24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Gde Yudane, Burung Phoenix dan Gong Kebyar – Catatan Jelang “Mebarung” di Singaraja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 16, 2020
in Esai

Wayan Gde Yudane

 

Kelompok Gamelan Wrdhi Swaram

AWAL abad kedua puluh, dunia kesenian Bali dikejutkan dengan munculnya “burung phoenix” dalam bentuk kebyar, yang membawa kesenian Bali ke tingkat vitalitas yang baru. Kebyar memindahkan gamelan ke konteks baru sehingga semakin tidak dibatasi oleh fungsi pura dan puri, berlawanan dengan estetika dan fungsi dalam pertunjukan keraton, dan terbuka untuk menyambut abad baru.

Hampir tak terbayangkan efek radikal dan menyegarkan yang timbul pada awal munculnya musik ini. Terutama menyangkut dorongan menuju teknik dan kelengkapannya yang khas dan revolusioner. Kebyar telah membuka pintu dengan cara seperti ini, kita sudah menuju ke suatu ruang yang tak berdinding.

Itulah yang berkali-kali dikatakan Wayan Gde Yudane, tentu saja dengan penuh semangat, saat bicara soal gong kebyar yang diyakini lahir di Buleleng, lalu menyebar bukan hanya di Bali dan wilayah lain di Indoensia, melainkan juga di kota-kota besar dan kota kecil di dunia. Yudane menyamakan ciptaan gong dengan berbagai keindahannya itu sebagai burung phoenix. Burung yang lahir buruk rupa, lalu karena kebijaksanaannya ia kemudian berubah menjadi burung paling indah di dunia.

Phoenix adalah burung keramat yang berasal dari mitologi Mesir. Burung itu digambarkan memiliki bulu yang sangat indah dan panjang berwarna merah dan emas. Sebelumnya, Phoenix itu buruk rupa, lalu karena ia telah menyelamatkan burung-burung lain dari kelaparan saat matahari membakar pohon dan buah-buahan di bumi, Phoenix dihadiahi berbagai keindahan. Ada menghadiahi bentuk dan warna keindahan pada jambul, bulu leher, bulu dada, sayap, ekor, dan lain-lain.

Phoenix menjelma menjadi burung yang paling indah. Namun berabad-berabad kemudian banyak orang tak mengetahui dengan jelas, seperti apa sesungguhnya keindahan burung Phoenix itu dan bagaimana warna bulu sesungguhnya. Banyak yang bilang bahwa warna merah dan emas menghias kepala, dada, dan punggung. Sayap berwarna-warni dan kaki berona ungu, serta mata biru laut.

Ada juga yang mengatakan tubuhnya berwarna plum, punggungnya merah dan sayap serta kepala berwarna emas dengan ekor panjang berwarna mawar dan biru. Lalu yang lain mengatakan Phoenix sebagian besar berwarna ungu. Leher dan kepala berwarna emas.

Kemungkinan deskripsi-deskripsi yang muncul itu semuanya benar. Mungkin saja Phoenix memang mengalami perubahan-perubahan keindahan dalam berbagai tahap kehidupannya. Bukankah burung itu hidup lima abad, lalu setelah hidup lima abad ia membakar dirinya lalu dari dari abunya muncul Phoenix muda yang akan hidup lima abad lagi?

Phoenix dengan keindahan yang setara juga dikenal di berbagai kebudayaan dunia. Di Mesir Phoenix dikenal dengan nama Benu yang melambangkan perjalanan waktu dan masih merupakan simbol kehidupan abadi hingga kini. Dalam kebudayaan Cina, Phoenix dikenal dengan nama Fenghuang. Di Jepang, Phoenix disebut ho-o atau fushico. Di Persia, Phoenix merupakan Simurgh atau Simorgh. Di Rusia, Phoenix muncul sebagai Zhar-Ptitsa. Lalu di Indonesia ada burung Cendrawasih yang bisa juga disebut sebagai Phoenix.

Apa kaitannya dengan gong kebyar?

Semua sepakat gong kebyar itu indah. Tapi bagaimana bentuk keindahan itu, hingga sekarang rumusannya tak pernah sama. Ini karena tak ada yang mencatat secara jelas bagaimana repertoar awal dari gong kebyar itu. Artinya, gong kebyar seperti apa yang lahir untuk pertama-tama, benar-benar yang pertama-tama, di Buleleng atau di wilayah lain di Bali?

Pertanyaan lain kemudian, bentuk-bentuk keindahan seperti apa yang dihadiahkan repertoar gong lain kepada burung Phoenix gong kebyar? Mungkin saja pada saat yang sama muncul juga bentuk-bentuk ciptaan baru, burung Poenix yang lain dengan nama yang berbeda di daerah lain, dengan keindahan yang setara. Lalu hal itu bisa saling mempengaruhi, hingga muncul lagi ciptaan-ciptaan baru, seperti burung Poenix yang membakar diri lalu dari abunya muncul Phoenix baru yang lebih indah.

Wayan Gde Yudane adalah orang bercermin dari mitos burung Phoenix itu dengan segala penafsirannya. Salah satunya, di grup gamelan Wrdhi Sawaram, keindahan seperti burung Phoenix selalu “membakar diri” untuk memunculkan ciptaan-ciptaan baru.

BACA JUGA:

  • Ngobrol dengan Yudane: Bisa-bisa Gong Kebyar Dipengaruhi Banyuwangi 
  • Yudane Ajak Penonton Berpikir Sains dalam Gamelan Kontemporer rOrAs Ensemble   

______

Dalam sejumlah garapan, Gamelan Wrdhi Swaram senantiasa mempersembahkan musik gamelan baru, yang merambah medan baru dan menentang segala bentuk pengelompokan, terkecuali untuk sebutan “maverick”, pemberani. Alur karya musikal yang tidak bisa dilacak, dengan bentuk orisinil dan pribadi, bersama kekuatan tekad berkreasi, menggali terowongan-terowongan yang terkadang sepi, pada dunia komposisi musik abad ke dua puluh satu ini.

Wayan Gde Yudane, komposer di Wrdhi Swaram, memang menempuh jalan cipta yang terbilang unik dan otentik sebelum tersohor sebagai komposer dengan reputasi internasional. Ia menempuh pengalaman penciptaan di Bali dan Selandia Baru serta terdepankan sebagai seniman dalam jajaran komposisi musik baru.

Ia dipandang sebagai komposer yang mumpuni, di mana kreasi dan dedikasinya terpujikan dengan capaian teknik yang piawai sekaligus mengejutkan. Buah karya-karyanya menjangkau ansamble gamelan, musik orkestra, paduan suara, elektro-akustik musik, termasuk komposisi musik untuk tari, teater, film dan instalasi.

Dia menerima banyak penghargaan untuk komposisinya. Karya- karyanya memperkenalkan konsep-konsep baru tentang orkestrasi gamelan, serta pemanfaatan keheningan dan irama pernapasan secara luar biasa. Dengan kehadiran komponis-komponis seperti Yudane, keberadaan dan masa depan gamelan Bali penuh dengan optimisme, di mana komposisi-komposisi yang diciptakan terasa hidup, penuh kesegaran serta mengekspresikan kekinian, sekaligus tampil percaya diri untuk pendengar abad ke duapuluh satu.

Jadi, untuk melihat dan mendengar semua itu, bisa datang pada acara Gong Mebarung Buleleng-Denpasar, Menyurat yang Silam Menggurat yang Datang di Sasana Budaya Singaraja, Sabtu 14 Oktober 2017. Di situ Wrdhi Swaram akan menampilkan dua garapan, Spring dan Journey. Garapan itu akan berdialog dengan garapan maestro Gde Manik dan Pan Wadres, Baratayuda dan Sari Anom, yang ditampilkan kembali seniman dari Padepokan Dwi Mekar Singaraja. (T)

BACA JUGA:

  • Repertoar Wayan Gde Yudane: Perjumpaan Penyair Kata dan Penyair Suara

Tags: balibulelenggong kebyarkomposermusikWayan Gde Yudane
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Komunitas Seniman Tunanetra Bermain Musik: Ringan, Sederhana dan Menghibur…

Next Post

Berkreasi dan Berpikir Positif – Kabar dari Pameran Perupa Tiga Negara di Singapura

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Berkreasi dan Berpikir Positif – Kabar dari Pameran Perupa Tiga Negara di Singapura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co