17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
July 22, 2024
in Esai
Menuju Bali Sebagai Pusat Seni Kontemporer Dunia — Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan (Gamelan Kontemporer) Kelas Dunia

MUNGKIN maksudnya MENJADIKAN Bali sebagai pusat seni kontemporer dunia? Kalaupun begitu, untuk menjadi “pusat” kita paling tidak harus menjadi “bagian”-nya terlebih dahulu. Apakah kesenian Bali sudah menjadi bagian dari seni kontemporer dunia? Mungkin itu akan terungkap di dalam forum ini.

Tapi, berhubung sudah terlanjur diagendakan pada program, saya akan memakai judul atau tema saresehan ini, sebagai landasan pandangan saya.

Untuk “menuju” ke suatu tempat, kita harus tahu dan memahami jalan, atau jalur yang akan mengantarkan kita untuk sampai di tempat tujuan. Dalam hubungannya dengan kesenian, ijinkanlah saya memakai analogi ini, yaitu jalan, jalur atau arus.

Seperti halnya sungai,ada sungai yang jalurnya menuju lembah, sawah, ladang, sampai airnya lenyap ditelan bumi. Ada juga sungai yang airnya mengalir langsung ke laut, bergabung dengan air sungai-sungai lain untuk menyatu di laut samudra luas.

Kalau boleh saya berandai-andai lagi, saya andaikan seni tradisional itu seperti air sungai yang mengalir ke sawah dan ladang, melewati, jalur dan batasan-batasan yang rapi tertata, sesuai aturan adat dan tradisi, sesuai keperluan memenuhi kesejahteraan kita.  Hasilnya pun mudah dan cepat didapat dan diidentifikasi, seperti kesuburan tanah, hasil panen, dan lain-lainnya.

Sedangkan, sungai yang airnya mengalir ke laut, tidak segera menampak faedahnya. Bahkan sering orang berpikir bahwa air tersebut hanya terbuang sia-sia belaka. Lenyap menjadi air laut yang asin, bergabung dengan laut ini dan samudra itu, melintasi benua ini dan itu. Menjadi air global, mendunia.

Bagi saya, memerlukan sedikit waktu dalam perenungan untuk memahami, bahwa, tentu saja, laut dan samudra itu sangat berguna, sebab (menurut para ilmuwan, marine biologist) sebagian besar hidup di bumi ini terbentuk di lautan. Begitu banyaknya keragaman dan bentuk kehidupan yang terjadi di samudra global, sampai saat inipun masih sering ditemukan bentuk kehidupan “baru”, yang artinya belum kita kenali sebelumnya. Dan tentu saja lebih banyak lagi, kemungkinan-kemungkinan “hidup” yang menjalar di kedalaman yang terlalu dalam bagi nalar kita.

Begitu jugalah kiranya kesenian kontemporer yang mendunia itu, menurut hemat saya.

Tapi, meskipun bebas berbaur, berinteraksi dengan aliran-aliran yang beragam, seni kontemporer bukanlah tanpa aturan, atau tanpa ukuran. Yang pasti, rasa air global ini adalah asin, misalnya. Ke” asinan” ini dirasakan sama, baik di Samudra Fasifik, Samudra India, Atlantik, dan di lautan manapun. Meskipun mungkin kadar ke “asinan”-nya yang berbeda. Rasanya sudah mendunia.

Pada seni musik, notasi dan struktur musik, yang dipahami oleh seniman musik di manapun di dunia ini. Pada seni sastra, bahasa yang dimengerti oleh pembaca dunia, meskipun dengan bantuan terjemahan di sana-sini. Sehingga karya itu bisa disebut global, mendunia.

Sedemikian jauh, mudah-mudahan ulasan saya masih sesuai dengan janji saya, menjabarkan pandangan sesuai dengan judul dan tema di atas.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, adalah : Dimanakah kita berada? Di jalur manakah kita melangkah, beraktivitas dan berkarya? Apakah kesenian tradisi, dimana kita tumbuh dan menjadi, dengan tatanan, aturan dan parameter adat dan nilai tradisi, bisa dijadikan kesenian dunia?

Apakah kedatangan orang-orang dari manca negara, menonton, menikmati, mempelajari bahkan mencintai kesenian kita, adalah bukti bahwa kesenian ini sudah mendunia?

Atau, apakah dengan merubah bentuk dan bagian-bagian atau komponen kesenian tradisi, sudah menjadikannya produk seni kontemporer?

Saya mulai belajar kesenian, seni musik khususnya, dari musik tradisional, gamelan Bali. Setelah menguasai pelajaran atau bahasa gagahnya “reportoir” musik tradisi, saya kemudian ikut “menelusuri” arus musik gamelan kontemporer. Membuat komposisi baru untuk gamelan yang pada mulanya, saya anggap akan membawa saya “mendunia”.

Tapi, meskipun telah memenangkan beberapa kali lomba kreasi baru di Bali, saya sama sekali tidak mendunia. Jangankan mendunia, me “nasional” pun saya tidak, dengan pencapaian saya tersebut.

Maka saya sadar, bahwa untuk ikut berkiprah dan terjun ke laut, saya harus belajar merasakan rasa asin, belajar berenang, memahami bahasa asing (asing yang artinya tidak saya rasakan atau pahami sebelumnya), bahasa dan ukuran yang berlaku di seluruh dunia.

Seperti contoh yang sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu: saya mulai belajar membaca dan menulis notasi musik, membuat komposisi musik yang bisa dipahami dan diterapkan oleh musisi baik di Indonesia, di Australia, Amerika, Eropa, di manapun.

Begitulah usaha pribadi saya untuk bisa berkiprah di musik dunia. Bukan berarti saya meninggalkan tradisi atau pencapaian saya dalam berkesenian sebelumnya, tapi rupanya, paling tidak, pada pengalaman saya, warisan atau kalau boleh dikatakan “ilmu” yang saya dapat dari seni tradisi menjadi bahan yang sangat berguna sebagai landasan karya saya di dalam musik kontemporer dunia.

Dari pengalaman ini juga saya mendapat kesimpulan, bahwa pemahan, kesadaran dan pendidikan yang lebih utama dalam seni kontemporer, sebelum kita berkarya atau membuat sesuatu yang hanya semata-mata berbeda, yang kita sebut kontemporer. Dan supaya dia mendunia, kita yang harus membawanya ke dunia.

Ada beberapa seniman sastra Indonesia, saya dengar dari festival sastra baru-baru ini, yang sudah sungguh-sungguh mendunia, meskipun tidak dikenal di Indonesia. Salah satunya, penyair muda kelahiran Bali Cyntia Dewi Oka, yang karya-karyanya mendapat penghargaan dan pengakuan sastra di Amerika, Kanada dan negara-negara lain.

Tapi kalau hanya terkenal di luar negeri, dan tidak dikenal di negeri sendiri, mungkin belum bisa disebut sungguh-sungguh mendunia? Untuk itu, ada penulis (seniman sastra) Laksmi Pamuntjak, yang karyanya dalam sastra Indonesia setara dengan kiprahnya di sastra Dunia.

Kesimpulan saya, untuk menjadi pusat seni kontemporer dunia, bahkan hanya untuk memulai kegiatan seni kontemporer di Bali, jalur itu harus jelas dipahami, sehingga usaha dan investasi yang memungkinkan dia untuk menuju kesana, efektif dan tidak sia-sia. [T]

Menyurat yang Silam, Menggurat yang Datang — Sambutan Artistik Pekan Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram
Wayan Gde Yudane, Burung Phoenix dan Gong Kebyar – Catatan Jelang “Mebarung” di Singaraja
Ekosistem Seni untuk Keragaman Identitas Pelaku Seni – Sambutan pada Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram  
Tags: baligamelan baliseni kontemporerseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta

Next Post

“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co