15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”

Son Lomri by Son Lomri
August 2, 2024
in Ulas Musik
Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”

dwarsa Sentosa di Kafe Home Bro Coffee Bar, Singaraja

DENGAN rendah hati, Dwarsa Sentosa—seorang solois pendatang baru itu, keluar dengan air muka sangat gembira.

Terlihat jejak-jejak ketulusannya benar-benar tertapak ketika ia melangkah keluar dari ruangan dimana beberapa alat musik masih disimpan, untuk manggung di kotanya sendiri, Singaraja, setelah sekian waktu ia berkelana di Jawa untuk Tour Music—setelah menjadi peserta Runner Up I Supermusic Superstar 2023 lalu. Di Surabaya—ia lebih dikenal.

Pada acara Showcase : Dwarsa Sentosa And The Reimland, ia membawakan lagu-lagunya di Kafe Home Bro Coffee Bar, di Jl. Dewa Putu Kerta No. 99 Pemaron, Buleleng, Bali, pada Minggu, 29 Juli 2024.

Dengan melangkah santai dan sesekali menyemburkan asap dari vape—sambil berjalan, ia menyambut teman-temannya yang mulai berdatangan dengan penuh suka cita, dan segera diajaknya untuk duduk di bangku panjang. Asap terbang menyatu dengan malam. Dwarsa mengajak berbincang mereka yang datang, sangat hangat, selain menyalaminya satu persatu.

Penonton di Kafe Home Bro Coffee Bar, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Tidak lama kemudian, seorang aktris, Ayu Laksmi, pun datang menunjukkan wajah dengan bibir penuh senyum. Suasana menjadi cair ketika ia berbaur dengan penonton yang lain tanpa ragu. Dwarsa dan The Reimland menyambut senang aktris sekaligus penyanyi senior itu—dan kemudian menyilakannya duduk di bangku panjang yang sama.

Dwarsa berbincang dengan Ayu Laksmi terkait musik cukup serius—saya melihatnya dari kejauhan. Terasa jika mereka sama-sama perhatian terhadap musik di kota tempatnya lahir. Obrolan benar-benar hidup. Terlebih dalam menjaga api semangat untuk tetap berkarya—karena kenyataannya kota ini setengah hidup dalam bermusik!?

Merasa acaranya dipenuhi apresiasi—dan penuh pengharapan, Dwarsa Sentosa terlihat sangat siap untuk tampil malam itu bersama The Reimland.

Sebuah setting panggung (lesehan) sederhana di sana. Tak ada batas dengan penonton. Sudah pastinya menggugat cara pandang tengik—jika musik kota ini mati total. Benar-benar kita mesti mulai membuka mata dan telinga jika kota ini sedang diberi ruh—bermusik bahkan secara radikal walaupun agak senyap menguar keluar oleh anak mudanya. Apakah karena persoalan “pendatang baru” seperti Dwarsa di daerahnya sendiri passif dikenal, atau karena selera musik masyarakat di Buleleng sendiri mesti berbenah agar musik di Buleleng bisa lebih berkobar?

Selain Buleleng memiliki grup band Empat Detik Sebelum Tidur (EDST)—dengan liriknya yang puitik itu, pula Buleleng memiliki solois yang hebat dalam musik eksperimental kontemporernya. Dialah Dwarsa Sentosa tadi.

Bersama The Reimland dari Reim Space (komunitas), Dwarsa Sentosa membawakan beberapa lagu-lagu karangannya seperti Eliott, Tambah Sedikit Kuota Untuk Berdosa, Serdadu Hitam, Sampai Tua Jadi Gila, Kata-kata Super dan beberapa cover dari Hindia dan Barasuarauntuk memberi hiburan pada penonton yang datang. Sekaligus satu penegasan dirinya sebagai penyanyi jika seleranya dalam bermusik—tak menutup diri dari karya seniman lain.

Dwarsa berbincang bersama Ayu Laksmi | Foto: tatkala.co/Son

Dalam meng-cover pun, katanya penuh hormat, “Kita mesti izin terlebih dahulu kepada management atau pemilik lagu yang hendak kita bawakan.” Itu ia ujar setelah selesai menyanyikan lagu.

Selain muda, energik, ia juga rupanya pemerhati aturan yang berlaku dalam berkesenian. “Sesama seniman memang sudah saatnya kita saling mendukung, dan salah satunya memperhatikan royalti jika pertunjukannya memang untuk sebuah kepentingan komersil saat meng-cover.”

Dwarsa Sentosa dan The Reimland—Reim Space

Tak hanya penghormatan tinggi kepada seniman lain, atau teman sejawatnya yang datang menonton, cara berfikirnya tentang musik pun—percaya atau tidak, eksistensinya dipengaruhi soal protes dan kemarahan pun.

Bentuk protes, salah satunya dari ingatan kecil semasa duduk di Sekolah Dasar dan semasa remaja. Pertama, ia tak bisa menerima jika berkesenian harus diberi batasan, misalnya batasan garis di setiap pinggir kertas ketika ia menggambar.

Batasan-batasan garis pinggir itu memicu semacam dendam berkesenian dalam dirinya. Dan ternyata dendam tersebut masih mengalir sampai sekarang—dan ia menuntaskan dendam itu lewat musik.

Kedua, ditambah dengan perasaan yang berkali-kali gagal dalam merajut grup band—karena tak pernah sepaham walau satu genre dengan teman satu timnya. Tak ada pengertian saling mendukung, yang berujung saling tak percaya.

Tahun 2023—itulah kemudian ia memantapkan diri menjadi seorang solois dalam menciptakan dirinya sendiri dalam bermusik dan menciptakan ide, dengan menggandeng session player The Reimland dari Reim Space—sebuah komunitas.

Dwarsa Sentosa di atas panggung | Foto: tatkala.co/Son

Ide-idenya dalam bermusik terselamatkan oleh Reim Space karena sempat ingin menyerah sebelum “menjadi”. Kini, ia melahirkan beberapa lagu dengan judul cukup menggigit, ya, seperti Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa.

“Project ini sebenarnya solois dan komunitas. Di Indonesia sendiri, belakangan kami setelah keluar (dari Bali), tahu jika konsep semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dimana solois bekerja sama dengan satu komunitas. Jadi The Reimland itu adalah satu komunitas di Bali Utara—itu tentang anak muda yang menyukai dan berminat di urusan musik. Jadi kita gabungin satu komunitas ini untuk memback up satu talent kita—yang jadi front laner kita. Nama komunitas kita Reim Space, cuman di format ini kita menjadi nama The Reimland,” jelas Kadek Sutika, gitaris sekaligus founder dari Reim Space.

Ia juga menambahkan, bahwa ia membebaskan talentnya itu untuk melahirkan idenya dalam bermusik, dan Reim Space atau The Reimland hanya mengiringi atau memback up saja. “Sewaktu-waktu, formasi session player seperti ini akan berubah tergantung bagaimana konsep yang diinginkan oleh Dwarsa sendiri. Dan ini, kami ingin melahirkan satu kesadaran bersama, bahwa berkesenian khususnya di musik tidak boleh egois atau merasa memilki, di sini kita belajar itu,” tambahnya.

Malam itu, ketika orang-orang sudah berkumpul, hendak menonton, dengan santai penonton berbagi arak dan kopi, pula rokok LA ICE PURPLE BOOST yang menjadi sponsor. Semua dibagikan secara gratis untuk bisa enjoy dalam menikmati penampilan Dwatrsa  dan beberapa penampil yang lain.

Musik sebentar lagi akan dimulai. Kadek Sutika—gitaris sekaligus founder dari Reim Space membawa gitarnya ke panggung. Disusul seorang perempuan masih muda memakai kaos hitam menggandeng bassnya keluar dari ruang yang sama. Perempuan yang diketahui bernama Vera itu menyetting sendiri bassnya sebelum Dwarsa akan tampil sebentar lagi, dan ia satu-satunya perempuan sebagai session player dari Reimland yang membantu performance Dwarsa Sentosa. Untuk drum, Yogi memainkannya sangat lihai.

Di sela-sela menyiapkan bassnya, Vera mengurai lembut rambutnya bebas. Ia bersama yang lain menyetting bersamaan alat musik mereka masing-masing.

Sementara sorot mata tak bisa dilepaskan dari depan panggung. Obrolan menyala membicarakan Dwarsa, mengomentari gayanya bermusik sedikit berbeda melalui musik atau pengiring lagunya karena terlihat menggunakan alat tambahan seperti Sequencer di samping sudah menggunakan bass, gitar, dan drum yang akan dimainkan secara langsung oleh The Reimland.

Vera | Foto: tatkala.co/Son

“Ini salah satu gaya musik yang jarang kita dengar di Buleleng yang dikaryakan oleh orang Buleleng asli,” ucap salah satu penonton, dan arak kembali ditenggaknya satu sloki.

Alih Wahana dari Bunyi-bunyian “Biasa” ke sebuah Eksperimental Musik Kontemporer: Sebuah Kepekaan Dwarsa Sentosa dalam Memanen Bunyi

Musik eksperimental tidak lain adalah sebuah jenis musik kontemporer—yang tentunya sangat berbeda dari musik tradisional. Terutama dalam menciptakan warna bunyi—atau timbre. Tentu dengan tambahan alat mengapa dalam seni musik kontemporer seakan terdapat beberapa elemen bunyi yang agak lain dari musik konvensional—atau biasa.

Uniknya dalam hal ini, memang setiap orang dapat merasakan dan bahkan menangkap suatu getaran melalui pikiran bawah sadarnya. Hanya saja ada yang sadar menangkapnya, ada yang tidak sadar jika sebenarnya ia menangkapnya—atau setengah sadar. Yang oleh Agastya dan Sudhana (2022) dalam jurnalnya Marma: Sebuah Karya Baru Musik Eksperimental, fenomena itu disebut dalam masyarakat Bali sebagai “Marma”.

Tetapi tidak semua orang bisa menyadari bahwa sebenarnya getaran yang menghasilkan bunyi misalnya, dapat menjadi sebuah musik baru yang disebut eksperimental atau kontemporer. Tetapi lagi, bagaimana seorang seniman musik kontemporer dalam menangkap bunyi kemudian menjadikannya seni yang indah, dalam bermusik misalnya?

Nah dalam hal ini, Dwarsa memanfaatkan teknologi seperti Sequencer untuk menggambungkan setiap timbre yang ingin ia hasilkan dari lagunya itu.

Sebagai seorang lelaki yang lahir di Bali, dari rahim Buleleng, tepatnya di Gerokgak, 26 Januari 1996, Dwarsa Sentosa menjadi sesosok yang peka terhadap bagaimana getaran dan bunyi masuk ke indranya. Apalagi seni karawitan atau gong kebyar juga selalu dimainkan di Buleleng. Dirasakan dengan penuh keasadaran—seni tertangkap melalui getaran dan suara oleh Dwarsa.

Dwarsa berbincang dengan teman-teman penonton | Foto: tatkala.co/Son

Dari kehidupan sekitar, Dwarsa mencoba sebuah percobaan sederhana, ia memasukkan bunyi tingtititing..tingtittiting.. dari seorang barista yang sedang membuat manual brew di sebuah kedai kopi. Terinspirasi dari sana, bunyi tersebut akhirnya diolah sampai menjadi musik pembuka dari lagunya yang berjudul “Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”—dalam album RATAKANAN.

Lagu tersebut menceritakan bahwa sebenarnya gawai diisi kuota bisa menjadi sangat berbahaya. Ada kekerasan di dalamnya yang tersemat, berita palsu, hoax, judi dan bahkan seksualitas. Setiap orang mesti hati-hati dengan gawainya sendiri.

Sadar atau tidak, kata Dwarsa. “Kita mesti sadar dengan hape kita sendiri, terutama dalam berselancar di media sosial. Dari sanalah—dosa bisa saja dengan mudah didapatkan, seperti tidak langsung ikut serta menyebarkan hoax, atau dengan sadar menipu orang lain. Sesedarhana itu lagu ini sebenarnya!”

Tetapi walaupun tampak sederhana, caranya membuat judul lagu, lirik sampai instrument, yang tentu saja, sebagai seorang musisi, Dwarsa terkesan sangat cermat. Selain itu ia juga sangat perasa dalam menangkap realitas. Dwarsa Sentosa sedang memanen kehidupan, dan salah satunya bunyi.

Ayu Laksmi, memberi tepuk tangan tak sebentar setelah menyaksikan Dwarsa Sentosa menyanyikan lagu-lagunya. Bahkan ia berharap, aktivitas semacam ini harus terus diproduksi. Suatu saat, katanya, “Kami akan berkolaborasi dalam bermusik—menggarap lagu bersama atau tampil membawakan lagu yang tentunya eksperimental—kontemporer untuk kota ini.” Kata Ayu Laksmi. [T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
“Empat Detik Sebelum Tidur”, Band Kreatif Kebanggaan Buleleng yang Diabaikan | Catatan HUT Kota Singaraja
Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta
Empat Detik Sebelum Tidur dan Obrolan di Belakang Panggung Tentang Lagu dan Singaraja
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Tags: bulelengDwarsa Sentosamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perguruan Tinggi Pertanian Wilayah Timur Upayakan Peningkatan Animo Calon Mahasiswa Fakultas Pertanian

Next Post

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

“Semakin Tua Semakin Bahagia” – Itu Kata Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey pada Seminar Wanita Muslimah Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co