24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Jaswanto by Jaswanto
July 22, 2024
in Ulas Pentas
Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Ayu Laksmi sedang memainkan penting-nya | Foto: Jaswanto

BAK dewi ia duduk di bantalan serupa batu putih dengan sebuah alat musik endemik di pangkuannya. Didekapnya alat musik itu dengan lembut, seperti orok, darah dagingnya sendiri.

Asap buatan memenuhi panggung. Mengepul-ngepul menambah kesan kemagisan. Dimainkannya alat musik yang unik itu—menyerupai gitar, menggunakan dawai, tapi juga dilengkapi dengan tuts seperti piano. Itulah penting, alat musik tradisional khas Karangasem, Bali.

Ayu Laksmi, dewi yang duduk di bantalan serupa batu putih itu, menggerakkan jari-jarinya yang lentik, memetik dawai dan menekan tuts dengan lembut, menghasilkan suara rintihan yang dalam dan magis. Lalu ia bergumam, seperti merapal mantra tua dari masa di mana manusia belum mengenal bahasa. Lagu “Durga” mendaulat langit Singaraja.

Ayu Laksmi dan penting-nya | Foto: Jaswanto

Sementara lady rocker dari Bali itu—julukan Ayu Laksmi—memainkan penting, dari balik asap buatan, muncul delapan penari perempuan dengan benda menyerupai kayon di tangan masing-masing. Penari-penari itu serupa bayangan sang dewi yang kini terpejam khusyuk sambil mengacungkan jari telunjuknya ke langit.

Di atas adalah penggalan konser musik Ayu Laksmi dalam pagelaran Festival Kebyar Kasih Pertiwi yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB di Taman Bung Karno, Singaraja, Bali, Sabtu, (20/7/2024) malam.

Membuka pertunjukan di malam itu, Ayu membawakan lagu berjudul “Durga”, sebuah nyanyian puja hormat pada Ratu Ibu Penguasa alam semesta. Tampaknya ia sangat kagum dan hormat—oh, maaf, lebih dari itu, Ayu sangat mengimani—shakti Siwa itu.

Penempatan Ayu sebagai pembuka pertunjukan setelah acara seremonial malam itu saya rasa sangat tepat. Lewat denting penting-nya dan lirik-lirik pemujaannya, ia telah membuat suasana semakin terasa sakral dan spiritual—pula sangat menghibur.

Sebagaimana sosok Mahisasura Mardini—sang penakluk asura—yang magis, “Durga” membuat hadirin terpaku dan takjub. Ayu bermain dengan cakap—ia memang seorang bintang. Dan Setelah “Durga” membuat mata hadirin tak berkedip, ia melantunkan “Hyang” dan “Maha Asa”.

Ayu Laksmi dengan bayangan delapan penari di belakangan | Foto: Jaswanto

Lagu “Hyang”, setahu saya, merupakan gubahan dari puisi Putu Fajar Arcana, yang memuliakan kebesaran Tuhan dalam tradisi Hinduisme. “Tuhan di dalam diri,” kata Ayu. Lagu ini termaktub dalam album Svara Semesta 2, yang ber-genre world music alias musik dunia.

Komposisi musik “Hyang” cukup unik. Irama electronic dance music (EDM) berdentum mengentak. Lantunannya menabrak bunyi genggong dan lentingan gamelan Bali. Mengawinkan paduan bunyi tradisional dan kontemporer, seniman perempuan multitalenta ini meleburkan khazanah musik populer dan klasik dengan sentuhan elemen etnik.

Menutup pementasannya, Ayu menyanyikan lagu “Maha Asa”. Lirik lagu ini diambil dari sebuah lontar yang diterjemahkan Sugi Lanus, filolog mutakhir asal Bali yang masyhur itu. Ya, tak mengherankan. Pasalnya, selain menyukai unsur-unsur bebunyian lokal, seperti gamelan, suling, penting, karinding, genggong, Ayu Laksmi juga senang menggunakan beragam bahasa, seperti Kawi, Bali, Latin, Inggris, dan Melayu dalam karya-karyanya.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Dalam beberapa wawancara, Ayu Laksmi mengungkapkan satu kunci dalam penciptaan lagu, yakni dengan berpasrah diri. Dia tidak merancang untuk menjadikan sesuatu dalam mencipta lagu, tetapi cukup dengan menyediakan diri. Selanjutnya, sebagaimana ia katakan kepada Kompas empat tahun lalu, alamlah yang akan bekerja.

Lagu-lagu Ayu Laksmi banyak berangkat dari kontemplasi atau meditasi. Juga dari hal-hal lampau yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Dia, misalnya, membuat kembali penting menjadi berarti.

Ayu Laksmi memberi impresi sangat spiritualistik dengan lagu-lagu yang memuja kebesaran semesta. Dengarkanlah lagu seperti “Om Mani Pasme Hum”, yang dia cuplik dari mantra Buddhisme. Begitu juga dengan lagu “Hyang”, “Maha Asa”, “Kidung Maria”, atau “Tuhan di Dalam Diri”. Namun, tak hanya ketuhanan, lirik-lirik yang dia usung juga tak jauh dari tema kemanusiaan, cinta, dan alam.

Pertunjukan Lintas Disiplin

Pada konser musik malam itu, sebagaimana telah disinggung di awal, di atas panggung Ayu Laksmi tak sendirian. Ada delapan penari perempuan yang membuat konser tersebut terlihat lebih artistik, atraktif, dan mendebarkan. Inilah pertunjukan lintas disiplin. Ada nyanyian, pula tarian.

Ayu Laksmi sedang bernyanyi | Foto: Jaswanto

Ya, selain pada lagu, perhatian saya turut tertuju pada gerak para penari. Gerak kolektif yang seragam, dengan gerak yang biasa, memang, tapi itu mengesankan. Gerak kedelapan dara itu—yang mengayun lembut, berputar-putar mengembangkan selendang putih di balik kabut asap—digarap dengan sangat singkat oleh I Made Tegeh Okta Maheri, atau akrab dipanggil Dek Geh.

Dek Geh, seniman tari tradisional dan kontemporer itu menambah ornamen yang tak hanya sekadar tempelan, tapi menggenapi nyanyian pemuja semestanya Ayu Laksmi—aktris yang identik dengan Ibu, sosok hantu perempuan dalam film Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar. Terkait gerak tari, saya rasa Dek Geh memang mengonotasikan “Durga”dan “Hyang” sebagai lagu “pemujaan”.

Sampai di sini, menurut saya koreografi tersebut menjadi penting. Sebab kesan magis tidak hanya didapat ketika mendengar lagu yang Ayu Laksmi bawakan, tetapi kesan itu juga didapat ketika melihat gerak para penari.

Ayu Laksmi dan delapan penari di belakangnya | Foto: Jaswanto

Mungkin bagi sebagian orang dengan pemahaman gerak yang mumpuni akan merasa bahwa tarian-tarian tersebut terkesan biasa, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para penonton, terlebih pertunjukan tersebut tidak ditempatkan laiknya sebuah kompetisi yang membutuhkan penilaian juri.

Justru dari sinilah dapat kita sadari bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya membutuhkan kemampuan yang baik dari penampilnya, tetapi juga emosi dan pesan atas tafsir lirik lagu yang dikemas dengan gerak sederhana juga tidak kalah penting. Rasanya pertunjukan yang digelar sebagai spesial performance itu telah memberikan keutuhan itu.

Pada ihwal pertunjukan ini, kerja kolaborasi dengan lintas disiplin ini turut memberi warna baru kesenian di Singaraja yang membuat pendengar lintas generasi—bahkan satu, dua, atau tiga generasi setelahnya—dapat diakomodasi.

Hal tersebut terlihat dari rangkaian umur penonton yang cukup beragam. Malam itu, generasi tua, dewasa, remaja, dan anak-anak berbaur menikmati Ayu Laksmi dengan nyanyian pemuja semestanya.[T]

Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Lumpur Lampau dan Kubangan Modernitas: Catatan Menonton Pertunjukan Hominid Heart
“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
Tags: Ayu LaksmiBalai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Eat, Play, Love” – Sebuah Legacy Toya Devasya di Tepian Batur  

Next Post

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia -- Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co