14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Jaswanto by Jaswanto
July 22, 2024
in Ulas Pentas
Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Ayu Laksmi sedang memainkan penting-nya | Foto: Jaswanto

BAK dewi ia duduk di bantalan serupa batu putih dengan sebuah alat musik endemik di pangkuannya. Didekapnya alat musik itu dengan lembut, seperti orok, darah dagingnya sendiri.

Asap buatan memenuhi panggung. Mengepul-ngepul menambah kesan kemagisan. Dimainkannya alat musik yang unik itu—menyerupai gitar, menggunakan dawai, tapi juga dilengkapi dengan tuts seperti piano. Itulah penting, alat musik tradisional khas Karangasem, Bali.

Ayu Laksmi, dewi yang duduk di bantalan serupa batu putih itu, menggerakkan jari-jarinya yang lentik, memetik dawai dan menekan tuts dengan lembut, menghasilkan suara rintihan yang dalam dan magis. Lalu ia bergumam, seperti merapal mantra tua dari masa di mana manusia belum mengenal bahasa. Lagu “Durga” mendaulat langit Singaraja.

Ayu Laksmi dan penting-nya | Foto: Jaswanto

Sementara lady rocker dari Bali itu—julukan Ayu Laksmi—memainkan penting, dari balik asap buatan, muncul delapan penari perempuan dengan benda menyerupai kayon di tangan masing-masing. Penari-penari itu serupa bayangan sang dewi yang kini terpejam khusyuk sambil mengacungkan jari telunjuknya ke langit.

Di atas adalah penggalan konser musik Ayu Laksmi dalam pagelaran Festival Kebyar Kasih Pertiwi yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB di Taman Bung Karno, Singaraja, Bali, Sabtu, (20/7/2024) malam.

Membuka pertunjukan di malam itu, Ayu membawakan lagu berjudul “Durga”, sebuah nyanyian puja hormat pada Ratu Ibu Penguasa alam semesta. Tampaknya ia sangat kagum dan hormat—oh, maaf, lebih dari itu, Ayu sangat mengimani—shakti Siwa itu.

Penempatan Ayu sebagai pembuka pertunjukan setelah acara seremonial malam itu saya rasa sangat tepat. Lewat denting penting-nya dan lirik-lirik pemujaannya, ia telah membuat suasana semakin terasa sakral dan spiritual—pula sangat menghibur.

Sebagaimana sosok Mahisasura Mardini—sang penakluk asura—yang magis, “Durga” membuat hadirin terpaku dan takjub. Ayu bermain dengan cakap—ia memang seorang bintang. Dan Setelah “Durga” membuat mata hadirin tak berkedip, ia melantunkan “Hyang” dan “Maha Asa”.

Ayu Laksmi dengan bayangan delapan penari di belakangan | Foto: Jaswanto

Lagu “Hyang”, setahu saya, merupakan gubahan dari puisi Putu Fajar Arcana, yang memuliakan kebesaran Tuhan dalam tradisi Hinduisme. “Tuhan di dalam diri,” kata Ayu. Lagu ini termaktub dalam album Svara Semesta 2, yang ber-genre world music alias musik dunia.

Komposisi musik “Hyang” cukup unik. Irama electronic dance music (EDM) berdentum mengentak. Lantunannya menabrak bunyi genggong dan lentingan gamelan Bali. Mengawinkan paduan bunyi tradisional dan kontemporer, seniman perempuan multitalenta ini meleburkan khazanah musik populer dan klasik dengan sentuhan elemen etnik.

Menutup pementasannya, Ayu menyanyikan lagu “Maha Asa”. Lirik lagu ini diambil dari sebuah lontar yang diterjemahkan Sugi Lanus, filolog mutakhir asal Bali yang masyhur itu. Ya, tak mengherankan. Pasalnya, selain menyukai unsur-unsur bebunyian lokal, seperti gamelan, suling, penting, karinding, genggong, Ayu Laksmi juga senang menggunakan beragam bahasa, seperti Kawi, Bali, Latin, Inggris, dan Melayu dalam karya-karyanya.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Dalam beberapa wawancara, Ayu Laksmi mengungkapkan satu kunci dalam penciptaan lagu, yakni dengan berpasrah diri. Dia tidak merancang untuk menjadikan sesuatu dalam mencipta lagu, tetapi cukup dengan menyediakan diri. Selanjutnya, sebagaimana ia katakan kepada Kompas empat tahun lalu, alamlah yang akan bekerja.

Lagu-lagu Ayu Laksmi banyak berangkat dari kontemplasi atau meditasi. Juga dari hal-hal lampau yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Dia, misalnya, membuat kembali penting menjadi berarti.

Ayu Laksmi memberi impresi sangat spiritualistik dengan lagu-lagu yang memuja kebesaran semesta. Dengarkanlah lagu seperti “Om Mani Pasme Hum”, yang dia cuplik dari mantra Buddhisme. Begitu juga dengan lagu “Hyang”, “Maha Asa”, “Kidung Maria”, atau “Tuhan di Dalam Diri”. Namun, tak hanya ketuhanan, lirik-lirik yang dia usung juga tak jauh dari tema kemanusiaan, cinta, dan alam.

Pertunjukan Lintas Disiplin

Pada konser musik malam itu, sebagaimana telah disinggung di awal, di atas panggung Ayu Laksmi tak sendirian. Ada delapan penari perempuan yang membuat konser tersebut terlihat lebih artistik, atraktif, dan mendebarkan. Inilah pertunjukan lintas disiplin. Ada nyanyian, pula tarian.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Ya, selain pada lagu, perhatian saya turut tertuju pada gerak para penari. Gerak kolektif yang seragam, dengan gerak yang biasa, memang, tapi itu mengesankan. Gerak kedelapan dara itu—yang mengayun lembut, berputar-putar mengembangkan selendang putih di balik kabut asap—digarap dengan sangat singkat oleh I Made Tegeh Okta Maheri, atau akrab dipanggil Dek Geh.

Dek Geh, seniman tari tradisional dan kontemporer itu menambah ornamen yang tak hanya sekadar tempelan, tapi menggenapi nyanyian pemuja semestanya Ayu Laksmi—aktris yang identik dengan Ibu, sosok hantu perempuan dalam film Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar. Terkait gerak tari, saya rasa Dek Geh memang mengonotasikan “Durga”dan “Hyang” sebagai lagu “pemujaan”.

Sampai di sini, menurut saya koreografi tersebut menjadi penting. Sebab kesan magis tidak hanya didapat ketika mendengar lagu yang Ayu Laksmi bawakan, tetapi kesan itu juga didapat ketika melihat gerak para penari.

Ayu Laksmi dan delapan penari di belakangnya | Foto: Jaswanto

Mungkin bagi sebagian orang dengan pemahaman gerak yang mumpuni akan merasa bahwa tarian-tarian tersebut terkesan biasa, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para penonton, terlebih pertunjukan tersebut tidak ditempatkan laiknya sebuah kompetisi yang membutuhkan penilaian juri.

Justru dari sinilah dapat kita sadari bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya membutuhkan kemampuan yang baik dari penampilnya, tetapi juga emosi dan pesan atas tafsir lirik lagu yang dikemas dengan gerak sederhana juga tidak kalah penting. Rasanya pertunjukan yang digelar sebagai spesial performance itu telah memberikan keutuhan itu.

Pada ihwal pertunjukan ini, kerja kolaborasi dengan lintas disiplin ini turut memberi warna baru kesenian di Singaraja yang membuat pendengar lintas generasi—bahkan satu, dua, atau tiga generasi setelahnya—dapat diakomodasi.

Hal tersebut terlihat dari rangkaian umur penonton yang cukup beragam. Malam itu, generasi tua, dewasa, remaja, dan anak-anak berbaur menikmati Ayu Laksmi dengan nyanyian pemuja semestanya.[T]

Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Lumpur Lampau dan Kubangan Modernitas: Catatan Menonton Pertunjukan Hominid Heart
“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
Tags: Ayu LaksmiBalai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Eat, Play, Love” – Sebuah Legacy Toya Devasya di Tepian Batur  

Next Post

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia -- Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co