2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Jaswanto by Jaswanto
July 22, 2024
in Ulas Pentas
Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Ayu Laksmi sedang memainkan penting-nya | Foto: Jaswanto

BAK dewi ia duduk di bantalan serupa batu putih dengan sebuah alat musik endemik di pangkuannya. Didekapnya alat musik itu dengan lembut, seperti orok, darah dagingnya sendiri.

Asap buatan memenuhi panggung. Mengepul-ngepul menambah kesan kemagisan. Dimainkannya alat musik yang unik itu—menyerupai gitar, menggunakan dawai, tapi juga dilengkapi dengan tuts seperti piano. Itulah penting, alat musik tradisional khas Karangasem, Bali.

Ayu Laksmi, dewi yang duduk di bantalan serupa batu putih itu, menggerakkan jari-jarinya yang lentik, memetik dawai dan menekan tuts dengan lembut, menghasilkan suara rintihan yang dalam dan magis. Lalu ia bergumam, seperti merapal mantra tua dari masa di mana manusia belum mengenal bahasa. Lagu “Durga” mendaulat langit Singaraja.

Ayu Laksmi dan penting-nya | Foto: Jaswanto

Sementara lady rocker dari Bali itu—julukan Ayu Laksmi—memainkan penting, dari balik asap buatan, muncul delapan penari perempuan dengan benda menyerupai kayon di tangan masing-masing. Penari-penari itu serupa bayangan sang dewi yang kini terpejam khusyuk sambil mengacungkan jari telunjuknya ke langit.

Di atas adalah penggalan konser musik Ayu Laksmi dalam pagelaran Festival Kebyar Kasih Pertiwi yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB di Taman Bung Karno, Singaraja, Bali, Sabtu, (20/7/2024) malam.

Membuka pertunjukan di malam itu, Ayu membawakan lagu berjudul “Durga”, sebuah nyanyian puja hormat pada Ratu Ibu Penguasa alam semesta. Tampaknya ia sangat kagum dan hormat—oh, maaf, lebih dari itu, Ayu sangat mengimani—shakti Siwa itu.

Penempatan Ayu sebagai pembuka pertunjukan setelah acara seremonial malam itu saya rasa sangat tepat. Lewat denting penting-nya dan lirik-lirik pemujaannya, ia telah membuat suasana semakin terasa sakral dan spiritual—pula sangat menghibur.

Sebagaimana sosok Mahisasura Mardini—sang penakluk asura—yang magis, “Durga” membuat hadirin terpaku dan takjub. Ayu bermain dengan cakap—ia memang seorang bintang. Dan Setelah “Durga” membuat mata hadirin tak berkedip, ia melantunkan “Hyang” dan “Maha Asa”.

Ayu Laksmi dengan bayangan delapan penari di belakangan | Foto: Jaswanto

Lagu “Hyang”, setahu saya, merupakan gubahan dari puisi Putu Fajar Arcana, yang memuliakan kebesaran Tuhan dalam tradisi Hinduisme. “Tuhan di dalam diri,” kata Ayu. Lagu ini termaktub dalam album Svara Semesta 2, yang ber-genre world music alias musik dunia.

Komposisi musik “Hyang” cukup unik. Irama electronic dance music (EDM) berdentum mengentak. Lantunannya menabrak bunyi genggong dan lentingan gamelan Bali. Mengawinkan paduan bunyi tradisional dan kontemporer, seniman perempuan multitalenta ini meleburkan khazanah musik populer dan klasik dengan sentuhan elemen etnik.

Menutup pementasannya, Ayu menyanyikan lagu “Maha Asa”. Lirik lagu ini diambil dari sebuah lontar yang diterjemahkan Sugi Lanus, filolog mutakhir asal Bali yang masyhur itu. Ya, tak mengherankan. Pasalnya, selain menyukai unsur-unsur bebunyian lokal, seperti gamelan, suling, penting, karinding, genggong, Ayu Laksmi juga senang menggunakan beragam bahasa, seperti Kawi, Bali, Latin, Inggris, dan Melayu dalam karya-karyanya.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Dalam beberapa wawancara, Ayu Laksmi mengungkapkan satu kunci dalam penciptaan lagu, yakni dengan berpasrah diri. Dia tidak merancang untuk menjadikan sesuatu dalam mencipta lagu, tetapi cukup dengan menyediakan diri. Selanjutnya, sebagaimana ia katakan kepada Kompas empat tahun lalu, alamlah yang akan bekerja.

Lagu-lagu Ayu Laksmi banyak berangkat dari kontemplasi atau meditasi. Juga dari hal-hal lampau yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Dia, misalnya, membuat kembali penting menjadi berarti.

Ayu Laksmi memberi impresi sangat spiritualistik dengan lagu-lagu yang memuja kebesaran semesta. Dengarkanlah lagu seperti “Om Mani Pasme Hum”, yang dia cuplik dari mantra Buddhisme. Begitu juga dengan lagu “Hyang”, “Maha Asa”, “Kidung Maria”, atau “Tuhan di Dalam Diri”. Namun, tak hanya ketuhanan, lirik-lirik yang dia usung juga tak jauh dari tema kemanusiaan, cinta, dan alam.

Pertunjukan Lintas Disiplin

Pada konser musik malam itu, sebagaimana telah disinggung di awal, di atas panggung Ayu Laksmi tak sendirian. Ada delapan penari perempuan yang membuat konser tersebut terlihat lebih artistik, atraktif, dan mendebarkan. Inilah pertunjukan lintas disiplin. Ada nyanyian, pula tarian.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Ya, selain pada lagu, perhatian saya turut tertuju pada gerak para penari. Gerak kolektif yang seragam, dengan gerak yang biasa, memang, tapi itu mengesankan. Gerak kedelapan dara itu—yang mengayun lembut, berputar-putar mengembangkan selendang putih di balik kabut asap—digarap dengan sangat singkat oleh I Made Tegeh Okta Maheri, atau akrab dipanggil Dek Geh.

Dek Geh, seniman tari tradisional dan kontemporer itu menambah ornamen yang tak hanya sekadar tempelan, tapi menggenapi nyanyian pemuja semestanya Ayu Laksmi—aktris yang identik dengan Ibu, sosok hantu perempuan dalam film Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar. Terkait gerak tari, saya rasa Dek Geh memang mengonotasikan “Durga”dan “Hyang” sebagai lagu “pemujaan”.

Sampai di sini, menurut saya koreografi tersebut menjadi penting. Sebab kesan magis tidak hanya didapat ketika mendengar lagu yang Ayu Laksmi bawakan, tetapi kesan itu juga didapat ketika melihat gerak para penari.

Ayu Laksmi dan delapan penari di belakangnya | Foto: Jaswanto

Mungkin bagi sebagian orang dengan pemahaman gerak yang mumpuni akan merasa bahwa tarian-tarian tersebut terkesan biasa, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para penonton, terlebih pertunjukan tersebut tidak ditempatkan laiknya sebuah kompetisi yang membutuhkan penilaian juri.

Justru dari sinilah dapat kita sadari bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya membutuhkan kemampuan yang baik dari penampilnya, tetapi juga emosi dan pesan atas tafsir lirik lagu yang dikemas dengan gerak sederhana juga tidak kalah penting. Rasanya pertunjukan yang digelar sebagai spesial performance itu telah memberikan keutuhan itu.

Pada ihwal pertunjukan ini, kerja kolaborasi dengan lintas disiplin ini turut memberi warna baru kesenian di Singaraja yang membuat pendengar lintas generasi—bahkan satu, dua, atau tiga generasi setelahnya—dapat diakomodasi.

Hal tersebut terlihat dari rangkaian umur penonton yang cukup beragam. Malam itu, generasi tua, dewasa, remaja, dan anak-anak berbaur menikmati Ayu Laksmi dengan nyanyian pemuja semestanya.[T]

Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Lumpur Lampau dan Kubangan Modernitas: Catatan Menonton Pertunjukan Hominid Heart
“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
Tags: Ayu LaksmiBalai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Eat, Play, Love” – Sebuah Legacy Toya Devasya di Tepian Batur  

Next Post

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia -- Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co