3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Gde Yudane, Burung Phoenix dan Gong Kebyar – Catatan Jelang “Mebarung” di Singaraja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 16, 2020
in Esai

Wayan Gde Yudane

 

Kelompok Gamelan Wrdhi Swaram

AWAL abad kedua puluh, dunia kesenian Bali dikejutkan dengan munculnya “burung phoenix” dalam bentuk kebyar, yang membawa kesenian Bali ke tingkat vitalitas yang baru. Kebyar memindahkan gamelan ke konteks baru sehingga semakin tidak dibatasi oleh fungsi pura dan puri, berlawanan dengan estetika dan fungsi dalam pertunjukan keraton, dan terbuka untuk menyambut abad baru.

Hampir tak terbayangkan efek radikal dan menyegarkan yang timbul pada awal munculnya musik ini. Terutama menyangkut dorongan menuju teknik dan kelengkapannya yang khas dan revolusioner. Kebyar telah membuka pintu dengan cara seperti ini, kita sudah menuju ke suatu ruang yang tak berdinding.

Itulah yang berkali-kali dikatakan Wayan Gde Yudane, tentu saja dengan penuh semangat, saat bicara soal gong kebyar yang diyakini lahir di Buleleng, lalu menyebar bukan hanya di Bali dan wilayah lain di Indoensia, melainkan juga di kota-kota besar dan kota kecil di dunia. Yudane menyamakan ciptaan gong dengan berbagai keindahannya itu sebagai burung phoenix. Burung yang lahir buruk rupa, lalu karena kebijaksanaannya ia kemudian berubah menjadi burung paling indah di dunia.

Phoenix adalah burung keramat yang berasal dari mitologi Mesir. Burung itu digambarkan memiliki bulu yang sangat indah dan panjang berwarna merah dan emas. Sebelumnya, Phoenix itu buruk rupa, lalu karena ia telah menyelamatkan burung-burung lain dari kelaparan saat matahari membakar pohon dan buah-buahan di bumi, Phoenix dihadiahi berbagai keindahan. Ada menghadiahi bentuk dan warna keindahan pada jambul, bulu leher, bulu dada, sayap, ekor, dan lain-lain.

Phoenix menjelma menjadi burung yang paling indah. Namun berabad-berabad kemudian banyak orang tak mengetahui dengan jelas, seperti apa sesungguhnya keindahan burung Phoenix itu dan bagaimana warna bulu sesungguhnya. Banyak yang bilang bahwa warna merah dan emas menghias kepala, dada, dan punggung. Sayap berwarna-warni dan kaki berona ungu, serta mata biru laut.

Ada juga yang mengatakan tubuhnya berwarna plum, punggungnya merah dan sayap serta kepala berwarna emas dengan ekor panjang berwarna mawar dan biru. Lalu yang lain mengatakan Phoenix sebagian besar berwarna ungu. Leher dan kepala berwarna emas.

Kemungkinan deskripsi-deskripsi yang muncul itu semuanya benar. Mungkin saja Phoenix memang mengalami perubahan-perubahan keindahan dalam berbagai tahap kehidupannya. Bukankah burung itu hidup lima abad, lalu setelah hidup lima abad ia membakar dirinya lalu dari dari abunya muncul Phoenix muda yang akan hidup lima abad lagi?

Phoenix dengan keindahan yang setara juga dikenal di berbagai kebudayaan dunia. Di Mesir Phoenix dikenal dengan nama Benu yang melambangkan perjalanan waktu dan masih merupakan simbol kehidupan abadi hingga kini. Dalam kebudayaan Cina, Phoenix dikenal dengan nama Fenghuang. Di Jepang, Phoenix disebut ho-o atau fushico. Di Persia, Phoenix merupakan Simurgh atau Simorgh. Di Rusia, Phoenix muncul sebagai Zhar-Ptitsa. Lalu di Indonesia ada burung Cendrawasih yang bisa juga disebut sebagai Phoenix.

Apa kaitannya dengan gong kebyar?

Semua sepakat gong kebyar itu indah. Tapi bagaimana bentuk keindahan itu, hingga sekarang rumusannya tak pernah sama. Ini karena tak ada yang mencatat secara jelas bagaimana repertoar awal dari gong kebyar itu. Artinya, gong kebyar seperti apa yang lahir untuk pertama-tama, benar-benar yang pertama-tama, di Buleleng atau di wilayah lain di Bali?

Pertanyaan lain kemudian, bentuk-bentuk keindahan seperti apa yang dihadiahkan repertoar gong lain kepada burung Phoenix gong kebyar? Mungkin saja pada saat yang sama muncul juga bentuk-bentuk ciptaan baru, burung Poenix yang lain dengan nama yang berbeda di daerah lain, dengan keindahan yang setara. Lalu hal itu bisa saling mempengaruhi, hingga muncul lagi ciptaan-ciptaan baru, seperti burung Poenix yang membakar diri lalu dari abunya muncul Phoenix baru yang lebih indah.

Wayan Gde Yudane adalah orang bercermin dari mitos burung Phoenix itu dengan segala penafsirannya. Salah satunya, di grup gamelan Wrdhi Sawaram, keindahan seperti burung Phoenix selalu “membakar diri” untuk memunculkan ciptaan-ciptaan baru.

BACA JUGA:

  • Ngobrol dengan Yudane: Bisa-bisa Gong Kebyar Dipengaruhi Banyuwangi 
  • Yudane Ajak Penonton Berpikir Sains dalam Gamelan Kontemporer rOrAs Ensemble   

______

Dalam sejumlah garapan, Gamelan Wrdhi Swaram senantiasa mempersembahkan musik gamelan baru, yang merambah medan baru dan menentang segala bentuk pengelompokan, terkecuali untuk sebutan “maverick”, pemberani. Alur karya musikal yang tidak bisa dilacak, dengan bentuk orisinil dan pribadi, bersama kekuatan tekad berkreasi, menggali terowongan-terowongan yang terkadang sepi, pada dunia komposisi musik abad ke dua puluh satu ini.

Wayan Gde Yudane, komposer di Wrdhi Swaram, memang menempuh jalan cipta yang terbilang unik dan otentik sebelum tersohor sebagai komposer dengan reputasi internasional. Ia menempuh pengalaman penciptaan di Bali dan Selandia Baru serta terdepankan sebagai seniman dalam jajaran komposisi musik baru.

Ia dipandang sebagai komposer yang mumpuni, di mana kreasi dan dedikasinya terpujikan dengan capaian teknik yang piawai sekaligus mengejutkan. Buah karya-karyanya menjangkau ansamble gamelan, musik orkestra, paduan suara, elektro-akustik musik, termasuk komposisi musik untuk tari, teater, film dan instalasi.

Dia menerima banyak penghargaan untuk komposisinya. Karya- karyanya memperkenalkan konsep-konsep baru tentang orkestrasi gamelan, serta pemanfaatan keheningan dan irama pernapasan secara luar biasa. Dengan kehadiran komponis-komponis seperti Yudane, keberadaan dan masa depan gamelan Bali penuh dengan optimisme, di mana komposisi-komposisi yang diciptakan terasa hidup, penuh kesegaran serta mengekspresikan kekinian, sekaligus tampil percaya diri untuk pendengar abad ke duapuluh satu.

Jadi, untuk melihat dan mendengar semua itu, bisa datang pada acara Gong Mebarung Buleleng-Denpasar, Menyurat yang Silam Menggurat yang Datang di Sasana Budaya Singaraja, Sabtu 14 Oktober 2017. Di situ Wrdhi Swaram akan menampilkan dua garapan, Spring dan Journey. Garapan itu akan berdialog dengan garapan maestro Gde Manik dan Pan Wadres, Baratayuda dan Sari Anom, yang ditampilkan kembali seniman dari Padepokan Dwi Mekar Singaraja. (T)

BACA JUGA:

  • Repertoar Wayan Gde Yudane: Perjumpaan Penyair Kata dan Penyair Suara

Tags: balibulelenggong kebyarkomposermusikWayan Gde Yudane
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Komunitas Seniman Tunanetra Bermain Musik: Ringan, Sederhana dan Menghibur…

Next Post

Berkreasi dan Berpikir Positif – Kabar dari Pameran Perupa Tiga Negara di Singapura

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Berkreasi dan Berpikir Positif – Kabar dari Pameran Perupa Tiga Negara di Singapura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co