4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara

Son Lomri by Son Lomri
March 22, 2025
in Panggung
Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara

Kelompok musik Renggama di Komunitas Mahima | Foto: Dok. Komunitas Mahima

RENGGAMA, begitu namanya. Jangan kira itu bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno. Renggama mudah saja artinya. Reng itu suara, Gama singkatan dari Gang Mawar. Simpel.

Renggama adalah kelompok pemusik yang tumbuh dari sebuah rumah di Gang Mawar, Jalan Srikandi, Sambangan-Singaraja. Itu rumah Kadek Anggara Rismandika, seorang pemusik tamatan ISI Yogyakarta yang kini jadi dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Di rumah itulah, Anggara mengajak dua temannya, Wira Pradana dan Lanang Arimbawa untuk mewujudkan sebuah cita-cita yang muncul dari kegelisahan mereka bersama.

Wira memainkan digital instrumen sekaligus jadi vokalis, sementara Lanang memainkan instrumen perkusi atau undir. Anggara sendiri memainkan instrumen tiup hulusi sekaligus juga vokalis.

Pada Jumat malam, 14 Maret 2025, Renggama untuk pertamakalinya melakukan pementasan musik garapan mereka di Rumah Belajar Komunitas Mahima serangkaian acara Mahima March March March 2025. Sebagai debut, Renggama mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Ini bukan musik biasa-biasa saja, kata seorang penonton.

Anggara | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Dalam acara itu, Renggama memainkan dua garapan. Pertama, sebuah gubahan berjudul “Karma Phala” dan kedua berjudul “Cupak Gerantang”. Masing-masing garapan berdurasi 9 menit.

Musik yang dimainkan Renggama ini memang terdengar tak biasa, meski sesungguhnya bukanlah eksperimen baru dalam seni musik di Indonesia, atau di dunia. Ia menjadi tak biasa, barangkali karena telinga penonton sudah terbiasa mendengar musik-musik populer yang gampang diikuti, atau mudah dicerna secara konvensional.

Anggara sendiri belum memberi label secara pasti, musik jenis apa yang mereka mainkan.

“Karya musik, apa ya? Bisa dibilang musik digital   akustik sih,” kata Anggara ketika ditanya MC tentang musik yang dimainkan Renggama.

Anggara bercerita kemudian, bahwa karya yang mereka mainkan itu lahir dari kegelisahan semata. Kegelisahan yang sederhana.

“Selama ini kami gelisah seperti tidak punya ruang untuk mengkspresikan diri,” kata Anggara.

Tentang tiga personel Renggama itu, Anggara bercerita, “Kami bertumbuh bersama dari rahim musik tradisi Bali yaitu gamelan, namun kemudian kami bertumbuh juga dengan musik-musik yang asyik menurut kami, dan itu tidak hanya gamelan.”

Bahkan, kata Anggara, untuk mencari jenis musik semacam itu, atau musik di luar gamelan, di Singaraja masih sangat jarang. “Kami harus jauh pergi ke Ubud atau Denpasar untuk bisa sekadar menikmati pertunjukan yang sesuai dengan preferensi kami,” ujar Anggara.

Nah, dari kegelisahan itulah mereka ingin mencoba untuk membuat ruang eksperimen dalam menyalurkan ide dan gagasan musik yang mereka miliki dalam bentuk karya yang bisa dinikmati orang lain.

“Sehingga tujuan kami teman-teman yang memiliki kegelisahan yang sama dengan kami, bisa menemukan selera musik mereka di Singaraja,” cerita Anggara.

Musik yang Membawa Kita ke Mana-mana

Mendengar musik yang dimainkan Renggama di Komunitas Mahima itu penonton seperti dibawa keliling dunia dengan kaki yang masih berpijak di Bali.

Sesekali seperti ke China, atau setidaknya sperti sedang menikmati tontonan film China. Lalu sesekali juga diantarkan ke Arab, atau ke hamparan padang pasir yang sangat luas. Lalu, dengan suara lirih dari undir, penonton tetap menyadari bahwa mereka berada di Bali.

Lanang | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Seperti disampaikan Wahyudi, seorang penonton yang juga guru di SMKN Bali Mandara. Menurutnya, musik yang dibawakan Renggama mampu membuatnya  seperti menonton film yang alurnya seperti susah ditebak dan membuat penasaran.

“Kira-kira bagaimana cara membuat musik seperti itu ya?” kata Wahyudi.

Gading Ganesha, seorang aktivis Komunitas Mahima yang juga pendiri Bank Sampah Galang Panji Singaraja, dan juga anggota Bawaslu Buleleng, juga menyampaikan pujian yang sama. Ia seperti dibawa ke berbagai suasana setelah mendengar musik ang dimainkan Renggana.  

Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan, antara lain Dek Suwar dan Candra, juga memeri komentar pada musik Renggana.

“Jujur ketika saya menyaksikan pertunjukan musik tadi sangat kagum. Baru kali ini saya di Singaraja menyaksikan musik dengan lirik yang puitis tapi tidak sekedar puitis,” kata Dek Suwar.

Dek Suwar mengatakan, ia seperti mendengar kata-kata yang diberikan jiwa oleh musik. “Sebenarnya apa yang Renggama lakukan untuk membuat karya musik seperti itu?” kata Dek Suwar yang bernama lengkap Kadek Suwarjaya itu.

Candra juga mengungkapkan kekaguman yang sama dengan Dek Suwar. Candra yang akrab disapa Aan itu mengatakan, ia sudah bisa menebak bagaimana alur karya-karya dari Renggama, karena ia mengaku memang sering melakukan garapan bersama dengan Anggara.

Menurut Aan, musik yang diperdengarkan Renggama bisa disebut segar. Sepintas terdengar rumit, namun bisa dinikmati.

“Pertanyaannya bagaimana karya musik Renggama bisa dipertahankan untuk selalu segar didengarkan, dan bagaimana trik untuk membuat musik selalu tampak berbeda?” kata Aan.

Pementasan Musik Sebagai Pertunjukan

Dalam pementasan musik di Komunitas Mahima itu, Anggara, Lanang dan Wira, tampaknya belum tampak begitu enjoi memainkan instrumen yang mereka pegang. Gaya panggung mereka belum kelihatan.

Wira sedikit bergoyang-goyang tapi lebih sering berdiri begitu saja saat memainkan jari-jarinya di atas alat musik digital semacam keyboard mini.

Lanang tampak begitu khusyuk dengan undir, sebuah alat dari bambu yang ia rancang sendiri dalam rangka tugas akhir kuliahnya di S1 Institut Seni Indonesia (ISI) Bali belum lama ini. Alat musik itu dimodifikasi dari alat musik jegog, yang dibuat berdiri sehingga bisa dimainkan dengan lebih santai.

Anggara meniup hulusi, sebuah alat musik tiup khas China, dengan gaya yang santai, namun sepertinya ia masih kesulitan “bergaya bebas” karena harus bernyanyi juga. Tampak sekali napasnya tak pernah stabil, karena dipakai bergantian antara meniup dan bernyanyi.

Kardian Narayana, seorang penonton, memperhatikan gaya panggung Renggana yang masih statis itu.

Sebagai penonton, kata Kardian, ia melihat pertunjukan Renggama lumayan bisa dinikmati, terutama bagi penonton yang tidak begitu paham musik.

“Namun sekali lagi ada wilayah yang nampaknya belum terlalu banyak dipersiapkan yaitu pementasan musik sebagai pertunjukan. Musik sebagai sesuatu yang ditonton menjadi poin yang nampaknya perlu untuk lebih diperhatikan,” ujar Kardian.

Wira | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Andy Sri Wahyuni, seorang penulis dan pelaku teater dari Yogyakarta, mengakui musik yang dimainkan Anggara dan kawan-kawan itu mengingatkannya tentang musik-musik semacam itu, karena ia memang bertumbuh dengan musik-musik yang memiliki identitas mirip dengan karya ini.

“Seperti karya-karya Yani, Kitaro dan lainnya. Jadi, musik-musik seperti ini memang sangat dramatik sekali,” kata Andy.

Andy mengaku tertarik pada upaya Renggama dalam berusaha membuat musik yang bersumber dari karya sastra. Kata sebagai unsur karya sastra itu sudah biasa, namun ketika kata itu diposisikan sebagai musik atau media akan menjadi lebih menarik.

“Jadi bagaimana kata tidak serta merta sebegai hal yang ditempelkan pada musik tapi kata sebagai musik itu sendiri,” kata Andy.

Contohnya, kata Andy, musik dengan menggunakan lirik berbahasa Jawa Kuno atau bahasa tertentu yang tidak begitu lumrah dan memiliki arti. “Tapi kata ini menjadi berarti ketika dia hadir sebagai musik,” kata Andy.

Upaya Menjadi Identitas Singaraja

Anggara mengatakan. karya musik Renggana ini lahir sebagai upaya dalam mengamati identitas Singaraja yang heterogen dan multikultur.

“Ciri multikultur dari Kota Singaraja ini masih jarang dijadikan pijakan dalam berkarya, terutama musik,” kata Anggara.

Untuk itulah, musik Renggama mencoba memadukan beberapa identitas sub-kultur dan dominan yang sesuai dengan selera dan kondisi kini.

Menurut Anggara, musik digital dipilih untuk mewakili gagasan musik masa kini, kemudian pemilihan alat musik undir sebagai identitas masyarakat dominan yaitu gamelan. Pemilihan alat musik tiup hulusi sebagai perwakilan sub-kultur etnis China, dan instrument perkusi burdah sebagai instrumen musik yang mewakili perwakilan sub-kultur etnis Melayu, Jawa dan Arab yang ada di Singaraja.

“Kombinasi dari berbagai alat musik dan napas musik ini yang secara tidak langsung telah menghasilkan nuansa musik yang lebih beragam,” kata Anggara.

Renggama, kata Anggara, mencoba membuat musik yang tidak selalu instrumental. Sebenarnya karya-karya yang dimanikan itu lahir atau hasil interpretasi terhadap karya geguritan Cupak dan Gerantang.

“Jadi upaya kami mengambil beberapa pesan inti dari beberapa bagian naskah geguritan Cupak dan Gerantang ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat kita saat ini,” kata Anggara.

Kata yang bisa menjiwai musik, kata Anggara, sebenarnya terletak pada upaya dalam melihat kata sebagai instrumen, bukan kata untuk diiringi musik.

Upaya untuk selalu berbeda, kata Anggara, selalu dipikirkan dalam proses penggarapan. Awalnya, diketahui dengan benar berbagai rasa yang dihasilkan dari musik. Seperti halnya rasa pada makanan.

“Ketika kita sudah banyak pilihan rasa musikal maka secara tidak langsung kita bisa memetakan rasa apa yang sekiranya untuk sedikit berbeda,” kata Anggara.

Jadi, selamat Renggama. Ditunggu karya dan pementasan berikutnya. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025musikSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bupati Sutjidra: Bangkitkan Kembali Permainan Tradisional Buleleng pada HUT Kota Singaraja

Next Post

Lebaran: Sarana Komunikasi Sosial, Ekspresi, Ritual, dan Instrumental

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Lebaran: Sarana Komunikasi Sosial, Ekspresi, Ritual, dan Instrumental

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co