25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”

Son Lomri by Son Lomri
August 2, 2024
in Ulas Musik
Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”

dwarsa Sentosa di Kafe Home Bro Coffee Bar, Singaraja

DENGAN rendah hati, Dwarsa Sentosa—seorang solois pendatang baru itu, keluar dengan air muka sangat gembira.

Terlihat jejak-jejak ketulusannya benar-benar tertapak ketika ia melangkah keluar dari ruangan dimana beberapa alat musik masih disimpan, untuk manggung di kotanya sendiri, Singaraja, setelah sekian waktu ia berkelana di Jawa untuk Tour Music—setelah menjadi peserta Runner Up I Supermusic Superstar 2023 lalu. Di Surabaya—ia lebih dikenal.

Pada acara Showcase : Dwarsa Sentosa And The Reimland, ia membawakan lagu-lagunya di Kafe Home Bro Coffee Bar, di Jl. Dewa Putu Kerta No. 99 Pemaron, Buleleng, Bali, pada Minggu, 29 Juli 2024.

Dengan melangkah santai dan sesekali menyemburkan asap dari vape—sambil berjalan, ia menyambut teman-temannya yang mulai berdatangan dengan penuh suka cita, dan segera diajaknya untuk duduk di bangku panjang. Asap terbang menyatu dengan malam. Dwarsa mengajak berbincang mereka yang datang, sangat hangat, selain menyalaminya satu persatu.

Penonton di Kafe Home Bro Coffee Bar, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Tidak lama kemudian, seorang aktris, Ayu Laksmi, pun datang menunjukkan wajah dengan bibir penuh senyum. Suasana menjadi cair ketika ia berbaur dengan penonton yang lain tanpa ragu. Dwarsa dan The Reimland menyambut senang aktris sekaligus penyanyi senior itu—dan kemudian menyilakannya duduk di bangku panjang yang sama.

Dwarsa berbincang dengan Ayu Laksmi terkait musik cukup serius—saya melihatnya dari kejauhan. Terasa jika mereka sama-sama perhatian terhadap musik di kota tempatnya lahir. Obrolan benar-benar hidup. Terlebih dalam menjaga api semangat untuk tetap berkarya—karena kenyataannya kota ini setengah hidup dalam bermusik!?

Merasa acaranya dipenuhi apresiasi—dan penuh pengharapan, Dwarsa Sentosa terlihat sangat siap untuk tampil malam itu bersama The Reimland.

Sebuah setting panggung (lesehan) sederhana di sana. Tak ada batas dengan penonton. Sudah pastinya menggugat cara pandang tengik—jika musik kota ini mati total. Benar-benar kita mesti mulai membuka mata dan telinga jika kota ini sedang diberi ruh—bermusik bahkan secara radikal walaupun agak senyap menguar keluar oleh anak mudanya. Apakah karena persoalan “pendatang baru” seperti Dwarsa di daerahnya sendiri passif dikenal, atau karena selera musik masyarakat di Buleleng sendiri mesti berbenah agar musik di Buleleng bisa lebih berkobar?

Selain Buleleng memiliki grup band Empat Detik Sebelum Tidur (EDST)—dengan liriknya yang puitik itu, pula Buleleng memiliki solois yang hebat dalam musik eksperimental kontemporernya. Dialah Dwarsa Sentosa tadi.

Bersama The Reimland dari Reim Space (komunitas), Dwarsa Sentosa membawakan beberapa lagu-lagu karangannya seperti Eliott, Tambah Sedikit Kuota Untuk Berdosa, Serdadu Hitam, Sampai Tua Jadi Gila, Kata-kata Super dan beberapa cover dari Hindia dan Barasuarauntuk memberi hiburan pada penonton yang datang. Sekaligus satu penegasan dirinya sebagai penyanyi jika seleranya dalam bermusik—tak menutup diri dari karya seniman lain.

Dwarsa berbincang bersama Ayu Laksmi | Foto: tatkala.co/Son

Dalam meng-cover pun, katanya penuh hormat, “Kita mesti izin terlebih dahulu kepada management atau pemilik lagu yang hendak kita bawakan.” Itu ia ujar setelah selesai menyanyikan lagu.

Selain muda, energik, ia juga rupanya pemerhati aturan yang berlaku dalam berkesenian. “Sesama seniman memang sudah saatnya kita saling mendukung, dan salah satunya memperhatikan royalti jika pertunjukannya memang untuk sebuah kepentingan komersil saat meng-cover.”

Dwarsa Sentosa dan The Reimland—Reim Space

Tak hanya penghormatan tinggi kepada seniman lain, atau teman sejawatnya yang datang menonton, cara berfikirnya tentang musik pun—percaya atau tidak, eksistensinya dipengaruhi soal protes dan kemarahan pun.

Bentuk protes, salah satunya dari ingatan kecil semasa duduk di Sekolah Dasar dan semasa remaja. Pertama, ia tak bisa menerima jika berkesenian harus diberi batasan, misalnya batasan garis di setiap pinggir kertas ketika ia menggambar.

Batasan-batasan garis pinggir itu memicu semacam dendam berkesenian dalam dirinya. Dan ternyata dendam tersebut masih mengalir sampai sekarang—dan ia menuntaskan dendam itu lewat musik.

Kedua, ditambah dengan perasaan yang berkali-kali gagal dalam merajut grup band—karena tak pernah sepaham walau satu genre dengan teman satu timnya. Tak ada pengertian saling mendukung, yang berujung saling tak percaya.

Tahun 2023—itulah kemudian ia memantapkan diri menjadi seorang solois dalam menciptakan dirinya sendiri dalam bermusik dan menciptakan ide, dengan menggandeng session player The Reimland dari Reim Space—sebuah komunitas.

Dwarsa Sentosa di atas panggung | Foto: tatkala.co/Son

Ide-idenya dalam bermusik terselamatkan oleh Reim Space karena sempat ingin menyerah sebelum “menjadi”. Kini, ia melahirkan beberapa lagu dengan judul cukup menggigit, ya, seperti Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa.

“Project ini sebenarnya solois dan komunitas. Di Indonesia sendiri, belakangan kami setelah keluar (dari Bali), tahu jika konsep semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dimana solois bekerja sama dengan satu komunitas. Jadi The Reimland itu adalah satu komunitas di Bali Utara—itu tentang anak muda yang menyukai dan berminat di urusan musik. Jadi kita gabungin satu komunitas ini untuk memback up satu talent kita—yang jadi front laner kita. Nama komunitas kita Reim Space, cuman di format ini kita menjadi nama The Reimland,” jelas Kadek Sutika, gitaris sekaligus founder dari Reim Space.

Ia juga menambahkan, bahwa ia membebaskan talentnya itu untuk melahirkan idenya dalam bermusik, dan Reim Space atau The Reimland hanya mengiringi atau memback up saja. “Sewaktu-waktu, formasi session player seperti ini akan berubah tergantung bagaimana konsep yang diinginkan oleh Dwarsa sendiri. Dan ini, kami ingin melahirkan satu kesadaran bersama, bahwa berkesenian khususnya di musik tidak boleh egois atau merasa memilki, di sini kita belajar itu,” tambahnya.

Malam itu, ketika orang-orang sudah berkumpul, hendak menonton, dengan santai penonton berbagi arak dan kopi, pula rokok LA ICE PURPLE BOOST yang menjadi sponsor. Semua dibagikan secara gratis untuk bisa enjoy dalam menikmati penampilan Dwatrsa  dan beberapa penampil yang lain.

Musik sebentar lagi akan dimulai. Kadek Sutika—gitaris sekaligus founder dari Reim Space membawa gitarnya ke panggung. Disusul seorang perempuan masih muda memakai kaos hitam menggandeng bassnya keluar dari ruang yang sama. Perempuan yang diketahui bernama Vera itu menyetting sendiri bassnya sebelum Dwarsa akan tampil sebentar lagi, dan ia satu-satunya perempuan sebagai session player dari Reimland yang membantu performance Dwarsa Sentosa. Untuk drum, Yogi memainkannya sangat lihai.

Di sela-sela menyiapkan bassnya, Vera mengurai lembut rambutnya bebas. Ia bersama yang lain menyetting bersamaan alat musik mereka masing-masing.

Sementara sorot mata tak bisa dilepaskan dari depan panggung. Obrolan menyala membicarakan Dwarsa, mengomentari gayanya bermusik sedikit berbeda melalui musik atau pengiring lagunya karena terlihat menggunakan alat tambahan seperti Sequencer di samping sudah menggunakan bass, gitar, dan drum yang akan dimainkan secara langsung oleh The Reimland.

Vera | Foto: tatkala.co/Son

“Ini salah satu gaya musik yang jarang kita dengar di Buleleng yang dikaryakan oleh orang Buleleng asli,” ucap salah satu penonton, dan arak kembali ditenggaknya satu sloki.

Alih Wahana dari Bunyi-bunyian “Biasa” ke sebuah Eksperimental Musik Kontemporer: Sebuah Kepekaan Dwarsa Sentosa dalam Memanen Bunyi

Musik eksperimental tidak lain adalah sebuah jenis musik kontemporer—yang tentunya sangat berbeda dari musik tradisional. Terutama dalam menciptakan warna bunyi—atau timbre. Tentu dengan tambahan alat mengapa dalam seni musik kontemporer seakan terdapat beberapa elemen bunyi yang agak lain dari musik konvensional—atau biasa.

Uniknya dalam hal ini, memang setiap orang dapat merasakan dan bahkan menangkap suatu getaran melalui pikiran bawah sadarnya. Hanya saja ada yang sadar menangkapnya, ada yang tidak sadar jika sebenarnya ia menangkapnya—atau setengah sadar. Yang oleh Agastya dan Sudhana (2022) dalam jurnalnya Marma: Sebuah Karya Baru Musik Eksperimental, fenomena itu disebut dalam masyarakat Bali sebagai “Marma”.

Tetapi tidak semua orang bisa menyadari bahwa sebenarnya getaran yang menghasilkan bunyi misalnya, dapat menjadi sebuah musik baru yang disebut eksperimental atau kontemporer. Tetapi lagi, bagaimana seorang seniman musik kontemporer dalam menangkap bunyi kemudian menjadikannya seni yang indah, dalam bermusik misalnya?

Nah dalam hal ini, Dwarsa memanfaatkan teknologi seperti Sequencer untuk menggambungkan setiap timbre yang ingin ia hasilkan dari lagunya itu.

Sebagai seorang lelaki yang lahir di Bali, dari rahim Buleleng, tepatnya di Gerokgak, 26 Januari 1996, Dwarsa Sentosa menjadi sesosok yang peka terhadap bagaimana getaran dan bunyi masuk ke indranya. Apalagi seni karawitan atau gong kebyar juga selalu dimainkan di Buleleng. Dirasakan dengan penuh keasadaran—seni tertangkap melalui getaran dan suara oleh Dwarsa.

Dwarsa berbincang dengan teman-teman penonton | Foto: tatkala.co/Son

Dari kehidupan sekitar, Dwarsa mencoba sebuah percobaan sederhana, ia memasukkan bunyi tingtititing..tingtittiting.. dari seorang barista yang sedang membuat manual brew di sebuah kedai kopi. Terinspirasi dari sana, bunyi tersebut akhirnya diolah sampai menjadi musik pembuka dari lagunya yang berjudul “Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”—dalam album RATAKANAN.

Lagu tersebut menceritakan bahwa sebenarnya gawai diisi kuota bisa menjadi sangat berbahaya. Ada kekerasan di dalamnya yang tersemat, berita palsu, hoax, judi dan bahkan seksualitas. Setiap orang mesti hati-hati dengan gawainya sendiri.

Sadar atau tidak, kata Dwarsa. “Kita mesti sadar dengan hape kita sendiri, terutama dalam berselancar di media sosial. Dari sanalah—dosa bisa saja dengan mudah didapatkan, seperti tidak langsung ikut serta menyebarkan hoax, atau dengan sadar menipu orang lain. Sesedarhana itu lagu ini sebenarnya!”

Tetapi walaupun tampak sederhana, caranya membuat judul lagu, lirik sampai instrument, yang tentu saja, sebagai seorang musisi, Dwarsa terkesan sangat cermat. Selain itu ia juga sangat perasa dalam menangkap realitas. Dwarsa Sentosa sedang memanen kehidupan, dan salah satunya bunyi.

Ayu Laksmi, memberi tepuk tangan tak sebentar setelah menyaksikan Dwarsa Sentosa menyanyikan lagu-lagunya. Bahkan ia berharap, aktivitas semacam ini harus terus diproduksi. Suatu saat, katanya, “Kami akan berkolaborasi dalam bermusik—menggarap lagu bersama atau tampil membawakan lagu yang tentunya eksperimental—kontemporer untuk kota ini.” Kata Ayu Laksmi. [T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
“Empat Detik Sebelum Tidur”, Band Kreatif Kebanggaan Buleleng yang Diabaikan | Catatan HUT Kota Singaraja
Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta
Empat Detik Sebelum Tidur dan Obrolan di Belakang Panggung Tentang Lagu dan Singaraja
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Tags: bulelengDwarsa Sentosamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perguruan Tinggi Pertanian Wilayah Timur Upayakan Peningkatan Animo Calon Mahasiswa Fakultas Pertanian

Next Post

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
0
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?” Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang...

Read moreDetails
Next Post
“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co