergantung pada dinamika internal dan tekanan eksternal.

Pemerintah sangat dianjurkan untuk mengevaluasi kembali pendekatannya dalam mencapai keseimbangan yang lebih baik antara kepentingan nasional dan hak-hak individu. Dialog inklusif dengan berbagai kelompok masyarakat, dapat menjadi langkah awal yang konstruktif.

Selain itu, fokus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi mungkin lebih efektif dalam memperkuat identitas nasional daripada kebijakan larangan yang kontroversial. Komunitas internasional juga dapat memainkan peran penting dalam mendorong negara, katakanlah dalam hal ini, Tajikistan untuk menghormati standar hak asasi manusia, namun dengan pendekatan yang sensitif terhadap kompleksitas keamanan lokal.

Pelajaran

Kontroversi larangan hijab di Tajikistan menyoroti dilema kompleks yang dihadapi banyak negara dalam era globalisasi: bagaimana mempertahankan identitas nasional dan stabilitas sambil menghormati keragaman dan hak-hak individu. Kasus ini mengingatkan kita bahwa upaya membentengi budaya lokal dari pengaruh asing seringkali lebih rumit dari yang terlihat. Pendekatan yang lebih halus dan inklusif mungkin diperlukan untuk mengelola tantangan ini secara efektif.

Pada akhirnya, kemampuan Tajikistan untuk menavigasi isu sensitif ini akan menjadi ujian bagi ketahanan institusi demokrasinya dan posisinya dalam komunitas global. Pengalaman Tajikistan ini menawarkan pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang menghadapi dilema serupa dalam menyeimbangkan tradisi dengan modernitas di dunia yang semakin terhubung. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
Tags: hijabMuslimTajikistan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Anak-anak Semara Winangun, Duta Badung di PKB 2024 – Mainkan Gumaliput dan Jaran Teji

Next Post

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Menangkap Asa Harmoni Dunia Anak dalam Lintasan Modul Nusantara di Desa Batukaang, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co